TRAPPED BY THE SECOND MALE LEAD

TRAPPED BY THE SECOND MALE LEAD
CHAPTER 33



“Indahnya..” Meridia terpukau melihat keelokan pria berambut panjang yang muncul di hadapannya itu.


Seluruh tubuhnya bagai dibalut oleh cahaya terang namun teduh membuatnya terlihat seperti seorang dewa, ia menggunakan pakaian serba putih keemassn sederhana yang berhasil menonjolkan sebuah keunikan yang tak pernah Meridia lihat sebelumnya.


Pemuda itu tersenyum ramah pada tamu tak diundangnya, “Kau mencari buku tentang dia?” dia seakan membaca wajah kalut Meridia.


Putri yang tak dapat pengakuan Ziel itu menaikkan sebelah alisnya bingung sebab ia tidak merasa mengatakan sesuatu. “Dia?” ulangnya tak paham. Pemuda aneh namun tampan itu berjalan dengan langkah pendek menghampiri Meridia. Gadis itu fokus pada setiap lantai yang dipijaknya, lantainya akan bersinar beberapa detik setelah pemuda itu mengangkat kakinya lagi.


Jarak mereka berdua kini sangat dekat, “Aroma mu sudah dipenuhi aroma tidak sedap darinya,” ucapnya sambil sedikit menunduk, hidungnya bergerak mengendus udara di sekitar Meridia.


Gadis berambut panjang itu mengedipkan matanya beberapa kali dengan cepat, “Maaf, tapi aku sudah mandi.”


“Kasihan sekali, kau sudah berada dibawah kendalinya. Jika begini, sepertinya hidupmu akan terus terikat dengannya. Apa kau tidak ingin bebas?” ia mendekatkan wajahnya pada Meridia sambil sesekali mengusap dagu runcingnya, “Hm…apa belakangan ini ingatanmu memburuk, seperti kau sering melupakan sesuatu yang kau rasa itu penting?”


Meridia tersentak kaget “Bagaimana kau bisa tahu?”


Belakangan ini, semenjak terakhir dia terbangun bersama Lucien disebelahnya, Meridia kurang bisa mengingat apa saja yang dia lakukan kemarin. Hal-hal kecil lain butuh waktu beberapa saat untuk bisa diingat kembali.


Iris hijau teduh pemuda itu lama kelamaan berubah menjadi kebiruan “Kau masih tidak ingat apa-apa soal Lucien, ya.”


“Kau mengenal Lucien?” Meridia sampai kesulitan mengolah informasi yang baru saja dia dapatkan sangking terkejutnya. Ia tak bisa berpikir dengan baik.


Lantas peri yang duduk dipundak Meridia sebelumnya terbang ke depan wajah gadis itu lalu menendang dahi Meridia meski kaki kecilnya takkan membuat sakit. “Hei, kau tidak tahu siapa bos ini? kau seperti meremehkannya. Dia itu de- umph!”


Lelaki bersurai panjang itu segera mendorong tubuh mini Aquila menjauh menggunakan jari telunjuk nya. “Pergilah bekerja, Aquila. Kau terlalu banyak bicara,” potongnya.


“Huft! Dasar bos kejam!” Aquila memalingkan wajah kesal tapi ia tetap mengikuti perintah bos nya dan kembali ke rak di mana ia seharusnya menata ulang susunan buku. Pemuda yang tak diketahui namanya itu tersenyum ramah, “Bagaimana kalau kita mengobrol sambil duduk saja? Aku punya beberapa pertanyaan yang ingin ku ajukan padamu.”


Meridia mengangguk lemah, kebingungannya membuat Meridia tak tahu harus bagaimana. Ia hanya mengikuti komando yang diberikan dari orang yang sepertinya pemilik perpustakaan itu. “Aku bisa merasakan ketenangan yang luar biasa di dekat orang ini,” ujarnya dalam hati seraya terus memperhatikan wajah berseri pemuda itu.


Saat mereka berdua duduk, beberapa peri kecil datang membawakan teko teh dan dua cangkir kosong ke atas meja. Melihat peri beterbangan didepan muka? itu sudah seperti khayalan masa kecil.


“Ekhem, apa kesanmu setelah melihatku?” Lelaki berambut panjang itu sedang menantikan jawaban yang diharapkannya. Sekilas dari matanya yang berbinar, Meridia melihat bahwa pemuda di hadapannya ini senang bisa bertemu dengan dirinya.


“Eh?” Meridia menggaruk pelipisnya, dengan ragu dia menjawab, “Sepertinya kau bukan orang jahat,” hanya itu jawaban yang terpikirkan olehnya.


Pemuda itu tersenyum tapi sangat terlihat kalau sebenarnya dia tidak puas dengan jawaban Meridia yang sangat biasa saja “Begitu? ya, aku memang salah berharap terlalu banyak darimu.”


