
Kami tiba di Bogor. Jarak yang cukup jauh untuk kami tempuh. Selanjutnya kami mulai mencari nomor rumah yang sesuai dengan yang tertera pada kertas yang aku bawa.
51,52, 53 kami akhirnya tiba. Sebuah rumah yang cukup besar dan terlihat jika penghuninya adalah keluarga yang berkecukupan. Di sana terdapat dua buah mobil mewah terparkir di garasi, serta pintu rumah yang tertutup rapat.
Kami pun memberanikan diri untuk mengetuk pintu rumah tersebut. Berulang kali kami mengetuk pintu tersebut silih berganti, tapi tidak ada seorang pun yang menyambut.
“apa tidak ada orang di dalam?” kataku
“kita coba lagi”
Tidak lama seorang wanita berusia sekitar tiga puluh tahun membukakan pintu untuk kami.
“cari siapa?” katanya
“Bapak Torik dan Ibu Meli, ada?”
“silahkan masuk”
Kami dipersilahkan masuk dan menunggu sang empunya rumah di ruang tamu. Selang beberapa saat dua orang yang kami tunggu akhirnya datang.
“siapa ya?” Kata Ibu Meli
“perkenalkan saya Natalia dan ini suami saya Hari”
“ya, ada perlu apa. Maaf sebelumnya, tapi kami tidak mengenal kalian”
“iya. Ini pertama kalinya kita bertemu”
“lalu, ada masalah apa sampai kalian datang kemari?”kata Pak Torik
“saya datang kemari , karena Meldi”
“anak itu lagi. Pasti dia sudah membuat masalah lagi. Katakan saja berapa kalian minta ganti rugi karena kelakuan anak kami?” kata Pak Torik dengan keras
“oh tidak-tidak. Bukan seperti itu. Kami tidak bermasalah apapun dengan Meldi”
“lalu?”
“ada yang ingin saya bicarakan mengenai dirinya kepada kalian”
“masalah apa? apa ini sangat serius?” kata Ibu Meli
“iya. Sangat serius”
“ada apa sebenarnya?”
“Meldi, ada di rumah kami”
“apa? di rumah kalian? Bagaimana bisa dia ada di sana? Sedangkan kalian saja tidak mengenalnya”
“kemarin dia tiba-tiba menemui saya di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta”
“Jakarta? Kenapa dia bisa sampai di sana? Mah, cepat suruh dia pulang”
“tolong, tolong dengarkan saya dahulu”
“sudahlah, saya sendiri yang akan menyeretnya pulang. Dasar anak tidak tahu diuntung” kata Pak
Torik
“Pak, tapi Meldi sekarang sedang dalam masalah”
Suasana mulai tidak kondusif saat itu. Orang tua Meldi langsung emosi dan mereka terus saja
meledak-ledak. Aku dan Mas Hari berusaha untuk menenangkan mereka tapi itu sama sekali tidak berhasil.
“dia hamil” tukasku
Jujur, mengatakan itu membuatku menjadi merasa bersalah dan jantungku menjadi berdbar hebat.
“apa?”
Mereka diam seketika.
“bagaimana mungkin ini....katakan padaku semuanya” kata Ibu Meli
“dia memintaku untuk menemui kalian dan membujuk kalian agar tidak marah padanya atas kejadian ini”
“bagaimana mungkin tidak marah, dia sudah membuat malu keluarga. Akan aku habisi dia” kata Pak Torik
Sementara itu Ibu Meli merasa sangat terpukul dengan berita yang aku sampaikan. Air matanya bercucuran.
“hentikan! Semua ini gara-gara kamu. Kamu terlalu keras padanya!”
“aku? Kau ibunya, seharusnya kau bisa menjaga anak itu. Sekaranglihat, karena keteledoranmu anak
itu sudah membuat mali”
“sudah hentikan! Hentikan omonganmu! Tolong, tolong ceritakan padaku semuanya, kenapa ini semua bisa terjadi pada puteriku”
Aku menceritakan semua hal yang aku dengar dari Meldi kemarin. Tentang bagaimana kehidupannya, perasaannya, pertemuannya dengan Bimo. Bujuk rayunya, hingga akhirnya terjadilah hal yang tidak diinginkan.
Aku mengatakan semua itu dengan sangat hati-hati. Jujur ini sebenarnya tidak mudah bagi orang tua manapun. Mereka selalu berharap jika anak mereka akan tumbuh menjadi anak yang membanggakan.
