TRAPPED BY THE SECOND MALE LEAD

TRAPPED BY THE SECOND MALE LEAD
CHAPTER 28



Kedatangan Lucien tidak disambut meriah oleh para pelayan istana. Mereka hanya diam sambil terus menunduk ketika berpapasan dengan pemuda itu. Aura dinginnya sangat kental terasa. Ya, bukannya Lucien peduli dengan itu semua. Dia tidak gila hormat. Tujuannya sekarang hanya bertemu dengan Raja.


Dia melihat seorang perwakilan. "Di mana Raja Gilbert?"


"Beliau sedang ada di perpustakaan, Yang Mulia Duke."


"Terima kasih".


Lucien tidak berniat mempertanyakan tentang pernikahan dan peminjaman aula istana kepada Gilbert lagi, saat ini dia ingin fokus merusak satu lagi rencana Ziel.


Terdapat dua ksatria yang menjaga pintu perpustakaan. Mereka berdua tampak tidak menahan Lucien di depan pintu selagi mereka menanyakan izin pada yang hendak dikunjungi seolah semua sudah tahu hubungan apa yang dimiliki Lucien dengan Raja dari Kerajaan Bommenhaum ini.


Mereka segera membukakan pintu dan terlihat lah Gilbert yang tengah menulis sesuatu di atas gulungan kertas dengan ditemani dua penasihat nya. Pria itu mengangkat wajah dan segera tersenyum lebar begitu tahu yang datang ada Lucien. "Wah lihat siapa yang datang ini. Lucien ku, apa kabar?" sapa pria berwajah awet muda itu gembira.


Lucien mengernyit geli mendengar sambutan konyol Gilbert. "Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu."


Dia penasihat Gilbert yang berdiri di belakang kursinya saling lirik. Selama ini hanya Lucien yang sungguh-sungguh tidak memanggil Gilbert dengan gelar, bahasa yang digunakan juga bahasa informal yang semakin membuat Lucien kasar dan tidak sopan. Anehnya Raja Bommenhaum itu sama sekali tidak keberatan dengan sikapnya, dia terus menyambut pemuda tampan itu dengan ramah dan penuh perhatian.


"Tentu saja, aku punya waktu luang."


Kedua penasihat itu terkejut, "Baginda...!"


"Hanya sebentar. Kalian segera tinggalkan ruangan. Aku ingin bicara empat mata dengan Lucien."


Nyatanya Gilbert tengah menuliskan semua isi rapat sekaligus membuat surat-surat penting yang akan ia bagikan bagi perwakilan yang terpilih. Hari diadakannya rapat besar sudah semakin dekat, banyak persiapan lain termasuk mempersiapkan dana belum terselesaikan. Mereka membutuhkan tanda tangan dan stempel dari Gilbert. Jika dia banyak menumpuk dokumen maka semua itu tidak akan selesai sampai dua hari ke depan.


Apa boleh dikata, Gilbert menginginkan mereka memberi ruang untuk bicara. Dua penasihat Raja kemudian pergi sambil memperhatikan sebentar interaksi antar keduanya.


"Aku tidak ingin curiga, tapi mengapa Baginda Raja sangat memperhatikan Young Duke sebegitunya? dia selalu menuruti semua kemauan Young Duke."


"Mungkin itu alasan mengapa Raja Gilbert tidak menikah sama sekali."


"Hei, jaga bicara mu. Jika ada yang melapor habislah riwayatmu."


Ada sebuah rumor yang menyebar hanya disekitar pegawai istana. Usia Gilbert sebenarnya sudah sampai pada kepala lima. Jangankan punya keturunan, menikah saja tidak. Jadi Gilbert tak memiliki calon penerus untuk takhta nya. Lalu kemunculan Young Duke Navarro yang amat disayang dan diperhatikan justru menuai respon negatif dan menciptakan berita miring.


Sebagian beranggapan Gilbert menyayangi Lucien sebab dia tak memiliki anak kandung yang bisa dia ajak membahas tentang kerajaan. Lalu sebagian lagi beranggapan bahwa Gilbert memiliki ketertarikan romantis pada Lucien. Bukan tidak beralasan, Gilbert selalu ingin bicara berdua saja dengan Lucien. Sedangkan saat bicara dengan bangsawan lain, Gilbert tidak peduli mau ada berapa banyak orang yang berada di dalam ruangan.


