
“Kau begitu menderita saat melihat Marigold menitikkan airmata. Kau akan segera mengumpulkan dokter dari segala penjuru untuk mengobati Marigold yang hanya sedang terkena demam diawal musim panas.”
“Apa yang ingin kau katakan?”
“Apa kau pernah sekali saja merasakan hal yang sama saat melihatku menderita dan kesusahan?” Ziel tak dapat berargumen, dia hanya diam mendengarkan keluhan adik kembar Marigold itu. “Jika itu aku, pasti kau akan membiarkanku mati membusuk di tempat, kau juga tidak akan mempermasalahkannya. Kau akan menutup mata dan telingamu. Kau tidak akan peduli sedikitpun."
Selama ini Ziel bukan tidak menganggap kehadiran Meridia. Dia hanya membenci kesialan yang akan Meridia berikan, dan muncul ketakutan tersendiri setelah tahu bahwa Meridia membawa kutukan yang bisa membahayakan semua yang Ziel miliki.
Bagi Meridia pasti menghancurkan keluarga Emerald seperti semudah menjentikkan jari, itu pikiran yang dimilikinya. Ziel hanya ingin melindungi keluarganya dari bahaya itu tapi dia juga tidak ingin menelantarkan Meridia begitu saja.
“Setelah kau memperlakukanku seperti orang asing dan hanya sebatas pelayan di rumah ini, sekarang kau mendadak mengambil sikap sebagai seorang ayah dan seenaknya mengatur hidupku? memangnya kau siapa? kau berkontribusi apa pada hidupku? tidak ada.” Ujar Meridia sarkas.
“…” Ziel lagi-lagi hanya terdiam tertohok mendengar ucapan Meridia.
“Aku berhak atas hidupku sendiri. Kau mungkin bisa memberiku identitas baru, seperti putri kerabat dekatmu atau siapapun lah. Apa kau pernah memikirkan bagaimana reputasimu dipertaruhkan dengan membawaku ke kehidupan kalangan bangsawan?”
“Meri-“
“Jangan bercanda. Aku sudah hafal dengan alur ini. Kau akan menyalahkanku atas langkah gegabah yang kau ambil sendiri. Kau terlalu cepat ingin mengusirku sampai tidak memikirkan dampaknya.”
“MERIDIA!” tubuh kurus gadis raven itu berjengit kaget mendengar sentakan marah ayah kandungnya.
Namun bukan berarti Meridia akan tetap diam “CUKUP! AKU SUDAH MUAK DENGAN SIKAP KALIAN TERHADAPKU!” Meridia mengeraskan suaranya tak kalah tinggi sampai-sampai Ziel mundur selangkah karena kaget.
“Aku sangat benci keluarga ini!” teriaknya frustrasi. Gadis penyabar itu naik pitam, wajahnya memerah akibat menangis dan marah sekaligus, lalu sesuatu yang sedari awal dia tahan semuanya pecah keluar. “Kalian lihat saja nanti. Hanya tinggal menunggu waktu sampai keadaan kita terbalik. Apapun yang kau dan keluarga ini lakukan, semuanya tidak akan berjalan lancar. Aku bersumpah kalian- terutama kau, kau akan merasakan keputusasaan yang sama dengan yang ku rasakan selama ini. Nikmati saja kebahagiaan kalian yang hanya akan sampai besok.”
Hening melanda. Angin dingin menusuk seakan memenuhi ruangan. Ziel diam terpaku. Seketika tubuhnya menggigil hingga membuat bulu kuduknya meremang.
Perasaan menakutkan macam apa ini? Pikirnya. Yang baru saja terjadi, Ziel seakan benar-benar mengerti dan merasakan betul semua yang dikeluarkan Meridia. Selama ini, Meridia tak pernah menangis ataupun berkata kasar kepada orang lain walau selalu ditindas. Sekarang sifatnya seakan berbanding terbalik.
