TRAPPED BY THE SECOND MALE LEAD

TRAPPED BY THE SECOND MALE LEAD
CHAPTER 14



Meridia tidak menyangka harapan yang diimpikan selama ini akan terkabul dengan mudahnya dalam semalam.


Tidak hanya satu hal saja yang membuatnya heran. Seketika semua orang bersikap ramah kepada Meridia. Itu tidak mengejutkan kalau Marigold yang tetap ramah walau pura-pura padanya, tetapi sekarang semua orang seperti mengikuti kebiasaan kembarannya itu. Ada apa gerangan dengan mereka semua?


Meridia memang sesekali berharap dia diperlakukan selayaknya mereka memperlakukan Marigold. Tetapi diluar dugaan, Meridia justru tidak bisa terbiasa melihatnya. Ada rasa yang berbeda, semua kelihatan tidak sungguh-sungguh menerimanya.


Marigold sampai mengajaknya untuk bersiap bersama, mulai dari mandi, memakai masker, memilih wewangian, dan berdandan. Meridia tidak dapat menolak karena pelayan-pelayan yang biasanya menjahilinya sekarang bersikeras membantunya menjadi secantik mungkin.


"Apa niatmu yang sebenarnya?" Meridia merasa lelah dengan tingkah mereka. Marigold tersenyum sembari menepuk bahu licin Meridia "Ternyata kau masih belum tahu? Ayah akan mengadakan pesta kedewasaan kita besok. Mulai dari sekarang kita harus bersiap supaya besok kita bisa tampil dengan baik."


"Marquess tidak mungkin melakukan hal gila ini."


"Daripada kau pikirkan itu, mengapa kita tidak bersantai saja? kulitmu akan mudah keriput jika kau terus menekuk wajahmu begitu."


Selama sehari penuh Meridia merasa diperlakukan seperti seorang putri raja yang amat dicintai pengikutnya. Meridia bahkan diajak untuk makan bersama dengan ayah dan ibunya. Terlepas dari sikap Zoya yang menunjukkan bahwa dia masih tidak menerimanya betul-betul, semua sudah berubah.


Namun Meridia bukannya tidak mengerti apa alasan dibalik perubahan sikap mereka terhadapnya. Meridia tidak melupakan sumpahnya yang terucap secara sadar saat amarahnya memuncak mendengar omong kosong Ziel.


Sebesar apapun usaha mereka membujuk, Meridia tidak tahu cara menarik kembali ucapannya agar tak terjadi. Kalaupun dia tahu, Meridia tak ingin memutus kutukan itu. setelah sadar akan hal tersebut, Meridia sama sekali tidak senang dengan seluruh kebaikan orang lain kepadanya. Apalah nikmatnya menerima kebaikan tanpa ketulusan di dalamnya.


Meridia mendapat sebuah firasat bahwa akan ada kerusuhan yang terjadi yang akan membuat pesta itu jadi tidak menyenangkan baik untuk dirinya maupun untuk keluarga Emerald.


Marigold juga telah mengatakan bahwa Meridia akan diperkenalkan sebagai kerabat keluarga Emerald. Tidak mengherankan, untuk apa demi membujuk Meridia sampai Ziel harus menunjukkan ke publik bahwa dia saudari kandung Marigold?


"Aku sudah menyiapkan gaun untukmu. Sudah lama aku membelinya untuk berjaga-jaga dan sengaja ku siapkan untukmu." Marigold bukanlah seseorang yang mudah untuk dikalahkan pesonanya. Untuk membuatnya semakin bersinar, Marigold membutuhkan Meridia sebagai batu loncatan. Perasaan Meridia saat itu sudah memberitahunya bahwa gaun pilihan Marigold tidak lebih baik dari gaun harian yang dipakai oleh kakak kembarnya itu.


"Terima kasih."


Hari diadakannya pesta pun telah tiba. Biasanya Meridia hanya akan sibuk di dapur mempersiapkan peralatan makan tanpa bisa ke aula. Sekarang justru dia berdiri berdampingan dengan Marigold sambil memperhatikan semua dekorasi pesta yang sudah setengahnya selesai.


Ini pesta untukku juga, tapi aku tidak merasa senang.


