
Hari ini Marigold akan bertugas di kuil hingga petang. Itulah kesempatannya untuk mengecek di buku daftar jemaat dan mencari nama Navarro di dalamnya.
Saat itu ada seorang siswa muda yang sedang menyusun semua buku pendataan kuil di dalam almari yang tersedia. Kemudian dia mengeluarkan buku baru untuk pencatatan baru di bulan ini. Untungnya Marigold hafal dengan nama-nama calon pendeta muda, dia tidak ragu mendekat. “Hilda, kau rajin sekali,” puji Marigold seraya menghampiri gadis muda berwajah bulat kecil nan manis itu.
Gadis yang diketahui bernama Hilda itu merona mendengar pujian dari Saintess yang dikagumi semua masyarakat tersebut. “Saintess, selamat datang! Saya hari ini bertugas membuat buku daftar hadir yang baru.”
Marigold memasang senyum manisnya guna menjerat mangsa baru “Oh benarkah? Kau menatanya dengan sangat rapi. Boleh aku temani?”
“K-kalau Saintess berkehendak, saya tidak keberatan.” jawabnya malu-malu.
“Omong-omong, apa aku boleh membaca daftar jemaat bulan lalu? aku akan membacanya sambil menemanimu sampai kau selesai membuat buku yang baru.”
“Tentu saja, Saintess. Ini bukunya.”
“Terima kasih, Hilda.”
Marigold membaca cepat semua nama-nama yang tertulis. Untungnya penulisan dalam buku itu masih rapi dan tidak kena lunturan tinta dari halaman-halaman berikutnya. Beberapa kali memang tertulis nama Navarro di dalam sana “Um, Hilda. Bisa aku menanyakan sesuatu?”
“Apa itu?”
“Apa kau kenal dengan jemaat bernama Navarro ini? Dia sepertinya sering datang kemari tapi aku sama sekali tak pernah melihatnya.” Hilda yang terhitung sering mendapat bagian pembukuan itu berpikir keras, “Saya juga tidak pernah mengamati bagaimana orang itu, Saintess. Saya hanya pernah melihatnya sekali, itupun wajahnya tertutup tudung jubah jadi saya tidak bisa melihat dengan jelas wajahnya.”
“Bagaimana penampilannya? Maksudku caranya berpakaiannya jika kau masih ingat.”
“Dia terlihat seperti orang biasa. Kalau dilihat dari pakaiannya waktu itu, dia seperti seorang penjaga kota. Mengapa Anda menanyakannya?”
Marigold menggeleng seraya menutup buku laporan bulan lalu yang sudah penuh “Tidak, aku hanya penasaran. Tidakkah kau pikir dia sangat rajin datang untuk ukuran seorang laki-laki?”
Di daerahnya memang lebih banyak jemaat perempuan yang rajin datang. Jadi cukup jarang laki-laki seperti dia yang sangat rajin berdoa.
Anehnya, lelaki bernama Navarro itu hanya datang ketika Marigold tak memiliki jadwal untuk mengobati rakyat yang tengah menderita sakit. Mungkin ini hanyalah kebetulan semata.
“Ya, itu benar.”
Kemudian kuil menjadi seramai pasar minggu. Masyarakat yang asalnya dari mana saja berbondong-bondong datang di hari di mana Marigold akan sepanjang hari berada di kuil.
Tidak semua dari mereka mengeluh sakit tetapi sebagian adalah pengagum sang Saintess dan hanya ingin berjabat tangan atau hanya sekadar bertukar sapa.
Karena ramai otomatis Marigold sibuk dan tidak bisa benar-benar mengamati sosok bernama Navarro yang dicarinya itu. Dia harus mengobrol panjang lebar dengan orang ramai sekaligus.
Saat sedang melayani semua yang datang padanya, sekilas netra berliannya menangkap bayangan seseorang yang memandanginya dari jauh.
Saat dia balik menatap, matanya terbelalak. Seorang pemuda berjubah yang wajahnya tak terlalu terlihat tengah tersenyum kepadanya. Bisa dilihat senyuman menawan pemuda itu berhasil menyihir Marigold yang rakus ingin memiliki segalanya.
“Itu…”
Ia tidak bisa fokus karena begitu banyak anak-anak kecil yang terus mengajaknya bicara. Dia tiba-tiba memiliki perasaan yang kuat kalau orang tersebut adalah orang yang dicarinya.
Hingga sore, Marigold masih melayani beberapa orang terakhir. Ia terkadang merasa kuil sedang mengeksploitasi dirinya untuk keuntungan mereka sendiri. Tetapi Marigold masih ingin melakukannya untuk memperkuat statusnya baik dimata para bangsawan maupun rakyat biasa.
