TRAPPED BY THE SECOND MALE LEAD

TRAPPED BY THE SECOND MALE LEAD
CHAPTER 6



Aroma parfum menyeruak masuk menusuk indera penciuman Meridia. Rasanya Meridia seperti diterpa ledakan wewangian saat baru saja membuka pintu kamar, bau alkohol dalam parfumnya sungguh memusingkan sekaligus menyakiti rongga hidung. Si pemakai rupanya tengah bersolek di depan cermin rias.


Menjaga penampilan adalah rutinitas wajib bagi bangsawan, terutama untuk bangsawan wanita. Mereka harus tampil sempurna untuk menggambarkan bahwa dia pantas disebut sebagai bangsawan yang bermartabat.


Marigold melihat pantulan wajah adiknya di cermin, ia memutar kepalanya dan tersenyum ceria menyapa Meridia. "Oh ada Meridia, selamat pagi." Sapanya hangat.


Marigold berdiri seakan hendak menyambut kunjungan terpaksa Meridia. Secara tidak langsung dia hanya ingin memamerkan gaun yang dia pakai pada sang adik "Bagaimana menurutmu? Apa penampilanku pagi ini sudah lumayan bagus?"


Meridia mengabaikan pertanyaan Marigold. Kondisi tubuhnya sedang sangat tidak mendukung, dia ingin segera beristirahat. Ia bergegas menuju ke ranjang besar nan empuk milik Marigold yang masih berantakan.


Marigold kemudian menyuruh dua pelayannya menunggu di luar pintu agar dia bisa leluasa mengobrol dengan Meridia. "Kau tahu? Sebentar lagi aku menyambut calon tunanganku," ucapnya dengan sesumbar.


Meridia tersentak kaget, "Sejak kapan mereka menentukan itu? Tadi malam? Yang benar saja, pertunangan mereka tidak mungkin terjadi secepat itu," pikirnya namun dengan cepat ia menepis pikiran tak berguna itu "Sungguh? Selamat ya."


Meridia sudah tahu Marigold membicarakan tentang Arden.


Sebenarnya Meridia melihat saat keduanya bercakap-cakap di balkon semalam. Jadi bisa disimpulkan, dua orang yang ditakdirkan bersama sudah bertemu dan hanya tinggal menunggu waktu sampai keduanya terikat dalam janji pernikahan.


Beruntung Meridia tidak lagi terikat dengan kesialan masa lalu menyedihkannya lagi.


"Terima kasih. Mungkin aku juga akan melangsungkan pertunangan dalam waktu dekat ini." Marigold tidak memikirkan betapa malunya dia ketika orang lain yang mengetahui kebenarannya mendengar bualan itu.


"Oh, itu luar biasa. Sekali lagi selamat untukmu." Jawaban malas dan tidak bersungguh-sungguh dari Meridia membuat Marigold dongkol.


"Seharusnya dia iri padaku," gerutu Marigold dalam hati. Namun dia masih belum ingin menyerah "Baiklah, aku akan berikan kabar baik selanjutnya. Aku janji kau akan jadi orang pertama yang mendengarnya."


"Ya, terima kasih. Lagi." Meridia menertawakan ocehan Marigold dalam hati. Bagaimana bisa dia terus membual seakan-akan Meridia tidak mengetahui kebenarannya.


"Kalau begitu aku akan pergi sekarang. Selamat bekerja."


Marigold keluar dari kamarnya. Ia memasang senyum terbaiknya, kaki kecilnya melangkah pelan untuk menambah kesan anggun pada dirinya. Dua pelayan itu tercengang melihat wujud surgawi Marigold, "Aku beruntung tinggal di satu mansion dengan keturunan Saintess."


"Kau benar."


"Teman-teman, ayo kita pergi sekarang— oh aku lupa, kalian ada pekerjaan lain ya? Ya sudah tak apa, kalian pergilah. Selamat bekerja."


Marigold pun pergi sendirian ke ruang tamu. Hatinya masih merasa kesal, sangat kesal. "Cih. Mengapa anak itu bisa sangat tenang, menyebalkan!" umpatnya lirih.


Selama ini ada satu hal yang terus mengganjal dalam benaknya. "Mengapa aku selalu ingin membuat Meridia berada di bawah kontrolku? Apa itu artinya aku sangat membencinya?"


Marigold memang sudah mendapatkan semuanya tanpa perlu bersusah payah membuka mulut, semua akan tersaji di depannya. Sedangkan Meridia tak pernah secuil pun merasakan kasih sayang dan perhatian dari orang-orang. Jadi, apa yang membuatnya iri dan takut?


