TRAPPED BY THE SECOND MALE LEAD

TRAPPED BY THE SECOND MALE LEAD
CHAPTER 26



Lucien tertawa geli melihat Meridia yang sudah tidak tenang berada di dalam ruang pemandian. Meridia buru-buru ingin keluar dari sana. "Maaf mengganggu. Aku akan pergi sekarang."


Meridia buru-buru lewat sambil terus menunduk untuk menjaga pandangannya. Untuk memastikan dia tidak melihat tubuh Lucien, Meridia menutupi sebelah wajahnya.


Sayang sekali tangan panjang pemuda itu mampu menghalanginya. Lucien langsung menarik tubuh langsing Meridia, menggendongnya ala bridal style, dan membawanya berjalan menuju bak pemandian. "Apa yang kau lakukan? turunkan aku sekarang juga! aku sudah mandi tadi!" gadis itu meronta minta diturunkan namun yang ada Lucien menulikan telinga. Percuma saja dia berontak karena bagi Lucien berat Meridia yang seringan bulu tidak membuatnya kesulitan.


Lucien menunduk memandang dari atas wajah cantik gadis miliknya itu. Walau berada sedekat itu dengannya, Meridia tetap memejamkan mata enggan melihat tubuh atletisnya. Senyuman tulus muncul di bibir tipisnya, "Kau imut sekali. Aku jadi ingin melahapmu." goda Lucien.


Meridia menutup telinganya. Mendengar ucapan Lucien entah mengapa membuat suhu tubuhnya meningkat. Hal yang membuat Meridia semakin gugup dan tak nyaman adalah sebagian kulit mereka yang bersentuhan, belum lagi gadis itu bisa merasakan otot perut dan lengan Lucien dengan jelas.


Sial, pikiranku jadi buntu!


Pelayan yang sudah selesai menaruh aroma wewangian dalam kolam pemandian itu segera keluar dengan terus menundukkan kepala.


"Mari kita mandi."


Pemuda itu masuk ke dalam kolam pemandian berisi air hangat dengan aroma lavender menenangkan masih dengan menggendong Meridia. Melihat wajah Meridia yang sudah semerah tomat hingga ke telinga itu membuat Lucien merasakan kepuasan tersendiri.


"Hah..." Lucien membuang nafas lega setelah merasakan sedikit demi sedikit penatnya berkurang. Tangan Lucien masih melingkar dipinggang Meridia, menahan gadis itu agar tetap berada di pangkuannya. Meridia tak punya kesempatan bergerak sedikitpun. "Jika kau berendam di air ini, rasa lelahmu akan hilang. Nikmatilah. Ini benar-benar sangat nyaman," Lucien menyandarkan punggungnya pada beton bak mandi.


Bagaimana mungkin aku bisa menikmatinya!


Gaun tidur putih Meridia sekarang sudah mulai meresap air dan mulai menampakkan tiap jengkal tubuhnya. Itu sungguh memalukan. " Aku akan mandi nanti saja. Sekarang lepaskan aku. Aku punya urusan."


kedua tangan Meridia berusaha melepaskan lilitan lengan Lucien dari pinggangnya tapi belum menghasilkan apapun juga.


Lucien memiringkan kepalanya, lalu mengajukan satu pertanyaan. "Memangnya kau mau apa? paling juga kau hanya akan berbaring dan melamun seharian. Bukankah itu membosankan?"


Setidaknya aku tidak berendam di sini bersama dengan lelaki tak waras sepertimu.


"Lepaskan aku dulu. Aku akan di sini jika kau mau menjawab semua pertanyaan yang ku ajukan."


Lucien lalu melonggarkan lengannya dan membiarkan Meridia menjaga jarak darinya. Pemuda itu sangat menikmati tiap reaksi yang Meridia berikan padanya, itu membuat kebosanannya selama ini berkurang. "Apa yang ingin kau tanyakan, hm?"


Meridia menatap Lucien takut-takut. "Siapa Lady Veronica itu? dia kelihatannya sangat dekat denganmu."


Lucien mengangkat satu alisnya, disusul dengan seringai jahil "Jadi kau cemburu?"