“Tunggu! Meridia!” Ziel terus memanggil nama saudari kembar Marigold ketika dia berlari keluar meninggalkan ruang kerjanya. Dia ingin meminta Meridia untuk menarik kata-katanya kembali.
Disaat yang sama, Marigold yang semula sudah tertidur pulas segera membuka mata dan duduk dengan kaget. Kedua matanya terbuka lebar, degup jantungnya menjadi tak biasa.
“Apa yang terjadi? Perasaan macam apa ini?”
Kegelisahan menyelimuti dirinya sampai kantuknya hilang sempurna dan menyisakan tanda tanya besar di kepalanya. Marigold tak mendengar suara apapun, ia juga tak sedang bermimpi buruk. Tetapi sesuatu seakan membangunkannya dari tidur. “Perasaan ini…ini bukan pertanda baik,” gumamnya seraya menatap ke pintu kamar.
•
•
•
KRAK!
Sementara di suatu tempat, tepatnya di sebuah mansion besar yang sunyi dan gelap layaknya bangunan terbengkalai memperdengarkan sebuah bunyi nyaring dari pecahnya sebuah cermin besar dalam ruangan. Bersamaan dengan itu tawa keras menyusul, menggaung nyaring dalam satu ruangan polos yang memiliki hawa dingin nan mencekam.
“Hahahaha akhirnya…! akhirnya waktu yang ku tunggu-tunggu telah tiba,” kata seseorang itu dengan bahagia sambil menatap cermin berdesain antik yang sudah cacat masih dengan menyentuh bayangannya sendiri yang terpantul acak di sana.
“Yang Mulia, apa yang selanjutnya akan kita lakukan?”
“Memangnya apa lagi? Aku akan bebas melakukan apapun padanya. Aku akan beraksi besok. Aku tidak suka membuang-buang waktu.” senyum bengisnya terpampang jelas pada wajah dingin nan rupawan itu. “Siapkan pedangku. Aku akan berburu malam ini.”
“Segera saya laksanakan, Yang Mulia.”
Mata tajamnya yang menyala dalam gelapnya ruangan itu bergerak menatap ke langit malam yang hanya menampakkan sosok bulan sabit sendirian tanpa satupun bintang yang menemani “Sebaiknya ku apakan dirimu? Ah, aku tidak sabar menunggu sampai besok,” gumam sosok misterius itu masih dengan menunjukkan senyuman seorang psiko.
Malam itu, di pinggiran kota Goldenleaf penjagaan semakin diperketat. Banyak prajurit istana yang dikerahkan untuk berpatroli memastikan tak ketinggalan perkembangan lanjutan soal banyaknya korban penyakit mematikan yang sampai sekarang belum dapat diidentifikasi apa penyebab dan gejalanya.
Selama satu bulan terakhir, masyarakat kota tersebut telah diimbau agar tak berada di luar rumah melebihi jam delapan malam, untuk berjaga-jaga apabila penyakit itu bukan yang menyebar secara alamiah melainkan perbuatan seseorang. Sihir bukanlah hal asing lagi di dunia ini sehingga mereka juga mewaspadai para penguasa sihir mikro maupun makro.
Sebentar lagi waktu menunjukkan tengah malam dan Arden tengah mempersiapkan peralatannya sebelum berangkat berpatroli. Helena kebetulan baru ingin mengecek putra tunggalnya itu di kamar dan mereka bertemu di dekat pintu keluar “Arden, mengapa kau ikutan pergi? Sudah ada yang bertugas di masing-masing pos ‘kan? Jangan bahayakan nyawamu nak.”
Arden tersenyum lembut seraya memeluk singkat tubuh hangat sang ibu “Ibu, kau terlalu khawatir. Aku sudah berlatih di bawah pelatihan ekstrem Grand Duke William selama bertahun-tahun, aku sudah cukup masuk kualifikasi menjadi penjaga perbatasan.”