“tapi maaf kalaian tidak bisa aku izinkan untuk bertemu dengannya sekarang” kataku
“kenapa?”
“suamimu masih emosi, aku takut terjadi sesuatu yang buruk jika ia bertemu dengan Meldi sekarang. Dan satu hal, Meldi ingin kalian merestui hubungannya dengan Bimo”
“apa kalian pikir aku percaya dengan perkataan kalian? Hah!” kata Pak Torik
“Pah...”
“kalian itu orang asing. Dan aku tahu, kalian pasti hanya ingin membuat kekacauan saja, iya kan? Sekarang sebaiknya kalian pergi. Jangan urusi keluarga kami. Pergi”
Pak Torik mengusir kami keluar dari rumahnya dengan sangat kasar. Dia bahkan mendorongku hingga aku hampir tersungkur.
“kami bisa pergi sendiri. Kau tidak berhak bersikap seperti itu pada isteriku. Kedatangan kami
kemari itu hanya untuk puteri yang meminta tolong” kata Mas Hari
“sudah sana pergi. Dan katakan pada isterimu agar tidak mencampuri urusan keluarga kami dan mengatakan omong kosong!”
“Pak, tapi Meldi ada bersama kami” kataku
“aku tidak percaya!” bentaknya sembari membanting pintu
“Pak..tolong dengarkan aku dulu” kataku
“Sudahlah Dek, udah cukup, sekarang kita pulang”
“tapi Mas, mereka harus dengar semuanya dulu. Anak mereka sedang dalam masalah sekarang”
“apa kamu gak lihat gimana perlakuan mereka? Mereka sendiri bahkan tidak peduli pada anaknya”
“Mas..”
“ayo pulang” kata Mas Hari dengan tegas
Aku tidak bisa membujuk siapapun sekarang. Tidak orang tua Meldi, dan tidak pula dengan Mas
Hari yang sudah kesal melihat aku diperlakukan demikian. Sepanjang jalan menuju Jakarta kami hanya diam. Tidak ada sepatah katapun keluar dari mulut Mas Hari ataupun mulutku sendiri.
Akhirnya kami berdua kembali tiba di rumah. Mekdi sudah menyambut kedatangan kami di depan pintu.
“bagaimana apa kalian berhasil?” tanyanya dengan antusias
Mas hari berjalan melaluinya tanpa berucap apapun.
“kami belum bisa meyakinkan orang tuamu, kamu sabar sedikit ya”
“aku tahu itu, akan sulit untuk meyakinkan mereka”
“yaa, memang. Tapi aku akan berusaha lagi. Tenang saja. Sekarang masuklah” kataku
Aku pun masuk dan menyusul Mas Hari yang telah lebih dahulu masuk ke dalam kamar.
“Mas sama sekali gak habis fikir sama orang tuanya, kenapa mereka gak percaya dan gak peduli sama anak mereka sendiri”
“Mas, kita kan baru sekali ketemu mereka. Mungkin lain kali mereka bisa ngerti” kataku
“lain kali? Dengar Dek, Mas gak izinkan kamu untuk bertemu dengan mereka lagi. Minta saja Meldi
pulang dan menyelesaikan masalahnya sendiri. Mas gak mau hal buruk terjadi sama kamu”
“Mas, kenapa ngomong gitu? Kenapa kamu putus asa dan bahkan ngelarang aku untuk melakukan
ini?”
“Mas cuma gak mau kalau kamu dapet masalah lagi”
“kamu gak biasanya gini lo Mas. Selama ini kamu selalu ngedukung aku, ngedukung semua hal yang
aku lakuin”
“tapi tidak untuk sekarang. Ayahnya Meldi bisa bertindak lebih kasar sama kamu daripada tadi. Kamu bisa dalam bahaya kalau kamu terus ikut campur”
“Mas kamu ko jadi overprotektif gini sih?”
“Mas gak izinkan kamu terlibat lagi”
Aku tercengang dengan apa yang dikatakan Mas Hari. Tidak tahu apa alasannya dia sampai bersikap
seperti itu. Ini adalah kali pertama dia melarangku untuk melakukan hal yang sudah biasa aku lakukan sebelumnya.
