TRAPPED BY THE SECOND MALE LEAD

TRAPPED BY THE SECOND MALE LEAD
CHAPTER 16



Bangunan semegah istana kerajaan itu tidak tampak seperti sebuah bangunan terbengkalai. Meski jarak Meridia berdiri cukup jauh dari area istana, ia masih dapat melihat dengan jelas bahwa semua yang ada di sekitarnya sangat terawat terutama tanaman yang tumbuh di taman depan.


Wajar saja jika bangunan megah itu terlihat sepi sebab ini sudah malam, tetapi penerangannya terlalu minim untuk mengimbangi besarnya istana itu.


Tempat ini punya penunggunya ‘kan? Sepi sekali…


Meridia merasa tak nyaman melihat aura lingkungan dalam penghalang tembus pandang itu yang lebih gelap daripada di luar. Meridia merasa pengap. Kakinya beranjak mundur, tapi seseorang sudah lebih dulu melihat keberadaannya “Hei, siapa di sana?!”


“Gawat!”


Meridia tergesa-gesa menembus penghalang. Sayangnya si penjaga itu super cepat dan entah bagaimana caranya bisa menyusul Meridia lalu mencengkeram pergelangan tangan gadis itu kuat-kuat sampai sang empunya bisa merasakan tulangnya seperti hendak patah.


“Siapa kau?!” Meridia mendongak menatap sosok tinggi pria besar di hadapannya “Aku hanya sekedar lewat dan tiba-tiba aku bisa masuk kesini.” jawab Meridia pelan.


Mata jeli pria berpakaian lengkap seperti ksatria itu mengamati baik-baik gadis lemah itu dari atas sampai bawah. Wajah yang berantakan, mata sembab, gaun yang sudah tidak jelas bentuknya, kaki penuh parut terkena tanaman berduri. “Kau kelihatan sangat mencurigakan.”


Meridia mengangkat dua jari tanda meminta perdamaian di depan wajah, “Tapi aku tidak bohong. Sungguh.”


Pria itu lalu mengalihkan pandangan ke arah perisai yang berhasil ditembus Meridia, mengamati apabila ada kerusakan pada pelindung itu tetapi semuanya masih tampak kokoh. “Bagaimana caranya gadis kurus dan lemah sepertimu bisa masuk dengan mudah?” tanya nya keheranan sementara Meridia hanya mengangkat bahu tak paham.


Meridia menunduk melihat salah satu pergelangan tangannya yang masih ditahan. Untuk membuktikan bahwa dia tidak berbohong, Meridia menggunakan satu tangan lain dan menembus pelindung itu tanpa perlu usaha yang berarti.


Pria berwajah sangar itu membeliak tak percaya atas apa yang baru saja ia lihat “Sebenarnya kau ini siapa?” tatapan bingungnya tak lantas membuat Meridia tahu jawabannya. Gadis biru dongker itu tak paham apa maksud perkataan lawan bicaranya.


“Aku hanya seorang pelayan dari salah satu keluarga bangsawan,” Meridia menjawab dengan kalimat sederhana.


Pria asing itu terdiam beberapa saat lalu menyeret Meridia masuk lebih jauh memasuki halaman depan istana, “Ikuti aku.”


Gadis berambut panjang itu memandangi bahu lebar nan kekar pria yang tengah menyeretnya “Mau kemana? Apa kau akan memenjarakan aku?”


“Huh? Itu ide yang bagus. Jika kau terbukti membawa ancaman maka aku akan memenjarakanmu bersama hewan buas di penjara bawah tanah.”


Meridia kesulitan menyejajarkan kecepatan langkah kaki mereka “Aku bertanya, bukan memberi ide. Memangnya salah jika bisa menembus angin seperti itu?”.


Meridia terkesiap ketika pria itu tiba-tiba menoleh ke arahnya sambil melotot, genggaman pada pergelangan tangannya mengerat “APA? ANGIN KAU BILANG?” ucapnya dengan penuh penekanan.


“Ah ya, maaf.” Cicit Meridia ngeri.


Sesampainya di dalam istana, Meridia merasakan ada keanehan baru. Memang beberapa kali ia berpapasan dengan pelayan-pelayan yang masih bekerja tetapi suasananya tetap terasa sunyi dan dingin, menyaingi kesunyian di area pemakaman. Tak ada hawa kehidupan di sana.


