
Lucien mendatangi ruang bawah tanah miliknya dengan mata yang menyiratkan ketakutan. Sesaat setelah sampai, mata Lucien langsung tertuju pada lemari tempat dia menaruh batu relik nya. "Ternyata dia benar menyentuhnya. Huh...bagaimana ini, aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi." gumamnya pasrah seraya terduduk lemas di lantai.
"Dia cepat sekali mengingat tempat ini." Lucien tersenyum getir sambil menjambak poninya sendiri. "Aku gagal lagi dan aku tidak punya kesempatan selain ini. Apa yang ku lakukan?"
Setelah membereskan semua barang-barang koleksinya, dia pun berinisiatif mengganti lagi posisi ruang bawah tanah untuk yang kesekian kalinya.
Malam telah tiba. Matahari yang bertugas menyinari bumi kini bergantian dengan bulan yang redup. Lucien tidak sejengkal pun bergerak dari posisinya saat ini yang tengah menggenggam erat tangan kekasihnya. Meridia masih belum juga siuman setelah Lucien menyerap efek sihir yang terkandung dalam batu relik itu.
"Yang Mulia, sebaiknya Anda juga beristirahat." Hugo satu-satunya orang yang berani muncul di hadapan Lucien setelah tahu pemuda itu tidak dalam keadaan suasana hati yang baik.
"Tinggalkan tempat ini kalau kau tidak mau kepalamu terpenggal."
"Saya akan tetap menjalankan tugas dan tanggungjawab saya kepada Anda meskipun Anda masih marah pada saya."
Entah dari mana Lucien mendapatkannya, dia tiba-tiba membalik badan dan menusuk bahu Hugo hingga darah mengucur keluar. Pria berbadan tinggi besar itu meringis sekejap lalu menatap wajah kalut Lucien dengan berani, "Yang Mulia, Lady Meridia masih baik-baik saja! dia tidak meninggalkan Anda! dia saat ini hanya sedang beristirahat." bentak Hugo menyadarkan majikannya yang dirundung kegelisahan serta ketakutan yang membabi buta.
"...."
"Saya akan pergi setelah memastikan Anda pergi beristirahat." Hugo tetap berdiri tegap meski belati panjang itu masih tertanam dalam di bahu kirinya.
"Pergi. Aku akan menemani Meridia ku di sini."
Lucien membuang begitu saja belati itu ke lantai hingga membuat bercak darah Hugo bercecer. Demi bisa menjaga Meridia sepanjang malam, Lucien merebahkan dirinya disamping gadis itu tanpa mengalihkan pandangan sekalipun, mengecek apakah dada gadisnya masih bergerak naik turun atau tidak.
Hugo menghela nafas panjang merasa lega akhirnya Lucien tidak terpaku dalam kesedihannya sendiri. Dia pun membereskan semua kekacauan sendiri supaya tidak ada pelayan yang mengganggu.
Keesokan paginya, mereka tertidur dalam kondisi saling mendekap satu sama lain. Kelopak mata gadis berparas cantik itu mulai bergerak mengikuti arah bola matanya. Meski sedikit, cahaya matahari pagi yang menyelinap masuk melalui celah tirai berhasil membangunkannya dari alam mimpi yang mengajaknya berkelana ke langit.
Meridia langsung mengembalikan nyawa sepenuhnya begitu mendengar hembusan nafas seseorang mengenai ubun-ubunnya. Gadis itu segera menyingkir hingga membuat pemuda yang baru saja setengah jam lalu tertidur di sebelahnya ikut terbangun.
Lucien membuka matanya dan mengulas seny bahagia melihat Meridia sehat seperti biasa. "Kau sudah bangun? bagaimana tidurmu semalam?" Lucien ikut beranjak duduk. Tangannya bergerak hendak mengelus puncak kepala biru tua calon istrinya, akan tetapi sang gadis justru memundurkan tubuhnya dengan cepat. "Apa yang kau lakukan di sini? kenapa kau bisa ada di kamarku?"
