
Selanjutnya aku mengantar Novi untuk kembali bergabung bersama dengan teman-temannya yang lain, yang sedang berebut makanan yang dibawa oleh Mas Genta dan Mas Nur.
“Ibu, Om Genta bawa banyak makanan” kata seorang anak
“kalian suka?”
“iya”
“kalau gitu Ibu akan minta Om Genta bawa lebih banyak makanan lain kali”
“horeee”
Aku menghabiskan cukup banyak waktu bersama dengan anak-anak. Kita bermain, bersenda gurau, dan belajar bersama. Hingga tidak terasa hari sudah mulai sore. Aku beserta dengan yang lain memutuskan untuk pulang, mengingat kita juga harus mengantar Mas Nur dan Mas Genta menuju bandara.
“Ibu pulang ya, nanti Ibu balik lagi”
“Ibu, nanti kita masak sama-sama lagi ya?”
“kalian mau?”
“iya..”
“oke, nanti kita masak sama-sama lagi. Kalian yang nurut sama Mba Ros dan Mba Tuti ya”
“iya Bu..dah Ibu, dah Om Genta, Om Nur, Om Hari...”
Kita semua bergegas menuju mobil, namun ketika kami hendak masuk tiba-tiba saja Mba Ros menghentikan langkah kami diiringi oleh isak tangis seorang anak.
“Ibu..”kata Mba Ros
Aku segera menoleh, “Mey..? kenapa sayang?”
Aku segera menggendong Mey yang semula berada di gendongan Mba Ros.
“gak tahu Bu, waktu denger suara mobil Mey langsung bangun terus nangis. Dia minta diantar ke luar”
Aku menciumi Mey berulang kali dan memeluknya erat.
“maaf Bu”
“gak apa-apa Mba Ros.”
Aku menoleh kepada Mas Hari.
“kita bawa Mey pulang” kata Mas Hari
Aku sontak terkejut karena tidak menyangka Mas Hari akan mengatakan hal yang demikian.
“Mas?”
“iya Dek. Mba Ros, tolong siapkan pakaian Mey ya”
“oh iya Pak..”
Aku berusaha menenangkan Mey yang masih menangis.
“Ibu, adek Mey mau dibawa kemana?” tanya seorang anak
“adek Mey mau tidur dirumah Ibu. Kasiankan kalau adek Mey nangis terus. Gak apa-apa kan?”
“kalau kita kangen sama adek Mey gimana?”
“kalian masih bisa ketemu adek Mey kok, kan Ibu sering ke sini untuk ketemu kalian”
Jujur, mengatakan hal itu muncul sedikit keraguan dalam hatiku. Aku khawatir kalau akan timbul rasa iri di dalam hati anak-anak, karena ini adalah kali pertama aku membawa salah seorang di antara mereka.
“kalian jangan sedih ya, nanti kan kita masak sama-sama lagi. Mba Tut bawa anak-anak masuk ya”
“iya Bu. Ayo anak-anak, kita haris mandi nanti badannya keburu gatel-gatel”
Aku merasa sedikit lega karena tidak terlihat kesedihan di wajah mereka saat meninggalkan tempat. Tidak lama Mba Ros kembali datang dengan membawa sebuah tas berisi pakaian Mey. Mas Hari langsung mengambil tas tersebut dan meletakannya di bagian belakang mobil. Kami bergegas pergi.
“Mas, kita berenti di stasiun aja” kata Mas Nur tiba-tiba
“ko gitu Mas..?” tanyaku
“kita mau lansung pulang ke Yogya”
“kenapa? Ko cepat banget?”
“iya karena ada kerjaan lagi, harus cepat dibereskan”
“kalau begitu hati-hati di jalan ya Mas Genta, Mas Nur”
Seusai mengantar Mas Genta dan Mas Nur, kami memilih untuk langsung kembali ke rumah dan Mey sudah tertidur lelap di pelukanku.
Ketika tiba di rumah, perlahan-lahan aku turun dari dalam mobil dengan menggendong Mey. Aku membawanya ke dalam kamarku dan menidurkannya.
