
William mengantar segelas kopi untuk membantu Arden tetap terjaga di depan banyak tumpukan kertas yang entah apa saja isinya. Helena meminta suaminya itu untuk mengawasi putra mereka dan segera menghentikan Arden jika apa yang sedang dia lakukan beresiko besar untuk keselamatan dirinya sendiri.
"Mengapa kau tidak beristirahat sebentar saja? Kau terlalu keras pada dirimu sendiri." Tegur William sambil duduk di sofa, mengambil selembar kertas yang berserakan di atas meja dan membacanya.
"Kapan Baginda Raja Gilbert mengadakan rapat lagi?"
"Minggu depan, jika tidak ada perubahan jadwal mendadak. Kau ingin ikut atau aku yang perlu menyampaikan semua ini kepada Baginda Raja?"
"Aku belum boleh ikut rapat, iya 'kan?" sudah ada William untuk mengikuti rapat. Selagi William masih resmi menjadi pemimpin keluarga, Arden tidak perlu hadir karena yang utama adalah ayahnya.
William menjawab dengan cepat pertanyaan Arden. "Boleh. Kalau kau mau, ikutlah denganku. Raja tidak mungkin melarangmu hadir."
Arden merasa ragu. Bayang-bayang ayahnya yang luar biasa membuat Arden takut kalau-kalau dia membuat kesalahan yang dapat mempermalukan William atau mengganggu ketertiban jalannya rapat.
"Itu rapat bergilir?" tanya pemuda tampan itu lagi.
Biasanya Raja akan mengadakan rapat bergantian. Per harinya ia buat bangsawan tiap kota yang rapat, jika dalam sesuatu yang cukup penting dibahas Raja akan mengumpulkan seluruh bangsawan yang menjadi pemimpin dari suatu wilayah dan dewan istana dari seluruh kota dibawah kepemimpinan kerajaan Bommenhaum (Goldenleaf, Norfolk, Avallone, dan Whitebridge).
"Tidak. Ku rasa minggu depan waktunya rapat besar karena raja bilang dia ingin menyampaikan sesuatu pada semua orang."
"Kalau begitu ayah saja yang menyampaikan semuanya. Aku tidak bisa ikut."
William mengangguk mengiyakan ucapan putranya seraya memberikan sebuah surat kepada Arden "Apa ini?" pria penyandang status Grand Duke itu tak menjawab dan meminta Arden membacanya sendiri "Ini dari Marigold?"
"Ya. Aku dengar dia dan keluarganya ingin mengundang kita ke pesta kedewasaannya. Seperti yang kau tahu, aku tidak bisa pergi ke sana. Helena juga tidak bisa hadir."
Arden memasukkan kembali surat itu ke amplopnya. Teka-teki tentang penyakit yang memakan puluhan korban dalam waktu satu bulan saja belum bisa dia pecahkan. Perjalanan menuju kota Norfolk memakan waktu kurang lebih enam jam. Mempertimbangkan kehadirannya di sana tidaklah berlebihan. "Aku tidak yakin bisa pergi mewakili ayah dan ibu."
"Ya, aku mengerti. Kau tidak perlu memaksakan diri untuk hadir, itu bukan acara wajib jadi kau bisa mengirim surat pada Marigold dan meminta maaf."
Arden menyetujui pendapat William. Ia sudah menulis sebanyak satu kalimat lalu mengangkat penanya di atas kertas saat tiba-tiba Meridia terlintas dalam benaknya. Ada rasa dalam dirinya ingin bertemu dengan gadis raven ketus itu lagi. "Kenapa kau berhenti? Lihat tintanya sudah menutupi tulisanmu."
Arden terkesiap lalu segera memasukkan penanya ke dalam botol tintanya "Aku masih ragu. Aku ingin hadir, tapi setidaknya aku harus selesaikan satu tahap lagi." Seketika Arden seperti baru mendapat motivasi besar, kecepatan gerak tangannya meningkat.
William lebih peka jika itu tentang membaca niat sebenarnya dari Arden dibanding Helena. Jika ada Helena di sana mungkin dia akan mengira bahwa Arden sangat ingin bertemu dengan Marigold lagi sehingga dia sulit memilih untuk tidak hadir "Siapa yang ingin kau temui di sana?"
Arden berjengit kaget, ia mengalihkan pandangannya "Tidak, aku hanya ingin menghadirinya saja. Untuk perwakilan dari keluarga Palmieri."
