
Namun siapa sangka, yang aku hadapi adalah hal yang sulit untuk kulalui. Beberapa bulan setelah menikah muncul perasaan tidak nyaman dalam diriku.
Aku merasa takut seolah sedang mengalami teror yang menakutkan setiap kali aku melihat tulisan " Mas Hari" di layar ponselku.
Aku mumai merasa tidak nyaman dengan apa yang sedang aku alami. Selalu dihubungi setiap saat membuatku merasa sangat tidak nyaman. Terkadang untuk menghadapi rasa utu aju sering sekaki mematikan panggilan masuk dari suamiku sendiri. Namun semua itu tidak berjakan dengan semestinya.
Sampai malam itu aku memutuskan untuk mengirimkan pesan singkat.
"Mas, tolong jangan terlalu sering menghubungi aku. Aku gak nyaman" kataku
Aku baru menyadari setelah beberapa saat bahwa kalimat yang aku katakan adalah salah besar. Dia memiliki hak untuk menghubungiku kapanpun dia inginkan. Aku tidak seharusnyabberbuat demikian.
Tapi apalah yang bisa aku lakukan, aku sudah merasa cemas, takut, dan terganggu dengan keadaan seperti itu.
Beberapa saat setelah pesan terkirim, suamiku pun langsung menghubungiku. Dengan tangan gemetar aku menjawabnya.
"kenapa toh Dek? Kenapa kamu bilang kaya gitu? " tanyanya dengan lembut
Aku sama sekali tidak menjawab karena aku sudah muak dan hampir menangis. Bahkan air mata pun tidak terbendung. Aku lempar ponselku dan aku menangis sambil memeluk bantal.
Berulang kali suamiku menghubungi, namun tak sekali pun aku menjawabnya. Kekadian itu terus berlalu hibgga berhari-hari. Terhitung hampir tiga ratus panggilan tak terjawab darinya. Selanjutnya, hal bodoh yang aku lakukan adalah memblokir seluruh nomor teleponnya dan media sosial yang digunakannya. Itu semua aku lakukan agar aku merasa sedikit tenang.
Tapi aku yakin, jauh di sana suamiku pasti mengkhawatirkan apa yang sedang terjadi padaku. Meski begitu ia tetap tidak bisa menemuiku karena tuntutan pekerjaan.
Tindakan yang aku lakukan turut mengundang perhatian teman-temanku yang juga turut mempertanyakan hubunganku dan suamiku.
"ko udah jarang nelpon sih? Biasanya sering banget" Kata Fadhiya
"aku blokir " jawabku singkat
Semua orang tercengang mendengar jawabanku.
" bonga ang? Gilo! Manga lo diblokir" kata Sari dengam geramnya
"aku gak suka di telponin mulu. Tahu kan kalau aku ditelponin itu kaya gimana? "
" ya tapi kan dia itu suami kamu, bukan pacar kamu lagi. Kalau pacar sih gak apa-apa. Aduh Lia"
"ya udah sih, aku lagi gak mau bahas itu"
Rupanya masalah ini tidak hanya membuat temanku marah padaku, tapi juga ibuku. Dia bahkan sampai hati memakiku atas tindakan yang aku lakukan.
"Neng jangan gitu, kasian Hari. Dari kemarin dia cari kabar terus tentang kamu. Kenapa juga kamu kaya gini? " tanya ibuku
" Lia ngerasa gak nyamam di telponin terus Mah, Lia ngerasa kaya di teror".
"tapikan bisa diomongin baik-baik, Mamah kasian liat Hari. Dia udah sibuk kerja buat nafkahi kamu, sskarang kamu bikin dia pusing juga. Lia harus dewasa Neng"
Aku menangis tersedu-sedu. Bahkan aku juga mendengar suara ibuku yang juga turut menangis.
"Mamah maklum Lia kaya gini karena Lia masih muda. Tapi tolong jangan bersikap kaya anak kecil ya sayang ya. Kasian Hari. Sekarang Lia telpon Hari terus minta maaf ya Nak"
Aku hanya diam tanpa mengindahkan perkataan ibuku. Walau ibu menyuruhku untuk menghubunginya namun aku tidak lekas melakukannya.
Kejadian ini berlangsung cukup lama hingga membuat ibuku membujukku untuk yang kesekian kalinya.
"Neng, kasian Hari. Dia gak bisa menghubungi kamu"
***
Hari libur semester pun akhirnya tiba. Kepulanganku ini hanya aku beritahukan kepada ibuku, yang aku yakini bahwa ibuku pasti memberitahukannya pada suamiku.
Benar saja, saat aku tiba di bandara Soekarno-Hatta tepat di pintu keluar aku melihat Mas Hari sudah berdiri dengan.
Dengan menggunakan kopiah hitam, baju kemeja putih dan celana cokelat dia menatapku. Sesaat mataku tertunduk. Entah karena takut atau karena malu.
Perlahan aku memberanikan diri untuk melangkah ke arahnya.
"Dek " sapanya dengan lembut
Aku hanya tersenyum simpul tanpa menjawab dengan kata-kata.
" gimana perjalanannya? " tanyanya seolah tidak terjadi apapun di antara kami
" aman" jawabku singkat
"oya Dek, kita gak bisa langsung ke rumah mamah, karena Mas masih ada yang harus diselesaikan "
Aku terkesiap, ingin berteriak rasanya.
Aku tidak membalas perkataannya. Aku dan suamiku berjalan menuju mobil putih yang terparkir di parkiran terminal 2F.
