
Zoya menatap suami dan anaknya secara bergantian, mencermati dengan baik situasinya. Wanita anggun itu kemudian menghela nafas lega. "Syukurlah keluargaku baik-baik saja," batinnya lega setelah semalaman terjaga memikirkan apa yang akan terjadi pada suaminya keesokan hari.
Melihat kondisi suaminya yang sudah kembali normal, Zoya jadi teringat dengan rencana mereka beberapa waktu lalu. "Kau bilang kau ingin mengajak kami liburan." ucapnya pada sang suami.
Baru ketika Zoya mengungkitnya, Ziel ingat kejadian yang menimpanya setelah dia keluar dari Black Celtic. Niatnya memang membeli tiket kereta untuk pergi ke Avallone, tetapi dia malah berjalan kaki tak tentu arah dan nyaris terinjak kereta kuda yang lewat karena kecerobohannya yang tak melihat-lihat sebelum menyeberang.
Ziel tidak ingat harus pergi ke stasiun. Pikirannya kosong. Meski matanya tetap terbuka sekalipun dia seperti tidak bisa melihat apapun. "Maaf, aku lupa membelinya." Pria bersurai pirang itu menggaruk tengkuknya merasa bersalah.
Marigold tertawa ringan, "Sudahlah. Kita bisa liburan lain kali, masih ada banyak waktu."
Ziel mulai mengingat apa saja yang diobrolkan dengan teman-temannya kemarin "Oh iya, Marigold. Bagaimana acara jalan-jalanmu dengan Arden kemarin?" Zoya sumringah saat Ziel menanyakan tentang kedekatan putrinya dengan putra tunggal Grand Duke.
Marigold nyaris tersedak teh. Pipinya bersemu merah jambu "Ya, semuanya berjalan baik. Aku sudah mengajaknya mengenal lebih dekat kota kita."
Zoya terdiam mengamati ada sesuatu yang lain diwajah Marigold.
"Teman-temanku kemarin membicarakanmu dan menanyakan tentang kedekatan kalian. Bagaimana, apa kau menyukai putra Grand Duke Palmieri itu?" tanya Ziel lagi sedikit menggoda putri kesayangannya.
Marigold mulai memainkan dramanya dengan lihai, ekspresinya berubah, ia berubah tersenyum getir. "Aku cukup menyukainya, dia memperlakukanku dengan sangat baik. Tapi jika ayah membicarakan soal pertunangan dan semacamnya, aku tidak akan melakukan itu."
Ziel dan Zoya saling melempar tatapan bingung, mengapa putri mereka berucap begitu jika semuanya berjalan cukup lancar? "Mengapa begitu, nak? Kau akan tetap mempertahankan peranmu sebagai Saintess yang mengabdikan diri untuk seluruh masyarakat?" Zoya sejujurnya tidak menginginkan Marigold untuk mengambil keputusan tersebut.
Marigold meletakkan cangkir tehnya lalu duduk dengan tegap "Sepertinya Arden lebih dekat dengan Meridia. Kalau disuruh memilih, rasanya Arden tidak akan melabuhkan hatinya padaku. Jadi aku akan mengalah untuk kebahagiaan Meridia."
Senyuman seperti seorang kakak yang begitu mencintai adiknya dengan tulus mampu menipu kedua orang tuanya yang sejak awal sudah gelap mata.
Rahang Ziel mengeras "Apa maksudmu? Bagaimana mungkin mereka bisa saling kenal?". Lagipula jika dipikir-pikir lagi, mana mungkin keluarga William mau menerima seorang pelayan. Akan tetapi dia sudah terlanjur membenci putrinya sendiri.
Marigold tetap memasang senyum seakan dia sangat menerima kenyataan "Aku pun tidak tahu. Setelah melihat Arden begitu memperhatikan Meridia saat dia jatuh pingsan, aku yakin itu bukan kekhawatiran biasa," Marigold menatap kedua orang tuanya dengan mata berkaca-kaca "Aku tidak masalah dengan itu ayah. Memaksakan sesuatu itu tidak akan berujung baik jadi aku akan mengalah saja."