“Apa yang kau bicarakan ini, eh? Aku tidak suka kau banyak alasan. Masuklah ke kamarmu, tidur saja. Ibu tidak akan bisa tidur jika kau keluar.”
Arden menuntun Helena duduk disofa “Ayah sudah berjaga malam kemarin. Sekarang berarti gilaranku. Aku hanya akan di luar sebentar, dua jam saja saja kok.”
“Tapi tetap saja Arden…”
“Ibu. Aku tidak bisa membiarkan banyak orang kehilangan anggota keluarga mereka. Aku harus membantu raja segera menemukan penyebabnya.”
Helena terpaksa membiarkan putra semata wayangnya pergi setelah Arden terus memohon dan menjelaskan alasan kuat yang ia miliki. Helena akui, dedikasi Arden untuk kota kelahirannya sendiri benar-benar sekuat William. Semua sifat kepemimpinan William disalin sempurna oleh putranya.
“Huh…aku tidak tahu itu sisi yang baik atau buruk.” tubuhnya menegang kaget kala merasa sebuah tangan besar merangkul bahunya dari belakang “William, aku pikir kau sudah tidur. Kau terbangun?”
William tak menjawab dan hanya menatap lurus ke depan yang mana Arden tak lagi terlihat ditelan gelapnya tempat yang sudah tidak lagi diterangi lampu “Jangan terlalu cemas. Dia hanya sedang menguji kemampuannya sendiri. Kita hanya perlu beri dukungan. Aku yakin kau dan aku memiliki pemikiran yang sama tentang putra kita.”
Helena luluh begitu mendengar suara penuh cinta kasih dari suara serak suaminya “Kau benar. Aku seperti meragukan kemampuannya yang selama ini sudah dia asah.”
William membenarkan selendang Helena yang melorot menuruni bahu mulusnya “Oh astaga, aset berhargaku terpampang,” goda pria tampan berwibawa itu dengan wajah datar kepada istrinya.
Wanita berperangai kalem itu terkekeh malu “Kau pandai sekali mengembalikan suasana hatiku.” Hubungan harmonis mereka berdua tetap terjaga dengan baik meski pernikahan mereka sudah terjadi belasan tahun lalu.
“Apa boleh buat. Aku ini suamimu. Ayo kita segera beristirahat. Aku akan minta Jeremiah untuk menunggu Arden.”
“Baiklah.”
Arden turun dari kuda hitam yang ditungganginya untuk mendengar laporan langsung dari empat penjaga yang bertugas “Apa kalian melihat sesuatu yang mencurigakan di tempat ini?” tanya Arden segera setelah empat prajurit istana itu berkumpul menghadapnya.
“Belum ada tanda-tanda Yang Mulia. Kami juga tidak bertemu satu orang pun selagi berjaga.”
“Baguslah.”
Arden ditemani oleh dua prajurit di sana. Arden terlalu fokus pada tujuannya ‘menyelidiki’ sehingga dia tidak begitu memusingkan jika ada terdengar obrolan karena baju zirah bergemerincing selagi mereka bicara menjadi penanda bahwa itu adalah para prajuritnya.
“Aku mau ke tempat kemarin,” dari sanalah Arden berpisah dengan kedua prajurit yang menemaninya. Arden ingin menyelidiki tempat terakhir di mana ada satu lagi korban seorang bartender yang terkena penyakit itu.
Sampai akhirnya ada hal yang membuyarkan konsentrasinya. Indera pendengarannya menangkap sebuah suara perdebatan antara dua orang. Saat Arden mendekat ke sumber suara, barulah dia bisa menguping dengan jelas pembahasan mereka.
“Tunggu Nanda! Kita masih harus berjaga di sebelah sana! Kenapa sejak tadi kau terus-terusan ingin lari?! Tugasmu tidak bisa diwakilkan!”