"Aku menjagamu karena sepertinya kau mengalami mimpi buruk."
"...." Meridia terdiam berusaha mengingat mimpi apa yang dia dapati semalam. "Kepalaku sakit. Aku tidak bisa mengingat apapun."
"Sudahlah, untuk apa mengingat mimpi buruk? apa ada bagian tubuhmu yang sakit?"
"Eh?"
Lucien beranjak dari ranjang untuk kembali ke kamarnya. Pemuda itu merasa amat sangat lega ketika Meridia bisa bangun dan membuka mata lagi. Beruntung caranya menghapus ingatan berhasil. "Oh iya, segera bersiaplah. Kita harus segera sarapan. Apa kau bisa berjalan?"
"Apa?" pertanyaan yang dilayangkan Lucien berhasil membuat Meridia cengo. Pertanyaan macam apa itu? memangnya kakiku kenapa? Meridia segera menyibakkan selimut yang dipakai guna melihat kedua kakinya. Semua kelihatan baik-baik saja.
"Kau ingin mengerjaiku?"
"Haha aku hanya sekedar bertanya. Jika kau masih lemas, aku akan dengan senang hati menggendongmu."
Singkat cerita, Meridia memulai pagi hari ini dengan menahan kesal sepanjang melakukan kegiatan. Alasannya? dia tidak mengerti, entah karena apa sedari tadi Lucien sangat menempel padanya dan mengikuti kemana saja Meridia pergi seolah dia tak memiliki pekerjaan lain.
Saat mereka berdua tengah sarapan, Lucien memperhatikan mimik wajah Meridia. Gadis itu selalu melamun di setiap ada kesempatan, Lucien pun yakin tidak sepenuhnya memori tentang ruang bawah tanah itu hilang tanpa meninggalkan bekas.
“Ada apa?”
Meridia terkesiap tatkala tangan Lucien tiba-tiba menggenggam tangan kecilnya. “Tidak, aku hanya sedang melamun,” balasnya jujur. Ia ingin menarik tangannya turun dari meja tetapi genggaman Lucien sudah terlanjur menguat.
Meridia memikirkan tentang kejadian semalam yang sama sekali tidak ia ingat. Bagaimana bisa dirinya berpikir untuk tidur bersama pria yang masih berstatus orang lain ini? semalam ia merasa melihat sesuatu tetapi ingatannya sangat kabur sehingga Meridia tidak bisa membedakan itu ingatan atau hanya mimpi belaka.
Walau saat ini Meridia terlihat biasa saja duduk bersanding dengan Lucien, hatinya tetap merasa gelisah dan seolah memintanya pergi jauh dari pemuda ini tak peduli bagaimanapun caranya. “Lucien, bolehkah aku pergi keluar?”
Senyum Lucien segera memudar “Maksudmu keluar dari barrier ini? ada tempat yang ingin kau datangi?”
Meridia mengalihkan pandangannya tak berani bertatapan langsung dengan Lucien yang sekarang suasana hatinya berubah sesaat setelah Meridia berkata ingin pergi keluar. “Aku biasa pergi berjalan-jalan ke pasar seminggu sekali, jadi aku sangat ingin ke sana lagi.”
Lucien mendengus pelan, lalu ia tersenyum tipis guna mengurangi ketegangan. “Lain kali saja ya karena hari ini aku tidak bisa menemanimu pergi ke sana”.
Meridia menggelengkan kepalanya tak setuju. “Aku mau hari ini. Di sana sedang diadakan pekan raya, aku sangat ingin melihat acara pembukaannya,” Meridia mulai berakting. Gadis cantik itu menggembungkan pipinya sebal, bibirnya mengerucut seperti anak kecil yang sedang marah.
