
"Lady, bukankah Yang Mulia Lucien sudah meminta Anda untuk datang saat beliau sudah membalas surat?" Hugo terpaksa membawa Veronica keluar karena keberadaan wanita berpakaian seksi itu sudah diketahui oleh Meridia.
"Aku tidak sabar menunggunya. Dia selalu membelakangkan urusannya denganku. Aku muak menunggu." Belanya untuk diri sendiri, wanita itu melirik ke dalam ruangan "Lucien tidak memberitahuku kalau dia sudah membawanya ke sini. Jadi bukan salahku kalau dia melihatku."
Hugo yang telah mendapat pesan dari Lucien mengenai menjaga wanita itu agar tidak sampai dilihat Meridia justru sudah gagal sebelum dia mencoba. Dia menarik nafas dalam, "Saya yakin Yang Mulia berniat memberitahu nanti. Bisakah Anda kembali dulu sekarang? Yang Mulia Lucien tidak akan mengampuni kami kalau Anda mendekati Lady Meri—"
Meridia terus memandang wajah Veronica. Sekarang ia yakin bahwa wanita itu yang ia tidak sengaja tabrak saat berada di dalam pesta.
"Kenapa kau menyuruh tamu pulang begitu saja? bukankah itu perilaku yang kurang sopan?" Entah sejak kapan Meridia sudah berdiri di depan pintu, mengamati Veronica dan Hugo bicara sambil berbisik seolah sedang membahas suatu yang amat rahasia.
Hugo melirik rekan sesama Ksatria yang ia minta untuk menghadang Meridia, "DYLAN."
"Aku sudah mencoba semampuku, tahu."
"Cepat bantu aku tangani ini atau kita akan kehilangan kepala sebentar lagi!"
"Dia sudah terlanjur melihat, bagaimana kita bisa mengatasinya sekarang?"
Hugo dan rekannya yang bernama Dylan itu saling membalas obrolan hanya dengan tatapan mata. Seolah mereka sudah sangat klop sehingga tidak mustahil bagi mereka mengetahui apa maksud masing-masing dengan hanya saling berpandangan.
Meridia tersenyum canggung, "Lady Veronica, jika kau tidak keberatan, bolehkah kita mengobrol di dalam? mungkin saja Young Duke akan segera pulang."
Wanita pemilik distrik hiburan (dunia malam) itu diam mengamati tiap jengkal wajah Meridia. Matanya menajam seiring lamanya dia memandangi wajah ayu nan kalem Meridia. "Baiklah, akan dengan senang hati ku terima."
Hugo dan Dylan tidak dapat berbuat apa-apa selain menerima Veronica. Meridia sendiri segera meminta tolong kepada Ximena menyediakan makanan ringan.
Hugo dan Dylan jadi harus mendampingi dia wanita itu selagi mereka berbincang. Meridia tidak tahu harus membicarakan apa terlebih dahulu sebagai pembukaan, dia ingin langsung mengajukan pertanyaan. "Apa Anda adalah teman dekat Duke Navarro?"
Ah, kenapa pertanyaan yang keluar malah ini? aku harap tidak ada yang salah paham padaku.
"Ya, itu benar. Kami cukup dekat, aku sering datang kemari untuk mengunjunginya." Veronica, wanita molek bertubuh bak gitar spanyol itu sudah terpancing untuk sedikit menjahili Meridia. "Tapi kau siapa? aku baru melihatmu di sini."
Ah, Meridia kehilangan kata-kata. Dia tidak bisa mencari jawaban yang tepat atas pertanyaan yang dilontarkan wanita cantik berkharisma itu. "S-saya teman baru, Duke Navarro."
Meridia mulai berpikir bahwa hubungan Veronica dan Lucien lebih dari pertemanan. "Teman baru? jadi kau belum tahu apa-apa tentang Lucien—"
"Ekhem!" Hugo mengode Veronica untuk tidak melanjutkan ucapannya lebih jauh. Masalah akan terjadi jika Veronica sampai menggiring opini yang membuat Meridia tidak nyaman.