“aku akan tetap maju untuk Meldi. Apapun yang terjadi, aku akan berusaha semampuku. Aku
melakukan ini hanya demi bayi yang ada dalam kandungan Meldi, dan agar Meldi tidak berbuat kesalahan lagi dalam hidupnya”
“tolong Dek jangan keras kepala”
“aku gak keras kepala Mas. Ini adalah pekerjaanku, aku sudah sering menangani masalah seperti ini.
Sekarang justru kamu yang aneh Mas, kamu ngelarang aku dan gak kasih izin aku”
“Mas ngelakuin ini demi kamu”
“dan aku melakukan ini demi bayi itu. Jadi tolong Mas, jangan pernah menghentikan aku”
“Mas tidakmengizinkan kamu”
Aku memilih untuk meninggalkan Mas Hari, keluar dari dalam kamar. Aku turun ke lantai satu dan berniat untuk mengambil segelas air putih. Katika itu pula aku melihat Meldi juga berada di dapur sedang membuat kopi hitam.
Aku menghampirinya dan spontan mengambil kopi yang baru saja dibuatnya.
“itu punyaku, kenapa kau mengambilnya?” katanya
‘ini tiak bagus untuk kandunganmu”
Aku membuang kopi tersebut, dan dengan cepat aku mengambil beberpa buah dari dalam kulkas. Memotongnya dan memasukannya ke dalam blender.
“ada apa denganmu?”
“sudah aku katakan bukan? Selama kamu ada di sini maka kamu harus mengikuti semua peraturan yang ada. Ini, minumlah. Itu lebih baik dari pada kopi”
“Jus?”
“minumlah, mulai sekarang aku akan menatur semua asupanmu”
“kenapa begini”
“dengar, selama kamu ada disini kamu harus ikut semua perturannya. Pertama, tidak boleh pergi tanpa mengabari. Dua, semua asupanmu aku yang mengatur. Tiga, turuti semua perkataanku”
“oke, oke. Aku setuju asalkan kamu bisa menepati janjimu”
“aku akan berusaha sebaik mungkin”
Pagi ini, aku memutuskan untuk pergi tanpa sepengetahuan Mas Hari. Memang Mas Hari tidak mengizinkanku untuk melakukan hal ini demi Meldi, tapi hatiku sama sekali tidak bisa aku bohongi untuk tidak membantunya.
Diam-diam aku pergi menuju kediaman orang tua Meldi. Aku akan terus berusaha meyakinkan
mereka untuk dapat bisa menerima keadaan Meldi yang sekarang, terutama ayahnya yang memang sangat keras.
Aku pergi dengan menggundakan bus umum. Hanya seorang diri tanpa ditemani siapapun. Rencanaku kali ini adalah menemui ibunya saja, karena sebelumnya dia yang lebih bersikap terbuka dengan Meldi daripada ayahnya.
Ketika aku tiba di rumahnya, aku pun mengetuk pintu hingga seorang wanita membukakan pintu
untukku. Wanita itu tidak lain adalah Ibu Meli.
“kamu...”
“bisa kita bicara sebentar. Ini tentang Meldi” kataku
“tentu, tapi tidak di sini. Kamu tunggu sebentar aku akan segera kembali”
Wanita tersebut kembali masuk ke dalam rumah dan membiarkan aku tetap berada di teras rumahnya. Namun tidak berapa lama wanita itu kembali lagi.
“ayo” katanya
Ibu Meli mengajakku pergi keluar rumah. Kami memutuskan untuk berbincang di salah satu kedai kopi yang tidak jauh dari rumahnya.
“tolong ceritakan tentang Meldi, apa yang terjadi padanya, bagaimana keadaannya, apa yang dia inginkan. Tolonglah. Sudah beberapa hari sebenarnya Meldi pergi dari rumah, tapi ayahnya tidak mengizinkan aku untuk mencarinya”
“dia ada di rumahku, dia baik-baik saja. Dia memintaku untuk meyakinkan kalian agar tidak marah saat mengetahui keadaanya serta menyetujui jika ia menikah dengan pria yang telah melakukan hubungan itu dengannya”
“Bimo. Meldi bilang namanya Bimo. Usianya lebih tua darinya. Meldi mengancam satu hal jika saya tidak bisa membujuk kalian dalam waktu satu bulan, dia akan mengguhurkan kandungannya.”
“apa? asataga Meldi. Tolong, tolong ceritakan semuanya”
Aku menceritakan semuanya kepada Ibu Meldi, mulai dari pertemuan aku dengan Meldi untuk pertama kali dan cerita yang diutarakan Meldi tentang awal pertemuannya dengan Bimo sampai dengan terjadinya hubungan terlarang itu.
