TRAPPED BY THE SECOND MALE LEAD

TRAPPED BY THE SECOND MALE LEAD
CHAPTER 31



Lucien menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua, tak lupa ia memeluk pinggang Meridia agar gadis tersebut tak bisa lari. Lucien sama sekali tak memberi jeda pada Meridia untuk bernafas lega. “Saatnya tidur, Meridia.” suara Lucien berubah menjadi lebih berat, ia terus mengusap-usapkan pipinya ke kepala Meridia, memeluk gadis itu seperti memeluk boneka, lalu bertanya, “Apa kau belum mengantuk?”.


Meridia masih berusaha memberi jarak walau sedikit dengan menahan bahu Lucien, “Aku sulit bernafas, aku bisa mati. Menjauhlah sedikit,” omel Meridia yang sepertinya tidak lagi sungkan mengatakan apa yang dia rasakan di depan Lucien.


Ucapan Meridia justru membuat Lucien mempererat pelukannya gemas. “Aku tidak mau.” tolaknya dengan nada halus. Meridia mendesah kesal lalu membiarkan Lucien berbuat sesukanya.


Pikiran gadis itu terbagi menjadi dua dan kedua-duanya cukup berbalikan. Ada sisi dalam diri Meridia yang merasa senang selama bersama dengan Lucien, terlepas itu tulus atau tidak, dia bisa mendapat perhatian yang sebelumnya tidak pernah ia dapat ketika masih berada di satu rumah yang sama dengan keluarga kandungnya sendiri. Tak dapat dipungkiri, Meridia menyadari memiliki perasaan suka sebagai teman untuk pemuda misterius ini.


Namun di sisi lain, Meridia juga takut jika harus hidup dengan orang yang tidak bisa ditebak seperti Lucien. Meridia lebih sering merasa gelisah seperti ingin mengakhiri ikatan ini selamanya dibanding rasa senangnya saat bersama kepala keluarga Navarro itu. Akan lebih baik jika mereka berdua menapaki jalan yang berbeda, itu yang dipikirkan Merida.


“Meridia,” bisik Lucien lembut. Seru nafas yang menerpa telinga membuat gadis itu bergidik geli. “Kau sudah tidur?” lelaki itu mengira bahwa gadis dalam dekapannya telah tertidur sebab sejak tadi dia tidak bergerak sama sekali.


“Ada apa? Kenapa kau berbisik begitu?”


“Oh ternyata kau belum tidur,” Lucien mencari kesempatan agar bisa mendengar suara Meridia yang mengalun lembut "Hei, Meridia. Bisakah kau ceritakan dongeng untukku?”


Meridia meliriknya sebal. Lucien ini hanya menambah pekerjaan saja tahunya. “Kau sudah terlalu besar untuk mendengarkan dongeng sebagai pengantar tidur,” ujarnya ketus, ia berhasil melonggarkan pelukan Lucien pada pinggangnya, “Tidurlah. Aku juga akan tidur.”


“Ah Meridia ini sangat tidak seru,” Lucien mengerutkan bibirnya, meniru kebiasaan yang dilakukan Meridia ketika gadis itu sedang kesal “Kalau begitu, peluk aku sampai tidur.”


“Tck. Kau ini rewel sekali, sih. Kau ‘kan sudah terbiasa tidur sendiri.”


“Sekarang aku tidak akan terbiasa lagi,” Lucien menurunkan sedikit posisi tidurnya hingga kepalanya sejajar dengan kepala Meridia, menatap wajah ayu gadis yang sedang menatap kosong langit-langit kamar “Aku harap kau akan melakukannya, sekali saja, setidaknya sebelum umurku habis.”


Meridia menengok Lucien dengan dahi yang berkerut dalam. “Mendadak kau jadi suram sekali. Apa ini sebuah tipuan untuk memancingku iba padamu?”


