
Jauh di dimensi lain, Alin terbangun dari pingsannya. Ia masih terbaring di bawah pohon yang ia panjat tadi. Ia meringis pelan, tubuhnya terasa sangat sakit apalagi bagian pinggang.
"Sial, mimpi apa yang aku alami tadi sampai jatuh seperti ini."
Ia selesai mengutuk, ia melihat jam yang melingkar di tangannya. Waktu hanya berjalan 5 menit tapi ia merasa kalau ia melakukan perjalanan yang panjang. Tiba-tiba ia teringat Chyou, pemuda yang bersamanya, ia terlihat sedikit mirip dengan pemuda yang ia lihat di aula.
Mata kedua pemuda itu sama, tapi lebih indah mata Chyou. Alin menggelengkan kepala, lalu menepuk dahinya saat sadar dengan apa yang ia pikirkan.
"Aku? Raja iblis? Mustahil. Sudahlah cuma mimpi, aku bukan seorang tokoh utama di sebuah cerita. Dunia sudah modern, itu takhayul jika percaya pada mimpi, itu hanya bunga tidur, kan?"
Alin meyakinkan dirinya sendiri, menyangkal semua yang ia pikirkan dengan logikanya. Setelah merasa lebih baik, ia membuka ponselnya dan menghubungi Seka, untung saja ia bisa memanjat pohon lagi dan menemukan sinyal, jadi tidak ada hal-hal seperti sinetron yang akan terjadi.
Setelah menunggu selama dua puluh menit, Seka datang sendirian sambil menarik gerobak yang entah kenapa ia bawa. Pemuda itu melihat kebingungan, mencari Alin yang masih di atas pohon. Seka sudah siap berteriak tapi Alin dengan iseng melemparkan daun kering dan daun itu masuk tepat ke dalam mulutnya.
Alin lupa jika temannya itu percaya dengan hal mistis dan selalu berpikir yang berlebihan, saat melihat Seka lari, ia menurunkan rahangnya.
"Seka, itu aku. Kembali cepat."
Alin menutup ponselnya, lalu turun dan duduk di gerobak. Sambil makan permen lollipop yang ia bawa, ia menatap langit biru yang terlihat cerah, tidak ada awan sama sekali, tidak ada angin yang berhembus walau sedikit, membuat suhu sangat panas.
"Kau- kau kurang kerjaan atau apa? Sudah tahu aku itu takut dengan hantu dan sebagainya, kenapa kau mengerjaiku di tengah hutan seperti ini? Sial, jantung aku hampir turun ke dengkul tadi. Jika saja, jika saja-"
Seka menghela napas dengan kasar, enggan melanjutkan ucapannya, membuat Alin menaikkan sebelah alisnya, merasa aneh dengan sikap temannya itu, tapi ini sudah sering terjadi. Pemuda itu selalu mengucapkan hal yang tidak berkaitan lalu berhenti, membuatnya penasaran setengah mati.
"Tunggu, Alin. Apa kau tertusuk dahan? Kenapa banyak darah di dada dan punggungmu?"
Alin mulai merasakan hangat dan dingin di tubuhnya, dengan ragu-ragu ia menekan tangannya ke dada, pupilnya mengecil, darah itu benar-benar ada menyelimuti seluruh telapak tangannya. Tanpa terasa, darah merembes keluar dari mulutnya, tenggorokannya mulai terasa sakit dan ia terbatuk darah.
Sekali lagi ia mengingat, sebelum ia tersadar dari mimpinya, ia tertusuk panah dan dibawa pergi oleh orang asing, pemuda itu juga membuat Chyou tidak sadarkan diri.
Dengan cepat, Seka menidurkan tubuh Alin di gerobak dan menariknya sambil berlari. Alin mengangkat tangannya, mencoba menggapai langit lalu pandangannya memudar dan kehilangan kesadarannya.
Seka menoleh ke belakang, dia berbisik, "Alin, kau harus tetap sadar, jangan tidur."
Suara mesin EKG bersahutan dengan detak jam, di atas ranjang itu ada Alin yang tidak sadarkan diri, Seka duduk di sebelah gadis itu sambil memegang salah satu tangannya, pelan-pelan ia mengelus punggung tangan Alin menggunakan ibu jari. Gadis itu sering sekali membuatnya khawatir.