Mendengar semua penuturanku untuk yang kedua kalinya dengan lebih terperinci membuat Ibu Meli menangis tersedu-sedu.
“Ibu tolong tenanglah. Tenangkan dirimu”
“apa Meldi baik-baik saja sekarang?”
“iya. Dia baik-baik aja, dan saya sendiri yang mengatur asupan untuk Meldi”
“kenapa kamu mau menolong dia?”
“saya. Saya tidak ingin Meldi melakukan kesalahan untuk yang kedua kalinya. Saya juga tidak ingin
bayi yang dikandungnya menjadi korban”
“kami memang kurang memperhatikannya. Kami sibuk dengan pekerjaan kami, tapi itu semua semata-mata hanya untuk Meldi”
“aku mengerti bagaimana perasaanmu. Tenanglah. Apa yang harus saya lakukan?”
“apa Ibu sudah menerima keadaan Meldi sekarang?”
“iya, ini semua juga salah saya. Tapi, akan sulit untuk membujuk ayahnya”
“sekarang kita harus bertemu dengan Bimo”
“iya, kamu benar. Tapi dimana?”
“Meldi juga memberitahu saya tempat dimana ia biasa bertemu dengan Bimo”
“kalau begitu ayo. Tunggu apa lagi”
Ibu Meli menjadi tidak sabar. Dia memaksaku untuk cepat mengantarnya bertemu dengan Bimo.
Dia tidak bertanya bagaimana rupa Bimo itu, sedangkan aku sudah tahu bagaimana rupa dan penampilannya karena sebelumnya Meldi sudah memberitahuku.
Kami berdua menelusuri tempat di sekitar sekolah Meldi. Dengan wajah yang penuh kepanikan dia mengamati setiap sudut dengan matanya.
“dimana dia?”
Sama seperti Ibu Meli, aku pun mengamati sekeliling dengan mataku sampai akhirnya aku melihat seorang pria yang mengenakan jaket jins dengan dandanan ala anak jalanan. Selama beberapa saat aku tidak mengatakannya, aku hanya memperhatikannya dari jauh. Sampai ada seorang wanita yang tiba-tiba menghampirinya dan memeluknya di tempat umum.
“Ibu, ikutlah denganku”
“kau menemukannya?”
Aku berlari menghampirinya dari sebrang jalan. Tidak peduli dengan apa yang ada di sekitarku.
“Bimo?” tanyaku
Pria itu spontan menoleh setelah aku memanggil namanaya. Di saat yang sama pula Ibu Meli langsung menyerang Bimo dengan pukulannya dan tangisan yang sedu-sedan.
“kenapa kamu lakukan itu hah? Kenapa harus anakku?” kata Ibu Meli
“Ibu tenanglah”
“Apa-apaan ini? Siapa kalian?” teriak Bimo
“dia ibunya Meldi” kataku
Bimo terlihat gelagapan selama beberapa saat, “Meldi? Meldi siapa? Kenal aja kagak”
“eh kalian apa-apaan sih dateng-dateng bikin rusuh” kata perempuan yang tadi menghampiri Bimo
“Kau diam! “ bentakku
“Meldi. Meldi yang sudah kau kencani selama beberapa bulan ini. Kau tidak ingat? Bimo” kataku lagi
“ngomong apa sih lu?” katanya dengan memalingkan wajah
“Bimo lihat saya!kau tidak ingat?” tanyaku
Bimo langsung tersulut emosi bagai seseorang yang sedang berusaha mengindari masalah, akan tetapi dia sudah terlanjur basah tertangkap tangan. Bimo pun menarik wanita tadi dan segera pergi meninggalkannya.
Menyaksikan hal itu Ibu Meli berusaha untuk menahan Bimo agar tidak pergi. Dia berteriak histeris dan terus berusaha untuk menghentikan Bimo. Aku pun segera menenangkan Ibu Meli.
“Ibu tenanglah, tenang. Biarkan saja dia pergi”
Aku memeluknya untuk menangkannya.
“sebaiknya Ibu pulang saja. Lain waktu kita akan mengurusnya lagi”
Ibu Meli masih sangat terpukul atas masalah yang sedang dihadapinya. Aku pun membawanya pulang. Sepanjang jalan ia hanya menangis dan sesekali menyebut Meldi dan menyesali perbuuatannya.