Lucien menghela nafas, ia menyangga kepalanya dengan tangan, memiringkan sedikit kepalanya dan menatap lurus calon istrinya yang sedang kesal itu. “Kau menggemaskan sekali. Aku jadi ingin mengurungmu di kamar supaya kau tidak bisa pergi kemana-mana dan terus bersamaku di sini,” ujar Lucien dibarengi kekehan kecil ketika reaksi Meridia yang berubah dengan cepat.
“Lucien, aku sedang tidak bercanda. Aku serius ingin pergi kesana.”
Lucien mengacak puncak kepala Meridia gemas “Huh, pekan raya diadakan selama tiga hari tiga malam ‘kan? Kita bisa mampir kesana esok hari setelah kita menemui Raja.”
Kedua mata Meridia melebar “Untuk apa menemui Raja?”
“Tentu saja untuk membahas soal pernikahan kita agar legal haha,” candanya yang tak terdengar lucu sama sekali ditelinga Meridia. “Setelah ini kau mau apa? Mau jalan-jalan di taman bersamaku?” tawar Lucien.
“Tidak.”
Selepas sarapan Meridia beranjak dari ruang makan dan hanya mengikuti kemana arah kakinya melangkah. Gadis itu merengut ketika tahu kalau Lucien sudah mengekorinya. “Kau tidak punya kerjaan lain selain mengikuti aku seperti penguntit? aku bukan tahanan di sini.” tanya Meridia ketus.
“Ada kok tapi sepertinya baru akan aku urus nanti siang saja.”
“Kenapa?”
“Aku masih ingin bersamamu.”
Meridia berbelok ke perpustakaan, dia ingin menenangkan pikiran dengan membaca buku. Lucien duduk lebih dulu di salah satu kursi dan mengawasi Meridia yang masih sibuk melihat-lihat barisan buku. Matanya terus mencari buku yang pas untuk merilekskan otak.
Ia mendongak, matanya menyapu satu barisan buku dibagian rak paling atas. “Wah, itu dia,” gadis itu menyunggingkan senyum antusias, ia lalu menengok kesana kemari hendak mencari tangga namun ia tak dapat menemukannya.
Meridia tak menyerah begitu saja. Dia melompat sambil mengangkat tangannya tinggi-tinggi agar dapat meraih buku yang ia inginkan. Lucien terkekeh geli, pemuda jangkung itu lalu menghampiri Meridia, menurunkan tangan gadis itu “Biar aku bantu,” katanya yang dengan cepat dapat mengambil buku itu “Kau mau yang ini?” tanya nya dengan lembut.
Meridia mengangguk seraya menerima buku itu dengan senyuman senang “Terima kasih banyak, Lucien,” lelaki berambut kehitaman itu sedikit membeliak melihat betapa indahnya senyum tulus Meridia jika dilihat dalam jarak sedekat ini “Kau sepertinya sangat senang bisa menemukan buku itu,”
“Ya, kau benar.”
“Memang apa istimewanya buku itu?”
“Sebenarnya tidak ada,” Meridia membuka sampul buku lalu mengelus halaman paling pertama yang ia buka “Tapi aku sama sekali belum pernah memiliki kesempatan untuk membacanya.”
“Kenapa begitu?” Lucien menatap buku dongeng di tangan Meridia.
Meridia bercerita dengan senyum kecut ketika mengingat kembali kesulitannya bertahan hidup di mansion Emerald walau dia membawa darah asli Ziel dan Zoya dalam dirinya. “Aku tak pernah mendengarkan atau dibacakan dongeng, jadi aku sangat ingin membacanya,” gumaman Meridia membuat Lucien terdiam seribu bahasa.
Kedua tangannya mengepal erat hingga urat-urat tangannya menimbul “Kau sudah melakukan yang terbaik. Istriku ini memang sangat hebat,” meski sekarang Lucien memasang senyum tapi dapat terlihat jelas rahang pemuda itu mengeras menahan amarah. “Maaf aku tidak bisa membantumu saat kau butuh,” batin Lucien.
