
Dokter panggilan itu bukanlah seorang dokter biasa. Dia juga memiliki pengetahuan yang mumpuni mengenai sihir dan semacamnya. Jadi, dia bisa mengerti jika bukan hanya penyakit medis yang menjadi penyebab utama seseorang sakit.
Dokter berambut putih itu menghela nafas lega “Syukurlah. Berkat bantuan Yang Mulia Marigold, kondisi nona Meridia sudah membaik.”
Arden ikut merasa lega apalagi ketika melihat wajah Meridia tak lagi pucat seperti orang nyaris kehilangan bernyawa “Kenapa dia bisa mengalami demam setinggi itu? Setahu ku, demam itu bisa membuat seseorang sekarat dan pada bayi bisa sampai menyebabkan kematian.”
Dokter itu mengelus dagunya sambil berpikir “Itu bisa dipicu kelelahan atau karena kedinginan, ditambah jadwal makannya yang tidak teratur. Tubuhnya terlalu kurus. Walau begitu, kali ini penyebab demamnya karena hal lain.”
Marigold mengerutkan dahi “Hal lain?” kurang lebih Marigold sudah tahu apa yang hendak disampaikan si dokter dan itu membuat hatinya tak nyaman.
“Telah terjadi luapan energi dalam jumlah besar di dalam tubuh nona ini sementara fisiknya sama sekali tidak dapat mengimbanginya sehingga dia bisa mengalami demam tinggi di atas rata-rata manusia biasa.”
Arden tak mengerti. Bisakah seorang insan biasa mengalami luapan energi? “Apa maksudmu dengan luapan energi?”
Meski sudah menebak Marigold tetap terkejut mendengarnya. Hatinya belum siap. Seperti yang orang-orang rumahnya percayai, Marigold pun merasakan sendiri bahwa adik kembarnya memiliki jenis kekuatannya sendiri. Kekuatan gelap yang bisa melampaui kekuatan miliknya.
Arden ingin mengajukan pertanyaan baru, tapi dia sadar Marigold menegang di sebelahnya, ia bahkan terlihat pucat seperti ketakutan, “Marigold, ada apa? apa kau sakit?”
Gadis pemilik kekuatan suci tersebut terkesiap, tidak tahu kalau Arden melihatnya. “Eh? tidak kok. Ayo kita segera pergi, aku bisa menceritakannya nanti.”
“Baiklah.” Setidaknya nyawa Meridia sudah tertolong. Mereka berdua pun pergi menuju kereta kuda yang sedari tadi sudah menunggu di depan tangga pintu mansion Emerald.
Layaknya lambang Yin dan Yang. Ada cerah ada gelap, ada putih ada hitam. Tak selamanya putih selalu suci (titik hitam dalam putih) dan tidak selamanya pula hitam selalu kotor (titik putih dalam hitam). Semuanya berada dalam keseimbangan.
Marigold sadar betul akan hal itu. Seperti Marigold yang terlahir dengan kekuatan suci, dia percaya bahwa kembarannya juga terlahir dengan kekuatan mengerikan.
Kekuatan Marigold dianggap sebagai anugerah terbesar setelah ratusan tahun tak ada lagi penerus Saintess yang membantu masyarakat. Bahkan semua pendeta pun menjunjungnya, semua perintahnya terkait urusan kuil dan jemaat akan langsung dilaksanakan.
Meski dia memiliki kekuatan yang begitu diimpi-impikan, rasa iri dengki serta ketakutan tetap menyelimuti hatinya. Selama Meridia ada, dia tak akan pernah merasa tenang.
Meridia yang bisa kapan saja menghapus posisinya sebagai kesayangan orang-orang membuat Marigold menghalalkan segala cara menguasai segalanya dan memaksa Meridia sadar untuk tak mengharapkan apapun.
Kecuali Meridia, tidak satupun yang mengetahui bahwa menjadi gadis sempurna yang lemah lembut dan dewasa hanyalah akting untuk mematenkan posisinya dihati semua orang. Lama kelamaan itu menjadi sebagian dari jati dirinya.
