
Setelah Raja meninggalkan ruang rapat, mereka bertiga yang diminta untuk menemui Gilbert lagi kini untuk sementara waktu berkumpul di ruang tamu sambil menikmati makanan kecil sebelum mereka dijamu makan siang oleh pihak kerajaan.
Sejak sampai di sana, Ziel terus memelototi Lucien yang asyik menikmati teh nya tanpa merasa terganggu dengan tatapannya yang sudah dia perjelas. Sebenarnya bukan tidak terganggu, Lucien sengaja menunggu.
Tapi karena merasa risih setelah hampir lima menit dipandangi terus menerus, akhirnya Lucien menatap Ziel balik, "apakah ada sesuatu yang menempel di wajah saya, Marquess Emerald?” tanya nya dengan nada ramah.
Ziel membuang muka sambil mendengus pelan, “Tidak ada. Bisakah saya menanyakan sesuatu kepada Anda?” tanya Ziel ketus, ia selalu kesal setiap kali melihat senyuman Lucien, “di mana Anda tinggal? Saya nyaris tidak pernah melihat Anda di luar atau bahkan di acara sosial para bangsawan.”
Arden melirik Lucien, sejujurnya dia juga agak penasaran ingin mengetahui jawabannya meski saat ini dia merasa harus menjadi penengah diantara keduanya.
"Hm...." Lucien bergumam panjang dengan sengaja agar dua orang itu semakin mati penasaran, “Saya bukan orang senggang yang bisa selalu hadir dimana pun pesta itu diadakan, Marquess. Saya hanya perlu keluar jika saya ingin. Sederhana, bukan?” jawab Lucien santai yang tak menimbulkan kecurigaan. “Anda mungkin tidak lihat, tapi Pangeran Arden sudah tahu kalau saya juga sesekali berkeliling di luar.” imbuhnya.
Arden sebagai penonton langsung tersentak kaget. Mata biru langitnya memandang wajah Lucien. Dia baru tahu kalau ternyata kepala keluarga Navarro itu juga memperhatikannya lewat jendela penginapan saat sedang sibuk mencari Meridia yang hingga kini tak dapat dia temukan. Arden mengangguk kecil, “Ya, itu benar. Beberapa waktu lalu saya sempat melihat Duke Navarro sedang berada di Pekan raya.”
Ziel menyesap tehnya untuk membantu meredakan amarah yang ia rasakan. “Dan lagi, mengapa Raja harus menyerahkan dua wilayah itu kepada Anda saat Anda sendiri tidak banyak melakukan aktivitas di luar, bagaimana Anda akan mengevaluasi dan selalu mengecek perkembangan wilayah itu?” Ziel terus menumpahkan semua isi pikirannya tak peduli jika sikapnya dinilai lancang dan tidak sopan pada Duke muda tersebut.
Apa dia tidak malu menunjukkan secara terbuka perasaan tak terimanya itu? pikir Arden dan Lucien bersamaan.
Lelaki penuh misteri itu tersenyum seraya mengangkat jari telunjuknya ke udara, “Raja tahu yang dibutuhkan seorang pemimpin itu bukanlah ketenaran melainkan kerja keras yang membuahkan hasil nyata.”
Arden merasa kagum melihat ketenangan Lucien yang justru bisa memprovokasi Ziel untuk terus mengeluarkan unek-uneknya. Namun dia harus melakukan sesuatu agar Ziel tidak menumpahkan kekesalannya pada orang yang salah, ia pun buru-buru berkata, “Sudahlah, Marquess, mungkin Raja Gilbert memiliki pandangannya sendiri terhadap kualitas kerja Duke Navarro yang tidak semua orang ketahui termasuk kita berdua.”
Ketegangan mulai terasa lebih berat dari sebelumnya dan Arden tidak tahu bagaimana cara meredakannya.
Tiba-tiba pintu ruang tamu sedikit demi sedikit terbuka, mereka berpikir itu adalah pengawal yang ingin memberitahukan waktu pertemuan. Beberapa saat kemudian, seseorang muncul dan ternyata itu adalah Marigold, seorang Saintess suci yang merupakan putri kesayangan Ziel.
“Arden?” panggilnya dengan suara lirih.
Ziel mengernyit bingung, “Marigold? Apa yang kau lakukan disini?” dia terkejut melihat putrinya masih berkeliaran di dalam istana.
“Aku mencari Arden kemana-mana, aku pikir dia sudah pulang. Ada yang ingin aku bicarakan berdua dengannya.”
Ziel mendengus pelan “tunggulah di kereta, sebentar lagi aku selesai.”
“Tapi…”
“Oh lihat siapa yang ikut datang kemari? Marigold, kau sudah tumbuh besar ya,” Marigold terlonjak kaget mendengar suara Gilbert dari arah belakangnya.
