
Marigold mendongak memandang Arden yang mulai penasaran sebab ia memberi jeda yang cukup panjang untuk meneruskan kalimatnya. Kakak kembar Meridia itu menggigit bibir bawahnya, ia sangat ragu untuk mengatakannya. Takut jika Arden menyalahkannya. “Aku ada di rumah saat kejadian Meridia pergi dari rumah,”
“Ya, aku sudah tahu itu. Memangnya kenapa?” Marigold memegang lengan Arden dengan tangan gemetar, terdapat keputusasaan dalam kedua matanya “Kenapa aku tidak mengingat apa-apa?” tanya nya keheranan.
Dia saja tidak ingat, lalu bagaimana dengan Arden yang tidak melihat apa-apa? pemuda itu hanya tersenyum sambil menepuk pundak Marigold pelan, “Mungkin kau memang tidak lihat saja, bukan berarti kau melupakan sesuatu.”
“Tapi…”
Marigold benar-benar merasakan kekosongan itu. Dia tidak tahu harus melakukan apa. Sekeras apapun dia berusaha mengingat, justru hanya pening yang melanda.
“Jangan terlalu kau paksa untuk mengingatnya, itu justru tidak akan membantu.” ujar Arden lembut.
“Kau tidak mengerti. Rasanya seperti ada lubang dalam memoriku, aku merasa Meridia bukan kabur, ada sesuatu yang membuatnya harus pergi,” kedua alis Marigold bertaut. Sekarang Marigold sedang mengesampingkan kebenciannya pada adik kembarnya. Tidak dalam artian tulus, Marigold hanya ingin memecahkan misteri dalam otaknya itu.
“Apa maksudmu?” Arden tidak mengerti dengan perkataan Marigold yang berputar-putar. “Aku tidak tahu, Arden. Aku tidak bisa menjelaskannya.”
Sejujurnya setelah melihat kejadian perundungan terhadap kakak beradik saat di restoran tadi sedikit mengetuk hati Marigold. Dia ingin mengaku di depan Arden bahwa Meridia adalah adik kembarnya tetapi gadis itu tak ingin mengambil resiko jika pertanyaan Arden akan melebar kemana-mana. Keluarganya juga pasti akan terkena masalah baru.
Arden menepuk pelan pucuk kepala Marigold “Kau tidak perlu memaksakan ingatanmu. Pelan-pelan saja, lambat laun kau akan ingat dengan sendirinya,” ucapnya berusaha menenangkan Marigold.
“Ya, kau benar,” hatinya masih merasa tak tenang tapi ia mengalihkan perasaan itu dengan bersenang-senang dengan Arden menikmati pekan raya bersama.
Secara tidak langsung Arden mendapat konfirmasi dari orang yang bersangkutan mengenai kecurigaannya. Tidak hanya Ziel, sekarang Marigold juga terlihat mempedulikan Meridia.
“Oh, bukankah itu Lady Marigold?” seorang wanita dengan dua anak yang ia gandeng bersamanya tersenyum lebar melihat Marigold dari dekat “Halo,” sosok yang dipuja sebagai Saintess itu membalas dengan ramah dan tak lupa membalas senyuman wanita tersebut.
“Anda datang kemari sendirian?” wanita itu menghampiri Marigold lalu menurunkan satu anaknya yang berada dalam gendongannya “Halo Lady Marigold,” sapa kedua anak kecil berusia empat dan lima tahun itu serentak.
“Halo Zerin, Karin~” balas Marigold dengan nada yang mengalun.
Wanita itu langsung menganga karena terpukau melihat ketampanan Arden yang berdiri dekat dengan Marigold, dia baru sadar kalau Saintess itu sedang bersama orang lain juga. Arden yang sedari tadi dipandangi hanya dapat tersenyum canggung. “Halo, selamat siang.” sapanya sopan.
“H-halo,” wanita itu tersipu, dia berbisik dengan suara yang cukup jelas di dekat Marigold “Aah, Lady Marigold, apakah dia ini adalah kekasih Anda?”
Marigold tersentak “Eh? A-ah kami hanya berteman saja kok,” kedua pipi Marigold bersemu merah “eyy tapi kalian berdua terlihat cocok berdua, sudah seperti jodoh yang diciptakan untuk saling melengkapi saja ohohoho,” goda wanita itu sambil menutup mulut dengan telapak tangan.
