TRAPPED BY THE SECOND MALE LEAD

TRAPPED BY THE SECOND MALE LEAD
CHAPTER 8



Ziel baru saja menyetorkan uangnya ke tempat penyimpanan uang. Cukup ramai hari ini, dia pun bertemu dengan beberapa teman bangsawannya. Salah satunya adalah Count Chanderlier dan Viscount Clealpina.


Mereka keluar dari sana bersama-sama “Sudah lama aku tidak melihat kalian berdua,” Ziel tampak senang dapat berjumpa dengan teman-temannya lagi. Kesibukannya dua minggu terakhir membuatnya tak sempat untuk sesekali mengobrol dengan mereka.


Mereka saling berjabat tangan untuk menyapa sekaligus berterima kasih atas kerja keras mereka masing-masing.


“Kau sangat sibuk belakangan ini.” Ucap Count Chanderlier.


“Ya, kami juga belakangan ini sibuk mengurus banyak hal,” timpal Viscount Clealpina sambil menggosok kumisnya yang cukup tebal.


"Ini waktu yang bagus, mari kita pergi mengobrol sebentar."


Ziel mengajak kedua temannya untuk minum kopi sebentar sebelum melanjutkan kegiatan mereka masing-masing. Tiga pria itu membicarakan banyak hal berkaitan dengan kegiatan mereka masing-masing. “Aku tidak percaya kau sampai mengundang Grand Duke Palmieri ke ulang tahun istrimu, luar biasa.” Viscount Clealpina memulai topik.


“Hahaha aku juga sempat terkejut. Bahkan anak mereka berdua langsung dekat.”


“Kapan anak kalian akan bertunangan atau segera menuju ke pelaminan sebelum melakukan debut?”


Ziel terkekeh mendengar ledekan teman-temannya. “Kalian terlalu cepat memikirkan itu. Mereka masih butuh waktu untuk saling mengenal.” Ziel kemudian melirik gulungan selembar kertas koran ditangan Viscount Clealpina “Mengapa kau membawa potongan koran? Ada berita penting apa?”


Chanderlier dan Clealpina saling bertatapan lalu menatap Ziel kaget “Kau tidak tahu? Alasan kami datang ke bank adalah karena ini.” Ia pun memberikan kertas koran itu, membiarkan Ziel membaca sendiri isi beritanya.


“Ini Black Celtic?”


Black Celtic adalah tempat pelelangan resmi yang dikontrol langsung oleh raja negara. Siapapun bangsawan boleh ikut dalam melelang dan membeli barang. Di kota ini ada cukup banyak bangsawan yang ikut di beberapa kesempatan jika mereka mendengar ada barang yang langka atau spesial yang akan ditawarkan.


“Ya. Aku dengar seseorang sedang melelangkan sebuah wilayah yang menurutku sangat strategis. Kau tahu? Bahkan aku dengar di lahan itu juga terdapat sebuah tambang yang sudah tidak aktif lagi. Barangkali kita bisa memanfaatkannya dan kita sudah tahu berapa banyak keuntungan yang akan kita dapat nantinya.” Pungkas Count Chanderlier.


Ziel mengernyit “Bukankah seluruh wilayah ini tetaplah milik Raja?” Count Chanderlier menggeleng yakin “Tidak semua berada di bawah kontrol Raja. Wilayah ini milik salah satu bangsawan yang sudah secara turun temurun diwariskan dan sekarang akan dilepas karena dia tidak bisa mengurusnya dengan baik.”


“…”


Viscount Clealpine pun menimpali “Kalau Raja saja menerima lahan itu masuk pelelangan, aku rasa itu sudah melewati proses penyetujuan dari pihak pemilik dengan Raja. Mungkin saja wilayah itu sudah tertulis dalam perjanjian dari raja-raja sebelumnya jadi tidak bisa dijadikan hak milik oleh Raja yang sekarang.”


Ziel memegang dagunya, memikirkan kesempatan bagus yang datang. “Pasti kali ini ruang pelelangan akan penuh.”


“Ya. Itu sebabnya kita harus segera pergi. Lima belas menit lagi akan dimulai. Ziel, bagaimana denganmu? Mau ikut dengan kami?”


Ziel mulai tertarik untuk ikut bertaruh harga dengan peserta yang ikut dalam acara pelelangan hari ini. Ziel memiliki otak yang cukup cerdas dalam mengelola lahan, dia bisa dengan mudah menarik keuntungan dari tanah mati itu “Aku juga akan ikut.”


Sesuai dengan perkiraan. Ada banyak orang yang sudah duduk menunggu sampai acara lelang dimulai. Beberapa diantaranya ada yang Ziel kenal. Dia memilih untuk duduk di bagian belakang agar tak terlalu dekat dengan panggung.


