TRAPPED BY THE SECOND MALE LEAD

TRAPPED BY THE SECOND MALE LEAD
CHAPTER 25



Dylan mulai sadar bahwa Meridia saat ini sedang memproses sesuatu dalam pikirannya. Salah satu Ksatria kepercayaan Lucien itu kemudian memanggil para penjaga lain untuk mengurus mayat pelayan wanita itu. Sementara Dylan mengajak Meridia kembali ke dalam istana.


"Yang Mulia, sepertinya Anda harus tetap berada didalam sampai keadaan diluar sini membaik. Di dalam istana lebih aman dibanding kebun belakang ini. Maaf atas ketidaknyamanan yang Anda rasakan, Yang Mulia." pemuda itu sedikit cemas.


Meridia mengangguk pelan "Aku mengerti."


Dylan mengantarkan Meridia hanya sampai di depan pintu utama. Dia bergegas menemui Hugo dan Christ yang berada di lapangan.


Istana besar itu tampak lengang, dia berpapasan paling banyak dengan dua orang pelayan wanita. Mereka kelihatan biasa saja seolah-olah tidak sedang terjadi apa-apa. Mereka menyapa Meridia sekedarnya saja tanpa memasang senyum.


"Apa hubungannya dengan para pelayan di sini buruk?" gumam Meridia bertanya-tanya.


Meridia teringat hari ini ada satu pelayan baru yang datang. Seperti sebuah kebetulan, bukan begitu? seseorang lenyap dan satu orang baru muncul menggantikan pekerjaannya.


"Apa Lucien akan baik-baik saja?" tiba-tiba kembaran Marigold itu mencemaskan Lucien, pemuda misterius yang tangguh. Langit perlahan-lahan mulai meredup seiring dengan pulangnya sang mentari.


Langit sore hari kala itu tidak kelihatan bagus dan tak menampakkan ketenangan sama sekali. Keadaan langit yang seperti itu seakan ingin menyampaikan pada Meridia bahwa akan ada sesuatu yang buruk terjadi malam ini.


"Apa yang baru saja ku pikirkan?!" Meridia tersadar bahwasanya dia telah mengkhawatirkan pemuda yang tidak seharusnya dia pikirkan begitu dalam. Ia memukul kepalanya dengan keras, "Kenapa pula aku memikirkan dia?"


Meridia pergi ke asrama para pelayan yang lengang. Ini pertama kalinya dia datang ke sana. Meridia tidak menduga akan ada banyak pintu yang dipasangi gembok yang mana artinya tidak ada penghuni di kamar tersebut, padahal asrama pelayan istana Lucien lebih besar daripada milik Marquess Ziel.


Meridia terkesiap ketika melihat pelayan baru itu keluar dari kamarnya. Dia tersenyum seraya membungkuk "Yang Mulia, ada perlu apa Anda datang kemari?"


"Apa kau pelayan baru di sini?"


"Baru? tidak, saya sudah bekerja di sini selama dua minggu, Yang Mulia."


Meridia hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti, matanya masih melirik pintu di mana pelayan baru itu keluar "Kau tahu di mana kamar—"


"Yang Mulia Meridia." Meridia menengok ke belakang penasaran melihat siapa yang telah memanggilnya.


Rupanya itu adalah kepala pelayan wanita. Dia tampaknya orang galak yang tidak gemar berbasa-basi meski pada atasan sendiri. "Anda sebaiknya segera kembali ke depan, Yang Mulia. Tempat ini sangat kotor."


Kotor katanya? aku sudah pernah tinggal ditempat yang lebih buruk daripada kandang kuda sebelumnya.


"Aku hanya mampir sebentar saja."


"Kembalilah, Yang Mulia. Young Duke bisa marah jika tahu Anda berkeliaran ditempat seperti ini." Secara tidak langsung kepala pelayan enggan memberi izin kepada Meridia untuk menyelidiki suatu apapun.