Putri kebanggaan Ziel itu memukul pelan lengan wanita itu. “Bibi Sienna ini, kami hanya berteman saja, kok.”
Setelah mendengar ledekan dari Sienna, Marigold kembali teringat dengan lelaki tampan yang satunya lagi yang dia kenal sebagai Lucien. Di kepalanya tiba-tiba ia membayangkan dua pemuda itu memperebutkan dirinya sampai dia harus memilih keputusan yang berat. Sungguh tidak tahu malu.
“Kalian sangat serasi.”
“Ya, itu benar!” bahkan anak-anak nya pun ikut menyetujui ucapan sang ibu sembari memandang kagum sepasang kaum muda yang elok dipandang mata tersebut.
Suasana hati Marigold kian membaik setelah menghabiskan waktu bersama dengan Arden berkeliling pekan raya, membantu beberapa orang yang kesulitan mengatur barang, mereka juga sempat berkeliling di taman kota, dan kembali ke pekan raya untuk sekedar mencari makanan kecil. Mereka berdua menghabiskan waktu bersama hingga sore hari.
Berbeda dengan yang dialami kakak kembarnya, Meridia justru menjalani hari baru dengan perasaan waspada. Sejak semalam suntuk Meridia tidak tidur akibat rasa syoknya yang diakibatkan oleh pemuda yang merupakan calon suami masa depannya itu.
"Dasar payah!" Meridia mengatai dirinya sendiri setelah mengingat apa yang terjadi padanya semalam.
Lebih jelasnya, Meridia pingsan karena teramat gugup menghadapi pemuda banyak maunya itu. Meridia nyaris melakukan semua tugas seorang pelayan untuk membantunya menggosok bagian tubuh yang tidak bisa ia jangkau sendiri.
Meridia sedang duduk di depan cermin rias, membiarkan Ximena mengerjakan kewajiban sebagai pelayan pribadinya. Dari cermin tersebut, Ximena dapat melihat dengan jelas pantulan wajah Meridia. “Yang Mulia sepertinya Anda kurang tidur, apa ranjangnya kurang nyaman? apakah Anda membutuhkan aroma penenang disini?” tanya Ximena memperhatikan wajah letih gadis berambut panjang itu.
Bagaimana aku bisa tidur, aku harus terus waspada jangan sampai lengah.
Meridia terus terjaga semalam suntuk dan hanya tidur selama tiga jam saja. Selain karena belum terbiasa dengan istana tersebut, ia juga sangat waspada akan kedatangan Lucien yang sering muncul di mana saja secara tiba-tiba dan tidak terduga.
Hatinya terus gelisah setelah ia terjebak di dalam bak mandi bersama dengan Lucien. Ia takut kalau-kalau pemuda itu menerobos masuk ke dalam kamarnya saat sedang tertidur pulas, tidak menutupi kemungkinan itu bisa terjadi sebab kamar mereka yang benar-benar berhadapan.
“Tidak, aku hanya belum terbiasa dengan tempat dan lingkungan baru,” Meridia sesekali melirik ke luar jendela kamar, barrier yang dipasang untuk menyembunyikan kediaman Lucien ini tampaknya tak mempengaruhi lingkungan sekitarnya.
Selesai bersiap Meridia diantar oleh Ximena untuk pergi ke ruang makan “Ximena, apa aku tidak bisa makan di kamarku saja?”
Ximena selaku pelayan yang sudah bekerja selama tiga tahun di sana, yang notabenenya sekarang menjadi pelayan pribadi Meridia itu sedikit mengerutkan dahi. “Anda kelihatan baik-baik saja, Yang Mulia. Jika Anda memilih untuk sarapan di kamar mungkin Young Duke akan mengira Anda sakit,” jika itu terjadi tentu Meridia takkan bisa menghindari Lucien karena lelaki itu akan terus berada di kamarnya.
Seakan tahu bahwa saat ini Meridia mencoba menghindari majikannya, ucapan Ximena membuat Meridia tak bisa berbuat apa-apa selain menurut karena itu lebih aman bagi dirinya.
