TRAPPED BY THE SECOND MALE LEAD

TRAPPED BY THE SECOND MALE LEAD
CHAPTER 21



Arden tengah bergumul dengan tiga lembar laporan miliknya sendiri. Masih mengenai perkembangan kepelikan kasus kematian tanpa gejala yang menimpa kota tercintanya ini. Dia sangat serius menggarap semuanya agar sang ayah paham dan dapat menyampaikan semua dengan detil kepada para audiens.


“Tck. Salah lagi.” Decihnya kesal pada diri sendiri.


Kertas tak bersalah itu langsung remuk menjadi segumpal sampah tak berguna ditangan Arden. Kemudian pemuda itu membuka laci meja belajarnya dan mengambil kertas baru. Saat itu dia melihat lagi kotak kecil berwarna merah berisikan gelang yang ia tujukan untuk Meridia. “Sayang sekali aku tidak bertemu denganmu. Padahal alasanku pergi ke sana hanya karenamu.”


Arden berhenti menulis sebentar dan mengangkat kotak itu “Aku harap kau tidak melupakan aku saat kita bertemu lagi nanti.”


“Arden, kau di dalam?”


Pemuda cerdas itu berjengit kaget. Ia lekas memasukkan kotak itu ke dalam lacinya lagi lalu menyahut panggilan ayahnya, “Ya, Ayah. Masuklah.”


William muncul dengan baju tidurnya membawa dua gulung kertas yang memiliki stempel berbeda. Pria berwajah malas itu menguap sembari memberikan gulungan pertama kepada putranya untuk dibaca “Ayah, mengapa kau belum bersiap-siap?”


“Aku sudah meminta cuti sehari pada Raja saat rapat kemarin.” William menautkan alis melihat apa yang tengah dikerjakan anak lelakinya, “Kau sudah membuat laporan lagi? Kau juga mau memintaku untuk membacakannya dirapat selanjutnya?” dari kata-katanya, William sudah menunjukkan keengganan.


Arden tersenyum tanpa dosa seraya mengangguk menanggapi keluhan halus dari Grand Duke Palmieri tersebut. Pria berotot itu merotasikan kedua bola matanya sambil menghela nafas “Kenapa kau tidak ikut dan menyampaikannya sendiri? Raja sudah beberapa kali menanyakan kabarmu. Tidak masalah kau ikut walau aku masih sebagai kepala keluarga.”


Arden tidak mendengarkan saran ayahnya dan sibuk memikirkan tentang kasus ini. “Aneh, apa kota lain tidak menghadapi situasi yang sama? Kenapa itu hanya berpusat di Goldenleaf?” gumamnya sendiri.


Goldenleaf adalah kota terbesar pertama disusul oleh Whitebridge diposisi kedua, Norfolk yang menempati posisi ketiga, dan Avallone berada diposisi terakhir. Tidak aneh apabila kasusnya terjadi lebih banyak di Goldenleaf mengingat jumlah penduduknya pun lebih banyak dari kota lain dibawah kekuasaan Raja Bommenhaum.


“Bukan hanya di sini. Kota lain juga menghadapi kasus yang sama tapi sangat jarang terjadi. Hanya Norfolk saja yang belum menemui kasus ini.” Sahut William membantu menjawab pertanyaan Arden. “Sudah sejauh mana laporanmu itu?”


“Masih sama, mencari bukti yang kuat kalau itu bukanlah penyakit tapi ulah seseorang yang entah apa motifnya. Sudah dua hari ini kita tidak menemukan mayat baru lagi, aku harap itu akan berlanjut hingga seterusnya.”


“Raja belum selesai menyelidiki masalah para penyihir di Goldenleaf. Aku rasa itu akan selesai besok.”


Arden tidak mendapat apapun di perpustakaan miliknya, dia memiliki ide ingin mengunjungi perpustakaan istana untuk mencaritahu lebih banyak namun dia tidak berani datang sendirian tanpa ada urusan yang penting “Ayah, kapan rapat selanjutnya akan dibuat?”


“Mungkin lima sampai tujuh hari lagi. Kenapa?”


“Aku ingin ikut denganmu.”


“Ho, sungguh? Aku senang karena pekerjaanku jadi berkurang. Tapi kau yakin? Itu adalah rapat gabungan dari seluruh perwakilan kota.”


“Aku tidak akan ikut rapatnya, aku hanya ingin meminjam buku di perpustakaan istana saja.”


“Cih.” decih ayah Arden tidak puas dengan jawaban putranya. William kemudian memberikan gulungan kedua ditangannya, “Ini.”


