
“Terima kasih, pak.”
Zoya memegang pundak Ziel menguatkan. Raut wajahnya sudah tidak enak saat menerima lembaran informasi dari biro informasi untuk mencari keberadaan Meridia, tentu saja dia menyematkan lukisan foto di mana wajah Meridia tidak sejelas itu supaya tidak ada yang menyadari kemiripannya dengan Marigold.
“Huh…tidak ada yang menemukannya.” Seperti yang sudah Ziel duga, tidak ada orang lain yang mengetahui keberadaan Meridia. Kembaran Marigold nyaris tak pernah keluar kecuali mendapat giliran belanja.
Zoya mengelus pundak suaminya memberikan sedikit ketenangan, “Kenapa kau begitu ingin mencarinya? dia pergi atas kemauannya sendiri. Bukankah dengan begitu kita bisa hidup dengan tenang bertiga di sini? kita tidak akan memikirkan beban itu lagi."
Ziel melirik Zoya tajam “Kau tidak ingat dia meninggalkan sesuatu di sini? Kutukannya. Bahagia apanya? Hari-hari ku lewatkan dengan kekhawatiran.” ucapnya sedikit marah.
Marigold hari ini punya jadwal untuk ke kuil dan melayani masyarakat lagi. Mendengar percakapan orang tuanya di depan pintu keluar, hatinya ikut sesak. Beberapa hari ini Ziel jarang beristirahat dan lebih sering menghabiskan waktu bekerja tanpa memperhatikan jam makan. “Meridia selalu saja menyusahkan semua orang di sekitarnya. Aku benar-benar tidak akan bisa menyukainya.” geram Marigold.
Marigold berjalan menghampiri kedua orang tuanya sambil memeluk mereka memberi salam. Dia menggenggam tangan Ziel “Ayah tak perlu cemas, aku sudah memurnikan seluruh rumah ini. Kutukan Meridia tidak mungkin terjadi.”
Marigold mengeluarkan kekuatannya dan menyalurkan energi pemurniannya pada Ziel. Sengaja hal itu ia lakukan untuk meyakinkan Marquess bahwa Meridia tidak akan menghantui keluarga mereka dengan kemalangan.
Marigold tidak tahu bagaimana cara menangani kutukan yang diberikan Meridia, setidaknya untuk saat ini ia bisa berdusta demi kebaikan keluarganya sendiri.
Ziel kemudian tersadar dia sudah membuat istri dan putrinya cemas terhadapnya. Tangan pria itu bergerak mengelus puncak kepala Marigold sembari mengukir senyum lembut “Terima kasih, Mary. Maaf telah membuat kalian berdua khawatir.”
“Ayah, tolong jangan mencemaskan itu lagi. Perhatikan jam makan ayah saja. Lihat, ayah sudah sekurus batang cabai.”
“Hahahaha iya, baiklah. Ayah mengerti, nak.” Kadar senyuman Zoya meningkat melihat betapa luar biasanya Marigold membujuk Ziel.
“Aku akan pergi ke kuil sekarang. Jaga diri kalian baik-baik, ya. Sampai nanti, ayah, ibu.”
Marigold tidak mengerti mengapa Ziel begitu mempedulikan Meridia sampai mengabaikan kesehatan dirinya sendiri. Pria itu sudah memberitahu bahwa alasannya ingin mencari Meridia dan membawanya kembali adalah karena kutukannya yang belum dicabut. Tetapi secemas apapun Ziel, Marigold bisa melihat dari matanya bahwa dia tetap mengkhawatirkan Meridia sebagai seorang orang tua.
Namun bukan itu penyebab pusingnya Marigold beberapa hari belakangan ini. Tepat dihari saat Meridia kabur, ada yang membuat kepalanya terasa kosong. Ingatannya seperti punya satu kepingan kosong yang entah kenapa membuatnya terus bertanya-tanya apa yang terjadi dengan dirinya. Dia tidak dapat ingat apapun yang dilakukannya selama seharian penuh.
“Ini aneh. Tanda merah di leherku itu seperti bekas cekikan tapi apapun yang terjadi itu bukan pencurian, tidak ada barang yang hilang. Meridia juga tidak membawa apa-apa selain baju-baju rombengnya.”
Sesampainya di kuil, seorang pemuda tampan berkulit tan menyapa Marigold seakan mereka berteman “Selamat pagi, Saintess.” Bertemu banyak orang mbuat Marigold sedikit sulit mengingat wajah mereka satu per satu.
Dengan sopan Marigold bertanya “Maaf, aku lupa namamu. Boleh aku tahu siapa namamu?”
“Anda tidak ingat? Saya Navarro, Saintess.”
