TRAPPED BY THE SECOND MALE LEAD

TRAPPED BY THE SECOND MALE LEAD
CHAPTER 9



Selama dua bulan lamanya Meridia tak pernah mengambil cuti. Setiap pekerja di mansion Emerald masing-masing diberi libur tiga kali dalam satu bulan. Tentu saja tetap ada peraturan dalam pengambilan cuti. Gadis bernuansa biru gelap itu berencana mengambil libur di hari Kamis ini.


Cuaca benar-benar buruk sedari malam. Guntur terus bergemuruh, petir menyambar-nyambar, dan kilat menyala terang dalam kelamnya langit pagi seakan memberitahukan pada seluruh makhluk bumi bahwa langit saat ini sedang marah.


"Cuaca yang pas untuk mengambil libur," pikir Meridia.


Setelah mendapat izin dari kepala pelayan wanita, Meridia pergi pagi-pagi sekali dengan membawa payungnya ke kota. Hujan tak menghalangi keinginan Meridia untuk berjalan-jalan dan menghibur diri. Penciumannya dipenuhi wangi tanah basah yang khas "Ini benar-benar menyenangkan."


Jalanan begitu sepi, jarang ia temui warga yang beraktivitas di luar rumah. Guyuran hujan deras membuat payung Meridia bekerja ekstra menahannya, "Aku akan pergi ke kuil sebentar." Dia tahu ini bukan jadwalnya Marigold pergi ke kuil.


Meridia masuk ke dalam kuil setelah membersihkan pakaian serta sepatunya yang kotor terkena percikan tanah. Ruang doa begitu sunyi, hanya ada kurang lebih sepuluh orang saja di sana. Mereka berdoa masing-masing, tak ada pendeta yang memimpin.


Meridia duduk di kursi paling belakang, menyatukan kedua tangan lalu menutup mata. Ia berharap lekas mendapat kebebasan, keluar dari mansion yang seperti neraka tanpa menjadi masalah besar. Hanya itu.


Saat membuka mata seseorang tiba-tiba menyapanya dengan suara lembut "Hai Meridia," si pemilik nama tersentak kaget pasalnya ia duduk sendiri dan entah sejak kapan ada seseorang yang duduk di sebelahnya. Ketika Meridia membuka mata, lelaki itu menyapanya masih dengan posisi menyatukan kedua telapak tangan. Rupanya dia tidak fokus menghaturkan doa.


Pemuda berjubah itu kembali menemui Meridia "Maaf, kau siapa?" terpancar kebingungan dari kedua irisnya, ia merasa tidak asing dengan pemuda tersebut tapi tak ingat dimana ia pernah bertemu dengannya. "Kau tidak ingat aku? kita pernah bertemu sebelumnya di dekat pasar saat pencuri mengambil uangmu."


Dahi Meridia berkerut dalam. Otaknya bekerja keras mengingat "Apa ada kejadian seperti itu?" gumamannya terdengar oleh pemuda tersebut. "Tentu saja ada. Aku sudah memberitahu namaku sebelumnya, aku Lucien." sahutnya senang.


"Lucien?" memori Meridia hari itu seolah mulai tersusun rapi lagi, yang tadinya seperti potongan puzzle acak kini terpasang utuh. Ia baru teringat dengan kejadian yang disebutkan Lucien ketika ia menyebutkan namanya "Ah, orang yang waktu itu."


Pemuda bertopeng mata itu tersenyum "Syukurlah kau bisa mengingatku."


"..." Meridia hanya diam kembali menatap ke depan, perasaannya jadi tak tenang.


"Kau tinggal di daerah sini?"


"Kau pikir aku tinggal di kota seberang dan setiap hari main kemari?" ujarnya sarkas. Pemuda itu terkekeh pelan "Tidak, aku senang kalau bisa dengan mudah bertemu denganmu."


"Tenang saja, itu tidak akan terjadi."