Ia menyesap teh hangatnya lalu meletakkan cangkir itu lagi seraya menambahkan madu ke dalam cangkir tehnya “Kau punya kemampuan yang lumayan hebat. Kau belum bisa menggunakannya?”


Bukannya mendengar, Meridia justru sibuk memperhatikan penampilan lelaki itu “Apa kau memang selalu bersinar seperti itu? Kau terlihat seperti kunang-kunang di malam hari.”


“Haha kau lucu sekali. Itu hanya akan jadi hinaan bagiku karena aku sangat jauh lebih baik, tidak bisa disamakan dengan makhluk seperti mereka.”


“Wah, apa orang ini memang narsis? Dia tidak kelihatan seperti orang yang sedang melempar candaan,” batin Meridia dalam hati.


"Kau belum menjawab pertanyaanku, loh. Yah, tapi tak apa, aku juga sudah tahu jawabannya.”


“Bagaimana kau bisa tahu tentang banyak hal?”


“Karena aku tidak bodoh seperti manusia yang punya kemampuan otak terbatas.”


“…” Meridia sedikit kesal mendengarnya, ia lalu mengalihkan topik pembicaraan mereka “Sebenarnya kekuatanku itu apa? Mereka bilang ini hanya kutukan dan tidak akan berguna sama sekali,” ia tertunduk menatap kedua telapak tangannya. Selama dia pindah ke istana Lucien, kekuatan kutukan itu tidak keluar.


“Tentu saja bukan. Malah kekuatanmu itu sangat berguna untuk manusia yang tamak dan egois.” Pemuda itu menjentikkan jarinya ke arah buku di atas pangkuan Meridia, lalu searah dengan jarinya buku itu terbang kembali pada si pemilik “Masih terlalu cepat 100 tahun bagimu untuk mengetahui isinya.”


“Apa?”


“Kekuatanmu itu sangat unik," dia memberi jeda pada penjelasannya untuk meminum teh, "Kau bisa memaksakan keinginanmu pada orang lain hanya dengan mengucapkan apa yang ingin kau harapkan itu terjadi pada targetmu,” dia tahu Meridia takkan terlalu terkejut setelah mendengar itu karena pada dasarnya gadis itu sudah memahami konsep kekuatannya sendiri, “Itu sebabnya kau memilih untuk tidak mengedepankan perasaan agar ucapanmu tetap terkontrol, benar begitu?”


“Kau ajaib sekali bisa mengetahui segalanya dengan mudah.”


“Terimakasih atas pujiannya,” balas si pemuda itu senang. Ada satu pertanyaan yang ingin lelaki tersebut tanyakan, “Bagaimana perasaanmu saat tinggal bersama dengan Lucien? Ah aku lupa, dia adalah seorang bangsawan ya,” gumamnya seakan tidak hanya tahu nama Lucien saja melainkan tahu seluruh selum beluk seorang Lucien Clein Navarro.


“Aku tidak tahu. Aku tidak bisa menjelaskan apa yang aku rasakan,” Meridia menghela nafas panjang, “Setiap hari pikiranku selalu berantakan.”


Pemuda misterius itu memandangi wajah kalut Meridia “Kau bisa jawab jujur, apa kau mencintai Lucien?”


“Apa?” Meridia tidak tahu kalau dia akan diberikan pertanyaan ini sehingga dia sangat tidak siap dengan jawabannya.


“Aku juga tidak tahu.”


“Dia bukan orang yang tepat untuk kau pilih sebagai pasangan seumur hidup. Lucien sudah melangkah terlalu jauh, aku yakin dia tidak akan bisa membahagiakanmu.”


“Itu tidak benar.” tanpa dia niatkan, jawaban penyangkalan itu lolos begitu saja dari mulutnya.


“Maksudmu?”


Mau bagaimana lagi, dia sudah terlanjur mengucapkan pembelaan. Akhirnya Meridia berusaha menjelaskan dengan pelan maksud ucapannya tadi. “Justru dialah yang menyelamatkan ku dari neraka dunia yang ku rasakan saat tinggal bersama keluarga kandungku. Dia selalu memberikan apa saja, bahkan jika aku tidak memintanya sekalipun dia akan tahu apa yang aku butuhkan. Dia selalu memberikan perhatian yang selama ini tidak ku dapat,” bela Meridia tak pikir panjang, dia terpancing setelah mendengar kalimat orang di hadapannya.


Pemuda itu menyipit tak suka. “Oh jadi kau memang mencintainya,” responnya santai namun sinis, ia mengangguk kecil sembari meminum teh nya. Meridia membelalakkan mata, dirinya tidak sadar sudah mengatakan sesuatu yang selama ini tak pernah ingin ia akui.