"Anu, sebenarnya ada yang ingin saya tanyakan."
"Tanyakan saja."
"Apa benar Anda yang mengatakan bahwa Marquess Emerald memiliki putri lain selain Saintess?" Veronica terdiam untuk beberapa saat. Dia melirik Meridia lewat sudut matanya "Itu benar."
"Veronica."
Semua pandangan manusia yang berkumpul di ruang tamu mengarah ke pintu yang mana Lucien sudah berdiri di sana dengan mimik muka marah, "Apa yang kau lakukan di sini? sudah ku bilang untuk menunggu pesan dariku."
Lucien mengangkat dagunya, memberi isyarat pada Veronica untuk menyusulnya keluar dari ruang tamu. Veronica menyeringai melihat wajah kesal pemuda tampan itu. Wanita itu menatap Meridia "Maaf, Lady. Aku akan berbicara empat mata dengan Lucien sekarang. Selamat menikmati harimu."
Meridia ikut berdiri untuk memberi salam perpisahan. Gadis berambut sepanjang pinggang itu terheran-heran dengan situasinya sendiri, dia kemudian melempar tatapan pada Hugo dan Dylan.
Hugo sengaja secara terang-terangan menghindari tatapan Meridia sementara Dylan terus memasang cengiran kudanya, jelas sekali Dylan tidak sepintar itu untuk memahami situasi.
Kalau begitu bukannya aku yang pihak ketiga di sini? apa Lucien berselingkuh dari Lady Veronica yang secantik itu?
Meridia menggaruk pelipisnya "Aku akan kembali ke kamarku sekarang."
Hugo menyikut lengan Dylan agak keras "Ayo kita segera menyusul Yang Mulia."
Lucien mengajak Veronica berbicara di taman depan istananya. Pemuda itu sepintas kelihatan hendak mengumpat, tetapi dia segera menahan diri. "Sudah kubilang mulai sekarang jangan datang kemari seenaknya tanpa memberitahuku lebih dulu. Kenapa kau sangat bebal?"
Veronica memainkan ujung rambutnya dengan jari, "Aku bosan menunggu balasan suratmu. Kau tidak pernah mau menginjakkan kaki ke tempatku."
"Tidak. Tempatmu hanya dipenuhi sampah masyarakat, aku tidak sudi menghirup oksigen yang sama dengan mereka."
"Astaga, seperti biasa ucapanmu sangat tajam." Veronica tersenyum senang. Kelihatannya dia sudah sangat terbiasa dengan sikap dan perkataan yang keluar dari mulut Lucien. "Omong-omong, sejak kapan kau membawanya kemari? aku sungguh tidak tahu dia sudah ada di rumahmu." tanya Veronica penasaran.
Veronica yang membantu Lucien merusak ketenangan keluarga Emerald dengan menyebar berita bahwa Marigold memiliki kembaran yang tak diakui oleh keluarganya sendiri. Itu semua Veronica dengar dari Lucien dan pemuda itulah yang menyuruhnya menyebar gosip itu ditengah pesat kedewasaan Marigold.
Lucien hanya sebatas meminta pertolongannya, namun tidak memberitahu bahwa dia segera membawa Meridia pergi dan tinggal bersamanya. "Kau membuatku cemburu. Melihatmu menyimpan gadis lain rasanya aku akan kehilangan akal."
"Hentikan bualanmu itu. Jika dia sampai mengingatmu maka aku sendiri yang akan membunuhmu." Lucien mengenyit tak suka dengan kecerobohan yang dilakukan seorang Veronica, wanita hebat yang sangat bisa diandalkan.
Dua detik kemudian ekspresi Lucien berubah, ia menyunggingkan senyum tipis "Tapi terima kasih. Aku jadi dapat ide karenamu."
Veronica mengangkat sebelah alisnya "Memangnya apa yang sudah ku lakukan?"