“Ah Baginda Raja!” Marigold tersenyum gembira melihat pria itu.
Mereka saling sapa dengan akrab bahkan Gilbert juga tidak berpikir untuk menjaga image nya dan justru bersikap seperti teman sebaya Marigold. Gilbert sudah mengenal Marigold sejak gadis itu masih sangat kecil sehingga dia menganggap Marigold seperti anaknya sendiri.
Tidak lama setelah itu Raja dan tiga bangsawan tersebut pergi ke ruang takhta untuk melanjutkan bahasan mereka.
Setelah sampai, tidak mau membuat mereka menunggu lebih lama lagi, Gilbert langsung membuka pembicaraan. “Waktu ku tidak banyak jadi aku akan persingkat saja pertemuan kita ini,” tiga pria itu berjajar rapi di hadapan Gilbert, menunggu apa yang ingin disampaikan olehnya. Hanya Ziel yang merasa jantungnya berdebar cepat.
“Aku hanya ingin memberitahumu Marquess, aku akan mengambil satu wilayahmu untuk ku berikan pada Duke Navarro,” Ziel dan Arden terkejut bukan main, pernyataan Gilbert yang terlalu tiba-tiba dan tidak ada alasan baginya untuk memindahkan kepemimpinan.
Ziel masih mencoba memberanikan diri bertanya. “Ya?! Yang Mulia, apakah saya telah melakukan kesalahan besar terhadap pengelolaan wilayah?”.
Gilbert menggeleng santai dan menjawab, “tidak, aku hanya ingin memberikannya pada Lucien.”
Arden dibuat keheranan oleh pengambilan keputusan Gilbert yang tidak mendasar, bahkan alasan yang diberikan pun sangat tidak jelas. Selama ini Raja tidak pernah melakukan suatu tindakan tanpa keputusan seperti ini.
Ziel terlalu syok untuk beradu argumen saat ini, pria itu hanya bisa diam menahan seluruh kekesalan dan kesedihannya atas tindakan Gilbert yang dinilai sembarangan. kemudian dia teringat oleh sumpah Meridia ketika putrinya itu merasa kecewa berat dengan tindakannya sebagai seorang ayah.
Raja dengan wajah awet muda itu kini mendaratkan pandangannya pada putra William Palmieri. “Oh iya, Arden, aku dengar kau akan segera menggelar acara pertunangan dengan Marigold. Apa itu benar?” Arden diam membisu sementara Ziel terkejut karena tak biasanya Gilbert menaruh perhatian pada rumor yang menyebar di masyarakat.
Ziel menatap Arden dengan harapan akan mendengar hal baik untuk menyembuhkan kekecewaannya. “Berita itu, dari mana Anda mendengar berita itu Yang Mulia?” Arden curiga kalau yang memberitahu soal gosip itu padanya adalah Lucien.
“Aku dengar dari pengawal istana yang melihat kalian berdua berbicara dengan akrab di depan istana.”
Lucien terkekeh pelan sedikit mengejek, “bukankah Lady Marigold terlalu mempublikasikan keinginannya sendiri?”
Arden tak bisa menjawab apa-apa. Dia sangat ingin menyampaikan kebenarannya agar kesalahpahaman itu tidak semakin memburuk dan memojokkan dirinya. Sejujurnya Arden hanya ingin berteman dan tidak memiliki niat sedikitpun untuk menjalin hubungan dengan si Saintess negara itu tetapi rasanya berat karena saat ini Ziel menatapnya dengan harapan.
“Kalian berdua terlihat sangat serasi. Jika kalian merasa cocok, aku harap kalian segera menyusul Lucien yang bulan depan akan langsung menikahi kekasihnya.”
Arden mengepalkan kedua tangannya erat, menghela nafas panjang lalu menatap Gilbert tanpa keraguan. “saya senang berita yang menyebar tentang kami berdua adalah berita yang baik. Sepertinya untuk saat ini saya belum bisa memikirkan hal tersebut karena ayah meminta saya untuk belajar menjadi pemimpin Palmieri terlebih dahulu.”
“Hohoho begitu ya,” kini Raja Bommenhaum itu mengalihkan pandangan pada Ziel yang nampak sangat sedih. “Marquess Emerald, aku juga mendengar rumor kalau sebenarnya kau tidak hanya memiliki satu putri saja.”
Ziel membeku diberikan pertanyaan seperti itu. Dia semakin merasa tertekan saat Arden dan Lucien ikutan memandangnya dengan intens. Lelaki bersurai blonde itu melirik Ziel yang tak lekas menjawab dan malah diam menunduk menghindari tatapan semua orang. "Jangan-jangan Meridia benar anaknya…” batin Arden.
