Unblessed Story

Unblessed Story
Perjalanan



Kali ini sejak mereka bangun dari tidur dan sampai setengah dari perjalanan menuju Desa Adiwiya, tidak ada pertengkaran tidak perlu yang biasa dilakukan oleh Alan dan Alin.


Sebaliknya, kini mereka harus saling bahu membahu karena para pengejar itu datang terus menerus seperti lebah. Semakin mereka melawan dan membunuh banyak, semakin banyak juga penyerang yang muncul.


Seperti planaria.


Setiap potongannya bisa menjadi dua, dan itu menyebalkan bagi Alin yang kekuatannya belum pulih.


Alan dan Chyou sudah merasa sangat lelah, kekuatan mereka hanya pulih sedikit karena selalu terkuras habis. Keberadaan Yee dan Ares juga tidak banyak membantu, mereka hanya bisa membantu dalam kegelapan, menjadikan beban mereka dua kali lebih berat.


Beberapa pasukan yang mereka bawa sebagian sudah dikalahan, menyisakan tiga belas orang yang terluka parah, termasuk Yee dan Ares. Mengetahui hal itu, Alin memutuskan untuk bersembunyi.


Meski Alin merasa seperti pecundang karena harus bersembunyi, ia tetap merasa jika keselamatan Chyou dan Alan adalah hal yang utama.


Dengan wajah yang gelap, Alin menahan tangannya di atas tanah, melindungi Chyou di bagian bawah tubuhnya karena gua yang mereka masuki lumayan sempit. Sedangkan Alan, pemuda itu merayap di dinding gua tepat di atas tubuh Alin, ia menahan pegangan menggunakan pedangnya yang ia tancapkan agar tidak jatuh dan menimpa Chyou dan Alin.


Wajah Chyou sudah memerah, ia sedikit merasa salah tingkah karena posisi mereka yang ambigu, beruntung di dalam gua itu sedikit gelap dan diliputi ketegangan, tidak ada yang akan memperhatikan gerak-geriknya. Chyou menatap Alin yang berada di atasnya, matanya tertutup poni karena gadis itu menunduk, entah melihat ke arah mana.


Tiba-tiba jantung Chyou berdetak lebih kencang sekarang, ia berusaha menahan napasnya, berusaha mempercayai jika hal itu bisa memperlambat ritme jantungnya, namun apa yang dia harapkan tidak terjadi, jantungnya berdetak lebih cepat dan merasa sedikit pusing, jantungnya terasa lebih sakit sampai tidak sadar ia mengerang sedikit, membuat perhatian Alin terpusat padanya.


"Ada apa? Kau terluka?"


Gadis itu berbisik sangat pelan tepat di telinganya, kulit lehernya bisa merasakan udara hangat yang keluar dari bibir gadis itu, membuat tubuhnya meremang dan menjadi lebih gugup.


Wajah yang menunduk itu kini terlihat semakin jelas di atasnya, rambut yang tergerai berantakan itu jatuh di sisi tubuhnya, aroma yang manis langsung menguar memenuhi rongga dadanya.


Sangat candu.


Chyou ingin menghirupnya lagi dan lagi, tidak merasa puas sampai Alin harus bertanya untuk yang ketiga kalinya karena tak kunjung mendapatkan jawaban.


"Tidak, hanya saja ototku terasa kaku."


Akhirnya Chyou menjawab dengan pelan, sangat pelan sampai Alin harus merendahkan tubuhnya untuk mendengar jawabannya, untung saja lengan gadis itu cukup kuat, jadi dia tidak merasa lelah untuk melakukan itu.


Alan menginterupsi, "Aku sudah tidak mau menjadi seperti kelelawar, bolehkah aku turun? Aku tidak kuat lagi."


Pemuda itu berbicara sedikit berteriak, suaranya sedikit gemetar, tidak ketinggalan juga suara pedangnya yang sudah mendesing dan bergetar, menggores batu-batu dan hampir lepas dari celah batu.


"Turun saja."


Begitu kalimat itu terucap, pedang Alan sudah benar-benar terlepas dan pemuda itu jatuh menimpa Alin yang baru berdiri dan membantu Chyou untuk bangun, kedua orang itu jatuh saling menimpa, membuat suara kegaduhan yang lumayan kencang. Untung saja para penyerang itu sudah pergi jauh dan tidak ada yang mendengarnya.


"Tunggu aku pindah dulu, dasar bodoh!"