"Hm? Kenapa?"


"..."


Selesai berdoa Meridia memutuskan untuk jalan-jalan ke pasar, tentu dia mengambil keputusan itu setelah melihat cuaca sudah lebih baik. Hujan tidak selebat tadi pagi dan mentari sudah mulai menunjukkan sinarnya meski masih malu-malu dan gerimis kecil masih menyertai.


Meridia mendengus sebal "Permisi, apa kau tidak punya tujuan?"


Sedari di kuil hingga sekarang di dekat pasar pemuda itu masih terus mengekorinya dan itu membuat Meridia merasa risih.


Pemuda itu terkekeh pelan. "Aku hanya ingin menemanimu jalan-jalan."


"Aku tidak butuh teman."


Meridia pergi ke toko roti tempat di mana Samuel membelikannya roti. Meridia sudah berniat untuk membalas kebaikan pria tukang kebun itu dengan membelikannya dua roti untuk dikirim ke rumah Samuel.


Pemuda itu menatap Meridia lekat "Boleh aku bertanya sesuatu?" Meridia tak menanggapinya dan melenggang pergi dari toko roti "Setelah melihat wajahmu sedekat ini, aku merasa kau mirip dengan Saintess- umph!"


Meridia dengan cepat membungkam mulut pemuda itu dengan telapak tangannya. Ada banyak orang yang sedang berjalan di sekitar mereka, tatapan orang-orang tersebut sedikit aneh.


Meridia segera menarik Lucien pergi dari sana ke tempat yang lebih sepi "Bisakah kau jaga ucapanmu? Jangan membuatku berada dalam masalah."


"Tanganmu..." Meridia pikir Lucien tidak suka disentuh jadi dia dengan agak kasar menghempas pergelangan tangannya tapi sekarang giliran Lucien yang menggenggam tangannya, "Ada banyak memar merah di tanganmu. Kau kenapa?"


Meridia tidak begitu mempedulikan bekas memar itu selagi tidak sakit. Meridia punya banyak tanda memar seperti itu setiap kali ia bangun, kadang ada di punggung, di paha, di dada, di perut, dan bagian lainnya. Tidak, Meridia memang sering dihukum tapi ia tak pernah dipukul sebab tak ada yang berani menyentuhnya.


"Kau kekurangan zat besi. Tubuhmu kurus sekali, apa kau makan dengan benar?" Meridia tidak biasa diperhatikan siapapun selain Samuel jadi dia merasa aneh saat ada yang menanyakan hal itu.


Meridia melepas paksa tangannya "Aku baik," jawabnya singkat.


"Tunggu dulu. Apa kau sudah sarapan? Aku ingin mentraktirmu sesuatu."


"Tidak, terimakasih."


"Kalau begitu aku tidak akan membiarkanmu pulang."


Meridia berakhir sarapan bersama dengan orang asing di sebuah kedai makan. Tersaji satu potong ayam bakar utuh di depan mereka yang wanginya menggugah selera.


Tahu apa sebabnya Meridia menuruti keinginan Lucien? Ya, lagi-lagi Lucien membahas mengenai kemiripan wajahnya dengan Marigold meski ia sudah berusaha mengacak-acak penampilannya dan Lucien memancing Meridia dengan sesuatu yang membuat jiwa keingintahuannya bangkit.


"Kenapa kau melamun saja? Ayam ini akan utuh sampai besok pagi kalau hanya kau pandangi saja. Makanlah."


Perut Meridia sudah bergemuruh sejak tadi tapi dia merasa ragu menerimanya dari orang yang tak dikenalnya "Kau janji akan menjawab semua pertanyaanku setelah ini, 'kan?"


Lucien mengangkat bahu "Ya. Menurutku percuma saja, kau tidak akan ingat setelahnya."


"Maksudmu?"


"Aku membeli makanan ini untuk dimakan bukan untuk dijadikan pajangan. Makanlah selagi hangat."


