To be Continued

To be Continued
Sepuluh



Hari-hari berlalu sudah sejak kembalinya Mas Hari ke Jakarta. Kini hanya aku dan Mey yang tetap tinggal untuk menemani kakek.


Setelah kondisi Mey berangsur membaik, dia menjadi pribadi yang lebih ceria dari sebelumnya. Dia tidak lagi menjadi gadis kecil penakut pada orang lain.


Perkembangan mental Mey turut membuatku bahagia, meski terkadang aku dibuat kewalahan oleh tingkahnya yang super aktif.


Hari ini aku mengajak Mey ke kediaman nenek setelah aku selesai mengerjakan pekerjaan rumah. Mey sangat antusias, terlebih ia bisa kembali bermain dengan Ragil dan teman-temannya yang lain.


Aku memang tidak pernah melarang Mey untuk bermain apapun dan mencoba sesuatu yang baru asalkan tetap dalam pengawasanku.


"Ibu, boleh?"


"boleh apa?"


"main"


"Mey mau main sama siapa?"


"itu, temen Mey"


"boleh, tapi jangan jauh-jauh ya"


Mey dengan gembira berlari bersama dengan Ragil menghampiri teman-temannya.


Sementara Mey dan Ragil tengah asik bermain, aku memilih untuk berbincang bersama dengan nenek, bibi, dan kakekku di teras.


"Teh, mana Mey?" tanya Denia


"tuh main sama si Ragil, susulin gih"


Denia, yang merupakan sepupuku lantas menyusul Mey. Aku kembali melanjutkan perbincanganku.


"Si Mey mah mirip si Nadine" kata bibiku


Aku tertawa, "iya. Bahenol, putih, neher. Tapi ieu mah teu cerewet doang si Nadine"


"oh heeh nyah" tukas nenek


Kami asik berbincang hingga berganti topik.


"Hari kapan balik lagi?" tanya nenek


"gak tau, karena kan kerja. Kadang keluar kota. Tapi katanya kalau selesai kerjaan langsung ke sini lagi"


"terus itu Mey suka pengen ke bapaknya?" tanya bibiku


"tiap malem kalau mau tidur harus nelpon dulu atau video call, atau kalau dia inget mah nangis pengen ke bapak"


"heeh Ia, karunya. Urusan bae si Mey. Sugan bae bisa jadi pancingan"


"itu Ia ketemu Mey gimana?"


"ketemunya pas waktu evakuasi anak-anak yang disuruh ngemis. Terus ketemu dia pas dipukulin. Dia kan gak mau ngomong lama karena trauma. Dia ngomong pas Ia mau kesini"


"uhh karunya amat. Ges Ia ulah dibabangka hook" kata nenek


"gak ada yang nyari dia gitu?"


" sampe sekarang sih belom ada. Mey juga gak inget apa-apa"


"Mey udah nyaman sama kita, dia gak ngerasa tertekan kaya dulu makanya dia gitu. Padahal sama Ia baru berapa hari" sambungku


Di tengah asiknya perbincangan kami, tiba-tiba saja kami mendengar suara seorang pria berteriak. Dari perkataannya aku mendengar nama Ragil disebut. Sontak aku langsung berlari ke arahnya tanpa beralaskan kaki.


"jadi jelema neher sia Boloon. Ajur tuh kaca aing ku sia!" bentak pria yang tinggal di depan rumah nenekku


Spontan aku menutup telinga Ragil yang sudah terlihat ketakutan diperlakukan demikian.


"Nia, bawa Mey pulang. Mey pulang sama Teteh Nia sekarang" kataku tegas


Aku menatap pria tersebut dengan tatapan mata yang tajam. Hatiku tidak terima adikku diperlakukan demikian.


"sia bangor jadi jelema!"


"Diam!!" teriakku dengan lantang


"Aging yang pecahin kacanya?" tanyaku lembut


"engga. Aging main bae di situ sama Mey" katanya perlahan


"bener? Kalau Aging yang pecahin bilang aja. Teteh gak marah"


"tah ngomong dia!"


"Diam kamu. Saya lagi ngomong sama dia" kataku tanpa menoleh pada pria tersebut


"terus siapa yang mecahin?"


"gak tau"


Adikku tidak lagi tahan dengan tekanan yang dialamiya. Dia menangis tersedu-sedu dalam pelukanku.


"udah gak apa-apa. Bukan salah Aging ko"


Aku menggendong Ragil dan membawanya pulang. Dia masih terisak karena ketakutan.


"ibu..." lirih Mey


"gak apa-apa sayang. Mey temenin Om ya"


"Teh yang mecahin kaca mah anaknya. Nia geh liat. Si Ragil mah sama Nia aja sama Mey di rumah


Ndek Enah"


Aku terdiam. Adikku kemudian berusaha ditenangkan oleh bibi dan nenekku, meski terkadang nenekku juga meluapkan kekesalannya.


"ken kumaha cenah ieu. Kaca aing rusak ku si haram jadah"


Aku segera menghampiri pria itu kembali karena tidak tahan dengan perkataannya.