Arden melihat stempel berlogo bunga mawar hijau yang mana itu adalah logo atau lambang dari keluarga Marquess Emerald. Ini sudah terhitung empat hari dari selesainya pesta kedewasaan Marigold, Arden tidak berniat ingin menghadiri acara apapun yang dia adakan sebab urusannya jadi sering tertunda.


Arden tidak tahu bahwa surat itu berisi tentang hal lain dan menyisihkan surat yang ditulis langsung oleh Ziel untuknya.


“Aku akan membacanya nanti. Ayah, aku pergi dulu.” William memandang punggung Arden yang menjauh “Kau mau kemana?”


“Aku akan ke perpustakaan umum.”


Selain memikirkan teka-teki kasus kematian banyaknya bangsawan di kotanya, Arden juga memikirkan mengenai rumor yang menyebar di pesta Marigold. Jika memang Meridia adalah saudari kembar Marigold, lalu apa yang alasan Ziel dan Zoya menutupi identitasnya? “Mereka semua tidak akan mau menjawab pertanyaanku. Ya sudahlah.”


Arden mencari buku yang mencatat sejarah Bommenhaum lengkap beserta masalah-masalah yang pernah dihadapi oleh negara. Tiga buku berhasil ia kikis habis tetapi tak satupun menyebutkan tentang penyakit aneh yang telah membuat warganya resah belakangan ini.


“Sepertinya aku harus mencari informasi ditempat lain.”


Arden tidak putus asa begitu saja. Dia mulai mengganti strateginya. Walau Arden berharap itu disebabkan oleh virus, tetapi Arden juga percaya bahwa itu disebabkan oleh seseorang.


Sejauh kasus ini berkembang, sudah ada tujuh orang yang berasal dari anggota bangsawan telah mati. Jika memang ini adalah pembunuhan, seharusnya ada motif dibaliknya, ini saatnya Arden membuka tabir.


Kemudian Arden datang ke biro informan dan mencari tahu tentang ketujuh bangsawan yang mati mengenaskan tanpa bisa dikubur dengan baik. Setelah menunggu dua jam, semua informasi terkumpul. Seharusnya itu membawa kesenangan tetapi itu malah menjadi sia-sia ketika Arden tak mendapat pencerahan sama sekali.


“Mereka bertujuh tidak pernah ada hubungan atau pertikaian. Ini berarti pembunuhan acak?” kepalanya sudah mendidih. Ambisinya untuk memecahkan masalah tersebut malah makin membuatnya stress. “Tapi mengapa yang menjadi korbannya adalah orang-orang tidak biasa?”


“Anda mungkin membutuhkan seorang penyihir untuk membantu.” Ujar salah seorang pegawai yang melayani Arden.


“Untuk apa?”


“Untuk mencari tahu penyebab kematian itu. Jika para dokter dan tabib tidak menemukan penyebabnya, mungkin penyihir bisa. Saya tahu penyihir hebat yang ada di Goldenleaf.”


Arden mengerutkan dahi “Siapa?” setahunya saat ini semua penyihir yang tinggal di Goldenleaf tengah diperiksa oleh pihak kerajaan, tidak ada satupun dari kelompok pengguna sihir yang masih berkeliaran bebas.


semua penyihir yang tinggal di Goldenleaf masih ditahan di istana untuk beberapa saat sampai pihak kerajaan menemukan sesuatu. Lantas bagaimana dia bisa menemukan penyihir di luar?


“Saya tidak tahu siapa namanya tapi dia adalah penyihir istana.” Mata Arden membelalak kaget. Raja tak pernah memberi dukungan pada para penyihir di sini, tapi tiba-tiba dia sendiri mempekerjakan satu penyihir? sejak kapan?


“Kau yakin itu penyihir istana?” tanya Arden memastikan.


“Ya. Baginda Raja mungkin memang tidak pernah menggunakannya tetapi dia memang bekerja di istana.”


“…”


Sejak kapan raja memiliki penyihir pribadi?


Lain yang sedang terjadi di istana Navarro. Meridia menghabiskan waktunya hanya dengan rebahan dan melamun tidak jelas. Dia terbiasa bekerja, selalu ada yang harus ia kerjakan mulai dari pagi hingga malam. Kini kebiasaannya telah berubah dan itu membuat Meridia kehabisan tenaga untuk melakukan kegiatan yang tidak membawa manfaat baginya.


“Paman Sammy sedang apa ya? Aku tidak sempat berpamitan dengannya. Apa dia mengira aku akan kembali?”


“Lucien sudah pergi sejak pagi tadi.” Meridia mencari ide bagaimana dia bisa menghilangkan kebosanannya “Aku akan berkeliling rumah saja, sejak kemarin aku tidak melakukannya.”