Mengapa orang asing ini peduli padaku? Apa dia tidak waras? Aku yakin dia kurang kerjaan.


Meridia terheran-heran melihat pemuda itu lebih paham jalanan kota dibanding dirinya. Lucien bahkan tahu jalan kecil yang mempersingkat waktu "Sebenarnya kita mau ke mana?" tanya Meridia bingung.


"Mencari tempat yang nyaman untuk mengobrol. Kau sangat ingin menghindari orang-orang, bukan begitu?"


Lima menit kemudian mereka sudah sampai di tempat yang baru pertama kali Meridia lihat. Mereka sudah ada dipinggir sungai kecil yang airnya tenang.


Lucien duduk di bawah pohon sambil menatap ikan-ikan kecil yang berenang bebas kesana kemari bersembunyi dibalik bebatuan. Pemandangan yang cukup sulit untuk dicari. Meridia duduk di tepi sungai, melepas sepatunya dan memasukkan kedua kaki ke dalam dinginnya air sungai.


Garis bibir tipis pemuda itu terangkat "Apa yang mau kau tanyakan?"


Meridia terkesiap, dia hampir saja melupakan masalah utamanya. Ia menengok ke belakang "Kau mengenalku? Atau kau mengenal Saintess?" yah siapa yang tidak mengenal Marigold? Itu pertanyaan konyol. Sejujurnya, Meridia juga tidak tahu harus bagaimana mengolah pertanyaan.


"Aku mengenal Saintess jadi itu sebabnya aku bilang wajahmu sangat mirip dengannya."


Meridia mengeluarkan kakinya dari air lalu berjongkok di depan Lucien "Kau, sejak tadi aku perhatikan nada bicaramu seperti bukan orang yang bertanya tapi kau tahu sesuatu."


"Bisa jadi orang yang memberitahumu lah yang berbohong."


"Aku rasa tidak begitu karena yang membicarakannya adalah wanita yang membantu menjaga Marchioness hingga dia berhasil melahirkan dua putrinya dengan selamat."


Meridia tertegun. Ingatannya memang tidak begitu bagus, tetapi Meridia baru mengetahui bahwa yang membantu Zoya melahirkan bukan dokter keluarganya dan wanita yang membantu persalinan Marchioness tak lagi bekerja di sana.


"Itu alasan mengapa aku menyimpulkan kaulah putri satunya lagi. Yang sengaja disembunyikan untuk alasan tertentu."


"Kami sama sekali tidak mirip."


"Tentu kalian mirip. Kalian anak kembar 'kan? Melihatmu seperti ini, sepertinya mereka orang tua yang tidak bertanggung jawab dan pilih kasih."


Meridia tak ingin berargumen. Ia tak mau menjelek-jelekkan kedua orang tuanya tapi dia juga tidak memiliki alasan untuk membela. "Kau mau tinggal bersamaku saja? Aku punya kamar yang kosong, lagipula aku juga tinggal sendiri."


"Kau gila? Aku tidak akan mau tinggal dengan orang asing yang aneh sepertimu."


"Tetap saja...apa kau lebih memilih tetap tinggal di neraka atau keluar dan membangun kebahagiaan sendiri? Aku yakin kau sudah pegang jawabannya."


Apa itu kata-kata yang wajar diucapkan oleh seorang yang asing denganmu? Itu juga yang dipikirkan Meridia.


Tanpa perlu banyak omong, Lucien seakan membaca Meridia semudah melihat paragraf dalam halaman buku yang terbuka lebar.


Lucien mencondongkan tubuhnya ke depan, telapak tangannya yang besar mengangkat dagu Meridia "Jika kau minta aku untuk menjemputmu maka akan ku lakukan. Kau hanya perlu mengatakan apa mau mu dan aku yang akan bertindak." Ia memiringkan kepalanya, menatap lurus manik biru gelap Meridia.