Di saat yang bersamaan, Alin sudah kembali ke celah dunia. Tempat itu sedikit berbeda dengan yang ia tempati bersama Chyou. Pelan-pelan ia bangkit, berjalan ke arah jendela yang terbuka lebar, ia membuka tirai lebih lebar lagi dan menatap ke bawah.
Kota yang ia lihat sedikit menyeramkan, meski hampir sama dengan Desa Padi, namun banyak warna merah bertaburan dimana-mana, orang-orang yang berlalu-lalang terlihat menyeramkan, ada manusia setengah babi, ada yang berkepala anjing dan bertubuh domba, ada juga yang berbentuk manusia namun memiliki tanduk, bahkan sekumpulan iblis menenteng kepalanya dengan santai, begitu juga dengan warga lain yang melihatnya.
Saat ia melihat ke arah timur tepat di gapura kota, sebuah perkelahian terjadi. Ada satu babi berwarna oranye yang dikeroyok oleh gerombolan babi lainnya yang memiliki warna pink, beberapa penduduk berkerumun melihat perkelahian itu tanpa berniat untuk memisahkan mereka, ada yang baru bergabung dan tidak sedikit juga yang melihatnya lalu berlalu seperti tidak ada yang terjadi.
Alin menyunggingkan seulas senyum menikmati perundungan itu.
"Ya."
Setelah sadar jika ada orang lain di dalam ruangan itu, Alin melompat dua langkah ke belakang menjauhi sosok bertopeng itu.
"Siapa kau? Dimana ini? Kenapa kau menculikku?"
Bukannya menjawab, sosok itu malah berlutut di depan Alin, kepalanya menunduk lalu menatap Alin lagi.
"Saya Yeas, di utus oleh tuan Yee untuk membantu Yang Mulia jika sudah sadar."
Mendengar itu, Alin memiringkan kepalanya, alisnya menyatu dan bibirnya mengkerut. Ia menaruh telunjuk dan ibu jarinya di dagu.
"Pasti ini mimpi, tapi aku tidak terbangun saat sadar aku ada di mimpi. Apa aku mengalami lucid dream? Tidak-tidak, disini jelas-jelas ada jam. Aku bisa merasakan nafasku, mencium bau dan merasakan permukaan benda. Ini terlalu nyata jika aku hanya menganggapnya mimpi. Ah! Apa ada kaitannya dengan Chyou? Maksudku dunia pemuda itu? Sistem."
Yeas menatap Alin dengan tatapan aneh, ia tidak mengerti apa yang digumamkan oleh Alin, setelah menggelengkan kepala, ia menundukkan kepala lagi karena Alin kembali menghadapnya.
"Sis-"
"Dia sedang di perbaiki."
Seorang pemuda memotong ucapannya, pemuda itu tiba-tiba saja ada di jendela, duduk dengan sebelah kaki yang menggantung sedangkan kaki sebelahnya ia tekuk, tangannya bersedekap dan kepalanya menunduk dengan mata yang terpejam seolah tidur namun bisa membangunkan amarah Alin.
"Kau- tunggu bukankah kau orang yang ada di aula? Kenapa kau disini? Oh aku tahu, kau yang menjebakku, kan?"
"Apa? Kenapa memang jika aku ada di sini? Sebenarnya ada yang harus aku bicarakan bersamamu."
"Tidak us-"
"Tangkap penyusup itu, penjaga!"
Dalam sekejap mata, kamar luas yang sepi itu kini dipenuhi oleh selusin orang bertopeng, masing-masing orang itu memegang sebuah tombak dan pedang, membentuk lingkaran dengan Alin dan pemuda itu yang menjadi pusatnya.
Pemuda itu menghembuskan nafas kasar, sedangkan Alin, gadis itu mengangkat kedua tangannya sejajar dengan kepala, ia tersenyum meringis, "Sial, aku menyesal menertawakan babi itu."
Keadaan menjadi sangat hening, baik pemuda di jendela dan pasukan berpakaian hitam tidak melakukan pergerakan sama sekali.
Alin menurunkan tangannya, merasa pegal karena tangannya terangkat cukup lama. Ia berdeham pelan, mundur beberapa langkah dengan pelan berharap jika pergerakannya tidak di perhatikan.
Namun gerakannya menarik semua mata di ruangan itu menuju ke arahnya. dengan canggung, memaksakan senyumnya dan melambaikan tangan.