Marigold tak tahu apa yang mendasari niatnya tersebut. Ya, dia memang selalu memiliki ketakutan bahwa adiknya akan merebut segala sesuatu yang ia milik dan menggantikan posisinya dihati semua orang. Sekali saja dia lengah mungkin Meridia bisa mengambil kesempatan dan melakukan apa yang dia ingin lakukan. Padahal dilihat dari kenyataannya, Meridia yang saat ini hidup serba kesulitan mana mungkin bisa merebut posisi Marigold.


Namun, ada sisi dalam hati Marigold yang tak terpuaskan hanya dengan memiliki kasih sayang yang tak dimiliki Meridia. Tamak, mungkin satu kata itu dapat menggambarkan hati Marigold dengan detail.


Suasana hatinya membaik kala sudah bisa melihat ruang tamu, senyuman orang kasmaran memang sangat mudah terlihat "Aku tidak sabar ingin bertemu dengannya lagi," ia memegangi kedua pipinya yang sudah bersemu merah jambu.


Dari pintu Marigold sudah bisa melihat Arden sedang duduk tenang sambil memegang cangkir tehnya. Pemuda itu berpenampilan rapi seperti seharusnya namun ia selalu terlihat seperti berkelas tinggi meski yang dipakai hanya pakaian kasual, bukan untuk menghadiri acara.


Rambutnya ditata sedemikian rupa hingga menimbulkan kesan lebih segar pada pemuda itu. Kaki Marigold goyah setelah melihat ketampanan Arden, dia tidak mengerti mengapa rasa sukanya semakin besar hanya dengan menatapnya lebih lama saja.


Mendengar bunyi gemeletak sepatu yang bersinggungan dengan lantai membuat Arden sadar dan mengangkat wajahnya. Ia pun menyunggingkan senyum "Selamat pagi."


"Memang lelaki tampan itu tidak ada tandingannya," batin gadis itu.


Marigold mengangguk membalas senyuman Arden "Selamat pagi, Arden." Dia tetap berusaha tenang, jangan sampai Arden sadar kalau dia secara sepihak sudah menyukainya.


"Kau sangat cantik," pujinya hanya untuk menjaga formalitas sebagaimana layaknya menjaga hubungan dengan mitra bisnis. Akan tetapi, gadis itu tak dapat menahan gejolak dalam hati dan semakin jatuh cinta dibuatnya.


"Kau juga sangat tampan," cicit Marigold malu-malu.


"Hahaha itu tidak benar."


Marigold menggelengkan kepalanya "Aku tidak berbohong soal itu," Marigold ingin membuat Arden bertekuk lutut padanya.


Arden dengan santai mengiyakan, "Ya, aku paham. Kalau begitu, bisakah kita pergi sekarang?" Arden menawarkan lengan, pergi ke ruang makan untuk sarapan bersama dengan keluarga Marigold.


Tidak ada yang memulai percakapan. Arden fokus dengan pikirannya sendiri ketika melihat seluruh ruangan yang bisa dipandang mata olehnya, sedangkan Marigold berusaha mengatur detak jantungnya "Arden, apa kau menyukai makanan manis?"


Marigold pandai membuat makanan penutup. Dia ingin menunjukkan kebolehannya pada pemuda yang ditaksirnya. Tetapi sayangnya...


"Tidak. Ah, aku tidak membencinya tapi aku juga tidak menyukainya. Aku sangat jarang memakan makanan manis."


"Begitu ya," gagal sudah idenya untuk membuat Arden terkesan dengan keahliannya yang lain.


Dahi Marigold berkerut ketika melihat Arden terus menoleh kesana-kemari seperti bukan menikmati pemandangan dalam rumahnya, melainkan sedang mencari sesuatu, "Apa yang sedang kau cari?"


Arden sedikit menunduk menatap Marigold "Bisakah setelah sarapan nanti kau mengajakku berkeliling rumahmu?" gadis beriris sapphire itu sedikit terkejut "Apa?".


"Kau tahu, kita sudah menjadi teman. Apa kau tidak mau mengenalkan lingkunganmu padaku?"


"Ah iya benar juga. Kalau begitu, dengan senang hati aku akan mengantarmu." Marigold berpikir bahwa Arden ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersamanya dengan berkeliling rumah. Nyatanya itu hanyalah alasan Arden agar bisa bertemu lagi dengan Meridia.


Di lorong banyak mereka jumpai pelayan-pelayan yang sedang bekerja, Arden berpikir mungkin dia juga bisa berjumpa lagi dengan gadis yang telah berhasil menarik perhatiannya itu.


"Oh iya, berapa lama kau akan tinggal di kota ini? Apa benar kau akan pulang sore ini?"


"Tidak, aku meminta tambahan satu hari. Jadi besok sore aku baru akan kembali."


"Sungguh? Jadi kau hari ini bisa menghabiskan waktu di kota ini? Aku bisa menemanimu mengenal kota ini."


