TRAPPED BY THE SECOND MALE LEAD

TRAPPED BY THE SECOND MALE LEAD
CHAPTER 19



Lucien mendongak menatap ke pojok kamar Meridia di mana terdapat tumpukan barang bekas yang sudah tak terpakai menumpuk tinggi. Pemuda itu yakin Ziel bukan membiarkan barang itu tetap di sana karena tak punya tempat lain untuk memindahkannya. “Ini bekas gudang? Kau sungguh tidak apa tidur ditempat tak layak huni begini?” Lucien tampak heran melihatnya.


“Aku tidak keberatan. Lagipula bukan hanya aku yang tinggal dikamar seperti ini.” dalihnya untuk tidak memperpanjang pembahasan.


Lucien menyandarkan bahu ke pintu “Apa kau tidak membenci mereka?”


“Tidak juga,” ia memberi jeda. Meridia menatap kedua iris Lucien yang semakin lama dipandang semakin memerah “Kau bilang kau akan menunggu diluar.”


Pemuda itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia lalu berucap “Aku penasaran ingin melihat bagaimana kamarmu.”


Meridia tak lagi menjawab. Dia berjalan keluar kamar melewati Lucien di pintunya dengan detak jantung yang berpacu lebih cepat dari pacuan kuda. Sungguh tidak nyaman berada dekat dengan orang misterius yang menakutkan. Dia tak ingin berurusan lebih jauh dengan si second male lead yang amat mencurigakan ini.


Sebelum keluar dari asrama pelayan, Meridia mengajukan sebuah pertanyaan “Kau tidak akan melakukan apa-apa pada keluarga ini bukan?”


Lucien tampak sedang berpikir, memutuskan apa yang harus ia lakukan selanjutnya “Mungkin tidak, selagi mereka tidak mengusikmu. Tapi aku tidak janji.” katanya seraya menyejajarkan langkah kakinya dengan Meridia.


“Aku punya banyak hal yang ingin aku tanyakan padamu.”


Lucien mengangguk kecil “Kita bahas nanti saja setelah sampai di rumah ya.”


Meridia semakin tak nyaman dengan perasaannya “Bagian mana lagi yang tidak aku ingat dari novel ini?” itulah pertanyaan besar yang bersarang di dalam otaknya.


“Kau tidak sedang berusaha lari dariku, ‘kan?” Lucien yang notabenenya lebih tinggi dari Meridia melirik pucuk kepala biru tua gadis itu dengan tajam.


Tubuh Meridia menegang. Ia menengadahkan wajah menatap si lawan bicara “Eh? tidak.” balasnya berusaha menyembunyikan ketegangan yang sedang ia rasakan.


Niat Meridia ingin melihat keluarganya dulu sebelum dia benar-benar mengangkat kaki keluar dari rumah itu tetapi Lucien melarangnya dengan alasan dia tak punya banyak waktu karena dia punya pekerjaan lain.


Meridia juga tidak tahu kalau cara mereka pulang adalah dengan menaiki kereta khusus berlambang klan Navarro. Sekedar informasi, kereta bersimbol logo keluarga bangsawan biasanya digunakan untuk acara resmi atau kepentingan yang hanya dipakai oleh pemimpin keluarga atau anggota keluarga yang sah.


Mengejutkan sekali bukan? Meridia menganggap itu berlebihan. Hanya menjemput seorang pelayan pun dia malah menggunakan kereta semewah itu. Ini bisa jadi perbincangan banyak orang yang melihatnya.


Saat diperjalanan, Meridia terus menatap ke luar jendela. Pikirannya entah melayang kemana. Sekarang Meridia hanya merasa bimbang, haruskah ia senang? Mungkin dia memang terbebas dari belenggu Ziel, namun cara bebasnya dia sungguh diluar nalar.


Meridia tidak yakin dengan ingatannya sendiri. Lucien jelas-jelas menyukai Marigold tapi kenapa lelaki tampan nan dingin ini malah terlihat lebih tertarik kepada dirinya?


“Kenapa kau menyembunyikan identitasmu yang sebenarnya?” Meridia tidak tahan memendam seluruh rasa penasarannya yang membuncah.


Lucien yang sedang membaca sesuatu di gulungan kertas itu menghentikan aktivitasnya “Hm? Sudah jelas kau tidak akan percaya padaku kalau aku mengatakannya, bukan?”


“Itu ‘kan karena penampilanmu yang kau ubah dan tidak ada seorang pun yang ingat jelas bagaimana wajahmu.”


“Ah, begitukah?”