"Pulanglah. Aku akan bicarakan rencana selanjutnya nanti. Aku masih punya banyak pekerjaan."
"Pekerjaan? setiap kali aku tidak mengatakan aku akan datang, kau selalu bersantai seperti seorang pensiunan."
"Jangan banyak omong."
Lucien memanggil tiga Ksatria nya untuk menghadap. Hugo, Dylan, dan Christ segera berbaris rapi dengan posisi tegap sempurna. "Aku tidak akan memberi toleransi apapun jika hal ini terjadi lagi. Jangan biarkan Meridia berinteraksi dengan orang luar. Selalu pasang mata kalian baik-baik."
"Baik, Yang Mulia."
"Belakangan ini sepertinya aku terlalu lembut pada kalian jadi kinerja kalian mulai menurun, iya 'kan?"
Hugo membungkuk dalam, meminta maaf dengan sungguh-sungguh pada sang majikan, "Mohon ampuni saya atas kecerobohan yang telah saya lakukan, Yang Mulia. Saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi."
Lucien diam tak membalas. Dia bersiap naik ke kereta kuda miliknya. Dylan yang penasaran tanpa malu atau sungkan langsung menanyakannya, "Yang Mulia, Anda mau pergi ke mana?"
"Aku akan pulang malam."
Hanya itu jawaban yang diperdengarkan Lucien sebelum dia benar-benar masuk ke dalam kereta.
Lucien akan mendatangi Marigold dengan status baru dan mengecek apa yang sudah terjadi pada Saintess itu selama dia memberikan kalung hadiahnya.
Tiga Ksatria yang dimiliki Lucien masih berdiri di depan pintu istana sambil memandangi kereta yang ditunggangi nya lenyap dari pandangan begitu menembus perisai tak kasat mata itu.
Meridia lantas memukuli kepalanya sendiri "Ayo coba ingatlah sesuatu! apa yang sebenarnya aku lalui ini?"
"Oh!" Meridia baru teringat akan mimpi mengerikan yang ia alami tepat setelah demam tinggi hingga dia pingsan dan Arden menolongnya.
Itu adalah mimpi di mana dia melihat seseorang yang sangat mirip dengan Lucien mencekiknya lalu berusaha membunuh Meridia dengan menusuk jantungnya lalu menenggelamkan tubuhnya di danau. Itu terjadi karena pengkhianatan yang Lucien tuduhkan padanya.
Sekarang Meridia merasa dia telah terjerat dalam dalam masalah baru.
Dylan, pemuda berambut kecoklatan dengan iris seiras dengan warna daun di musim gugur itu sedikit mengangkat wajah guna menatap Hugo yang lebih tinggi darinya, "Hei, apa kau tidak merasa kalau Yang Mulia sedikit berubah? maksudku, dia tidak pernah selembut ini. Dia yang biasanya tidak akan tanggung-tanggung menghukum kita jika kita membuat kesalahan sekecil apapun itu."
"Mungkin, aku juga tidak tahu pasti." jawab pria bertubuh paling kekar diantara dua teman lainnya itu.
Sama seperti mereka bertiga yang sering berinteraksi langsung dengan Lucien, Ximena juga merasakan perbedaan pada Lucien setelah Meridia datang ke istana Navarro. Dia sampai tidak bisa berkata-kata apa selain mengucap syukur karena tekanan yang ada istana berkurang pesat.
"Ayo kembali ke lapangan." ajak Hugo seraya membalikkan badan.
Hugo terperanjat kaget karena dia hampir saja menabrak Meridia yang entah sejak kapan berdiri dibelakang mereka, "Bagaimana Anda bisa tidak membuat suara sama sekali?" tanya Hugo keheranan.
"Kalian saja yang terlalu fokus membicarakan Duke." Meridia niatnya ingin terlihat lebih ramah dengan menunjukkan senyuman tetapi dia terlalu canggung dan alhasil wajah stoik nya yang muncul. Dia menatap datar tiga pemuda yang berdiri seperti benteng tinggi dan di hadapannya.
