TRAPPED BY THE SECOND MALE LEAD

TRAPPED BY THE SECOND MALE LEAD
CHAPTER 23



Arden berdiri dari meja belajarnya secara tiba-tiba hingga kursi yang didudukinya terdorong ke belakangnya. Matanya membulat lebar "Tidak mungkin..." surat dalam genggamannya lah yang membawa berita mengejutkan yang tak pernah ia bayangkan akan sepenting itu isi surat tersebut.


Sudah hampir dua hari penuh Arden mendiamkan surat yang berasal dari kediaman Emerald. Bukannya tak peduli, tetapi Arden masih berusaha mencari cara menyelesaikan kasus kematian tiba-tiba dari warga di kota. Sekarang entah perasaan bersalah atau sedih yang memenuhi rongga dadanya, pemuda itu hanya memikirkan dimana dan bagaimana nasib Meridia sekarang.


Secara tiba-tiba dia merasa kehilangan. Apa yang membuatku kehilangan sementara sejak awal Meridia sudah menolak menjadi temanku? pikir Arden.


Perasaan sedih itu kemudian menjadi yang nomor dua. Arden sadar ada sesuatu yang aneh, dia lagi-lagi bergumam sendirian "Untuk apa Marquess Emerald secara langsung memintaku membantunya mencari Meridia?"


Ungkapan di surat Ziel memang mengundang tanda tanya besar. Hanya untuk seorang pelayan, apa yang membuat Ziel ingin sekali mencari Meridia? Hal itu membuatnya berpikir bahwa rumor yang ia dengar ada betulnya. "Aku masih punya waktu sampai rapat besar diadakan. Aku bisa ke sana besok."


Arden tidak bisa mengabaikan permintaan tolong Ziel karena itu ada sangkut pautnya dengan Meridia.


Sejujurnya saat malam pesta kedewasaan, tepatnya saat Arden mengelilingi koridor untuk bisa menemukan Meridia, dia mendengar lirih amukan Ziel dan suara gadis yang menyertainya. Dia tidak yakin, tetapi suara yang di dengar persis seperti suara Meridia. Sayang sekali dia tak bisa bertemu.


Malam ini Arden mempersiapkan beberapa barang yang ia perlukan ke dalam tas lalu meminta izin pada Helena dan William. Arden tidak menjelaskan detail permintaan tolong Ziel.


Sebelum tidurnya Arden memandangi gelang hadiah yang ingin ia berikan pada Meridia. Khawatir? tentu saja, apalagi dia sengaja menunda membaca surat Emerald karena mengira itu surat dari Marigold. Terlalu banyak yang dia pikirkan sampai tak ingat untuk membaca satu per satu surat yang ia terima.


"Meridia, aku akan mencarimu. Gelang ini belum sampai padamu, jadi saat kita bertemu nanti aku akan memberikannya padamu."


Arden kembali meninggalkan pekerjaannya yang sudah setengah jalan untuk pergi ke Norfolk dan membantu Ziel untuk menemukan keberadaan Meridia.


Dalam perjalan Arden sudah menyusun rencana. Arden tak berniat segera datang ke kediaman Marquess Emerald begitu sampai. Pemuda bemanik biru itu terlebih dahulu mencari disekitar pasar dan gang kecil yang sepi atau jarang penduduknya. Tidak menutup kemungkinan Meridia masih bersembunyi di sekitar kota dengan menyamar.


"Meridia, di mana kau sekarang?" Arden sudah menunjukkan lukisan wajah Meridia yang diingatnya untuk ia tunjukkan pada orang-orang yang ia tanyai. Tak ada satupun dari mereka yang pernah melihat gadis dalam lukisan, beberapa malah menyorot kemiripan mata Meridia dengan Marigold.


Arden sudah meniatkan diri seharian penuh akan mencari Meridia sendiri sebelum datang ke rumah Marquess Ziel. Sebenarnya cara itu terbalik, Arden pun menyadari itu, tetapi dia merasa keluarga Emerald tak dapat dipercaya sepenuhnya.


Sampai akhirnya, Arden smencoba bertanya pada Ella. Tentu Arden hanya secara kebetulan datang ke stand nya dan menanyakan soal Meridia yang notabene nya merupakan salah satu pelanggan tetap Ella.


Ketika Arden menunjukkan lukisan ditangannya, pemuda itu terkejut saat mendengar Ella segera menyebut nama Meridia yang bahkan belum ia sebut sebelumnya. "Jadi Anda mengenal Meridia?" secercah harapan timbul menghampiri pemuda yang tengah menyamar sebagai orang biasa itu.


