
"Mak, geulis amat incuna. Atuh hayu Mak jeung anak abdi" kata seorang wanita seusia ibuku.
Sontak pernyataan itu mengejutkanku yang memang hari itu sedang menemani nenekku mengantar kue-kue pesanan sebekum hari raya Idul Fitri tiba.
"naon eneng, ieu mah geus nikah" ujar nenekku dengan tegas.
"piraku Mak, da alit keneh si eneng na" ungkap wanita tersebut penuh keheranan.
"atuh ieu mah tos nikah bulan dua belas kamari. Kuliah keneh geh ari aya pameget nu sae mah" ungkap nenek.
"oh, sugan tea mah tacan nikah, bade dicandak minantu ku abdi Mak."
"kapihalaan burung. Ieu geh di anter ku pamegetna. Eta mah meni sae beh" kata nenek.
"urang mana cenah Mak? " telisik wanita tersebut.
" Jogja.. " kata nenek dengan singkat.
Mendengar perdebatan itu aku hanya bisa tertawa di dalam hati. Maklum saja, karena memang wajahku masih serupa anak SMA meskipun sebenarnya adalah mahasiswa sastra semester enam.
Mengenai statusku yang sudah menikah memang benar adanya. Aku menikah beberapa bulan yang lalu di saat aku masih duduk di semester empat. Tepatnya ketika libur semester empat.
Masa pendekatanku dengan suamiku terbilang cukup cepat bahkan terkesan tergesa-gesa, mengingat aku dan dia baru bertemu beberapa kali dan kemudian ia langsung datang untuk melamarku.
***
Aku adalah Natalia Wasista, seorang mahasiswa sastra di salah satu perguruan tinggi di Sumatera Barat. Awal mula aku mengenal Hari Wijaya-suamiku adalah ketika aku mulai menyukai video-video dirinya di youtube. Dengan modal tekad yang terbilang nekad aku memberanikan diri untuk memberikan pesan di media sosial instagram.
Satu bulan, dua bulan, tiga bulan, dan akhirnya pada satu bulan terakhir masa perkuliahanku di semester empat dia membalas pesanku. Dari sanalah hubungan kami bemula.
Ketika masa libur tiba dia memintaku untuk membetikan alamat rumahku yang berada di pelosok wilayah Banten. Awalnya aku mengira apa yang dia lakukan hanyalah lelucon dan sangat kecil kemungkinan dia akan menemuiku mengingat dia termasuk orang yang sibuk dengan segudang aktivitasnya.
Hari Wijaya adalah lelaki berdarah Jawa, yang berdomisili di Yogyakarta. Dia bekerja sebagai seorang insinyur, penulis, youtuber, dan juga sangat menykai tradisi Jawa yang kental dengan dunia mistis.
Jujur saja apa yang dilakukannya membuatku semakin tertarik drngan budaya Jawa. Terkadang aku akan memintanya untuk menceritakab seputar kisah tanah Jawa padaku sebagai pembahasan pembicaraan di antara kami.
Melalui komunikasi yang hanya sebatas chating dan video call, aku menarik kesimpulan bahwa Hari adalah pria yang penuh dengan ketenangan dan penuh wibawa. Pria yang kalem dan tidak banyak tingkah.
Seusai aku mengirimkan alamat rumahku, dua hari kemudoan dia mengejutkanku. Dia datang menemuiku seorang diri. Perawakannya yang gempal namun padat, wajah Tionghoa membuatku terbelalak bukan main.
Semua orang bertanya padaku tentang siapa gerangan pria yang datang itu, dengan wajah yang tampak bodoh aku hanya menjawab jika dia hanyalah seorang temanku.
Untuk beberapa lama aku hanya bisa diam tidak percaya dengan tindakan yang dilakukannya. Tapi dengan tegas ia mengatakan bahwa ia memiliki niatan yang serius denganku.
"maksudnya gimana Mas? " tanyaku dengan penuh ketakutan.
" Dek, saya serius ingin berkomitmen sama kamu. Kalau kamu mau dan setuju saya akan bawa orang tua saga buat ngelamar kamu " katanya.
Melamar. Kata itu seperti bom yang jatuh dipangkuanku. Aku tidak tahu harus berbuat apa.
" tapi Mas kita kan baru ketemu, kenal aja baru sebulan. Masa Mas mau langsung ngelamar aja sih" suaraku terasa gemetar dan aku yakin itu terdengar jelas.
Dengan sikap sopan khas Jawa, dia berusaha meyakinkan aku dan menghilangkan keraguan atas dirinya yang sedang aku rasakan.
"Mas, saya tidak tahu harus jawab apa dan bilang apa sama keluarga. Saya juga madih kuliah"
"untuk itu biar saya yang atur. Dan untuk masalah kuliahmu, saya tidak akan ganggu, saya akan biayai kuliahmu sampai manapun kamu mau. Tapi saya sudah yakin dengan kamu"
"keluarga saya tidak mudah diyakinkan, terutama bude Mas. Dia terlalu perfeksionis untuk hal-hal yang berhubungan dengan saya"
Aku sudah tidak tahu harus berkata apa saat itu, yang aku lihat dan rasakan adalah keyakinannya akan diriku bukan suatu kebohongan.
Sehari setelah kedatangannya, dia benar-benar menyampaikan maksud hatinya pada orang tua dan nenekku. Semua orang terkejut bukan main, sedangkan aku hanya bisa tertunduk.
Tapi entah bagaimana orang tuaku seolah memberikan lampu hijau padanya. Dia juga berhasil meyakinkan bude dengan waktu yang singkat.
Selang seminggu setelah kejadian itu aku jatuh sakit. Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi. Tapi orang tuaku meyakinkan aku tentang keputusan apa yang harus aku ambil.
"Neng, solat istikharah aja kalau ragu. Mamah mah setuju. Mamah juga sebelumnya solat dulu sebelum bilang setuju. Kita semua kaya gitu dan jawabannya sama"
Aku tercengang bukan main. Aku sama sekali tidak percaya jika hal itu terjadi. Aku pun memutuskan untuk solat istikharah malam itu dan akhirnya aku yakin dengan keputusanku.
Aku menghubungi Mas Hari.
"Mas, sebenarnya saya terikat dengan seorang lelaki. Kalau Mas bisa meminta dia untuk melepaskan saya dengan baik-baik maka saya siap untuk menikah dengan Mas" kataku.
Serupa seperti yang dilakukan pada orang tuaku, dia pun berhasil membuat kekasihku memutuskan hubungannya denganku secara baik-baik. Dia bahkan memberi banyak pesan padaku selayaknya seorang kakak pada adiknya.
Setelah hal itu selesai dikerjakan. Tepatnya dua minggu setelah kedatangan pertamanya, dia kembali datang bersama dengan keluarganya untuk melamarku secara resmi.
Sebulan kemudian aku pun menikah dengannya. Acara yang sangat sederhana bahkan terkesan dirahasiakan karena hanya dihadiri oleh keluarga dekat saja.
Sejak aku resmi menikah dengannya maka semua kebutuhanku sudah ditanggung olehnya, termasuk biaya pendidikanku dan segala kebutuhanku.