Dylan mendorong Hugo menyingkir dari depan Meridia "Ack!" tanpa melihat korbannya yang sedikit terhuyung, ia memandangi wajah ayu Meridia penuh antusias. Matanya berbinar senang, "Selamat siang, Duchess. Saya belum sempat memperkenalkan diri kepada Anda. Nama saya adalah Dylan, saya sangat senang bisa melihat Anda dari dekat seperti ini." Dilihat dari nada bicaranya saja Meridia tahu kalau Dylan tipe orang ceria dan berterus terang.
Satu pemuda paling pendiam berambut silver dengan netra biru laut itu maju selangkah lalu membungkuk hormat, dia ikut memperkenalkan diri dengan ramah meski minim ekspresi "Nama saya Christ, Yang Mulia."
Meridia membalas dengan membungkuk juga lalu menjawab "Senang bertemu dengan kalian semua," mata biru kehitaman nya memandangi satu persatu wajah Ksatria Lucien untuk dihafal. "Apa yang akan kalian lakukan setelah ini?"
Dylan dan Christ saling bertukar pandang. Pemuda yang paling ceria itu menggosok ujung hidungnya "Kami akan latihan lagi, Yang Mulia. Anda tahu, seorang Ksatria diwajibkan menjadi lebih kuat dan lebih kokoh dibanding dinding benteng." dengan percaya dirinya, Dylan tersenyum bangga setelah memamerkan pekerjaannya sendiri. Dia membusungkan dadanya seolah dialah yang paling kuat diantara dua teman lainnya.
"Biasanya orang yang omong besar adalah yang terlemah dan paling duluan mati dalam medan perang." cibir Hugo yang masih kesal karena Dylan mendorongnya.
"Hei! jangan mengeneralisasikan pikiran payahmu itu di sini."
"Memang kenyataannya begitu. Kau lah yang paling lemah di sini, jangan menyombongkan diri seolah kaulah prajurit pemberani. Padahal kau hanya jadi beban."
"Apa katamu?! mau bersaing denganku, huh?!"
Christ memilih membuang muka ke arah lain, ia tak berniat melerai dan merasa sangat malu mendengar perdebatan yang mereka berdua lakukan hanya untuk masalah sepele. "Maaf, Yang Mulia. Kejadian seperti ini memang sering terjadi."
"Tidak apa-apa, aku bisa memakluminya." balas Meridia sedikit canggung.
Dylan membuang nafas kasar, "Hei, kalian berdua kembalilah. Biar aku yang mendampingi Duchess." pemuda penuh semangat itu mengayunkan tangannya memberi isyarat pada kedua temannya untuk pergi dari sana.
"Hei, kau yang paling tidak bisa diandalkan di sini."
Meridia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "Jangan panggil aku begitu, aku bukan Duchess di istana ini. Panggil saja aku Meridia."
Seketika ujarannya menarik perhatian ketiga lelaki itu. Mereka menengok kaget, "Anda bercanda?" tanya ketiganya serempak. "Lidah kami akan jadi makanan anjing liar di luar sana jika kami berani bicara tidak sopan pada Anda." sambung Hugo.
"O-oh begitukah?" Meridia terkejut karena mereka bertiga sungguhan kaget dengan permintaannya. Lalu Meridia melirik Dylan dan berkata, "Kalau begitu, Dylan, bisakah kau temani aku berkeliling di halaman istana sebentar?"
"Tentu saja, Duchess! saya dengan senang hati akan mendampingi Anda!" mata coklat pemuda itu berkaca-kaca seakan-akan dia baru saja dipanggil untuk diberikan sebuah penghargaan. "Anda bisa mengandalkan saya, Yang Mulia!"
Hugo dan Christ menyipit sinis, "Justru karena kau itulah yang membuat kami khawatir." batin keduanya serentak.