William mengangkat satu alis "Siapa yang coba kau bohongi? Bocah lima tahun? Arden sebenarnya aku ingin menanyakan ini padamu."
Di sanalah William menanyakan tentang perasaan Arden yang sebenarnya terhadap gadis yang baru saja menjadi temannya beberapa waktu lalu. Gosipnya tentu sudah sampai ke telinganya. Banyak orang mengatakan bahwa kedua muda-mudi itu sangat cocok dan akan segera menjalin hubungan yang lebih serius.
Arden tak banyak menjawab dengan hal spesifik. Bukan takut William akan mengadukannya pada Helena yang entah bagaimana juga termasuk ke dalam kelompok yang menyetujui perjodohannya dengan Marigold, melainkan keyakinannya yang belum kuat.
Sudah jelas Arden tak merasakan rasa aneh saat bersama Marigold. Lain cerita saat dia sedang mengobrol dengan Meridia, ada yang tidak beres dengan hatinya. Walau begitu Arden belum yakin dengan perasaannya dan ia ingin mencaritahunya lebih jauh.
Suasana di mansion Emerald lebih dingin dan sepi, jauh sangat berbeda sejak semalam. Tidak ada dari mereka yang bercengkrama sesantai sebelumnya.
Para pelayan tampak menghindari bertemu dengan Meridia padahal sejak pagi buta Meridia sudah pergi ke luar.
Tadinya Meridia berpikir ingin membawa barang-barang pentingnya dan tidak menginjakkan lagi di rumah tersebut tetapi para pengawas terus berkeliling di tempat-tempat yang merupakan jalan keluar dari wilayah mansion.
Marigold masih berdebat halus dengan ayahnya yang tanpa pemberitahuan terlebih dahulu telah menyebar undangan pesta kedewasaan. Selain itu hal yang membuatnya bingung adalah, seharusnya pesta debutante nya jatuh pada dua bulan ke depan. Marigold sendiri belum menyadari apa yang merubah suasana hati semua orang.
Saat Ziel menjelaskan sedikit masalah terutama kutukan Meridia terkait dengan keluarga mereka. Marigold membeku di tempat, dia tidak yakin apa yang akan terjadi selanjutnya tapi yang jelas semua akan jadi sulit mulai dari sekarang. "Jadi itu alasan kenapa aku terbangun tiba-tiba dan merasa tidak nyaman?" pikir Marigold.
Ziel berusaha meyakinkan istri dan anaknya untuk menerima rencananya. Zoya sangat tidak menyukai rencana Ziel, itu membuatnya kesal. "Jika kita membujuknya mungkin dia mau menarik kembali kutukannya."
Ziel sudah mengatakan apa rencana dibalik mempercepat pesta kedewasaan Marigold di lingkungan sosial bangsawan. Ziel ingin Zoya dan Marigold memperlakukannya dengan baik, mengajaknya untuk ikut dalam perayaan debut yang memang seharusnya dilakukan untuk keduanya. Meskipun mereka (keluarga Emerald) tetap akan menyembunyikan identitas aslinya.
"Biarkan dia merasakan kehidupan Marigold sehari saja. Dia bukan anak yang pendendam. Aku yakin setelah menerima semua itu dia tidak akan marah dan kita bisa membujuknya untuk melepas kutukan itu." Ziel menganggap Meridia yang pendiam adalah anak polos yang tak bisa membedakan mana tulus dan mana akal bulus.
Tidak akan ada yang melirik Meridia sebanyak atensi yang akan Marigold dapatkan sehingga tentu saja tidak akan menimbulkan banyak pertanyaan. Rencananya sederhana saja, tapi berat untuk mereka lakukan.
"Bagaimana kita tahu kutukan itu benar akan terjadi jika dia tidak menyentuh kita?" tanya Marigold.
Ziel termenung memikirkannya, saat mengucapkan itu Meridia memang hanya menyumpahkan keputusasaan tapi tidak melakukan kontak fisik "Oh, maaf. Sebelum itu ayah menyentuhnya untuk memohon padanya."
"Ziel!" Zoya menganga tak percaya dengan keteledoran suaminya.
