TRAPPED BY THE SECOND MALE LEAD

TRAPPED BY THE SECOND MALE LEAD
CHAPTER 30



Singkat cerita, mereka berdua sudah berada di depan pekan raya pukul tiga sore hari yang mana saat itu keadaan pasar sudah sangat ramai mengingat orang-orang lebih memilih untuk menikmati pekan raya di malam hari sekaligus menyaksikan kembang api. Selain itu, banyak para pedagang yang sudah siap pula. Anak-anak kecil asyik berlarian kesana kemari bermain bersama teman-teman mereka seakan ini adalah hari kebebasan bagi mereka tanpa memikirkan harus pulang dan beristirahat.


Lucien merasa enggan untuk tetap bertahan di keramaian seperti sekarang. Semua bisa dilihat dari ekspresi wajahnya yang kaku dan pangkal hidung yang berkerut. Berdekatan dengan manusia lain dan saling bersenggolan menambah rasa risihnya.


Namun Lucien mengesampingkan perasaannya sendiri setelah melihat senyuman ceria gadisnya. Hatinya luluh begitu saja. “Wah, ternyata seperti ini pemandangan pekan raya di sore hari.”


Suasana pekan raya justru lebih ramai di sore hari sedangkan saat siang banyak para pedagang yang belum siap membuka stand nya. Apalagi Meridia hanya dapat pergi ke pasar di siang hari, itupun dia selalu terburu-buru dan tidak bisa menikmatinya dengan santai karena belanjaan itu dibutuhkan secepatnya.


“Kau sangat menyukai suasana seperti ini? Apa kau tidak berpikir ingin membeli sesuatu?” tanya Lucien sambil menggandeng tangan Meridia supaya gadis itu tidak hilang dari pandangannya, akan sulit baginya bergerak cepat mencari jika mereka sampai terpisah sebab ratusan manusia berpusat di sana. “Aku rasa tidak, aku hanya ingin melihat-lihat saja,” jawab Meridia tanpa melihat si lawan bicara, ia tampaknya tidak mau melewatkan sedikitpun apa yang bisa ditangkap oleh mata.


“Kenapa? Padahal sudah jauh-jauh ke sini, kau bisa menjadikannya sebuah kenang-kenangan.”


“Eh? karena aku tidak ingin? Entahlah, untuk saat ini aku belum ada niat untuk membeli sesuatu.”


Lucien mendengus pelan. “Kau tidak perlu ragu untuk bilang. Aku akan belikan apapun yang kau mau dan aku tidak akan memarahimu,” Meridia yang sejak tadi terfokus pada pekan raya langsung mendongak menatap Lucien. “Apa aku kelihatan tertarik dengan sesuatu?” pertanyaan konyol macam apa yang dilontarkan gadis ini, pikir Lucien heran. Dengan mata yang berkilau antusias begitu, siapapun akan langsung tahu ada banyak hal yang membuatnya tertarik.


Pemuda berambut hitam itu mengangguk singkat. “Kau sangat tertarik melihat semua hal yang berkumpul disini. Apa aku perlu membeli pasar ini untukmu?”


Gadis itu menahan nafas terkejut. “Apa kau gila? ini bukan sesuatu yang bisa dibeli, tahu. Pekan raya ini diadakan untuk umum. Lagipula kalaupun ini bisa dibeli, harganya sudah pasti sangat mahal.”


“Tenang saja. Aku tidak perlu menderita terlebih dulu sepertimu untuk bisa makan dan membeli sesuatu. Pasar seperti ini belum apa-apa bagiku.” mendengar jawaban Lucien yang mengganjal membuat Meridia melirik sebal dengan bibir yang berkerut “Itu candaan atau cibiran?”


Lucien tertawa kecil sambil mengacak puncak kepala Meridia gemas. “Kau sangat menarik seperti biasa. Aku tidak pernah bosan saat bersama denganmu.”


“Itu tidak lucu, tahu.”


“Ya ya ya, aku tahu,” Lucien mengusap sudut matanya menggunakan ibu jari lalu segera menarik Meridia ke depannya. “Hati-hati.” mata merahnya yang kelam menyala. Instingnya menjadi semakin tajam.


Ada yang sedang memperhatikan.


Lucien mendongak menatap kearah bangunan tinggi tepatnya ke salah satu kamar di mana ada Arden tengah memperhatikan setiap orang dengan detail. Tanpa sengaja mata kedua pemuda yang sama-sama menyukai Meridia saling bertemu.


