TRAPPED BY THE SECOND MALE LEAD

TRAPPED BY THE SECOND MALE LEAD
CHAPTER 5



Marigold dan Arden saling berbincang santai di atas balkon, tak tertarik untuk masuk dan berdansa bersama si tuan rumah. Arden tidak banyak membahas soal kehidupan pribadi seperti kegiatan saat di rumah atau kedekatannya dengan orang tua. Arden hanya membahas seputar kegiatan di luar rumah yang umum dilakukan teman seusianya.


Arden kemudian merasa penasaran dengan kegiatan Marigold yang bersangkutan dengan kekuatan ajaib yang digadang-gadang merupakan kekuatan suci Saintess. "Jadi, apa kau setiap hari harus pergi ke kuil?"


"Tidak juga. Kuil hanya akan membuka pelayanan masyarakat di hari Rabu, Jumat, dan Minggu. Jadi aku akan pergi di tiga hari itu saja dalam seminggu. Tapi terkadang aku juga akan mengunjungi kuil sebentar walaupun bukan jadwalnya."


"Kalau boleh, aku ingin melihat bagaimana kau menggunakan kekuatanmu."


Marigold menyelipkan anak rambut ke daun telinganya "Tentu. Akan ku tunjukkan padamu. Berikan tanganmu, Arden."


Arden menuruti saja keinginan Marigold "Oh, lenganmu sedikit memerah, kenapa?"


"Ah ini aku dapat saat membantu membawakan keranjang belanjaan milik seseorang."


Marigold meletakkan tangan halusnya di atas lebam itu, sedikit cahaya hijau keemasan menguar muncul menyelimuti tangan Marigold dan hanya dalam lima detik bekas kemerahan dilengan Arden menghilang.


"Luar biasa," gumam Arden takjub.


"Ahaha, tidak. Hanya ini yang bisa aku tunjukkan padamu."


Mereka lanjut mengobrol sampai mata cermatnya menangkap sebuah bayangan di bawah. Ada seseorang yang telah mengganggu pikirannya sedari tadi. Rasa penasarannya hilang setelah tahu itu adalah Meridia, gadis yang sudah membantunya mencari penginapan tadi siang.


"Lady— maksudku, Marigold."


"Ya?"


"Aku akan mengantarmu kembali ke dalam," gadis itu terkejut, waktu yang baru mereka habiskan terasa sebentar baginya, "Kau ada urusan?" tanya Marigold tak rela.


"Aku baru saja lihat temanku datang, aku harus segera menyapanya sebelum ayah mengajakku pulang." Marigold tak berpuas hati obrolannya dengan Arden hanya akan sampai di sini saja, mereka belum sedikitpun membahas soal diri masing-masing.


Marigold menunjukkan kekecewaan itu lewat matanya yang memelas agar lelaki yang mencuri hatinya itu tak langsung pergi. Biasanya tatapan itu sangat manjur. BIASANYA. Pesona Marigold tak cukup kuat untuk bisa menyihir mata lelaki yang disukainya.


Arden menawarkan tangan untuk menuntun Marigold masuk ke dalam aula. Bukannya tidak peka, Arden sesungguhnya tahu dan merasa tidak enak hati melihat Marigold. "Aku akan menemuimu lagi nanti setelah urusanku selesai," ujarnya menenangkan. Rasa ingin bertemu dengan Meridia tak bisa ditahannya.


Di kursi Panjang taman, Meridia masih nyaman duduk di sana melamun dan memikirkan banyak tak peduli jika tubuhnya sudah mendingin sekalipun. Bagi Meridia angin malam itu terasa menyegarkan otaknya.


Suasananya begitu nyaman, lebih nyaman dari kamarnya yang pengap. Hal itu mendatangkan rasa kantuk pada gadis cantik beraura dingin itu yang kemudian perlahan-lahan kelopak matanya memberat bersamaan dengan semilir angin yang terus membuai.