Marigold berhasil menyulut api dalam hati Ziel dan Zoya. Hanya dengan memainkan ekspresi, semua orang akan langsung berpihak kepadanya, sungguh hidup yang menyenangkan, bukan begitu?
Sejak kemarin Ziel disibukkan mengurus semua surat dan dokumen berkaitan dengan bisnis dan kerjasamanya dengan beberapa bangsawan lain. Semua urusannya berjalan lancar tapi dia mengorbankan banyak waktu untuk mengerjakannya.
Telinga dan hatinya sama-sama gatal mendengar Marigold mengalah untuk sesuatu yang pantas ia dapatkan hanya untuk seonggok sampah seperti Meridia.
"Tenanglah, Marigold. Apa yang sudah ditakdirkan untukmu akan tetap jadi milikmu dan tidak akan tertukar dengan orang lain." Pungkas Ziel mengakhiri acara pesta teh kecil keluarganya untuk mencari si biang kerok permasalahan putrinya.
Ziel ingin langsung mencari Meridia tetapi butler pribadinya memberitahu bahwa ia kedatangan mitra kerjanya. Mau tidak mau dia harus menahan kekesalannya yang tertampung dan pergi ke ruang tamu.
•
•
•
Malam telah tiba, Meridia sudah selesai mandi, dan sekarang dia membaringkan tubuh kurusnya ke atas ranjang dingin nan sempit miliknya. Dia sengaja mematikan lampu agar tidak ada orang datang mengusik.
"Paman Sammy pasti salah lihat. Aku tidak mungkin semudah itu bergaul," gumam sang empunya kamar seraya menjadikan kedua lengannya sebagai bantalan.
Percaya atau tidak, melamun dapat mendatangkan musibah juga, misalnya seperti yang tengah menimpa Meridia sekarang ini "Ada yang aneh. Seharian ini aku benar-benar merasa tenang dan senang, sepertinya akan terjadi sesuatu padaku."
Ya, dengan melamun semua perasaan datang menghampiri membumbui suasana hati hingga kepala sampai pada akhirnya apa yang tidak perlu dipikirkan seluruhnya bersemayam dalam otak dan memperkeruh keadaan.
Meridia terkesiap ketika seseorang dengan mudah membuka pintu kamarnya yang sudah jelas-jelas ia kunci, rupanya itu adalah kepala pelayan wanita "Ada apa?" tanya Meridia to the point.
"Yang Mulia Marchioness memanggilmu untuk datang ke ruang tamu. Datanglah sekarang juga."
"Ya."
Meridia mengikat rambut panjangnya yang tergerai lalu beranjak pergi. Jangan kalian pikir dia tidak merasa heran dengan panggilan mendadak itu, justru dia sangat terkejut mengetahui ibu kandungnya setelah sekian lama mau bertatap muka apalagi sampai berbicara dengan Meridia.
Berhadapan dengan Zoya bukanlah pertanda baik.
Sesampainya di ruang tamu Zoya langsung memalingkan wajah enggan menatap wajah Meridia. "Ada apa Yang Mulia memanggilku?"
"Kau. Sampai kapan kau mau menjadi penghalang kebahagiaan keluargaku- tidak, khususnya putriku? Aku sudah muak sekali dengan kelakuanmu."
Bisa dibayangkan bagaimana sakitnya ketika ibu kandungmu bicara dengan nada yang dingin tak berperasaan kepadamu. Meridia tak begitu merasakan itu karena merasa Zoya bukanlah ibu kandungnya.
Meridia menghela nafas mempersiapkan jawaban yang ia buat untuk membuat wanita anggun itu marah. "Aku juga sudah bilang puluhan kali bahwa aku ingin pergi dari sini tapi Marquess terus menahanku." Zoya tampak tak suka mendengar pilihan kata Meridia "Bukan keinginanku untuk terus bertahan di sini. Marquess tidak ingin aku pergi kemana pun, apa Anda tidak diberitahu alasannya?"
Zoya berdiri lalu menatap Meridia nyalang "Cukup! Aku tidak memanggilmu untuk membicarakan ini! Berhenti memprovikasiku!" bentaknya kesal. Ia pun bertanya, "Bagaimana kau bisa kenal dengan Putra Grand Duke Palmieri?"