“Aku juga dengar kau nyaris tak pernah terlihat di muka umum. Jadi ini yang kau lakukan? Bersembunyi sebagai pengelana dan menghabiskan waktu berkeliaran tidak jelas?” tanya Meridia lagi. Ucapannya terdengar seperti sedang meledek walau nyatanya Meridia hanya mengekspresikan kebingungan yang ia rasakan saja.


Pemuda berambut hitam itu tertawa kecil “Mau bagaimana lagi, aku lebih nyaman begitu. Aku tidak berminat melanjutkan tahta ayahku. Aku sudah pernah bilang pada ayah kalau aku ingin jadi tukang kebun saja.”


“Itu tidak masuk akal.”


“Satu-satunya yang masuk akal di dunia ini adalah tidak ada yang masuk akal. Kau mengerti maksudku, 'kan?” Meridia tak bisa berdebat dengan itu. Ucapan Lucien memang benar. Bisa berada ditubuh seorang karakter novel saja sudah sangat di luar nalar.


Mereka telah sampai di istana milik Lucien. Sama seperti sebelumnya, suasana diseluruh istana itu masih terasa suram meskipun begitu banyak orang beraktivitas di dalamnya.


Puluhan pelayan wanita berjajar rapi menyambut kepulangan majikan mereka “Selamat datang kembali, Yang Mulia Duke Navarro.” semua menurunkan pandangan dan membungkuk dalam memberi hormat.


Lucien turun dari kereta terlebih dahulu, lalu menawarkan tangannya pada Meridia “Ayo kita masuk,” ujarnya dengan senyum hangat. Terpaksa Meridia harus berpegangan tangan lagi dengan pemuda itu.


Suasana di dalam istana sudah berubah. Sekarang lebih terasa hangat dan memiliki hawa kehidupan, lain dengan semalam yang suasana tiap sudut ruangnya sangat dingin dan kelam.


“Bagaimana jika Marquess dan Marigold menyebar berita ke luar tentangmu? Aku tidak akan bertanggung jawab untuk itu.”


Lucien mengangkat bahu acuh “Aku tak peduli pandangan orang lain terhadapku jadi kau tak perlu mencemaskan soal itu. Apapun tanggapan mereka itu tak akan mempengaruhi hidupku.” Itulah tanggapan santai dari Lucien yang kurang memuaskan ditelinga Meridia karena bukan jawaban semacam itu yang ia butuhkan.


Dia saja bisa mencekik Marigold tanpa menyentuhnya, aku tidak yakin dia tidak melakukan apa-apa pada mereka.


Meridia penasaran mengapa Lucien sangat tertutup dengan dunia luar terlebih lagi dia juga termasuk seorang bangsawan berkasta tinggi yang mana tentu mudah baginya untuk berbisnis, mencari pasangan, dan lain sebagainya. Namun dilihat dari ketidaktertarikan-nya pada masalah ini membuktikan kalau Lucien memang tidak seperti bangsawan lain yang selalu mementingkan reputasi dimata publik.


Tidak lama kemudian mereka sampai di sebuah ruangan berpintu besar dan tampak sangat berkelas “Sekarang ini adalah kamarmu dan tepat di depan pintumu itu adalah kamarku.” Lucien menunjuk pintu yang sedang mereka belakangi. Pemuda itu membukakan pintu untuk Meridia “Silakan masuk.”


Meridia tak dapat menutup mulutnya setelah melihat isi ruangan mewah yang Lucien sebut sebagai kamar itu. Jangan tanyakan kedudukannya sebagai seorang Duke yang artinya punya banyak uang.


Semua terisi penuh dengan barang mewah, terdapat dua lemari besar dengan cermin besar ditengahnya, Meridia baru pertama kali melihat sebuah ranjang yang seindah itu. Bahkan terdapat perapian di dalam kamar. Meridia tak pernah memimpikan akan menempati kamar yang lebih mewah dari kamar Marigold.


Kemegahan kamar itu sudah setingkat dengan kamar seorang permaisuri “Ini sedikit berlebihan…”


“Berlebihan? Ini belum seberapa, masih ada banyak hal yang belum ku perlihatkan padamu.”


Meridia menengok kaget “Apa?”


“Satu jam lagi aku akan kemari menjemputmu. Istirahatlah dulu.”


Meridia takut-takut mengelus selimut tebal yang masih terlipat rapi di ujung ranjang seakan dia bukan pemilik kamar itu. Untuk menaruh bokongnya dipinggir ranjang itu saja dia sungkan. Akhirnya Meridia memutuskan untuk mengistirahatkan diri di atas sofa.


