TRAPPED BY THE SECOND MALE LEAD

TRAPPED BY THE SECOND MALE LEAD
CHAPTER 20



Lucien meninggalkan Meridia agar dia bisa menyesuaikan diri dengan perubahan suasana di sana. Rumah yang besar, terpencil, tak memiliki kesan ceria yang hidup sebesar tempat tinggalnya dulu. Cukup pengertian memang, namun tetap saja Meridia merasa bukan disini tempatnya, ia tidak seharusnya berhubungan dengan para pemeran utama lebih jauh.


Meridia memanfaatkan waktu dengan menelusuri kamar mulai dari satu sudut ke sudut lain. Tidak lupa Meridia juga memeriksa balkon kamarnya.


“Wah!”


Meridia langsung terpukau begitu melihat pemandangan yang disuguhkan oleh balkon kamarnya. Sebuah taman bunga lavender beserta dua deret pohon buah anggur tumbuh dengan indahnya di halaman yang luas dan terawat itu. Semuanya tersusun rapi, baris per baris, deret per deret. Tidak ada sampah dedaunan kering, hanya ada rerumputan hijau yang terjaga.


“Aku seperti berada di negeri dongeng.” Ya, pada dasarnya dia berada di dunia novel.


Meridia rasanya enggan untuk masuk dan meninggalkan balkon, namun dia malah teringin untuk mendatangi kebun di bagian samping Istana itu. Kakinya terasa gatal jika ia tidak pergi dan menginjakkan kaki di sana. Meridia pun memutuskan untuk masuk.


Gadis itu menatap dua lemari besar di dalam sana yang belum ia jamah. “Besar sekali lemari ini,” Meridia mendekati lemari pakaian yang cukup lebar dan besar itu, ia membukanya karena penasaran.


Siapa sangka, dua-duanya berisi penuh dengan jajaran gaun mulai dari berbagai macam model hingga warna meski kebanyakan berwarna biru nila dan ungu. Tidak hanya itu, di papan bagian atas lemari terdapat susunan tiara (mahkota kecil yang bentuknya lebih sederhana dibanding mahkota) berkilau yang banyak permatanya.


“Astaga, berapa banyak uang yang dia habiskan untuk ini?” Meridia menyentuh kain salah satu gaunnya dan memperhatikan model-modelnya, sebagian besar gaunnya adalah jenis gaun yang bagian bahunya banyak terekspos “Seleranya sungguh mengerikan.” pangkal hidungnya berkerut.


Meridia tersentak mendengar bunyi ketukan pintu saat ia sedang fokus pada pikirannya sendiri “Permisi, Yang Mulia Meridia.” seorang gadis berpakaian pelayan dengan wajah datar dan pucat itu muncul dari balik pintu, manik hitamnya memandang Meridia penuh arti “Ya, ada apa?”


“Nama saya adalah Ximena dan mulai sekarang saya akan bekerja sebagai pelayan pendamping Anda,” ia memperkenalkan diri secara singkat lalu melanjutkan kalimatnya lagi “Yang Mulia Duke memerintahkan saya untuk membantu Anda bersiap-siap makan siang bersama dengan beliau.”


Meridia memang berdarah asli bangsawan, namun karena sejak kecil ia sudah biasa diperlakukan seperti pelayan, Meridia jadi terbiasa hidup seperti orang biasa. Mendapatkan perlakuan spesial bak nyonya besar di istana ini membuat Meridia merasa agak aneh dan tidak nyaman.


Tidak hanya dibuntuti kemana pun ia dia pergi, bahkan Ximena juga menawarkan diri membantu Meridia mandi dan memilihkan gaun mana yang akan dipakai setelahnya.


Siapa yang perlu bantuan untuk mandi saat kau sudah dewasa dan punya tangan untuk menggosok badan sendiri? Ximena tetap berusaha membantu majikan barunya sesuai dengan tugas yang ia terima, tetapi Meridia bersikeras menolak “Tidak usah, aku bisa melakukannya sendiri.”


“Yang Mulia Duke akan memenggal kepala saya jika saya tidak mengerjakan tugas dengan benar.” sahut si perempuan itu dengan tenang walaupun kata-kata yang keluar dari mulutnya cukup mengerikan.


Nampaknya Ximena sudah terbiasa bekerja dibawah tekanan, pikir Meridia. Mau tak mau Meridia harus mengikuti aturan Lucien agar tak membahayakan pihak manapun “Baiklah. Kalau begitu mohon bantuannya.”


Meridia enggan berdebat, entah ancaman yang ia dengar barusan nyata atau hanya tipuan yang jelas Meridia merasa lelah setelah masuk ke istana Navarro.