Setelah cukup tidur Marigold memutuskan untuk mendinginkan kepala di taman kuil yang terawat. Tidak ada yang dia lakukan selain melamun menatap kolam ikan di dekatnya sambil menghela nafas.
“Selamat sore, Saintess.”
Gadis bersurai keemasan itu terkesiap, ia menengok ke belakang kursi panjang yang ia duduki “Ya, selamat sore. Mengapa kau masih ada di sini, tuan? Sebentar lagi kuil akan ditutup.”
“Saya belum berkesempatan untuk mengadu kepada Anda. Bolehkah?”
“Oh ya, tentu saja. Silakan duduk di sebelahku.”
Setelah mengobrol beberapa saat, barulah Marigold sadar bahwa pemuda itu yang tersenyum kepadanya tadi siang. “Omong-omong, apakah kau yang tadi pagi memandangiku dari sudut ruangan?”
“Maaf atas ketidaksopanan saya, Saintess. Saya hanya kagum dengan keindahan Anda. Kehadiran Anda benar-benar sebuah mukjizat bagi kami.”
Marigold tertawa kecil “Kau terlalu melebih-lebihkan. Apa bisa kita berkenalan sebentar?”
“Oh astaga, di mana kesopanan saya. Maaf. Nama saya Navarro.”
“Oh, Navarro? tapi apa yang terjadi padamu, mengapa kau menggunakan syal untuk menutupi wajahmu?” tanyanya penasaran. Tadi siang dia tidak mengenakan apapun untuk membalut wajah itu “Saya merasa kurang percaya diri.”
“Mengapa begitu? Aku tidak akan menghinamu.”
“Kalau begitu…”
Ia pun melepaskan syalnya dan disaat itulah Marigold seakan kehilangan kesadaran serta kewarasannya. Pemuda itu tak kalah tampan dari Arden. Walau kau melihat bagian matanya saja, kau sudah bisa menyimpulkan bahwa dia sangat menarik dimata lawan jenis.
Sangking terpukaunya Marigold sampai tidak bisa menutup mulutnya yang menganga. Berkedip pun ia enggan kalau saja pemuda itu tak melambai di hadapannya, “Permisi? Saintess, kau masih di sana?”
“E-Eh? Oh, oh iya…”
“Hahahaha mengapa Anda memelototi saya seperti itu? Sudah saya bilang saya tidak percaya diri dengan wajah yang saya miliki.”
“Jangan bilang begitu! Kau tampan— maksudku kau kelihatan normal seperti yang lelaki pada umumnya kok.”
“Anda lucu sekali.”
Dalam waktu yang singkat mereka berhasil menjalin hubungan pertemanan yang baik. Obrolan mereka terasa sangat seru dan hidup, Marigold sampai meminta izin agar dia tetap bisa berada di area kuil walau jam buka untuk umum sudah ditutup.
Marigold bak seperti telah membuang semua perasaan yang ia punya terhadap Arden ketika sedang mengobrol dengan pemuda yang baru saja dia temui. Ia seakan lupa dengan perasannya sendiri. Tetapi gadis pemilik kekuatan suci tersebut tak berniat menikah dengan Navarro karena status mereka yang jauh berbeda.
Sinting bukan? bagaimana bisa seorang wanita yang dianggap suci dan terpandang selalu memikirkan pernikahan tiap bertemu dengan lelaki baru? dia sungguh banyak khayalan.
Setelah langit mulai gelap, barulah mereka menyelesaikan acara bincang-bincang ringan itu “Senang bisa mengobrol dengan Anda, Saintess.”
Marigold menyunggingkan senyum “Ya, aku juga senang bisa berteman denganmu, Navarro.”
Marigold menghela nafas lega. Suasana hatinya membaik segera setelah banyak bercerita kepada orang asing yang belum dia kenali sepenuhnya. Tetapi Marigold terlupa akan hal penting “Tunggu dulu..." gadis blonde itu mengingat-ingat kembali apa yang diceritakan Ziel, "Jika dia orang biasa, mengapa dia bisa memenangkan wilayah tambang itu? Astaga, bagaimana aku bisa melupakan sesuatu yang penting?!”
“Mengapa dia harus menyembunyikan statusnya dengan menjadi orang biasa seperti itu? atau mungkin nama mereka kebetulan mirip? Aku akan menanyakannya lagi besok.”
Sesampainya di rumah Marigold tahu bahwa ayahnya sedang menunggu di dalam ruangan kerjanya. “Ini saatnya aku mengembalikan energi sebelum berakting lagi,” batinnya bersemangat.