Walau sekarang Meridia dan dirinya menggunakan jubah, ia tetap berusaha menyembunyikan keberadaan Meridia di belakang tubuhnya. "Kenapa anak ini? apa yang sedang dia perhatikan?" tanya Meridia dalam hati, ia nyaris mendongak mengikuti arah pandang lelaki di hadapannya, akan tetapi Lucien buru-buru menjauhkan Meridia dari sana. “Meridia, aku melihat ada sesuatu yang menarik di sebelah sana. Ayo cepat kita ke sana.”


Sedangkan Arden dari kamar hotelnya hanya dapat mengernyit bingung. “Siapa orang itu? tapi aku seperti pernah melihatnya disuatu tempat.” gumam Arden yang masih memperhatikan punggung Lucien yang dengan cepat melebur dalam lautan manusia.


Satu menit...


Dua menit...


“Oh, bukankah dia adalah Duke Navarro?” Arden mengingat wajah dingin Lucien dan tatapannya yang selalu mengintimidasi lawan bicara. Arden ingat dia pernah melihat Lucien sewaktu di pesta ulang tahun Raja tahun lalu. “Aku tidak menyangka akan melihatnya lagi di tempat seperti ini. Pergi bersama dengan siapa dia?” Arden hanya melihat Lucien sedang menggandeng seseorang dan belum sempat melihat wajah Meridia. Dirinya malah fokus memperhatikan Lucien.


Meridia melihat golongan anak-anak yang memenuhi lapak permainan menembak untuk mendapatkan berbagai macam hadiah secara gratis. “Aku ingin mencoba itu,” kata Meridia sambil menarik jubah Lucien sampai leher pemuda itu sedikit tercekik.


“Huh? Kau sungguh ingin mencoba permainan anak kecil seperti itu?” tanya Lucien keheranan.


“Ya, kau lihat itu.” Meridia menunjuk sepasang kekasih yang baru datang ke lapak itu. Lelaki asing itu meminta kekasihnya untuk menunggu selagi dia menembak untuk mendapatkan hadiah yang diinginkan tetapi tembakan pertama gagal. “Tidak semudah itu sampai kau bisa menyebutnya sebagai permainan anak kecil,” kata Meridia seraya menarik lengan Lucien mendekat.


“Cih, sudah pasti itu karena dia yang sangat payah. Menembak saja tidak bisa berarti kekuatannya setara dengan anak kecil.”


“Lucien, berhenti mengomel. Ayo kita coba dulu,” Lucien lagi-lagi hanya bisa pasrah. Dia tak bisa melawan Meridia jika gadis itu sudah sangat ingin apalagi senyumannya yang tulus dari hati membuat Lucien semakin sulit menolak.


“Halo, kalian berdua sepasang kekasih juga ya? mau mencoba berapa tembakan?” Meridia melirik sepasang kekasih yang pergi tanpa membawa hadiah namun mereka tetap tertawa bahagia. “Umm, dua saja.”


“Baiklah, silakan taruh uangnya disini.”


Lucien menaruh lima keping uang koin emas ke dalam nampan kecil yang di sediakan. “A-apa? Ini terlalu banyak tuan,” ucap si pemilik lapak terkejut “Aku rasa istriku yang payah ini tidak akan bisa menjatuhkan satu kaleng pun apalagi hanya dengan dua peluru saja.” balas Lucien dengan senyum meledek.


“A-apa? I-i-istri?” pria tersebut kaget setelah mengetahui mereka bukanlah sepasang kekasih melainkan sepasang suami istri. Meridia yang mendengarnya langsung menyikut perut Lucien dengan cukup kuat. “KAU MENYEBALKAN.” Meridia mendelik marah menatap Lucien yang hanya tersenyum tanpa dosa sambil mengangkat dua jari tanda peace kepadanya.


Dan dugaan Lucien benar, peluru pertama Meridia meleset. “Pfft! kau salah menarik pelatuknya jangan setengah-setengah,” Lucien memperhatikan jajaran kaleng yang masih tersusun rapi di sana. “Ugh, komentarmu itu sangat menyebalkan tapi terima kasih.” kata Meridia penuh penekanan. Sayang sekali, percobaan kedua pun tetap gagal.


Lucien menyeringai jahil. “Lihat bagaimana caraku melakukannya,” dengan gerakan kilat Lucien segera menembak jatuh dua kaleng sekaligus yang membuat orang-orang di sekitar sana terkejut, begitu pula dengan Meridia dan si pemilik permainan. “A-apa?!” si pemilik membeliak kaget “K-kalau begitu tuan silakan ambil hadiah yang Anda inginkan.”