Sejak kecil Marigold tak ingin berbagi apapun dengan saudarinya. Jadi, ia memanfaatkan keraguan orang-orang di rumah dan juga rumor yang beredar dengan mengunggulkan kekuatannya, membuat semua jatuh hati padanya, dan kemudian tak satupun orang yang akan melirik Meridia.
Sejauh ini Marigold belum pernah melihat secara langsung Meridia menggunakan kekuatannya, itu saja sudah membuat Marigold cemas. Lalu bagaimana sekarang? Setelah dokter menyatakan tentang luapan energi yang terjadi pada adiknya, kegelisahan terus melambung tinggi.
“Marigold, kau baik-baik saja? sejak tadi aku perhatikan kau melamun terus, ada yang sedang kau pikirkan?” iris biru terang Marigold terfokus pada Arden “Oh ya, aku sedang memikirkan sesuatu.”
“Apa itu? Jika kau merasa kesulitan, kau bisa berbagi denganku.”
Marigold pernah membaca buku tua yang tersimpan di kuil. Di sana tertulis bahwa orang-orang terpilih dengan kekuatan spesial bisa mengalami demam tinggi seperti itu saat kekuatannya bertambah kuat. Biasanya terjadi diawal menuju kedewasaan diusia tujuh belas tahun.
Marigold dan Meridia adalah anak kembar, seharusnya jarak mereka mengalami demam sama tetapi Marigold sama sekali tidak mengalaminya. Apakah aku tidak akan mengalami peningkatan? Pikirnya cemas.
“Marigold? Lagi-lagi kau melamun,”
“Oh maaf. Aku ingin menanyakan sesuatu padamu.”
“Silakan.”
“Kau seperti sangat perhatian pada pelayan tadi, apa kalian sudah saling mengenal?” Marigold sangat penasaran dengan alasan dibalik perhatiannya yang terlalu berlebihan kalau hanya untuk seorang maid yang tidak dikenal.
Arden sudah banyak belajar dengan menjadi bangsawan yang sering kali berbohong dengan sempurna “Tidak. Aku hanya kasihan saja melihat dia jatuh di perpustakaan tadi. Kenapa dia melakukan bersih-bersih sendiri? Aku lihat beberapa pelayan lain berpasangan.”
Jawaban cepat yang diberikan Arden dan didukung oleh ekspresinya berhasil meyakinkan Marigold, tapi sebaliknya kini Marigold yang harus pandai merangkai dusta “Aku juga tidak tahu, mungkin pasangannya sedang pergi. Semuanya sudah diatur oleh kepala pelayan jadi aku tidak terlalu mengerti.”
“Oh begitu.” Arden merasa ada yang aneh dengan perlakuan yang diterima Meridia, termasuk saat dia meminta seseorang untuk memanggilkan dokter.
“Matamu tadi benar-benar menyiratkan kekhawatiran jadi aku pikir kalian memang dekat.” sahut Marigold sambil memasang senyum senang, "Jika kau kenal, aku rasa kita bertiga mungkin bisa menjadi teman juga."
Arden terkekeh “Begitukah? Kau salah mengartikannya. Aku tadi sempat berpikir dia tertular penyakit mematikan yang baru-baru ini sering terjadi di kota ku.”
“Penyakit apa maksudmu?” sebagai seorang Saintess Marigold ingin memukau Arden dengan tawaran bantuannya.
“Beberapa hari yang lalu aku dan ayah menemukan kasus penyakit mematikan di pinggiran kota. Satu orang tiba-tiba terkena demam tinggi, tubuhnya seperti panas terbakar lalu setelah demamnya turun seluruh tubuhnya menjadi kering keriput. Kami dapatkan kesaksian itu dari warga yang menemukannya. Saat kami datang memeriksanya, darah orang itu sudah habis tak bersisa.”
