
Veronica menggoyang-goyangkan gelas wine nya, menikmati drama yang sebentar lagi akan merusak jalannya pesta besar ini.
Veronica berbisik seraya memasang ekspresi yang menghayati "Dia bilang kalau Marquess tak mau mengakui anak keduanya karena dia memang sejak awal hanya menyayangi satu anaknya saja".
Selagi gosip itu disebarkan, Marigold berkeliling ruangan mencari Arden. Dia belum sempat berbincang dengannya akibat sibuknya ia menyambut para tamu yang juga ingin mengucapkan selamat.
Intensitas senyumannya meningkat tatkala matanya yang jeli berhasil menangkap sosok yang dicarinya sedari tadi tengah mengobrol asyik dengan teman lamanya di sofa pojok ruang aula.
"Arden!" seru Marigold sambil melambai untuk mendapat perhatian.
Semua orang yang dilewatinya tentu segera fokus mencaritahu interaksi di antara dua sejoli yang masih sering diperbincangkan khalayak umum tersebut.
Arden menghela nafas panjang sebelum akhirnya berdiri menyambut Marigold "Hai, Marigold. Kau sudah selesai dengan urusanmu?"
Victor tidak bodoh untuk membaca situasi, ia pun memutuskan untuk melebur dalam keramaian dan memberi waktu keduanya untuk saling menyapa mengingat mereka tidak tinggal di kota yang sama yang mana itu artinya mereka jarang bisa bertemu.
"Arden kelihatan sedikit tertekan, " pikir Victor ketika membaca mimik muka Arden. Pemuda bersurai ebony itu mengerti bagaimana Arden terbebani dengan semua gosip tentang hubungannya. Arden pastilah merasa canggung saat berhadapan dengan marigold.
Saraf-saraf dan otot wajah Arden sudah terlatih untuk tidak merespon secara gamblang perasaan yang tergambar dihatinya sehingga dia bisa terus tersenyum dan kelihatan tenang disegala situasi.
"Aku senang kau bisa hadir malam ini. Aku sangat menantikan pertemuan kita lagi."
Tidak, sebenarnya bukan begitu. Arden datang hanya untuk bertemu dengan Meridia. Itu saja. Dia tidak akan berdiri di sini kalau saja Meridia tidak serumah dengan Marigold.
"Um, ya. aku juga."
Puluhan pasang mata menyoroti bagaimana keduanya berinteraksi. Tidak semua sibuk dengan percintaan mereka berdua, sebagian yang memandang itu hanya penasaran setelah terdengar gosip yang kurang mengenakkan tentang saudari kembarnya.
Marigold sesekali melirik ke arah lain seraya tersenyum malu, semburat merah muncul di kedua pipi ranumnya "Arden, bagaimana penampilanku?" cicitnya.
Mata Arden berkedip cepat beberapa saat "Ya?" mengerti situasinya, pemuda tampan itu hanya mengangguk sekilas "Sangat cocok untukmu."
Apa itu terhitung sebagai pujian? Entahlah, Arden tidak nyaman menjadi sorotan publik saat sedang bersama Marigold. Itu semakin menyesatkan pikiran mereka.
"Terima kasih, Arden."
Mereka berdua— lebih tepatnya Marigold yang mengajak Arden duduk kembali lalu membincangkan banyak hal dengannya. Marigold bahkan berpura-pura peduli dengan masalah yang sedang dihadapi kota Goldenleaf untuk mendapat perhatian Arden. "Apa kasus kematian aneh itu belum selesai juga?"
"Belum, tapi setidaknya jumlah korbannya sudah berkurang belakangan ini." Arden jadi teringat akan penyelidikan terakhirnya. Arden mulai berspekulasi bahwa itu bukan penyakit melainkan ulah seseorang yang entah apa tujuannya. Dia hanya perlu menyelidiki golongan penyihir untuk memastikan.
"Apa kira-kira aku bisa membantumu? Kuil memberiku istirahat selama satu minggu penuh jadi aku bisa pergi ke Goldenleaf untuk membantu sedikit." Tawarannya tidak terlalu buruk tapi Arden terlanjur tidak suka kedekatan mereka yang selalu menjadi buah bibir merasa kurang nyaman. Di lain sisi, Marigold tidak bisa mendeteksi apa penyebabnya karena dia hanya memiliki pemurnian.
"Kalau itu, aku rasa lebih baik kau membicarakannya langsung pada Baginda Raja Gilbert. Kau bisa meminta izinnya karena kasus ini juga ditangani langsung oleh pihak istana." sahut Arden apa adanya.
Marigold terkesiap "Jika pihak istana juga mengurusi masalah ini, mengapa tidak juga menemukan jawaban?" Arden juga tidak mengerti mengapa Gilbert begitu santai menanggapi masalah tersebut.