“Navarro?” Marigold mengerutkan kening berusaha mengingat nama dan di mana mereka pernah bertemu sebelumnya. Lantas semua tentangnya pun mulai diingat “Ah, Navarro~ kali ini kau datang ke sini lagi?”
“Ya. Semoga hari ini lancar, Saintess.”
Marigold ingat wajah tampan dibalik topeng itu. dia terkesan dengan pemuda yang rajin mengunjungi kuil. Mereka berdua mengobrol dengan akrab seperti sudah berteman untuk waktu yang lama. Sayangnya kegiatan mereka harus terjeda sebab waktu berdoa telah dimulai.
Marigold tetap berhasil menjadi idola dihati masyarakat Norfolk walau sebelumnya dia sempat terkena simpang siurnya berita mengenai saudari kembar yang ia sembunyikan. Melayani mereka sambil mengobrol membuat Marigold lupa sejenak dengan beban pikirannya.
Setelah jam bekerjanya habis, Marigold berniat pulang lebih awal. Tetapi, tak di duga-duga, pemuda yang mengaku bernama Navarro itu masih menunggu dirinya dan mengajak untuk berbincang beberapa saat sebelum pulang.
“Apa ada masalah, Navarro?” tanya gadis menawan itu penasaran.
Lelaki berkaki panjang itu membalasnya dengan menggeleng kecil sambil tersenyum “Tidak, Saintess. Saya hanya ingin mengucapkan salam perpisahan kepada Anda karena ini hari terakhir saya di Norfolk.”
Marigold membelalak “Kenapa? Kau berhenti dari pekerjaanmu?”
“Ya, begitulah. Saya akan kembali ke kota asal saya dan bekerja di sana. Sebelum saya pergi, saya ingin memberikan sesuatu sebagai kenang-kenangan untuk Anda.”
Marigold antusias menanti kejutan apa yang diberikan Navarro, ia berucap, “Sungguh? Terima kasih kau sudah memikirkan aku sebagai salah satu orang yang pantas menerima hadiah kenang-kenangan darimu.”
“Mengapa Anda bicara begitu? Ini, terimalah. Saya harap ini bisa mengingatkan Anda pada pertemanan kita.”
Lucien yang sedang menyamar sebagai seorang pemuda biasa bernama Navarro memberikan sebuah kalung emas berliontin Mutiara. Diam-diam Marigold telah lama mengidamkan kalung itu sejak lama, tiba-tiba dia mendapatkannya dari seorang penjaga perbatasan sekarang?
“Tapi mengapa kau membeli kenang-kenangan yang mahal begini? Aku tidak enak menerimanya.”
“Saya menabung sudah cukup lama dan saya rasa hanya ini satu-satunya hadiah yang cocok untuk seseorang yang luar biasa seperti Anda. Tidak hanya cantik, tapi Anda benar-benar sangat baik. Saya sangat mengagumi Anda.”
Pertemuan itu benar-benar membuat Marigold melupakan seluruh masalahnya. Obrolan itu terasa lebih hidup, hadiah yang didapat dari temannya menaikkan suasana hati Marigold.
Marigold tidak tahu, seringai licik yang terpatri dibalik tipuan keramahan seorang Lucien yang tengah menyamar sebagai rakyat biasa itu. Kalian mungkin juga sudah tahu bahwa kalung itu tidak diberikan semata hanya untuk hadiah melainkan ada tujuan lain terselip dibaliknya.
Sementara Lucien tengah memainkan permainan balas dendamnya pada keluarga Emerald, Meridia yang sudah hidup lebih nyaman sedang berada di ruang kerja Lucien. Tentu saja ia lakukan dengan sembunyi-sembunyi setelah Ximena memastikan dirinya sudah makan dan pergi.
Tidak jauh beda dengan ruang kerja Ziel, semua berkas yang sudah selesai ditumpuk dan diikat secara terpisah berdasarkan bulannya. Di sana juga terdapat rak buku yang berisi berkas-berkas lainnya. “Aku pikir dia benar-benar mengesampingkan urusannya sebagai seorang bangsawan.”
Tidak ada yang tidak digeledah olehnya. Akan tetapi satupun petunjuk tak ditemukan. Semua orang menghindari Meridia seakan takut kalau ia menanyakan sesuatu yang seharusnya mereka sembunyikan baik tentang diri mereka sendiri.
“Di sini tidak ada apa-apa. Haruskah aku ke perpustakaan?” Meridia ingin mencaritahu mengenai rumah ini.
Meridia masih penasaran tentang alasan pelayan wanita yang meminta tolong kepadanya sore kemarin. Bukannya menjelaskan saat ditanya, pelayan itu malah bertanya balik tak ingat apa yang dia tanyakan seperti orang yang tiba-tiba lupa ingatan.