Ziel tersenyum kaku. Dengan segala tenaga yang ia miliki sekarang, kepala keluarga Emerald itu menyahut, “Saya tidak tahu kalau ada rumor semacam itu juga yang meluas di sana. Saya sendiri sangat menyayangi Marigold, dia sering membawa teman-temannya datang dan saya memperlakukan mereka dengan baik seperti pada anak sendiri.”
“Itu sedikit tidak masuk di akal…” batin Lucien dan Arden bersamaan.
“Tapi aku juga pernah dengar bahwa sebelumnya Marchioness memang melahirkan kedua bayinya dengan selamat,” timpal Lucien sengaja membuat Ziel terpojok. Pria berusia empat puluhan itu tetap kelihatan tenang, “Itu mungkin harapan dari mereka? saya juga berharap saudara Marigold bisa tumbuh bersama dan saling menyayangi,” Lucien mengangkat sebelah alisnya bingung.
Pemuda berambut hitam itu menggeleng “tidak ada apa-apa Yang Mulia, saya hanya merasa mual,” sangking muaknya mendengar kebohongan ayah kandung Meridia itu membuat tangan Lucien gatal sangat ingin menampar pria itu sekerasnya.
Arden merasa tak tega melihat Ziel yang keadaannya terlihat semakin tidak baik “oh iya, bagaimana dengan Duke Navarro sendiri? Siapa nama calon istri Anda?” Arden sebisa mungkin mengoper perhatian ke Lucien. Selain alasan itu, Arden secara khusus memang penasaran dengan sosok gadis yang dibawa Lucien pergi ke pekan raya.
“Itu…”
Lagi-lagi Lucien memberikan jarak untuk jawabannya.
“Kalian akan segera mengetahuinya lewat undangan yang akan ku bagikan,” Lucien menunjukkan senyum ambigu yang mengesalkan di mata Ziel dan Arden.
Gilbert yang mengamati interaksi di antara mereka bertiga jadi tertawa melihat ketidakpuasan Ziel terumata pada Arden yang sangat ingin mengetahui calon istri Lucien “hahaha untung saja tidak aku sebutkan namanya melihat usahamu untuk membuat orang lain tetap penasaran.”
“Kalian sudah dengar sendiri. Duke Navarro pasti akan mengundang kalian berdua ke pesta pernikahannya,” sambung Gilbert yang membuat Arden jadi mengeluarkan isi kepalanya “apa dengan begitu kita bisa mengetahui tempat tinggal Duke Navarro?”
Semua orang bengong melihat Arden mengajukan pertanyaan yang agak di luar konteks, “hahaha, sayang sekali nak, Duke Navarro akan melaksanakan pernikahannya di aula istana jadi kalian tidak perlu kesulitan mencari rumahnya.”
“Ah begitu ya…”
Lucien diam menatap Arden dari ujung matanya, ekspresi dinginnya terpancar jelas seperti yang telah dikenal banyak orang “dia seperti sangat ingin tahu siapa yang ingin ku nikahi, dia cukup peka juga,” kata pemuda itu dalam hati.
Dua puluh menit kemudian mereka telah selesai membicarakan masalah yang terjadi hari ini. Semua keluar untuk kembali ke tempat masing-masing.
Arden memilih untuk mengambil jalan terjauh agar tak bertemu dengan Marigold lagi, dia sudah cukup lelah menanggapi gosip yang tersebar itu. Secara kebetulan Arden melihat Qouila yang baru saja keluar dari ruang dokter “Paman Qouila!” sapa Arden senang.
Dia sudah lama tidak melihat pria yang pernah menjadi gurunya itu dan ingin menyapa nya lagi sebelum dia pulang. Namun setelah pria berambut biru cerah itu berbalik, Arden dikejutkan dengan penampakan mata kanan Qouila yang diperban penuh sampai menutupi sedikit pangkal hidungnya “P-paman, apa terjadi padamu?!”
Qouila tersenyum melihat anak didiknya selama dua tahun itu sekarang muncul di istana “halo, Yang Mulia Arden. Lama tidak berjumpa.”
“Paman, apa yang terjadi dengan mata mu?” ulang Arden lagi.
“Oh ini? bagaimana caraku menjelaskan ya? yah, pokoknya ada sesuatu yang terjadi karena keteledoranku.”
Qouila tidak dapat menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya beberapa jam yang lalu. Luka yang didapat mata kanannya adalah ulah Lucien.
Tepat setelah Meridia diantar Hugo keluar, Qouila menyampaikan pada Lucien bahwa ia sempat meninggalkan Meridia selama sepuluh menit dan saat kembali tiba-tiba sudah melihat Meridia terduduk di lantai dengan wajah kaget dan bingung.