Marigold tidak sabar menemui ayahnya. Yang biasanya dia memilih gaun tidur dengan santai kali ini asal menyambar apa yang tergantung di depan mata. Marigold sengaja membuat dirinya terlihat acak-acakan agar memperlihatkan betapa frustrasinya dia dengan masalah Arden.
“Ayah...”
Ziel lantas berdiri dan memeluk tubuh langsing putri kesayangannya. Ziel mempererat pelukannya tatkala bahu Marigold gemetar “Apa yang kau tangisi, nak?” tanya kepala keluarga Emerald lembut.
“Ayah, aku kira aku sudah cukup kuat. Tapi aku sudah benar-benar menyukai Arden.” Isaknya dalam pelukan Ziel. Air mata membasahi kemeja tipis Ziel, “Aku memang tidak berhak memaksakan hati seseorang. Aku hanya ingin menangis hari untuk bisa bahagia dengan cara lain esok pagi.”
Zoya ikut berkaca-kaca mendengar tangisan putrinya. Dia tak pernah melihat Marigold menangis sebegitu sedihnya “Sayangku, astaga…” Zoya ikut
Marigold melepas pelukan ayah ibunya, tersenyum layaknya orang yang paling melarat “Aku masih punya kalian jadi aku akan tetap bahagia. Aku tidak membutuhkan yang lainnya kecuali ayah dan ibu. Tenang saja, ini bukan masalah besar jadi kalian tidak perlu khawatir.”
Tampaknya dunia ini memang berputar dengan Marigold sebagai sumbu pusatnya. Semua yang dia inginkan terjadi. Ziel dan Zoya sangat mengasihaninya dan mulai menyusun rencana untuk membuat Meridia menjauhi Arden.
Hanya tinggal hitungan jam saja sampai dia mendapat tontonan baru. Marigold tak sabar ingin menghancurkan hidup saudari kembarnya dan mengusir dia jauh-jauh demi ketenangan hati.
Seusai mengadu sambil menangis tersedu-sedu Marigold kembali ke kamarnya untuk beristirahat sebentar. Dia hanya perlu mendengar semua dari para pelayan wanita di rumah itu keesokan harinya.
Sementara itu, Meridia baru saja menyelesaikan semua pekerjaannya menata ulang semua buku di perpustakaan setelah Marchioness sengaja mengatakan bahwa dia ingin tatanan perpustakaannya diubah dan hanya Meridia yang boleh mengerjakannya.
Sekarang kepalanya pusing berkunang-kunang. Punggung dan bahunya terasa seperti mau lepas saja.
Meridia memutuskan untuk tidur lebih cepat karena esok Marquess pasti akan menyuruhnya bekerja lebih ekstra mengetahui bahwa tamu-tamu bisnisnya dari kota lain akan datang.
Gadis itu terus menggeliat tak menemukan posisi yang nyaman untuknya mengumpulkan rasa kantuk.
“Akh! punggung sakit sekali rasanya,” kembaran Marigold itu mencoba cara terakhir yaitu dengan mengambil posisi tengkurap.
Baru saja ia hendak membalik badan tiba-tiba pintu kamarnya didobrak hingga menimbulkan suara nyaring menggema dalam lorong sepi bagian asrama pelayan.
Brak!
“Datang ke kantor ku sekarang juga.”
Ziel pergi begitu saja tanpa menutup pintu atau yang lainnya. Dilihat sekilas pun Meridia tahu apa yang akan terjadi “Tamat sudah riwayatku,” ujarnya datar.
Lima menit berjalan, Meridia masih mempersiapkan telinganya untuk mendengar keluhan dan tuduhan miring yang akan dilayangkan kepada dirinya.
Kini Meridia sudah berdiri di dekat pintu. Bukan dia yang ingin, tapi Ziel tak mau terlalu dekat dengannya. Takut terhadap keberadaan anaknya sendiri adalah sebuah kekonyolan yang nyata.
“Kau tahu kenapa aku memanggilmu kemari?” Ziel nampak menahan diri. Nada bicaranya masih sopan untuk didengar meski sangat jelas kemarahan dibalik ucapannya yang penuh penekanan. Meridia lalu berpura-pura tidak tahu.
Ziel mendengus kasar “Aku berencana ingin mengadakan pertunangan minggu depan.”
Terdengar aneh. Meridia menautkan kedua alisnya “Ini tentang Marigold? Aku sudah mendengar langsung darinya.”
“Bukan. Ini tentang pertunanganmu dengan Viscount Verdechmicth.”
Meridia membeku. Otaknya masih belum dapat menerima apa yang disalurkan melalui kedua telinganya. Keputusan sepihak ini amat sangat merugikan Meridia.
“Aku tidak mau.”