Ella mengangguk. Nampak kekhawatiran di wajahnya, ia menatap Arden cemas, "A-apa Meridia benar-benar hilang?"


"Ya, Marquess Ziel menyewa saya untuk membantu mencari salah satu pelayannya yang hilang."


Ella berkaca-kaca memandang lukisan wajah cantik Meridia. Dimata Ella, Meridia adalah gadis baik yang ceria. Dan entah bagaimana setiap kali gadis navy itu datang berbelanja di tempatnya, akan banyak orang bergerombol datang ikut berbelanja setelahnya.


"Kapan Anda terakhir melihatnya di sekitar sini?"


"Dia sudah cukup lama tidak ke sini lagi, kira-kira sudah hampir satu bulan lamanya. Saya pikir dia hanya belum mendapat giliran untuk berbelanja." Ella menitikkan air mata sedih, "Gadis yang malang."


Harapan Arden hilang tepat ketika Ella mengatakan ia lama tak jumpa dengan Meridia lagi. Sulit mencari seseorang yang jarang berinteraksi dengan dunia luar seperti Meridia.


Pemuda itu terus berkeliaran di kota hanya untuk menemukan Meridia hingga malam tiba. Kakinya mulai terasa lelah, perutnya sudah berusaha berpuasa berjam-jam agar tak membuang banyak waktu. Arden bisa saja mencari selama 24 jam tanpa henti, tetapi tampaknya pemuda itu mulai ragu dengan rencananya sendiri.


Alhasil pemuda bersurai blonde itu memilih pulang ke hotelnya untuk beristirahat. "Apa sebelumnya ada toko di sebelah hotel ini?" gumamnya bingung ketika melihat sebuah toko kecil menyempil disamping hotelnya persis.


Toko tersebut seperti toko antik, cahaya lampu kuningnya menjadikan toko kecil itu lebih menonjol daripada bangunan di sekitarnya. Akan tetapi tidak terlihat satupun pelanggan yang nampak.


Sayangnya Arden tidak memiliki waktu memuaskan rasa keingintahuannya terhadap toko kecil tersebut sehingga dia mengabaikannya dan masuk ke dalam kamar penginapan.


Setelah makan malam Arden segera kembali ke kamarnya dan menandai setiap sudut kota dalam denah yang ia gambar. "Mungkin besok aku bisa langsung ke mansion Emerald, aku butuh beberapa petunjuk."


Seketika ide jahat muncul dalam benaknya. Arden ingin ke biro informasi ilegal untuk memastikan apakah Meridia memang putri Ziel atau bukan. Namun ia urungkan niat tersebut karena merasa tidak enak hati, "Aku tidak bisa menyalahi privasi orang lain. Akan ku cari tahu lain kali saja."


Keesokan harinya barulah Arden datang ke kediaman Emerald. Suasana rumah tersebut tetap sama seperti biasa— setidaknya itu yang Arden rasakan saat belum jauh memasuki rumah Emerald.


Namun, hawanya langsung berbeda begitu Arden berhadapan dengan Ziel, Zoya, dan Marigold. Ziel tampak lebih kurus dari yang terakhir kali dia lihat. "Marquess, Anda baik-baik saja?" tanya Arden.


"Ya, Yang Mulia. Saya hanya kurang tidur. Rapat besar sudah dekat, saya belum menyelesaikan beberapa laporan." tidak perlu diberitahu juga Arden mengerti Ziel tidak dalam keadaan seperti ini hanya karena laporan. Toh dia sudah terbiasa dengan pekerjaannya sebagai perwakilan kota. Sudah pasti dia memikirkan hal lain.


Marigold yang biasa terlihat ceria dan semangat ketika bertemu Arden, hari ini juga tampak berbeda. Gadis cantik jelita itu terlihat letih dan lesu walau dia tetap tersenyum.


Alasan kemurungan dari salah satu putri kembar Ziel dan Zoya itu adalah tidurnya yang tidak nyenyak. Bukan sekedar tidak nyenyak, ada yang seperti mengganjal dalam otaknya. Marigold juga mengalami kelumpuhan tidur beberapa kali.


Ditambah, Marigold tak dapat mengeluarkan kekuatan pemurnian sekuat yang biasa ia lakukan. Gadis bermahkota pirang itu sedang banyak memikirkan bagaimana cara mengembalikan kekuatannya lagi sebelum jadwal tugas di kuil tiba.


