
Pesta berjalan dengan cukup lancar walau ketegangan berhasil menguasai aula— ah, mungkin pesta ini tidak terhitung sukses untuk Ziel sekeluarga yang mana namanya menjadi tercoreng.
Pesta kedewasaan Marigold tak bisa dianggap sukses lantaran seusai menyatakan resminya dia masuk ke dunia sosial bangsawan, namanya dan juga keluarganya langsung cacat. Walau sudah berusaha meluruskan kekeliruan, tidak semua kecurigaan dalam hati tiap insan yang hadir ikut sirna setelahnya.
Bagaimana tidak, usaha Ziel menjelaskan kebenaran versi dirinya tidak menghasilkan apa-apa selain kecurigaan yang bertambah. Ada banyak bangsawan yang kenal dengan wanita yang bekerja sebagai tabib bersalin itu sehingga bukan hal yang mustahil jika wanita itu mengetahui rahasia beberapa keluarga bangsawan.
Sayangnya sudah satu tahun terakhir wanita itu tak terlihat lagi di Norfolk dan tidak ada yang mengetahui keberadaannya. Walau begitu sebagian orang tetap percaya dengan apa yang diinformasikan oleh Veronica. Ziel tidak dapat meminta pertanggungjawaban.
Pagi ini Ziel tidak bersemangat menjalani hari. Sejak semalam dia terus diliputi rasa cemas dan gelisah. Masalah apa lagi yang akan ia hadapi? Kapan kesialan itu akan datang? Bagaimana aku bisa mengatasi setiap masalah yang terjadi? Pertanyaan-pertanyaan itu memenuhi sampai ke tulang tengkoraknya.
Tangannya sudah terbiasa bergerak menggores tinta di atas kertas jadi dia bisa terus menulis laporan meski pikirannya tidak ada di sana. Tidak hanya memenuhi meja, tumpukan buku dan dokumen salinan lain sudah merata-rata di lantai. Sebentar lagi Raja akan mengadakan rapat gabungan sehingga dia harus mempersiapkan semua laporan dengan baik.
Johnson, butler pribadi Ziel membawakan secangkir teh hangat ke kantor agar majikannya itu merasa lebih tenang. “Yang Mulia, saya membawakan teh untuk Anda.” dengan penuh kehati-hatian Johnson meletakkannya di paling pojok meja kerja.
“Terima kasih Johnson.” Ziel tak mengalihkan pandangannya dari kertas di tangannya, dia menyibukkan diri untuk melupakan apa yang terjadi semalam.
Dua puluh menit Ziel terus berkutat dengan pekerjaannya. Pikirannya sedikit terhibur dengan mengerjakan laporan pengelolaan daerah di bawah pengawasannya. Memusingkan mendata dana dan pengawasan perkembangan daerah, tetapi selagi bisa membuatnya melupakan masalah dengan Meridia maka Ziel sanggup mengerjakannya hingga larut malam.
Bunyi ketukan pintu empat kali membuyarkan konsentrasi yang sulit ia bangun. “Sayang, aku masuk ya?” Ziel mendongak melihat sang istri tercinta telah memakai gaun yang lebih mewah dari biasanya “Kau mau pergi?”
“Iya, aku diundang ke pembukaan butik baru milik Baroness Vista.” Zoya tersenyum kepada Ziel “Jaga dirimu baik-baik, aku akan segera pulang setelah acara itu selesai.”
Sejujurnya Zoya merasa malu, tak ada lagi kepercayaan diri untuk mengangkat wajah tinggi-tinggi. Tetapi setelah tahu dia masih harus menampung Meridia si penyebab masalah di rumahnya, hal itu membuatnya muak dan ingin mencari hiburan di luar.
Melihat senyuman istrinya membuat stress Ziel sedikit berkurang, tidak sengaja tumpukan kertas yang ia geser juga menggeser ujung buku dan akhirnya menjatuhkan gelas teh itu ke lantai. “Astaga!” beberapa lembar dokumen salinan basah kuyup hingga tintanya ikut luntur.
Johnson segera mengambil gelas tersebut dan merapikannya “Yang Mulia, Anda tidak apa-apa?” tanya Johnson cemas. Tangannya dengan telaten memungut serpihan kaca. “Saya akan segera menggantinya dengan baru.”
“Ya, terima kasih.” Ziel menghela nafas gusar. Pagi ini dia sudah membuat lebih dari lima kali kesalahan saat membuat laporan, menjatuhkan gelas, setelahnya apa lagi? Memikirkannya membuat Ziel seakan ingin menyudahi semuanya.
Johnson keluar dari ruang kerja untuk meminta pelayan membereskan sisa pecahan beling dan membuat teh yang baru. Ketika dia hendak beranjak pergi, terdengar bunyi ketukan yang berasal dari pintu utama.