Marigold merinding mendengar berita tersebut. Terjadi lagi, ketika Marigold mencoba membuat Arden terkesan rencananya langsung gagal “Begitu ya, ku kira aku bisa sedikit membantumu dengan kekuatanku.”
“Ya, mungkin lain kali aku akan meminta bantuanmu,” Arden tidak berbohong. Kali ini memang benar adanya “Aneh sekali. Kematiannya terjadi begitu cepat. Itu seperti bukan wabah penyakit.” lirihnya.
“Bagaimana kelanjutannya?”
“Aneh. Itu hanya terjadi pada satu orang dan saat aku mencari tahu mengenai penyakit itu ternyata tidak pernah tercatat dalam sejarah. Di kemudian hari beberapa anggota bangsawan yang tinggal di dekat pinggiran kota mulai terdampak penyakit yang sama.”
Sejujurnya Marigold juga baru mendengar penyakit semacam itu “Itu mengerikan. Apa tidak ada satu pun dokter yang mengetahui soal penyebabnya?”
“Tidak. Aku juga sudah berusaha mencari tahu. Satu pendeta yang sedang bertugas di dekat sana juga tidak mengetahuinya.”
Tadinya Arden hanya berniat mengalihkan pembicaraan mengenai Meridia tapi berhubung sedang dibahas ia jadi teringat kembali pada kasus yang belum lama ini terjadi di Kawasan ayahnya. Ada banyak kejanggalan yang belum terpecahkan.
Sebenarnya pada mayat yang terjangkit wabah misterius itu tubuhnya tak hanya mengeriput saja tetapi darah ataupun dagingnya pun tak bersisa sama sekali. Mereka seperti hanya tengkorak yang terbungkus dengan kulit kering keriput. Semakin lama dibiarkan kulitnya pun akan melebur berubah menjadi debu dan menyiakan tulang belulang keropos.
Jika itu merupakan jenis penyakit medis, rasanya sangat mustahil bisa sampai membuat tubuh yang dijangkitinya berakhir mengenaskan. Selama menangani lebih dari empat mayat, Arden selalu menyadari ada satu tanda yang tertinggal sebelum tubuhnya rusak, yaitu tanda kemerahan setipis benang dan melingkar dileher korban.
“Arden, kita sudah sampai.”
“Oh iya,” Arden turun terlebih dulu barulah ia membukakan pintu dan membantu Marigold turun dari tangga kereta.
Para warga yang berada di sana berkumpul melihat kedatangan dua pemuda-pemudi menawan di daerah pasar. Semuanya begitu gembira melihat Marigold dari dekat. Anak-anak kecil datang mengerumuni dan memberikan bunga padanya.
Marigold begitu ramah, dia menanggapi satu per satu sapaan masyarakat, dia bahkan tidak ragu bersentuhan dengan rakyat miskin yang dianggap kotor dan menjijikkan oleh sebagian besar bangsawan. Sosok sempurna pengganti Saintess dahulu.
Banyak orang kemudian melihat keduanya seperti pasangan yang sangat cocok. Mereka banyak mendoakan mereka berdua berjodoh. Itulah yang menjadi tujuan Marigold membawa Arden berkeliling.
“Maaf, kau pasti tidak nyaman mendengar ucapan mereka. Terkadang mereka memang suka asal bicara,” ujar Marigold.
“Tidak apa-apa, mereka hanya mengatakan sesuatu yang menyenangkan mereka.”
Marigold masih belum melihat adanya ketertarikan Arden pada dirinya. Calon penerus Grand Duke itu hanya senang melihatnya begitu dekat dengan kehidupan masyarakat di kota ini, tidak lebih. Sia-sia aku mengeluarkan banyak tenaga untuk menanggapi mereka, batin Marigold.
“Kalau begitu, apa kau mau mengunjungi kuil bersamaku?”
“Boleh, aku juga ingin melihat pekerjaanmu di sana.”
Arden kagum melihat kuil kota ini sangat besar. Dulu dia pernah dengar bahwa kuilnya tidak besar tetapi setelah lahir penerus Saintess, mereka merenovasi bangunan kuil dan memperluasnya menjadi sebesar sekarang karena jemaat yang datang semakin banyak.
