
“Apa aku sudah jatuh cinta padanya?” Marigold mencoba mengembalikan logikanya. Tidak mungkin perasaannya berubah-ubah secepat itu.
Kalau dipikir-pikir lagi, Marigold tidak yakin dia bisa menikah dengan Arden karena pemuda itu secara tidak langsung memperlihatkan bahwa pertemanan mereka tidak akan berkembang lebih. Otomatis Marigold masih harus berjuang lebih lama untuk membuat Arden membuka hati.
Selain keraguan itu, Marigold juga merasa sayang jika dia harus melepaskan tugas sebagai Saintess setelah menikah dengan Arden. Namun entah kenapa hatinya berdegup lebih kencang saat Lucien yang mengatakan bahwa dia ingin menikahi dirinya.
Ziel merengut tak suka dengan cara Lucien menyampaikan keinginannya, itu sangat tidak sopan. Apalagi Ziel sangat menyayangi putrinya itu. Rasanya jika ada seorang pemuda yang tidak jelas asal-usulnya tiba-tiba meminta putrinya dengan tidak sopan wajarlah apabila ditolak. Ziel tidak merasa tindakannya berlebihan “Saya rasa Anda sudah terlalu kelewatan.”
“Apa ada yang kurang dariku? Aku punya segalanya. Kau tidak perlu khawatir putrimu kekurangan suatu apapun.” Terdengar congkak memang, tetapi Lucien tidak berbohong soal itu.
“T-tunggu dulu!” sela gadis cantik jelita itu pelan.
Marigold muncul dari balik daun pintu. Dia tersenyum untuk mengurangi ketegangan “Maaf atas ketidaksopanan saya menyela. Yang Mulia Duke Navarro, Anda tidak bisa melakukannya. Saya sudah memiliki rencana pertunangan dengan orang lain.” ucapannya terdengar sangat menyebalkan tapi Marigold mengemasnya dengan nada bijak, dan itu menjadi semakin menyebalkan ditelinga Lucien.
Ziel hanya diam menyaksikan putrinya yang terbilang melakukan tindakan tidak sopan itu. Apapun yang dilakukan gadis itu tak pernah akan ada yang berani menegurnya dan tak pernah sekalipun kebiasaan buruknya mengusik Ziel. Dia diberi kebebasan penuh dalam segala hal. Status Saintess telah menutupi mata semua orang.
Lucien tersenyum miring, ia melirik Marigold meledek “Lagipula itu baru rencana saja ‘kan?”
“Eh?”
Apa ini? kenapa jantungku semakin berdetak tak karuan?
Melihat ekspresi wajah Lucien yang tampak menantang membuat Marigold menjadi gugup setengah mati. Suhu tubuhnya meningkat “Iya, tapi saya juga akan segera melangsungkan acara pertunangan ini.”
“Untuk apa kau pamerkan rencana itu padaku? Itu semua tidak ada gunanya.” Lucien memiringkan kepalanya sedikit, menatap datar wajah Marigold yang sudah memerah sempurna bak kepiting rebus.
“Apa dia akan terus berusaha membujuk ayah untuk bisa menikahiku? Mengapa aku merasa aneh dihatiku? Apa aku menyukai orang yang tidak ku kenal ini? tidak mungkin,” batin Marigold bimbang.
Pemuda rupawan itu kemudian mendapatkan sebuah ide. “Oh iya, apa kau pernah dengar kalimat ‘jangan terlalu sering membicarakan rencanamu kepada orang lain kalau tidak mau rencana itu gagal’?”
Lucien merasakan kepuasan tersendiri saat mengacaukan pikiran orang-orang di mansion Emerald, dia sangat suka mempermainkan mereka dengan tindakan dan perkataannya.
“Maaf, ini pertama kalinya saya mendengar pepatah itu.” jawab Marigold pelan. Perlahan sisi hati Marigold menerima apabila pemuda tampan penyandang status Young Duke itu kembali mengulangi ucapan lamarannya.
“Lupakan saja, itu tidak penting,” pemuda itu lantas kembali menatap Ziel, si orang nomor satu di mansion tersebut “Bagaimanapun, tujuanku tetap sama. Aku ingin menikahi putrimu dan aku akan membawanya tinggal bersamaku sekarang juga.”
Perasaan Marigold dibuat semakin campur aduk oleh kata-kata Lucien “Mau bagaimana lagi, mungkin jika dia terus memaksa aku akan menerimanya,” pikir Marigold.
Ziel menyesap tehnya lalu menghela nafas “Bukankah Anda sudah mendengar jawabannya sendiri dari putri saya?”
Lucien tersenyum lebar dengan kedua alis yang bertaut, sebuah tawa kepuasan mengiringinya. “Pfft hahahaha! Apakah sejak awal aku menyebutkan namanya? Orang yang aku maksud bukan dia."