Meridia akan jatuh dan kepalanya membentur kursi kayu di bawahnya kalau saja tidak ada seseorang yang menahan pipinya. Detik itu juga kelopak mata Meridia terbuka lebar, sadar akan kehadiran seseorang selain dirinya di taman tersebut.


Gadis itu terkesiap melihat Arden, pemuda yang dibantunya pagi tadi sekarang kembali ke hadapannya dan yang lebih mengejutkannya lagi adalah sekarang dia berpenampilan seperti bangsawan berkasta tinggi.


Arden tersenyum seraya mengangkat tangan sebatas telinga "Hai?" sapanya bingung.


"Kau? Apa yang kau lakukan di sini?" Meridia sampai tidak bisa berkata-kata saking kagetnya ia dengan kemunculan Arden.


Memang benar yang dikatakan orang-orang, jangan pernah mengajak bicara seseorang yang sedang setengah sadar karena itu sama saja kau seperti sedang bicara pada batu. Tidak ada yang masuk.


Sudah jelas Arden memakai pakaian seorang bangsawan, ia pasti salah satu tamu undangan Marquess. Arden menunjuk dirinya sendiri dan berkata, "Aku mendapat undangan ulang tahun dari Marchioness Emerald."


Makhluk berwajah tampan itu duduk di sebelah Meridia tanpa permisi.


Meridia tak menanggapi lagi pernyataan Arden. Dia justru sedang berusaha mengingat sesuatu. Sementara Arden lebih ingin memandangi wajah gadis bersurai hitam itu dengan khusyu.


Sudah ku duga, mereka berdua sangat mirip. Jadi pemikiranku tadi tidaklah salah. Ternyata mereka berdua orang yang berbeda.


"Ini hanya perasaanku saja atau mataku yang tidak bekerja dengan baik, tapi menurutku kau sangat mirip dengan Lady Marigold."


Semakin lama dilihat mereka berdua memang akan terlihat mirip karena pada dasarnya dua gadis itu memang kembar walau tak seiras tetapi memiliki banyak kesamaan.


Meridia tertawa hambar mendengar ucapan Arden, "Yang berpendapat seperti itu tidak hanya kau saja. Aku hanya berharap semuanya berhenti menyamakan kami, itu akan jadi penghinaan bagi Lady Marigold yang terhormat."


"Kenapa begitu?"


"Kami tidak terikat darah sama sekali. Mungkin dulu ibuku sangat mengidolakan keluarga Marquess? Entahlah, yang jelas ini semua hanya kebetulan." Hanya itu alasan yang muncul diotak Meridia. Demi apapun Meridia menyesal mengatakan hal konyol tidak berguna seperti itu.


Akan tetapi, di detik selanjutnya Meridia tidak peduli jika ucapannya tak masuk akal asal bisa membuat Arden diam, itu saja sudah cukup. Pemuda cerdas itu segera menangkap maksud dari nada bicaranya "Begitu ya," putra pasangan William dan Helena tersebut melirik seragam yang dikenakan Meridia, "Jadi kau pelayan di sini?"


"Ya, seperti yang kau lihat."


Arden tak berhenti mengamati Meridia, ada sesuatu yang menarik tentangnya di mata lelaki itu. Kali ini penasaran yang paling besar menonjol adalah ketika melihat wajah bengong Meridia.


Meski tak menatap Arden, dia bisa tahu arti tatapan Meridia. Keputusasaan dan kekosongan. Gadis itu seperti Lelah melanjutkan hidup tapi dia tak ingin berakhir begitu saja. "Namaku Arden, boleh aku tahu siapa namamu?"


Meridia baru mau menatap Arden, satu sudut bibirnya terangkat "Kalau ku beritahu, kau harus penuhi syarat dariku."


Tatapan mengintimidasi Meridia membuat Arden semakin bertanya-tanya "Ya, aku tidak keberatan."


Sebelum menyebutkan Namanya, Meridia menghela nafas panjang mempersiapkan diri "Meridia," begitu mengetahui nama gadis yang membuatnya penasaran itu Arden pun tersenyum "Kau punya arti nama yang bagus." pujinya sebelum melontarkan pertanyaan baru, "Lalu apa syarat yang mau kau ajukan?"