Perjalanan ditempuh cukup lama mengingat tempat tinggal Lucien berada di perbatasan antara Norfolk dan Goldenleaf. Meridia menyaksikan sendiri kereta yang ia tumpangi menyusuri hutan dan pemandangannya segera bertukar setelah menembus penghalang yang entah untuk apa dipasang.


“Seingatku Lucien datang ke rumah untuk bertemu dengan Marigold. Dia bersaing dengan Arden. Lalu kenapa dia malah fokus padaku? Salahku bertemu dengannya di pasar.”


Sejujurnya Meridia ingin segera menanyakan alasan Lucien membawanya kemari. Tentu saja ia juga ingin menanyakan tentang Meridia yang selalu melupakan soal Lucien jika pemuda itu tidak menyebutkan namanya lagi dipertemuan mereka yang berikutnya.


Sekarang Meridia tidak lagi melupakan Lucien. Itulah kesempatannya untuk memuaskan rasa keingintahuannya.


Di lain tempat, tepatnya di butik baru Baroness Vista, Zoya dan teman-teman wanita bangsawannya selesai mengikuti acara pembukaan. Usai melakukan peresmian, Baroness Vista mengajak empat teman yang ia undang untuk menghabiskan waktu sebentar di sebuah restoran.


Zoya merasa terhibur karena bisa berkumpul dengan teman-temannya sehingga ia bisa lupa sejenak dengan beban pikiran yang dirasa sejak semalam.


Wanita anggun itu menyeruput teh herbalnya dengan penghayatan, sesekali ia menanggapi cerita temannya. Kemudian, hal yang berusaha Zoya hindari datang. “Oh iya, Marchioness. Aku dengar rumor yang tidak sedap. Apa benar kau punya putri selain Marigold?”


Tidak sedikit bangsawan yang menyembunyikan salah satu anak mereka dari sorotan publik lantaran latar belakang yang kurang pantas bagi seorang bangsawan seperti misal anak hasil perselingkuhan, anak dari pernikahan sebelumnya, atau anak angkat.


Tidak sedikit pula yang menganggap bahwa putri yang disembunyikan Ziel dan Zoya adalah anak tidak sah dari hubungan gelap antara Ziel dan wanita desa yang tak memiliki status apapun.


Perhatian tiga orang lainnya tertuju pada diamnya Zoya. Wanita bersurai pirang itu terkekeh “Itu tidak mungkin. Semalam suamiku sudah menjelaskannya sendiri, apa kalian tidak mendengarnya?” dia mencoba tetap santai meski hatinya tak karuan.


“Aku dengar yang mengatakan itu adalah seorang tabib bersalin yang membantumu melahirkan. Rasanya berita itu agak sulit dipalsukan.”


Zoya tahu bahwa Baroness Vista memang sering menyimpan rasa iri kepadanya. Dia seringkali menyindir dan secara halus menunjukkan ketidaksukaannya mendengar seseorang melontarkan pujian untuk Zoya. Jadi ini adalah kesempatan yang bagus untuk menjatuhkannya.


“Tapi, Baroness, saya rasa bisa saja wanita itu disuap oleh musuh Marquess agar menyebarkan berita bohong tentangnya untuk melukai reputasi serta nama baik keluarga Emerald.” Bela Countess Clealpina. Dia kemudian melanjutkan, “Lagipula wanita itu sudah tidak ada di Norfolk, siapa yang tahu dia bohong atau tidak?”


“Tapi kita semua mendengarnya dari orang yang mendengar cerita itu langsung dari tabib bersalin itu.”


“Baroness, Anda lupa? Marquess Ziel adalah bangsawan yang paling disegani dan disanjung karena kinerjanya yang baik di Norfolk. Sudah pasti ada saja rival yang iri dan menyulut berita bohong untuk menyerangnya.”


Baroness Vista tersenyum miring “Ya, tentu saja. Tapi pada beberapa kasus, yang musuh sebarkan bukanlah berita palsu melainkan rahasia yang disimpan rapat-rapat oleh target. Kalian sudah tidak asing dengan kebocoran rahasia, bukan?”


Gretha, istri sang Count Clealpina mengangguk-angguk setuju “Lalu bagaimana dengan pernyataan Marquess dan keluarganya? Mereka sudah bilang tidak benar, apa lagi yang mau dipermasalahkan?”


Zoya tersenyum senang mendengar pembelaan istri teman suaminya itu. Zoya pun menimpali “Ya, aku rasa juga begitu. Bukan hanya keluargaku yang pernah diterpa berita miring seperti ini. Bagi bangsawan seperti kita, reputasi adalah hal yang paling penting di atas segalanya.”