"Bagaimana? kau suka? Ayah menyiapkannya dengan sangat mewah untuk kita berdua." Ujar Marigold antusias. Gadis bermahkota emas itu melirihkan suaranya agar hanya dapat didengar oleh Meridia, "Kau harusnya bersyukur karena bisa menikmati pesta seperti ini sekali seumur hidup."


"Yang Mulia, saatnya kalian berdua untuk bersiap-siap."


Meridia terpaksa harus ikut dan baru detik itu juga ia ditunjukkan oleh Marigold gaun yang akan dia pakai di pesta debutnya malam ini. Meridia melongo melihatnya "Gaun hitam ini sangat elegan, aku memilihkannya untukmu karena aku yakin ini akan sangat cocok padamu."


"Tidakkah kau rasa gaun itu terlalu terbuka?"


Gaun hitam itu memang elegan, tetapi hanya sopan jika dipakai wanita dewasa. Sobekan pada rok gaun tersebut cukup tinggi di atas lutut. Bagi gadis yang baru memasuki usia dewasa rasanya kurang pantas langsung memakai gaun terbuka di pesta debut atau kedewasaannya. Itu seakan menggambarkan sifat Meridia yang 'berani'.


"Tenang saja. Tidak akan ada yang berani berkomentar buruk padamu. Ada aku. Aku akan melindungimu." Lagi-lagi bualan yang sama.


Warna hitam tidak begitu digemari oleh para gadis muda karena warna tersebut seperti warna kemalangan serta menambah usia mereka jadi lebih tua dari seharusnya.


Marigold ingin Meridia terlihat lebih tua darinya agar dia lebih bersinar dan tidak ada seorangpun yang sadar bahwa mereka kembar. Marigold secara diam-diam meminta penata rias untuk membuat dandanan Meridia lebih tebal dari yang seharusnya pula.


Mereka tidak berada di ruang yang sama ketika bersiap. Hal itu dilakukan agar ruangan tidak terasa sempit dan pengap sebab ada beberapa orang selain penata rias yang membantu mereka mempersiapkan diri sebagai bintangnya acara kali ini.


"Maaf, Madam. Apakah aku bisa meminta topeng?"


"Ya? ah ya, saya tidak keberatan dengan itu, tetapi riasan Anda sudah sempurna. Mengapa Anda perlu menutupinya?"


"Aku orang yang sangat pemalu jadi aku menghindari menjadi sorotan. Terlebih lagi, bintang utamanya adalah putri Marquess Ziel, aku hanya menumpang jadi aku tidak mau ikut mencolok."


Selepas selesai berdandan, Marigold keluar dari kamarnya untuk menemui kedua orang tuanya. Sampai di sana Marigold langsung dicerca banyak pertanyaan terkait suasana hati adik kembarnya.


"Aku masih belum tahu apa dia sudah mencabut kutukannya atau belum. Kutukannya bukanlah sesuatu yang bisa ku murnikan." Marigold tidak mau mengakuinya, tetapi dia sampai sekarang tidak mengerti cara mengatasi kemampuan Meridia. Seharusnya kekuatan mereka saling melengkapi.


"Ayah dan ibu tidak perlu cemas, aku yakin Meridia bukan anak yang jahat sampai mau keluarganya kesulitan."


Zoya menggigit kuku jarinya "Aku tidak tahan harus berdekatan dengannya. Aku bahkan tidak bisa tersenyum di depannya setelah dia begitu menyusahkan kita dan tidak pernah membiarkan kita tenang." Ziel menghela nafas, tangannya mengelus punggung istrinya "Dia masih belum mengerti dengan kebaikan kita yang tiba-tiba."


"Sampai kapan kita harus seperti ini?"


"Ibu, jangan terlalu cemas begitu. Nanti aku akan meminta Meridia untuk membatalkan kutukan itu."


Aula Marquess, sekali lagi di bulan yang sama, dipenuhi puluhan keluarga bangsawan yang mendapat surat undangan. Tidak seperti waktu lalu, kali ini hadirin yang datang lebih banyak anak seusia Marigold.


Ya, tidak aneh sebab usianya malam ini menjadi terhitung dewasa yang mana menjadi ajang pengenalan dengan lawan jenis. Jika beruntung mungkin akan ada pasangan yang maju ke pelaminan secepatnya.