Pemuda itu memberikan senyum ambigu. “Tidak juga, tapi apapun itu kita memang harus mempersiapkan hal terburuknya lebih dulu, ‘kan?” Lucien kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah Meridia. Gadis cantik itu ingin menghindar tapi Lucien sudah lebih dulu menahan belakang kepalanya dan kini ujung hidung mereka saling bersentuhan “Jadi kau sungguh tidak mau ya, bagaimana kalau kita melakukan hal yang lain saja?”


“Apa maksudmu? Hei menjauhlah. Aku tidak bisa bernafas,” kedua sudut bibir Lucien terangkat tatkala mendapat ide yang menarik baginya. “Ayo kita bermain kuis untuk mengetes seberapa jauh kau mengenal pasanganmu.”


“Bagaimana kalau aku yang menang?” tanya Meridia dengan percaya diri padahal dia tidak tahu apa-apa mengenai Lucien selain keanehannya. "Ya itu terserah padamu. Kau boleh memilih hukuman apapun untukku.”


Lucien bergeser sedikit untuk memberi jarak diantara mereka, “Kalau aku yang menang maka aku akan memberikanmu hukuman dari setiap jawaban salah yang kau berikan. Dan jika poin akhir ku lebih banyak, aku akan memberikan hukuman berat untukmu.” Selalu ada hubungan timbal balik di setiap hal yang Lucien lakukan.


“Hukuman?” jika Meridia menang dia akan bebas tetapi kemungkinannya sangat kecil, ia menjadi gugup bukan main. “Bagaimana? Seru ‘kan? Kita mulai sekarang,” Meridia terkejut saat melihat sebuah cahaya membentuk tulisan muncul di atas kepala mereka. cahaya itu menampilkan kata kunci tiap sesi.


[Hobi]


“Baiklah itu pertanyaan pertama. Mau jawab duluan?” Lucien terlihat sangat antusias memainkan permainan yang menguntungkan dirinya. Dia mempersilakan Meridia untuk menjawab terlebih dulu sebab ia menantikannya.


Meridia lalu memperhatikan baik-baik wajah Lucien, mulai menerka-nerka apa hobi yang cocok dengan wajah tampan pemuda itu “Um…berburu mungkin?” jawab Meridia ragu.


“Ya, aku suka berburu dan sekarang aku sudah mendapat mangsaku tapi sayangnya itu bukanlah hobiku jadi jawabanmu kurang tepat,” Lucien tersenyum “Giliranku. Hobi mu adalah berkebun, iya ‘kan?”


“Bukan.”


“Benarkah? Memangnya apa hobimu?”


“…” Meridia tidak tahu kegiatan apa yang membuatnya senang dan sangat ia nikmati ketika melakukannya. Satu yang tetap terlintas di benaknya, ia senang merawat tanaman bersama dengan Samuel di kebun belakang. Taman adalah pelarian terbaik yang Meridia miliki ketika sedang sedih dan berusaha sejenak melupakan nasib buruk yang menimpa dirinya.


“Baik, aku akan aku yang menang. Kita lanjutkan ke pertanyaan selanjutnya.”


“Lucien bisakah kita langsung istirahat saja? Aku mulai mengantuk,” sayangnya bujukan Meridia tidak berhasil. “Tidak bisa. Kita harus selesaikan semua pertanyaan dulu.”


Meridia sudah tidak yakin dia akan selamat dari permainan kekanak-kanakan yang dibuat Lucien. Lebih jauhnya lagi, hanya Lucien yang begitu menantikan hasil akhir. “Aku akan simpan hukumanmu untuk di akhir saja.” hati siapa yang tidak gelisah mendengar ucapan itu.


[Makanan favorit]


“Meridia bukan tipe pemilih makanan tapi dia hanya tidak tahan dengan makanan manis. Itu sebabnya aku melarang.”


Meridia menatap Lucien penasaran akan satu hal. “Bagaimana kau bisa tahu banyak soal diriku? Aku sendiri tidak tahu kalau aku tidak tahan dengan makanan manis.” Orang asing sepertinya malah lebih tahu, Meridia saja tidak sadar.