Johnson mengernyit bingung. Ziel tidak menyampaikan padanya untuk menyambut tamu. Malahan, Ziel berpesan untuk tidak menerima siapapun yang datang.
“Ada tamu kah?” gumamnya seraya mendekat ke pintu lalu membukanya. Awalnya dia bingung, seseorang yang belum pernah ia lihat sama sekali berdiri di depan pintu dan berpakaian rapi layaknya seorang bangsawan berkasta lebih tinggi dari Ziel “Maaf, boleh saya tahu siapa Anda?” tanya butler itu bingung.
Pemuda berwajah maskulin itu tersenyum tipis “Aku Lucien Clein Navarro. Aku datang kesini ingin menemui Marquess Emerald.” jawabnya cepat. Johnson merasa ragu ingin menerima langsung tanpa memberitahu sang empunya rumah terlebih dahulu “Apakah Anda sudah membuat janji temu dengan Yang Mulia Ziel sebelumnya?”
“Tidak. Aku tidak akan lama disini, aku hanya perlu bicara sebentar saja dan semuanya akan segera selesai.”
Seketika Johnson menyesali keputusannya untuk membuka pintu. Lucien langsung menyelonong masuk ke dalam tanpa menunggu jawaban dari Johnson yang mana jelas-jelas itu tindakan kasar atau secara halusnya sikap itu tidak sopan “Aku akan menunggu dia datang ke ruang tamu.” pungkasnya.
Lucien berlagak seperti salah satu anggota keluarga Emerald. Dia seakan tahu betul semua letak-letak ruangan di dalam rumah itu, dia tak perlu meminta tuntunan. Lucien tahu di mana letak ruang tamu mansion Emerald.
Aneh? ya itu juga yang Butler tua itu rasakan. Johnson sendiri masih berdiri mematung di depan pintu, dia terkejut mendapat tamu yang tidak tahu tata krama.
“Siapa sebenarnya dia? Aku seperti tidak asing mendengar namanya.”
Johnson tidak mengira Lucien bahkan memasuki ruangan yang benar. Dia sungguh tahu di mana ruang tamu berada. Lantas pria yang sudah berkepala enam itu terkesiap “Dia adalah Duke muda yang terkenal itu?! Ada urusan apa dia tiba-tiba muncul di sini? Ini benar-benar sebuah keajaiban.”
Pemuda yang jarang muncul ke permukaan mendadak hadir di kediaman Emerald bahkan tanpa pemberitahuan sebelumnya. Johnson segera menyusul Lucien ke ruang tamu untuk meminta maaf.
“Maaf atas ketidaksopanan saya, Yang Mulia Duke Navarro. Saya ingin menyampaikan bahwa saat ini Marquess sedang sibuk jadi beliau tidak dapat menemui Anda.”
Aura yang dikeluarkan Lucien luar biasa besar. Johnson merasa dia lebih takut dan lebih hormat kepadanya daripada yang ia rasakan untuk majikannya sendiri.
Iris crimson Lucien tertuju pada butler pribadi Ziel, ia mengangkat sebelah alisnya dan memandang Johnson yang gemetaran dengan sorot mata tajamnya, Lucien pun berkata “Panggil dia kemari.”
“B-baik, Yang Mulia.”
Hendak melawan dan terus memberi alasan pun Johnson tak berani. Bukan karena kedudukan Lucien lebih tinggi daripada tuannya. Ada sesuatu yang membuatnya berat untuk menolak, jika menolak mungkin dia akan kehilangan kepalanya.
Johnson berlari kecil masuk kembali menuju ke kantor Ziel dan saat itu Marigold yang tengah menuruni tangga keherenan melihat Johnson tampak terburu-buru, wajahnya bberubah menjadi pucat pasi “Ada apa dengan dia?” tanya Marigold pada angin yang berlalu.
Gadis berparas cantik pemilik kekuatan pemurnian itu penasaran dari mana arah Johnson berlari “Asalnya dari ruang tamu. Memangnya ada apa?”. Pada awalnya Marigold berniat mencari Meridia, tetapi ia urungkan karena melihat sesuatu yang lebih menarik.
Marigold menuju ke ruang tamu begitu Johnson masuk ke dalam ruang kerja ayahnya, ia bergumam “Aku ingin melihat siapa yang datang.”
“Yang Mulia, Anda memiliki tamu yang sedang menunggu di ruang tamu,” butler pribadi Ziel itu berdiri di depan pintu dengan keringat dingin diwajahnya.
Ziel yang sedang merekap pengeluaran bulanan menghentikan kegiatannya dan menatap Johnson sedikit kesal “Kemarin aku sudah berpesan padamu, aku tidak akan menerima tamu hari ini.”