Ziel mematung ditempat. Dia membaca mimik wajah Lucien. Pemuda itu justru semakin mengembangkan senyuman, "Kau tidak hanya memiliki satu putri ‘kan, Marquess Ziel Emerald Yang Terhormat?” seluruh orang yang berkumpul disana membelalakkan mata tak percaya.
“Bagaimana—“
“Aku ingin menikahi Meridia bukan Lady Marigold,” potong Lucien sebelum Ziel menyelesaikan ucapannya.
Ziel hendak marah tapi saat ini yang membuatnya penasaran adalah bagaimana cara dia tahu kalau Meridia juga putri kandungnya “Dari mana Anda tahu soal itu?" Ziel mendecih pelan "Huh! Jadi Anda juga mempercayai berita palsu semudah itu?” ujarnya meremehkan.
Dalam hati Ziel penasaran bagaimana seorang Lucien yang notabenenya sangat menutup diri dari dunia luar mengetahui soal rumor yang tersebar bahkan sampai tahu nama Meridia.
“Aku tidak perlu memberitahumu soal itu. Nanti juga kau akan melupakan segalanya.” Ziel mengerutkan dahi mendengarnya.
Marigold diam tertegun. Dia, seorang Marigold yang selalu disanjung-sanjung, tak pernah menyangka akan mendapatkan hinaan sebesar ini. Hatinya bak tersambar petir. Siapa yang berani mempermainkannya? Ya, Lucien orang pertama yang melakukan itu.
Sudah diberi harapan yang sangat tinggi tetapi langsung dijatuhkan begitu saja, yang membuatnya semakin tak terima adalah karena itu menyangkut Meridia. Bagaimana bisa seseorang lebih memilih Meridia ketimbang dirinya?
Memangnya apa yang bagus tentang Meridia? Jelas Marigold lebih baik dari segala segi tanpa celah, itulah yang ada pikirannya. Ia merasa Meridia juga terlibat dalam penghinaan dirinya.
“Katakan bagaimana Anda bisa mengambil kesimpulan seperti itu?!”
“Sudahlah. Yang jelas, kau tidak hanya memiliki satu putri saja ‘kan? Sekarang panggilkan Meridia untukku. Aku akan membawanya pergi dari sini sekarang.”
Ziel memicingkan matanya menatap Lucien yang sudah bertindak semena-mena dan membuat keributan di rumahnya “Tidak. Anda tidak bisa membawanya.”
Lucien memiringkan kepalanya sedikit “Kenapa? Karena aku belum resmi menjadikannya seorang Duchess?” pemuda itu berekspresi dingin. “Aku akan segera melakukannya dan mungkin saja Anda akan segera mendapatkan cucu setelah pernikahan kami.” katanya menyelipkan sedikit ledekan.
Rahang Ziel semakin mengeras “Yang Mulia. Anda tidak bisa asal masuk ke rumah orang lain dan membuat keributan sesuka hati,” ucapnya sebagai peringatan yang penuh penekanan.
“Beritahu aku, Marquess. Memangnya apa alasan yang kau punya untuk tetap menahan Meridia? Toh kau juga tidak merawatnya dengan baik disini. Aku bisa menjaganya lebih baik dan lebih manusiawi daripada kau.”
Semua orang di sana tak henti-hentinya dikejutkan oleh penuturan Lucien. Siapa dia sampai tahu betul rahasia yang disimpan rapat-rapat oleh penghuni mansion Emerald ini?
Ziel sudah merasa tidak enak sejak semalam dan enggan memperpanjang masalah “Saya sangat sibuk, sebaiknya Anda segera pulang.”
“Aku bukan orang yang toleran dengan penolakan. Percuma saja kau menolak, aku pasti akan mendapatkan apa yang aku inginkan. Pasti.” tegasnya yang seketika membuat hawa diruangan itu berbeda.
Lain dengan ketegangan di dalam mansion, Meridia justru sekarang sedang menikmati pekerjaannya mencabut sebagian mawar yang akan diganti dengan lavender bersama Samuel. Lavender yang beberapa hari lalu ia tanam sudah segar dan mulai tumbuh dengan baik dan sekarang sebagian lagi akan ia ganti.
Meridia mencabuti akar mawar sambil melamun, pikirannya sejak tadi malam terus berpusat pada si pemeran utama lelaki kedua yang membantunya pulang.
Ia menunduk memperhatikan mawar yang sudah ia cabut “Aku merasa tidak seharusnya terlibat dengan dia, tapi bukan berarti aku ingin karena itu hanya ketidaksengajaan,” gumaman serta helaan nafas Meridia membuat pria disebelahnya penasaran.
Sepulang dari istana Lucien, Meridia terus berpikir mengapa kali ini dia tidak lagi melupakan Lucien setelah tahu bahwa Lucien adalah second male lead dalam novel yang dia baca.