"Tidak. Aku hanya penasaran." Sebelum Lucien salah paham lebih jauh kepadanya, Meridia pun melanjutkan ucapannya. "Lady Veronica pernah hadir di pesta kedewasaan dan aku dengar kalau dialah orang pertama yang menyebarkan rumor."


Setelah melihat Veronica lagi kemarin, Meridia teringat akan jawaban wanita tersebut. Hubungannya dengan Lucien cukup dekat.


Seketika Meridia melotot dan memandang Lucien dengan raut syok. "Jadi—" dia menunjuk wajah Lucien tak menyangka.


Lucien hanya memamerkan senyum tanpa dosa, "Apa?" tanyanya sok polos.


Meridia mengernyit bingung. "Jadi kau yang meminta Lady Veronica menyampaikan rumor tentang anak kedua Marquess Ziel?! jadi itu bukan dari Lady Veronica sendiri?" Lucien hanya mengangkat bahu sengaja tak memberi jawaban apa-apa.


Dia... sebenarnya seberapa jauh dia tahu aku?


Meridia mendengus gusar. Ia pun berbalik hendak keluar dari bak mandi tersebut, tetapi Lucien justru menariknya masuk lagi.


Pemuda tampan itu kemudian menghimpit tubuh kekasihnya sampai dia tak memiliki ruang gerak sama sekali. "Apa sebenarnya tujuanmu?" netra biru gelap indah milik Meridia itu menatap tajam iris crimson Lucien.


Dari sudut pandang Lucien saat ini Meridia terlihat seperti mangsa empuk baginya. Pipi dan telinga yang bersemu merah, ekspresi was-wasnya, rambut panjang yang sudah setengah basah, serta pakaiannya yang mulai menerawang. Lucien berusaha keras menahan diri. "Memangnya kau penasaran dengan itu?"


Pemuda berusia delapan belas tahun itu menyejajarkan tinggi tubuhnya dengan Meridia, tatapannya semakin intens seakan dia telah siap menerkam mangsanya. "Sudah ku bilang, akan lebih baik jika kau tetap diam dan menjaga ketenangan mu sendiri."


"Bagaimana aku bisa tenang jika aku tinggal bersama dengan orang yang penuh misteri sepertimu?!"


Lucien mendekatkan wajahnya pada wajah Meridia hingga hidung keduanya nyaris bersentuhan. Mata Lucien tak lepas dari mata Meridia. "Kau tidak perlu cemas akan hal itu. Aku akan berusaha tetap menjadi Lucien yang kau kenal," ucapnya setengah berbisik.


Sejujurnya sekarang Meridia tidak bisa fokus mendengarkan semua kata-kata Lucien, dia terus memikirkan cara untuk keluar dari sana karena semakin lama di sana Meridia merasa akan meledak. "Permisi. Bisa lepaskan aku tidak? tidak ada gunanya kau menahanku di sini lebih lama."


Lucien memiringkan kepalanya guna menatap Meridia yang mengalihkan pandangan darinya. "Hm? tentu saja ada. Ini semua untuk latihan, tahu."


"Latihan?" beo Meridia tidak mengerti.


Lucien menepuk puncak kepala Meridia sembari mengukir senyum hangat. "Nanti kalau sudah menikah kita akan melakukan ini setiap hari. Ini hanya untuk membiasakan mu agar tidak kaget lagi."


Meridia memukul lengan Lucien. "A-apa yang kau bualkan ini, huh?! bicara yang masuk akal sedikit." ujarnya ketus, namun malu-malu. Meridia semakin menenggelamkan wajahnya.


"Loh, memangnya itu terdengar seperti khayalan ya? kau tahu, kita sebentar lagi akan menikah."


Bukan itu maksudku, dasar sialan!


Lucien tak bosan-bosan memandangi Meridia yang sudah seperti kepiting rebus di dalam panci. "Hei, apa ini? wajahmu merah sekali. Apa kau sangat malu? astaga, bagaimana kalau kita sudah menikah nanti? aku rasa kau akan pingsan duluan sebelum aku sempat membuka celana— hmph!"


Meridia menggunakan telapak tangan untuk menutupi mulut Lucien. Pemuda itu jika sudah bicara sungguh membahayakan jiwa. "M-memalukan!" Meridia memelototi Lucien.