Alin dengan tega memukul kepala Alan menggunakan tinjunya, ringisan pemuda itu terdengar menyedihkan namun Alin yang terlihat galak juga tidak bisa diremehkan.


Alan membela diri, "pedangnya yang jatuh sendiri."


"Berarti kau terlalu banyak lemak."


"Aku sudah seperti tulang dan kulit, juga beberapa otot dan kau mengatakan aku berat?"


Alin dan Alan saling menatap, jika saja kekuatan mereka tidak habis, Chyou pasti sudah bisa merasakan kekuatan mereka saling bertabrakan di sana sini, membuat kekacauan yang bisa menarik perhatian sekumpulan orang yang mengejar mereka.


Chyou bergegas mendekat dan memegang tangan kedua iblis itu, menarik mereka agar duduk di sebelahnya dan berkata, "Sudah dulu bertengkarnya, lebih baik kita pulihkan kekuatan dan bergegas ke Desa Adiwiya."


Chyou melanjutkan, "Sekarang pegangan tangan, sebagai bukti kalau kalian sudah berbaikan."


Dengan senyum manisnya, Chyou menuntun tangan digenggamnya bertemu. Baik Alan maupun Alin, mereka melongo melihat itu tapi ketika saling bertatap muka, muka mereka menjadi sangat hitam karena marah.


'Awas kau anak bau kencur.'


'Aku akan benar-benar akan membuat nenek tua bangka itu berlutut di hadapanku untuk meminta maaf.'


Wajah Chyou menjadi cerah saat melihat Alin dan Alan saling melempar senyuman, yang salah ia artikan menjadi senyuman penyesalan dan penuh kasih sayang.


Setelah melepaskan tangannya, Alan dan Alin ikut melepas genggaman, diam-diam membersihkan tangan mereka menggunakan sapu tangan yang mereka bawa.


"Yang Mulia, perjalanan bisa di lanjut setelah setengah jam, kami akan mulai mulai meratakan jalan sekarang."


Yee muncul dengan tiba-tiba di mulut gua bersama Ares.


Kondisi keduanya tidak bisa dibilang baik-baik saja karena mereka sudah sepenuhnya babak belur, pakaian mereka sudah compang camping dihiaskan darah yang entah darah milik siapa, membuat ketiga orang yang ada di dalam gua merasa tertegun sejenak.


"Aku sudah bilang untuk tidak memanggilku seperti yang mulia ini atau yang mulia itu, terlalu kaku. Berapa pengawal yang tersisa?"


Alin membuka kipasnya, mengipasi dirinya sendiri agar keringat di tubuhnya segera menghilang, sebenarnya ia sudah merasa risih dan ingin mandi.


"Sebelas, bersama kami menjadi tiga belas."


"Kalau begitu, ambil ini dan berikan untuk luka fatal, setelah itu istirahat lalu periksa jalan. Ingat, hanya periksa."


Alan memberikan beberapa ramuan dan perban juga sedikit cemilan tanpa harus di suruh Alin, keningnya terlipat dalam semenjak kedatangan kedua jenderal itu.


"Aku akan ikut mereka, setelah itu aku akan kembali."


Alin merasa jika ia harus memberi sedikit penjelasan kepada pemuda di sebelahnya ini, siapa tau mimpi dan kenyataan bisa berubah walau sedikit.


Namun saat ia sudah membulatkan tekad, Alin harus menelan kata-katanya saat ia ingin melepaskan genggamannya, tangan Chyou dengan cepat menggenggam erat tangannya, seakan takut ada sedikit udara yang muncul dan membuat jarak yang besar.


Pemuda yang setengah hidupnya selalu kesepian, pemuda yang tidak merasakan masa kecilnya, pemuda yang menemaninya saat pertama kali ia tiba, menatapnya dengan senyuman, menggenggamnya dengan sedikit khawatir dan ketakutan.


Alin bimbang.


Bagaimana jika Chyou mengetahui rahasianya dan menganggap jika ia sengaja menipunya?


Bagaimana jika ia menaruh luka baru diatas luka lamanya?


"Chyou, aku ingin memberitahu sesuatu."


"Alin, aku ingin berbicara."


Mendengar itu, jantung mereka berpacu lebih cepat, seakan-akan ada sesuatu yang mendesak, membuat mereka terpojok untuk segera mengaku.


"Ahahaha kau duluan."


"Alin boleh duluan."


"Tidak-tidak, kau duluan, aku bisa nanti."