“Nak, ada apa?”
Meridia menoleh ke Samuel “Paman Sammy, apa menurutmu aku bisa pergi dari rumah ini sekarang juga?”
Samuel menggaruk pelipisnya “Maksud Anda kabur?” Samuel terkejut saat mendapat anggukan mantap dari Meridia.
“Ya. Sepertinya Marquess sudah melonggarkan penjagaannya.”
Ketika sedang berbincang dengan Samuel, pelayan pribadi Marigold datang ke kebun belakang dan menghampiri Meridia yang juga sedang memasukkan tanaman mawar ke dalam ember “Lady Meridia, mari ikut saya ke dalam. Ada tamu yang ingin menemui Anda.”
“Astaga.” Gadis cantik bersurai biru kehitaman itu menghentikan kegiatannya.
Meridia berdiri dan menatap aneh pelayan itu. Tatapan kosong dengan wajah yang datar disertai panggilan yang sangat tidak biasa itu cukup mengganjal diotak Meridia, ia menyipit heran “Apa yang terjadi padamu?” namun bukannya menjawab, wanita itu malah memberi jalan “Mari, Lady.”
Meridia lalu melirik Samuel, pria tersebut tak menyadari perbedaan itu, dia malah tersenyum pada Meridia dan memberi isyarat agar mengikuti keinginan pelayan itu. “Siapa tamu yang ingin menemuiku?” sebelum Meridia bertanya, hatinya sudah merasa gelisah “Anda akan melihatnya sendiri nanti.”
“Anda?” ulang Meridia keheranan. Sejak kapan pelayan ini tahu sopan santun?
Beberapa menit kemudian Meridia sudah sampai di depan pintu ruang kerja Marquess. Gadis bersurai biru dongker itu dapat melihat ketegangan Johnson yang berdiri di dekat pintu.
Ketika menoleh ke dalam, kedua matanya melebar kaget melihat sosok Lucien yang berpakain resmi sedang duduk berhadapan dengan Ziel Emerald.
Duke termuda sepanjang sejarah Bommenhaum itu tersenyum lebar “Meridia, akhirnya kau datang juga.” ujarnya senang. Ia langsung mendekati gadis itu dan memeluk tubuhnya dengan erat tanpa minta persetujuan dari sang gadis.
“Apa yang kau lakukan disini?” pertanyaan itu yang langsung diajukannya.
“Tadi malam aku sudah bilang ‘kan? Apa kau lupa lagi?” senyum yang ditunjukkan Lucien kepada Meridia begitu berbeda dibanding saat Lucien harus berhadapan dengan orang lain.
Senyuman itu terlihat sangat tulus dan tampak seperti anak kecil yang sedang melihat orang terkasihnya.
Marigold yang melihat perbedaan itu menguatkan kepalan tangannya, rahangnya mengeras melihat keberuntungan yang di dapat adik kembarnya. Rasa bencinya kepada Meridia membesar “Tidak boleh! Tidak boleh ada satupun orang yang memihaknya!” jerit Marigold dalam hati.
Lucien menggenggam kedua tangan Meridia “Ayo kita pergi sekarang, Meridia.”
“Apa? Kemana?” Meridia hendak berontak melepas tangannya tapi justru Lucien mengencangkan genggamannya “Tentu saja ke rumahku. Mulai sekarang kita akan tinggal bersama.”
Marigold melirik ayahnya, Ziel tampak tetap tenang meminum tehnya seolah tak terjadi apa-apa di sana. lambat laun semua orang juga bersikap sama seperti ayahnya, kecuali dirinya sendiri yang mulai menahan tangis di tempatnya berdiri.
Lucien menunduk memperhatikan Meridia yang juga sedang mengamati keanehan di sekitarnya. Tangan Lucien kemudian bergerak menangkup kedua pipi mulus Meridia, secara halus memaksa gadis itu agar fokus melihat dirinya saja “Ada apa Meridia?”
Gadis itu mengerutkan dahi “Apa yang telah kau lakukan kepada mereka?”
Lucien menaikkan sebelah alisnya “Aku tidak melakukan apa-apa, kok. Bukankah sejak awal mereka memang tidak pernah mempedulikanmu?”
Tidak, itu tetap aneh, pikir Meridia. Tidak peduli itu juga ada batasnya, orang-orang disana lebih seakan tidak melihat apa yang tengah terjadi. Kenapa pula Lucien bisa tahu kalau ia hidup seperti sampah di mansion ini?
“Siapa kau sebenarnya?”
Lucien menunjuk dirinya sendiri “Aku? Lucien.” balasnya enteng.
Kecurigaan Meridia berhasil membuat rasa ingin kabur dari pemuda itu menguat “Aku ingin tetap tinggal disini.”