Sebelumnya Meridia tidak bisa memastikan itu sebab selama berada di mansion Emerald ia tak pernah mendapat kesempatan memakan makanan yang layak. Meridia murni hanya memakan buah-buahan yang manisnya alami untuk memenuhi kebutuhan gula dalam tubuhnya.


“Aku selalu tahu tentangmu dan tidak ada yang lebih tahu tentang dirimu daripada aku. Baiklah, pertanyaan selanjutnya.”


“Kau belum menjawab pertanyaanku dengan benar,” kata Meridia tidak terima. “Dan aku juga belum menjawab pertanyaannya. Apa kau mau berbuat curang?”


“Bukankah tadi aku sudah menjawab? Dan lagi, menurutku percuma saja kau menebak,” Lucien menunjukkan senyum mengejek sehingga membuat Meridia merengut, “Kau meremehkanku.” ujar gadis cantik itu.


“Mari kita lebih realistis, Meridia.”


“Maksudmu dengan mengalah dan menerima permainan kotormu?”


“Haha kau ini lucu se-“ tiba-tiba ekspresi Lucien berubah serius, ekspresinya mengeras selaras dengan senyumnya yang menghilang seketika. Mata elang Lucien menajam dan beberapa detik setelah perubahan itu dia bangkit dari posisi tidurnya. “Meridia, tunggu aku di sini. Aku harus pergi mengurus hal penting,” Lucien mengusap kepala Meridia lalu menyibakkan poni gadis itu ke atas dan mengecup keningnya lalu berkata, “Aku akan segera kembali.”


“Sekarang adalah kesempatan yang bagus,” gumam Meridia sambil melirik lorong. Sebelum membuka pintu kamar Lucien ia memastikan tidak ada orang lain disekitarnya dan setelah yakin ia segera menyusup masuk ke dalam kamar Duke Navarro itu.


Hal yang pertama menyambutnya adalah aroma menyengat seperti alkohol yang cukup menusuk indra penciumannya tapi anehnya juga berbau manis. Ruangan Lucien sangat gelap bahkan sepertinya sang empunya kamar juga jarang menggunakan lampu penerangan. “Haruskah aku nyalakan? Tapi aku bisa ketahuan.”


Alhasil Meridia hanya menyalakan sebatang lilin untuk penerangan dan betapa terkejutnya ia ketika melihat isi ruangan tersebut. Berbeda dari bayangannya, kamar Lucien justru sangat sederhana dan terkesan kosong. Hanya ada sedikit barang di sana. Jika dibandingkan dengan kamar yang Meridia tempati, maka perbedaannya mencapai lebih dari lima puluh persen.


Meridia berjalan mendekati sebuah lemari kecil setinggi pinggangnya. Hatinya seolah memberitahu Meridia bahwa ada sesuatu yang Lucien simpan di dalam sana. Tanpa basa-basi lagi Meridia langsung memeriksa setiap laci lemari tersebut dan di laci paling bawah terdapat sebuah foto tak berbingkai dalam kondisi. sudah setengah terbakar tergeletak di pojok bagian dalam laci dengan posisi terbalik.


Meridia mendekatkan lilin dalam genggamannya ke foto tersebut, seorang bocah lelaki yang imut tengah tersenyum terpaksa karena dua jari kecil yang menyangga kedua sudut bibirnya. jari-jari itu bukan milik si bocah lelaki itu melainkan milik orang yang berada di sebelahnya tepat pada bagian kertas yang terbakar.


Bagian foto itu sudah hangus terbakar sehingga Meridia tak dapat melihat siapa yang ikut berfoto dengan bocah lelaki yang Meridia yakini itu adalah Lucien kecil. “Aku tidak tahu kalau sejak kecil dia memang sudah setampan ini,” gumamnya sembari membalik foto mencari tahu apa ada sesuatu dibalik foto tersebut. “Kenapa foto ini bisa sampai terbakar? Apakah di istana ini pernah terjadi kebakaran?”