Nyatanya, baik Gilbert maupun Lucien, mereka sama-sama memiliki tujuan sendiri dengan memanfaatkan satu sama lain. Tidak ada yang tahu apa sebenarnya tujuan yang ingin dicapai Lucien begitu pula dengan tujuan Gilbert.


"Apa yang kau bawa itu?" mata hitam itu tertuju pada sebuah gulungan kertas dalam genggaman tangan Lucien.


"Ini dokumen pengajuan yang aku ingin kau bahas di rapat besar besok." Lucien memberikan gulungan itu dan membiarkan Gilbert membaca sampai tuntas. Kedua alisnya bertaut sebagai respon setelah selesai membacanya, "Kau mengajukan pembangunan rel kereta api uap? kau tahu itu membutuhkan dana yang besar dan waktu pengerjaan yang lama."


"Aku tahu, tapi uangmu banyak. Itu bukan suatu hal yang mustahil, 'kan? Avallone dan Whitebridge sudah punya." Gilbert membuang nafas panjang, dia tidak mengerti mengapa Lucien yang selama ini fokus pada permasalahannya sendiri menjadi ingin merekomendasikan pembangunan rel. "Aku memang tidak bilang aku sudah jatuh miskin dan kehabisan uang. Kau bisa bayangkan betapa banyak masyarakat yang akan protes denganku setelah ini?"


Jika orang-orang mulai mengandalkan kereta api uap, maka orang-orang yang bekerja sebagai kusir akan mengalami penurunan penghasilan dan itu akan menyulitkan mereka.


"Sediakan saja pekerjaan lain. Aku tidak peduli dengan semua masalah itu. Aku hanya butuh kau menyetujui rekomendasi ini dariku, bukan orang lain." tandas Lucien.


"Kau ini memang suka sekali memberi kejutan besar. Aku tidak pernah bosan menantikan apa tindakanmu selanjutnya."


"Tentang wilayah itu.. berikan padaku."


"Eh? kau? kenapa? bukankah kau bilang kau tidak tertarik memilikinya?"


"Aku berubah pikiran. Tidak perlu khawatir, aku bukannya akan menelantarkan wilayah itu. Aku hanya berpikir akulah yang lebih pantas menerimanya."


"Tapi, itu ada di Norfolk."


"Tidak masalah, 'kan? selama ini tidak peraturan yang menjelaskan bangsawan hanya boleh memimpin wilayah di kotanya saja." Melihat seringai Lucien berhasil membuat Gilbert semakin antusias.


Gilbert mendengus pelan seraya tersenyum. "Aku mengerti. Aku akan coba bicarakan dengan penasihat ku." Raja dari Kerajaan Bommenhaum ini menggulung lagi kertas milik Lucien. "Oh iya, bagaimana kabar Meridia? aku harap dia baik-baik saja sekarang."


Lucien mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras. "Jangan pernah kau sentuh Meridia. Jika sesuatu terjadi padanya maka kau yang akan aku bunuh duluan."


"Hahaha kau sangat protektif sekali. Padahal aku hanya menanyakan kabarnya saja bukan ingin mencelakai dia."


Lucien tak pernah suka nama cinta sejatinya keluar dari mulut Gilbert. Itu membuatnya gelisah dan muak sampai tulangnya ikut bergetar merasakan kegelisahannya.


Berhubung keadaan Meridia sudah membaik, rasa mual yang ia rasakan sudah hilang dan tubuhnya tidak lagi terasa lemas.


Gadis berparas menawan itu pergi menuju ruang takhta yang entah mengapa dipunyai oleh seorang yang hanya berpangkat Duke. "Pintunya tidak dikunci." sebelum masuk ke dalam ruangan, Meridia terlebih dulu mengecek keadaan sekitar. Setelah yakin tidak ada orang di sana, Meridia nyelonong masuk dan menutup itu lagi tapi dengan gerakan pelan agar tak menimbulkan suara yang bisa memancing seseorang untuk datang.


