
“Celaka! Aku tidak bisa menggerakkan tubuhku!” batin Meridia yang baru menyadari keanehan di tubuhnya. Gaun tidurnya yang cukup tipis dan terbuka membuatnya semakin gelisah karena ia tahu kalau Lucien sangat suka bersentuhan fisik. Belum lagi sekarang Lucien menatapnya seperti singa yang siap memangsa hasil buruannya.
Lucien menunduk meletakkan kepalanya di perpotongan antara leher dan bahu Meridia, ujung hidungnya menyentuh kulit leher gadis itu lalu mengendus aroma tubuhnya yang sangat memabukkan bagi Lucien. “Hei itu geli! Menyingkirlah dariku!” ketus Meridia yang sudah menggeliat tak nyaman di tempatnya berdiri.
“Wangi sekali. Hei, Meridia, boleh aku melakukannya?”
“Apa?” Meridia mendelik tajam.
“Aku anggap itu sebagai jawaban ‘ya’,”
Pemuda itu mulai menciumi leher putih Meridia. Lama kelamaan kecupan kecil itu itu berubah menjadi hisapan yang kuat lalu berganti jadi gigitan-gigitan kecil yang berhasil meninggalkan tanda kemerahan di beberapa tempat.
Meridia merasa aneh dalam tubuhnya, Alhasil gadis lugu itu menggigit bibir bawahnya dengan kuat hingga sedikit berdarah untuk meredam suara anehnya yang hendak lolos dari mulutnya.
Lucien sedikit mengangkat wajahnya, memberi jarak agar bisa melihat leher Meridia lebih jelas, lalu tersenyum melihat tanda kepemilikannya pada Meridia. “Bagus,” tentu dia tidak begitu saja berhenti, Lucien kembali melanjutkan memberi tanda di leher bagian depan dan bahunya.
Dua menit kemudian Lucien tersentak dan menghentikan aksinya, ia memandang wajah Meridia yang sudah sepenuhnya memerah. Bukan untuk berhenti melainkan untuk meledek. “Hahahaha tubuhmu jadi panas, gadis yang jujur. Um, jangan-jangan kau jadi bersemangat hanya dengan ini?” tawa Lucien saat ini membuat Meridia semakin takut memikirkan apa lagi yang akan dia lakukan terhadap dirinya.
Lucien menunduk, “Kalau sudah begini bukankah aku harus bertanggung jawab membantumu menenangkan diri? Aku sangat tidak keberatan, akan aku layani kau dengan baik,” lirih Lucien tepat di depan telinga Meridia, deru nafas pemuda itu yang mengenai telinganya membuat Meridia bergidik geli.
“TIDAK BOLEH!” pekikan Meridia berhasil membuat Lucien sedikit menjauhkan darinya, ia juga berhasil melepaskan hipnotis Lucien dan sudah bisa menggerakkan tubuhnya dengan benar. Meridia lantas menggigit kulit diantara ibu jari dan jari telunjuk milik Lucien yang masih menahan pipinya.
Lelaki tampan itu reflek melepaskan cengkeramannya lalu menjilat bekas gigitan Meridia yang berdenyut. “Aku tidak tahu apa tujuanmu melakukan ini tapi sekarang aku yakin anggapanku tentang dirimu itu salah besar.” kedua mata Meridia berkilst dipenuhi amarah.
Lucien tersenyum miring seraya mengangkat bahu acuh, “Aku tidak pernah memintamu melihatku sebagai pria yang baik kok,” sahutnya dengan santai, “kau mau kembali ke kamarmu? baiklah,” Lucien membukakan pintu untuk Meridia “Selamat malam,” ucap Lucien.
Dia tak menahan Meridia ketika pergi meninggalkan kamarnya setelah berhasil membuat tanda kepemilikan pada gadis yang ia klaim sebagai miliknya seumur hidup itu. “Besok kita harus pergi ke istana, jadi kau harus istirahat dengan baik,” Meridia tak menghiraukan ucapan Lucien dan langsung membanting pintu kamarnya.