Sesampainya di depan pintu rumah Ibu Meli, Pak Torik sudah berdiri menanti kedatangan kami.
Melihat kondisi Ibu Meli yang demikian membuatnya menjadi tersulut emosi. Dia bahkan memakiku.
“dari mana saja kamu? Kenapa kamu pergi sama dia? Sudah aku bilang jangan percaya sama orang kaya dia” kata Pak Torik
“maaf Pak, Bapak boleh tidak percaya kepada saya, tapi saya melakukan ini demi Meldi” kataku
Setelah mengantar Ibu Meli sampai ke rumah aku pun memutuskan untuk kembali ke Jakarta. Saat itu hari sudah mulai sore menjelang malam.
“Mas Hari pasti mencariku” kataku dalam hati
Ketika dalam perjalanan pulang, aku melihat ponselku yang hampir sepanjang hari tidak kusentuh. Puluhan panggilan tak terjawab dan pesan Mas Hari memenuhi layar ponselku.
Aku merasa sangat bersalah karena hal itu, tapi aku tidak punya cara lain. Aku menghubunginya lagi.
Cepat Mas Hari mengangkat panggilanku. Namun dengan cepat pula dia mengeluarkan banyak pertanyaan dari mulutnya.
“Dek amu dimana? Kenapa Mas telpon gak kamu angkat? Sekarang kamu di mana?”
“Mas, Mas. Aku sekarang di jalan pulang. Aku akan cerita semuanya nanti”
“di jalan? Amu habis dari mana? Kenapa kamu gak bilang sama Mas?”
“aku akan cerita semuanya nanti”
Setibanya aku di rumah Mas Hari sudah menungguku didepan pintu. Raut wajahnya tampak tidak baik. Dia sangat marah.
“Mas...”
Mas Hari hanya menatapku untuk beberapa lama lalu kemudian membalikan tubuhnya dan berjalan masuk.
Aku menyerit dan kemudian mengikutinya.
“nona, bagaimana?” kata Meldi tiba-tiba
Aku dan Mas Hari spontan melirik ke arah Meldi. Tapi Mas Hari tetap melanjutkan langkahnya menuju kamar.
“aku akan segera kembali. Akan kuceritakan nanti” kataku
“tapi....”
Aku kembali mengikuti Mas Hari dan akan segera menghadapi masalah serta kemarahannya.
“kenapa Dek? Kenapa kamu gak mau dengerin Mas? Mas udah larang kamu untuk ikut campur, tapi kamu malah jadi berani kaya gini”
“Mas, aku ngelakuin ini untuk..”
“untuk bayi itu dan Meldi. Sudah Mas bilang minta saja dia pulang atau kalau perlu kita antarkan dia pulang”
“gak bisa Mas”
“gak bisa?”
“ayahnya masih emosi, aku takut kalau Meldi pulang dia akan habis ditangan ayahnya”
“Dek, itu urusan mereka. Meldi tetap harus berurusan dengan orang tuanya. Ini bukan wilayah kita untuk ikut campur”
“ini wilayahku. Meldi datang padaku Mas. Dia meminta tolong agar aku bisa membujuk orang
tuanya, karena itu aku melakukannya”
“Dek! Kenapa kamu gak mau dengerin Mas? Kenapa kamu ngeyel? Ini bahaya buat kamu Dek. Kamu
gak ingat perlakuan ayahnya?”
“lalu ibunya? Bagaimana dengan ibunya? Dia menangis tersedu dan menyesal. Dia hancur,
bagaimana?”
“Dek. Tolong jangan keras kepala, jangan egois kaya gini. Tolong”
“aku merasakan semuanya Mas. Perasaan Meldi dan ibunya. Mereka berdua hancur tapi mereka tidak bisa saling merangkul karena ayahnya. Aku ada untuk bisa meluluhkan hati ayahnya Mas. Meldi butuh mereka berdua”
“kenapa kamu sekeras kepala ini Dek? Kenapa kamu gak mau dengerin apa kata Mas?”
“aku mohon, jangan hentikan aku Mas. Setidaknya demi bayi itu. Aku tidak akan membiarkan hal buruk terjadi pada bayi itu. Kamu tahu Mas, aku sangat ingin memilikinya, tapi Allah belum mengizinkan aku.
Sekarang Allah mengirim Meldi yang sedang mengandung, dia meminta tolong padaku untuk menjaga bayi dalam kandungannya. Jadi bagaimana mungkin aku tidak membantunya. Tolong Mas”
Air mataku menetes. Aku hanya bisa diam menghadapi masalah itu. Aku tidak kuasa lagi berdebat karena air mataku sudah menguasaiku.