Matanya menyisir lorong lengang yang gelap untuk mencari tahu tempat apa yang tidak sengaja ia datangi ini. Untuk ukuran bangunan yang besar, benda berharga di dalamnya justru tidak banyak tergantung di sepanjang dinding. Barang-barang di lorong cenderung benda tak bernilai tinggi.


Pria berbadan kekar yang diketahui bernama Hugo tersebut membawa Meridia memasuki ruangan dengan pintu serba hitam bermotif suluran emas yang cukup tinggi dan lebar yang rupanya itu adalah ruang takhta.


Seseorang tengah duduk diatas singgasana sambil menopang kepala dengan satu tangan “Siapa yang kau bawa itu? penyusup?”


Cahaya yang sangat minim di sana membuat Meridia tak bisa melihat dengan jelas. Dia hanya bisa melihat siluet manusia duduk di kursi singgasana, matanya tampak menyala di kegelapan.


Ruang tahta hanya disinari oleh cahaya rembulan yang menyelinap masuk lewat jendela. Meridia perlu menyipitkan matanya untuk melihat sosok tersebut.


“Hugo menghadap Anda, Yang Mulia.” pria itu membungkuk hormat sambil meletakkan tangan kanan di dada kiri, lalu dia menatap pemuda yang duduk di kursi itu “Saya ingin melaporkan sesuatu, Yang Mulia.” Hugo memberikan sedikit jeda pada kalimatnya lalu segera menceritakan rangkuman dengan singkat.


“Begitu? Kemarilah.”


Hugo melepas genggamannya lalu mendorong pelan bahu Meridia, meminta gadis cantik itu maju menuruti titah sang majikan. Satu tangan pemuda misterius itu terangkat seolah hendak menyambut Meridia.


Setelah berdiri di hadapan sosok tersebut Meridia lantas sedikit demi sedikit memberanikan diri untuk menatap langsung pemuda itu. Kemudian beberapa detik setelahnya dia sadar “Aku merasa tidak asing,” Meridia tidak mempedulikan tangannya yang saat ini tengah digenggam oleh pemuda itu.


“Akhirnya kau menemuiku.”


“…”


“Kau pasti melupakan namaku lagi, bukan begitu?” sebuah senyum tipis terukir di bibirnya “Biarkan aku memperkenalkan diriku dengan benar kali ini. Aku adalah Lucien Clein Navarro, senang bertemu denganmu lagi, Meridia.”


Gadis itu membulatkan matanya terperangah “Lucien yang itu?” lelaki itu membalasnya dengan anggukan kecil tanpa tahu apa maksud sebenarnya dari pertanyaan Meridia.


Meski samar Meridia ingat nama Lucien. Pemuda tampan nan minim ekspresi itu adalah pemeran utama lelaki kedua dari novel ini.


Lucien Clein Navarro, seorang pemuda yang bisa dibilang masih remaja bergelar Duke termuda sepanjang masa itu adalah sosok karakter yang sudah pasti sering berseliweran disepanjang jalan cerita dengan menyandang sebutan sebagai orang misterius.


Berhubung dia juga merupakan karakter pembantu yang akan tersingkirkan oleh Arden, Lucien tidak memiliki banyak bagian cerita tentang kehidupan pribadinya. Penulis lebih menonjolkan bagian cerita saat sang Duke Navarro itu sering datang ke mansion Emerald untuk mendapatkan hati Marigold.


Mungkin si penulis hanya ingin fokus pada kehidupan kedua pemeran utama dalam novelnya sehingga tidak dijelaskan di mana dan seperti apa tempat tinggal Lucien.


Di beberapa kesempatan, Meridia sempat sesekali mendengar rumor yang menyebar bahwa Lucien nyaris tidak pernah muncul sama sekali di kalangan sosial para bangsawan. Beberapa diantara mereka yang tertarik ingin menjalin hubungan bisnis serta penawaran perjodohan mengatakan bahwa mereka tak pernah menemukan alamat tempat tinggal Lucien.