Meridia akhirnya ditemani Dylan seorang untuk berjalan-jalan di sekitar taman. Ximena berniat ikut tetapi Meridia terus menyuruhnya untuk masuk dan mengurus pekerjaan lain. Tampaknya Lucien tidak berminat menambah pekerja sehingga banyak dari pelayan memegang lebih dari dua tugas.
Alasan Meridia memilih Dylan adalah karena pemuda itu terlihat amat jujur dan tidak pandai menyembunyikan rahasia penting sehingga mungkin saja dia akan memberitahukan semua yang Meridia ingin ketahui jika dia bertanya.
"Dylan."
"Ya, Yang Mulia."
"Bisakah aku bertanya sesuatu kepadamu?"
"Tentu saja," Dylan justru semakin bangga saat bersiap menerima pertanyaan. Meridia tersenyum senang "Apakah tabir yang dipasang ini bisa ditembus oleh semua orang?"
Pemuda berwajah manis itu segera menggeleng, "Tidak. Kami tidak bisa keluar masuk sesuka hati. Hanya jika Yang Mulia Lucien memperbolehkan, maka tabir itu bisa kami tembus," kedua sudut bibir Dylan terangkat naik "Tapi Anda adalah pengecualian. Saya juga awalnya tidak percaya, saya sangat penasaran bagaimana bisa Anda menembus perisai yang sangat kuat itu tanpa terluka."
Kalau soal menembus dengan mudah, Meridia sendiri tidak tahu apa yang telah diperbuatnya. Meridia hanya tahu dia punya kemampuan mengutuk yang mana itu merepotkan bagi dirinya sendiri dan orang-orang disekitarnya.
"Ak—"
"Aaaaa!!"
Jerit ketakutan seorang wanita terdengar keras yang asalnya dari kebun belakang. Meridia dan Dylan kebetulan tidak berada jauh dari taman tersebut, mereka memutuskan untuk memeriksa apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Tampak seorang pelayan wanita terduduk lemas di bawah pohon sambil terus mendongak memandangi cabang pohon di atas kepalanya. Wajahnya menjadi pucat pasi, tubuhnya gemetaran hebat.
Meridia berjongkok memegang pundak wanita tersebut, "Ada apa? apa yang terjadi?" tanya nya yang belum menyadari ada sesuatu yang aneh.
"I-itu.. i-itu, Yang Mulia." lirihnya dengan suara bergetar. Jarinya menunjuk ke salah satu cabang pohon. Terdapat sesosok mayat tergantung terbalik dengan bagian kepala dibawah. Mayat tersebut masih memakai pakaian maid lengkap.
Gadis cantik itu mendongak ke atas dan setelahnya dia terkejut melihat penampakan mayat yang tidak biasa itu. Dylan dengan cepat menurunkan jasad itu dari atas pohon dan memeriksanya.
Kondisi jasad itu sudah seperti tengkorak yang masih berkulit. Kulitnya pun sudah amat kering keriput dengan bola mata yang menyembul keluar. Terdapat sebuah garis merah melingkar dileher mayat wanita tersebut.
"Siapa sia?" tanya Meridia pada Dylan yang masih memeriksa.
"Saya kurang tahu, Yang Mulia."
Meridia mengernyit ketika melihat ekspresi datar Dylan saat sedang memeriksa jenazah pelayan itu, dia seperti sudah terbiasa melihat dan menangani kasus yang sama.
Meridia memelototkan matanya kaget saat dia melihat gelang yang melingkar di pergelangan tangan itu. "Gelang itu kan..." Meridia melihat gelang yang sama dengan yang dipakai maid yang saat itu bertugas menyiapkan air mandi untuk Lucien waktu itu.
"Kenapa dia bisa jadi seperti ini?" gumam Meridia lirih.
Baru saja Dylan menjelaskan bahwa barrier pelindung ini sangat kuat dan tidak bisa ditembus oleh sembarang makhluk hidup, "Binatang buas macam apa yang bisa membuat mangsanya hadi seperti ini?"