Di saat yang sama Mas Hari datang dengan membawa tas milik Mey.
"dia capek kayaknya..." kata Mas Hari
"Iya" jawabku
Mas Hari berjalan ke arahku dan meraih tanganku yang terlilit perban.
"biar Mas bantu bersihin luka kamu"
Aku dan Mas Hari bergegas turun kembali. Aku duduk di salah satu kursi meja makan, sedangkan Mas Hari bergegas mengambil kotak p3k dan air hangat.
Pelan-pelan Mas Hari membuka perban yang menutupi lukaku, lalu kemudian dia kembali membersihkannya dengan air hangat.
"tanganmu kasar toh Dek"
"ya ampun Mas, tanganku gak sekasar itu" kataku terkejut
Mas Hari tertawa...
"kalau gak mau tanganku kasar, pakai asisten rumah tangga aja ya" kataku
"boleh, tapi carinya yang muda ya"
"ah gak jadi deh Mas, yang ada nanti yang engga-engga"
Mas Hari akhirnya selesai membersihkan luka tanganku. Namun tiba-tiba ponsel Mas Hari berdering.
Mas Hari menjawab panggilan itu dengan serius, meski dia masih duduk di dekatku tapi tetap ia sama sekali tidak menghiraukanku.
Tidak lama Mas Hari pun mengakhiri panggilannya.
"siapa Mas?"
"Nenek..."
"Nenenkku? Ada apa? Ko nenek telponnya ke hp Mas?"
"nenek minta kita ke pulang"
"kenapa?"
"kakek sakit..."
Aku terhentak mendengar perkataan Mas Hari. Tanpa perlu bertanya lagi aku tahu alasan nenek lebih memilih menghubungi Mas Hati ketimbang diriku.
"besok kita pulang"
"iya Mas, "
Sejak mendengar kabar itu perasaanku tidak tenang. Bahkan sepanjang malam itu aku tidak bisa tidur nyenyak. Pikiranku terus berlelana.
Pagi harinya, aku dan Mas Hari bersiap-siap untuk pergi. Aku juga telah memandikan Mey.
"kita antar Mey dulu ya Mas"
"kamu yakin?"
"iya Mas, lagian Mey juga udah tenang"
"ya sudah"
Pikiranku hanya tertuju pada kakek saat itu, sampai aku tidak menyadari maksud pertanyaan Mas Hari.
Setibanya di Rumah Bimbingan, aku segera menyerahkan Mey kepada Mba Ros yang sudah menunggu di gerbang.
Namun ketika aku hendak kembali masuk ke dalam mobil, Mey menangis histeris bahkan dia berusaha melepaskan tangan Mba Ros yang melingkar di tubuhnya.
Mey segera dibawa oleh Mba Ros masuk ke dalam rumah, tapi tangisnya semakin menjadi-jadi.
Jujur saja, mendengar tangisan Mey hatiku merasa sakit namun aku sama sekali tidak mengerti apa yang diinginkan anak kecil itu.
Tapi tiba-tiba langkahku berhenti seketika ketika mendengar seseorang memanggil "ibu". Aku langsung menoleh kembali dan melihat Mey terua meronta sembari mengucapkan kata "ibu" berulang-ulang.
"Dek, kita bawa aja Mey, kasian dia" kata Mas Hari
"Mey..."
Aku langsung berlari ke arah Mey dan menggendongnya sembari terus memeluk serta menciumnya. Aku tidak menyangka akhirnya Mey kembali berbicara.
Mey memelukku erat.
"Ibu..Ibu..Ibu..."
"iya Mey, ini Ibu"
Aku memeluknya erat dan terus menciuminya. Aku berusaha menenangkan Mey yang terus menangis histeris.
Tidak lama Mas Hari menghampiri kami.
"Mba Ros, Mey akan kita bawa lagi"
Aku menatap Mas Hari dengan mataku yang berkaca-kaca. Tanpa berfikir panjang aku bergegas
pergi kembali ke arah mobil bersama dengan Mey yang masih dalam gendonganku. Mas Hari
mengikutiku dari belakang.