Tepat setelah mulut Zoya tertutup, Meridia sadar Marigold telah memulai drama baru "Aku tidak mengenalnya. Aku tidak pernah keluar dari mansion kecuali ke pasar dan ke hutan di dekat rumah. Anda tidak akan curiga aku bertemu dengan seorang bangsawan tinggi di tengah hutan Norfolk ini, 'kan?"
"Jangan bohong! Tidak mungkin putra Grand Duke memperlakukanmu dengan istimewa seperti itu kalau kalian tidak saling mengenal."
Meridia menggaruk pelipisnya "Aku tidak mengerti. Apa yang Anda maksud perlakuan istimewa? Bisa jelaskan?"
Zoya mengepalkan tangannya "Jangan bermain-main denganku. Aku tidak sudi melihat wajahmu terlalu lama, jadi cepat jawab saja yang sebenarnya."
Kekehan geli Meridia berhasil membuat wanita yang secara teknis adalah ibu kandungnya itu menyipit heran. "Marchioness, tidak pernahkah sekali saja kau lihat sifat putrimu? Ah pokoknya aku tidak mengenal siapapun bangsawan yang hidup di dunia ini."
"Kau masih saja berpura-pura."
"Aku sendiri baru dengar kalau tamu Marigold yang membantuku. Kami tidak saling mengenal, aku tidak pernah melihat wajahnya sama sekali."
Meridia terus berpikir kalau Marigold terlalu berhati-hati. Bahkan jika dia tidak membuat drama seolah-olah dia dan Arden sudah lebih dulu dekat sekalipun, Meridia tak ditakdirkan untuk Arden.
Meridia hanya karakter pendamping yang akan berakhir mengenaskan tanpa pernah mencicipi apa itu cinta kasih. Hal ini menyadarkan Meridia bahwa Marigold selalu tak puas dengan apa yang sudah ia terima dan selalu was-was dengan diamnya Meridia selama ini. Itu yang menyebabkan kekehan gelinya muncul. Ternyata gadis sempurna seperti dia juga tidak memiliki cukup syukur dan percaya diri.
"Aku rasa jalan terbaik untuk mengatasi kegelisahan kalian adalah dengan membuangku? Jika aku pergi jauh-jauh dari sini kalian akan tenang, bukan begitu? Marquess pasti akan mengabulkan semua permintaan istri tercintanya."
Perbincangan dengan Meridia justru membuat Zoya menemui jalan buntu yang lebih kompleks lagi. Hatinya sakit menahan kekesalan yang memuncak sampai ke ubun-ubun.
Meridia tidak mengada-ada soal rahasia Marquess yang memilih mempertahankan kehadiran putri tak diinginkannya.
Suatu kali Zoya pernah menanyakan alasan mengapa dia tidak mau membuang Meridia dan Ziel hanya diam dan memintanya untuk jangan mencemaskan apapun.
Kedua kalinya ia bertanya Ziel hanya menjawab dengan mengatakan "Kika dia berkeliaran di luar sana, mereka akan menyadari kemiripan dia dengan putri kita. Kalaupun dia kita minta untuk menyamarkan itu, rahasia mana yang tetap kekal abadi? Aku tidak mau reputasi keluarga kita dipertaruhkan ke depannya."
Tentu saja Zoya yang langsung berhadapan dengan Ziel memiliki penilaian lain. Alasan Ziel masuk akal tapi bukan hanya itu yang membuatnya enggan mengusir Meridia dan hingga hari ini Zoya masih belum mengetahuinya.
Sepuluh menit terlewat dan Zoya masih terganggu dengan ucapan Meridia. Rasa kantuknya telah sirna sepenuhnya dan semakin tak terasa kala derit pintu menyapa pendengarannya. Kaki jenjangnya melangkah lebar guna mempersingkat waktu.
"Sayang?"
Panggilannya tak berarti bagi pemimpin keluarga Emerald yang tengah kalut tersebut. Masalahnya kian hari kian bertumpuk sementara otaknya hanya satu dan tak ada yang dapat membantunya.