Meridia tidak bisa tidur memikirkan kejengkelannya pada Lucien. Dia terus berusaha mengingat sesuatu yang beberapa hari telah mengganggunya. Bukannya berhasil, Meridia justru tertidur akibat kelelahan.
Pagi harinya sekitar pukul enam, Meridia terbangun dari tidur ketika mendengar suara Ximena membuka tirai besar yang menutupi jendela kamarnya “Selamat pagi, Yang Mulia.”
Meridia bangkit dari sofa “Kenapa aku tidur disini?” tanya nya dengan suara serak khas orang bangun tidur.
“Yang Mulia, saya sudah menyiapkan gaun yang akan Anda pakai untuk pergi ke istana. Saya juga sudah menyiapkan air untuk Anda mandi,” Meridia menjawab dengan anggukan paham.
Gadis itu berjalan gontai menuju cermin besar untuk mengecek wajahnya yang biasanya terlihat bengkak setelah bangun pagi “Hm, sepertinya hari ini terasa lebih baik dibanding sebelumnya,” bengkak diwajahnya tidak begitu nampak.
Meridia menyibakkan semua rambutnya ke belakang dan matanya melotot kaget melihat bercak asing di lehernya “A-apa itu? Bekas gigitan nyamuk?” Meridia lalu menengok ke ranjangnya “Apa yang terjadi? Apa Lucien…” Meridia mengembalikan segenggam rambutnya ke depan lagi untuk menutupinya. “Ximena.”
Pelayan pribadi Meridia itu menghentikan kegiatannya merapikan sprei “Ada apa, Yang Mulia?”
“Apa kau melihat Lucien masuk ke dalam kamarku?”. Pelayan itu menggeleng sebagai jawaban, “Tidak. Pintu Anda dikunci dari dalam, jadi pagi ini saya harus meminta kunci cadangan pada kepala pelayan agar bisa membangunkan Anda.”
“Begitukah?” Meridia mengalihkan pandangan “Sial, bagaimana aku bisa pergi ke istana dengan keadaan seperti ini? memalukan,” Ximena mendengar gumaman Meridia “Yang Mulia, saya akan bantu Anda menyembunyikannya.”
Meridia terkesiap, wajahnya memerah sempurna karena ada orang lain yang melihat. “Kau tahu?”.
“Maaf, Yang Mulia. Saya tidak sengaja melihatnya.”
“Tidak apa-apa, lagipula mustahil tidak melihat ini,” telinga Meridia memerah menahan malu. Meski saat mandi Meridia sudah berusaha menggosoknya dengan air, tanda itu tak juga memudar justru semakin memerah perih akibat gosokan yang terlalu keras. “Bagaimana ini Ximena?”
“Jangan khawatir, Yang Mulia. Saya akan membantu Anda.”
Setelah semua persiapan selesai, Ximena menepati ucapannya dan berhasil menyembunyikan tanda di leher Meridia menggunakan bedak. Tidak menghilang sempurna tetapi sangat tersamarkan dan berkat itu Meridia bisa sedikit bernafas lega “Terima kasih banyak, Ximena.”
Hari ini Meridia menggunakan gaun yang senada dengan bunga kesukaannya yaitu lavender. Model gaun itu sangat cocok dengan bentuk tubuh Meridia sehingga membuat si pemakainya terlihat sempurna dengan keanggunannya. Kali ini Meridia berdandan layaknya seorang Duchess.
Ia berjalan pelan menuruni anak tangga untuk lebih berhati-hati sebab pandangannya tertutupi oleh roknya yang mengembang. Lucien yang menunggu di sofa dekat tangga langsung tertegun saat melihat kecantikan Meridia yang menyuguhkan aura yang berbeda.
Pemuda itu tersenyum “Sudah siap?” Meridia mengangguk kecil sambil tersenyum tipis “Ya” gadis itu menerima lengan Lucien lalu mereka berdua pergi bersama.
“Saya sangat senang melihat pemandangan ini, sungguh sangat meneduhkan,” gumam Ximena. Gadis yang nyaris tidak pernah tersenyum itu kini malah menunjukkan senyuman bahagia melihat pasangan tersebut pergi, “Kau benar, meski aku masih sedikit kurang terbiasa,” sahut Christ dari belakang Ximena.
