To be Continued

To be Continued
Sembilan: Bullying



Malam itu Mey sedang dalam kondisi yang tidak baik. Hampir setiap saat dia menangis karena memang kondisi tubuhnya yang sedang tidak baik.


Sepanjang hari Mey terus menangis. Bahkan ia selalu ingin berada dalam gendonganku ataupun Mas Hari. Setelah lelah sepanjang hari tak karuan, akhirnya Mey tertidur pulas meski masih dalam pelukan Mas Hari.


"Mas, sini biar aku lagi yang gendong Mey" kataku


"gak usah, mending kamu juga istirahat"


"tapi Mey udah gak apa-apa kan Mas?" tanyaku sembari membelai kepala Mey


"Mey udah baikan. Udah gak apa-apa"


Di saat yang bersamaan dengan saat itu, aku mendengar suara ibuku yang tengah memaki dengan penuh emosi.


"ih eta dia! Tolol"


"kenapa sih?"


Aku menatap ibu dan sekali melirik wajah Ragil yang menangis terisak.


"Ging sini" kataku


"kenapa sih Mah?" sambungku


"coba liat kelakuannya. Dari kemaren dibilangin buat beresin mainannya, tapi gak juga diberesin"


"tapikan bisa dibilangin baik-baik gak perlu bentak-bentak kaya gitu"


"lah!"


"Mah, janganlah bentak Ragil sampai kaya gitu. Dia udah nangis gitu masih terus dimarahin"


"udahlah gak usah cerewet"


"cerewet gimana sih? Mamah terlalu sering kaya gitu sama Ragil. Gak baik Mah"


"tau apa kamu?"


"loh?... Ya udahlah, besok biar Ia yang beresin mainannya. Sekarang biar aja dulu"


"pan aing nitahna kuari?"


"Mah gak usahlah teriak, Mey lagi sakit, Ragil juga udah kaya gitu"


Kemarahanku mulai terpancing menghadapi ibuku yang bersikap demikian. Prilaku seperti itu sudah sering dilakukan ibuku, entah itu membentak anak-anaknya atau mempermaslahkan hal-hak kecil yang sampai membuatku bertengkar dengannya.


"Ging, udah cup. Ke kamar Teteh yuk"


Aku berusaha menenangkan Ragil dengan membawanya ke kamar, di saat yang sama pula aku mengacuhkan ibuku yang sedang kesal.


Adikku yang belum berusia sepuluh tahun pun membuatku merasa kasihan saat ia mendapat perlakuan yang kurang menyenangkan, terutama dari ibuku.


Usiaku dan adikku yang tarpaut cukup jauh menjadikannyanya tidak hanya sebagai adikku, tapi juga sebagai anakku sendiri.


Ketika aku kembali ke kamar, aku melihat Mey masih berada dalam pelukan Mas Hari yang kini tengah bersandar pada dindin kamar.


"kenapa toh?" tanya Mas Hari


"biasa Mamah lagi jelek moodnya"


"Ragil sini, tidur sama adek Mey aja ya" kata Mas Hari


Ragil segera memposisikan dirinya di atas tempat tidurku, sedangkan Mas Hari perlahan-lahan meletakan Mey di tempat tidur.


"gimana panasnya Mas?"


"udah turun, gak apa-apa"


"kasian banget sih anak-anak ini"


"wis toh"


Aku berusaha mengatur emosiku kembali agar tidak mengganggu pikiranku. Namun ketika aku mulai bisa mengatur emosiku tiba-tiba saja suara keras mengejutkanku.


Aku segera berlari ke luar kamar dan menghampiri sumber suara.


Saat tiba di dapur rumah aku melihat begitu banyak pecahan kaca dan ibuku yang tengah terduduk di meja makan.


Mas Hari pun datang menghampiri.


"kenapa lagi sih Mah?" tanyaku


Namun ibuku sama sekali tidak menggubris pertanyaanku, sedangkan Mas Hari dengan sigap membersihkan pecahan kaca teraebut.


"Mah, dari tadi Ia ngurusin Mey. Dia baru bisa tidur, terus Ragil. Kan ada anak lanang yang udah bantuin dari tadi" ujarku kesal


"Ia juga kenapa gak bantuin? Kan Mamah cape di pasar" kata ayahku tiba-tiba


"gak ada yang gak cape lo Pah hari ini. Mamah sama Papah cape di pasar, Ia sama Mas Hari


ngurusin Mey yang rewel. Ia juga udah masak bahan makanan yang ada. Tinggal cuci piring lagi sama masak air, udah itu aja" ujarku kesal


"wis toh Dek" kata Mas Hari


"bukan gitu Mas, kita semua gak ada yang leha-leha seharian ini, tapi Mamah ko gitu?"