Bagus. Apa yang ditakutkan Marigold benar-benar terjadi. Marigold merasa kalau Meridia siap menggusur apa yang sudah dia bangun selama ini dengan susah payah. "Sejak dulu aku selalu punya perasaan kalau kekuatan yang dia punya memang lebih kuat daripada milikku, tapi aku tidak menyangka dia akan melakukannya secepat ini." batin Marigold kalut.
Ziel memegangi kepalanya yang sudah seperti siap meledak kapan saja. Sebisa mungkin dia harus bisa mencabut kutukan itu atau anak dan istrinya akan menderita.
Tidak bisa ia pungkiri, Ziel sampai sekarang pun masih merasakan emosi yang dirasakan salah satu putri kembarnya. Hatinya sedikit bereaksi melihat wajah Meridia yang menyayat hati.
Marigold kemudian teringat dia telah membeli gaun ekstra hari itu untuk suatu saat diberikan pada Meridia dengan tujuannya untuk membuatnya mencolok— tentu bukan untuk tujuan baik.
Marigold tersenyum pada ayahnya "Tak apa ayah, aku mengerti dengan keputusan ini. Aku senang adikku akan menemaniku menikmati pesta debutante yang hanya akan dilakukan sekali seumur hidup ini." Zoya menatap Marigold kaget "Sayang, apa maksudmu bicara begitu? Dia akan membawa kesialan pada pestamu."
"Ibu terlalu khawatir...Meridia tidak sejahat itu sampai terus menerus memberi kesusahan pada orang lain."
Ziel tersenyum bangga pada putrinya. Marigold tumbuh dengan hati yang baik, pikir Ziel. "Oh iya, aku sudah mengirim undangan pada Arden. Aku rasa dia akan datang juga."
Marigold tersentak kaget "Eh? Ayah bilang apa?" Zoya mencubit ringan pipi tak berlemak milik putrinya yang bersemu "Kau harus berdandan yang cantik, calon tunanganmu itu akan jauh-jauh datang kemari lagi hanya untuk hadir di acara pentingmu." Godanya yang menambah semburat di kedua pipi Marigold "I-ibu ini..."
Selagi mereka merencanakan kelicikan itu, Meridia duduk di tepi sungai di hutan dekat dengan mansion Emerald. Hutan itu satu-satunya tempat yang tenang, jauh dari keramaian, dan suasananya selalu sangat membantu Meridia menghilangkan kebuntuan otaknya.
"Sial. Kenapa pula penjaga itu semakin hari semakin banyak? Aku bukannya seorang kriminal dengan tuntutan sepuluh hukuman berlapis." Gerutunya sembari membuang-buang kerikil ke dalam sungai.
"Tidak ada yang bisa ku lakukan sekarang."
"Apa yang kau gumamkan sejak tadi? Kenapa pula kau menekuk wajahmu begitu?" Meridia terperanjat kaget. Suara siapa yang tiba-tiba terdengar? Tidak mungkin binatang di sini bisa bicara 'kan? Gadis jelita berkulit pucat itu menengok kesana kemari mencari sumber suara pasalnya dia yakin tak ada satupun orang selain dirinya di sana.
"Aku di sini," ia pun menengok ke belakang, tepatnya di atas pohon telah menjuntai kaki entah siapa pemiliknya di cabang pohon.
Meridia merasa sedikit lega karena awalnya dia berpikir yang mengikutinya adalah pengawal Ziel yang memang disiapkan untuk terus memantau. "Siapa kau?"
Pemuda itu melompat turun dan tanpa izin duduk di sebelah Meridia "Lagi-lagi kau tidak ingat. Ya sudahlah, mau bagaimana lagi. Kau sungguh tidak ingat aku? aku Lucien, kita sudah sering bertemu sebelumnya."
"Kau mencoba menipuku?"
"Seorang pengelana sepertiku tidak berpengalaman menjadi penipu. Aku hanya mengenal hutan."
Meridia tak menghiraukan penjelasan Lucien, kepalanya sedang kosong.
"Kau kelihatan sedih, ada apa?" Lucien sedikit ngeri melihat Meridia yang tiba-tiba menoleh dengan mata melotot tak suka. Pemuda itu mengalihkan pandangannya "Jika kau bicara dengan orang asing yang bahkan tak mengetahui kehidupan aslimu sama sekali itu sangatlah membantu."
"Aku tidak punya tenaga untuk menceritakan semuanya," sekarang Meridia berhasil mengingat Lucien, pertemuan terakhir mereka di kuil "Kenapa aku selalu melupakanmu? Itu aneh."