“Sudahlah, yang penting mereka berdua bahagia,” balas Ximena lagi.
“Ya, kau benar. Oh iya, apa kau melihat Dylan pagi ini? bocah itu selalu keluyuran saat waktunya pemanasan,” Christ mengacak rambutnya kesal. Sejak pagi dia sudah mengelilingi istana hanya untuk mencari Dylan seorang.
“Kau sudah cari di kamarnya?” tanya Ximena.
“Oi Dylan, apa yang kau lakukan?!”
Christ dan Ximena saling pandang lalu mereka keluar dari istana menuju sumber suara yang mereka dengar. Hugo menatap kesal ke arah kereta kuda yang dipakai oleh Lucien. “Hugo, kau kena-“ Christ membelalak melihat Dylan berpakaian seperti seorang kusir. Rupanya pemuda itu nekat ingin ikut dengan kedua majikannya ke istana “Dylan, apa yang kau lakukan?!”
“Yang Mulia, saya mohon biarkan saya mengantar kalian pergi ke istana.”
Jika tidak ada Meridia mungkin Lucien sudah membanting lelaki itu ke tanah sebanyak tujuh kali “Tidak. Kali ini aku hanya butuh Hugo,” tolak Lucien dingin.
“Hei Dylan, jangan merepotkan Yang Mulia! Kami sudah terlambat tahu!” bentak Hugo sambil mengode Christ untuk segera membawa pemuda itu pergi ke lapangan latihan.
Kemudian Christ menjitak kepala Dylan dengan cukup keras sampai suaranya benar-benar jelas. “Dasar merepotkan! Kau pikir sudah berapa lama waktu yang ku gunakan hanya untuk mencarimu, huh?!”
“Aku sangat ingin menemani Yang Mulia Duchess~” rengeknya seperti anak kecil.
“Tidak bisa. Lakukan pekerjaanmu!”
“Yang Mulia Duchess~!”
“Berisik!” sentak Christ sebal. Telinganya terasa sakit terus mendengar rengekan Dylan. Kalau saja Dylan tidak memiliki kemampuan setara dengan Ksatria, Christ tidak akan mau berhubungan dengan seseorang seperti dirinya.
“Astaga, pagi-pagi sudah ribut saja,” Meridia terkekeh pelan.
Di dalam kereta suasana canggung amat terasa, mereka sama-sama diam dan sibuk dengan pikiran masing-masing sehingga kondisi dalam kereta menjadi sangat hening. Lucien hanya fokus pada gulungan kertas yang dia bawa sementara Meridia memilih untuk menikmati pemandangan yang sangat amat ia rindukan dari luar jendela.
Meski tampak tenang, otak Meridia terus bekerja memikirkan sesuatu yang masih terasa nyata “Sepertinya belakangan ini ingatanku terus memburuk, mengapa aku selalu melupakan apa yang aku lakukan di malam hari, aku tidak cukup tua untuk disebut pikun 'kan?” pikir Meridia keheranan, dia terus mencari alasan dibalik ingatannya yang mudah kabur “Apa seseorang telah memasukkan obat tertentu ke dalam makanan atau minumanku?”
“Eh? Ya?” Lucien memandang wajah Lucien sebentar.
“Kita hanya menemui Raja setelah itu kau pulanglah duluan. Hugo akan menjagamu sampai aku pulang.” Lucien menggunakan nada serius sehingga memperlihatkan bahwa dia memiliki alasan yang kuat untuk melarangnya tak terlalu lama berada di istana.
Meridia memiringkan sedikit kepalanya “Kenapa aku tidak bisa disana bersamamu lebih lama?”
Lucien menghela nafas pelan “Istana bukan tempat bermain yang menyenangkan seperti yang kau bayangkan. Itu bukan tempat yang aman untuk Meridia-ku yang berharga,” ucapnya sambil tersenyum hingga membuat matanya menyipit.
Meridia tidak memiliki argumen untuk membalas ucapan calon suaminya itu, dia juga tahu kalau istana buka tempat yang mudah untuk bertahan hidup. “Aku mengerti.”
“Gadis pintar.”