Meridia duduk di salah satu kursi yang berhadapan dengan Lucien, dia sudah tidak sabar untuk membacanya. Meridia sangat ingin tahu macam-macam dongeng yang ada di abad pertengahan dan ingin membandingkannya dengan dongeng yang ada pada zamannya sebelum berpindah jiwa.
Selagi membaca, Lucien dengan sabar menunggu dan memperhatikan Meridia tanpa bosan. Melihat Meridia membuat hatinya terasa tenang dan damai “Jika kau sudah selesai membaca, kembalilah ke kamarmu dan istirahatlah” kata Lucien yang melirik jam “Aku mau pergi sebentar.”
“Ya, aku mengerti.”
“Aku pergi dulu,” Lucien mengelus puncak kepala Meridia. Selepas membelakangi Meridia, tatapannya berubah menjadi picingan tajam “Sial. Susah sekali menjadi orang yang penyabar,” lirihnya sambil menyisir poninya ke belakang menggunakan jari-jari panjang miliknya, memperlihatkan dahi yang membuat kadar ketampanannya bertambah.
Satu jam kemudian setelah menyelesaikan satu buku, Meridia langsung keluar dari perpustakaan menuju pintu utama. Dia berencana keluar dari tabir secara diam-diam “Dia pasti masih sibuk dengan pekerjaannya. Kalau aku pergi sebentar, dia tidak akan sadar ‘kan?” gumamnya sambil meraih gagang pintu.
Meridia membuka pintu dan terkejut saat merasakan hembusan angin yang cukup kencang menerpa tubuhnya hingga ia sedikit terhuyung ke belakang. iris biru nilanya melirik ke bawah dan ia nyaris jatuh begitu melihat pintunya tepat berada di ujung tebing yang mana di bawah terbang tersebut terdapat laut lepas.
Meridia memundurkan tubuhnya dan masuk lagi ke dalam. Mulutnya tidak bisa tertutup merespon kekagetannya. “Apa aku sedang berhalusinasi di siang bolong begini?” tanya Meridia pada diri sendiri. Ia menjulurkan kepalanya ke luar pintu lagi dan memang benar penglihatannya, lantai depan dan seluruh halaman istana Navarro sudah hilang tergantikan oleh pemandangan laut luas dari atas tebing tinggi.
Lucien tersenyum miring mengamati tingkah laku Meridia di depan pintu rumahnya. “Pfft apa kau sedang mencoba kabur?” gadis yang tengah kebingungan itu terperanjat kaget akibat terlalu fokus dan tak menyadari kehadiran Lucien. Ia pun menoleh ke belakang dengan takut-takut “Aku sudah bilang, kau tidak akan keluar tanpa aku.”
“Tidak kok, aku hanya ingin pergi ke taman saja,” sanggahnya dan bersikap seolah tak terjadi apa-apa.
“Aku tahu apa yang kau pikirkan, Meridia,” mata elangnya yang tajam menatap lurus netra biru Meridia. “Kemarilah” Lucien mengangkat tangan kanannya. “Kemari” ulangnya ketika Meridia tak bergerak dari tempatnya berdiri.
Melihat tatapan Lucien yang cukup mengerikan membuat Meridia ragu untuk mendekat. Lucien pasti akan melakukan sesuatu jika aku menuruti perintahnya, itulah yang ada di pikiran Meridia. “Aku tidak akan melakukan apapun jadi kemarilah, kau tak perlu takut.”
Karena tak kunjung mendapat respon akhirnya Lucien yang bergerak mendatangi Meridia dengan mengambil langkah panjang “Apa kau sebegitunya ingin keluar?”
“Ya.”
“Besok kita juga akan keluar, ‘kan? Besok kita akan kembali malam hari jadi kau bisa menikmati pemandangan di luar istana sepuasnya,” Lucien memeluk tubuh Meridia, satu tangannya mengelus lembut surai biru dongker Meridia “Jangan jadi anak nakal, Meridia. Aku sangat tidak tahan jika melihatmu melakukan ini.”