Kalau boleh jujur, Meridia tidak bisa atau lebih tepat disebut tidak kuat mengikuti langkah demi langkah seorang wanita bangsawan dalam merawat diri mereka.


Terlalu banyak ini itu sampai Meridia tidak hafal urutannya mulai dari mandi dengan campuran wewangian bukan hanya dibagian badan tapi juga rambut, scrub badan, memakai masker, menggunting kuku, pijatan, barulah memilih pakain. Jangan lupa dengan proses menata rambut dan berdandan.


Empat puluh menit berlangsung, Meridia merasa mengantuk setelah melewati beberapa prosedur persiapan. Tetapi kebosanan itu segera teralihkan ketika ia melihat pantulan dirinya sendiri di cermin.


Gadis itu terkesima kala melihat betapa cantiknya ia saat memakai riasan “Apa aku terlihat seperti ini jika berdandan seperti yang selalu dilakukan Marigold?”


Ia menyentuh pipi tirusnya lalu mengukir senyum kecil di bibirnya “Terimakasih, nona Ximena.” Meridia menjabat tangan terampil Ximena untuk mengapresiasi pekerjaan baik yang dilakukannya.


“Sudah sepatutnya saya melakukan pekerjaan dengan baik, Yang Mulia.” gadis berwajah datar itu nampak lega setelah tahu Meridia puas dengan hasilnya tetapi ia tak membalas senyuman ramahnya “Tolong jangan panggil saya nona, panggil saja Ximena karena saya hanya pelayan biasa, Yang Mulia.”


Sebuah suara langkah kaki terdengar menggema di lantai koridor yang lengang dan tidak lama setelah itu Lucien menampakkan dirinya dipintu kamar Meridia yang terbuka lebar.


Mata sipit pemuda itu melebar melihat gadis yang tadinya berpenampilan sederhana kini sudah berubah menjadi angsa yang cantik. Gaun biru laut yang dikenakan Meridia menambah kekhasan seorang Meridia di matanya.


Senyuman puas Lucien memicu semburat merah diwajah Meridia “Haha aku tidak pernah bosan melihat kecantikanmu.” pujinya dengan tulus tapi tetap terlihat mencurigakan bagi Meridia.


Meridia tidak tahu harus memberi reaksi macam apa. Saat ini dia belum dapat memposisikan dirinya dengan baik di istana Navarro, sepertinya akan terus begitu sampai dia mendapatkan jawaban dari seluruh pertanyaannya. Kebaikan yang ditunjukkan Lucien semakin menambah kadar kewaspadaan dalam diri kembaran Marigold itu.


Lucien menawarkan lengannya pada Meridia “Ayo kita makan siang sekarang,” ajaknya senang.


Meja makan seorang berstatus bangsawan tidak dapat dibandingkan dengan milik orang biasa. Meja panjang dengan lebih dari sepuluh kursi itu terisi penuh oleh berbagai macam hidangan yang baru matang. Aromanya sangat menggugah selera. “Duduklah di sebelahku.”


“Apa ada tamu lain yang akan bergabung?” tanya Meridia dengan polosnya, ia tak pernah sekali pun memakan makanan mewah dengan kualitas tinggi seperti yang tersedia di meja itu dan sebanyak itu? Tidak mungkin.


“Tentu saja semua ini hanya untukmu.”


“Kau bercanda?” Meridia melongo melihat banyaknya makanan di atas meja. Orang dengan selera makan yang besar pun tidak akan sanggup menghabiskan segalanya sendiri.


“Tidak. Kau bisa memilih apa yang cocok dilidahmu.”


Rupanya semua sengaja Lucien siapkan agar Meridia bisa memilih sendiri makanan yang cocok untuknya.


Meridia duduk di kursi sebelah kanan Lucien dengan gerakan pelan dan ragu-ragu, netra biru gelapnya melihat satu per satu jenis makanan di depan matanya.


Meridia tertarik melihat sesuatu yang lain. Ada satu kue pie utuh dalam kategori makanan penutup atau makanan manis yang anehnya memang hanya itu yang tersedia, tidak ada makanan manis lainnya.


Lucien yang sedari tadi tengah mengamati Meridia akhirnya angkat bicara “Kau penasaran soal itu? Kau itu tidak bisa mengonsumsi makanan manis terlalu banyak. Lambungmu tidak toleran dengan gula makanya aku tidak menyediakan banyak makanan manis.” lelaki tampan itu menjelaskan seolah ia paham betul dengan apa saja yang bisa dan tidak bisa dimakan oleh Meridia.