Mereka menempuh perjalanan selama kurang lebih satu jam sebelum akhirnya sampai di istana Bommenhaum. Seperti biasa, Lucien berjalan berdampingan dengan Meridia, lelaki itu juga sesekali melirik gadisnya untuk mengecek apakah dia masih baik-baik saja, “Kau tidak perlu terlalu tegang seperti itu. Raja Gilbert tidak akan memakanmu.”
Meridia tersentak “Bagaimana kau tahu?” Lucien terkekeh melihat wajah Meridia. “Wajahmu jadi kaku seperti patung dan aku rasa sebentar lagi tulang lenganku akan patah kapan saja.”
Meridia menunduk melihat genggaman tangannya yang membuat lengan baju Lucien ikut kusut “Maaf, aku tidak sengaja.” gadis cantik kan anggun itu melonggarkan rekaman nya pada lengan Lucien.
“Ya, aku tahu itu.”
Mereka pun telah sampai di ruang takhta di mana sang Raja telah duduk tegap di singgasana nya sembari memperhatikan dua sejoli yang mulai memasuki ruangan untuk menghadapnya “Oh, jadi itu dia,” gumamnya seraya tersenyum.
Meridia saat itu terkejut. Ia penasaran seperti apa wajah Raja yang memimpin negara ini dan rupanya tidak sesuai ekspektasi. Usia Raja Gilbert Van Moultier sudah mencapai enam puluh tahun dan tentu sudah cukup umur untuk memiliki cucu namun nyatanya wajah yang dia miliki setara dengan pria berusia tiga puluh tahun, jika diperkirakan sepertinya tidak berbeda jauh dengan Ziel.
Lucien menundukkan kepala Meridia karena gadis itu terpaku menatap Gilbert dan juga kepalanya untuk memberi hormat kepada sang pemimpin negara. Mereka mulai berbincang membahas soal pernikahan keduanya yang Lucien rencanakan akan meminjam aula istana untuk mengadakan pesta.
Gadis elok nan anggun itu tak banyak ikut mengobrol, dia lebih banyak menggunakan waktunya untuk mengamati setiap sudut ruangan tersebut beserta Rajanya. “Dia seperti bukan Raja biasa, apa dia memang benar manusia?” auranya begitu pekat, entah itu mengarah pada sesuatu yang baik atau buruk, Meridia merasa Raja tidaklah seperti manusia pada umumnya.
“Mengapa kau terus saja melamun, Meridia?” Meridia tersadar dari lamunannya ketika mendengar suara Raja menyebut namanya.
“Hamba meminta maaf atas ketidaksopanan yang telah hamba lakukan, Yang Mulia.”
“Ada yang sedang kau pikirkan? jiika kau punya sesuatu yang mengganjal, tanyakan saja,” kata Gilbert dengan perhatian.
“S-sebenarnya…saya sangat ingin pergi ke toilet,” Gilbert dan Lucien tersentak mendengar cicitan Meridia.
“Pfft kau ini lucu sekali. pergilah, Qouila akan menunjukkan jalannya padamu.”
“Terimakasih, Yang Mulia,” kemudian Meridia keluar dari ruangan tersebut bersama dengan penjaga di pintu. Pria berambut kebiruan itu berjalan memimpin di depan.
“Jadi itu Meridia?” senyuman Gilbert langsung menghilang, tatapannya berubah menjadi dingin.
“Ya.”
“Dia sepertinya mulai mencurigai aku.”
“Tidak mungkin. Dia sekarang hanya manusia biasa.”
Gilbert mengusap dagu menatap Lucien dalam, “Hm, apa kau yakin kau sungguh ingin memilih jalan ini?”
“Ya.”
“Yah, mau itu berakhir baik atau buruk semuanya sama-sama bukan urusanku. Aku hanya menginginkan mu, Lucien,” seringai Raja tak ditanggapi oleh pemuda itu.
Lucien diam tak bergeming, ia mengangkat gulungan kertas yang dia bawa dari rumah “Lakukan pekerjaan itu dengan benar.”
“Ya ya ya, kau tidak perlu memerintahku. Asal kau juga membalas kebaikan ku, aku tidak keberatan menuruti semua permintaanmu.”