Qouila tidak berniat menceritakannya tapi waktu sepuluh menit cukup lama serta insting Lucien terhadap Meridia sangat tajam, dia seolah bisa tahu kalau sebenarnya telah terjadi sesuatu pada Meridia ketika ditinggalkan sendiri bahkan sebelum Qouila mengatakan apapun.
“Tugasmu hanya menjaga satu orang saja dan kau sama sekali tidak bertanggung jawab. Seharusnya istana tidak mempekerjakan orang tidak becus sepertimu,” Lucien mengeluarkan pedang dari sarungnya dan menggores garis panjang yang membentang dari dahi kanan hingga ke pipi kanannya “ini adalah peringatan terakhir untukmu.”
Saat itu Qouila benar-benar merasakan betapa kejamnya seorang Lucien yang sama sekali tak berkedip dan terus berekspresi datar saat melukai seseorang. Dia tampak tak peduli apapun, dia akan langsung melakukan apa yang ingin dia lakukan.
Berbeda saat bersama dengan Meridia, ekspresinya melunak begitu pula dengan sikapnya yang dingin. Lucien seperti menunjukkan sosok yang seperti bukan dirinya.
Setelah memberikan luka itu, Lucien pergi begitu saja tanpa berkata apa-apa lagi, membiarkan Qouila merintih menahan kesakitan luar biasa sembari menahan darahnya agar tak sampai mengotori lantai. Gilbert pun sudah mengetahui keadaannya tetapi dia tak bisa berbuat apa-apa selain menyuruhnya untuk segera diobati.
Arden langsung teringat dengan pembahasannya bersama Lucien beberapa jam yang lalu, ia kemudian memiliki ide untuk bertanya kepada Qouila “paman, bisakah aku bertanya sesuatu?”
“Ya, tanyakan saja Yang Mulia.”
“Duke Navarro bilang dia sempat bertemu dengan Raja untuk membicarakan soal pernikahannya, apakah dia datang kemari bersama dengan kekasihnya?” kalau Lucien benar membawa kekasihnya, ia yakin Qouila pasti sempat melihatnya karena pria itu sering berada di sisi Raja.
“Kekasih? Ya, aku dengar mereka belum lama bertemu dan langsung memutuskan untuk menikah,” Arden tidak begitu terkejut, “dia pemberani sekali ya.” puji Quoila setengah heran.
“Ya, begitulah.”
“Memangnya kenapa Yang Mulia menanyakan itu?”
“Um, apa paman tahu siapa namanya?”
Qouila tersenyum kikuk “Saya tidak bisa menyebutkan namanya sembarangan atau lidah saya akan dijadikan makanan anjing. Maafkan Saya Yang Mulia,” Arden tahu dibalik entengnya Qouila bicara terdapat tekanan yang amat luar biasa yang dia rasakan.
“Kalau begitu apa paman bisa menyebutkan ciri-cirinya?”
Qouila diam sejenak, memikirkan ciri-ciri yang spesifik dari Meridia agar mudah menyampaikannya. Selain itu dia mempertimbangkan antara menjawab atau tidak, satu kesalahan saja bisa membuatnya meregang nyawa. “Beliau sangat cantik seperti Lady Marigold, Yang Mulia.” hanya itu jawaban yang keluar.
Nafas Arden tercekat. Tiba-tiba jantungnya serasa berhenti berdetak “paman, apakah kau yakin mereka hanya sama cantiknya bukan malah terlihat sangat mirip satu sama lain?” Arden memegang kedua lengan Qouila erat dan dengan tatapan penuh harap.
“Kalau soal itu…” dia tidak begitu memperhatikan wajah Meridia. Dandanan yang berbeda cukup menutupi kemiripan yang dimiliki si kembar Emerald itu, terlebih lagi tak ada siapapun yang mengetahui bahwa Marigold memiliki kembaran “Saya tidak begitu yakin, Yang Mulia.”
"Begitu, ya. Ya sudah, terima kasih paman sudah mau menjawab ku. Semoga paman lekas sembuh. Aku pergi dulu ke perpustakaan."
Arden ingin mencari sejarah lengkap istana dan krisis yang mereka hadapi. Biar bagaimana pun, mereka si pihak istana pasti memiliki catatan mengenai tiap masalah yang terjadi di Kerajaan Bommenhaum ini.
Setelah beberapa jam berkutat di sana, buku pun telah menumpuk di atas meja, masih belum ada juga masalah yang dia cari. "Jadi, ini pertama kalinya penyakit itu menyerang? di mana aku bisa menemui penyihir istana? sebaiknya aku pergi sekarang. Raja Gilbert tidak akan marah karena aku punya akses di istana."