Aku berasal dari semesta lain, bagaimana kau tahu perut kita sama?


“Bagaimana kau tahu itu?”


“Ya karena aku tahu.” jawaban ambigu Lucien membuat tanda tanya besar di kepala Meridia.


“Aku ingin—“ Lucien langsung menyela kalimat Meridia sebelum gadis itu selesai bicara seakan sudah tahu apa yang akan dia katakan “Kau bisa bertanya nanti saja setelah selesai makan. Perutmu sudah kosong sejak kemarin, ‘kan?”


Keduanya makan siang bersama dengan tenang. Meridia benar-benar hanya memakan sepotong pie karena sudah terlalu kenyang memakan hidangan yang lainnya. Seusai makan siang, Lucien mengajak calon mempelai wanitanya itu berjalan-jalan di taman sambil sesekali mengobrol.


Lagi-lagi Meridia terkejut melihat isi taman di bagian depan istana Lucien yang dipenuhi oleh bunga camelia merah dan lavender yang apabila sedikit saja tertiup angin maka aromanya akan menguar memanjakan indra penciuman. Dia tidak melihat semua pemandangan istana karena saat itu Meridia hanya fokus pada orang-orang yang sudah menanti kepulangan Lucien.


Meridia mengembangkan senyuman saat kakinya benar-benar sudah menginjak area taman lavender itu. Rasanya sangat menyejukkan melihat tanaman tumbuh segar di sana. “Aku merawat ini semua.”


“Sungguh?”


“Ya. Aku pernah bilang padamu kalau aku ingin jadi tukang kebun saja, iya ‘kan?”


Keduanya duduk menikmati pemandangan di kursi taman di bawah satu-satunya pohon wisteria yang tumbuh di taman itu. Tidak seperti kelihatannya, Lucien justru lebih banyak bicara ketika hanya berdua dengan Meridia. Dia juga menceritakan bagaimana senangnya ia ketika berkebun.


Meridia menatap wajah gembira Lucien seolah pemuda itu baru merasakan kebahagiaan dalam hidup untuk pertama kalinya. Nyaris saja Meridia terhanyut melihat senyum ceria itu. “Mengapa kau mengasingkan diri dari dunia luar? Maksudku, kau sampai berpikir untuk menyembunyikan tempat tinggalmu.”


Lucien menumpu dagu seraya menatap wajah jelita Meridia “Aku tidak ingin hidup berdampingan dengan bangsawan lain. Aku rasa kau sudah sangat tahu betapa kerasnya hidup diantara manusia-manusia seperti itu.”


Tidak dapat dipungkiri kebenarannya, status bangsawan memang merubah segala peraturan hidup bagi orang-orang yang menyandangnya. Sejujurnya tidak banyak kesenangan yang didapat dari menjadi bagian para bangsawan.


Lelaki bermata elang itu memandang wajah kalut Meridia, tangannya perlahan tergerak menyibakkan anak rambut yang menempel di kening gadis itu “Aku senang bisa bersamaku disini. Mulai sekarang aku tidak akan kesepian lagi.” gumamnya amat pelan bahkan gadis itu tak dapat mendengarnya.


Meridia melirik Duke muda di sebelahnya “Kau terlalu baik padaku. Apa alasanmu menolongku? Kau berbuat baik padaku seperti kau sudah sangat mengenalku. Aku tidak pernah melakukan apapun padamu.”


Meridia dapat melihat sekilas lelaki itu mendengus “Aku jatuh cinta padamu sejak pertama kali kita bertemu. Kau selalu menarik perhatianku.”


Gadis itu mengesampingkan jawaban Lucien dan mengajukan pertanyaan lagi, “Bagaimana kau tahu di mana tempat tinggalku, seperti apa kehidupanku, dan bahkan identitasku?”


“Ingat pertemuan pertama kita di dekat pasar? Sejak saat itu aku mulai mencari tahu segalanya tentangmu, tapi jangan sebut aku penguntit.”


Meridia sadar sepenuhnya bahwa jawaban yang dikeluarkan oleh Lucien sangat aneh. Bukan tidak masuk akal, hanya saja semuanya terlalu singkat untuk benar-benar terjadi. Hanya dalam kurun waktu kurang dari sebulan Lucien sudah berhasil mengetahui tentang dirinya.


“Kau ini ‘kan seorang Duke, kau bisa dengan mudah mencari pasangan.”


“Aku tidak menikmati kedudukan ku itu dan lebih suka hidup biasa saja. Dan perlu kau tahu, tidak ada yang bisa mengontrol hati untuk melabuhkan perasaan kepada siapa.”