Mereka ramai membicarakan akankah Marigold berhasil menjadi pasangan Arden lagi mengingat kali ini pun putra William Palmieri hadir pula untuk memeriahkan pesta malam ini. Jika Arden dan Marigold kembali berpasangan, gosip akan semakin kencang berhembus di setiap penjuru kota.


"Arden?" merasa dipanggil seseorang, dia pun menengok ke sumber suara dan meletakkan kembali gelas jus nya ke meja. Matanya melebar, garis bibirnya terangkat naik "Victor? Kau juga ada di sini?"


Victor adalah putra dari Count Vounstein de Clealpina. Dulunya mereka teman satu kelas dalam akademi, tetapi Victor tidak menyelesaikan pendidikannya di sana dan memilih berlatih khusus dengan obat-obatan di kotanya sendiri, di Norfolk. Meski begitu, mereka tetap berteman baik.


Arden tidak menyangka bisa bertemu lagi dengan teman lamanya di pesta ini. Dia pun mengesampingkan tujuannya untuk mencari Meridia karena dia sangat senang bisa mengobrol dan berbagi cerita dengan Victor.


Megahnya gaun Marigold sangat membantu penampilannya yang sejak awal sudah sempurna menjadi semakin berkilau menyaingi bintangnya dunia. Rambut panjangnya di urai rapi, di puncak kepalanya tersemat tiara (mahkota kecil yang bentuknya lebih sederhana) berbalut permata putih menjadi kunci image ke-dewi-annya malam ini.


Keelokannya tak terelakkan. Tidak hanya pria, para wanita pun terkesima sekaligus iri dengan wujudnya.


Meridia menatap keluarga bahagia itu dari balik tiang aula "Untung saja aku memilih untuk tidak muncul bersama mereka." Meridia sudah masuk ke aula saat semua orang sibuk berkumpul dengan teman satu kalangannya dan tidak ada yang fokus pada orang yang sekadar melintas.


"Malam ini merupakan upacara kedewasaan bagi putri kami, Marigold Emerald. Terima kasih kepada para hadirin sekalian yang meluangkan waktu hanya untuk meramaikan perayaan putriku."


Victor menyenggol lengan Arden "Lihat. Calon masa depanmu sudah datang. Tidakkah kau ingin segera menemuinya? Aku akan menunggu di sini sampai kau selesai," godanya. Akan tetapi itu tak membuat Arden senang.


"Aku akan tetap di sini sampai mereka selesai dengan urusan mereka sendiri. Kita berdua bisa memberi ucapan selamat bersama." Victor meletakkan gelas jus nya dan menepuk bahu Arden "Ada apa? apa kalian berdua habis bertengkar?" bisiknya. Kali ini dia tidak menggoda.


Wajar saja Victor beranggapan begitu sebab dia percaya dengan rumor yang menyebar bahwa Marigold dan Arden adalah sepasang kekasih yang sangat cocok. Bukan sembarang percaya, saat Arden menemani Marigold berjalan-jalan di pasar Victor juga sempat melihatnya.


Saat itu, Victor membeli semua tanaman dan akar herbal untuk menguji ramuan baru yang dia pelajari di kelas sebelumnya. Tidak sengaja dia melihat Arden, Victor pikir awalnya dia sendirian namun tiba-tiba Marigold muncul dan mereka pun pergi.


"Tidak. Maksudku tidak ada hubungan yang spesial di antara kami berdua. Kami hanya baru berteman saat ulangtahun Marchioness saja." terdengar nada kesal keluar dari mulut Arden. Tampaknya dia lelah mendengar desas-desus hubungannya sendiri.


"Oh begitukah? Aku pikir alasan kau sering datang ke sini karena itu."


"Tidak."


Sementara Meridia duduk di sofa pojok ruangan untuk menghindari kerumunan ramai yang bisa jadi akan ada yang menanyakan statusnya. Ketika sebagian besar tamu berkerumun melihat secara dekat keluarga Emerald, Meridia malah asyik mencoba meminum wine yang sengaja disediakan bagi orang-orang dewasa.


Hidungnya berkerut, lidahnya malah terasa aneh, ada rasa pahit yang benar-benar bukan seleranya. Meridia melirik kesana-kemari lalu meletakkan kembali gelas itu ke deretan gelas lain "Aku heran kenapa ada yang suka minuman dengan rasa seperti sari buah busuk itu."