Ziel menyorot satu orang yang mengganjal dimatanya. Entah bagaimana hanya dia seorang yang mengenakan jubah panjang serta topeng yang menutupi seluruh wajahnya. Tidak ada siapapun yang bersamanya, dia sendiri selalu menghadap ke panggung depan “siapa dia? Orang biasa?” batinnya penasaran.


Ya memang bangsawan yang tidak tinggal di daerah tersebut tidak dilarang apabila ingin ikut dalam pelelangan di kota mana saja. Semua yang hadir berdandan layaknya bangsawan, menunjukkan pangkat mereka masing-masing. Ini kali pertama Ziel melihat seseorang justru menutupi status kebangsawanannya di tempat pelelangan resmi seolah tempat itu adalah tempat ilegal yang identitasnya tidak boleh diketahui.


Acara pun dimulai. Wilayah yang dilelangkan sengaja ditaruh urutan paling akhir, mereka membuka acara dengan benda-benda yang kecil dan kurang berharga terlebih dahulu.


Empat puluh menit berjalan dan yang dinanti pun tiba. Wilayah pelalangan itu disebut. Letaknya ada di daerah pegunungan di dekat perbatasan antara kota Norfolk dan Goldenleaf.


Terdapat empat kota di kerajaan Bommenhaum, di bawah kepemimpinan Raja Gilbert Van Moultier, yaitu Goldenleaf, Norfolk, Avallone, dan Whitebridge. Tempat tinggal Arden berada di kota Goldenleaf yang juga merupakan tempat di mana istana Bommenhaum didirikan.


Sedangkan Norfolk adalah kota tempat tinggal Ziel dan teman-teman yang lainnya. Kota Avallone adalah kota yang paling dekat dengan laut sehingga daerahnya sering disebut kota pelabuhan. Kota ini sering dijadikan destinasi liburan. Kota Whitebridge berada di daerah utara yang mana merupakan penghasil bahan makanan terbanyak karena daerahnya yang sejuk dan tidak terlalu panas.


Kebetulan yang sangat pas bukan? Wilayah yang dilelangkan memang tidak terlalu luas tapi sangat dekat dengan kota tempat tinggalnya. Jika berhasil memenangkan daerah itu Ziel bisa dengan maksimal mengurus tambang mati itu. Tidak hanya dia, pasti teman-temannya juga memikirkan hal yang sama.


“Wah, banyak sekali yang sangat minat memiliki tanah ini ya,” ucap si pembawa acara.


Hampir semua yang hadir mengangkat papan harga yang mereka tawarkan. Peserta yang mengenakan jubah sama sekali tak mengangkat papannya meski sudah berkali-kali harga naik seiring bertambahnya bangsawan yang coba bersaing.


Harga terus melambung tinggi dan seiring waktu berjalan hanya tersisa Ziel seorang. Dia berhasil menawarkan harga tertinggi yang sudah tidak bisa dibalap orang lain lagi. Hatinya menjadi senang meski uang yang ia pertaruhkan sudah cukup membuat gigit jari.


“Apakah tidak ada yang ingin menawarkan harga lagi?” si pembawa acara memberi waktu bagi mereka yang masih ragu-ragu mengangkat papan harga taksiran. “Baiklah, akan saya hitung mundur sekarang juga,” si pembawa acara terus melihat ke seluruh penjuru ruangan.


“Satu”


Masih ada yang ragu. Mereka tak ingin membuang uang lebih banyak.


“Dua”


Semuanya tampak sudah membuat pilihan untuk tak bersaing dengan Marquess Emerald.


“Ti- Whoaa!!! Baiklah, ternyata masih ada seseorang yang tertarik untuk memiliki tanah ini!” seruan dari sang pembawa acara mengejutkan seisi ruangan.


Seluruh pasang mata tertuju pada seorang pemakai jubah beserta topeng yang menutupi seluruh identitas aslinya mengangkat sebuah papan yang menawarkan harga dua kali lipat dari yang ditawarkan oleh Ziel.


Ziel mendecih pelan. Ia takkan bisa bersaing dengan harga yang orang tersebut angkat. Dua kali lipat? Yang benar saja, Ziel sudah mempertaruhkan hampir seluruh uangnya untuk menjadi pemilik tanah itu. Sekarang mendadak seseorang langsung memasang taksiran dua kali lipat, dia tidak akan bisa membayar jika ingin membalap harga yang dipasang orang asing itu.


“Apa orang itu sengaja? Sejak tadi dia sama sekali tidak bergerak. Giliran hanya tinggal aku, mengapa dia baru bertaruh harga?” pikir Ziel heran.


Sangat disayangkan apabila ia melepas kesempatan tersebut tapi Ziel tidak mau mengambil resiko lebih besar. Alhasil ia mengalah dan tidak memberikan harga lebih besar dari yang orang itu tawarkan.