Ruangan itu sangat luas dan panjang. Anehnya tidak memiliki penerangan apa-apa di sana, tidak ada lilin atau semacamnya. Mata Meridia harus berkerja ekstra untuk dapat melihat sesuatu dengan jelas. Dia kemudian membuka salah satu tirai panjang yang menutup jendela. Cahaya pun malu-malu masuk ketika dipersilakan.


Meridia mengernyitkan dahi saat melihat pecahan kaca cermin yang tetap dibiarkan berserak dilantai. "Mengapa tidak ada seorang pun yang membereskannya?" alhasil Meridia hanya mengumpulkan tiap keping kaca ke bawah kaki cermin besar itu. "Ah!" tidak sengaja Meridia membuat goresan kecil di jari telunjuknya akibat tertusuk serpihan kaca tajam. "Sudahlah".


"Tidak ada apa-apa di sini."


Kembaran Marigold itu maju sampai ke depan singgasana. Teringat lah ia akan pertemuannya dengan Lucien sebelum akhirnya dia diboyong ke sini untuk tinggal dan menemaninya. "Dia terlihat sangat congkak saat duduk di sini." gumamnya sembari tersenyum geli mengingat wajah Lucien.


Duk!


"Apa itu?" Meridia terkesiap mendengar bunyi benda berat yang terjatuh. Dia menunduk memandang lantai yang dipijak nya. "Suaranya seperti dari bawah sini."


Meridia kemudian berjalan menuju ke belakang singgasana. Terdapat sebuah tempat lilin menempel di dinding tepat dibelakang singgasana, "Ini sebuah tombol kah?" gadis itu meraba tempat lilin tersebut, ia lalu coba menggerakkan nya ke bawah dan dinding yang tadinya rata tanpa adanya sedikitpun retakan bergetar hingga dinding itu membuka sebuah celah sebesar tubuh manusia. "Ini menuju ruang bawah tanah, kah?" tanya nya pada diri sendiri.


"Aku tidak punya penerangan. Di dalam gelap sekali."


Jika dia pergi keluar untuk mencari lilin, mungkin ada seseorang yang akan melihatnya setelah dia kembali ke dalam sini. Meridia tidak mau mengambil resiko, jadi dia memutuskan masuk dengan hanya meraba.


Setelah tiga menit berjalan menuruni tangga kayu, Meridia sudah bisa melihat cahaya remang di bawah. Ketika dia berhasil menginjakkan kaki ke anak tangga terakhirnya, betapa terkejutnya ia melihat ruangan rapi yang dipenuhi barang-barang. Sangat jelas terlihat bahwa semua yang ada di ruang bawah tanah itu benar-benar terjaga.


"Lucien...untuk apa dia mengoleksi barang-barang wanita seperti ini?"


Mata biru nilanya berhenti pada sebuah objek yang familiar untuknya. Meridia berani melangkahkan kaki mendekat ke arah meja. "I-ini..ini kalungku?"


Sebuah kalung emas tersimpan di dalam kotak kaca dan dipajang dengan begitu indahnya di dalam sana. Dia ingat betul kalung itu berisi foto dirinya (Bianca) sendiri dan merupakan kalung terakhir yang dia pakai sebelum terlempar ke dunia novel.


"B-bagaimana ini bisa ada di sini? apakah hanya mirip?" Meridia berulang kali mencoba mengangkat kotak kaca yang melindungi kalung itu, tetapi tidak ada cara yang bisa membuat kaca itu bergerak sekalipun.


Gadis bersurai panjang itu beralih menuju ke sebuah lemari kayu besar yang tampaknya sangat berat. Beruntung bagi Meridia yang hendak mengecek sebab kedua pintu lemari itu tidak terkunci.


Aneh sekali, kenapa isi lemari ini hanya kepingan batu lempeng?


Meridia berjongkok untuk melihat lebih dekat kepingan batu besar yang tidak terlalu berat. "Aneh. Kepingan batu ini sangat rapi. Oh tunggu, ini seperti puzzle."


Meridia iseng mengeluarkan dua keping batu dengan ukiran tulisan tak terbaca dan menyusunnya sesuai dengan sudut yang terbentuk. Benar, entah mengapa dua keping batu selebar penampi itu tersusun seperti sebuah kepingan puzzle yang saling melengkapi.