Mas Hari mendekatiku dan memelukku. Dia tahu, bayi adalah kelemahanku. Aku akan melakukan apapun demi seorang bayi karena itu dia memelukku dengan erat untuk menenangkan aku.
“sudahlah jangan menangis. Kenapa kamu selalu menggunakan air mata itu untuk melawanku?” kata Mas Hari
“aku tidak pernah melawanmu Mas. Demi Allah aku gak pernah berniat melawan kamu dalam hal apapun itu. Aku hanya merasa jika aku harus membantunya. Itu aja”
“kenapa kamu lakuin ini Dek?”
“karena hatiku Mas. Aku mohon padamu Mas, biarin aku ngelakuin ini Mas. Aku mohon” kataku sembari menangis
Emosinya mereda. Dia tidak lagi membentakku seperti sebelumnya. Jujur hal seperti ini sebenarnya tidak pernah terjadi pada Mas Hari. Entah apa yang terjadi padanya setelah peristiwa Rumah Bimbingan itu. Dia menjadi orang yang sangat emosional.
Seusai membersihkan diri aku memilih untuk merebahkan diri di samping Mas Hari. Aku meceritakan semua kejadian yang terjadi hari itu kepadanya. Aku juga mencoba menjelaskan bagaimana keadaan yang sebenarnya yang membuatku harus membantu Meldi dan keluarganya.
“kamu sangat ingin melakukannya?”
“iya Mas, sangat”
“kalau begitu lakukan. Tapi jangan pernah kamu melakukannya sendiri, Mas harus tahu apa yang akan kamu lakukan dan apa yang sedang kamu pikirkan. Mas hanya tidak ingin jika sesuatu yang buruk akan terjadi padamu”
“tentu, terima kasih Mas”
Aku senang karena akhirnya Mas Hari mau mengerti dengan keadaan saat ini, bahkan dia bersedia untuk membantuku.
Dalam waktu beberapa hari aku disibukan dengan pulang pergi antara Bogor dan Jakarta untuk bertemu dengan orang tua Meldi. Namun selama itu pula aku belum bisa meyakinkan ayahnya.
Sementara itu, baik aku ataupun Mas Hari selalu menjaga Meldi ketika ia berada di rumah kami. Kami tidak membiarkan ia melakukan hal-hal yang akan membahayakan bagi janinnya. Bahkan kami pun menyiapkan makanan untuk Meldi.
Malam itu, kami bertiga berkumpul bersama untuk saling berbincang dan bercerita. Kami tertawa bersama mendengar setiap cerita yang kami tuturkan masing-masing.
“nona...” kata Meldi tiba-tiba
“apa?”
“apa kamu memiliki buah mangga?”
“mangga? Aku rasa aku punya”
“tidak, kamu tidak punya”
“benarkan?” kataku sembari bergegas pergi menuju kulkas
“Mangga muda maksudku”
“apa? mangga muda?” kataku terkejut
“iya, aku sangat ingin mangga muda”
“malam-malam begini? Dimana aku bisa dapat mangganya?”
“biar aku yang cari” kata Mas Hari tiba-tiba
“kau akan pergi keluar?” tanya Meldi
“iya..”
“kalau begitu bagimana kalau kita semua pergi bersama? Sepertinya sangat menyenangkan” kata Meldi
“ benar juga, mau Dek?” tanya Mas Hari
Aku terdiam sesaat sembari melirik ke arah Meldi dan Mas Hari silih berganti, “oke, kita pergi. Aku siap-siap dulu” kataku sembari menahan senyum.
“tolong cepat ya” kata Mas Hari
Aku terkejut, “kenapa terburu-buru? Ini kan masih pukul tujuh”
“eh nona, kanapa kamu tidak paham. Itu artinya dia ingin menghabiskan lebih banyak waktu denganmu”
" Benarkah? Kalau begitu seharusnya kamu tidak ikut” aku tertawa
“apa? kan aku yang kasih saran? Kenapa jadi aku yang dilarang ikut?”
Aku dan Mas Hari tertawa. Selanjutnya kami bertiga pun bergegas pergi menuju tempat jajanan malam di daerah Jakarta Pusat. Memang cukup jauh, tapi itu tidak masalah bagi kami bertiga.