“Baiklah. Kalau begitu tanah ini akan menjadi milik Young Duke Navarro. Selamat kepada beliau yang telah menjadi pemilik resmi lahan tambang permata!!”


Semua orang tercengang mendengar nama klan itu disebut. Julukan Young Duke diberikan kepada seorang pemuda yang menjadi penerus status Duke diusia delapan belas tahun yang mana masih sangat muda untuk memimpin.


Tidak hanya itu yang membuat semua orang kaget. Pasalnya, Young Duke Navarro nyaris tak pernah muncul dan bersosialiasi. Dia seperti hantu yang akan muncul pada saat-saat tertentu saja. Tidak ada bangsawan yang kenal dekat dengannya. Hal itu pula lah yang memicu pergunjingan, meramaikan ruangan saat ini.


Mereka tidak menyangka pemuda itu akan hadir di acara pelelangan yang bahkan tidak berada di Goldenleaf. Pada dasarnya ia muncul pun tetap tak menunjukkan dirinya tanpa pelindung. Dia tetap melindungi dirinya dalam ‘persembunyian’, tak membiarkan siapapun melihat wajahnya secara langsung.


Pemuda yang menjadi sorotan itu memilih tak peduli dengan pandangan aneh semua orang terhadapnya. Ia maju untuk mengurus surat penandatangan serah terima tanah yang baru ia menangkan.


“Ziel? Kenapa kau dari tadi melamun?”


“Oh, tidak.”


“Jangan bilang kau masih kesal karena tak bisa memiliki tambang itu,” bak tahu luar dalam sifat Ziel, Count Chanderlier mencoba mengalihkan perhatian dari pemenang wilayah tambang berlian “Ayo kita pulang. Aku ingin mengajakmu ke tempat Baron Blackrose.”


“Maaf. Aku harus segera pulang. Sebenarnya tadi aku keluar untuk membeli tiket kereta untuk mengajak istri dan anakku berlibur ke Avallone.”


Chanderlier dan Clealpina sedikit bingung dengan gelagat Ziel yang berbeda. Namun mereka mengerti apa yang sedang dirasakannya saat ini karena bukan hanya dia yang gagal mendapatkan tanah itu.


Hal yang mengganjal dihati Ziel bukanlah tentang gagalnya ia memiliki tanah itu melainkan dari Duke Navarro sendiri “Mengapa dia menatapku seperti aku ini adalah seorang penjahat?” sebelum turun ke podium, tatapan mereka sempat bertemu.


Dari balik topeng hitam keemasan yang dipakainya, Ziel mampu menangkap aura membunuh dari pemuda itu. Matanya yang semerah darah tampak bersinar makin jelas di balik lubang mata topeng.


Tubuhnya ikutan menggigil mengingat itu. Ziel sudah yakin sepenuhnya bahwa dia tak pernah sekalipun bertemu dengan Young Duke. Bahkan saat berada di acara ulang tahun atau rapat istana, Ziel cukup cuek sehingga tidak pernah sadar ada atau tidaknya Young Duke di sana.


Otaknya seperti terhipnotis, pikirannya kacau, ia terus memikirkan tatapan Young Duke Navarro meski ingin berhenti. Pria bermanik hijau Emerald itu baru tersadar seseorang berteriak padanya dan menariknya hingga mereka terjatuh ke belakang.


“Yang Mulia Marquess, Apa yang Anda lakukan? Tolong berhati-hatilah saat berjalan. Anda baru saja nyaris terinjak kereta kuda.” Tegur seorang penempa besi yang memang kebetulan tokonya ada di sana dan sudah cukup kenal dengan Ziel.


“B-begitukah? Maaf sudah merepotkanmu.”


Ziel menggelengkan kepalanya seraya memukul pelan dahinya sendiri, kepalanya terasa pusing dan penglihatannya mengabur “Apa yang terjadi padaku?” batinnya bingung.


Sepulang dari tempat pelelangan Ziel mengurung diri di dalam kamar. Selama hampir sepanjang hari pikirannya terguncang, apapun yang coba ia lakukan selalu berujung tidak beres, apa yang dia ucapkan pun tidak jelas mengarah ke mana.


Zoya menjadi sangat cemas dengan kesehatan sang suami tercinta. Ia memanggil dokter keluarganya untuk cepat memeriksa apa penyebab perilaku suaminya yang menjadi aneh tersebut. Sayangnya sang dokter tak menemukan apa-apa, Ziel berada dalam kondisi yang sehat, tak ada gangguan dalam otaknya dan tekanan darahnya normal.


“Sayang, apa yang sebenarnya terjadi padamu?”


“Aku…aku, aku? tidak kenal, aku tidak ingat apa-apa.” jawabnya setengah melantur seperti orang mabuk. Karena melihat keadaan Ziel yang aneh, dokter pun memberinya obat penenang dan obat tidur untuk berjaga-jaga jika malam nanti ia tak bisa tidur.