Lucien justru malah menjilat telapak tangan Meridia, menggoda gadis itu lebih jauh untuk menikmati reaksi macam apa yang akan dia keluarkan selanjutnya.


"Lucien!"


"Senang rasanya memiliki hobi baru". Ya, mulai sekarang Lucien berhasil menambah hobinya yaitu menggoda si pujaan hati yang sebenarnya mudah gugup itu. Lucien lantas melingkarkan lengannya ke pinggang kecil Meridia lagi. "Ayo bantu aku mandi. Nanti aku juga akan menbantumu."


"L-Lucien, lepaskan aku!"




Keesokan paginya, di penginapan yang Arden tempati, pemuda itu mulai mengemasi pakaiannya ke dalam tas ranselnya.


Meski sudah terbiasa tidur hanya empat jam, tetapi pemuda tampan ini tampak sangat lesu. Sebelumnya saat dia harus menyelidiki kasus kematian misterius warganya, Arden sama sekali tidak lelah. Kini dia merasakan lelah itu karena tak kunjung menemukan Meridia meski dia sudah ulet.


Dia hanya memiliki dua hari tersisa di Norfolk, tetapi masih belum ada satupun petunjuk yang mengarahkannya pada keberadaan Meridia. "Apa yang harus ku lakukan sekarang? sepertinya Meridia sudah tidak ada lagi di Norfolk."


Arden mulai putus asa, dia sudah berencana akan mengatakan pada Ziel bahwa dia tidak akan bisa membantunya lagi karena Arden sendiri punya urusan pribadi.


“Mengapa ayah tidak beristirahat sebentar saja? Apa dokumen itu sangat penting sampai tidak bisa ditunda?” tanya Marigold cemas.


“Duke Helios dari Avallone mengatakan kalau dia akan memutus hubungan bisnis kita jika dokumennya masih saja kurang tepat,” jawab Ziel sembari memijat keningnya yang terasa berkedut.


Kedua alis Marigold menurun. “Padahal ayah sudah bekerja sangat keras untuk itu, apa ayah tidak punya cara lain untuk mengatasi masalah ini?”


“Tidak ada cara lain selain bekerja lebih keras lagi,” Ziel nampak masih memikirkan soal Meridia yang hingga saat ini belum ditemukan. Selain kehilangan satu putrinya, dia juga merasa belakangan ini beberapa urusannya tidak berjalan lancar dan itu membuatnya terus mengingat kutukan Meridia terakhir kali ketika mereka berdebat.


Ya, perkiraan kalian benar. Itu adalah ulah Lucien. Lucien telah menawarkan bisnis terkait lahan tambang permata dan berlian yang dia menangi di Black Celtic kepada Duke Helios, serta dia pun menjamin bahwa kerjasama nya dengan Lucien tidak akan mengecewakan dan itu terbukti. Hanya dalam waktu dua minggu, Helios mendapatkan keuntungan dua kali lipat.


Untuk seseorang yang rakus pada harta, siapa yang akan menolak tawaran menggiurkan itu?


Marigold menunduk, ia juga memiliki hal lain yang dipikirkan. Sampai hari ini dia merasa ada bagian kosong dalam memorinya yang dia yakini memang ada tetapi sama sekali tak bisa diingat. Dia merasa ada sesuatu yang dilupakan dan itu sangat mengganjal di perasaannya hingga detik ini.


Marigold tak ingin tenggelam begitu dalam. Dia pun memperhatikan pekerjaan ayahnya yang tengah menggambar denah Norfolk. "Apa yang sedang ayah buat?"


"Oh ini? Ayah berencana ingin mengusulkan pembuatan rel kereta api uap agar perjalanan lebih efisien. Kau tahu, hanya Avallone dan Whitebridge lah yang punya jalur kereta api uap. Ayah yakin Goldenleaf juga akan turut mengusulkan hal yang sama."


Marigold tercengang mendengar rencana ayahnya, "Wah itu hebat sekali! Ayah, semangatlah! aku yakin ayah akan berhasil mendapatkan proyeknya."


Ziel tersenyum sembari mengangguk. "Ya, nak. Terima kasih."


Seorang pelayan datang ke ruang kerja Ziel. “Yang Mulia, Pangeran Arden telah sampai.”