Kepala keluarga dari klan Navarro itu melirik gadis yang memasang raut tak suka. “Cepat pilih hadiahnya,” Lucien mengernyit tak paham melihat wajah Meridia yang ditekuk. Pemuda itu mendengus pelan, “Baiklah, aku tahu. Ini, coba lagi.”


Meridia tersenyum tipis, ia menerima pistol kayu dari tangan Lucien lalu mencoba meniru gaya Lucien saat menembak. “Hahaha dia lucu sekali,” batin Lucien gemas saat melihat gadis yang selalu muram di rumahnya itu sekarang bertingkah seperti anak kecil yang polos dan memiliki jiwa Keingintahuan tinggi.


Sudah lama Lucien tidak merasa seenteng ini. Rasanya Meridia kembali membawa kehidupan baru yang normal untuknya. Dalam hati Lucien sedikit terselip harapan seandainya saja Meridia mengingat masa lalu mereka berdua, mengingat siapa Lucien, dan ingat akan identitas mereka yang sebenarnya.


Dari belakang Meridia, Lucien diam-diam mengacungkan jarinya ke arah peluru yang ada dalam pistol dari dalam jubahnya, bersiap melakukan sesuatu. Ketika ditarik pelatuknya oleh Meridia, gadis tersebut berhasil menjatuhkan satu kaleng kosong itu hingga membekas dalam pada kalengnya.


“Wah aku berhasil!” seru Meridia gembira.


“Um ya, selamat.” balas Lucien santai.


“Apa?! Bagaimana bisa?” si pemilik stand itu mengerjapkan mata beberapa kali dengan cepat “Eh? Bagaimana bisa apanya?” ulang Meridia bingung.


Lucien tersenyum “Paman, aku tahu kau memberikan lem pada beberapa kaleng di situ agar dia tidak mudah terjatuh dari papan,” Meridia dan si pria itu menoleh kaget.


“Aku bukan anak-anak lagi, jadi aku tahu kecuranganmu— hm?” Dahi Lucien berkerut.


Pria itu menyatukan kedua telapak tangan di depan wajah sambil membungkuk memohon di depan Lucien dan Meridia “Aku mohon tolong rahasiakan ini dari orang lain, aku mohon!” mohon nya takut.


“Tidak baik mencari keuntungan dengan menipu orang lain.”


“T-tapi aku sangat membutuhkan uang untuk istriku yang sebentar lagi melahirkan…” ratapnya sedih. Sejujurnya itu tak menyentuh perasaan Lucien bahkan seujung jari pun. “Baiklah,” Lucien mengambil pistol ditangan Meridia lalu meletakkannya kembali ke atas meja. Dia lantas melanjutkan ucapannya yang sempat terjeda. “Tapi kami tidak akan menurutinya secara gratis.”


Pria itu mengangkat wajah “Eh? apa maksudnya?”


Lucien dan Meridia berakhir pergi dari lapak itu dengan membawa lima buah boneka binatang berukuran besar, meninggalkan pemilik yang menangis karena baru saja ia merasa Lucien telah memalaknya.


Meridia melirik Lucien, “Kau ini jangan memanfaatkan keadaan orang lain sesuka hati,”


“Tidak. Aku menjatuhkan dua kaleng dan kau satu, itu artinya dua hadiah lain hanyalah bonus.” ujar Lucien tanpa rasa bersalah “Bonus katamu?” ulang Meridia sinis.


“Dylan, Christ.”


“Ya, Yang Mulia.”


Meridia terperanjat kaget ketika mendengar jawaban dari dua anak buah Lucien yang berasal dari belakang mereka. Meridia merasa bingung, sejak kapan mereka ada disana? Apa dari awal mereka sudah mengikuti dari belakang? pertanyaan tersebut muncul di kepala gadis biru dongker itu. “Bawa ini kembali,” Lucien lalu menyerahkan seluruh boneka yang dimenangkan kepada mereka berdua “Jangan sampai ada yang jatuh.”


“Baik, Yang Mulia.”


Tidak hanya sampai di situ saja, Lucien membelikan begitu banyak barang untuk Meridia. Bukan gadis itu yang meminta, hanya saja apapun yang diliriknya karena penasaran sesaat, langsung Lucien beli tak peduli berapapun harganya. Kata menawar sepertinya tidak ada dalam kamus seorang bangsawan.


Duke yang terkenal dingin itu sama sekali tak menunjukkan sikap seperti yang dikenal orang-orang di depan Meridia. Bahkan ia terlampau pengertian sampai-sampai Meridia harus menjaga matanya agar Lucien tak sembarangan membeli barang yang tak berguna.