Darah yang masih menempel pada jari telunjuknya kini ikut tercetak di atas batu tersebut. "Oh, darahku..."


Secara tiba-tiba cahaya keluar dari batu biasa itu dan membuat Meridia memejamkan matanya erat-erat akibat cahaya yang amat menyilaukan itu.


Meridia memucat. Setelah cahaya itu meredup, kepala Meridia seakan terus teraliri ribuan potong memori. "Kepalaku... Argh!!" Meridia menjerit sambil memegangi kepala dengan kedua tangannya.


Hugo, Christ, dan Dylan yang memiliki insting tajam, segera mendengar teriakan itu walau amat samar karena posisi Meridia berada di ruang bawah tanah. Sedangkan Lucien yang masih membahas perjanjian lanjutan dengan Gilbert seketika membeku. Dia menjatuhkan pena dalam pegangannya ke lantai.


"Yang Mulia, apa ada masalah?" tanya pelayan yang membawakan kertas.


Lucien tidak menjawab dan langsung berlari keluar meninggalkan ruangan perpustakaan tanpa berpamitan sama sekali. Keringat dingin mulai keluar membasahi dahi, "Meridia...sial!"


Ketiga Ksatria Lucien telah sampai di ruang singgsana. Mereka bertiga membelalak kaget melihat Meridia tergeletak pingsan di depan kursi singgasana. Tubuhnya sudah sepucat mayat dan dari hidungnya keluar darah yang lumayan banyak. "Yang Mulia!"


"Duchess?!"


"Lady? Lady, Anda dengar saya?"


Hugo gemetaran hebat. Dia menatap ke kursi singgasana itu— lebih tepatnya ke tembok di belakangnya. "Jangan-jangan dia baru pergi dari sana?" ini akan jadi masalah besar bagi mereka yang tinggal sebagai bawahan Lucien.


Dylan tak dapat menahan kepanikan nya melihat darah masih mengalir keluar dari kedua lubang hidung calon Duchess nya itu. "Sebaiknya kita segera panggilkan dokter."


"JANGAN SENTUH DIA".


Tiga pria bertubuh kekar itu mengejang tatkala sebuah aura besar nan menyesakkan terasa memberatkan punggung mereka. Hugo dengan berhati-hati menaruh kembali tubuh lemah Meridia.


Suara itu tidak besar, tidak pula kencang, malah cenderung terdengar biasa saja bagi manusia lain dan tentu tidak bagi mereka yang bekerja di istana Navarro ini.


Namun, hanya dengan mendengar suara dingin itu saja mampu membuat seluruh tubuh lemah tak berdaya, tak ada yang bisa dipikirkan kecuali kematian. Berpikir bisa selamat saja itu merupakan sebuah keberanian yang patut diacungi jempol.


"TUNGGU AKU DI LAPANGAN. KUMPULKAN SEMUA ORANG DI SANA TANPA TERKECUALI."


"B-baik, Yang Mulia."


Tidak ada yang berani melakukan tawar-menawar dengan Lucien. Hari ini pula, lapangan mungkin akan berubah menjadi lautan darah.


Kecerobohan sekecil apapun harus ada konsekuensi yang ditanggung.


Selepas mereka bertiga keluar. Lucien membopong tubuh kekasihnya penuh kasih dan kelembutan. Pemuda yang dikenal berdarah dingin itu menggigit bibir bawahnya guna menekan ketakutannya. Pegangannya pada sang gadis semakin menguat.


"Maaf, aku lagi-lagi ceroboh. Aku terlalu fokus dengan pembalasan dendam yang konyol tapi lupa memperhatikanmu. Kau tidak marah padaku, 'kan? bangunlah, jangan merajuk padaku." Lucien berbisik ditelinga Meridia dengan putus asa. Tubuhnya yang selalu tahan banting kini bergetar takut. "Jika aku kehilanganmu sekarang maka aku tidak akan bisa menepati janjiku padamu lagi."


Setitik air mata mengalir dari Duke Muda tanpa belas kasih.