"Mey udah sayang jangan nangis " kataku
"Ibu..."
"ini Dek" kata Mas Hari sembari mengulurkan air mineral
Aku memberi Mey minum, menenangkannya dan merapikan rambutnya yang basah akibat keringat
dan air matanya.
Setelah mulai tenang Mey masih tetap saja memelukku. Aku masih bisa merasakan detak jantung Mey yang berdegup kencang.
Selama dalam perjalanan menuju kediaman nenek, Mey terus saja duduk di pangkuanku. Bahkan
karena perjalanan yang cukup jauh dan berkelok membuat Mey sampai mabuk dan tidak henti-
hentinya memuntahkan semua isi dalam perutnya dan membuat kami harus berhenti berulang kali.
Mey terlihat lemas ketika itu, aku berusaha menidurkan Mey agar ia tidak merasa terlalu pusing selama dalam perjalanan. Bahkan Mas Hari harua mengendarai mobil jauh lebih pelan dari biasanya.
Setelah menempuh perjalanan lebih lama dari biasanya, akhirnya kami sampai di tempat tujuan kami.
Sekitar pukul dua siang kami tiba. Mey tertidur pulas. Mas Hari mengambil alih Mey dan menggendongnya.
Kali ini kami berhenti bukanlah di rumah ibuku, melainkan langsung di kediaman nenek. Hanya saja mobil yang kami kendarai harus berhenti di tepi jalan dan kita harus berjalan menuju kediaman nenek.
"oh Neng Ia, kapan pulang?" kata salah seorang tetangga nenek
"oh iya, baru aja sampe " kataku dan langsung bergegas pergi
Kami pun tiba di kediaman nenek. Kedatangan kami lantas disambut oleh bibi dan sepupu-
sepupuku, termasuk Depi yang juga ada di sana.
"Mba, mana nenek?"
"di dapur"
Aku bergegas menuju dapur, sedangkan Mas Hari masih saling sambut menyambut dengan bibiku.
"ini siapa?"
"ini Mey" jawab Mas Hari
Sementara itu, aku menemui nenek untuk menyapanya terlebih dahulu sebelum aku menemui kakekku.
" Nek..."
"oh Ia. Kapan datang?"
"barusan. Kakek di mana?"
"tuh di kamar. Puyeng bae, gak mau ke dokter"
Pikiranku yang saat itu terpusat pada kakek, aku langsung menemuinya dan tidak memikirkan Mey yang masih digendong Mas Hari dan masih berada di depan rumah.
"Appaa...." kataku
Kakek hanya menatapku sembari tersenyum.
"ih kunaon atuh? Apa yang sakit?"
"kepala sakit" kata kakek dengan suara yang minim
"minum obat yaaah?"
"udaah"
Aku hanya bisa menahan diriku agar tidak menangis dihadapan kakek. Tidak lama Mas Hari datang menghampiri kami. Dia datang dengan sopan santunya yang baik. Dia mencium tangan kakek, dan bertanya mengenai keadaan kakek.
"kakek yang sehat-sehat yaa" kata Mas Hari
"siapa?" tanya kakek
"ini Mey"
"anak?"
Aku terdiam sesaat. Jujur aku tidak bisa menjawab pertanyaan kakek. Namun tiba-tiba Mas Hari menjawab, dia mengiyakan pertanyaan kakek.
"Meynya tidur. Tadi dia mabok dijalan"
"tidurin..." kata kakek
"iya, Ia tidurin Mey dulu ya"
Aku dan Mas Hari bergegas meninggalkan kakek menuju kamar nenek yang memang biasa tinggali.
"Mas, tidurin sini aja Meynya" kataku
Mas Hari menidurkan Mey dengan sangat hati-hati.
"Ia, siapa itu?" tanya nenek yang terkejut melihat Mey
"ini Mey, anak di Rumah Bimbingan. Tapi dia pengen ikut" jawabku
"ohhh"
Aku berbincang bersama nenek mengenai Mey. Aku menceritakan semua hal ihwal tentang Mey.
"ya udah burung Neng, diasuh aja sama Ia. Kasian."
Aku diam mendengarkan penuturan nenek.