“Ayo kembali ke kamarmu. Akan aku antar.” Meridia yang saat itu posisi kepalanya tertunduk secara tidak sengaja melihat sesuatu yang membuat penasaran dibalik lengan baju Lucien. Sekilas tanda itu seperti sebuah tato berbentuk guguran kelopak bunga namun warnanya justru terlihat seperti kulit yang terbakar “Tanda apa yang ada di tanganmu itu?”
Lucien menarik lengan bajunya ke atas dan menampakkan dengan jelas tanda yang Meridia lihat “Tanda apa ini?” tanya Meridia ulang.
“Ini? aku baru saja merokok dan aku tidak sengaja melukai tanganku sendiri.”
Meridia masih mengamati benar-benar tanda dipergelangan tangan pemuda itu “Apakah luka yang tidak disengaja memang bisa sebagus ini?”
“Kau jeli sekali. Di dunia ini terkadang ada sebuah kebetulan yang sangat indah, sama seperti pertemuanku denganmu,” hanya itu tanggapan Lucien.
“Apa?”
“Sudahlah, cepat masuk ke kamar mu. Aku akan kembali lagi kesini.” Lucien langsung mengunci pintu kamar Meridia dari luar dan membawa kunci itu bersamanya.
Saat Meridia berdiri di atas balkon kamarnya untuk melihat lagi kegilaan yang terjadi, ternyata halaman istana Navarro sudah kembali seperti sedia kala. Ada dua tukang kebun dan beberapa penjaga yang sedang berpatroli “Apa-apaan ini? apa Lucien bisa menggunakan sihir?”
Di ruangan lain, Lucien mengadakan pertemuan dengan Hugo, Christ, dan Dylan. Lucien duduk dengan angkuh di atas kursi singgasana nya, menatap tajam tiga pemuda yang sudah berkeringat dingin serta wajah yang memucat itu “Jangan teledor lagi. Aku tidak segan-segan akan memenggal kepala kalian. Selain itu, aku bisa membuat tubuh kalian menjadi makanan para gagak jika kalian sampai mengulangi kesalahan ini.”
Tiga lelaki tersebut menunduk dalam, berusaha tetap berdiri tegap menahan kaki mereka yang terasa lemas tak kuat menahan tekanan di ruangan itu. Tekanan yang dirasa mereka bertiga sangatlah kuat seperti gravitasi bumi yang sangat kuat menarik mereka “Aku tidak dengar jawaban kalian.”
“Baik, Yang Mulia!”
“Jangan pernah biarkan Meridia keluar barrier sendirian,” Lucien memajukan tubuhnya “Sebelum aku menghancurkan mereka, aku tidak ingin Meridia menghabiskan terlalu banyak waktu di luar.”
“Dimengerti, Yang Mulia!”
“Pergilah. Urus semuanya untukku tanpa satu kesalahan pun.” tanpa basa-basi lagi Hugo sekawan pergi dari ruangan itu untuk melaksanan apa yang tuan mereka minta.
Tak banyak hal yang bisa Meridia lakukan di dalam kamar di siang hari begini. Rasanya sangat sunyi dan cukup membosankan karena dia masih belum terbiasa bersantai.
Akhirnya Meridia memejamkan mata dan menyandarkan kepalanya ke bahu sofa. Kilas balik tentang kejadian semalam terus bermain di otaknya hingga membuat gadis itu tak tenang. “Itu terasa nyata, ” tapi Meridia tak mendapati bekas apapun di tubuhnya.
Ya, semalam sebelum Meridia ditemukan tergeletak di lantai, Meridia mendapati sebuah luka bakar di lehernya dan itu memerah sakit. Sayangnya Meridia hanya ingat sensasinya, bukan penglihatannya.