Tidak mau membuang waktu lebih banyak, Arden langsung membahas mengenai kapan dan bagaimana Meridia kabur dari mansion. "Apa dia membawa semua barang-barangnya?"


Ziel segera menjawab, "Tidak. Semua pakaiannya masih ada, dia sepertinya hanya membawa beberapa benda yang menurutnya penting."


Zoya saat kepergian Meridia memang tengah menghadiri acara pembukaan butik temannya, jadi ia tak tahu apa yang sebenarnya terjadi di rumah. "Saat itu saya sedang tidak ada di rumah. Kalaupun dia kabur, dia pasti tidak akan membiarkan siapapun melihatnya. Tidak aneh jika kami semua tak ada yang tahu." timpal Zoya.


Mata Ziel mengisyaratkan hal lain yang hanya Arden yang menyadarinya. Tatapan Ziel seperti kehilangan satu anggota keluarganya dan sampai saat ini pun dia berusaha keras untuk menemukannya.


Ziel pribadi merasa kehilangan, merasa bersalah, sedih, takut, cemas, semua rasa berkecamuk dalam dirinya. Ziel sendiri tidak tahu apa alasan dia bisa merasakan itu terhadap putri yang tak dicintainya.


Dari situ Arden sudah mulai agak merasa aneh walau dugaannya semakin kuat. Kemudian Arden iseng bertanya, "Lalu mengapa Anda mencarinya? maksud saya, dia hanya seorang pelayan biasa di sini."


Wajah cemas dan bersalah Ziel seketika hilang menjadi raut kaget. Ziel sedang kalut dengan perasaannya sendiri hingga tak menyadari bahwa tindakannya memancing kecurigaan Arden.


"Itu..." Ziel tidak bisa langsung menjawab pertanyaannya.


"Apa dia membawa pergi sesuatu milikmu yang berharga?"


"Ya. Dia membawa salah satu dokumen yang sangat penting milik saya jadi saya ingin menemukannya dan meminta dia untuk mengembalikannya." Arden tidak sengaja memberikan ide kepada Ziel untuk berdusta walau Arden sama sekali tak tertipu.


"Bisakah saya periksa kamarnya?"


"Aku akan mengantarmu ke sana, Arden." sahut Marigold seraya beranjak dari kursi.


"Terima kasih."


Marigold menuntun Arden menuju ke kamar yang selama ini ditempati oleh adik kembarnya. Sejujurnya Marigold enggan sebab apapun yang berhubungan dengan Meridia sekarang hanya membuat kepalanya terasa siap meledak kapan pun.


Demi menjaga citra dirinya di hadapan lelaki yang disukainya, Marigold harus menahan pusing itu.


Arden tak berhenti terkejut melihat penampakan kamar Meridia. Bagaimana bisa gadis itu menempati sebuah gudang sementara ada asrama pelayan di sana?


Begitu Marigold membuka pintu kamar Meridia, udara lembab nan pengap menyapa rongga hidungnya. Debu menumpuk di dalamnya, tidak ada satu pelayan pun yang diminta membersihkan kamar kosong itu.


"Apa selama ini Meridia menempati kamar ini?"


Ya sebenarnya Arden tidak bisa menyebut ruangan itu sebagai kamar. Bagaimana tidak, ruang itu masih terbilang sempit akibat barang-barang tak terpakai masih memenuhi pojok dinding yang menyebabkan sirkulasi di kamar Meridia menjadi terganggu.


Sudah bukan hal yang aneh jika nyamuk dan serangga lainnya ikut menempati kamar tersebut. Beberapa kecoa Arden lihat keluar dari tumpukan barang dari pojok ruangan.


"Marigold, berapa jumlah pelayan yang bekerja di sini?" pertanyaan Arden agak mengejutkan untuknya. Selama ini putri kesayangan Ziel tersebut tak pernah memperhatikan berapa banyak jumlah mereka, yang ia pedulikan hanyalah berakting sebaik mungkin agar mereka bertekuk lutut di hadapannya.


"Kurang lebih lima belas? aku tidak begitu yakin karena aku jarang lihat mereka berkumpul." balas Marigold semampunya.


"Kalau begitu, kamar asrama tidak akan penuh. Mengapa dia lebih memilih tidur di ruangan bekas gudang begini?"


Perhatian Arden pada Meridia yang terselip dalam pertanyaannya berhasil membuat geram hati Marigold.