Meridia terpaksa kembali ke kamarnya sendiri. Dia segera mengambil setumpuk kertas dan pena untuk mulai menulis seluruh isi buku novel yang ia masuki ini hanya pada sampai mana yang diingat. "Diingat sampai jungkir balik pun penulisnya memang tidak menjelaskan sedetail ini tentang Lucien. Aku tidak bisa bergerak jika tidak tahu Lucien ini siapa."


Sementara itu ditempat lain, tepatnya di kuil tempat Marigold mengabdi, Lucien masih bersembunyi diantara para jemaat sambil memantau gadis blonde itu dengan seringaian. Hari ini tepat hari tugas Marigold, gilirannya melayani masyarakat akan tiba begitu pendeta selesai memimpin doa.


"Wah, pendeta Veagence. Apa yang sedang Anda lakukan di sini?" Marigold mendekati seorang pria berpakaian serba putih yang tengah sibuk mengecek satu per satu kitab kecil yang akan dibagikan pada jemaat yang datang mengikuti doa pagi ini.


"Oh Saintess ada disini, apa ada yang bisa saya bantu?"


Marigold tersenyum secerah mentari pagi, "Saya yang lebih dulu ingin membantu Anda. Sepertinya Anda masih memiliki pekerjaan lain, bisakah saya mengambil alih pekerjaan ini?" Marigold menatap pendeta itu dengan mata memelas.


"Tapi..."


"Tenang saja, saya akan selesaikan tugas ini secepat kilat."


"Itu tidak perlu, Saintess. Sebaiknya Anda beristirahat di ruangan Anda sampai acara doa nya selesai." katanya dengan senyum.


"Tidak apa-apa. Saya sangat bosan kalau harus menunggu di sana tanpa mengerjakan apapun."


Setelah terus memaksa, akhirnya Marigold diperbolehkan melanjutkan pekerjaan pendeta tersebut. Sesungguhnya dia tidak benar-benar ingin membantu, itu hanya pengalihan. Marigold butuh melakukan sesuatu untuk mengalihkan kegugupan nya yang sampai membuat suhu tubuhnya meningkat.


Ini adalah jadwalnya memberi pelayanan kepada masyarakat, tetapi sejak beberapa hari yang lalu dia tidak bisa mengeluarkan kemampuannya seperti biasa. Ibaratnya sekarang yang keluar hanya sepertiga dari kemampuan nya yang bisa dia pakai.


"Bagaimana jika banyak orang yang tahu? apa kekuatanku tidak akan pernah kembali seperti semula?" dia terus bertanya-tanya, masalah apa yang terjadi pada dirinya sampai pemurnian nya yang sempurna menjadi terhambat. "Ini semua karena kesalahan Meridia! aku yakin kutukannya masih aktif dan itu mulai berdampak padaku juga."


Dua menit kemudian kakak kembar Meridia itu terdiam, "Aku penasaran, memang kemana Meridia pergi? dia tidak punya siapapun di dunia luar. Marigold bodoh! untuk apa kau memikirkan si pembawa sial itu?!"


Marigold menggeleng kuat guna menepis rasa iba yang tiba-tiba muncul dalam hatinya, "Aku tidak peduli jika dia mati di jalanan sekalipun." gumamnya kesal.


Setelah itu dia membantu membagikan kitab itu kepada para jemaat, dia kembali ke ruangannya untuk istirahat sebentar.


Ketika dia membagikannya, mata tertuju pada Lucien. Pemuda tampan yang memakai pakaian bangsawan itu tersenyum sembari menerima kitab yang disodorkan. "Dia tampan sekali." batin Marigold yang matanya sangat gatal ketika melihat pemuda berwujud rupawan.


Satu jam kemudian...


"Saintess? sudah waktunya Anda melakukan pengabdian."


"Oh ya, baiklah."


Marigold merasa perutnya seperti terlilit semakin kencang saat melihat kumpulan masyarakat yang berjajar untuk menemui dan meminta bantuannya.


Lucien tetap duduk sambil memperhatikan Marigold yang asyik berinteraksi dengan kegugupan yang terselip dari kedua irisnya yang bergetar seakan menahan sesuatu untuk tidak bocor.