Dengan penuh kehati-hatian Lucien membaringkan tubuh panas Meridia. Dia menggunakan lengan bajunya untuk menyeka darah mimisan di hidung mancung kekasih hatinya. "Aku sudah memperingatkanmu untuk tetap diam dan nikmati semua kesenangan ini selagi bisa." dia menatap wajah tenang gadis itu nanar.


Manik Lucien menyala semakin terang. Dia membuka mulut Meridia dengan jarinya, "Maaf aku harus menggunakan cara ini demi keselamatanmu." Lucien menggigit bibirnya sendiri hingga berdarah lalu dia dengan tenang mencium 'putri tidur' nya guna membuat Meridia meminum darah miliknya.


Ciuman itu berlangsung sekitar dua menit. Seusai memastikan itu tertelan, Lucien memegang dahi Meridia, mengeluarkan cahaya merah kehitaman lewat telapak tangannya. "Setelah ini aku akan lebih berhati-hati, kau tidurlah dengan nyaman."


Meridia dipastikan sudah membaik. Kini Lucien mengambil pedang khusus miliknya dan berjalan menuju ke lapangan tempat ksatria nya berlatih.


Semua orang yang bekerja dibawahnya telah bersujud di tanah meminta kemurahan hati dari seorang Lucien yang tidak waras. "Katakan padaku, apa yang kalian lakukan di rumahku sampai kalian tidak bisa mengawasi satu orang saja."


Kepala pelayan wanita itu mengangkat wajahnya menatap Lucien dengan mata yang sudah dibanjiri air mata ketakutan. "Y-Yang Mulia..."


"Aku tidak dengar suaramu. Mendekatlah dan jelaskan semuanya."


Kepala maid segera patuh mengikuti kemauan dari sang majikan. Dia menjaga pandangan tetap ke bawah. "Ma-maafkan hamba, Yang Mulia. Kami tidak melihat Yang Mulia Meridia karena kami sedang bertugas di bagian belakang istana."


Lucien mengorek telinga dengan jari, "Oh begitu? apa kau dengar aku memintamu mencari alasan?"


Lucien mencabut pedang dari sarungnya dan menusuk jantung kepala maid hingga pedang itu menembus sampai ke pangkalnya. Darah maid itu terciprat sampai ke wajah Lucien. Pemandangan mengerikan itu membuat yang lain ketar-ketir. "Aku tidak butuh manusia tidak berguna sepertimu. Pergilah ke alam baka."


"Ximena. Majulah."


Seakan telah siap menemui ajalnya, gadis itu menghadap Lucien yang telah sepenuhnya dikendalikan oleh amarah dengan sangat tenang. "Saya telah berbuat kesalahan besar, Yang Mulia. Duchess Meridia meminta saya untuk membuatkan cokelat panas sehingga saya pergi meninggalkan beliau."


"Lagi-lagi alasan yang tidak berguna. Berbaliklah."


Ximena segera berbalik dan Lucien segera menebas punggung gadis itu. Lukanya memang panjang dan agak dalam, tetapi dia tidak sampai kehilangan nyawa. "Jika kau sekali lagi teledor, kedua kaki tanganmu akan ku potong habis dan akan ku biarkan kau hidup seperti itu selamanya. Enyahlah dari sini."


Semua mendapat giliran. Dua orang telah tewas. Selain kepala maid, Lucien juga menghunuskan pedangnya ke dada butler pribadinya yang mana keduanya telah Lucien perintahkan langsung agar tetap membersamai Meridia kemana pun gadis itu pergi. Sisanya mendapat luka sebesar yang Ximena dapatkan, termasuk ketiga ksatria nya.


"Belakangan ini sepertinya aku sudah melunak pada kalian, jadi kalian semakin tidak berguna seperti tikus sialan yang merugikan petani." cemoohan Lucien itu hanya dapat membuat para pekerjanya tertunduk dalam. "Jika kalian masih sayang nyawa maka bekerjalah dengan benar."


Inilah sisi sadis Lucien yang tidak atau belum Meridia saksikan secara langsung. Pemuda itu selalu ingin kesempurnaan dan kehati-hatian. Kegagalan hanya akan membuat Lucien stress dan perlu pelampiasan berupa mencabut nyawa pekerjanya yang tak bersalah yang tak tahu apa-apa.