Terakhir kali Lucien muncul adalah pada perayaan ulang tahun kaisar tahun lalu. Selain undangan dari keluarga kerajaan, Lucien tidak akan pernah hadir. Sebagai tambahan, Lucien akan menghilang tanpa jejak setelah acara itu. Orang-orang hanya bisa bergosip karena tak ada siapapun yang tahu siapa dan orang seperti apa Lucien sebenarnya.


Saat mata mereka terkunci, satu sudut bibir Lucien terangkat “Aku sudah menunggumu sejak lama. Sejujurnya aku takut kau akan benar-benar lupa padaku.”


Meridia mengerutkan dahi “Maaf?”


Dalam waktu sepersekian detik semua ingatannya mengenai pertemuan mereka berdua kembali. Ini bukan pertama kalinya mereka bertemu. Di dekat pasar, kuil, lalu di hutan. Meridia pun ingat dengan pesan Lucien saat mereka akan berpisah karena penjaga yang datang mencari.


Lucien kemudian berdiri dari kursi dan langsung memeluk tubuh lemah gadis itu dengan erat, ingin merasakan hangatnya tubuh Meridia. Mata Lucien menajam menatap Hugo, mengisyaratkannya untuk pergi dari ruangan dan meninggalkan mereka berdua.


Meridia terdiam berusaha mengelola apa yang sedang terjadi. Dia sedikit bingung ketika Lucien tiba-tiba memeluknya. Selain itu yang Meridia dapat rasakan hanyalah suhu tubuh dingin Lucien.


Posisi itu bertahan selama dua menit. Lucien lantas melepas pelukannya seraya mengelus pipi mulus gadis di hadapannya dengan lembut “Aku senang kau datang padaku. Aku sangat bosan menunggu.” tatapan hangat Lucien sedikit mengusik sesuatu di dalam hati Meridia.


Kedua alis Lucien bertaut tatkala menemukan mata sembab gadis itu. Ibu jarinya bergerak mengusap jejak air mata yang masih terlihat di pipinya “Kau habis menangis? Siapa yang telah membuatmu bersedih seperti ini?” nada bicaranya yang penuh perhatian memunculkan tanda tanya besar di kepala Meridia.


Lucien juga kelihatan marah saat melihat memar dipipi Meridia, itu terlihat dari alisnya yang berkerut.


“Kau tiba-tiba bersikap sangat perhatian, itu sangat mencurigakan.” Meridia menepis tangan Lucien dari wajahnya. Matanya yang awas malah menggelitik perut Lucien. Pemuda berambut hitam legam itu terkekeh pelan “Kau sangat menggemaskan,” katanya, “Kau datang kemari untuk meminta pertolonganku, ‘kan?”


“Tidak. Aku hanya tidak sengaja masuk.”


“Sungguh?” tanya Lucien yang langsung dijawab dengan anggukan cepat dari Meridia “Aku sudah bisa mengabulkan keinginanmu, apa kau masih tetap tidak ingin meminta pertolonganku?”


Dahi gadis itu berkerut. Meridia mengangkat tangan “Anu, maaf. Aku hanya tidak sengaja bertemu denganmu di rumahmu ini. Meminta tolong pada sesama manusia? Itu tidak lucu.”


Meridia tak bisa percaya dengan manusia semudah itu. Pengalamannya yang selalu dipenuhi manusia-manusia tak tahu diri membuatnya paham betul apa artinya kebusukan.


Lagi-lagi Lucien tertawa kecil, tapi perlu Meridia akui bahwa ketampanannya bertambah menjadi dua ratus persen. “Kau ini lucu sekali. apa kau tidak merasa bahwa pertemuan kita ini adalah sebuah takdir?” senyuman Lucien berganti dengan sebuah seringaian misterius.


Meridia menyipit heran “Sejak awal kita bertemu kau selalu mengatakan sesuatu yang membingungkan. Aku tidak mengerti.” bukannya menjawab, pemuda itu justru mengikis jarak di antara mereka.


Mata merah Lucien yang setajam mata binatang buas menatap lurus ke mata sembab Meridia “Aku tidak suka melihat milikku dilukai orang lain. Suka atau tidak, aku akan membalas mereka.”