Butuh waktu sekitar lima puluh menit untuk samapai di tempat tinggal suamiku. Dalam sepuluh menit pertama setelah meninggalkan bandara kami hanya diam.
Selanjutnya suamiku mulai membuka pembicaraan.
Aku merasa bersalah seketika ketika mendengar pertanyaan itu. Tapi meski begitu perasaan tidak nyaman dalam diriku masih aku rasakan.
" coba kamu cerita, kenapa sampai nomor Mas kamu blokir"
"nanti aja ya? "
" yo wis"
"mau beli makan dulu? " sambungnya
" engga usah. "
Perbincangan yang cukup kaku antara sepasang suami istri. Jujur, aku tidak mengerti dan tidak tahu tentang apa yang harus aku lakukan.
Ketika aku melihatnya kembali secara langsung, tiba tiba saja aku merasa bersalah dan merasa menyesal, tapi sebelumnya aku merasa sangat takut pada dirinya-bahkan hingga saat ini.
Di tengah perjalanan ponselku berdering, ibu menelponku.
"sudah ketemu sama Hari? "
" sudah Mah"
"ya udah, baik-baik ya Nak," kata ibuku sebelum menutup telpon.
Tidak lama kemudian kami pun sampai di sebuah perumahan yang cukup nyaman. Kami turun dari dalam mobil.
"oh Tuhan, melihat bayangan aku dan suamiku berdampingan, aku merasa seolah melihat seorang ayah dan anak gadisnya" gumamku dalam hati
"kamarnya ada di lantai dua" katanya
Aku melihat dia berjalan di depanku. Rasanya aku seolah ingin berlari memeluknya karena perasaan bersalahku. Tapi aku tidak mampu melakukannya, karena ingatan panggilan telpon yang tak kunjung berhenti.
Aku berjalan menuju lantai dua, masuk ke dalam kamar dan merebahkan diri untuk melepas penat. Setelah itu, aku berjalan-jalan untuk melihat-lihat isi dari kamar itu. Kubuka lemari besar yang tidak jauh dari tempat tidur. Pintu pertama berisi pakaian Mas Hari, pintu kedua berisi jaket dan kemejanya yang digantung, pintu ketiga adalah pakaianku.
Aku terkejut, mengapa pakianku ada di sana? Aku tidak pernah tinggal disini sebelumnya.
Selanjutnya aku masuk ke dalam kamar mandi. Tempat yang bersih dan rapi. Aku pun memilih untuk membersihkan diri terlebih dahulu.
Aku berlama-lama berada di kamar mandi, karena itu adalah kebiasaanku. Setelah selesai membersihkan diri aku keluar dengan hanya menggunakan handuk yang melilit tubuhku. Di saat yang sama rupanya Mas Hari sudah berada di kamar dan berdiri ke arah pintu kamar mandi.
Sontak saja aku berteriak dan langsung berlari ke dalam kamar mandi kembali.
"maaf, Mas tidak tahu kalau kamu ada di sana "katanya
Aku hanya diam. Mas Hari pun bergegas pergi meninggalkan aku sendiri.
Dengan tergesa aku mengambil pakaianku yang ada di dalam lemari dan memakainya.
Malam menjelang. Aku dan Mas Hari duduk bersama di meja makan. Tidak banyak kata yang aku ucapkan, dan begitupun dengan Mas Hari. Baru setelah selesai menikmati makan malam Mas Hari memulai pembicaraan.
Kali ini adalah pembicaraan yang serius.
"Dek, kenapa toh kamu seperti ini? Kamu merasa tidak nyaman? " tanyanya
Aku memberanikan diri untuk menjawab.
" aku ngerasa risih sama telpon dari Mas..."
Aku mengatakan semua yang aku alami, bahkan aku sampai hati berteriak padanya yang masih mendengarkan aku dengan seksama. Aku pun menangis karena luapan emosiku. Aku juga mengatakan jika aku tidak ingin berada di posisi seperti saat ini.
Perkataanku itu membuat Mas Hari terhenyak. Aku melihat dari matanya yang seketika terkejut namun berusaha sesantai mungkin.
"Mas tidak tahu kalau kamu sampai memiliki perasaan seperti itu. Mas tidak tahu kalau ternyata kamu tidak nyaman. Mas minta maaf kalau belum bisa bikin kamu bahagia" katanya dengan lembut.
Aku tidak tahan mendengar tutur katanya yang lembut. Aku berlaribmasuk ke dalam kamar dan berbaring di tepi ranjang.
Tidak lama Mas Hari datang dan duduk di sisi lain ranjang.
"aku mau pulang besok "kataku singkat
" tapi Mas belum bisa pergi"
"aku bisa naik bus ko"
Pagi-pagi sekali aku sudah berada di terminal bus terdekat dari tempat tinggal suamiku. Saat bus yang akan membawaku pulang tiba, aku mulai berjalan untuk naik dan masuk ke dalamnya.
Dari jendela bus aku melihat Mas Hari masih berdiri di tempatnya sambil menatapku. Aku membalas tatapannya.
Perjalan kutempuh seorang diri. Tapi rupanya kepulanganku ini sudah dinanti ibuku. Dia sudah menantiku di gerbang rumahku.
Dia menyambutku dengan pelukan hangatnya. Aku merasakan cinta kasih dari pelukan itu yang sebelumnya belum pernah aku rasakan.
Ibu juga menceritakan padaku apa saja yang telah dilakukan Mas Hari untuk mengetahui keadaanku selama ia tidak berkomunikasi denganku.