"heh lu punya mulut kaya cewe ya. Gak bisa diem sedikit" kataku


"tah kaca aing pepes ku adi dia"


"kaca lu pecah bukan karena adik gua. Yang mecahin kaca rumah lu ya anak lu sendiri"


"piraku heeh anak aing. Anak aing mah letik keneh"


"kalau emang iya gimana? Mau apa lu?"


"baok kading"


"percuma gua jelasin ke elu. Kan elu mah paling bener. Tapi asal lu tau ku gak pantes bentak adek gua kaya gitu. Dia ketakutan tau lo?"


"bangor iyeh"


"heh! Senakal-nakalnya anak kecil gak pantes dan gak berhak lo bentak dia. Lu terima gak gua bentak anak lu?"


"gera bae dia wani mah"


"gua berani. Tapi gua punya otak, gak akan gua bentak anak kecil karena gua tau efeknya. Tapi kelakuan lu tadi gua bisa tuntut lo"


"ngomong bae dia"


"heh kalau orang ngomong itu liat matanya! Takut lo hah? Liat mata gua. Dia ajak ngomong malah ngeleos, tapi lambe lembar"


Pria tersebut terus menjelek-jelekan adikku tanpa berani memandangku yang ada di depannya. Tindakanku ini membuat banyak orang berpihak padaku, mengingat banyak orang pula yang melihat kejadian sebenarnya.


"Ges Ia moal ngadenge jelema kitu mah" kata nenekku


"liat gua! Mau lu apa?"


"gantian kaca imah aing"


"tunggu"


Dengan amarah aku kembali ke rumah nenekku untuk mengambil dompetku.


Tidak lama aku pun kembali. Aku keluarkan uang merah dari dalam dompet entah berapa banyak.


"duit gua cukup buat benerin semua rumah lu, bahkan masih bisa beli baju buat anak lu. Kasian dia cuma pake kaos dalem" kataku sembari meletakan uang tersebut di jok mobil usang yang ada di sampingnya.


"uuuh heeh nyah neng. Nu salah saha" kata salah seorang tetangga


"bairin aja. Itung ngasih jajan buat anaknya. Buat beli baju" kataku ketus


Aku segera kembali ke rumah nenek.


" udah Nia. Nanti mah jangan main di situ lagi" kataku


Aku segera menghampiri Ragil yang masih terisak-isak bersama dengan Mey di sebelahny.


"udah gak apa-apa. Teteh percaya Aging gak salah oke?"


Aku memeluknya dengan erat. Aku tahu dia sangat terpukul atas kejadian ini. Sementara itu tindakan yang baru saja aku lakukan mengundang banyak dukungan dari beberpa tetangga.


"ibu.." lirih Mey


Aku melihat Mey dengan wajah lesu, tak lagi bersemangat. Aku segera meredam emosiku agar Mey tidak takut padaku.


Aku memeluk dan menciumnya.


"maafin Ibu Mey, Mey takut sayang?"


"Mey mengangguk sembari memelukku erat."


Aku membawa mereka ke dalam kamar nenek dan mengajak mereka bermain hingga tertidur lelap.


Kejadian tadi rupanya telah sampai ke telinga ketua RT. Nenek dengan emosinya menjelaskan kejadian tersebut dengan kebih terperinci.


Selanjutnya ketua RT tersebut memintaku untuk berbincang bersama.


"saya ke sini sebenernya pengen ngajak kamu untuk jadi pembicara di acara kita"


"pembicara tentang apa?"


"tentang pola asuh anak yang baik"


"kenapa, apa yang harus saya omongin kalau orangtuanya bebal?"


"justru itu, saya minta kamu sebagai pembicara, karena saya tahu kamu sangat peduli sama anak-


anak"


Aku terdiam sejenak.


"kapan acaranya?"


"minggu depan"


"dimana?"


"di lapangan depan"


"depan Ndek Uwi?"


"iya"


"ya udah. Saya usahain datang"


Aku menerima tawaran itu karena teringat akan kekerasan verbal yang sering dialami anak-anak dari orang tuanya. Terlebih kejadian tadi membuatku ingin menyadarkan banyak orang tentang bahaya kekerasan verbal pada anak.


Kajadian ini pun turut aku ceritakan pada ibu dan ayah agar mereka tidak memarahi Ragil, setidaknya untuk beberapa hari ke depan. Aku juga turut menceritakannya pada Mas Hari saat kami sedang saling menghubungi.


***


Sekarang tibalah di hari aku harus menjadi pembicara. Sebelum memasuki tenda sederhana yang dibuat, aku terlebih dahulu mengantarkan Mey ke kediaman nenek.


"Mey main di sini sama Nia. Ibu mau pergi sebentar"


"okee"


"bagus. Jangan nakal ya"


Setelah berhasil meyakinkan Mey, aku segera bergegas pergi menuju tempat acara yang memang tidak begitu jauh dari kediaman nenek.


Dari kejauhan aku tidak melihat banyak orang yang hadir, hanya beberapa orang pendiri acara.


Aku datang dengan santai dan sesekali melirik ke arah sekitar.