Setelah itu mereka kembali hening, hanya mempererat genggaman tangan mereka, saling mengisi keberanian yang tiba-tiba menguap begitu saja, mempertahankan tekad untuk memberitahu rahasia yang mereka simpan sendiri.


"Ares, kau baik-baik saja? Biarkan aku memeriksa lukamu dan Yee. Aku sudah menghubungi paman untuk memberikan bantuan."


Alan membersihkan luka di tubuh Ares dengan hati-hati, tidak menekan terlalu pelan ataupun terlalu kencang, raut kekhawatiran tercetak jelas semenjak ia datang dan berkumpul dengan para pengawal.


Ia membuka perisai yang lumayan besar, cukup untuk melindungi mereka dan juga gua yang tidak jauh dari tempatnya sekarang.


Setelah memakan waktu kurang lebih satu jam, luka di tubuh Ares sudah dibersihkan dan diobati. Alan meminta Ares untuk istirahat dan ia sendiri lanjut mengobati Yee dan yang lainnya, dimulai dari yang sedikit parah hingga yang hanya tergores beberapa pisau.


Saat memeriksa Yee, Alan menyernyitkan dahinya lagi. Tubuh orang yang sudah ia anggap sebagai paman beberapa waktu ini kondisinya lumayan parah, berada di luar kekuasaannya.


Sekali-kali ia menatap gua, berharap jika Alin keluar dan membantunya.


Seakan tahu isi hati Alan, Yee menghentikan tangan Alan, senyuman yang sering terlihat di wajahnya itu kembali menghangat, seakan-akan ia tidak mengalami hal apapun sekarang.


"Tuan muda, aku baik-baik saja. Lebih baik obati mereka, aku akan ke tempat Ares."


Alan tidak bisa melarang, pemuda yang lebih tua darinya itu benar-benar sudah pergi dan mengganggu Ares yang sampai sekarang jarang sekali berbicara.


Satu persatu, pengawal yang terluka sudah diobati. Menyisakan satu orang pemuda yang sepertinya seumuran dengannya.


Kulit pemuda itu sangat halus, Alan sedikit kaget saat tangannya menyentuh luka pemuda itu. Luka nya tidak sedalam pengawal yang lain, tidak lebih parah dari luka yang terakhir tapi pemuda ini selalu mengeluh dan merengek selama ia mengobati yang lain, membuat Alan sedikit risih mendengarnya.


Saat Alan membersihkan lukanya, pemuda itu lamgsung berteriak, membuat semua orang yang berisirahat merasa siaga dan membuka luka yang sudah hampir tertutup.


"Kau ini kenapa? Aku tidak menekan terlalu keras, kenapa kau berteriak seperti kehilangan salah satu jantung?"


Nada bicara Alan sedikit meninggi namun pemuda itu masih asik menangis dan berteriak kesakitan, membuat Alan menjadi emosi.


"Tuan muda, maaf karena saya tidak mengajarinya dengan benar, ini pengalaman pertamanya."


"Yee, aku tahu. Tapi semua pengawal baru yang aku latih tidak sepengecut dia, apakah dia tidak menjalani latihan?"


Alan merotasikan matanya dengan malas, menatap jengah pemuda tadi dengan malas.


Pemuda ini seperti tidak pernah latihan, Alan yakin jika pemuda ini hanya bisa bersembunyi dan melarikan diri lalu terjatuh di rerumputan.


Alan tahu, itu jelas terlihat. Di rambut pemuda itu ada daun-daun kering, luka gores yang ada di tubuhnya bukan berasal dari pedang, yang jelas luka itu hanya luka kecil yang kasar, Alan tidak melihat jika ada darah yang keluar dari luka itu, kulitnya hanya terluka di lapisan luar.


"Maaf, saya akan lebih ketat mengawasinya."


"Terserah."


Alan meninggalkan kumpulan pengawalnya, dan melompat ke atas pohon tertinggi.


"Sistem, cari siap sebenarnya pemuda tadi, apa tujuannya. Cari orang yang selama ini mengikuti kami."


Mendengar rentetan perintah itu, sistem protes, "Hei, kau tidak pernah menyapaku tapi sudah menyuruhku."


"Aku sedang tidak ingin debat, cepat kerjakan."


"Kau Neapolitan Mastiff!"


Rahang Alan seketika itu terbuka, merasa tidak percaya jika ia disamakan dengan jenis anjing terjelek, dia tidak terima.


"Kau! Hentikan paruh bengkok mu dasar burung tua gendut! Cepat bekerja dan cari tau siapa sampah itu sebelum aku meminta dia untuk merebusmu!"