Meridia berlari menuju cermin, mengecek dari atas kepala hingga ke ujung kaki berulang kali “Memang tak ada apa-apa, lalu apa itu sebenarnya? Penglihatan masa depan? Tidak, aku ‘kan hanya seorang manusia biasa.”
“Ayo berpikir Meridia. Aku harus bagaimana, aku masih belum tahu apa yang sebenarnya terjadi di rumah ini.” tidak ada satupun orang disini yang bisa ditanyai. Selain terlihat diam, mereka juga tampak menghindari banyak berinteraksi dengan Meridia entah karena alasan apa.
“Aku belum bisa menemukan petunjuk di perpustakaan berarti selanjutnya adalah kamar dan kantor, aku harus bisa mencuri waktu,” gumam Meridia yang sudah kembali merebahkan diri di sofa. “Sepertinya kamar masih terdengar lebih aman dibanding ruang kerja.”
Meridia menengok ke arah pintu kala mendengar bunyi gemerincing kunci dari luar kamarnya. Beberapa detik setelahnya, pintu terbuka dan menampakkan sosok Lucien yang membawa buket bunga di tangannya. “Oh hai, aku pikir kau sedang tidur siang.”
Meridia merubah posisinya menjadi duduk. “Apa yang kau lakukan disini?” Meridia penasaran pekerjaan macam apa yang dimaksud oleh Lucien sebab terlalu singkat.
“Um, menjenguk calon istriku?” Lucien tertawa kecil melihat Meridia. “Kenapa kau memasang ekspresi seperti itu?” dahi Meridia berkerut dan tatapan curiganya membuat Lucien menyadari sesuatu “Apa kau baru saja mengalami mimpi buruk?”
“Tidak.”
“Oh begitu kah?” Lucien meletakkan buket bunganya di atas meja “Mau jalan-jalan di taman bersamaku?” tawarnya sembari duduk disamping Meridia.
“Aku lelah, aku mau istirahat saja,” jawabnya ketus.
“Ahaha kau marah padaku karena aku tidak membiarkanmu keluar hari ini?” Lucien memiringkan kepalanya guna melihat wajah Meridia yang berpaling darinya. “Tidak.”
Lucien merotasikan kedua bola matanya seraya menghela nafas “Baiklah, baik, kau menang. Kita akan pergi ke pekan raya sekarang.” Lucien menepuk pucuk kepala Meridia, gadis itu menoleh dengan terkejut. “Tapi aku punya syarat yang harus kau penuhi.”
“Apa itu?”
“Pertama, jangan pergi sendirian atau sengaja menjauh dari sisiku. Kedua, jangan pernah bicara dengan lelaki mana pun. Jika kau melanggar satu atau bahkan keduanya sekaligus, aku tidak akan main-main lagi.” Lucien tidak menyembunyikan ekspresi sesungguhnya kali ini. ia benar-benar menekankan dua syarat yang dimintanya pada Meridia “Apa kau mengerti?”
“Ya, aku mengerti.”
“Kalau begitu tersenyumlah, aku tidak suka melihatmu cemberut begitu.”
Meridia menuruti keinginan Lucien meski senyumnya terlihat sangat dipaksakan. Baginya syarat yang diminta Lucien tidaklah sulit untuk dilakukan. Meridia sedikit keberatan dengan syarat pertama karena sudah pasti dia tidak akan bisa kabur.
Sejujurnya, Meridia kembali teringat oleh ingatannya yang seperti mimpi itu ketika melihat ekspresi serius Lucien tadi tetapi kali ini dia sudah sangat tidak sabar untuk keluar dari pembatas dan menyaksikan pekan raya sehingga dia tidak begitu memikirkannya.
“Haha pantas kau sejak tadi bersikap cuek padaku, rupanya ini caramu membujukku,” Lucien beranjak dari sofa. “Aku akan menunggu di luar.”