Lingkungannya tetap terjaga. Entah mengapa Arden merasakan kesejukan yang luar biasa. Arden melihat-lihat ke ruangan yang terbuka untuk umum, termasuk ke dalam kolam di mana patung Saintess tertanam di tengahnya dan satu ruangan khusus di mana ada patung dewa matahari.
Selama satu jam Arden menemani Marigold melakukan kegiatannya di kuil. Sejujurnya kalau boleh Arden ingin sekali meminjam buku-buku yang tersimpan di kuil untuk ia baca. Barangkali ada jawaban untuk pertanyaannya tentang wabah aneh yang sedang dihadapi kotanya.
Setelah selesai Marigold mengajak Arden makan di sebuah toko semacam kafe yang desainnya sangat elegan. Dari luar saja terlihat bahwa yang datang ke sana hanyalah para bangsawan.
“Ayo kita makan di sini,” ramai gadis-gadis bangsawan yang sedang menikmati kudapan mereka di sana. Arden menatap gadis jelita yang memegang tangannya “Apa tidak masalah jika kau pulang terlambat? Hari sudah mulai gelap. Orang tuamu mungkin akan khawatir.”
“Tenang saja, kau ‘kan ada bersamaku.”
Arden tidak segera menjawab karena bingung, “Baiklah.”
Ya, kalian semua pasti sudah tahu alasan Marigold datang kemari. Selain untuk menghabiskan waktu bersama Arden hingga petang, dia juga ingin memamerkan kedekatannya dengan putra tunggal William Palmieri tersebut.
Semakin banyak orang yang menyaksikan, semakin luas gosip tersebar. Rasanya hampir tidak mungkin ada orang yang akan menentang kombinasi yang sangat cocok ini.
Waktu sudah berlalu tiga jam lamanya dari ia pingsan dan sekarang Meridia terbangun dalam keadaan tubuh yang sudah fit kembali. Suhu tubuhnya sudah normal, sakit kepalanya membaik, hanya tersisa pegal di bagian tulang belakang.
Meridia terbangun karena mimpi yang dialaminya begitu terasa nyata dan secara kebetulan dia bisa sadar secepatnya “Mimpi itu sangat mengerikan,” jujur saja kedua tangannya masih gemetar karena mimpi tersebut.
“Mimpi itu terasa begitu nyata sampai-sampai aku seperti sedang melihat gambaran masa depan,” Meridia tertunduk lemas, walau hanya sekadar mimpi tetapi masih meninggalkan sesak dihati.
Beberapa menit setelah terbangun Meridia baru sadar kalau dia berada di kamarnya sendiri “Sepertinya aku pingsan. Siapa yang sudi menolongku? Paman Sammy tidak mungkin menentang perintah Marquess.”
Meridia keluar dari kamarnya setelah kakinya tak lagi gemetar. Tentu dia bertanggung jawab atas bagiannya hari ini. Meridia dibuat bingung sekaligus heran dengan sikap pelayan-pelayan lain yang tambah sinis terhadapnya. Mereka bahkan memiliki lebih banyak hal untuk digosipkan.
Apa? kenapa mereka menatapku seperti itu?
Meridia kembali ke perpustakaan dan mengembalikan tangga lipat yang masih dibiarkan di depan rak. Setengah jam kemudian dia ke kebun belakang untuk menemui Samuel.
Di perjalanan menuju ke kebun belakang, Meridia bertemu dua pelayan yang menjahilinya pagi tadi sedang dipapah oleh teman mereka. Kedua pelayan itu jalan dengan satu kaki yang pincang. Mereka tampak kesakitan.
Satu pelayan yang menyandung kakinya jatuh terpeleset saat mengepel tangga menuju ke lantai dua dan satu pelayan lain yang menertawakan Meridia baru saja kakinya tertimpa satu karung tepung gandum saat memindahkannya ke dapur.