Meridia mengembalikan foto itu ke dalam laci dan bergerak mencari petunjuk lain lagi. “Rasanya mustahil Lucien punya buku harian. Kira-kira petunjuk apa lagi ya yang bisa aku cari di sini?”


“Yang Mulia, saya sudah membawakan surat balasan dari Raja untuk Anda,” Hugo menyerahkan nampan kecil berisi surat yang terbungkus rapi dan bertanda cap resmi lambang keluarga kerajaan.


Lucien membaca surat itu sekilas lalu senyumannya mengembang “Pfft hahahahaha” tawa keras nan mengerikan Lucien membuat Hugo merinding, dia penasaran apa yang sebenarnya sedang ia komunikasikan bersama Raja sampai tuannya yang dulunya jarang tersenyum kini malah tertawa puas.


“Bagus.” gumam Lucien lalu membakar kertas itu hingga tak bersisa “Hugo, besok aku akan mengikuti rapat bangsawan.”


“Baik, Yang Mulia. Akan saya siapkan semua keperluan Anda dengan baik.”


Lucien menutupi senyumnya dengan telapak tangan “Aku tidak sabar melihat ekspresi kekalahannya.” Hugo menatap bahu lebar Lucien yang tengah membelakanginya sambil menatap langit malam, “Yang Mulia, bagaimana dengan Duchess? Apakah dia bisa ikut dengan Anda ke pertemuan itu?”


“Tentu saja tidak.” balas Lucien dengan penolakan yang tegas. “Segera bawa dia pulang segera setelah selesai bertemu dengan Raja,” titahnya pada Hugo pertanda bahwa pria itu juga harus datang ke istana sebagai ajudan Lucien dan mau tidak mau harus bertemu dengan manusia-manusia mengerikan yang berkumpul di sana.


“Sampai sini saja pembahasan kita,” Lucien lantas membalikkan badan. Seringai jahil tercetak di bibir tipisnya, ia pun bergumam “Saatnya bermain petak umpet.” Lucien terkekeh pelan, ia berjalan melewati Hugo sambil menepuk bahunya “Pergilah.”


“Baik, Yang Mulia.”


Lucien bergegas kembali ke lantai atas. Sedangkan Meridia yang masih berada di kamar Lucien sama-samar sudah mulai mendengar suara langkah kaki yang menggema di lantai koridor yang sepi “Apa itu Lucien?” Meridia berjalan jinjit mengintip lorong dari sela-sela pintu kamar “Astaga!”


Terlambat bagi Meridia untuk keluar dan masuk kembali ke kamarnya sendiri. “Gawat. Aku harus bersembunyi di mana?” gadis itu tak bisa mencari tempat aman karena tidak banyak barang-barang di dalam sana. terdengar suara pintu di buka dan ternyata Lucien masuk ke dalam kamar Meridia “Meridia, aku sudah kemba— loh? Dia tidak ada disini?”


Meridia sudah merasa ketakutan dan tak bisa memikirkan cara lain selain bersembunyi di bawah ranjang Lucien dan menutup mulutnya rapat-rapat berharap Lucien tak dapat menemukannya sebelum dia kembali ke kamarnya sendiri. “Semoga dia tidak menemukanku disini!”


“Aneh, dia pergi kemana malam-malam begini?” Lucien keluar dari kamar Meridia dan melihat pintu kamarnya sedikit terbuka, “Meridia, kau di sini?” nafas gadis itu tercekat.


Ia menahan nafasnya kuat-kuat saat melihat kedua kaki Lucien yang berjalan masuk ke dalam kamar. Dia tahu kemungkinan lolos dari pemuda itu amatlah kecil.


Mata Meridia tak lepas memperhatikan kemana kaki Lucien melangkah “Apa dia bersembunyi di kamarku?” Meridia melihat dari bawah ranjang, kaki Lucien bergerak mendekati lemari pakaiannya “Meridia, siap atau tidak aku datang.”