"Sebentar lagi. Aku rasa aku akan menemukan jawabannya."
Arden beranjak dari sofa dan menanyakan pada sang empunya rumah tentang ruang istirahat untuknya. Arden ingin mendinginkan pikiran serta mencari Meridia untuk memberikan gelang.
Jika Marigold terus menempel padanya, mustahil Arden bisa bicara empat mata dengan Meridia.
Sebelum berangkat ke Norfolk, Arden membelikan sebuah gelang hitam bermanik biru berlian yang manis. Tadinya dia juga ingin membeli satu untuk marigold tetapi kemana cerita itu akan menggiringnya sudah tertebak. Lebih baik dihindari, iya 'kan?
Marigold memandu Arden menuju ke tempat istirahat yang sengaja disediakan untuk umum dan bisa dipakai siapa saja untuk beristirahat selama beberapa menit.
Dalam perjalanan, Marigold sadar tatapan lain yang dilemparkan para tamu kepadanya agak lain dari biasanya. Belum lagi telinganya mendengar beberapa ucapan tak sedap mengenai keluarganya.
Arden ikut berhenti "Ada apa?"
Marigold tersenyum lalu mendatangi empat wanita seusianya yang tengah berkumpul sembari menatapnya "Kalian sedang membicarakan apa? kelihatannya kalian sangat penasaran akan sesuatu." Marigold tetap berusaha ramah.
"Lady, apa benar Anda memiliki saudara kandung yang tidak pernah ditunjukkan pada siapapun?"
Hati Marigold berhenti memompa oksigen sesaat. Nafasnya tercekat, dia tidak mengerti bagaimana tiba-tiba berita itu muncul ke permukaan "Tidak. Kalian dengar dari mana? Aku rasa gosip itu agak berlebihan." Gadis sempurna itu berusaha tetap tenang.
"Saya dengar Marquess Emerald sejak dulu pilih kasih dan lebih memilih Anda untuk dianggap sebagai putri satu-satunya. Apa Ayah Anda benar-benar melakukannya? Bukankah itu tindakan yang kejam?"
Arden tidak tuli. Dia bisa mendengar semuanya dengan jelas dan entah bagaimana otaknya langsung tersambung ke Meridia. Dilihat dengan mata telanjang pun Meridia tetap terlihat mirip dengan Marigold, sama seperti dugaan awalnya saat malam pesta ulang tahun Zoya.
Marigold merapikan semua simpang-siurnya berita tentang keluarga Emerald dengan cepat sehingga semua kembali terkendali. Hanya di sana. Sisanya sudah termakan dengan hasutan Veronica, si wanita misterius yang tidak diketahui apa tujuannya.
Di seluruh penjuru ruangan mulai tersebar desas-desus tentang keberadaan Meridia sebagai adik kembar Marigold Emerald yang selama ini sengaja disembunyikan oleh keluarganya sendiri. Hal itu tidak hanya berdampak pada Ziel dan Zoya, tetapi nama baik Marigold ikut tercoreng pula.
"Bagaimana bisa seorang Saintess berlaku sejahat itu pada saudarinya sendiri?"
"Apa dia tidak mencoba membela saudarinya?"
Mereka sudah seperti tidak lagi bergosip karena suara mereka terdengar sangat jelas. Ziel dan Zoya tidak bisa berbuat apa-apa selain diam.
Sedangkan Meridia yang berdiri dibalkon mulai penasaran dengan banyaknya suara riuh orang berbicara di dekat pintu balkon "Ada apa itu?" gumamnya heran.
Saat ia masuk, Meridia segera mengetahui apa yang terjadi saat dia sibuk menenangkan diri. Dari tempatnya berdiri, Meridia dapat melihat Ziel dan Zoya. Pemimpin keluarga Emerald itu tampak mengepal erat, rahangnya mengeras, matanya menelisik ke dalam keramaian "Dia sedang mencariku," ucap Meridia.
Ziel menghela nafas kasar lalu bertepuk tangan meminta atensi dari para hadirin. Dia meluruskan semua kesalahpahaman tersebut untuk memperbaiki nama Emerald. Ziel pun tidak menanyakan siapa yang menyulut api, dia dengan tenang menjelaskannya sebaik mungkin untuk menutupi kebenarannya.
Walau begitu, tidak semua mempercayai sepenuhnya penjelasan Ziel setelah mendengar ucapan Veronica yang masuk akal. Mereka diam-diam tetap mencurigai rahasia Emerald tentang putri kedua mereka yang tak ditunjukkan ke publik.