“Bisakah kau mendengarkanku?”


“Ya.”


“Meridia, kau akan terus terkena masalah besar jika kalian memilih tetap bersama. Aku tahu apa yang kau rasakan tapi ada baiknya menjauhi marabahaya." Dia membiarkan Meridia berpikir sebentar, “akan ku kembalikan sebagian ingatanmu yang terkunci,” pemuda tampan itu menyeringai tipis.


“Ingatanku?”


“Berdirilah,” titahnya.


Meridia mengikuti perintahnya dan berdiri saling berhadapan. Pemuda itu sedikit membungkuk lalu berbisik di depan telinga Meridia “Setelah ini pastikan kau tetap bisa bersikap seperti biasanya jika tak ingin dicurigai.”


Tanpa aba-aba pemuda itu langsung mengecup singkat kening Meridia dan seketika tubuhnya bercahaya seperti pemuda di hadapannya. Lima detik kemudian cahaya itu lenyap bersamaan dengan perasaan ringan yang merasuk ke jiwanya. “Apa sudah selesai?” tanya Meridia yang tak merasakan apa-apa lagi.


“Ya, sekarang kembalilah. Mungkin suatu saat nanti kita bisa bertemu lagi,” Meridia merasa berada di tengah-tengah pusaran angin yang berputar di sekitarnya. Seketika tubuh Meridia melayang, angin tersebut membawa tubuhnya terbang keluar dari perpustakaan itu. Semakin Meridia menjauh semakin cahaya di dalam ruangan itu memudar.


Pemuda itu meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya “Ini rahasia kita berdua, jangan ceritakan pada siapapun.”


“Tunggu! Aku belum tahu siapa namamu.”


“Panggil saja Ricchie. Ingat namaku baik-baik sampai kita bisa saling bertemu lagi, ya.” senyuman pemuda itu memudar digantikan dengan raut sendu saat melihat Meridia sudah berada di depan penghujung ruangan.


Setelah itu pintu misterius yang ia gunakan untuk masuk telah menghilang tanpa jejak. Dinding itu sudah rapat.


“Ricchie ya,” gumam Meridia yang terduduk di lantai masih sambil menatap kosong dinding polos di depannya, “Aku merasa sangat senang bisa bertemu dengannya, rasanya seperti bernostalgia.”


Qouila baru saja kembali setelah menyelesaikan keributan yang terjadi diantara para pelayan di ruang rapat. Pria tersebut terkejut saat kembali dia sudah melihat Meridia duduk di lantai sambil bengong, “Y-Yang Mulia, Anda baik-baik saja?!” pria penjaga itu segera membantu Meridia bangkit “Apakah Anda jatuh terpeleset? Saya akan segera menegur pelayan itu.”


Meridia tak menjawab dan beranjak pergi mengabaikan Qouila yang terlihat khawatir. Gadis itu kembali ke tempat Lucien berada. Sebelum Meridia sampai, ia bisa melihat Lucien sudah menunggu di depan pintu dengan gelisah meski tak terpampang jelas di wajahnya, “Meridia, kau lama sekali. Apa kau tersesat?”


Meridia menggeleng lemah “Tidak,” jawabnya cepat.


“Ayo. Hugo akan langsung mengantarmu pulang,” Hugo sudah datang ke ruang takhta masih dengan pakaian ajudan lengkap yang membuatnya sangat berkharisma dan memancarkan dengan jelas kewibawaan seorang Ksatria hebat.


“Mari Yang Mulia Duchess.”


Sementara itu di depan istana, Arden baru saja turun dari kereta keluarga Grand Duke resmi yang memiliki lambang singa putih sebagai identitas Palmieri. Hal pertama yang menyertai ketika kakinya menapaki tanah adalah sebuah helaan nafas panjang, penampakannya pagi ini tidak begitu bagus. Sangat terlihat kalau dia sedang tidak baik-baik saja.


Arden berjalan santai menaiki tangga dan secara kebetulan seorang ksatria kerajaan yang kenal baik dengan Arden sedang melintas di depan sana. Pemuda itu tersenyum gembira “Yang Mulia Arden!” si empunya namanya tersentak kaget karena sejak tadi ia melamun dan tak melihat ada seseorang yang sudah menunggunya di depan pintu istana.


“Wah, ada perlu apa Anda datang kemari? Saya sudah sangat jarang melihat Anda datang ke istana,” tanya nya dengan ramah. Arden memang sangat jarang datang ke istana walau dia anak seorang Grand Duke sekalipun, ia takkan datang jika keadaannya tidak mendesak seperti hari ini.


“Ada rapat bangsawan yang harus aku hadiri sebagai pengganti ayahku untuk sementara,” jawab Arden dengan senyuman.


“Anda kelihatan kurang tidur, Anda baik-baik saja?”