Ziel dengan kemampuan analisanya yang cukup baik langsung tahu bahwa Johnson sedang dihadapkan dengan keadaan yang sulit untuknya memutuskan sesuatu “Siapa yang datang bertamu?”
“Itu adalah Duke Muda Navarro, Yang Mulia. Dia datang berkunjung dan secara langsung ingin bicara dengan Anda.”
Seperti rumor yang telah menyebarluas, Lucien hampir tidak pernah menampakkan diri di kalangan bangsawan bahkan ia hanya sesekali terlihat di istana saja. Wajar jika Ziel merasa keheranan atas kedatangan orang tak terduga seperti dirinya itu. Terlebih dia secara langsung mengatakan bahwa dia datang untuk bicara dengannya.
Di saat yang bersamaan, Marigold datang ke ruang tamu karena penasaran setelah melihat Johnson keluar dari sana dengan tergesa-gesa “Memangnya ada siapa? kalau itu Arden, aku rasa dia tidak akan panik seperti itu.” gumam Marigold seraya mengintip dari balik dinding dekat pintu.
Kepalanya menjulur mengintip dari pintu yang terbuka. Segera setelah itu kedua iris sapphire-nya membulat ketika melihat sosok yang sangat rupawan duduk dengan tenang di sana. Pose duduknya yang baik membuat dia terlihat seperti patung pahatan seorang master.
Gadis itu terkesima akan pesona keren nan dingin yang dipancarkan oleh sosok misterius Lucien. Pemuda itu duduk tegap dengan kedua tangan yang terlipat di depan dada.
“Dia tampan sekali!” Marigold menutupi mulutnya sendiri agar tak kelepasan bersuara, dia merasa sangat gemas melihat lelaki berwajah mungil itu.
Marigold terkesiap ketika Lucien mendaratkan pandangan kepada dirinya “Astaga!” kembaran Meridia itu mati kutu saat tatapan mereka bertemu.
Pemuda dengan julukan Young Duke itu menyapa Marigold menggunakan senyuman hingga kedua matanya menyipit, ia lantas mengangguk kecil untuk menambah kesan ramah.
“Seseorang tolong pegangi aku! aku nyaris pingsan!” batin Marigold histeris.
Gadis itu sedikit menata rambut lalu masuk ke dalam ruang tamu dengan langkah yang anggun namun tetap menampilkan sisi ceria nan ramah dari dirinya “Selamat siang, Yang Mulia.” sapa Marigold dengan lembut seakan ingin menonjolkan sisi seorang Saintess yang mengasihi semua orang.
Lucien kembali membalas dengan sebuah anggukan kecil disertai senyum simpul. Marigold duduk di sofa yang berhadapan dengan kursi yang diduduki oleh Lucien. “Apakah Anda ingin bertemu dengan ayah saya?” tanya Marigold dengan sopan.
Lucien menyeringai tipis “Bagaimana kalau aku bilang ingin menemuimu?”
Marigold tersentak “Maaf?” gadis itu semakin berdebar-debar ketika melihat seringaian Lucien yang terkesan seksi dimatanya “Saya belum mengenal Anda sebelumnya.” Marigold menyalurkan kegugupannya lewat meremas roknya.
Pemuda berkulit sepucat mayat itu sungguh bisa membuat siapa saja grogi hanya dengan tatapan saja. Marigold merasa wajahnya sudah memanas. Darahnya mendidih.
Lucien berdiri dari tempat duduknya “Aku bercanda,” dia memalingkan wajah ke arah pintu menyambut pria yang merupakan kepala keluarga Emerald di ruang tamu “Selamat siang, Marquess Emerald.” sapanya.
Ziel tersenyum heran dalam artian tidak menyambut tamu dengan baik “Saya tidak menduga bahwa seorang Duke muda yang sudah lama memilih tetap diam dalam persembunyian tiba-tiba datang ke rumah saya.” Ziel menunjukkan perasaan tak suka dengan kedatangan Lucien yang mendadak dan baginya pemuda itu sama sekali tak sopan.
Lucien tak menanggapi, dia tetap memasang senyum palsu “Bisakah kita membicarakan sesuatu yang serius ditempat lain? Aku hanya punya waktu sebentar di sini.”
Siapa yang tidak heran dengan sikap seorang tamu yang malah lebih datar dan lebih memerintah dari si tuan rumah? Itu pula yang dirasakan Ziel. Dahinya berkerut dalam, kedua alisnya sampai menyatu.
Ziel mendengus pelan “Saya tidak bilang saya akan menerima Anda di rumah ini,” dia menatap datar Lucien namun ia menggunakan nada yang menggambarkan sepenuhnya rasa ketidaksukaannya kepada si tamu tak diundang itu.