Sayang sekali justru kejadian tersebut menggiring Ziel berpikir bahwa Meridia tak menjaga rahasia dan teledor sampai-sampai semua orang curiga dengan kemiripan wajahnya dengan Marigold.
Suasana di pesta menjadi lebih canggung dari yang diperkirakan. Tidak ada suka cita yang tergambar dalam acara pesta tersebut. Terpaksa Marigold mengeluarkan energi yang lebih besar untuk memurnikan satu aula untuk menyejukkan suasana hati semua orang.
Arden berniat pergi berkeliling saat dia melihat ada seorang pelayan yang mengantarkan beberapa gelas minuman menggunakan troli ke aula lagi. Namun, Marigold menahannya dan meminta untuk ditemani menenangkan diri.
"Kau tidak perlu memikirkan itu. kontroversi semacam ini tidak akan jauh-jauh dari kehidupan para bangsawan," Arden berusaha menghibur meski ia tak tahu itu berguna atau tidak karena kelihatan sekali Marigold cemas.
"Aku baik-baik saja, Arden. Kau tak perlu cemas. Aku yakin keluargaku bisa menghadapinya." Marigold memasang senyum terbaik yang ia punyai guna meyakinkan pemuda tampan bersurai pirang tersebut.
Sejujurnya Arden juga merasa kemiripan Meridia dan Marigold bukanlah suatu kebetulan. Meski bukan kembar identik, tetapi wajah Mereka sungguh mirip dalam sekali pandang. Bedanya hanya kesan yang mereka tonjolkan saja. Marigold sangat ramah dan ceria sedangkan Meridia kelihatan acuh dan tak banyak bicara.
"Aku mau pergi ke toilet sebentar. Kau beristirahatlah di sini."
Arden memulai pencariannya di luar aula. Hatinya berdebar ingin segera melihat wajah datar gadis biru tua itu lagi. Entah mengapa Arden merasa senang berada di dekatnya. Kali ini, sebagai tanda pertemanan, Arden sangat ingin menyerahkan gelang yang dibelinya kepada Meridia.
Bertepatan dengan Arden yang menyusuri lorong demi lorong, Meridia baru keluar dari aula hendak pergi tidur sebab tubuhnya tak mampu bergerak lebih lama lagi. Kepalanya terasa pusing melihat begitu banyak manusia dan telinganya lelah mendengar banyak orang menggunjing tentang putri kedua Ziel.
"Aku tidak percaya Marquess benar-benar melakukan tindakan buruk seperti itu. aku kira dibalik wajahnya yang tenang juga tersimpan perangai yang baik, rupanya tidak."
"Ya, sejujurnya aku kecewa dengan penilaianku sendiri."
"Walaupun dia sudah menjawab secara langsung rumor ini, rasanya aku tetap tidak bisa mempercayai itu."
Meridia memilih tak peduli dengan berita tentang adanya seorang 'saudari Marigold' yang selama ini disembunyikan dan pergi ke dalam. "Aku harus tidur setidaknya sepuluh menit saja untuk mengembalikan tenagaku-"
Meridia membelalak kaget tatkala seseorang tiba-tiba menarik pergelangan tangannya dari belakang dan langsung menampar pipi kirinya dengan sangat keras begitu Meridia menengok. Gadis malang itu sampai harus tersungkur ke lantai akibat tamparan kuat yang dilayangkan oleh Ziel.
Topeng mata Meridia terlepas dari wajahnya, memperlihatkan wajah Meridia seutuhnya. Jejak telapak tangan tercetak dengan sempurna di pipi putihnya. Tanpa perlu penjelasan, Meridia tahu Ziel akan melakukannya.
"Itu bukan kesalahanku." Meridia bangkit dan menatap ayahnya dengan berani "Kau akan menuduhku atas semua gosip yang tersebar, bukan?"
Ziel menyisir rambutnya lalu memijat pangkal hidungnya "Kau ini memang tidak tahu diuntung. Aku sudah memperlakukanmu dengan baik tapi kau masih saja membuat masalah baru untukku. Kau masih belum puas?!"
"Aku bahkan tidak mengatakan apa-apa."
"Aku tidak mengerti apa sebenarnya tujuanmu, mengapa kau harus lahir di tengah-tengah keluargaku?!" bentak Ziel di lorong yang sepi manusia itu.
Haruskah aku sakit hati lagi saat mendengar kata-kata semacam ini?
Meridia tersenyum tipis "Aku juga tidak pernah meminta untuk lahir sebagai anakmu. Jika kau begitu terganggu, kenapa kau tidak membiarkan aku pergi dari rumah ini sekalipun aku sudah menawarkan diri lebih dari serratus kali?"
"Kau!" Ziel mengangkat tangannya lagi bersiap menampar untuk yang kedua kalinya.