“Ah ya, aku baik.”


“Oh jadi Yang Mulia Grand Duke Palmieri tidak bisa hadir? Tumben sekali.”


“Ya, dia sedang tidak enak badan.”


Sebetulnya William tidak benar-benar sakit. Hanya saja, semalam ayahnya itu tak sengaja meminum sebotol alkohol yang ia kira adalah sari buah yang biasa ia minum sebelum tidur sebab botolnya sangat mirip. Alhasil dia jadi mabuk berat dan terus meracau tidak jelas sepanjang malam, membuat Helena sang ibu kesulitan.


Tidak hanya sampai disitu, William juga mengajak Arden berduel pedang di tengah malam sambil menasihatinya panjang lebar yang perilaku nya itu sama sekali berbeda dari sosok William yang ia kenali. Selain itu, dia juga mengajak Helena untuk mengobrol bertiga membahas tentang masa kecil putra semata wayang mereka, yaitu Arden.


Mengingat kejadian ayahnya mabuk saja sudah membuat Arden trauma dibuatnya. Pagi ini William masih merasa pengar sementara Helena baru saja bisa tidur setelah mengurus William dan tidak mungkin seorang wanita menggantikan posisi kepala keluarga di sebuah pertemuan resmi.


Kekacauan konyol itu membuat Arden sangat malu pada dirinya sendiri “Bagaimana bisa keluargaku membuat keributan seperti itu,” pemuda rupawan itu menghela nafas untuk yang kesekian kalinya, ia pun sampai menutupi matanya dengan telapak tangan.


“Eh? Yang Mulia barusan mengatakan sesuatu?”


“Ah tidak. Aku sedang memikirkan ayahku di rumah.”


Marigold dan Ziel sudah datang tiga puluh menit lebih cepat. Sekarang pemimpin Emerald itu tengah menemui temannya dan Marigold tak memiliki kegiatan apapun yang bisa membunuh kebosanannya. Marigold dapat ikut datang ke istana karena secara resmi dia juga memiliki hubungan dengan kerajaan sebagai Saintess yang sudah diakui oleh negara.


Sebetulnya Marigold sempat sekilas melewati lorong menuju toilet di mana saat itu Meridia juga sedang melamun melihat pintu misterius yang tak bisa dilihat oleh sembarang orang. “Kenapa dia diam saja disitu?” gumamnya Marigold heran dan dia hanya sekedar lewat, tak curiga dan kembali lagi untuk mengecek. Dia terlalu acuh sampai tidak mengenali adik kembarnya sendiri.


Karena semakin merasa bosan akhirnya Marigold memilih untuk berjalan-jalan di taman istana dan hatinya senang kala melihat ternyata Arden juga datang ke istana. Sungguh sebuah kebetulan yang menyenangkan.


“Arden!” pemuda bersurai pirang itu tersentak kaget, ia menengok ke belakang dan mendapati Marigold tengah berlari kecil ke arahnya.


Arden tidak langsung menyambut dengan senyum melainkan raut bingung “Arden, selamat pagi,” sapa Marigold dengan senyum manis yang ternyata malah hanya berefek pada ksatria kerajaan yang sedang mengobrol dengan Arden itu.


“Aku ikut dengan ayah dan aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu di sini,” kata Marigold sambil memegang lengan Arden. Di mata orang lain, mereka nampak sangat cocok bersanding. Melihat keberadaannya hanya mengganggu, akhirnya ksatria itu memilih untuk pergi meninggalkan mereka.


“Ya, kebetulan hari ini aku harus menggantikan ayahku—” Arden seketika menegang, ia merasa didekatnya ada orang yang sangat ingin ia temui. Arden memutar kepalanya ke sekeliling “Meridia..?” tak ada siapapun di halaman istana selain para penjaga dan beberapa abdi dalam yang bekerja di istana.


“Arden, ada apa?” Marigold mengikuti arah pandang Arden lalu mengernyit bingung.


“Tidak,” secara tidak sengaja Arden melihat sebuah kereta berlambang naga hitam bertanduk emas milik Duke Navarro pergi meninggalkan halaman istana “Kenapa dia pulang lebih awal? Apa dia akan melewatkan rapat hari ini?”


“Siapa Duke Navarro?” tanya Marigold yang baru mendengar marga Navarro. Arden menghela nafas “Dia adalah pemimpin klan Navarro saat ini. Sepertinya dia seusia dengan kita.”


Marigold tiba-tiba memegangi kepalanya yang terasa sangat sakit “Akh!”


Arden segera menangkap tubuh Marigold yang limbung “Kau kenapa? Apa kau sakit?”


“A-aku baik-baik saja, tiba-tiba kepalaku sakit,” wajah gadis itu menjadi pucat, akhirnya Arden membantu Marigold pergi ke ruang tabib istana untuk memeriksakan kondisinya yang tiba-tiba melemah.