Mereka berdua telah sampai di ruang makan yang berhadapan dengan perpustakaan. Ziel dan Zoya sengaja menunggu di ruang makan untuk memberi waktu mereka saling dekat. Marquess dan sang istri dengan gembira menyambut putra tunggal Grand Duke Palmieri itu sampai menyiapkan banyak sekali hidangan mewah hingga menutupi meja panjang itu.


Di saat yang lain sedang sarapan, Meridia masih sibuk membersihkan ruang perpustakaan yang mana memiliki lebih dari empat rak besar dengan ribuan buku jumlahnya. Pandangannya mulai mengabur lebih parah dari pagi ini.


"Rasanya aku bisa pingsan kapan saja," ia menggumamkan kemungkinan tersebut ketika kepala bagian belakangnya berdenyut nyeri.


Saat ini Meridia tengah duduk di atas tangga lipat, tangga yang digunakan untuk membersihkan bagian yang tak bisa lagi dijangkau oleh tangan. Satu tangannya ia pergunakan untuk memijat kepala sedangkan tangan lain ia buat sibuk mengelap sampul buku Ensiklopedia.


Terdengar bunyi tawa dari ruangan di depannya, Meridia melirik pintu perpustakaan yang tertutup "Sepertinya mereka sedang bersenang-senang."


Semasa hidup menjadi Bianca, kedua orangtuanya tak pernah membeda-bedakan kasih sayang antara dia dan adiknya, mereka menyayangi anak-anaknya dengan adil. Meski Bianca dan adiknya menghabiskan lebih banyak waktu tinggal bersama neneknya.


Meski begitu, baik adiknya maupun Bianca sendiri tak pernah merasa saling iri. Cinta kasih kedua orang tuanya sama rata. Itu sebabnya Bianca sangat syok ketika baru menempati kehidupan seorang Meridia, penjahat di novel 'Light and Shadow' karya penulis L.


Tidak masalah jika mereka tidak terikat darah. Ini lebih parah karena Marigold dan Meridia adalah saudara kandung dan keduanya kembar, lahir diwaktu yang sama.


"Tck. Tak usah memikirkan hal tidak penting. Pada dasarnya aku memang bukan anggota keluarga asli mereka."


Selesai sarapan Marigold langsung ingin mengajak Arden berjalan-jalan di kota, mempertontonkan kedekatan mereka untuk mencari dukungan serta dorongan. "Arden, apakah kau bisa pergi berjalan-jalan sebentar denganku? Aku yakin kau tidak akan kecewa."


Arden bingung. Marigold sudah bilang akan mengajaknya berkeliling tapi ternyata gadis itu lupa dengan pembicaraan mereka dan merubah kegiatannya "Ya, aku mungkin bisa menemanimu sebentar."


Intensitas senyuman gadis berwajah malaikat itu meningkat. Wajahnya berseri-seri senang, matanya seolah dipenuhi kebahagiaan "Sungguh? Kalau begitu aku akan segera bersiap-siap. Tunggu sebentar ya."


Arden mempergunakan waktu menunggunya untuk berjalan-jalan di sekitar Lorong tersebut. Pertama-tama mata Arden langsung terpusat pada sebuah ruangan di depan ruang makan. "Ruangan apa ini?" gumamnya seraya membuka kedua daun pintu untuk melihat apa isinya.


"Oh, perpustakaan. Mungkin aku bisa membaca sebentar di sini."


Di balik rak yang ia dekati terdapat bunyi tepukan kain, "Sepertinya ada yang sedang bersih-bersih."


Rasa penasaran mendorongnya untuk melihat siapa pelayan yang tengah membersihkan perpustakaan sendirian. Semakin dekat jaraknya jantung Arden semakin berdebar tanpa sebab yang jelas.


Matanya terbelalak lebar melihat sosok gadis yang ia harapkan ternyata sedang duduk di atas tangga lipat sambil mengelap pinggiran buku yang kotor.


Arden sangat ingin memanggilnya tetapi dia akan melakukan itu setelah jarak mereka lebih dekat. Arden mengernyit melihat ekspresi Meridia yang letih dan terus berkeringat tidak sebanding dengan kegiatan santai yang dia jalankan. Ditambah warna kulitnya yang pucat sampai ke bibir membuat Arden merasa gadis itu sedang tidak baik-baik saja.


Sudah sebanyak dua kali Arden melihat Meridia menyeka keringat dingin di dahi. Pemuda itu mulai cemas "Sepertinya dia sedang sa—, hei!" Arden berlari secepat mungkin dan dengan sigap menangkap tubuh tak berbobot milik Meridia yang tiba-tiba pingsan.


Meridia sudah sepenuhnya kehilangan kesadaran, ia tak tahu ada yang menangkap tubuhnya. Arden tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya "Astaga, suhu tubuhnya. Aku rasa demamnya sangat tinggi."