"Kau siapa?"


"Lucien."


"Bukan. Maksudku, kau seperti sangat mengenal keluarga Emerald. Kau mata-mata dari bangsawan lain?"


Lucien membelalak mendengar pertanyaan Meridia "Huh? Pfft! Bisa jadi, tapi tenang saja. Aku tidak akan pernah merugikanmu. Targetku bukan kau."


"Kau tahu, aku seperti tidak hanya sekali pernah bertemu denganmu." Meridia berusaha mengobrak-abrik catatan di memori otaknya. Apakah Meridia memang pernah berinteraksi dengan orang lain selain Arden dan keluarganya? Tiba-tiba pikirannya seperti benang kusut.


"Mungkin kau akan mengingatnya. Tak usah dipaksakan. Lagipula kau juga akan melupakan pertemuan ini."


"Mengapa kau begitu yakin aku akan melupakan ini?"


"Memang begitulah yang terjadi, iya 'kan? Jika aku tidak menyebut namaku, apa kau akan mengingatku dengan sendirinya?" tidak. Meridia nyaris tak ingat ia pernah bertemu dengan Lucien.


Setelah banyak mengobrol hati Meridia merasa lega. Baru pertama kali ia merasa begitu seru berbicara dengan seseorang yang tak menunjukkan tatapan jijik dan ketakutan seperti yang biasa orang lain lakukan.


Meridia memang tak terbiasa, sikap Lucien yang begitu perhatian dengan hal-hal kecil membuat sisi beku dalam hatinya tersentuh sesuatu yang membuat perutnya merasa tergelitik.


Tingkat kewaspadaan Meridia menurun. Meski begitu rasa curiganya tetap meningkat seiring perlakuan baik Lucien kepada dirinya. Mengajaknya berjalan-jalan ke tempat yang menyenangkan, mengajaknya makan setiap melihat sesuatu yang dilirik, mempelajari sesuatu yang baru bersama-sama. Mereka banyak menghabiskan waktu bersama. Lucien tidak segan mengantar Meridia pulang sampai ke depan gerbang mansion. Baiknya dia itu mencurigakan, pikir Meridia.


"Temui aku jika kau ingin pergi dari rumah itu. Aku dengan senang hati akan menjemputmu, My Lady."


Ketika Meridia melangkah masuk ke gerbang, ia tersenyum. Hari ini cukup menyenangkan, dia bisa berlibur dan menikmati waktunya seharian tanpa menerima perlakuan tak adil.


Ketika tangannya sudah menempel pada pintu belakang, sesuatu seperti hilang dari ingatannya "Kenapa aku merasa senang?" ia menoleh ke belakangnya lalu dari kejauhan kembali menatap gerbang "Loh, memangnya apa yang aku lakukan selama jalan-jalan di luar?" inilah yang dimaksudkan Lucien.


Meridia beristirahat sebentar lalu pergi ke kebun untuk membicarakan soal jalan-jalan singkatnya dan bagaimana ia bertemu dengan keluarga Samuel. Samuel memiliki tiga orang anak, dua putranya masih berusia delapan tahun dan istrinya hanya bekerja sebagai pembuat minuman sari buah di rumah.


"Mengapa Anda repot-repot mengembalikan roti itu?"


"Aku...aku tidak bilang padamu aku membeli sesuatu?"


"Saya tahu Anda akan melakukannya. Itu sebabnya Anda datang ke rumah, bukan begitu? Lady, Anda simpan saja uang itu untuk kebutuhan Anda." Samuel merasa bahwa tidak lama lagi majikan kesukaannya itu akan pergi.


"Aku cukup dengan yang ada, paman."


"Oh iya, tadi saya sempat melihat sekilas, Anda diantar oleh seseorang? Apa sekarang Anda sudah mendapatkan teman baru di luar?" tanya Samuel antusias. Membayangkan ada seseorang yang dapat menghibur Meridia ketika semua orang di mansion menjauhinya membuat kecemasan Samuel menurun.