Pemuda itu terkekeh menahan geli yang menggelitik perutnya, "Lihat wajahnya yang ketakutan itu. Ah, sepertinya sudah waktunya aku menonton episode kedua."


"Saintess, aku memiliki luka bakar yang cukup lebar di lenganku. Bisakah Anda membantu saya menyembuhkannya?"


"T-tentu saja. Kemarilah, biar aku bantu."


Marigold merasa kesakitan kala memaksakan untuk mengeluarkan kekuatannya seiring dengan Lucien yang mengaktifkan sesuatu didalam kalung yang Marigold pakai. Semakin lama cahaya kehijauan yang menguar dari telapak tangannya perlahan mengecil.


"Ugh," tubuhnya mulai terasa kaku.


Bocah perempuan yang sedang diobati Marigold tampaknya menyadari keanehan tersebut, "Saintess, Anda baik-baik sana? jika Anda lelah, sebaiknya—"


"Aku baik-baik saja!"


"Eh?"


Marigold tersentak menyadari dia tidak sengaja meninggikan suaranya hingga membuat anak itu terkejut. "A-ah, maafkan aku.. aku harus fokus mengembalikan tangan cantikmu ini seperti semula. Maaf ya?"


"Saintess, Anda berkeringat sangat banyak."


"Oh benarkah?"


"Hahahaha, ini pemandangan yang luar biasa." Lucien tertawa dengan nada lirih melihat Marigold yang sudah kacau. Kini pikirannya telah terbagi dua antara memikirkan kekuatannya yang semakin menipis sementara dia masih harus melayani sepuluh orang lagi atau menjaga citra baiknya disaat kekuatannya sendiri membuat dia tertekan.


"Ukh... sakit sekali..."


Bruuk


"Saintess!"


Marigold jatuh pingsan dengan peluh yang membanjiri keningnya.


Semua orang termasuk pendeta pendamping segera mengerubungi Marigold, menolongnya dan meminta para jemaat untuk pulang. Pihak kuil segera menunda semua jadwal Marigold sampai mereka memastikan bahwa keselamatan Marigold tidak terancam.


Kuil akan tetap dibuka hingga sore hari, namun Marigold tidak akan melanjutkan aktivitasnya sampai keadaan membaik.


"Hah... sudah kuduga dia sama sekali tidak berguna, dia tidak bisa menghiburku sedikit lebih lama. Yah, aku tidak bisa menyalahkannya karena kami bukan dari ras yang sama."


Lucien tetap menanti sampai Marigold siuman. Dia masih belum berpuas hati mengacak-acak hidup Marigold.


Begitu Marigold tersadar, dia langsung menjerit ampun sambil terus menjambak rambutnya sendiri. Lucien yang mengintip dari pintu menautkan alis heran, "Dia mulai merasakannya. Aku tidak menyangka akan secepat ini."


"Saintess? Anda baik-baik saja? Saintess, mari pergi temui—"


"Aku keluar sebentar."


Marigold baru saja mengalami mimpi yang tidak terasa seperti mimpi. Dia merasa seperti dihujani sambaran petir dengan jutaan volt. Sekilas dia mendengar sebuah suara yang menyuruhnya untuk terus melakukan tugasnya.


Marigold menghela nafas, dia tidak bisa menghapus kekalutan yang ia rasakan meski sudah mencelupkan kakinya ke kolam.


"Permisi"


Gadis itu terperanjat kaget. Dia menengok ke belakangan mencari sumber suara, "Ya?"


Marigold langsung ingat dengan wajah tampan yang dia lihat saat membagikan kitab pada jemaat pagi tadi.


Putri kesayangan Ziel Emerald terpesona dengan penampilan Lucien yang rapi, menunjukkan kasta Kebangsawanannya yang tinggi. Dia buru-buru berdiri dan merapikan pakaiannya "Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya dengan ramah. Seketika Marigold bisa menghilangkan kekacauan yang berkecamuk dalam diri.


"Seperti kata orang, wujud Anda memang sangat mengagumkan," puji Lucien dengan senyuman lebar.