Meridia mengganti pakaian dengan gaun sederhana berwarna putih gading bermodel mirip dengan gaun tidur agar bisa lebih leluasa bergerak. Kemudian ia berjalan menuju dapur yang sudah ia kenali duluan letaknya.


Dia kira orang yang bekerja di dapur ada lima orang lebih sama seperti yang ada di kediaman Marquess Emerald. “Hanya satu orang?” Meridia hanya melihat satu orang berpakaian seperti seorang juru masak yang sedang mencuci sayur mayur yang baru saja akan diolah. “Permisi?”


Pria itu tersentak kaget, ia buru-buru menaruh semua sayuran dan membungkuk hormat sambil tersenyum menyambut Meridia di sana “Yang Mulia, apakah Anda membutuhkan sesuatu?”


Meridia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal “Tidak, sebenarnya kalau bisa aku datang kemari karena ingin membantu.”


Koki tersebut menggeleng “Tidak, Yang Mulia. Ini pekerjaan saya jadi biar saya yang mengurusnya. Jika Anda merasa ingin memakan sesuatu, silakan beritahu saya, akan saya buatkan sesegera mungkin.” ujarnya dengan ramah dan kelihatan sekali dia sangat berhati-hati dalam berucap.


“Aku ingin melihat-lihat saja, boleh?”


“Tentu saja Anda bisa melihat-lihat dapur ini sepuasnya, Yang Mulia.”


Meridia tidak mendengar aktivitas lain di dekat dapur, pintu belakang dapur yang mengarah ke kebun sayur dibelakangnya juga tak menampakkan sosok tukang kebun yang tengah bekerja di sana. Dia pun menanyakannya pada sang koki “Tuan, apakah pekerja di sini sangat sedikit? Kenapa kau bekerja sendirian?”


Bahkan di rumah Marquess akan ada empat pelayan lain yang membantu pekerjaan dapur, lima tukang kebun yang merawat masing-masing lahan yang ditanami berbagai jenis tumbuhan, dan pelayan yang membersihkan benda-benda di lorong. Saat berjalan kemari, Meridia hanya melihat paling tidak hanya tiga sampai empat pelayan wanita.


“Mereka semua sedang mengerjakan tugas masing-masing, Yang Mulia. Saya sudah terbiasa mengerjakan dapur sendirian jadi saya tidak merasa kesulitan sama sekali.”


“Oh begitu.”


Meridia walau baru beberapa menit lalu bertemu dengan koki itu tapi dia bisa merasakan getaran yang sama dengan saat ia bersama Samuel. Ternyata firasatnya benar, koki tersebut ramah. “Apakah Anda kesepian karena Young Duke sedang pergi?”


“Tidak juga. Aku tidak tumbuh besar sebagai bangsawan, aku terbiasa mengerjakan sesuatu jadi aku memutuskan untuk mencari pekerjaan.”


“Hahaha, lalu apakah Anda memiliki hobi?” Meridia tidak langsung menjawab pertanyaan si koki karena dia sendiri tidak tahu apa hobinya “Tidak punya. Daripada itu, paman, bolehkah aku bertanya sesuatu?”


“Ya?”


“Apa Lucien itu seorang penyihir atau semacamnya?”


“Saya tidak tahu, Yang Mulia. Saya hanya bekerja di sini, saya tidak banyak bertemu dengan beliau.” tak perlu diucap, Meridia tahu koki itu sengaja menghindari pertanyaan lebih jauh tentang majikannya.


Meridia membatin sambil berkeliling dapur “Mereka sangat berhati-hati, aku seperti hampir melihat robot dan bukannya manusia karena mereka sangat kaku seperti hanya melakukan apa yang disuruh.”


“Apa Duke Navarro juga memiliki pasukannya sendiri?” koki yang bernama Henry tersebut menggeleng pelan “Beliau tidak secara khusus melatih ratusan prajurit. Young Duke hanya memiliki tiga ksatria yang membantu pekerjaannya.”


“Hanya tiga?” Meridia pun mewajarkan apabila lapangan tampak lengang tak ada gerombolan prajurit terlihat sama sekali.


“Yang Mulia, mungkin Anda belum menyadarinya…walaupun ucapan Young Duke terkesan dingin dan tajam, tapi dia orang yang sangat perhatian. Anda tidak perlu mencemaskan beliau akan bersikap jahat pada Anda.” Meridia tidak menjawab sepatah kata pun ucapan si koki.