Sebuah langkah kaki menggema dilorong dan dari suaranya Ziel bisa menilai bahwa itu adalah bunyi sepatu lelaki. Pria itu dengan kasar menarik Meridia masuk ke dalam ruangan dan menguncinya di dalam sana "Aku akan mengurusmu nanti!" ancamnya sebelum mengunci pintu dari luar.
"Yang Mulia Arden?" Ziel terkejut kala tahu siapa pemilik langkah kaki tersebut.
Sama halnya dengan Arden, ia pun tidak menyangka akan bertemu dengan sang empunya acara di sana. Kemudian Arden beralasan mencari toilet sembari menaruh rasa curiga dengan ruang yang baru saja Ziel tutup pintunya.
"Mari saya antarkan."
"Tidak perlu repot-repot, Marquess. Aku akan mencari pelayan untuk menunjukkan jalan."
Lagi-lagi usahanya untuk menemukan Meridia terhalang. Arden tidak bisa leluasa berjalan kesana-kemari saat ada banyak pelayan mondar-mandir mengurusi bagian pekerjaan mereka masing-masing. Jika dia terus berkeliaran di sana itu hanya akan memancing rasa curiga. Alhasil setelah pergi ke toilet, Arden kembali ke tempat Marigold berada.
Meridia menggunting gaunnya sebatas atas lutut dan meninggalkan sisa kainnya di lantai. Gadis cantik yang tak beruntung itu menggunakan kain bekas itu untuk mengelap habis semua polesan bedak dan lipstik dari wajah cantik alaminya.
"Aku tidak membutuhkan semua kebaikan ini. Lagipula semuanya hanya rekayasa semata."
Meridia pergi dari mansion meski dia belum sepenuhnya merasakan apa itu pesta. Meridia baru berada di dalam aula kurang lebih satu jam saja dan malam masih panjang, pesta akan berlangsung hingga tengah malam. Setelah menyebarnya gosip yang mulai menggoyahkan reputasi keluarga Emerald, Ziel akan memperpendek waktu. Menghukum Meridia sudah menjadi prioritasnya saat ini.
Berkat perintah Ziel, seluruh pelayan masih bersikap baik padanya. Meridia berhasil keluar dari mansion dengan bantuan salah seorang pelayan yang membukakan kunci pintunya.
Tanpa penerangan, Meridia membawa dirinya masuk jauh ke dalam hutan yang mana sering ia datangi siang hari. Hatinya yang gundah mengambil alih akal pikirannya sehingga menembus hutan yang hanya bermandikan cahaya bulan pun ia berani.
Matanya merespon dengan baik apa yang sekarang sedang dirasakan oleh hatinya. Tetes demi tetes terurai, terjun bebas melalui kantung mata lalu membasahi pipinya yang masih menyisakan dempul.
"Aku merasa bersalah pada Meridia karena membencinya terlalu berlebihan. Ini terlalu menyakitkan."
Meridia terkekeh sambil memukul kepalanya sendiri "Bodoh. Aku sudah berhasil kabur sejauh ini tapi malah ku tinggalkan semua barangku."
Gadis cantik berkulit pucat itu baru mendapatkan kesadaran saat merasakan dua kakinya mulai terasa kaku dan pegal. Ia meningkatkan kewaspadaannya takut kalau-kalau diserang oleh binatang buas "Aku sudah sampai di mana?"
Aneh memang. Sedari tadi hutan yang ia lewati tampak hening dan tenang layaknya hutan mati yang tak berpenghuni. Terlepas dari itu, Meridia bersyukur karena dirinya tetap aman meski tanpa perlindungan satupun.
Meridia sudah bisa melihat danau yang tampak seperti kanvas hitam yang dihiasi lukisan bulan di atasnya. Namun, sesuatu tak biasa mulai ia rasakan di sekitar danau "Ada sesuatu di sini," gumamnya seraya bergerak maju dengan langkah pelan.
Tangan kurusnya meraba-raba udara di depan seperti tuna netra yang kehilangan alat bantu. Setelah tiga langkah dapat menyentuh sesuatu tak kasat mata di hadapannya, permukaan benda tersebut terasa halus seperti kaca.
"Apa sih ini?"
Dengan keisengannya Meridia mencoba menembus sesuatu tak terlihat itu. Meridia kaget sekaligus takjub saat melihat tangannya sebatas siku sudah tak terlihat dengan mata telanjang. "Mudah ditembus, penghalang apa ini?"
Keterkejutannya tak hanya sampai di sana saja. Meridia masuk ke dalam penghalang itu dan tampaklah sebuah bangunan yang mewah nan megah berdiri di pinggir danau dengan kokohnya.
"Siapa yang tinggal di tempat seperti ini?"