Senyum Lucien sedikit berubah “Aku sudah bersusah payah datang kemari hanya untuk menjemputmu, aku ingin membuatmu lebih bahagia, tapi kau memberikan jawaban yang mengecewakan.” Lucien mengelus pucuk kepala Meridia dengan lembut namun tatapannya berubah menjadi intens nan tajam “Bukan begitu seharusnya caramu menjawab, sayang.”
Seketika bulu kuduk Meridia berdiri, ia merasa merinding dibuatnya. Meridia tak tahu pasti apa tujuan Lucien yang malah mendatanginya bukan Marigold.
“Kau kemari karena ingin memastikan aku tutup mulut soal semalam? Akan ku lakukan, tenang saja. Sekarang kau boleh pergi.” Meridia berpikir Lucien ingin dia tidak memberitahu soal rumahnya yang dia sembunyikan dalam tabir.
Tangan kiri Lucien bergerak melingkari pinggang kecil Meridia dan tangan kanannya yang tadi digunakan untuk mengelus puncak kepala Meridia kini terangkat mengarah ke sebelahnya di mana ada Marigold di sana “Kau bisa lihat itu?”
Meridia yang semula sibuk berusaha melepaskan tangan kiri Lucien dari pinggangnya sekarang menengok ke arah Marigold yang sudah mengambang di udara dan mulutnya terbuka seperti orang tercekik.
Gadis pewaris kekuatan suci itu gelagapan kesulitan bicara apalagi bernafas “Ukh! M-Meridia t-tolong aku!” rintih Marigold patah-patah.
Cengkraman di lehernya semakin kuat.
Marigold sudah berusaha menetralkan kekuatan yang mencekiknya itu tapi ia malah tak bisa menyentuh apa-apa, tak ada apapun di lehernya. Rasa sakit dan sesak tercekik itu amat menyiksa.
Lucien masih tersenyum meski sedang membuat Marigold sekarat “Aku bisa dengan mudah membalaskan rasa sakitmu kepada mereka. Kau tinggal pilih, mau membalas dendam dengan cara apa?”
Anehnya, Ziel dan beberapa orang di dekat sana tetap diam berdiri seperti patung tak bernyawa di ruangan itu, mereka seperti tak bisa melihat dan mendengar apa-apa “Apa yang coba kau lakukan? Turunkan dia!”
Lucien memandang Meridia seraya mengangguk mengiyakan “Asal kau mau ikut denganku.”
Meridia tak diberi waktu untuk merasa bimbang, dia harus segera mengambil keputusan cepat kalau tak ingin Lucien membunuh Marigold.
Aku tidak mau pergi dengan orang seperti dia tapi aku tidak tahu bagaimana cara menolong Marigold, pikir Meridia panik “Baiklah, baik! Aku akan ikut denganmu. Sekarang cepat kau turunkan dia!”
“Nah, itu baru benar.” Lucien menghela nafas lega, ia lalu menurunkan tangannya dan bersamaan dengan itu Marigold jatuh ke lantai dengan cukup keras.
Kakak kembar Meridia itu terbatuk-batuk tak karuan sambil memegangi lehernya yang masih terasa sakit. Begitu punya kesempatan, Marigold dengan rakus meraup udara untuk mengisi paru-parunya. Putri kesayangan Ziel itu yakin kini lingkaran merah tercetak jelas di kulit lehernya yang bersih.
“Aku akan membereskan pakaianku dulu.” pemuda bergelar Duke itu segera menahan pergelangan tangan Meridia, ia berkata “Itu tidak perlu. Aku sudah menyediakan segalanya disana. Kau hanya perlu membawa badan saja.”
“Ada benda yang harus aku bawa.”
“Kalau begitu, baiklah. Aku akan tunggu diluar.”
Meridia berlari keluar menuju ke kamarnya di asrama pelayan, kakinya terasa lemah setelah merasakan takut namun ia tetap berusaha untuk berlari.
“Ini gila. Dia sudah tidak waras!” Meridia merutuki dirinya sendiri.
“Hugo,” setelah dipanggil namanya, pria itu langsung muncul dihadapan Lucien sambil berlutut “Bereskan ini semua, aku akan menyusul Meridia.”
“Segera saya laksanakan, Yang Mulia.”
Meridia mengemasi beberapa barang yang dirasa akan ia rindukan dan akan ia butuhkan ke dalam tas kecilnya. Gadis itu berencana kabur lewat pintu belakang selagi Lucien menunggunya di depan. Meridia pun ingin segera menjauh dari mansion serta orang berbahaya yang ia temui itu.
Dia terlonjak kaget saat membalik badan karena tanpa menimbulkan suara satupun, tiba-tiba Lucien sudah berada diambang pintu dan memperhatikan ke segala sudut ruang kamar “Kamar ini begitu menjijikkan. Apa selama ini kau tidur ditempat kumuh seperti ini?”