“A-apa?” Meridia mundur beberapa langkah namun percuma saja karena Lucien ikut mendekat sehingga tidak ada gunanya gadis itu menjauh “Tidak, lupakan saja. Kau tidak ingin meminta tolong padaku ‘kan? Kalau begitu pulanglah,” Meridia mendongak menatap wajah rupawan pemuda pemilik kastil sunyi ini. Meridia tetap diam tak bergeming.


Lucien tersenyum miring “Kenapa diam saja? Kau bilang kau tidak mau meminta pertolonganku. Padahal aku tidak bohong soal punya rumah dan banyak kamar.”


“…” Meridia tak dapat berargumen.


“Takut dimarahi saat pulang nanti?” tak dapat dipungkiri, Meridia memang takut saat kembali nanti dia akan dimaki-maki dan dipukuli, tidak hanya sampai di situ saja, mungkin dia juga akan dikurung di gudang baru yang lebih pengap selama berhari-hari.


Seolah bisa membaca wajah kalut Meridia, Lucien dengan lembut mengelus puncak kepala Meridia “Tenanglah, tidak akan terjadi apa-apa.”


“Kau tahu dari mana semuanya akan baik-baik saja?” Meridia sudah hafal dengan kebiasaan keluarga Emerald saat mereka sudah terlanjur salah paham kepada dirinya. Tidak akan ada yang namanya baik-baik saja.


“Um…insting?” Lucien tersenyum simpul “Besok pagi aku akan menjemputmu jadi kau tidak perlu mengkhawatirkan apapun, mengerti? aku akan membawamu kemari.”


“Apa?”


“Kau akan tahu besok, sekarang kau harus pulang dan beristirahat,” Lucien membalik tubuh Meridia menghadap pintu “Hugo akan mengantarkanmu sampai ke rumah,” Hugo pun datang membuka pintu dan menunggu Meridia keluar.


Saat berjalan menuju ke pintu, Meridia menyempatkan diri untuk menoleh ke belakang dan Lucien masih tersenyum ke arahnya, melambaikan tangan dan mengucapkan selamat malam untuknya dari jauh.


“Di luar ekspektasiku, Lucien ternyata bukan sosok yang dingin dan irit bicara. Itu sedikit berbeda dari karakter aslinya, apa aku yang salah mengingat?” batin Meridia dalam hati.


Di cerita aslinya Meridia beberapa kali berbincang dengan Lucien, tentunya ingin bekerja sama memisah dua sejoli yang telah ditakdirkan bersama oleh penulisnya.


Dalam ingatan Meridia yang sudah samar, Lucien bukanlah orang yang mudah untuk diajak bicara dan lebih menunjukkan tindakan ketimbang memberi penjelasan terlebih dahulu. Tidak heran jika terkadang itu menimbulkan salah paham.


“Dia agak berbeda dari yang aku ingat.”


Apa maksudnya dengan menjemputku ya? Apa yang akan dia lakukan?


“Berpeganglah padaku.” Meridia memegang tangan Hugo sesuai dengan yang diminta. Mereka berdua menembus barrier pelindung bersama-sama. Meridia terperangah melihat apa yang tersaji di depan mata. Itu bukan lagi danau melainkan halaman belakang mansion Emerald “Kita sudah sampai.”


Sulit untuk menutup mulut saat sedang takjub dengan sesuatu. Meridia mengangguk seperti orang bodoh “Terima kasih.”


“Kalau begitu, saya akan kembali sekarang.” tutur kata Hugo menjadi lebih halus.


Meridia masuk lewat pintu belakang. Kebetulan saat itu Samuel masih ada di gudang belakang sedang membereskan semua peralatan kebun sebelum pulang ke rumahnya. Pria paruh baya itu membantunya masuk tanpa ketahuan pelayan lain.


Meridia tidak tahu kalau Ziel sudah melihatnya lewat jendela di lorong tetapi ia sengaja membiarkan Meridia dan tidak langsung menemuinya. Terbesit perasaan bersalah dalam hatinya saat melihat gadis yang selalu diabaikan itu. Meridia terlalu banyak disiksa secara mental.


Pria yang merupakan kepala keluarga Emerald itu menghela nafas gusar, lalu bergumam “Aku tidak tahu harus bagaimana menyikapi gadis itu.”