Baroness Vista sedikit merengut “Syukurlah jika itu memang berita bohong. Jika itu sungguhan, kau terlalu kejam pada darah dagingmu sendiri. Aku tidak pernah mendengar cerita ada ibu sejahat itu.”


Zoya tertawa kecil mendengar penuturannya “Kau benar. Untuk apa aku melakukan hal sekeji itu.”


Mereka lantas melanjutkan obrolan dengan mengganti topik sensitif ke arah yang lebih santai.


Dalam hati Zoya merasa lega. Kalau bukan karena bantuan Gretha, percakapan ini akan terus berlanjut dan tentu Baroness akan memojokkannya.


Sore harinya Zoya pulang ke rumah, berharap suaminya sudah mengurus Meridia. Kutukan yang dirapalkan oleh Meridia telah berhasil membayangi Ziel, akibatnya Zoya juga ikutan cemas sebab suaminya tak dapat ditenangkan dengan mudah.


Sampai di rumah Zoya tidak merasakan ada sesuatu yang aneh. Semuanya tampak normal. Sampai pada malam hari, dia melihat Ziel, Marigold, dan beberapa orang yang lain menjadi banyak melamun. Suasananya agak berbeda, Zoya sendiri yang merasa hanya dirinya lah yang ceria.


Zoya tidak bisa langsung menanyakannya sebab dia juga cukup lelah. Tadinya ia kira itu hanya perasaannya saja, tetapi suasana dan ekspresi datar mereka tetap sama seperti sebelumnya. Hal itu memancing keingintahuan Zoya.


Karena penasaran akhirnya Zoya pun bertanya pada suaminya “Sayang, ada sesuatu yang mengganggumu? Kenapa sejak tadi kau banyak melamun?” tepukan dipundak membuat Ziel tersadar.


Pria berwibawa itu menatap sang istri “Eh? Kau bilang apa?”


“Apa yang terjadi padamu?”


“Tidak ada, aku baik-baik saja.” Ziel beranjak dari sofa di kamarnya menuju ke luar. Zoya mengernyit tak paham “Kau mau pergi ke mana?”


“Aku ingin bicara dengan Meridia. Aku sudah lelah.”


Selagi menunggu Ziel selesai mengurus Meridia, Zoya mendatangi Marigold yang tengah bercermin malam itu sambil melamun. wanita berambut panjang itu kemudian mengelus puncak kepala putri kesayangannya dari belakang “Kenapa kau belum tidur?”


“Ibu?” Marigold mendongak seraya tersenyum manis dihadapan sang ibu.


Zoya mendelik kaget tatkala melihat lingkaran merah dileher Marigold “Sayang, kenapa dengan lehermu? Apa ini sakit?”


“Eh?” Marigold baru menyadari kalau dirinya punya tanda itu di sana. Jari lentiknya mengusap pelan bekas cekikan itu “Aku tidak tahu. Mungkin aku alergi dengan sesuatu.” Marigold menggunakan kekuatannya untuk menghilangkan bekas tersebut tanpa memiliki ingatan mengapa tanda itu bisa ada di sana.


“Kau yakin baik-baik saja?”


“Ya, ibu~” Marigold memeluk pinggang langsing sang ibunda untuk bermanja-manja “Bagaimana acaranya, bu? Apa semuanya berjalan lancar?” Marigold tahu Zoya menghadiri acara peresmian sekaligus pembukaan butik baru milik temannya.


“Um, ya begitulah. Ibu senang bisa mengobrol dengan teman-teman.”


Zoya dan Marigold tersentak kaget ketika Ziel membuka pintu kamar Marigold dengan setengah membanting. Wajah panik Ziel berhasil membuat anak dan istrinya ikut khawatir “Ayah, ada apa?”


“Meridia menghilang!”


“Apa?!”


Ziel memegangi— ralat. Pria itu menjambak rambutnya frustrasi. Ketakutannya meningkat drastis. Tidak ada yang tahu kapan berita semalam akan menyerangnya lagi, keberadaan Meridia di luar hanya akan memperkuat spekulasi masyarakat “Sial! Ke mana dia pergi?!”


Tanpa memberi waktu kepada anak istrinya untuk berpendapat, Ziel lekas keluar dari kamar putrinya dan pergi ruang kerja, memastikan bahwa anak yang ia abaikan itu mencuri dokumen penting miliknya.


“Sial, sial, sial! Anak itu sungguh membuatku gila!” umpatnya tak habis-habis.