"Jangan pernah kau sebut namaku dihadapan Lady Marigold. Itu bisa menyinggungnya."


"Apa maksudmu?"


"Aku hanya memberitahumu tentang syaratnya. Aku tidak ingat pernah memberimu kesempatan untuk bertanya." Ketus gadis itu. Ia lalu beranjak dari kursi taman "Aku harus kembali sekarang. Tugasku sudah menumpuk di belakang."


Reflek Arden menahan pergelangan tangan Meridia. Arden segera melepasnya setelah Meridia mau menengok dan menatapnya lagi. "Bisakah kita berdua menjadi teman?" dahi perempuan pemilik iris biru tua itu mengerut, "Apa gunanya berteman dengan rakyat biasa?"


"Aku merasa nyaman saat berbincang denganmu. Tidak seperti banyak orang yang kuhadapi, mereka selalu bicara formal padaku dan kau malah mengobrol dengan santai tanpa diminta. Itu membuatku lega." Tutur Arden.


Meridia mendengus pelan "Tinggal kau minta saja mereka bicara santai denganmu. Mudah."


Selama ini orang yang Arden temui adalah orang-orang yang melihatnya sebagai putra Grand Duke. Mencari muka, berbuat baik dengan bermaksud mendapat kepercayaan, semua itu membuat Arden muak. Bertemu dengan Meridia seperti angin segar baginya.


"Tidak bisa sebebas itu karena kami dituntut untuk sempurna dalam bertutur kata," Arden menatap Meridia, "Aku tahu kau menganggap itu semua wajar karena aku seorang bangsawan tapi aku tidak berpikir mereka tulus dan apa adanya seperti dirimu."


Gadis itu mengesampingkan poninya yang tertiup angin "Aku tidak berdiri di sini untuk mendengar curhatanmu. Aku harus pergi sekarang. Selamat tinggal."


Arden tak menghentikannya lagi, dia justru memasang senyuman "Ya, sampai jumpa lagi, Meridia."


"Dasar pengganggu." Lirih Meridia kesal.


Meridia membuka lebar jendelanya agar kamarnya yang sesak tak semakin pengap. Ia merebahkan dirinya di kasur, menghadap ke jendela yang terbuka, dan memandang ribuan bintang bertaburan di langit. Hobi favoritnya sebelum tidur adalah memandangi langit malam minimal dua jam sebelum tidur. Itu membuatnya merasa lebih tenang. Cara ini juga cukup efektif untuk meredakan amarah.


Meski itu membuatnya tenang tapi malam ini adalah sebuah pengecualian. Langit malam justru tak berpengaruh terhadap otaknya. Entah sudah yang keberapa kalinya Meridia merutuki dirinya sendiri.


"Padahal niatku ingin menghindari pertemuan dengan pemeran utama laki-lakinya tapi yang terjadi justru sebaliknya. Dan yang membuatnya lebih buruk adalah pertemuan itu lebih cepat terjadi dari alur aslinya."


Meridia benar-benar kesal pada dirinya sendiri. "Aku sudah lupa ciri-cirinya, aku terlalu banyak memikirkan keluarga busuk ini sampai tidak ingat apa saja yang mustinya ku lakukan."


Ya. Arden Lund Palmieri adalah sosok pemuda yang menjadi pemeran utama dan yang akan menjadi sumber kegilaan Meridia. Arden tetaplah sama seperti yang dijelaskan dalam novel. Dia pemuda yang baik hati dan bertutur kata lembut, memperlakukan wanita dengan sangat baik, serta selalu menepati janji. Siapa yang tidak akan jatuh hati melihatnya?


Hal itu pulalah yang membuat Meridia terobsesi untuk memiliki Arden seutuhnya. Meridia yang tak pernah tersentuh oleh kasih sayang mendapat perhatian kecil dari Arden langsung menggila dan merasa bahwa Arden mengistimewakannya. Nyatanya Arden memang berperangai baik, namun Meridia tak melihat kenyataannya dan terus berusaha mendapatkan Arden.