“Lepaskan aku, sialan! Aku harus pergi dari sini. Aku akan menemui ajalku malam ini jika aku tidak segera pergi!”
“Huh? Apa maksudmu bicara begitu?”
“Minggir!”
Arden hendak mengejar mereka berdua, akan tetapi dari sudut matanya ia bisa melihat sebuah bayangan tak jauh darinya memasuki sebuah gang kosong tak berpenjaga dengan langkah cepat. Arden jelas melihat bayangan itu menggunakan jubah hitam.
Pemuda bersurai pirang itu menjadi bimbang, apa yang harus dia urus terlebih dahulu? Haruskah dia mengejar dua prajurit yang juga sedang kejar-kejaran? ataukah dia segera membuntuti bayangan yang dia lihat barusan?
Arden memilih untuk mengikuti ke gang di mana dia lihat bayangan itu masuk ke sana. Gang itu bukan jalan buntu maupun jalan sempit tetapi ia menghubungkannya dengan jalan besar yang sering dilalui masyarakat.
Lampu jalanan yang remang-remang tak cukup membantu penglihatannya. “Kemana perginya dia?” Arden kehilangan jejaknya dengan cepat. “Bagaimana bisa dia menghilang secepat ini?”
Arden menyusuri jalanan hanya dengan mengandalkan insting, menebak sendiri kemana kiranya sosok bayangan itu pergi. Kedua alisnya bertaut “Mengapa di sekitar sini tidak ada yang berjaga?”
Arden menengok cepat ke sebuah gang kecil yang notabenenya buntu, biasanya dijadikan tempat pembuangan sampah.
Sebuah erangan terdengar lirih dan hilang begitu saja. Tangan Arden siap menarik pedangnya keluar selagi berjalan mendekati gang yang hanya bermandikan sinar rembulan kala itu. kedua matanya menyipit memfokusnya bayangan yang tertangkap matanya.
“Apa-apaan ini?”
Sosok berjubah hitam yang baru beberapa menit lalu dia lihat sekarang tengkurap di tanah tak bergerak sedikitpun. Arden tetap berpikir positif. Ia pikir itu adalah pria yang sedang mabuk dan akhirnya tumbang setelah tak kuat berjalan lebih jauh.
Arden berjongkok di dekatnya “Permisi?”
Tak ada jawaban. Dengkuran saja tak terdengar.
Nafas Arden tercekat “Tidak mungkin, apakah…?!” Arden segera membalik sosok yang menghadap tanah itu agar bisa dia lihat wajahnya. Kedua matanya membulat sempurna.
Ya, benar. Itu adalah prajurit yang tadi hendak kabur setelah mengatakan sesuatu yang sulit dimengerti. Sekarang di depan matanya prajurit itu sudah terbujur kaku dengan kulit yang mengeriput dan mengering secara bertahap dalam kurun waktu yang cepat.
Hanya dalam beberapa menit saja proses pengeroposannya sudah setara dengan mayat yang dikubur selama hampir setahun. Garis merah dilehernya masih terlihat baru, anehnya tak ada setitik darah pun yang menetes.
Arden kemudian menyuntikkan sebuah cairan berwarna biru tua ke tubuh yang tak lagi bernyawa itu dengan harapan ada sesuatu yang dapat terhenti.
Sebelumnya Arden terus mempelajari ramuan dengan pakar obat yang ayahnya sewa untuk membantu mencaritahu apa pemicu penyakit aneh yang tengah membuat resah. Kini dia mencoba bereksperimen.
Tak ada yang berubah. Proses pengeringan tetap terjadi, dagingnya seolah menguap, hanya tersisa kulit keriput dan tulang yang mulai menunjukkan pengeroposan.
“Ini sangat mengerikan.” Obat yang dia masukkan tak memberikan efek memperlambat. “Aku kira dia pergi ke arah lain, mengapa dia tiba-tiba ada di sini?”