"Begini, Meridia itu anak yang sangat suka ketenangan. Asrama pelayan terlalu ramai untuknya, jadi dia meminta untuk menempati kamar ini. Ayah tidak bisa memaksanya sehingga dia hanya menuruti keinginannya saja."


Kebohongan yang pelik ia utarakan. Arden mengernyit sekejap. Bagaimana bisa seorang majikan malah tunduk menuruti keinginan seorang pelayan? Ziel bisa saja mencari pelayan lain yang mau diajak bekerjasama dan tidak meng-komplain kebijakannya. Kecurigaan Arden bertambah parah, namun bukan saatnya bagi dia mengulik rahasia keluarga Emerald.


Semakin Arden berdiri lama didalam sana, rongga hidungnya mencium bau aneh yang familiar. "Bau ini, aku seperti pernah menciumnya di suatu tempat."


Baunya tak menyengat, hanya seperti aroma debu pada umumnya, tetapi ketika menyeruak masuk, hidung akan terasa seperti tertusuk aroma kuat yang tidak bisa dijelaskan.


Dalam hitungan detik, Arden mengingat bau apa yang ada diruangan Meridia. Ya, bau yang sama dengan bau yang Arden cium saat memeriksa tubuh mayat dalam kasus kematian mendadak yang sampai sekarang masih dia siasati.


Marigold tetap berdiri di depan pintu kamar, sesekali gadis menawan itu mengibaskan tangan di depan hidung mancung nya agar debu tak membuatnya bersin. Ia memandang punggung Arden "Arden, bisakah setelah ini kau menemaniku jalan-jalan sebentar? aku ingin menghabiskan waktu bersamamu sekaligus menceritakan sesuatu yang mengganjal di pikiranku."


"Oh, iya. Tunggu sampai aku selesai ya." Arden tidak bersungguh-sungguh dengan ucapannya tersebut. Dia hanya ingin membuat Marigold diam dan tak mengganggu waktu penyelidikannya.


Meridia, mengapa kau tidak meninggalkan satu jejak pun?


Arden lantas membuka laci meja belajar Meridia, berharap mendapat sesuatu meski kemungkinannya amat kecil. Matanya melebar, "Oh?"


Terdapat sebuah mahkota yang terbuat dari rampai bunga kuning kecil yang dibiarkan begitu saja hingga mengering dan tiap kelopaknya rapuh. Arden menyingkirkannya ke tepi laci untuk membaca sebuah tulisan yang tergores di alas laci.


"Aku ingin ada seseorang yang bisa ku tuju. Aku tidak mau mati kesepian, tapi tidak ada siapapun yang mau menganggapku sebagai bagian dari golongan manusia juga." Arden menyuarakan rintihan hati Meridia yang terpatri di laci kosong tersebut. Jemarinya bergerak mengelus tulisan Meridia, "Kau sangat menderita ya. Seandainya kita bertemu lebih awal, aku mungkin bisa menjadi teman yang bisa kau andalkan."


"Arden? ada apa?"


Marigold melihat pemuda tampan itu melamun sambil terus menunduk menatap ke dalam laci, "Kau menemukan sesuatu?" tanyanya lagi.


Arden membalikkan badan menatap Marigold, "Marigold, maaf. Sepertinya aku belum bisa menemanimu jalan-jalan, aku harus segera membantu Marquess menemukan Meridia dulu. Aku kasihan melihatnya sangat terbebani. Barangkali apa yang dibawa Meridia sangat penting untuk rapat besar besok."


Arden tidak mempercayai semua kebohongan Ziel, dia hanya berpura-pura percaya untuk menipu Marigold. Baginya saat ini menemukan Meridia lebih penting.


Marigold merasa tidak terima dengan keputusan Arden, tetapi dia harus tetap menjadi wanita baik yang tidak pernah egois.


Gadis berambut blonde itu mengangguk sembari menyunggingkan senyum, "Aku mengerti. Tak apa, kita bisa lakukan itu lain kali. Terima kasih sudah mau membantu keluargaku."


Arden mengangguk singkat. Dia memanjangkan langkah namun segera berhenti tepat di hadapan Marigold, "Kalungnya sangat bagus, itu cocok sekali untukmu." puji nya tulus. Akan tetapi bukan itulah yang menjadi sorotan, Arden sekilas melihat permata kalung itu menyala tapi dia memilih tetap bungkam.


Marigold bersemu, "B-benarkah? ini hadiah yang diberikan oleh teman jemaat ku."