“Selamat pagi, Meridia,” wajah rupawan bak pahatan sempurna dari dewa itu berseri-seri seperti telah terjadi sesuatu yang sangat menyenangkan hatinya. Lucien duduk dan menunggu Meridia. Begitu muncul, iamenyambut kedatangan calon istrinya antusias seperti anak kecil ketika melihat ibunya dalam acara penting sekolah.
“Ya, selamat pagi,” gadis itu mencoba tersenyum walau terlihat sangat dipaksakan. Duduk di sebelah Lucien membuat hatinya berdegup tak tenangn. “Sepertinya semalam kau tidak cukup tidur, ada apa? Kau mengalami mimpi buruk?”
Kaulah mimpi burukku, dasar payah!
“Aku hanya belum terbiasa, itu saja,” Meridia memakan salad sayurnya terlebih dahulu. Kedua matanya terus menatap ke arah lain tak mau bertatapan dengan Lucien. “Atau kau mau aku temani sampai bisa terbiasa?” goda pemuda itu di awal pagi hari ini.
“Tidak perlu, terimakasih.” tolak Meridia mentah-mentah.
Meridia melirik pakaian resmi yang dikenakan Lucien “Kau mau pergi kemana?” pertanyaan Meridia berhasil membuat senyuman lelaki itu mengembang. "Aku akan pergi ke istana sebentar. Aku harus mengirim laporan ku sebelum rapat besar diadakan."
"Begitu ya."
"Aku juga ingin melihat apakah suratku sudah diterima oleh pihak istana atau belum. Aku tidak sabar menantikan pernikahan kita."
Meridia merotasikan kedua bola matanya “Aku tidak bilang aku mau menikahimu,” Meridia menyendok saladnya sambil melirik Lucien tajam.
“Huh? memangnya siapa yang butuh persetujuan darimu? kau ditakdirkan untuk jadi milikku seorang. Tidak peduli seberapa keras kau mencoba lari dariku, kau akan tetap jatuh ke pelukanku". Nafas Meridia tercekat, ia mencari keseriusan dari apa yang baru saja Lucien lontarkan. Lucien tersenyum lebar. “Aku bercanda. Terima atau tidak, itulah satu-satunya pilihan yang bisa menguntungkan dirimu, iya ‘kan?”
Justru perkataan Lucien membuatnya merasa aneh. Lucien sering kali berkata kalau dirinya hanya bercanda, justru bagian itu yang membuat Meridia ngeri.
Seandainya penulis menjelaskan lebih detail soal pemeran utama kedua pria. Aku kesulitan bergerak.
Sepuluh menit kemudian kedua insan itu telah menyelesaikan acara sarapan bersama. Lucien menawarkan tangan membantu Meridia beranjak dari kursinya. Kemudian lelaki itu menahan dagu Meridia dan mengecup kening gadisnya dengan lembut. Tindakan tersebut membuat Meridia melotot kaget. “Aku berangkat. Kau bebas melakukan apapun di rumah ini. Sampai ketemu nanti,” pemuda itu tersenyum hangat sebelum akhirnya pergi duluan dari ruang makan.
"Bebas katanya?" Meridia tahu ada banyak mata-mata di dalam istana Navarro ini.
Gadis berparas ayu itu kemudian beranjak ke ruang tahta milik Lucien yang selama tinggal di sana belum pernah ia datangi. Akan tetapi, rasa penasaran muncul begitu ia ingat menu sarapan barusan. "Aku akan coba membuktikannya sendiri."
Putri Ziel Emerald itu beranjak pergi menuju ke dapur. Di sana koki istana yang diketahui bernama Fernando itu tengah mencuci sekeranjang penuh kentang. "Permisi."
"Bisakah kau membuatkan sesuatu untukku?"
"Tentu saja, Yang Mulia. Dengan senang hati akan saya buatkan apapun yang Anda ingin makan."
"Aku sedang ingin makan makanan manis, bisakah kau buatkan aku kue tart? aku ingin makan tart strawberry."
Tadinya Fernando tersenyum senang mengingat Meridia selalu tidak menghabiskan makanannya sendiri, kini dia meminta sesuatu kepada dirinya secara langsung. Akan tetapi, senyum Fernando begitu cepat memudar tatkala mendengar menu yang Meridia minta.
"Kenapa, paman?"