Setelah mengantar Marigold, Arden langsung pergi menuju ke ruang rapat dan menunggu sampai waktunya tiba, dia juga sempat beberapa kali dengan bangsawan lain yang juga akan mengikuti pertemuan.


Arden memilih jalan yang lebih jauh ketika suasana hatinya tiba-tiba kurang baik, ia memilih melewati ruang tamu istana yang amat luas. Dia tidak sengaja menengok ke ruangan yang pintunya terbuka. Di sana dia melihat ada Lucien yang tengah menikmati secangkir teh sendirian dengan aman dan damai.


“Aku pikir dia sudah pulang karena keretanya pergi duluan.” Arden memegang belakang tengkuknya, sebuah keinginan muncul dalam hatinya. “Aku ingin berteman dengannya,” ia menatap Lucien lagi, “Haruskah aku menyapanya? tapi kami tidak pernah saling sapa, sepertinya dia juga akan terganggu dengan kehadiranku.”


Lucien melirik kearah pintu, ia meletakkan cangkir teh nya lalu menatap Arden yang terperanjat kaget karena tidak tahu kalau Lucien akan segera menyadari keberadaannya. "Selamat siang, Pangeran Arden Lund Palmieri,” sapa Lucien dengan menyebut nama lengkap pemuda tampan berambut pirang itu.


Putra tinggal William Palmieri itu masih sedikit ragu, tapi melihat ekspresi Lucien yang ramah membuat Arden memberanikan diri untuk masuk juga dan membalas sapaan Duke termuda itu “Selamat siang, Yang Mulia Duke Navarro.”


Setelah dipersilakan untuk ikut bergabung menikmati teh bersama, Arden duduk di sofa yang agak berjauhan dengan Lucien. “Tadi saya melihat kereta Anda pergi, saya pikir Anda akan melewatkan rapat mendadak ini," Arden mencoba mencari topik pembicaraan karena sangat terlihat dari wajahnya bahwa Lucien itu orang yang amat pendiam.


“Ya, itu adalah ajudanku.”


“Mengapa dia meninggalkan Anda?”


“Aku hanya memerlukannya saat bertemu Raja tadi,” jawab Lucien singkat tetapi tak menghilangkan kesan ramahnya.


“Bertemu dengan Raja Gilbert?”


Awalnya Lucien enggan membicarakan itu namun ia jadi penasaran akan sesuatu untuk melihat reaksi Arden. “Ya, sebelum rapat aku sempat menemui raja untuk membahas soal pernikahan.”


Arden terkesiap “Anda akan segera menikah?” walau Lucien seorang pemimpin keluarga, di usia delapan belas tahun ini menikah adalah keputusan yang terlalu cepat.


“Um, sepertinya begitu. Aku sangat mencintainya sudah sejak pertama kali bertemu. Apa lagi yang perlu ku tunda untuk segera memilikinya, iya ‘kan?” Lucien menyeringai tipis melihat ekspresi Arden.


“A-ah ya, itu benar sekali, Duke,” pemuda itu tersenyum canggung menanggapi ucapan Lucien, “entah kenapa aku merasa dia sedang menyindirku tapi kenapa pula aku merasa tersindir?” batinnya heran.


Bukan Arden seorang yang Lucien incar, dia tahu saat ini Marigold tengah menguping pembicaraan mereka di pintu. Sejujurnya dia sangat ingin memperjelas bahwa yang ingin dinikahinya adalah Meridia tapi dia ingin lebih menjahili dua bocah itu.


Dibalik pintu ruang tamu, Marigold diam mematung dengan pipi yang sudah mirip tomat. “a-ap-apa yang Lucien katakan?! Aku baru tahu kalau dia adalah seorang Duke muda yang dirumorkan. Aku sudah seperti heroine saja, dikelilingi banyak lelaki tampan,” gadis itu kegirangan membayangkan bahwa yang dimaksud Lucien adalah dirinya karena obrolan terakhir mereka.


Marigold memang seharusnya berada di ruangan dokter tetapi sakit kepalanya hilang dengan sendirinya, jadi dia langsung mengejar Arden untuk bisa mengobrol lebih lama dengannya. Namun, sebelum Marigold sempat memanggil namanya, Arden sudah masuk ke dalam ruang tamu terlebih dahulu.


“Aku dengar kau akan bertunangan dengan putri Marquess Emerald,” Arden dan Marigold sama-sama terkejut.


“Dari mana Anda mendengar itu?” Arden memang sudah pernah mendengar rencana itu dari Helena yang langsung menyukai Marigold. Tetapi William menolak rencana istrinya untuk menjodohkan anak mereka diluar keinginan putra mereka sendiri.