Lucien hanya tersenyum simpul "Kau tidak akan bisa mengingatku sampai kau sendiri yang memutuskan untuk terikat denganku."
"Maksudmu?"
"Kau pernah tinggal di hutan selama seharian penuh?" dahi Meridia berkerut kala pemuda itu menghindari pertanyaannya "Tempat ini tidak sesehat bagian lainnya. Aku yakin kau sering datang kemari."
"Tidak sehat?" Lucien menunjuk rumput di bawah Meridia "Banyak rumput yang terinjak, daun-daun di sini juga sebagian kau sobek, kau sering ke sini."
"O-oh, iya."
"Mau ku ajari bagaimana caraku bertahan hidup di hutan?"
Lucien mengajak Meridia berkeliling hutan, memperkenalkan berbagai macam tumbuhan liar yang aman untuk dimakan dan cara membedakannya dengan tumbuhan beracun. Seketika Meridia hanya fokus dengan ilmu baru dan sangat tertarik dengan kebolehan Lucien mengenali kehutanan.
Di sana Meridia belajar membuat api, memancing ikan dan membakarnya sendiri. Lucien lega melihat Meridia terus tersenyum antusias saat bersama dengannya "Sudah ku duga, senyum itu yang paling cocok untukmu."
"Kau mengatakan sesuatu?" tanya Meridia. Dia sibuk menonton ikannya terbakar sempurna sampai tak mendengar ucapan Lucien "Tidak."
"Andai aku bisa membuat gubuk sendiri. Aku akan tinggal di sini saja."
"Pfft!" Meridia mengangkat satu alisnya heran saat Lucien mengulum senyum "Kenapa? Ada yang lucu?"
"Haha tidak. Aku hanya terkejut saja. Di sini gubukmu tidak akan bertahan lama. Aku 'kan sudah bilang, tinggallah bersamaku, aku punya banyak kamar yang kosong."
"Kau bilang kau seorang pengelana."
"Ya, tapi aku tetap punya tempat untuk pulang."
Meridia menatap kedua mata Lucien "Mengapa aku merasa tidak asing dengan wajahmu? Kau, kenapa kau selalu menggunakan topeng itu?"
"Aku tidak punya kepercayaan diri yang cukup jadi aku menutupinya."
Meridia melanjutkan aktivitasnya di hutan bersama Lucien hingga siang hari. Hari ini cuacanya cukup terik, bermain di bawah rimbunnya dedaunan yang menjadi payung alami tidak membuat cuaca panas mengganggu kegiatannya.
Mengingat bahwa setelah merasa senang di luar tetapi harus kembali ke mansion Emerald membuat kesenangan yang susah payah ia bangun itu runtuh seketika. "Sepertinya ada yang sedang mencarimu," Meridia terbangun dari lamunannya dan menatap ke Lucien "Siapa?"
Terdengar bunyi langkah kaki tidak hanya dari satu orang. Meridia menjadi tegang "Apa itu para pengawas ku?"
Lucien melihat ketegangan Meridia, gadis itu takut menghadapi amukan Ziel lagi setelah semalam menghabiskan energi yang cukup banyak untuk meluapkan kekesalannya "Mereka hanya ingin menjemputmu, aku rasa begitu. Jangan khawatir." Tangan lebarnya menepuk puncak kepala biru kembaran Marigold itu seraya berdiri hendak pergi sebelum ada yang melihatnya "Datanglah padaku maka aku akan memberimu jalan keluar."
Meridia ikut berdiri "Kau ada di sini."
"Aku tidak akan bisa melakukan apa-apa jika bukan kau sendiri yang datang dan memohon padaku."
"Lady! Ternyata Anda di sini? Yang Mulia Marigold mencari Anda sejak tadi."
Lucien sudah pergi dari sana ketika salah seorang prajurit menemukan dirinya.
"Marigold?" ulangnya tak percaya.
"Ya."
"Untuk apa dia mencariku?"
"Saya tidak tahu. Saya hanya ditugaskan untuk mencari Anda."
Di luar dugaan. Mengapa mereka bicara sangat sopan? Bahkan sampai memanggilnya 'Lady'? kedatangan mereka sudah cukup mencurigakan. Meridia berharap untuk merasakan ketenangan sehari saja tanpa ada masalah yang perlu dihadapi.