"T-tapi... Yang Mulia Lucien tidak memperbolehkan saya membuatkan makanan semanis itu bahkan jika Anda memintanya sendiri secara langsung."
Kedua alis panjang Meridia bertaut, "Kenapa dia melarangmu?"
"Itu karena Yang Mulia bilang Anda tidak bisa mentolerir gula sebanyak manusia pada umumnya. Saya diminta mengawasi makanan Anda."
Atas dasar apa dia begitu yakin kalau aku tidak bisa makan manis? dia ini sok mengenal diriku.
"Buatkan saja diam-diam. Aku akan langsung menghabiskannya jadi dia tidak akan tahu. Ah, kau buatkan saja yang kecil jadi aku lebih mudah memakannya."
Fernando masih tidak yakin, "Tapi..."
"Ayolah, ku mohon. Sekali ini saja, kok."
"Baiklah, Yang Mulia,” jawab pria tersebut ragu namun karena paksaan Meridia, dia segera bergerak menyiapkan bahan-bahannya. Meridia terus berdiri di samping meja Fernardo, menonton orang tengah memasak ternyata cukup menyenangkan juga.
"Paman. Bolehkah aku menanyakan sesuatu padamu?"
"Silakan, Yang Mulia."
“Apakah sebelumnya kau pernah melihatku datang ke istana ini atau Lucien mengundang temannya untuk main ke rumahnya?”
"Saya rasa tidak. Mohon maafkan saya, Yang Mulia. Saya tidak dapat melanjutkan percakapan ini lebih lanjut."
"Aku mengerti."
Meridia melamun memikirkan banyak hal selagi menunggu Fernando selesai membuatkan kue untuknya.
Jika Lucien sangat tahu tentang Meridia bahkan melebihi dirinya sendiri, tidak mungkin kedua karakter ini bertemu hanya saat mereka sudah remaja saja. Meridia asli bertemu dengan Lucien tepat setelah pesta kedewasaan, kurang lebih waktunya sama dengan yang dia (Bianca) alami sekarang.
Sudah berulang kali Meridia ingat alur dari buku novel 'Light and Shadow' itu, hasilnya tetap sama. Tidak satupun ada scene di mana Meridia kecil bertemu dengan orang lain, dirinya disibukkan dengan pelayan-pelayan jahil yang kejam di rumahnya sendiri.
Seketika rasa pusing menyambangi nya. Sekelebat ingatan dalam memorinya keluar, memperlihatkan seorang bocah yang terkena demam tinggi hingga wajahnya sangat merah, nafasnya memburu. Jika dibiarkan bocah itu bisa mati.
"Ugh!" Meridia memegangi kepalanya yang tiba-tiba terasa sakit.
Melihat hal tersebut, Fernando menghentikan kegiatannya dan segera membantu kembaran Marigold itu untuk duduk. "Yang Mulia, Anda baik-baik saja?" tanya pria itu khawatir.
"Aku baik. Aku rasa aku hanya kurang darah saja. Aku butuh makanan manis, lanjutkan saja kegiatanmu."
Dengan ragu-ragu pria itu menjawab "...Baik, akan segera saya selesaikan sekarang."
Setelah kue yang diminta jadi, Meridia langsung memakannya dengan sendok. Setelah dua suapan masuk ke dalam perut, ia masih baik-baik saja dan lanjut memakannya dengan perasaan haru setelah mengetahui rasa kue buatan Fernardo sangatlah lezat.
"Rasanya sudah sangat lama aku tidak merasakan enaknya makan kue." batin Meridia senang menikmati kue tart permintaannya.
Namun, di suapan kelima, Meridia merasakan ada sesuatu yang aneh diperutnya. Seluruh isi perutnya secepat kilat naik hingga ke kerongkongan. Meridia berniat lari ke toilet, namun karena tak bisa menahannya lagi, Meridia akhirnya memuntahkan seluruh isi perutnya di sana.
Fernardo yang semakin khawatir segera mengambilkan segelas air minum untuk menetralkan rasa mual yang dirasakan calon istri majikannya tersebut. “Apa saya perlu memanggilkan dokter untuk Anda?”