Selama melewati lorong-lorong yang luas dan lumayan ramai orang, Meridia memperhatikan sesekali mengamati pintu-pintu yang ia lewati. “Sangat besar, lebih besar dari rumah Lucien,” gumam Meridia. Suasana yang diberikan juga berbeda. Beberapa pelayan yang berpapasan dengannya sangat ramah.
Beberapa menit kemudian Qouila berhenti di depan lorong yang mana hanya memiliki satu ruangan di sana “Toiletnya ada disana, Yang Mulia.”
“Ah ya terimakasih, tuan.” Qouila tak mengantarkan Meridia sampai di depan pintu toilet, masih ada jarak sejauh lima meter dari tempat mereka berdiri sekarang “Saya akan berada di sini sampai Anda selesai.”
“Baiklah.”
“Tuan Qouila!” seorang maid datang menghampiri Qouila dengan tergesa-gesa dan memberitahu suatu masalah yang terjadi di ruang pertemuan yang akan dipakai oleh para bangsawan untuk rapat siang ini.
Meridia menghela nafas panjang “Akhirnya aku bisa melepas keteganganku” Meridia sama sekali tak ingin pergi ke toilet, dia hanya ingin menjauh dari Raja yang sangat mengintimidasi. “Apa dia sadar sejak tadi aku memperhatikannya karena suatu alasan? Mungkin dia akan berpikir kalau aku sedang mencurigai wajahnya yang awet muda itu.”
Meridia terperanjat kaget karena tiba-tiba muncul sebuah pintu misterius di dekat pintu toilet. Warna pintunya keemasan dan berkilau jadi agak menyilaukan mata “Apa itu? Ruangan rahasia? Atau ruang harta karun?”
Meridia merasa ragu untuk mendekat tapi rasa penasarannya justru memuncak dan akhirnya dia memutuskan untuk masuk ke dalam ruangan tersebut tanpa memikirkan resiko. Di luar bayangannya, isi ruangan tersebut malah terlihat seperti perpustakaan sederhana, terdapat tiga rak buku super besar, namun sangat rapi dan bersih. “Apa memang begini tata letak ruangannya? Sedikit aneh melihat ada perpustakaan di sebelah toilet.”
Sepintas semua tampak normal, tetapi detik berikutnya Meridia dapat melihat beberapa peri bertubuh kecil beterbangan di depan wajahnya. mereka tampak bekerja membersihkan buku-buku di sana seakan tak peduli dengan kehadirannya “Mereka ini peri?”
Tiba-tiba seorang peri berambut blonde panjang terbang kearahnya sambil membawa buku tebal “Hoamm, ini yang kau cari ‘kan?” katanya sembari menguap lebar.
“Apa? Aku tidak mencari apa-apa disini,” kata Meridia kebingungan meski dia tetap menerima tawaran buku itu.
“Kau bisa melihat pintu ini dan masuk sampai ke dalam, berarti kau sedang mencari sesuatu,” balas si peri itu seraya duduk diatas pundak Meridia “Oh atau jangan-jangan kau adalah tamu spesial bos?” senyumnya meledek.
Aku sedang mencari jawaban atas semua permasalahanku.
“Siapa ‘bos’ yang kau maksud? Aku sama sekali tidak mengerti ucapanmu.”
“Kau bisa melihat kami dan berbicara dengan bangsa kami saja itu sudah aneh. Bos hanya akan datang dan bicara dengan orang-orang tertentu seperti kau saja."
Meridia menunduk menatap buku bersampul tua di tangannya, rasa penasaran mulai tumbuh. Ia sudah membuka sampul itu namun gerakannya berhenti ketika ia mendengar dengan jelas sebuah derap langkah kaki yang mendekat. “Aquila, kau mengobrol dengan siapa? Ini bukan waktunya bersantai loh.”
Meridia membeliak begitu sosok itu muncul dari balik rak buku. Ia adalah seorang pria yang suaranya terdengar sangat halus dan lembut mengalun indah di telinganya “Loh, kau siapa?” sosok tersebut memiringkan kepalanya menatap Meridia.