"Oh sungguh? aku yakin dia sangat memperhatikanmu." ujarnya sembari menepuk pelan puncak kepala Marigold, lalu ia pun memanjangkan langkah keluar dari sana untuk mulai mencari Meridia.


Sementara itu, di istana Navarro...


Meridia masih berdiam diri di atas balkon, memandangi indahnya proses bunga-bunga kecil mekar di pagi hari. Udara masih cukup dingin diluar mengingat embun masih dengan derasnya turun membasahi tiap benda yang berada di luar bangunan.


Lucien pergi pagi-pagi sekali dari istana untuk mengurus rencana pernikahannya dengan pihak istana Bommenhaum. Meridia tidak berusaha untuk membujuk Duke muda itu. Tidak, Meridia tidak tahu alasan dibalik Keengganannya.


"Mengapa aku seperti sudah kenal dengan Lucien dalam waktu yang cukup lama." gumam gadis itu sambil melamun menghadap bawah.


Sepuluh menit berselang, Ximena datang ke kamar untuk memberitahu Meridia bahwa air mandinya sudah siap. "Yang Mulia, airnya sudah siap. Mari kita pergi sekarang."


"Oh, iya."


Perlahan namun pasti, meski suasana lebih sepi dan sunyi, Meridia mulai terbiasa dengan lingkungan barunya. Bukan karena dia dijunjung tinggi layaknya bangsawan melainkan karena tidak adanya caci makian yang terdengar setiap hari, tidak ada yang menyalahkannya untuk hal-hal kecil. Itu membuatnya tenang.


Dari situ Meridia berpikir tidak masalah menikahi Lucien jika itu menguntungkan dirinya. Lagipula Lucien bukannya menikahi Meridia demi alasan yang menyakiti dirinya, Lucien hanya butuh teman. Sedangkan Meridia butuh tempat aman dan bebas. Sempurna.


Dia mendengar dari Ximena bahwasanya sejak Lucien lahir, orang tuanya sudah meninggal dunia. Lucien tidak besar dengan melihat ayah ibu, dia dibesarkan oleh Butler istana Navarro dan diajari kode etik seorang bangsawan hingga menjadi pemimpin klan Navarro di usia muda.


Kesepian sudah bukan hanya satu atau dua tahun pemuda itu rasakan. Baik pelayan maupun Ksatria nya tidak dapat mengurangi kesepian yang dia rasakan.


Meridia paham betul apa yang dirasakan Lucien karena mereka sama-sama mengalami kesepian jiwa yang sama.


"Aku akan berusaha membayar kebaikannya dengan ini." pikirnya. Mulai dari sanalah Meridia tidak merasa pernikahan itu akan merugikan, dia hanya mengganti pola pikirnya untuk membalas budi.


Seusai mandi Meridia sudah menyampaikan bahwa dia akan menunggu Ximena selesai membantu pelayan lain di perpustakaan. Membaca membuat Meridia bisa melepas semua beban pikiran.


Tidak lama setelah dia turun ke lantai satu, terdengar suara seorang wanita yang terus memanggil nama Lucien.


"Lucien? Lucien aku datang."


Meridia tidak melihat ada pelayan di depan sehingga dia berinisiatif untuk menyambut. "Siapa itu?"


Meridia terbelalak melihat sosok wanita berpakaian seperti seorang penghibur berdiri di dekat sofa. Setelah mereka saling berpandangan, Meridia langsung tahu siapa tamu Lucien itu. "Bukankah itu Lady Veronica? bagaimana dia bisa tahu tempat tinggal Lucien ada di sini?"


Ya, wanita penyebar rumor soal putri kembar Ziel saat di pesta kedewasaannya itu ada di sana. Dia tersenyum simpul dan matanya kembali bergerak menyapu seluruh ruangan "Kemana Lucien pergi?" dia mulai kesal.


Meridia berjalan mendekat hendak menyapa sekaligus memberitahukan kepadanya bahwa sang empunya rumah tengah pergi.


Namun mendadak tiga orang pemuda lebih dulu menyeret Veronica keluar dari rumah tersebut. "Hei, lepaskan aku! kalian ini semakin hari semakin tidak sopan saja!"


Satu pemuda berpakaian Ksatria lengkap itu tersenyum seraya membungkuk hormat dihadapan Meridia "Apa yang sedang terjadi?" gumam Meridia keheranan.


"Selamat pagi, Duchess."


Meridia mengerjapkan mata dengan cepat beberapa kali, "Eh? Duchess, maksudmu aku?"