Meridia berniat kembali ke sofa tempatnya duduk kalau saja Arden dan Victor tidak berjalan ke arah yang sama. Walau dirinya berpenampilan sangat berbanding terbalik, Meridia tetap cemas.


Dia merubah haluan dan berusaha menghindar sampai karena fokus hanya pada satu objek, dia tak sadar menabrak seorang wanita anggun berbalut gaun maroon beludru yang modelnya mempertontonkan bahu cantik dan kaki jenjangnya. Wujud wanita itu sungguh sempurna.


"Maafkan saya," ujar Meridia gugup.


"Tidak apa-apa. Berhati-hatilah."


Meridia tersipu melihat senyuman wanita tersebut. Meridia menjauh untuk menghindari Arden, tetapi telinganya sempat mendengar seseorang memanggil nama wanita yang tak sengaja ia tabrak tadi "Jadi Namanya Veronica?"


Jika didengar dari panggilan yang diberikan, nampaknya dia bukan berasal dari kalangan bangsawan namun terpandang dan berkelas tinggi pula. Dalam dunia ini, Pendidikan dan kekayaan yang menjadi tolak ukur pada penerapan sistem kastanya.


Apabila dia bukan bangsawan namun berpendidikan tinggi atau kekayaan yang dimiliki besar, maka secara otomatis dia akan dianggap salah satu golongan orang berstatus tinggi di masyarakatnya.


Meridia menyatu dalam keramaian lagi dan bersembunyi dengan baik. Sesekali matanya melirik balkon mengintip "jika tidak ada orang lebih baik aku pergi ke sana."


Veronica, wanita itu mampu menyihir mata para pria hanya dengan sekali lirik. Dia berjalan berdua bersama teman dekatnya lalu memberi selamat kepada Marigold dan keluarganya.


"Veronica, aku dengar kau tidak mendapat undangan kemari. Bagaimana kau bisa masuk?"


"Aku menggantikan Madam Hinelda. Dia tidak bisa hadir karena urusan pekerjaan, jadi dia memberikan undangannya padaku." Jawab Veronica santai.


Veronica tersenyum kala temannya mengatakan bahwa ia orang yang sangat sibuk sampai jarang datang ke acara-acara seperti ini tetapi mala mini dia datang seperti kejutan "Apa yang membuat hatimu tergerak untuk datang kemari?"


Veronica tidak langsung menjawab dan malah menyunggingkan seringai yang berhasil memancing keingintahuan temannya tersebut "Ada apa? kenapa kau tersenyum begitu?"


"Aku ke sini karena ingin melihat sesuatu yang luar biasa. Kalau kau tahu mungkin ini akan menggemparkan satu kota."


"Benarkah? gosip apa yang kau dengar?" tanyanya antusias.


"Ayo kita ambil minum dulu. Tenggorokanku akan kering sebelum aku sempat menceritakan semuanya kepadamu."


Veronica sengaja mencari meja yang lebih banyak orang di sana. Ia pun mengambil wine kualitas terbaik itu lalu menenggaknya seperti meminum air mineral biasa "Tidak buruk, tapi di tempatku rasanya lebih kuat." Komentarnya.


"Hei, Veronica. Ayo cepat ceritakan apa gosip yang kau dengar itu? apa itu tentang keluarga Marquess?"


"Kau benar."


Veronica berdehem lalu sedikit menaikkan volume suaranya "Aku dengar Marquess sebenarnya punya dua putri."


Semua orang di dekat meja yang mendengar ucapan Veronica terkejut. Bahkan mereka sampai mendelik ke arah Veronica sangking tidak percayanya.


"K-Kau bercanda?"


"Tidak. Kau pikir aku datang kemari untuk apa? Itulah alasanku datang ke pesta ini untuk melihat apakah dia akan merayakan pesta kedewasaan untuk kedua putrinya atau hanya untuk Saintess yang kita kenal saja."


Aula menjadi gaduh. Mereka tidak lagi fokus pada Marigold melainkan pada gosip yang disebarkan oleh Veronica "Kau dengar itu dari mana? Bisa saja itu hanya fitnah belaka."


"Aku pernah dengar dari seorang wanita tua yang katanya pernah bekerja di sini. Kau mau tahu kelanjutannya?"