“Kenapa kita tidak segera menyelesaikan ini, Marquess? aku bilang aku ingin membicarakan sesuatu denganmu dan aku akan segera pergi.” kata Lucien dengan penuh penekanan. “Kau sendirilah yang menahanku lebih lama berada di rumah ini.” lanjutnya.
Marigold, Johnson, dan Blair kebingungan kala Ziel tak segera menjawab, terdapat jeda yang tidak biasanya Ziel lakukan. Selanjutnya Ziel memberikan jalan dan mempersilakan Lucien masuk lebih jauh ke dalam mansion atau lebih tepatnya menuju ke ruang kerja.
Lucien menepuk bahu Ziel “Baik, terima kasih atas kerjasamanya, Marquess.”
Mereka berdua pun masuk ke dalam ruang kerja milik Ziel. Mata Lucien menyapu seluruh ruangan yang sedang bersuasana seperti kapal pecah itu.
Tanpa menunggu dipersilakan, lelaki berkulit putih pucat bak zombie dengan rahang tajam menawan itu langsung duduk manis di sofa yang tersedia, menunggu Ziel ikut duduk di sana bersamanya.
Tepat setelah Lucien duduk, Ziel mengedipkan matanya beberapa kali dengan cepat. Ia keheranan melihat dirinya sudah berada di kantor, ia menoleh kesana-kemari “Kenapa aku ada disini?” lirihnya. Dia melirik Lucien yang sudah duduk seenaknya di sofa “Mengapa Anda ada disini?”
Sebelah alis Lucien terangkat “Kau sendiri yang menyuruhku masuk.”
“Benarkah?” Ziel menggelengkan kepalanya, ia tak mau ambil pusing dan ikut duduk di sofa yang berhadapan dengan Lucien, menatap pemuda itu penuh curiga “Apa yang sebenarnya Anda ingin bicarakan mendadak begini?”
Marigold, Johnson, dan satu maid pribadi Marigold mengintip dari balik pintu yang tidak tertutup rapat. Gadis berambut keemas an itu sangat penasaran dengan kedatangan Duke tampan misterius yang tak ia kenali ke rumah tanpa membuat janji temu terlebih dahulu.
“Sepenting apa urusannya?” tanya Marigold dalam hati.
“Tujuanku ke sini hanya satu. Aku ingin menikahi putrimu.”
Semua orang membeliak sangking terkejutnya dengan jawaban yang diberikan oleh Lucien, terlebih itu diucapkan tanpa sungkan dan tanpa ada beban sama sekali. Ekspresinya yang santai dan nada serius itu membuat Ziel tak habis pikir dari mana dia bisa mendapatkan keberanian itu.
Nada bicara Lucien seperti bukan meminta baik-baik tetapi justru seperti memalak atau secara gamblangnya seperti sedang memaksa Ziel untuk menuruti kemauannya.
Seperti yang orang-orang lain ketahui, semalam pesta kedewasaan Marigold baru saja selesai digelar yang artinya Marigold sudah memasuki usia dewasa dan pantas untuk menjalin hubungan dengan seorang pemuda. Hal yang wajar jika banyak surat lamaran mulai berdatangan.
Satu hal lagi, orang-orang pada umumnya tahu Ziel hanya memiliki satu putri di mata umum yang mana dapat diartikan bahwa Marigold lah yang dimaksudkan oleh Lucien.
Wajah Marigold tak bisa berbohong. Dirinya tersipu malu karena merasa yang disebut itu adalah dirinya, ditambah melihat keberanian Lucien dalam meminta seperti benar-benar seorang pemberani. Mengesampingkan fakta bahwa tindakan Lucien sangat lancang dan tidak sopan.
Marigold menangkup pipinya dengan kedua telapak tangan, mencoba menyadarkan diri sendiri. Dia sudah memiliki Arden yang akan jadi calon tunangannya walau sebenarnya Marigold tak merasa keberatan menerima orang lain yang ketampanannya sebanding dengan Arden.
Poin lebihnya, Lucien dengan lugas dan berani langsung memberitahu sang ayah maksud tujuannya. Marigold memang belum mengenal Lucien, tetapi dia tidak bisa menolak jika ada pemuda tampan berstatus tinggi ingin menikahinya. Bayangan akan pernikahan mereka berdua membuat Marigold tak bisa berpikir jernih.
“Bagaimana ini? aku tidak mungkin menyakiti Arden,” batin Marigold bimbang. Ia menatap Lucien dengan penuh kekaguman dimatanya “Dia sangat pemberani, bagaimana ini? kenapa jantungku seperti mau meledak begini?”