Hari ini pun dia belum bertemu lagi dengannya. Semalam Meridia juga menanti peringatan yang diberikan. Tidak ada udara panas malam itu, hanya ada sedikit bau anyir yang tercium saat Meridia berdiri di dekat pintu kamar. Karena ragu, Meridia tak jadi membuka pintu kamar dan hanya sekilas mendengar suara langkah tanpa alas kaki.
Meridia terlonjak kaget ketika Lucien sudah berdiri di depan pintu dan menatapnya dengan intens “Apa yang kau lakukan di sini?” tanya pemuda itu heran.
“Ah aku hanya berkeliling saja. Aku belum sempat melihat ruangan ini kemarin.” Balasnya dengan santai, menyembunyikan maksud sebenarnya.
“Kau baru saja pulang, tidak mau beristirahat dulu?” Lucien menatap Meridia penuh arti seraya mengembangkan seringai menggoda, “Aku akan segera mengisi ulang energiku sekarang.”
Meridia curiga dengan gelagat Lucien yang mendekat selangkah demi selangkah diiringi oleh senyuman jahilnya yang semakin jelas. Benar dugaannya, pemuda jangkung itu segera mendekap tubuh kurus Meridia sambil sesekali mengusapkan wajahnya ke kepala biru gadisnya gemas “Aku pulang.” gumamnya.
Walau dalam posisi yang membuat keduanya tidak dapat saling bertatapan, tetapi Meridia tahu dari nada bicaranya bahwa pemuda itu senang ada seseorang yang bisa menunggu kepulangannya.
“Nah sudah selesai. Sekarang ayo kita jalan.”
Lucien tidak mengganti pakaiannya dan segera meminta seorang pelayan pria untuk membawakan keranjang. “Kau mau apa dengan keranjang itu?” Meridia tidak bisa kemana-mana karena Lucien menggandeng tangannya.
“Kita akan panen hari ini.”
Meridia terkagum-kagum melihat satu petak di kebun belakang yang ditumbuhi buah anggur merah yang lebat. Semua kulit buahnya tampak mengkilat tanpa cacat.
Lucien memakai sarung tangan dan mengambil dua gunting, dia memberikan satu pada Meridia “Kau paling suka bagian memanen, ‘kan? Bisa bantu aku?” gadis itu tak perlu waktu untuk berpikir karena bagian pekerjaan ini sangat menyenangkan.
Selagi Meridia sibuk dengan kegiatannya, Lucien melirik ke belakang bangunan istana. Dia memberi kode pada ketiga bawahannya dan kembali menatap gadis yang paling dicintainya itu “Meridia, setelah makan malam nanti aku ingin bicara denganmu.”
“Hm? Baiklah.”
Singkatnya Lucien hanya menanyakan tentang pernikahan mereka seusai makan malam. Meridia tak diberi pilihan untuk menolak, Lucien hanya memberikan pilihan berapa lama dia ingin mempersiapkan diri yang mana pilihannya ada dua bulan atau tiga bulan ke depan. Tentu Meridia memilih waktu terlama.
Sementara Lucien menghabiskan malam dengan orang terkasihnya, dia meminta tiga ksatrianya untuk pergi berpencar menyelesaikan pekerjaannya di berbagai tempat. “Apa kau sering melakukan regulasi pada pelayan-pelayan di sini?”
Lucien yang menemani Meridia berdiri di balkon kamarnya melirik kaget walau berlangsung hanya sedetik. Dia pun menjawab, “Tidak juga, aku hanya memberi mereka cuti. Anggap saja seperti bergantian jam kerja dengan yang lain.”
“Oh begitu? Pantas aku sulit mengingat mereka.”
Kau pikir aku akan percaya begitu saja? Sudah jelas-jelas ada yang aneh di rumah ini.
“Dengar, Meridia. Ada baiknya kau menjaga ketenanganmu dengan tidak mencari sesuatu yang tidak perlu kau ketahui. Terkadang diam adalah cara yang paling benar daripada kau bertindak dan nantinya menyesal.”
Lucien memberikan sebuah selendang untuk menutupi bahu gadisnya. "Besok aku akan pergi ke istana Bommenhaum untuk memberitahu Raja soal rencana pernikahan kita."
"Untuk apa?"
"Meminjam aula. Aku akan memamerkan mu pada seluruh dunia. Oh, dan aku juga akan mendaftarkannya ke kuil."