Mendadak jantung Marigold seakan hendak mencelos keluar dari mulutnya. "Ahaha Anda terlalu melebih-lebihkan. Terima kasih atas pujiannya. Apakah Anda sedang mencari sesuatu?"


Lucien mengangguk kecil dan menjawab "Ya, tadinya saya hendak bertemu dengan Pendeta Agung untuk membicarakan sesuatu yang penting. Setelah melihat Anda di sini, saya lebih ingin mengobrol dengan Anda."


Sial, dia tampan sekali. Sepertinya kastanya cukup tinggi.


"Begitu ya."


"Sepertinya saya menganggu waktu bersantai Anda. Kalau begitu, saya pergi—"


"Tidak kok. Jika Anda ingin berbicara dengan saya, kita bisa bicarakan itu di sini." sela Marigold takut pemuda tampan itu pergi.


Lalu mereka berdua duduk di taman tersebut sambil sesekali mengobrolkan hal kecil. Iris sapphire gadis itu melirik sosok Lucien dengan malu-malu, "A-anu, apakah ada hal penting yang ingin Anda bicarakan dengan saya?"


Lucien memegang tengkuknya "Tidak ada yang penting. Saya hanya ingin meminta tolong untuk menyembuhkan luka yang baru saya dapatkan."


Lucien menarik lengan pakaiannya sampai ke atas siku dan memperlihatkan luka sayatan yang cukup panjang yang sebenarnya itu hasil perbuatannya sendiri. "Astaga! ini parah sekali, bagaimana Anda bisa mendapatkan luka ini?"


"Sebelumnya saya berlatih pedang dengan Ksatria istana, tapi dia tidak sengaja melukaiku."


Marigold tidak yakin dia bisa mengeluarkan kekuatan penyembuhan itu lagi, dia hanya bisa tertunduk lemah. "Aku tidak se berbakat itu..." lirihnya yang masih dapat di tangkap oleh indra pendengaran Lucien.


"Saya yakin Anda bisa." Lucien menonaktifkan benih dalam kalung yang dipakai Marigold.


"Baiklah, akan saya coba.." Marigold menarik pelan lengan kanan Lucien. Ketika dia menggunakan kekuatannya, Marigold terkejut karena dia tidak merasakan sakit lagi dan bahkan sekarang sedikit demi sedikit luka pada dengan Lucien mulai menutup dan tak meninggalkan bekas.


"Apakah Anda tidak memiliki kekasih?"


Marigold mendelik kaget mendengar pertanyaan Lucien, "Ya? a-ahaha itu... belum. Mengapa Anda menanyakan itu?" pipi gadis itu bersemu.


"Biasanya di usia ini Anda sudah pasti menerima banyak tawaran pertunangan atau pernikahan. Apalagi Anda adalah Saintess, seseorang yang luar biasa." pujian yang tak henti-hentinya dilontarkan Lucien membuat hati Marigold berbunga-bunga senang hingga melupakan sejenak masalah yang ia alami satu jam lalu. "Oh tapi Anda adalah seorang Saintess. Mungkin Anda takkan meninggalkan tugas dan mengabdi seumur hidup untuk kuil."


Marigold menyelipkan rambutnya ke daun telinga "Itu tidak benar. Saya berencana akan menikah dan membangun keluarga saya sendiri. Memang sangat disayangkan melepas tanggungjawab ini."


Lucien memperhatikan Marigold dalam, "Senang mendengarnya. Dengan begitu, mungkin saya punya kesempatan."


"E-eh? apa maksud Anda?"


Lucien berpura-pura terkejut dengan ucapannya sendiri "A-ah ya, um... maksud saya, itu keputusan bagus, Anda masih mau memikirkan kebahagiaan Anda sendiri." katanya sembari menggaruk pelipisnya salah tingkah.


Marigold yakin sekarang wajahnya sudah semerah kepiting rebus karena melihat pemuda itu salah tingkah di depannya. Dia memberanikan diri bertanya "Boleh saya tahu siapa nama Anda?"


"Panggil saja Lucien." tidak ada yang tahu nama depannya selama ini. Semua orang hanya tahu nama klannya.


"Lord Lucien ya..."