Arden berlari keluar dari perpustakaan dan membawa Meridia ke sofa ruang tamu. Kejadian itu bertepatan dengan Marigold yang selesai memakai topinya dan sedang berjalan menuju ruang makan tempat Arden menunggu.


Marigold membeku ditempat ketika tak sengaja melihat Arden menggendong Meridia.


"Arden...?" kedua matanya terbuka lebar "Apa-apaan ini? Apa yang kulihat ini benar?"


Dengan penuh kehati-hatian Arden menidurkan Meridia di sofa panjang dan menyingkirkan poni yang mengganggu wajah ayu gadis itu "Kau yang di sana, tolong panggilkan dokter kemari."


Tidak ada seorang pun yang bergerak dari tempatnya. Pelayan-pelayan di sana hanya menunduk. Mereka ragu mengambil tindakan seolah sangat takut membuat seseorang marah.


"Kenapa kalian diam saja? Apa yang kalian tunggu?! Cepat pergi sekarang!" Arden keheranan melihat ketidakpedulian mereka terhadap rekan kerja sendiri.


"B-Baik, Yang Mulia."


Seseorang baru mau bergerak setelah dibentak Arden. Pelayan wanita itu terpaksa tunduk akan titah tamu kehormatan di mansion Emerald ini. Nada Arden yang meningkat membuat semuanya takut.


Pelayan itu semakin tak bertenaga saat berpapasan dengan Marigold ketika hendak memanggil dokter keluarga Marquess untuk Meridia. Harap-harap cemas majikannya dapat mengampuni kelancangannya supaya tetap bisa bekerja.


Marigold tetap bersembunyi dibalik dinding, memperhatikan betapa Arden begitu mempedulikan keadaan Meridia. Terlihat dari Arden yang tak mau melepaskan tatapannya dari saudari kembarnya "Apa mereka sudah saling kenal sebelum aku? Arden, kenapa kau sangat memperhatikannya? Dia kelihatan sangat khawatir dengan si pengganggu itu."


Hatinya semakin tak tenang jika terus berdiam diri di sana. Alhasil Marigold menghampiri mereka dan berpura-pura terkejut dengan kejadian itu. "Ada apa, Arden? Kenapa pelayan tadi berlari?"


Arden menengadahkan wajahnya menatap Marigold yang berdiri di sebelahnya "Pelayan ini tiba-tiba jatuh di perpustakaan. Sepertinya dia sakit dan memaksakan diri untuk bekerja."


Tangan Marigold mengepal "Memangnya kau harus sepeduli itu pada manusia rendahan seperti dia?" gerutu Marigold dalam hati. Dia ikut berjongkok lalu tersenyum lembut "Kau tenang saja. Aku bisa bantu sembuhkan dia."


Marigold yang diberkahi dengan kekuatan Saintess menyentuh dahi Meridia. Cahaya hijau keemasan yang pernah Arden lihat muncul menyelubungi sekujur tubuh panas Meridia. Tak butuh waktu lama sampai suhu tubuhnya menurun dan nafas gadis itu kembali normal. Meski sudah disembuhkan, Meridia masih belum dapat siuman.


"Jijik sekali. Mengapa aku harus menyembuhkannya?" Marigold sangat ingin mencuci tangannya sendiri setelah menyentuh dahi berkeringat Meridia.


Marigold memandang Arden "Dia sudah sembuh, kita bisa serahkan sisanya pada dokter. Bisakah kita pergi sekarang?" kekesalan gadis berambut pirang itu bertambah lebih besar saat mendengar jawaban Arden "Bisakah kita menunggunya sampai selesai diperiksa?"


Marigold mau tidak mau, demi menjaga image nya, mengangguk mengiyakan permintaan pemuda tampan itu "Tidak masalah."


Sial, dia sengaja mencari perhatian Arden untuk balas dendam padaku?! Dia tidak sadar sedang mencari masalah dengan siapa!


Marigold menyuruh Arden untuk duduk disofa lain sembari menunggu kedatangan dokter yang bekerja khusus untuk Ziel dan keluarganya.


Sepuluh menit berlangsung dan akhirnya orang yang ditunggu telah sampai. Seorang pria berkumis tipis dan berkacamata datang mendekat, tangan kanan bergerak melepas topi dan tangan lainnya membawa koper kecil berisi alat-alat dan bahan obat yang telah ia persiapkan sebelumnya.


Tak lupa dia memberi salam kepada dua bangsawan muda tersebut lalu dilanjut dengan pemeriksaan tubuh Meridia.


Arden yang menunggu dengan gelisah sejak tadi langsung bertanya tak peduli jika sang dokter baru saja selesai memeriksa denyut nadinya "Nagaimana?"


Arden tak sadar telah mengundang kecurigaan besar dari Marigold.


Sebenarnya apa alasan dibalik sikap perhatian Arden itu?