Lucien tak menjawab apapun pertanyaan yang diajukan oleh gadis langsing itu. Dia sibuk memberi perlakuan manis pada Meridia sehingga membuatnya tak mendengar ucapan gadis tersebut. Setelah selesai mengecek bahwa sekarang Meridia sudah lebih sehat dan berisi, dia menangkup kedua pipi Meridia dan mengecup keningnya lembut, "Masuklah. Sudah waktunya tidur."
Kenapa aku diam saja?
Meridia merasa aneh mendengar denyut jantungnya sendiri. Gadis itu berusaha menyangkal pikirannya sendiri. "Aku tidak mungkin menyukai seseorang semudah ini." elaknya tak terima.
Meridia tak melawan dibawa masuk oleh Lucien dan dia pun tak marah walau pertanyaannya diacuhkan. Pemuda itu mematikan lampu kamar Meridia lalu pergi ke luar. Gadis bernetra hitam kebiruan itu bisa mendengar dengan jelas bahwa Lucien sedang mengunci pintu kamarnya dari luar.
"Kenapa dengannya?" Meridia tidak jadi mengistirahatkan diri.
Saudari kembar Marigold itu kemudian terpikirkan dengan masalahnya. Memang benar, jika bukan karena Lucien dia tidak bisa sebebas itu pergi, tetapi untuk menjadi pasangan hidupnya secara mendadak bukanlah sesuatu yang bisa dianggap benar. Sejujurnya Meridia berpikir Lucien hanya ingin memenuhi persyaratan untuk sesuatu.
Mulai dari sana, Meridia mengalami beberapa keanehan dan terkadang dia sadar apa yang aneh, namun dia juga terkadang tak ingat apa-apa.
Malam ini, seperti yang telah pelayan wanita itu peringatkan, sungguh terjadi dan ia merasakannya sendiri. Udara tiba-tiba berubah menjadi panas secara drastis dan membuatnya hingga merasa tak nyaman tidur, mengangkat gaunnya pun tak berhasil menetralkan suhu tubuh.
Meridia menyingkirkan selimut dari tubuhnya dan membuka jendela kamar. Angin hangat bertiup sepoi-sepoi, tapi tak ada hal lain yang ia rasakan kecuali rasa panas tak nyaman yang semakin terasa.
Hidungnya yang cukup tajam kala itu menangkap sebuah bau darah segar yang terbawa angin lalu. "Bau ini tidak asing." Alhasil Meridia berpindah ke balkoni dan mencari tahu ada apa dibawah sana.
Di bawah balkon nya tidak ada benda apapun, tidak ada seseorang yang lewat, dan lampunya juga mati. "Apa hanya perasaanku saja?"
Gadis berwajah kalem itu berusaha membuka pintu kamarnya namun tak membuahkan hasil dan malah membuat telapak tangannya memerah. "Dia benar menguncinya."
Peringatan pelayan tak dikenal itu terus terngiang-ngiang dalam otak. Bukannya membuat takut, justru peringatan itu memancing keingintahuan Meridia lebih dalam, "Apa yang sebenarnya sedang terjadi di luar?"
Suhu panas itu bertahan selama kurang lebih dua jam. Meridia langsung tertidur begitu merasa udara yang dingin membuai lembut kulitnya. Sayangnya dia lebih memilih tidur di sofa dekat balkon untuk merasakan hawa dingin yang sama dengan yang ia rasakan saat masih tidur di bekas gudang. Ia terbiasa dengan dinginnya sehingga perubahan suhu ruangan sangat mempengaruhi kenyamanan yang ia rasakan.
Ketika Meridia telah tertidur pulas, kunci pintu dibuka oleh sang pemilik istana. Lelaki berambut setengah basah itu membuka pintu kamar gadis pujaannya pelan agar tak mengejutkan Meridia.
Lucien cukup kaget saat tahu ternyata Meridia tidur disofa panjang, gaun tipisnya terangkat sampai keatas lutut, ia bahkan tak memakai selendangnya. "Apa-apaan ini?" gumam Lucien heran.
"Kau bisa masuk angin, sayang." bisiknya pada gadis yang nyawanya sedang tidal berada didalam raga. Melihat pemandangan itu berhasil membuat Lucien menelan ludah, "Dia sangat sembrono."
Lelaki berwajah rupawan itu menggendong Meridia dan memindahkannya ke ranjang, "Aku jadi ingin menemanimu. Tapi kau akan takut padaku."
Lirikan tajam Lucien mendarat ke pintu. Hugo saat itu tengah berdiri sambil membawa nampan berisi beberapa surat yang ia terima hari ini. "Yang Mulia, Anda mendapat sebuah surat baru."
"Dari siapa?"
"Tertulis di sini pengirimnya adalah nona Goddin."
"Goddin?"