“Ya, tunggu sebentar,” Marigold mencium kening ayahnya dengan penuh kasih sayang, ia gunakan kekuatannya untuk sedikit mengurangi beban pikiran sang pemimpin klan Emerald itu. “Aku pergi dulu, ayah. Sampai jumpa.”


Ziel tersenyum hangat. “Selamat bersenang-senang.”


Setelah berpamitan mereka berdua pergi ke dekat pasar pekan raya yang di mana pagi hari ini pun sudah ramai dipenuhi masyarakat yang menyiapkan lapak mereka sebelum berjualan.


“Wah mereka bersemangat sekali ya,” Marigold kagum melihat suasana di dalam pasar tersebut, Arden pun tersenyum sembari memandangi orang-orang yang berlalu lalang. Itu sedikit mengobati rasa gundah gulana nya. “Ya, kau benar. Sepertinya nanti sore pasar ini akan langsung penuh.”


“Haha sepertinya begitu,”


Setelah cukup lama berkeliling, Arden mengajak gadis bersurai pirang itu menepi untuk istirahat sebentar. Tujuan Arden sebenarnya adalah ingin memiliki waktu untuk mengamati orang-orang di sana hanya untuk mencari Meridia. “Kau tidak ingin membeli sesuatu mumpung kita masih di sini?” tanya Arden untuk pengalihan.


Marigold diam sebentar untuk berpikir “Untuk saat ini belum ada,” jawabnya singkat, “oh ya, apa tadi kau sudah sarapan?”


Arden mengangguk “Ya, tentu sudah. Bagaimana denganmu?” Marigold tersenyum seraya menggeleng “Belum, aku bangun agak terlambat hari ini karena semalam aku terlalu antusias memikirkan hari ini.” itu hanya bohong belaka.


Marigold memikirkan banyak hal sekaligus. Meridia, ingatannya yang terasa hilang, misteri dibalik kekuatannya yang sempat menghilang, Lucien, serta bimbang memikirkan apakah ia akan memilih Arden atau Lucien sebagai calon suaminya. Ada banyak pikiran tak penting yang bersarang dalam otak kecilnya itu.


Marigold sengaja tidak sarapan karena dia ingin menghabiskan waktu sarapan hanya berdua dengan Arden “Kalau begitu mari aku temani kau sarapan di dekat sini.”


“Sungguh? Terimakasih banyak, Arden.”


Mereka berdua mencari restoran terdekat dan Arden menunggu sampai Marigold selesai makan. Pikiran pemuda itu menjadi tak tenang “Marigold, aku baru ingat sudah meninggalkan sesuatu di hotel jadi aku harus kembali sebentar. Kau mau menunggu disini dulu?”


Marigold seperti tak yakin karena dia tak pernah keluar rumah sendirian dan ditinggal di keramaian “Jangan terlalu lama, aku takut.”


“Baiklah, aku akan segera kembali.” pemuda itu berlari dengan cepat keluar dari restoran tersebut bukan untuk kembali ke hotel melainkan untuk mencari tahu keberadaan Meridia. Dia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada.


Sepuluh menit berlalu dengan sangat lambat bagi Marigold. Ia melamun menatap ke luar jendela dengan bosan, sedari tadi ia hanya mengamati orang-orang yang lewat kesana kemari menuju tempat tujuan masing-masing, tidak sedikit orang yang menyapa dirinya, tetapi itu tak dapat membunuh kegelisahan dalam hatinya yang menunggu Arden.


Gadis itu melihat tujuh orang anak perempuan dengan umur yang berbeda tengah melintas di depan jendela restoran yang dekat dengan tempat duduknya. Tiba-tiba salah satu anak tersebut mendorong anak lainnya hingga terjatuh “Aduh!”


“Kak Diana! Kau tidak apa-apa?” hanya satu anak paling kecil yang bergerak menolong gadis kecil bernama Diana itu untuk berdiri. “Hei, apa yang kalian lakukan?! Tadi itu sangat berbahaya, tahu!” jika dilihat dari kemiripan fisik, mereka berdua seperti saudara kandung.


“Oh maaf. Kami hanya ingin menyingkirkan serangga pengganggu disini,” jawab salah satu anak perempuan itu dingin.