Lucien membuka lemari pakaiannya yang tetap rapi “Tidak ada disini, ya...” Meridia memejamkan mata erat, jantungnya terasa sudah berpindah ke telinga mengingat degup jantungnya terdengar amat nyaring. Lucien menghela nafas, “Apa dia pergi ke dapur?” tanya nya pada diri sendiri “Ini sudah saatnya tidur, sebaiknya aku minta tolong yang lain untuk membantu mencarinya,” ketika membuka mata, netra biru gelap Meridia melihat kaki Lucien melangkah pergi dari kamar dan menutup pintunya dari luar.


Sebelum keluar dari tempat persembunyiannya Meridia memastikan suara langkah kaki Lucien sudah jauh agar dia bisa punya waktu untuk kembali ke kamarnya sendiri “Huft…astaga, nyaris saja ketahuan,” lirih Meridia mulai merangkak keluar dari kolong ranjang.


“Ketemu, rupanya di sini kau bersembunyi.”


“Apa?!” Meridia terlonjak kaget ketika melihat Lucien sudah duduk di tepi ranjang, menumpangkan kaki kiri ke kaki kanannya sambil menatap Meridia dengan seringai mengerikan “Apa yang kau lakukan di bawah sana? sedang bersembunyi, hm?” gadis itu tak dapat menjawab akibat dilanda syok.


“Seperti yang kau lihat, kamarku tidak ada apa-apanya. Kau sedang mencari sesuatu?” senyum ambigu Lucien membuat Meridia kesulitan menelan ludah. Alhasil hanya alasan klasik yang terpikirkan olehnya. “Aku hanya penasaran dengan kamarmu karena aku tak pernah melihatnya. Itu saja.”


“Hoo benarkah?” Lucien tersenyum tipis, ia mengangkat tangannya meminta Meridia untuk meraihnya “Kalau begitu ayo bermalam disini saja.”


Meridia menggeleng sebagai penolakan “Tidak mau. Kau saja yang disini, aku akan kembali ke kamarku sendiri,” Meridia pergi kearah pintu kamar Lucien namun ia tak bisa membukanya, ia juga tak melihat ada kunci pintu di sana.


“Sejak kapan pintu ini terkunci?” tanya Meridia dalam hati.


“Kenapa tidak jadi keluar? Berubah pikiran?” tanya Lucien pura-pura tidak tahu.


“Jangan kunci pintu ini. Cepat buka, aku ingin keluar,” Lucien mendekati Meridia dengan langkah pelan “Hei, Meridia. Mau aku ceritakan kisah yang menarik tidak?”


Kedua alis Meridia bertaut bingung “Apa?”


“Tidak jadi deh,” Lucien menghimpit tubuh Meridia “Soal permainan tadi, aku yang menang ‘kan?” sialnya lagi, Meridia baru ingat kalau mereka sempat memainkan permainan konyol walau singkat tapi memang Lucien menang “Sekarang aku berhak menghukummu.”


Tangan besar Lucien menahan kedua pipi Meridia agar terus menatapnya “kau harus tahu satu hal. Kau tidak akan pernah bisa lari dariku,” ujar Lucien pelan namun sarat akan arti dan penekanan, kedua bola mata abu-abu miliknya perlahan berubah menjadi merah menyala. “Aku sudah memiliki mu jadi kau tak punya hak dan kebebasan apapun atas tubuhmu sendiri,” senyum dingin Lucien membuat gadis itu mematung.


Apa? apa maksud dari perkataan Lucien barusan?


“Baiklah, sekarang apa yang harus aku lakukan padamu ya?” pemuda rupawan itu memiringkan kepalanya sedikit, menatap wajah pucat pasi Meridia lamat-lamat lalu berkata, “Apa yang harus ku lakukan supaya kau tidak lupa kalau kau itu adalah milikku?”