Akibat Marigold yang terus mengajak Arden untuk mengunjungi banyak tempat, gadis itu jadi pulang lebih terlambat. Langit sudah gelap sempurna. Arden tentu merasa tidak enak kepada kedua orang tua Marigold karena anak gadisnya yang pulang larut tanpa memberitahu kemana saja mereka pergi.


“Maaf, aku jadi membuatmu pulang terlambat,” ucap Arden yang lebih memilih berdiri di depan pintu. Jika dia sampai masuk, Marigold bisa jadi tak akan membiarkannya pulang ke penginapan.


Gadis cantik jelita itu tersenyum seraya menggelengkan kepala “Tidak usah meminta maaf, aku yang salah. Aku terlalu senang menunjukkan keindahan Norfolk jadi aku secara tidak sengaja memaksamu pergi lama denganku.”


“Tidak. Aku cukup menikmatinya. Terimakasih sudah memperkenalkan Norfolk padaku.”


Kedua pipi Marigold bersemu “Arden. Hati-hati dijalan.”


“Ya. Aku akan pulang sekarang,” Arden tersenyum sembari melambaikan tangan tanda perpisahan.


Melihat pemuda itu berbalik rasanya Marigold tidak rela. Dia tidak ingin berpisah dengan Arden “Arden, tunggu!” sejujurnya dia sendiri terkejut karena tiba-tiba menghentikan pemuda itu untuk pergi.


“Ya? Ada apa, Marigold?”


“A-ah, itu…anu, aku ingin memberikan sesuatu kepadamu.”


“Apa?” Marigold melepas gelang pemberkatan yang ia dapat dari kuil untuk dipasangkan di tangan Arden “Mengapa kau memberikannya padaku?”


“Ini untuk melindungimu. Kau bilang kau dan ayahmu masih menyelidiki kasus wabah aneh, aku berharap ini bisa melindungimu dari hal buruk.”


Arden memadang gelang permata biru itu “Oh, terimakasih Marigold.”


Marigold akan terus memikirkan Arden sambil melihat pujaan hatinya benar-benar lenyap dari pandangan kalau saja butler pribadi Ziel tidak membuyarkan lamunannya dan memberitahu bahwa ayahnya sedang sakit.


Ziel tidak sedang depresi, stress, atau yang lainnya saat Marigold menyembuhkannya. Ayahnya dalam keadaan baik seperti yang disampaikan dokter keluarga mereka sebelumnya “Apa ayah mengatakan sesuatu pada ibu?” tanya Marigold penasaran.


“Tidak. Setiap kali kami bertanya, dia terus meracau tidak jelas.”


Marigold menghela nafas seraya mengelus kepala ayahnya “Dia akan baik-baik saja. Sekarang dia butuh istirahat yang cukup. Aku akan mengecek ayah lagi nanti malam.”


Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam dan ketika Marigold ingin mengecek kondisi Ziel, ia melihat ibunya tengah berdiri di balkon kamar. Membuka pintu balkon lebar-lebar padahal angin sudah menusuk hingga ke tulang.


Kilat yang menyambar-nyambar di langit malam menandakan akan datangnya hujan lebat disertai angin ribut. Wanita berparas ayu itu jalan kesana-kemari seperti cemas, kuku ibu jarinya pun menjadi saksi.


“Ibu, mengapa kau berdiri di luar? Ayo segera masuk. Anginnya sangat kencang.”


Zoya meremas kedua lengan putri kesayangannya “Apa mungkin ini perbuatan Meridia? Ayahmu menjadi begini setelah dia memarahinya dan memberinya hukuman.” Kedua matanya berair. Bukan karena sedih melainkan takut dan cemas.


Apakah takut kepada anak sendiri merupakan hal yang wajar? Takut seakan dia melahirkan monster mengerikan yang bisa menghancurkan kehidupan bahagianya kapan saja. Zoya merasa bersalah pada Ziel dan Marigold.


Kejam ‘kan? Bagaimana seorang ibu bisa memikirkan hal mengerikan begitu terhadap anaknya sendiri?


“Itu tidak mungkin ibu.”


“Bagaimana kau bisa yakin? Selama ini Meridia tidak menunjukkan tanda apapun saat sedang mengutuk seseorang.”


“Ibu… Meridia bahkan tidak pernah menyentuh kita bertiga. Bagaimana dia bisa mengaktifkan kekuatannya? Ibu terlalu banyak berpikir. Istirahatlah, ayah sudah membaik kok jadi ibu bisa ikut tidur sekarang.”


Marigold memang tidak pernah menyukai kehadiran Meridia. Namun kali ini hatinya yakin bahwa saudarinya itu bukanlah pemicu keanehan pada sikap ayah mereka berdua.


“Besok kita tanyakan langsung pada ayah.”