"Apa sudah selesai?"


Gadis berparas menawan itu tersadar bahwa sedari tadi dia memegangi lengan Lucien "Sudah sembuh seperti sedia kala."


"Terima kasih banyak. Saintess, Anda memang sangat hebat."


"Jangan panggil saya begitu, Anda bisa memanggil dengan nama saya. Saya Marigold."


"Saya tidak mau bersikap tidak sopan kepada Anda."


Marigold menggelengkan kepalanya "Saya memang selalu meminta pada orang-orang untuk memanggil saya dengan akrab."


"Lady Marigold, boleh saya memanggil Anda dengan sebutan itu?" Marigold langsung mengangguk pertanda setuju, "Itu lebih baik."


"Syukurlah saya bisa berteman dengan seorang Saintess." Lucien beranjak berdiri "Waktu saya sudah habis.Saya harus segera menemui Pendeta Agung sekarang juga. Kalau begitu saya izin undur diri."


Marigold ikut berdiri dari kursi dan menatap punggung Lucien "Apakah kita bisa bertemu lagi?" Marigold mulai mengharapkan pemuda itu untuk bisa menemuinya lagi, "Sayangnya saya tidak bisa memastikan itu sekarang. Lain kali saya akan menyempatkan waktu untuk bertemu dengan Anda."




"Yang Mulia Meridia."


"Ya, Ximena. Ada apa?"


"Ini sudah malam. Angin di luar sangat dingin, sebaiknya Anda masuk ke dalam."


Saat ini Meridia sedang berdiri di balkon kamarnya, seperti biasa, dia harus melihat langit sebelum tidur malam hari. Sekaligus dia ingin membuang penat. "Sebentar lagi, aku masih ingin menikmati langit malam."


"Baiklah, sebaiknya Anda tidak terlalu lama. Ini sudah waktunya bagi Anda untuk beristirahat. Saya akan menyiapkan susu hangat untuk Anda."


 Meridia terus teringat akan kondisi mayat pelayan itu. "Sebelum dia mati, dia meminta tolong padaku, kan? dia sangat ketakutan. Itu artinya sejak awal dia memang sudah diincar. Ada yang ingin membunuhnya."


Meridia tidak dapat bergerak bebas karena Lucien sudah banyak memasang larangan untuknya. Alhasil Meridia pergi ke pemandian yang Lucien pakai.


Dia masuk dengan langkah pelan, matanya bergerak liar menelusuri tiap jengkal dalam ruangan yang ia pijak. Uap air masih mengepul yang artinya air tersebut baru saja disiapkan. Aroma wewangian juga mulai tercium.


Meridia kemudian menyingkap kain yang digunakan sebagai tirai penutup untuk melihat bak pemandian yang besarnya setengah dari kolam renang itu.


Pelayan baru itu yang menggantikan tugas menyiapkan air bak mandi. "Yang Mulia? Ada yang bisa saya bantu?"


Meridia menggeleng pelan "Tidak. Maaf mengagetkan, aku hanya sekedar ing—"


"Meridia? apa yang sedang kau lakukan di sini?"


Sekarang giliran gadis biru tua itu yang terkejut. Dia menoleh ke belakang dengan kaget.


Di sana, tepatnya di depan pintu, Lucien berdiri sambil bersandar pada pintu. Kalian tahu apa yang mengejutkan? Lucien memakai baju mandi yang menampakkan banyak bagian dada bidangnya. Meridia yang seumur hidup tak pernah melihat pemandangan seperti itu menjadi aneh dan canggung. Ia pun mengalihkan pandangan ke tempat lain.


"A-aku hanya sedang berjalan-jalan sebentar sebelum tidur."


Lucien menyeringai jahil, "Begitukah? apa kau datang ke sini bukan untuk mandi bersamaku?" Lucien berjalan masuk ke dalam, mendekati gadis pujaan hatinya dengan langkah pelan yang berhasil membuat hati Meridia berdebar tak karuan. "Aku sama sekali tidak keberatan kau menemaniku mandi. Mau bantu memandikan ku?"


"Apa?"