Sekali lagi, ia masuk rumah dengan perasaan tak bahagia padahal ada keluarga yang senantiasa menunggu dan menyambut kepulangannya dengan senyuman. Rasa gagal sebagai kepala rumah tangga membebani hatinya.
"Sayang, apa yang telah terjadi? Mengapa kau begitu lesu?" Zoya menghadang Ziel lalu mengelus kedua pipi suaminya penuh perhatian, tatapan cemasnya membuat Ziel ingin menangis di pelukan Zoya.
"Maaf," Ucapnya lemah. Ziel merengkuh pinggang ramping istrinya, membawa tubuhnya mendekat sembari menghela nafas panjang.
"Apa yang terjadi padamu, hm?" Zoya menepuk-nepuk punggung suaminya memberi ketenangan "Kau tak perlu merasa segagal itu hanya karena satu urusanmu tak berjalan mulus. Aku yakin ini bukan pertama kalinya bagimu."
Inilah yang Ziel suka tentang Zoya. Wanita cantik jelita itu tak pernah lelah memberikannya dukungan dan selalu membersamainya dalam setiap langkah. Perhatian serta kelembutannya selalu berhasil menjadi tempat teraman dan ternyaman Ziel untuk mengeluarkan segala unek-unek yang bersangkar di dalam otaknya.
"Aku sudah menaruh harapan besar untuk bisa menjalin kerja sama dengan Baron Braveman. Aku sudah berpikir dia akan mewujudkan itu bersama tapi dia tiba-tiba bilang kalau dia sudah mendapatkan partner bisnis lain yang lebih besar keuntungannya."
Apa yang membuntal bak suluran benang-benang kusut diotak dapat keluar setelah Ziel merasa lebih tenang dan tidak emosional. Zoya mengetahui sifat suaminya yang berambisi kuat "Jangan cemaskan soal itu. Berarti jalanmu bukan di situ, Ziel. Ayo istirahatlah, ini sudah malam. Besok kau akan kembali menghadiri rapat lagi."
Setelah Ziel selesai mandi, ia melihat istrinya masih duduk di tepi ranjang. Biasanya itu dilakukan ketika ia memiliki sesuatu yang belum diceritakan pada suami atau anaknya.
"Kenapa kau masih terjaga? Kau yang bilang kita harus istirahat," Ziel duduk di samping sang istri.
"Aku belum mengantuk."
"Ceritakan saja sekarang supaya kau bisa tidur. Aku tahu kau mengalami sesuatu yang tidak mengenakkan juga hari ini," Ziel mengelus puncak kepala Zoya lembut, ia pun berkata "Maaf aku belum sempat meluangkan waktu untukmu. Aku terlalu sibuk dengan diriku sendiri sampai mengabaikanmu. Sekarang kau bisa mengeluarkan semuanya."
"Bisakah kau jawab aku dengan jujur?" Ziel tersentak. Seketika detak jantung berpacu lebih cepat, "Apa yang mau kau tanyakan?" tanyanya balik.
"Mengapa kau tetap membiarkan Meridia bersama kita di rumah ini?"
"Sayang aku sudah cukup lelah, aku tidak bisa membahas sesuatu yang berat seperti ini lagi. Besok aku akan memberitahumu semuanya."
"Kau menghindariku lagi."
"..." Ziel tadinya lupa dengan masalah yang ia hadapi di rumah karena memikirkan kontrak kerjanya dengan Baron yang gagal dan sekarang ia ingat saat Zoya menyebutkan nama putri kembar mereka. "Apa dia membuat masalah baru lagi?"
"Jawab saja pertanyaanku."
"Aku sudah pernah memberitahu alasanku mempertahankannya di sini. Itu semua agar nama kita tetap bersih."
kemudian Ziel mengulangi penjelasan yang sama kepada Zoya dengan kalimat yang lebih panjang dan tentunya mudah untuk membuat sang istri percaya. Ziel tak bisa mengambil resiko melepas bocah itu di luaran sana tanpa pengawasan darinya.