Sebaiknya aku berpura-pura percaya dulu padanya. Aku harus berhati-hati di dekatnya.


“Lalu bagaimana dengan Marquess dan keluarganya? Kau menjemputku dengan kereta mewah seperti itu, orang-orang di sana pasti akan mengetahuinya.”


Lucien menggeleng santai “Kau mencemaskan hal yang tidak perlu.” Dia menyeringai tipis saat melihat Meridia bingung “Oh iya, aku ingin membicarakan ini denganmu.”


Setelah Meridia fokus padanya, Lucien duduk dengan tegap lagi lalu menyandarkan punggungnya ke bahu kursi “Haruskah kita rayakan pesta pernikahan kita dengan mengundang seluruh bangsawan yang ada? Sepertinya itu akan seru. Aku akan menunjukkan pada semua orang bahwa kau adalah milikku.”


Ide gila Lucien tak ditanggapi. Meridia mendelik kaget medengar kata ‘pernikahan’ yang disebutkan olehnya barusan “Apa?!” dia berulang kali mengedipkan matanya “Apa maksudmu dengan pesta pernikahan?”


Lucien terkekeh pelan lalu ia tersenyum lebar “Kau tidak salah dengar. Kau boleh tinggal disini dengan menjadi istriku. Tenang saja, kita akan mengadakan pernikahan secepatnya jadi kau masih punya waktu untuk beradaptasi dengan rumah barumu sambil mengurus persiapan pernikahan.”


Meridia berdiri dari kursi sebagai reaksi dari kekagetannya. Pernyataan Lucien sangat melenceng dari bayangan. “Kenapa kau ingin menikah denganku? Kita bahkan tidak sedekat itu sampai kau bisa memutuskan pernikahan semudah membalikkan telapak tangan.”


Meridia berusaha tidak membentak orang di hadapannya itu “Sebaiknya kau beritahu alasan terbaik dibalik keputusanmu itu.”


Lucien menyeringai lebar “Pfft! ini lucu. Apakah aku memerlukan alasan untuk menikahi gadis yang aku cintai?”


“Ini tidak masuk akal. Kau baru saja…huh, aku harap itu hanya candaan.”


Lucien ikut beranjak dari kursi taman. Seringai liciknya terpatri diwajah dinginnya “Aku tidak bercanda dan ini keputusan yang sudah bulat. Lagipula kau kira ada yang akan menyayangimu sebaik aku? Apa ada yang akan peduli padamu selain aku? Kau tidak akan menemukan seseorang yang mencintaimu sebesar aku.”


Jika Meridia menaruh rasa curiga itu bukanlah kesalahan. Cara Lucien menyampaikan pikirannya sama sekali tidak menggambarkan bahwa dia mengenal Meridia baru-baru ini. “Aku tidak—“


“Aku tidak akan menjelaskan apapun. Itu terserah padamu bisa mengingatnya sendiri atau tidak,” raut wajah Lucien berubah jadi datar. Dia mengulurkan tangannya, “Udara di luar sudah semakin dingin, ayo kita masuk ke dalam. Kau pasti butuh istirahat.”


Lucien menggandeng tangan Meridia erat tetapi tidak menyakitinya. “Aku ingatkan padamu, kau sudah salah memilih pasangan.” ucapan Meridia justru mengundang kekehan geli pemuda itu “Aku tidak akan menyesalinya selagi itu adalah kau, Meridia.”


Ini gila. Dia sudah gila. Dia orang yang sangat berbahaya.


"Aku tidak bisa selalu menemanimu, jadi aku harap kau bisa bersabar menunggu kepulangan ku."


Meridia menaikkan sebelah alisnya "Dari urusanmu yang mana? Kerjamu 'kan hanya keluyuran saja."


"Haha iya itu benar. Tapi kau jangan khawatir, aku tidak keluar untuk mencari gadis lain."


"Memangnya aku keberatan?"


"Kau akan cemburu ketika melihatku berbicara dengan wanita lain."


"Kau terlalu percaya diri. Untuk apa aku merasa cemburu?"


Lucien menyeringai tipis, "Kau akan merasakannya."


NOTE:



Buat teman-teman yang kurang paham, ini adalah urutan pangkat/kasta/derajat/ranking status kebangsawanan mulai dari yang tertinggi hingga yang terendah.


Author menggunakan derajat tertinggi hanya sampai pada Raja ya, bukan Kaisar.


Ini hanya untuk urutan, sistem kerja pembagian pangkat nya berbeda. Terima kasih^^