“Ugh…tidak usah, aku baik-baik saja,” dahi Meridia berkerut dalam. Dia tidak tahu dan tidak menyangka sama sekali kalau apa yang dikatakan Lucien benar adanya. Kenapa aku tidak mengenali tubuhku sendiri? Pikir Meridia dengan wajah pucat. “Sebaiknya Anda segera berbaring dan istirahat saja, Yang Mulia.”
Meridia beristirahat di sofa panjang yang ada di kamarnya. Kedua matanya terpejam sambil ditutup menggunakan lengan kanannya “Aku harus segera mencari tahu semuanya. Kenapa aku selalu merasa bahwa berada disini adalah sebuah kesalahan besar,” dia terus menggumamkan banyak hal dan memikirkan banyak hal sekaligus hingga rasa lelah membuatnya tertidur.
Tiga puluh menit kemudian, pintu kamar Meridia terbuka pelan memunculkan sosok tinggi Lucien yang baru saja melakukan teleportasi setelah mendapat sinyal bahwa telah terjadi sesuatu pada gadis yang cintainya.
Kedua sudut bibirnya terangkat menyunggingkan sebuah senyuman, ia berjongkok menatap wajah tenang Meridia lamat-lamat, tangannya kemudian bergerak menyingkirkan anak rambut yang mengganggu mata. “Cantik,” satu kata itu keluar begitu saja dari mulut Lucien.
Ia beranjak mengambil gelas berisi air putih lalu meletakkannya di atas meja “Meridia, bangunlah. Hei, Meridia?” pemuda itu dengan lembut menggoyangkan bahu kecil Meridia yang membuat gadis itu menggeliat terganggu.
“Unghh jangan ganggu, pergilah,” gumam gadis itu tak jelas.
“Huh,” pemuda rupawan itu menghela nafas dan langsung mengangkat tubuh langsing Meridia dan berhasil membuat gadis itu tersadar sepenuhnya “Hei, apa yang kau lakukan? Turunkan aku!”
“Tidurlah ditempat yang lebih nyaman supaya rasa penatmu benar-benar hilang,” ucapnya seraya memindahkan tubuh gadis itu ke ranjang. “Ini, minumlah,” Lucien memberikan sebutir kapsul kepada Meridia “Aku tahu kau baru saja memakan kue dan aku yakin sekarang pun kau masih merasa mual.”
“…” gadis berambut biru dongker itu menerima obatnya dengan ragu lalu meminumnya setelah Lucien memberikan segelas air. Ajaibnya rasa mual yang ia rasakan benar-benar hilang “Terima kasih,” ucap Meridia lirih.
Lucien duduk di tepi ranjang Meridia “Kau masih mencurigaiku?” ia tersenyum tipis lalu berkata, “Sudah aku bilang aku tahu segalanya tentangmu dengan sangat baik jadi kau tidak perlu khawatir.”
Justru itulah yang harus aku khawatirkan
“Ya.” Meridia diam-diam memperhatikan pakaian Lucien yang masih rapi, "Katamu kau mau pergi ke istana? mengapa kau kembali?"
"Aku belum berangkat. Aku tadi mampir ke lapangan untuk memberitahu pada Ksatria ku untuk berjaga di setiap sudut. Kau tahu, korban itu meninggal dengan cara yang kurang baik, iya 'kan?" dusta Lucien.
Sebenarnya Lucien hampir sama di istana Bommenhaum, tetapi dia segera menggunakan kemampuan teleportasinya untuk pulang setelah tahu Meridia sakit.
"Kau mau berbuat nekat lagi, hm?" Lucien mengangkat dagu Meridia, meminta gadis itu untuk menatap matanya. "Jangan lakukan apapun yang merugikan diri sendiri. Cukup kau diam dan biarkan aku menuntaskan janjiku padamu."
Putri kembar Ziel itu menatap iris merah darah Lucien. "Janji apa?" ulangnya tak mengerti.
Meski sekilas, Lucien tampak terkejut akan ucapannya sendiri. Pemuda berkaki panjang itu beranjak dari tepi ranjang. "Aku akan pergi sekarang. Tidurlah sampai mual mu hilang. Aku akan mengecek mu lagi nanti."
Brak!
Lucien membanting pintu kamar tak bersalah itu. Meridia ikut turun dari ranjangnya dan menuju ke pintu. "Janji apa yang dia maksud?"