Meridia mengangkat satu alisnya "Seseorang? Aku pulang sendirian," ucapnya heran.


"Eh?"


Ketika Meridia menghabiskan waktunya di luar rumah dengan berjalan-jalan dan makan berbagai jenis makanan baru yang baru pertama kali ia rasakan, di rumah Marigold mulai membuat pertikaian baru. Rasanya jika tidak membuat konflik antara Ziel dan Meridia sehari saja membuat Marigold kehilangan nafsu makan.


Selagi Meridia pergi, Marigold dan kedua orang tuanya berkumpul di ruang tamu dan mengobrol santai bersama. Topik mengenai Meridia akan menjadi hidangan penutupnya.


Marigold dan Zoya beradu pandang, aneh, Ziel sedang meminum teh tawarnya dengan damai. Tak terselip sedikitpun raut bingung atau kurang sehat diwajahnya. Pria itu sudah kembali seperti dia yang biasanya.


"Ayah, kemarin ayah kenapa?" Marigold mengawalinya dengan pertanyaan yang sama untuk kedua kalinya. Pria berwibawa itu mengernyit "Ayah baik-baik saja. Mengapa sejak tadi kau bertanya begitu?"


Zoya tersentak "T-tapi sayang, kemarin malam saat kau pulang kau seperti orang linglung. Kau salah memakan sesuatu? Aku dan Marigold sudah berulang kali mencoba menanyaimu tapi jawabanmu selalu tidak jelas." Ungkapnya cemas, ia memegang tangan suaminya "Kau tidak sedang mabuk 'kan? Baik aku maupun yang lain tidak mencium aroma alkohol dari dirimu. Sebenarnya kau pergi dari mana saja?"


Ziel semakin tak paham melihat risaunya Zoya atas kejadian yang telah terlewat semalam. "Aku bertemu dengan teman-teman dan menghabiskan waktu beberapa menit untuk mengobrol di kedai teh, lalu..." dari sana ingatannya mulai mengabur "Sepertinya kemarin aku pergi ke tempat pelelangan."


"Black Celtic? Untuk apa? kau tidak memberitahuku sebelumnya."


Ziel tersenyum kikuk melihat istrinya cemberut "M-maaf, aku ke sana karena teman-temanku memberitahu soal wilayah yang luasnya kurang lebih 200 hektar di mana ada tambang permata di dalamnya. Tapi tenang saja, aku tidak memenangkannya."


Marigold tidak begitu mengerti tentang dunia lelang, salah satu tempat yang tak pernah dia kunjungi adalah Black Celtic dan distrik hiburan "Siapa yang berhasil memenangkan wilayah yang begitu menjajikan itu, ayah?"


Ziel kembali diam, ia terus mengingat siapa yang berhasil membuat hatinya dongkol "Aku dengar yang memenangkannya adalah Young Duke Navarro."


Marigold merasa tak asing mendengar nama tersebut "Navarro?"


"Kau mengenalnya?" tanya Zoya


Dua menit dihabiskan untuk mengolah otak dan akhirnya Marigold ingat di mana dia membaca nama jemaat yang sering mengikuti doa pagi di kuil dan salah satunya ada nama Navarro "Sepertinya dia juga tinggal di daerah ini."


Gumamannya masih dapat ditangkap oleh indera pendengar Ziel "Apa maksudmu? Duke Navarro masih terhitung tinggal di kota Goldenleaf walaupun dekat dengan perbatasan kota Norfolk."


"Eh? Benarkah? Tapi aku tidak salah baca, nama itu sering tertulis di buku kuil." Marigold memegang dagunya sambil memikirkan sesuatu "Tapi kenapa aku tak pernah melihat sosoknya? Seharusnya seorang bangsawan mudah dikenali meskipun dia berpakaian seperti orang biasa."