"Dek.."
"iya Mas?"
"boleh minta teh hangat"
"iya, tunggu sebentar ya"
Aku menyiapkan teh hangat seperti permintaan Mas Hari. Setelah selesai aku memberikan teh
tersebut padanya. Namun rupanya teh itu tidak untuknya, dia memberikannya kepada kakek.
Tidak mengenal lelah, Mas Hari langsung merawat kakek. Dia membantu kakek dan menyiapkan semua kebutuhannya. Aku pun mendekati kakek dan membantu Mas Hari.
Ketika sore menjelang ibuku datang bersama dengan adik-adikku. Kami saling sambut menyambut, begitu pula dengan Mas Hari.
Kali ini kita semua berkumpul, bahkan kita semua berencana untuk menginap di sana. Kami tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada kakek saat malam, dan tidak ada siapapun disampingnya.
"kapan Ia datang?" kata ibu
"tadi siang"
"ko gak nelpon?"
"ya ampun, gak inget, karena datang kita langsung nemuin kakek"
Kita saling berbincang saat itu. Kita menghabiskan waktu dengan berbincang. Tapi tiba-tiba tangisan Mey yang memanggilku memekakan suasana.
Mendengar tangisan Mey aku langsung menghampirinya. Aku memeluknya dan menenangkannya.
"Mey, cup sayang. Ibu ini"
Mey mulai tenang dalam gendonganku. Aku membawa Mey menemui ibu, adik, dan ayahku yang juga sudah datang. Aku memperkenalkan Mey sebagai anakku agar tidak ada yang bertanya lebih banyak.
Mey terlihat malu saat bertemu mereka untuk pertama kalinya.
"Mey?" tanya ibuku
Mereka satu persatu mendekati Mey. Mereka mencoba saling mengakrabkan diri. Mereka gemas dengan Mey.
Melihat Mey yang cantik, bersih, dan berisi membuat orang gemas padanya.
"gak apa-apa Mey"
Perlahan-lahan Mey mulai bisa berbaur dengan keluargaku. Bahkan tidak perlu waktu lama Mey sudah mau berbaur dengan adikku dan sepupuku.
"Mas, di sini gak ada cemilan, sedangkan anak-anak banyak"
"ya udah kita pegi ke mini market aja"
"kalau gitu, aku ambil tas dulu ya"
Aku bergegas mengambil tas milikku.
"Mah, titip Mey ya. Ia mau ke mini market dulu"
Tapi rupanya Mey masih belum siap untuk aku tinggalkan. Dia berlari ke arah Mas Hari dan meminta untuk digendong.
"ikut.." kata Mey
Mas Hari yang terlanjur menyayangi Mey langsung menyetujui apa yang menjadi keinginan Mey.
"Ragil mau ikut juga?" tanya Mas Hari
"iya"
"ya udah ayoo"
Aku tahu, Mas Hari memang sangat menyukai anak-anak, sehingga dia akan rela melakukan apapun demi membuat anak-anak bahagia.
Kami lantas pergi menuju mini market terdekat. Kami pun menulusuri setiap lorong.
"apapun yang kalian mau, ambil aja ya" kata Mas Hari
Kami sengaja memberi kebebasan kali itu untuk mereka. Namun siapa sangka mereka hanya
membeli satu jenis makanan saja.
"loh ko cuma ambil satu? Ambil aja yang banyak? Untuk yang lainnya mana?" kataku
Ragil yang aku tahu tidak pernah kemari lantas sangat antusias memilih setiap makanan yang diinginkannya. Tidak lupa dia juga mengajak Mey untuk berburu bersamanya.
Sementara anak-anak memilih makanan, aku dan Mas Hari pun memilih beberapa makanan. Aku mengambil beberapa roti, makanan ringan, dan beberapa jenis makanan lainnya.
Setelah selesai makanan kami kembali ke rumah. Kami kembali berbincang bersama.
Selama dua hari kami tinggal bersama. Dan dua hal yang membuatku senang adalah kondisi kakek telah membaik dan Mey menjadi lebih ceria daripada sebelumnya.