Meridia tidak tahu apa yang telah menimpa keduanya, namun dia langsung sadar itu semua terjadi karena sumpah serapah yang dia ucapkan dalam hati.
Meridia menautkan dua alisnya “Apa yang terjadi?” gumamnya heran dan sedetik kemudian ia teringat pernah mengucapkan sesuatu yang tidak seharusnya ia ucapkan. “Ah…maaf, aku tidak sengaja,” Meridia tersenyum tipis melihat dua pelayan yang sudah membelakanginya itu.
Samuel saat itu sedang berada di dekat pintu belakang dapur, lebih tepatnya sedang menggunakan kran air untuk mencuci peralatan kebun yang sudah selesai dipakai “Paman Sammy?”
“Lady?! Anda baik-baik saja?” Samuel menghentikan aktivitasnya dan memeriksa Meridia “Saya dengar Anda jatuh pingsan.”
“Oh…ya, aku sudah baik-baik saja, ” Meridia menatap kedua mata Samuel “Paman tidak takut padaku?”
“Ya? Untuk apa saya takut pada Anda? Saya baik-baik saja selama bersama dengan Anda.” Seolah tahu apa yang dirisaukan oleh gadis belia di hadapannya, Samuel dengan sabar memberikan kalimat penenang agar ia tidak jatuh sakit lagi.
“Syukurlah,” gumam Meridia lega. Samuel memasukkan semua alatnya ke ember lalu mengajak Meridia untuk pergi “Ayo kita makan sesuatu dulu. Ssst, tapi kita harus diam-diam.”
Tiba-tiba Samuel mengecilkan volume suaranya.
Mengerti kode yang diberikan, Meridia membalasnya dengan anggukan paham. Mereka berada di dekat dapur yang mana masih ada koki dan beberapa pelayan di sana, untuk berjaga-jaga mereka harus tetap tenang agar tidak menarik perhatian mereka.
Samuel lalu meminta Meridia masuk ke dalam Gudang. Pria yang sudah banyak memiliki keriput diwajahnya itu mengeluarkan satu roti baguette panjang. Seperti yang kita tahu roti itu adalah roti berserat tinggi yang hanya dimakan oleh orang-orang berada saja.
“P-paman, mengapa kau memberikan ini padaku?”
“Kemarin saya baru saja mendapat gaji. Jadi saya membelikan ini untuk Anda sebagai tanda terimakasih karena sudah membantu saya merawat kebun ini.”
“Paman, kau terlalu berlebihan. Bagaimana dengan anak istrimu?”
Samuel mengelus puncak kepala Meridia lembut, tatapan lembutnya membuat Meridia berkaca-kaca karena Samuel begitu mengasihinya seperti anak sendiri. Pria tua itupun menjawab “Anda tidak perlu khawatir. Ini hanya roti. Keluarga saya sudah memiliki cukup banyak uang untuk hidup satu bulan ke depan.”
“…” bibir Meridia bergetar menahan tangis.
“Ayo makanlah. Saya tahu Anda belum makan sejak kemarin, ayo makan. Setelah kenyang Anda harus beristirahat.”
Akhirnya Meridia memakan roti baguette sambil berlinangan airmata haru. Sampai kapanpun dia takkan melupakan kebaikan Samuel yang menjadi satu-satunya orang yang selalu menilai sesuatu secara objektif.
Hati Samuel terenyuh melihat tangisan tak bersuara dari Meridia. Dia benar-benar merasa ingin membawa anak itu pergi dan tinggal bersama keluarga kecilnya daripada tinggal di rumah besar yang bukan untuknya.
Bahkan roti tanpa rasa yang kuat pun rasanya seperti makanan tujuh rempah yang sangat nikmat. Meridia bersyukur masih ada orang baik yang mau memperhatikannya.
Ia menyeka airmatanya yang tak mau berhenti keluar “Omong-omong, apa paman tahu siapa yang sudah menolongku?”
“Ya? I-itu…”