"belum ada yang datang?" tanyaku


"belum. Mungkin sebentar lagi"


"tapi ini udah waktunya. Gini aja deh, kamu putar video ini supaya ada orang yang datang" kataku sembari menyerahkan flasdisk


Video tersebut segera diputar untuk menarik minat para orang tua, khususnya orang tua muda. Selain itu, para pendiri acara pun turut serta mengajak para orang tua muda untuk hadir dalam acara tersebut.


Setelah keterlambatan selama satu jam, akhirnya beberapa orang tua muda berhasil di datangkan meski tidak sebanyak acara seminar formal.


"bisa kita mulai?" tanya salah seorang pendiri acara


"tentu"


Aku segera maju. Salah seorang pendiri acara segera menyediakan kursi untukku.


"gak usah, saya bediri aja"


Aku mengambil mic dan segera melakukan tugasku.


"gimana? Kaya video tadi pasti ibu-ibu, mba-mba pernah lakuin juga ke anak-anaknya. Iya kan?" tanyaku dengan santai


Mereka dengan kompak mengiyakan pertanyaa saya.


"oke. Saya mau tanya, biasanya kata-kata apa aja yang ibu keluarin?" tanyaku tanpa mic


"ih dia, bengal, boloon, kitu doang"


Aku menanyakan hal serupa kepada beberapa ibu muda lainnya.


"boloon, tangkorak dia, gahil, bengal, bahkan anjing, monyet, bedul keluar semua Pertanyaan lagi, kenapa ibu-ibu marah sama anak-anak?"


"badung, neher, teu daek cicing" jawab salah seorang sembari tertawa


Aku pun tertawa untuk menghilangkan jenuh dan garing pada acara tersebut.


"tapi ibu-ibu tahu gak, yang kaya gitu tidak baik untuk anak. Anak jadi takut, gak percaya diri, suka bentak orang, suka mukul orang, pendiem, itu semua karena mereka mendapatkan perlakuan seperti itu.


Semua itu disebut dengan tindak kekerasan verbak pada anak. Saya gak mau banyak omong, dari video yang tadi dilihat juga sudah menjelaskan. Ngerti kan penjelasannya?


Sekarang masih mau ngelakuin itu ke anak?"


Mereka serempak menjawab tidak.


"pan anak na badung bae, mun teu dikituken moal ngadenge" kata salah seorang


Aku tersenyum mendengar pernyataannya. Namun sesaat sebelum aku menjawabnya tiba-tiba saja Mey datang dengan wajah yang lesu.


"Teh, Mey pengen ke Teteh" kata Nia


"sebentar ya ibu-ibu" kataku


Aku segera pergi menghampiri Mey dan menggendongnya.


"kenapa?"


"nangis pengen ke Teteh"


"oh ya udah. Mey di sini, Nia pulang aja"


"oke kita balik lagi. Gimana kalau anak tetep bandel kalau gak digituin?


Jawabannya, adalah cari cara mendidik anak yang lain. Banyak ibu-ibu cara mendidik anak tanpa harus melakukan kekerasan verbal atau bullying ke anak.


Sebenarnya ibu-ibu anak itu istilahnya sudah belajar saat mereka dalam kandungan. Jadi jangan pernah menyepelekan anak bu, 'ah masih kecil gak tau apa-apa' jangan salah bu, gitu-gitu mereka udah ngerti.


Jadi ibu-ibu masih mau ngomong kasar sama anak?"


Aku memaparkan segala macam dampak buruk dari kekerasan verbal pada anak, serta menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan orang lain pada, meski aku harus menggendong Mey di saat yang bersamaan.


Setelah satu jam lebih bersama dengan orang tua muda dengan segala pemaparan mengenai kekerasan verbal pada anak.


Perbuncangan yang panjang itu pun hingga membuat Mey tertidur pulas dalam pelukanku lantaran terlalu lama menunggu.


"makasih Ia udah mau jadi pembicara. Gak nyangka banyak yang datang"


"syukurlah, mudah-mudah apa yang dibahas tadi gak cuma jadi angin lalu."


"mudah-mudahan"


"kalau gitu saya pulang dulu, kasian Mey udah kecapean"


"iya sok, terima kasih ya"


"sama-sama"


Aku bergegas untuk pulang. Karena tidak ada yang mengantar aku terpaksa berjalan kaki sembari menggendong Mey.


Setibanya aku di rumah, aku mendapati Ragil dan kakaknya sedang sibuk dengam ponselnya masing-masing.


"Ging udah makan?"


"belom"


"mau makan apa?"


"terserah"


"Ang, ada apa di kulkas?"


"gak ada apa-apa kosong"


"belanja mau gak ke pasar?"


"ya udah"


"Ging ikut"


"tunggu dulu"


Segera aku merebahkan Mey di dalam kamar, setelah itu aku kembali menemui kedua adikku.


"gih sono belanja, mau bikin apa tah. Tapi beliin buah ya buat Mey. Buah apa aja"


Dengan senang mereka berdua langsung pergi menuju pasar.


Untung saja hari itu pekerjaan rumah sudah selesai. Rumah sudah bersih dan rapi, setelah sebelumnya aku meminta seseorang untuk membersihkan rumah.