Aneh. Arden yakin kejadian saat prajurit itu berusaha kabur dengan saat ia melihat orang berjubah hanya berjarak sepersekian detik. Tidak mungkin manusia bisa berpindah tempat secepat itu.
Arden kembali ke pos untuk meminta perwakilan memanggilkan pihak yang bertugas membawa mayat ke istana. “Kau ada di sini?” Arden melihat teman Nanda sudah berada di pos, kebingungan dan juga kelelahan.
“Yang Mulia. Maafkan saya, saya tidak menjaga wilayah bagian saya dengan benar. Saya malah meninggalkannya dan beristirahat di sini,” dia pikir Arden akan menegurnya karena berdiam diri di pos.
“Aku dengar perdebatanmu dengan temanmu. Bagaimana, apa dia berhasil kabur?” Arden hanya ingin mengetahui dari segi pandang teman Nanda. Jika hipotesisnya benar maka penyakit itu memanglah perbuatan sekelompok atau seseorang.
“Ya, Yang Mulia. Saat saya mengejarnya, dia berlari sangat cepat masuk ke semak-semak dan setelah itu benar-benar menghilang. Sebelum itu saya sungguh mendengar suara dia masih menginjak dedaunan kering, disusul dengan suara erangan dan saat saya sampai ke dalam semak, dia sudah tidak ada.”
Arden menghitung waktu di antara dua kejadian yang saling berhubungan ini. Selama proses pengejaran prajurit itu Arden sudah lebih dulu menemukan jasad Nanda tergeletak di atas tanah dekat pembuangan sampah. Kecurigaannya meningkat drastis.
“Jangan terkejut. Sebenarnya aku sudah menemukan temanmu.”
“Sungguh?”
“Dia sudah tiada. Bisakah kau panggilkan pihak istana? Jasadnya harus diantar ke sana sekarang juga.”
“Baik, Yang Mulia.”
Raja tidak pernah melarang adanya sihir atau pemakai sihir tinggal di negaranya. Hanya saja dia sendiri tidak mempekerjakan seorang penyihir di istana, sama sekali tak pernah membahas perkembangan sihir di beberapa daerah, dan sebagainya. Singkatnya, dia tidak peduli dengan apapun yang berbau sihir.
“Apa ini perbuatan seorang penyihir yang dilakukan untuk memberontak kepada Raja?” pemuda tampan nan pemberani itu kehilangan rasa lelah. Sekali mendapat petunjuk, dia tidak akan menyia-nyiakannya.
Menjelang dini hari, mereka semua pulang untuk beristirahat. Satu per satu prajurit mulai berdatangan ke pos untuk mencatat laporan, lalu sebagian dari mereka kembali ke istana dan sebagiannya pulang ke istana Palmieri.
“Huft, aman.”
“Kau terlalu sembrono tadi. Untung saja Yang Mulia tidak teledor sepertimu.”
“Hei. Aku sudah bekerja keras untuk menghapus jejak. Setidaknya kau hargai usahaku.”
“Usahamu untuk memberi petunjuk ke mereka?”
“Tck. Kau ini memang tidak bisa diajak bicara baik-baik.”
Dua orang lelaki berdiri di balik bangungan sembari mengintai aktivitas para prajurit yang berbondong-bondong pulang. Tampaknya mereka juga membutuhkan laporan maka dari itu mereka mengintai.
“Ayo pulang.”
“Y-Yang Mulia?”
“Tenang saja. Kita tetap akan aman.”
“Yang Mulia, Anda memang sangat keren.”
“Tutup mulutmu atau aku potong pita suaramu itu.”
“B-b-baik, Yang Mulia.”
Dua anak buahnya merasa sedikit heran. Biasanya dia tidak marah ‘selembut’ ini. Tetapi malam ini, setelah kejadian di mana cermin ajaibnya retak dan terbelah, tampaknya suasana hati lelaki itu tidak seburuk hari-hari biasanya.