Zoya membuang nafas gusar "Dia tidak mau mengakui tentang kedekatannya dengan Arden. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi menyikapinya," keluhnya putus asa. "Tidak bisakah kau melakukan sesuatu untuk putri kita Marigold? Dia sudah begitu senang dan gara-gara Meridia sekarang dia keliatan sering melamun."
Ziel merasa berat memikirkan dua putri kandungnya. Ya, Ziel akui ia memang tak pernah suka pada Meridia tetapi menelantarkannya seperti kucing liar sedikit mengganggu pikiran "Aku akan pikirkan jalan lain. Sekarang mari kita istirahat."
"Tapi Zi-"
"Zoya. Kau terlalu memaksakan dirimu, kau tahu kau mudah jatuh sakit. Aku tidak mau hal buruk menimpamu. Ayo kita tidur sekarang."
Di kamar Marigold semua benda berceceran merata-rata di atas lantai. Kotak perhiasannya tertelungkup di bawah kolong ranjangnya dan semua isi kotak tersebut beterbangan entah kemana.
Melihat hari ini ayahnya belum bertindak membuat Marigold gelisah. Kepalanya sangat sakit. Gadis berwajah malaikat itu duduk sambil menjambak rambut emasnya kencang-kencang "Sial, sakit sekali! Mengapa Meridia selalu membuatku khawatir! Aku tidak akan bisa tenang kalau dia terus di sini!"
Mengherankan. Bahkan Marigold si peluluh hati terkuat sekalipun tak mampu memprovokasi Ziel untuk mengusir kembarannya. Entah apa yang menahan hati Ziel hingga dia tidak terpengaruh.
"Aku harus cari cara lain supaya ayah jengah dan segera mengusirnya dari sini."
Marigold menidurkan dirinya di lantai dingin di mana barang-barang kecilnya berserakan "Aku tidak bisa mempercayai Arden. Meridia juga tidak akan menjawab pertanyaanku dan hanya akan membuatku kesal."
"Oh. Haruskah aku meminta liburan ke Goldenleaf?"
Berbeda dengan kembarannya yang sibuk mencemaskan banyak hal tentang dirinya, Meridia justru menyimpan energinya banyak-banyak untuk mempersiapkan masalah yang akan menimpanya esok hari. Ziel pasti akan menemuinya.
"Mari kita lihat bagaimana Ziel merespon ocehan istri dan anaknya. Jika itu lebih mengancam kebebasanku maka aku akan kabur secepatnya. Tanpa uang pun aku bisa berjalan kaki, semoga saja Marquess tidak memberikanku pengawasan yang ketat seperti biasa."
Karena tidak kunjung mengantuk akhirnya Meridia hanya bengong di dalam kamar sambil melihat ke sekeliling kamar. Matanya berhenti tepat pada tong sampah kecil di samping meja belajarnya "oh iya, surat itu...apa itu benar dari Arden? Kalau iya, tidak heran ada yang mencurigaiku. Lagipula, sikapnya aneh sekali. Ini berbeda dengan yang seharusnya terjadi."
Itu bukan hal yang mustahil sebab pertemuan mereka pun berubah. Meridia dan Arden tidak bertemu dalam keadaan seperti itu. Mereka justru bertemu saat pesta kedewasaan Marigold (dan juga dirinya) di mana Meridia mencuri salah satu gaun tak terpakai milik Marigold lalu diam-diam mengikuti pesta.
Tak ada kesan yang istimewa dalam pertemuan mereka di pasar kala itu. Kalau Meridia ingat-ingat kembali, Arden sudah memberinya penilaian yang bagus terhadap dirinya karena tidak sengaja membantu.
"Aku memang bodoh. Tak perlu kalian menghakimi ku karena aku sudah cukup sadar diri," gumam Meridia pada barang-barang di kamarnya, menganggap benda mati sebagai teman bicara saja sudah termasuk kebodohan yang konyol.
Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi besok. Namun setiap kali hendak menutup mata, Meridia berharap ia mampu melewati hari itu dengan tegar sampai ia menemukan cara untuk bebas.
"Semoga aku segera dibebaskan oleh Marquess."