William berprinsip akan mengadakan acara pertunangan dan pernikahan apabila Arden sendiri yang memilih pasangan hidupnya. Teguran Grand Duke membuat Helena sedikit kecewa karena menyia-nyiakan kandidat yang sangat bagus seperti Marigold. Namun masalah perjodohan itu sudah selesai. Hanya dalam keluarga mereka.


Baik ayah maupun ibunya tak ada yang mengumbar rencana yang sangat privasi seperti itu kepada orang lain. Bahkan rundingan keluarga itu tak sampai ke keluarga Ziel. “Anu…apakah orang-orang menyebar rumor begitu karena sering melihat kami bersama?” tanya Arden lagi.


Lucien menggeleng seraya tersenyum, “Kau berpikir aku mendengarnya dari orang lain? Lady Marigold sendirilah yang mengatakannya,” Arden tak percaya dengan pendengarannya, ia tidak menyangka kalau Marigold yang memang menyebarkan berita itu.


Marigold yang sedari tadi menguping pembicaraan mereka langsung keluar dari tempat persembunyiannya. “Tidak! Itu tidak benar. Saya tidak pernah mengatakan hal semacam itu pada siapapun!” sergah Marigold panik, dia jadi bingung dengan sikap Lucien yang tiba-tiba mengatakan hal tersebut di depan Arden.


Arden terdiam seribu bahasa, dia bingung melihat keadaan ini. “Loh? Saya mendengar sendiri kalau Anda mengatakan pada orang-orang di kuil tentang kalian berdua yang akan segera bertunangan.”


Marigold semakin panik, dia memang sempat membicarakan itu pada beberapa pendeta wanita ketika sedang membantu mereka menjemur kain suci di halaman belakang “Apa jangan-jangan Lucien ada disana ketika aku membicarakan itu?!” tanya nya dalam hati.


Marigold merengut marah. Ia pikir Lucien adalah pemuda yang lebih tampan dan berkharisma, ia juga berekspektasi kalau Lucien memiliki sifat yang sama seperti Arden. Marigold sedikit kecewa karena cara Lucien membongkar pembicaraan wanita di depan orang lain sangatlah tidak sopan. Dengan itu, seluruh anggapan baik tentang Lucien di mata Marigold menjadi hancur.


“Ah tapi saya sepertinya tidak salah melihat Saintess.”


“Tidak! Duke, saya tidak tahu apa tujuan Anda mengatakan itu tapi bukannya itu tindakan yang tidak sopan dan mencoreng nama baik bangsawan lain?” Marigold masih mencoba tersenyum dan bicara dengan sabar meski nada bicaranya menjelaskan semua amarah yang tertahan dalam hatinya.


Lucien mengangguk paham, “oh atau jangan-jangan Anda memang sengaja menyebar berita itu agar semua orang mendukung hubungan kalian berdua?” Lucien beranjak berdiri dari sofa, “Seharusnya Anda yang perlu lebih banyak belajar tentang sopan santun. Menguping pembicaraan orang lain dan menyela obrolan sembarangan itu sangat melanggar kode etik seorang bangsawan.”


Lucien beranjak pergi, ketika melewati Marigold ia sedikit berbisik, “Saya sangat kecewa dengan keputusan Anda memilih dia, padahal saya sangat berharap banyak untuk Anda,” lagi-lagi Lucien masih mempermainkan perasaan Marigold sampai membuat gadis itu memikirkan banyak hal. Tak ada dari dua orang tersebut (Arden dan Marigold) melihat seringai licik yang Lucien tunjukkan.


Saat itu Marigold tak mempedulikan Lucien dan berlari ke depan Arden yang masih duduk diam di sofa. “Arden apa kau marah padaku? Aku sungguh tidak pernah berkata begitu pada siapapun,” iris sapphire nya berkaca-kaca menahan tangis.


Pemuda itu mengangkat wajahnya lalu tersenyum palsu, “aku tidak marah padamu. Kau tidak perlu memikirkan itu, mungkin dia hanya penasaran dengan sesuatu saja.”


Airmata turun membasahi kedua pipi tirusnya “Hiks…aku minta maaf Arden, aku sungguh tidak melakukan itu, aku mohon jangan membenci aku,” ia melakukan itu agar Arden menaruh simpati kepadanya.


Penerus sah klan Palmieri tersebut menghela nafas lalu menepuk puncak kepala Marigold dengan lembut. "Jangan menangis, Marigold. Aku tidak akan marah padamu. Lagipula aku tidak bisa langsung percaya pada orang yang baru saja aku kenali,” ucapnya sebagai penenang. Pemuda itu segera melanjutkan kalimatnya, “Aku harus segera pergi sekarang atau aku akan terlambat mengikuti rapat. Sampai nanti.”