Perdebatan kecil pun terjadi disana. Jika Marigold simak akar permasalahan mereka didasari oleh kecemburuan anak lain terhadap Diana yang lebih sering diperhatikan oleh para ibu pengasuh di panti asuhan mereka.


Selalu Diana yang dicari, yang dibutuhkan, yang selalu menerima apapun pertama kali dan itu membuat mereka iri karena selalu mendapat sisa. Tentu saja si bungsu kecil itu tampak sama sekali tak iri terhadap Diana, ia dengan berani berdiri menghadapi lima anak yang lebih besar darinya.


“Kalian terlalu kekanak-kanakkan! Kalian tidak bisa langsung mengambil kesimpulan kalau kalian tidak tahu alasannya!”


Setelah beberapa menit mereka saling adu argumen, akhirnya lima anak tersebut pergi duluan meninggalkan mereka berdua. Anak kecil itu menghapus air mata kesedihan Diana “Kakak jangan menangis. Aku akan membalas mereka nanti, kau tidak perlu bersedih.”


Diana mengusap kedua matanya “Mary, mengapa kau melindungi aku? Biarkan saja mereka terus menyalahkanku begitu.”


“Tidak bisa! kakak adalah kakakku! aku tidak bisa melihat kakak menderita begini. Mereka tidak tahu kesulitan apa yang pernah kakak hadapi. Mereka hanya bisa membual seolah-olah mereka sangat paham kehidupan kita,” ujar si Mary kecil pemberani itu mencoba menghibur kakaknya.


Diana menatap adiknya “apa kau tidak merasa iri padaku?”


Mary dengan percaya diri menggeleng seraya menunjukkan cengiran lebar pada sang kakak “Tidak sama sekali. kebahagiaan kakak adalah kebahagiaanku juga. Apapun yang terjadi kita harus saling menjaga dan mengasihi, itulah pesan terakhir ibu, iya ‘kan?”


Dian tersenyum senang sekaligus lega “Um ya, aku ingat.”


“Kalau begitu ayo kita berusaha memenuhi janji kita pada ibu. Kalau melihat kak Diana menangis begini ibu pasti juga akan menangis disana,” kakak beradik tersebut tertawa bersama, kesedihan mereka melebur begitu saja lalu pergi sambil bergandengan tangan dan berjalan bersama dengan riang gembira seolah tak terjadi apa-apa.


Marigold tetap diam memperhatikan kedua anak itu sampai mereka hilang ditelan keramaian. Melihat drama singkat itu membuat Marigold bertanya-tanya. “Apakah itu yang dinamakan ikatan persaudaraan? lalu mengapa aku dan Meridia tidak bisa seperti itu?” tanya nya pada diri sendiri, “Tidak mungkin. Dia pasti akan merebut segalanya dariku. Dia sangat licik dari yang terlihat.”


Marigold jadi teringat soal memori dikepalanya “Aku yakin aku sudah melupakan sesuatu tapi apa?” setiap kali Marigold tak sengaja mengingat soal Meridia, perasaan itu pasti muncul “Apa ingatanku bermasalah?”


“Marigold, maafkan aku. Aku terlambat karena membantu orang mengangkat barang,” Arden berusaha mengatur nafasnya yang memburu. “Kau dari mana saja? Aku sangat ketakutan disini.”


“Maaf, aku sungguh minta maaf,” Arden menyatukan kedua telapak tangan di depan wajahnya.


“Tidak apa-apa, lagipula sekarang kau sudah disini. Bisakah kita pergi sekarang?”


“Ayo.”


Marigold menghabiskan waktunya dengan hati yang gembira meskipun dia tetap memikirkan soal Meridia dan ingatannya. Arden sendiri tidak merasa keberatan berlama-lama di pekan raya sebab tujuannya juga belum tercapai “Arden,” panggilan Marigold menyadarkan putra William itu dari lamunannya “Ya?”


Gadis cantik beriris biru langit itu mengangkat wajah menatap Arden “Apa sampai sekarang kau masih membantu ayahku mencari Meridia?” Arden tersentak kaget “Kau tahu, sebenarnya aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu,” kata Marigold pelan.


“Ya, katakan saja. Aku akan mendengarkan."