Setelah puas menjelajahi dapur, Meridia keluar dari sana dan masih ingin berkeliling melihat-lihat ruangan lainnya untuk mengisi waktu. Iris biru gelapnya menatap lurus ke satu-satunya ruangan yang tersisa dengan pintu yang cenderung lebih sederhana dibanding ruangan lain “Ruang apa itu?”


Ketika dibuka, ruangan tersebut hampir dipenuhi oleh kain selendang tipis yang tergantung mengelilingi ruangan seolah sengaja digunakan sebagai kain penutup.


Sedikit demi sedikit Meridia mendengar bunyi gemericik air dari tengah ruangan dan setelah dia menyingkap kain selendang terakhir tampaklah sebuah bak mandi sebesar bak pada pemandian umum terbuka yang mengeluarkan kepulan uap dari air hangat tersebut.


Ada seorang pelayan wanita tengah menyiapkan air mandi itu, dia memasukkan beberapa herbal dan aroma wewangian ke dalamnya hingga tercium sampai ke seluruh sudut ruangan lewat uapnya. Karena penasaran, akhirnya Meridia mendekati pelayan tersebut “Permisi?”


Maid itu terlonjak kaget saat mendengar suara Meridia di ruang yang sunyi itu “Yang Mulia, apa yang Anda lakukan disini?”


Meridia tersenyum “Aku hanya sedang berjalan-jalan. Boleh aku tahu ini tempat apa?” dia ikut berjongkok di dekat sang pelayan “I-ini adalah ruang mandi khusus untuk Yang Mulia Duke Navarro, Lady.”


Fokus Meridia tertuju pada kegelisahan yang tertera di wajah pelayan itu, wajahnya menjadi pucat pasi, dan berkeringat dingin “Hei, kau baik? Jika sedang sakit lebih baik istirahat saja.”


Pelayan itu mengangkat wajahnya “Ya? ah, saya baik-baik saja, Lady.”


“Kau kelihatan sedang takut.” pelayan itu tak tahu kalau Meridia sangat memperhatikan dirinya.


Sebelum menjawab ucapan Meridia, pelayan itu menunduk sambil menggigit bibir bawahnya. “Y-ya, saya takut salah memasukkan herbalnya karena setiap herbal memiliki kegunaan yang berbeda-beda,” dustanya.


Meridia kembali berdiri dan beranjak pergi “Sepertinya aku mengganggu konsentrasimu, kalau begitu aku akan pergi sekarang.” tapi langkahnya terhenti akibat si pelayan yang tiba-tiba menahan pergelangan tangannya.


Meridia membeliak kaget saat melihatnya sudah menangis ketakutan “T-tolong, tolong selamatkan saya, Yang Mulia.” bibirnya bergetar menahan suara tangis “Apa maksudmu? Selamatkan kau dari apa?”


Meridia tak pernah melihat seseorang ketakutan sampai seperti itu. Bahkan ketika Marquess marah pada salah satu pelayannya, reaksi ketakutan yang ditunjukkan si pelayan tak sampai berlebihan seperti yang pelayan ini tunjukkan.


Pelayan itu melirik kesana-kemari lalu menatap Meridia lagi. “Yang Mulia, jangan pernah keluar dari kamar walaupun udaranya sangat panas,” ujar si pelayan itu sambil menggelengkan kepalanya dengan kuat “Pokoknya jangan pernah keluar sampai besok pagi.” Ia mempertegas peringatannya pada anggota baru istana Navarro itu.


Meridia semakin penasaran dengan alasan yang dipunya pelayan itu menyampaikan peringatan aneh padanya. Dia baru saja sampai di sini beberapa hari yang lalu, memangnya apa yang akan dia ketahui saat Lucien sendiri banyak mengontrol semua aktivitasnya? Meridian tidak tahu kisah dibalik berdirinya istana ini, sejarah generasi keluarga yang meninggalinya, atau bahkan latar belakang dan kisah yang dialami para pekerja yang bekerja di sini.


Saudari kembar Marigold itu memegang tangan si pelayan “Memangnya kenapa dengan udara panas itu?” gadis bersurai biru dongker itu tak mengerti kemana arah pembicaraan mereka, padahal tadinya dia minta diselamatkan tetapi bukannya menjelaskan situasinya dia justru memberikan peringatan.


“Itu karena—“


Dahi Meridia berkerut dalam karena pelayan itu seketika diam dengan tubuh yang semakin gemetaran. Jika diperhatikan, pelayan itu bertingkah aneh seperti tiba-tiba diam melamun lalu menunduk sangat dalam sembari meremas roknya dengan sangat kuat.


Meridia yang penasaran jadi harus bertanya ulang “Karena apa?”