"Dek udah, udah ya" kata Mas Hari menenangkanku


"Iya, gua mah kaya babu, di rumah gak ada santainya! Gak ada yang mau nolong"


"loh Mah gak nolong gimana? Wis ta bantu toh? tapi kan sekarang Mey lagi rewel gak bisa kutinggal.


Bentar Ibu bentar Bapak..


sekarang gini aja deh, kalau Mamah capek udah, gak usah dikerjain. Nanti Ia minta Teh Meti aja yang beresin "


Aku sama sekali tidak bisa menontrol emosiku saat itu meski Mas Hari berusaha menenangkanku. Begitu pula dengan ayahku yang berusaha menenangkan ibuku.


"boga anak eweh nu narurut" gumam ibu


"apalagi sih? Kan udah Ia kasih saran dan anak lanang aja udah bantuin, apalagi?" kataku berusaha tenang


"Ia, Ia tuh belum tahu susahnya jadi orang tua, jadi jangan nyepelein Mamah. Mamah cape"


Aku terperanjat mendengar perkataan ibuku.


"Mah kenapa bahasannya ke sana. Tadi kan masalah cuma tentang Ragil, kaca pecah dan Ia udah kasih saran. Kenapa sekarang jadi bahas masalah anak?..." kataku yang mulai terpancing emosi


"Mah, bukan gak mau Ia punya anak. Dari dulu kita udah usaha buat punya anak, tapi Tuhan belum kasih izin. Aku sama Mas Hari udah berusaha tapi belum bisa. Karena itu aku limpahin kasih sayangku ke anak-anak di Rumah Bimbingan, termasuk Mey.


Mamah juga tahu gimana perjuangan Ia buat punya anak, tapi kenapa sekarang Mamah malah bahas itu" kataku sambil berurai air mata


Mas Hari memelukku untuk menenangkanku, sedangkan ibu hanya bisa tertunduk diam.


"Allah belum kasih Ia anak, Ia ikhlas. Ia cuma mikir kalau Ia harus belajar dulu ngurus anak-anak. Ia gak pernah bentak mereka, gak pernah hardik mereka, gak pernah neriakin mereka. Semua bukan karena Ia manjain mereka, tapi ia gak mau mental mereka lemah"


Air mataku mulai mengalir. Jujur hatiku hancur saat itu. Aku tidak bisa menahan kekesalan dalam hatiku. Aku memilih untuk meninggalkan ibu dan kembali ke kamar yang tentu saja diikuti oleh Mas Hari.


"Dek..."


"Mas, kamu tahu kan aku paling gak suka liat anak kecil digituin, tapi kenapa sekarang Mamah bahas masalah itu Mas?"


"mungkin Mamah lagi banyak pikiran"


"tapi kenapa Mamah sampai hati bahas itu? Aku juga pengen Mas punya anak. Aku pengen hamil, pengen gendong anakku sendiri. Tapi nyatanya aku belum bisa Mas"


Tanpa banyak berkata-kata Mas Hari langsung memelukku dengan erat. Dia menenangkanku.


"Gusti Allah tahu yang terbaik buat kita"


Aku terisak dalam pelukan Mas Hari. Kerinduan akan sosok anak yang selama ini kupendam mencuat sudah, membuatku merasa amat sesak aman kerinduan itu.


"wis, kasian Mey. Bukannya dia anakmu sekarang? Kamu punya Mey, punya anak-anak yang lain sebagai anakmu toh?"


Aku merebahkan diriku di samping Mey. Aku berusaha memejamkan mataku namun tidak bisa kulakukan.


Mas Hari yang menyadari hal itu lantas menggenggam tanganku dari sisi tempat tidur yang lain.


Kerisauan di hatiku kala itu semakin menjadi saat aku teringat rencana Mas Hari yang akan kembali ke Jakarta esok hari, sedangkan diriku akan tetap tinggal sampai beberapa hari ke depan.


Aku belum bisa membayangkan apa yang akan terjadi nanti jika situasi antara aku dan ibu tetap memanas.


Di hari selanjutnya, setelah adzan subuh berkumandang aku dan Mas Hari sudah terjaga. Mas Hari sudah siap dengan pakaiannya untuk selanjutnya kembali ke Jakarta.


"baik-baik di sini ya Dek, jangan sampai berantem lagi sama Mamah, gak baik"


"iya Mas. Mas juga hati-hati di jalan, jangan buru-buru"


"iya, kabarin Mas kalau ada apa-apa ya? Jangan sampai engga"


"pasti Mas"


Mas Hari pun pergi, sekarang hanya tinggal aku dan Mey yang masih dalam kondisi kurang baik.