“Jangan membeli makanan di sini, tidak higienis. Aku akan minta Fernando membuatkannya untukmu nanti,” itulah yang dikatakan Lucien ketika mengetahui bahwa Meridia ingin mencoba makanan yang dijual di sana.


kenapa dia tahu segalanya sih? apa dia punya indera keenam?


Tidak lama kemudian mereka sudah sampai di penghujung tempat pekan raya, lalu keduanya memutuskan untuk beristirahat sebentar di sana. Saat sedang duduk menikmati suasana, Meridia tiba-tiba teringat akan mansion Emerald “Biasanya aku sedang istirahat di jam ini,” batinnya.


“Hei, Meridia,” panggilan Lucien menyadarkan Meridia dari lamunannya.


“Ya?” Lucien mendaratkan pandangan pada bibir Meridia lalu naik menatap lurus ke kedua iris biru gelap yang terang milik gadis itu. Lama kelamaan tatapan itu menajam seolah sedang menandai mangsa. “Aku sudah menuruti keinginanmu, bisakah aku mendapat imbalan?”


Melihat ekspresinya saja sudah sangat mendebarkan, Meridia tahu apa yang akan diminta Lucien nantinya pasti akan memberatkan dirinya. “Imbalan apa?” gadis itu mengalihkan pandangan tak berani menjaga kontak mata dengan Lucien.


Lucien tersenyum penuh makna “Untuk detailnya, aku akan memberitahumu nanti.”


Sejak saat itu Meridia terus berdoa memohon tanpa henti kepada Tuhan agar dirinya bisa selamat dari akal bulus Lucien terhadapnya.


Sesampainya di istana Navarro, Lucien tetap diam dan bersikap baik seperti biasanya. Tak ada— lebih tepatnya belum ada tanda-tanda mencurigakan yang pemuda itu tunjukkan selepas meminta imbalan pada Meridia di pekan raya satu jam lalu.


“Kau istirahat saja. Ini sudah cukup malam.”


“Ya, terimakasih untuk hari ini.”


Meridia bergegas pergi ke kamarnya dan memanggil Ximena untuk segera membantunya mandi sebelum Lucien mengatakan keinginannya “Aku harus menghindari lelaki itu.” ujar Meridia bertekad.


Selesai mandi dan memakai gaun tidurnya yang biasa, Meridia menyisir rambut sambil berlari ke pintu untuk menguncinya namun terlambat karena tiba-tiba Lucien membuka— ralat. Tindakan itu lebih tepat disebut mendobrak pintu kamar Meridia dan membukanya lebar-lebar sama seperti senyumannya saat ini.


“Meridia~ saatnya aku mendapat imbalanku,” serunya senang dan ia sedikit terkejut melihat Meridia berdiri mematung di depannya. “Tamat sudah riwayatku,” lirih Meridia.


“Oh? Kau bahkan mau menyambutku ya? apa kau tidak sabar menungguku jadi kau berdiri di depan pintu begini?” tanya Lucien antusias.


“Kau mau apa?” tanya Meridia to the point berbeda dengan Lucien yang tampaknya sudah menunggu-nunggu momen ini. “Hei, Meridia. Ayo bermalam denganku.”


“Apa kau tidak punya keinginan lain?”


Lucien langsung menggelengkan kepalanya mantap. “Ini bukan permintaan yang sulit ‘kan? Lagipula sebentar lagi kita akan selamanya satu kamar,” ujar pemuda itu sambil mengangkat satu jarinya ke udara. “Anggap saja kita sedang membiasakan diri.” tandas nya.


Meridia mendengus sebal. “Kau bahkan tidak terlihat sedang membiasakan diri.”


“Oh benarkah? Mungkin aku pandai menyembunyikan kegugupanku.”


“Huh? Apa yang kau bicarakan?”


Lucien menutup pintu kamar Meridia lalu mengunci pintu itu dari dalam. Kakinya yang panjang melangkah maju mendekati Meridia. Semakin Meridia mundur, Lucien dengan langkah lebih panjang mampu mendekat lebih cepat. “Sepertinya malam ini akan jadi malam yang menyenangkan, iya ‘kan?” seringai itu membuat bulu kuduk Meridia meremang.


Tangan Lucien yang besar menyelinap ke pinggang ramping Meridia lalu membopong tubuh gadis itu dipundaknya, mengajak gadis itu untuk segera ke ranjang. “Mari nikmati malam ini bersama."


“LUCIEN!”