Setelah Arden meninggalkan ruangan, Marigold menghapus air matanya. “Sebenarnya apa tujuan Duke Navarro itu?” raut wajahnya berubah menjadi serius, “aku tidak menyangka dia akan berbuat sejauh ini karena merasa kecewa mendengarku berkata begitu.”


Sekilas diingatan Marigold, dia merasa pernah mengatakan itu pada orang lain lagi selain kepada pendeta wanita dan Marigold “aku seperti pernah membicarakan itu dengan orang lain, tapi dengan siapa?” ingatannya yang masih sangat jelas adalah ketika dia memamerkan bualannya untuk membuat Meridia iri.


Marigold menggelengkan kepalanya kuat-kuat “tidak, tidak. Daripada itu, aku juga seperti tidak asing dengan wajah Lucien itu. Tapi, itu tidak mungkin, aku baru bertemu dengannya belum lama ini.”


Dua belas bangsawan kini telah hadir di ruang pertemuan yang diselenggarakan siang hari di istana Bommenhaum. Raja sendiri telah duduk memimpin sambil mengevaluasi tiap laporan yang dibawa oleh masing-masing peserta rapat.


Gilbert tersenyum melihat Arden yang duduk di sebelahnya mewakili sang ayah. “Tumben sekali Grand Duke Palmieri tidak hadir di acara penting seperti ini, apa yang telah terjadi padanya?”


Arden tersenyum kikuk, ia malu menjelaskan keadaan William yang sebenarnya, “Ayah baik-baik saja, Yang Mulia. Dia hanya kelelahan akibat begadang menyelesaikan laporan lain,” padahal semua pekerjaan William yang harus diselesaikan malam tadi Arden yang mengerjakannya, itu sebabnya ia kurang tidur.


“Hahahaha seperti biasa, dia orang yang sangat keras terhadap dirinya sendiri.”


“Ya begitulah beliau, Yang Mulia.” Arden berhasil menangani pertanyaan Gilbert.


Segera setelah semua orang siap, Gilbert membuka rapat dengan membahas banyak hal yang tercantum dalam laporan yang sudah terkumpul mulai dari pengawasan wilayah dibawah kepemimpinan masing-masing bangsawan, masalah sosial yang terjadi di masyarakat di bawah naungan mereka, pengembangan wilayah kepemimpinan dan pengecekan batas wilayah.


Satu setengah jam terlewat dengan banyaknya diskusi yang mereka lakukan. Raja juga telah memberitahu di dua minggu terakhir bahwa pada rapat yang akan diadakan selanjutnya dia akan membagi beberapa wilayah baru untuk dua orang bangsawan agar dapat menjaga dan memakmurkan wilayah baru tersebut.


Banyak dari bangsawan lain yang puas akan kinerja Ziel sehingga dukungan membanjiri pemimpin Emerald itu. Selain karena daerah yang disebutkan itu dekat dengan tempat tinggalnya, Ziel dikenal cakap dan mudah mengasosiasikan dana ke tempat atau orang yang tepat.


Gilbert menerima masukan dari para pemimpin bangsawan dan memasukkan nama Ziel ke dalam kandidat penerima wilayah baru, selain William Palmieri. Baru saja Gilbert hendak membuka mulut, seorang bangsawan langsung menyela dengan mengangkat tangan.


“Maaf saya menyela, Yang Mulia. Bolehkah saja menyampaikan sesuatu? Tadi masalah yang saya jelaskan dalam laporan belum Yang Mulia bahas jadi…”


Gilbert mengangguk kecil “Silakan Marquess Benholtrich.”


“Saya berencana ingin membangun sebuah kuil dan pasar baru di dae—“


Lucien langsung memotong kalimat pria itu tanpa segan. “Seperti biasa, apakah Anda ingin meminta dukungan dan bantuan dana dari Yang Mulia Raja?” semua bangsawan ikut diam. Pasalnya, Benholtrich adalah orang yang paling sering meminta bantuan dana setiap dua bulan sekali dan tak pernah terlihat hasil dari perkembangan yang ia janjikan.


“Itu karena…” pria itu tak bisa mengatakan apa-apa karena seperti tebakan Lucien dan bangsawan lain, dia memang ingin meminta bantuan dana.


"Aku tidak melihat adanya perkembangan dari setiap bangunan yang ingin kau dirikan untuk mengembangkan desa-desa kecil,” timpal Gilbert yang memang sudah mendapatkan laporan dari para pengawalnya.


Pria itu berkeringat dingin dan menunduk mencoba mencari alasan “i-itu karena pekerja yang ditugaskan selalu tidak betah, Yang Mulia. Saya harus mengeluarkan uang ekstra untuk melanjutkannya.”