"Kalau saja Meridia yang asli yang bertemu lagi dengan Arden, mungkin dia akan mengulangi kesalahan yang sama." Meridia menyentuh dadanya yang berdegup merespon memori Meridia asli.


Segalanya sudah digariskan dan Arden tetap diciptakan untuk menjadi belahan jiwa Marigold. Sekeras apapun Meridia berusaha mengikat Arden, ia tidak akan bisa memilikinya.


"Bagaimana caranya aku kabur? Tapi mungkin mereka juga tidak akan peduli jika aku meninggalkan rumah ini." Apa yang digumamkan Meridia lain dengan apa yang ada di pikirannya sejak tadi.


Sementara Marigold mengambil jeda menepi dari kerumunan manusia yang berkumpul jadi satu di pesta. Marigold menghentakkan kakinya beberapa kali ke lantai, menyalurkan kegelisahan yang membuat tak nyaman.


"Tidak mungkin...apa Meridia sudah lebih dulu bertemu dengan Arden? Tapi bagaimana bisa? Anak itu selalu sibuk dengan pekerjaannya sedangkan Arden, dia bukan berasal dari kota ini."


Setiap kali ada urusannya dengan Meridia, hati Marigold selalu diselimuti kegelisahan. Selalu tak tenang dan selalu merasa takut kehilangan apa yang selama ini sudah ia miliki. Marigold sendiri tak tahu mengapa.


"Aku harus berbuat sesuatu. Aku tidak akan membiarkan Meridia menggangguku."


"Marigold?" gadis berparas cantik nan lugu itu terperanjat kaget setelah mendengar Arden memanggil Namanya.


"Arden? Kau sudah kembali?" Marigold menghela nafas lalu beranjak dari sofa "Kau sudah selesai?" tanyanya.


"Ya. Kenapa kau duduk di sini? Kau sedang tidak sehat? Wajahmu sangat pucat."


"Ah tidak, aku hanya sedikit kedinginan saja."


"Kau mau kita melakukan apa? pertemuan ini tidak akan berlangsung terlalu lama, maaf. Besok sore mungkin aku akan kembali ke kotaku."


"Maukah kau berdansa denganku sekali saja?"


"Tidak masalah. Mari."


Seketika mereka yang berdansa menjadi sorotan publik. Semua bangsawan yang hadir seakan terhipnotis dengan gerakan mereka. Benar-benar menggambarkan tokoh dongeng dalam dunia nyata.


...####...


Malam telah berganti pagi. Semua kembali beraktivitas seperti sedia kala. Tak ada hari libur untuk para pekerja. Pagi ini Meridia bangun lima belas menit lebih lambat dari yang seharusnya. Bukan karena malas atau menghindari tugas melainkan sakit kepala yang menyerangnya tak main-main.


Sampai saat ini pun demamnya belum juga turun, wajahnya pucat dan mengeluarkan keringat dingin di dahi. Pandangannya terus berputar tetapi dia memaksakan diri untuk bangun dan bekerja.


"Badanku terasa pegal. Ah, apa karena aku tidur dengan jendela terbuka? tapi aku memang jarang menutupnya."


Selesai membereskan kamarnya, Meridia melihat sebuah amplop kecil berisi surat di meja belajarnya "aku sangat senang bisa bertemu denganmu dan aku tidak sabar menantikan pertemuan kita selanjutnya." Kedua alisnya bertaut "Siapa pengirim surat ini?"


Kepalanya sudah terlalu panas sekarang jadi ia tak mau ambil pusing dan membuangnya ke tempat sampah sambil bergumam "Arden memang cukup berani ya."


Keluar dari asrama sampai ke mansion, semua pelayan yang dia lewati terus menatap dan menggunjingnya. Meridia sudah tidak asing dengan pemandangan di mana dia selalu direndahkan.