Viscount Verdechmicth memang masih berada dikisaran usia kepala dua, tidak terlalu terpaut jauh dari dirinya. Apalagi sudah menjadi hal yang lumrah apabila pria menikahi wanita yang lebih muda. Masalah utamanya tidak pada usia ataupun rupa, melainkan kepribadiannya.
Dia memiliki temperamen seburuk ayahnya, mudah terpengaruh dan tidak punya pendirian, arogan, ringan tangan, dan selalu dikelilingi para penjilat yang memanfaatkan kebodohannya.
Selain itu, kalian tahu yang lebih parah? Viscount Verdechmicth suka sekali hura-hura menghamburkan uang untuk bermain di distrik hiburan, tempat berjudi, dan masih banyak lagi. Kalau Meridia sampai terikat dengan manusia tak bersifat layaknya manusia yang ‘seharusnya’ maka hancurlah sudah.
Ibarat lepas dari mulut harimau, masuk ke dalam mulut buaya. Baru keluar dari mansion neraka ini tapi harus menjalani kehidupan sebagai pasangan seseorang yang berbahaya untuk mental dan psikis. Kesialan bertubi-tubi menimpa Meridia.
“Tenang saja. Dia hanya membutuhkan status itu untuk urusan bisnisnya.”
Tenang katanya? Dia pikir siapa yang akan menjalani kehidupan neraka itu?
“Aku tetap menolak. Aku tidak mau bertunangan ataupun menikah dengan pria itu.”
“Siapa bilang kau boleh menolak? Aku tidak memberimu pilihan untuk menolak keputusanku!”
Meridia mengulum kedua bibirnya, ia berusaha mati-matian untuk tidak mengumpat ataupun mengatakan hal-hal buruk saat suasana hatinya tak kalah mengerikan dari badai besar. Ziel menegakkan punggungnya “Aku ini ayahmu, jadi aku tahu mana yang baik untukmu.”
Meridia membelalak, mulutnya terbuka saking terkejutnya ia dengan ucapan kepala keluarga Emerald tersebut “Ya, bisa tolong diulangi lagi? Pfft hahahaha. Maaf. Baru sekarang kau berlagak seperti seorang ayah untukku? ini sangat menggelikan.” Meridia tidak dapat menahan rasa menggelitik diperutnya setelah mendengar ucapan Ziel yang keluar jalur.
Meridia menyeka air disudut matanya, dia berkata, “Jika kau memang ayah yang baik, sudah seharusnyalah kau mengetahui sifat seperti apa yang dimiliki oleh lelaki yang akan menjadi menantumu. Bukan begitu, ayah?” Meridia menekankan akhir kalimatnya.
“…” Ziel mengangkat sebelah alisnya “Kalau kau tidak mau dengan Viscount Verdechmicht kau bisa menikah dengan salah satu ksatr-“
“Tidak. Kau tidak ingin aku tetap di sini tapi kau mengikatku dengan mata-matamu agar kau tetap bisa mengontrolku dari jauh,” Meridia merotasikan kedua bola matanya “Katakan saja sebenarnya apa lagi kesalahan yang ku perbuat sampai kau sebegitunya ingin aku menikah secepatnya?”
Jujur Meridia terkejut dengan emosi ayahnya yang tampaknya lebih terkontrol. Dia tidak mendahulukan egonya padahal sudah jelas-jelas Meridia sedang merendahkannya sebagai orang tua.
Ziel menunduk dan mengepalkan kedua telapak tangan “Tolong jangan ganggu hubungan Marigold dan Arden lagi. Aku mohon dengan sangat padamu. Sudahi kesialan ini.”
Melihat Ziel yang setengah menyerah dan berkaca-kaca menyayat sesuatu lebih lebar dan lebih pedih yang ada di dalam diri Meridia. Memelas bukanlah sifat Ziel, pria itu tak mudah menunduk kepada orang lain.
Meridia menjadi kehilangan seluruh kosakatanya, yang ada hanya perasaan sedih. Bukan, itu bukan dirinya, itu perasaan yang sudah lama Meridia asli rasakan. Sampai sekarang dia masih merasa jiwa Meridia tetap hidup, hanya saja dia memilih kesadarannya diambil alih oleh Bianca.
Melihat Meridia diam saja, Ziel harus memohon ulang agar hati salah satu putrinya itu tergerak. Kaki panjangnya melangkah lebar dan sekarang dia berdiri tepat dihadapan Meridia, memegang kedua lengan kurusnya sambil meratap “Aku mohon padamu. Aku tidak bisa melihat Marigold menangis pilu. Itu sangat menyakiti hatiku.”
Meridia tersenyum getir “Lalu bagaimana denganku?”
Ziel mengangkat wajahnya memandang wajah pucat Meridia “Apa?”