“Oh, alasan mereka tidak betah itu apa karena bayarannya tidak lancar? atau karena kau menyiksa mereka tanpa membayar jerih payah mereka sepeser pun?” keduanya sama saja, Lucien sudah tahu bahwa Benholtrich menghambur-hamburkan uang pemberian Raja untuk berfoya-foya di pelelangan barang ilegal dan dunia malam pusatnya manusia sampah berkumpul.


“Kegh..! I-itu tidak benar!” Benholtrich merasa semakin terpojok dan tak dapat berargumen lagi. Dia menunduk dalam, tubuhnya bergetar takut. Bukan kepada Raja melainkan karena tekanan yang diberikan Lucien.


Duke termuda itu memberikan tatapan kematian yang berhasil mengalahkan argumen Benholtrich. Arden yang bingung sampai memperhatikan Lucien dan reaksi Marquess Benholtrich secara bergantian “Duke Navarro ini terlihat sangat mencurigakan, sebenarnya dia itu siapa?”


Gilbert mengangkat tangannya sembari menghela nafas, “Aku menolak membahas ini lagi denganmu, Marquess Benholtrich,” tegasnya sebagai keputusan terakhir yang mana artinya tidak ada lagi bantuan yang diterima olehnya mulai dari sekarang. “Aku akan lanjutkan pengumuman pembagian wilayah baru.”


Ziel yang sedari tadi mendamba-dambakan hasil pembagian wilayah di dekat rumahnya tidak begitu mempedulikan perdebatan yang terjadi. Dia sudah memikirkan banyak hal seperti membangun perumahan rakyat dan membangun pelabuhan baru sebagai jalur perdagangan laut yang akan sangat menguntungkan.


“Dua wilayah baru di dekat kota Zvylquezk akan ku serahkan pada Duke Cleophirsha,” Gilbert menyisihkan laporan yang telah masuk kualifikasi dan mengambil satu lagi laporan terakhir “Dua wilayah di dekat kota Vylveith akan ku serahkan pada Duke Navarro.”


Seluruh bangsawan lain selain Arden dan Lucien terkejut mendengarkan hasil yang meleset jauh dari perkiraan mereka terutama Ziel yang harapannya sudah melambung tinggi.


Reflek, Ziel langsung berdiri menggebrak meja dan setelah itu dia sendiri terkejut dengan tindakannya yang memancing atensi dari para peserta rapat lainnya. “Yang Mulia, apakah memiliki kelemahan yang cukup besar? saya mohon beritahu saya kekurangan dalam laporan saya.”


Ziel merasa kesal dan kecewa kala dirinya menatap Lucien yang juga menatapnya balik tanpa ekspresi. Pemuda yang usianya baru tujuh belas tahun dan tidak memiliki banyak pengalaman justru namanya disebut merebut dua wilayah yang harusnya jatuh ke tangan Ziel.


Lucien tersenyum miring menatap Ziel puas karena sejak tadi pria itu menatapnya sinis jadi dia sengaja menyulut api. Gilbert duduk sambil menumpu dagu. “Hm, dengan kata lain, Marquess Emerald tidak puas dengan keputusan yang aku buat?”


Ziel menggeleng cepat “Tidak, bukan begitu. Saya meminta maaf atas kelancangan saya Yang Mulia. Sebenarnya saya hanya ingin mengetahui di mana letak kekurangan laporan yang saya buat agar saya bisa memperbaikinya.”


“Aku akan menjelaskannya nanti setelah selesai rapat.”


“Yang Mulia, bagaimana Grand Duke Palmieri bisa tidak masuk kualifikasi?” Ziel merasa tidak mungkin William memiliki kekurangan dalam laporannya sebab dia sudah sangat mahir dalam menyusun laporan dibandingkan dengan Lucien yang masih bocah.


Gilbert menghela nafas panjang “dia yang memintaku untuk menarik namanya. William sudah memiliki cukup banyak wilayah yang harus ditangani dan dalam waktu lima tahun lagi semua beban itu akan berpindah ke pundak putranya jadi William memilih untuk tidak menambah beban lagi. Apa penjelasanku masih kurang lengkap, Marquess?”


Tatapan tajam Gilbert membuat semua bangsawan bergidik ngeri, mereka mengingat kejadian besar tak terlupakan lima tahun lalu di mana rapat yang diadakan menjadi pertumpahan darah akibat kemarahan Gilbert yang tak bisa ditahan lagi.


Ziel meminta maaf dan langsung duduk kembali dengan perasaan dongkol “baiklah, kalau begitu rapat hari ini selesai. Kalian boleh pulang sekarang,” semua orang berbenah dan satu per satu bangsawan mulai keluar meninggalkan ruang rapat dengan perasaan lega. “Marquess Emerald, Duke Navarro, dan Pangeran Arden. Kalian datanglah ke ruang takhta sepuluh menit lagi.”