Saat hendak menuruni tangga, seorang pelayan menjegal kaki Meridia dan membuat gadis yang sejak tadi sudah limbung langsung menggelinding ke bawah. Untungnya tangga itu tidaklah tinggi.


"Ups. Maaf, aku tidak melihatmu."


Aku malas berdebat dengan makhluk rendahan seperti kalian.


Meridia tak memperpanjang masalah itu dan melanjutkan perjalanan menuju ruang kepala pelayan wanita, mata kaki Meridia sedikit lebam hingga menyebabkannya berjalan pincang, "Aku harap kalian juga akan terjatuh dan merasakan apa yang aku rasakan," kutuknya dalam hati.


Begitu sampai di ruang kepala pelayan, Meridia langsung berterus terang dengan tujuannya menemui kepala pelayan wanita di sana. "Kepala pelayan, aku ingin mengambil pekerjaan di kebun hari ini."


"Tidak bisa. Aku tidak memberimu pilihan jadi jangan menawar," sesekali Meridia menyeka keringat di dahi sambil berusaha tetap berdiri tegak dengan kaki bergetar tak bertenaga "Hanya untuk hari ini saja, aku mohon."


Kepala pelayan itu mengernyit melihat wajah Meridia yang nyaris membiru "Kau sedang sakit?" Meridia menggeleng pelan "Tidak. Aku baik-baik saja."


"Bersihkan ruang tamu, kamar Lady Marigold, lalu perpustakaan."


"Apa? apa kau tidak bisa memberikan sedikit keringanan? Aku butuh teman kalau pekerjaannya sebanyak itu." Meridia tidak percaya bahwa kepala pelayan wanita tetap memberikan porsi kerja yang sama, menurutnya justru ini sedikit lebih banyak dari biasanya.


Sejak awal Meridia memang tak dapat berekspektasi tinggi selama ini adalah mansion Emerald. Kepala pelayan sudah tahu kalau apabila pekerjaan kebun lebih cepat selesai dan tidak ada pengawasan yang ketat, berbeda dengan bagian dalam.


Kalaupun Meridia sejak awal mengaku sakit, kepala pelayan hanya akan memberinya jeda untuk periksa, meminum obat, istirahat empat puluh menit dan setelah itu pekerjaannya akan ditambah untuk mengganti jam cuti. Tidak ada bedanya.


"Cepat bekerja! Kau sudah terlambat tiga puluh menit!"


Butuh perjuangan ekstra bagi Meridia sekarang. Lantai dua memiliki tangga yang panjang. Dengan kondisi seperti saat ini membuatnya harus membuang waktu lebih banyak.


Sedangkan Marigold saat ini berada di kamarnya, berdiri sambil tersenyum mematut dirinya di cermin riasnya. Kedua pelayan yang membantunya tampak lebih bersemangat dari Marigold "Apa kalian tidak sedikit terlalu berlebihan? gaun ini terlalu indah untuk dipakai di hari biasa seperti ini."


"Yang Mulia, Anda harus terlihat istimewa! Yang Anda temui ini putra Grand Duke, lho!"


"Benar. Kecantikan Anda harus mencapai seribu persen. Kami siap membantu Anda."


"Ahahaha kalian ini ada-ada saja. Aku tampil biasa saja tidak masalah."


Dalam hati Marigold merasa senang atas bantuan mereka. Dengan antusiasme yang mereka punya, Marigold jadi tidak perlu susah-susah menunjukkan sisi dirinya yang lain. Marigold bertekad akan mencuri hati Arden sebelum dia kembali pulang ke kotanya.


"Bagaimana menurut kalian? Ini sudah cukup bukan?"


"Hm, sepertinya masih ada yang kurang. Yang Mulia, pakailah kalung ini."


"Oh...ya."


Meridia membuka pintu kamar saudarinya dan menjatuhkan ember berisi alat-alat pembersih. Ia buru-buru mengibaskan tangannya di depan wajah, hidung mancungnya berkerut "Astaga apa-apaan ini?"