To be Continued

To be Continued
Tiga Belas:Kunjungan



Mas Hari memperlakukanku dengan begitu romantis hari ini. Dia memanjakanku dengan berbagai caranya. Salah satunya ketika kami tiba supermarket. Dia mengulurkan tangannya kepadaku. Aku tersenyum dan menggenggam tangannya. Kami berjalan dengan saling bergandengan tangan.


Kami berdua mulai menelusuri setiap lorong untuk memilih bahan makanan yang hendak kami beli.


Tempat pertama yang kami kunjungi alah tempat beragam buah-buahan berjajar yang sedang menanti untuk kami beli. Buahan-buahan itu sebenarnya sangat menggodaku, tapi tiba-tiba saja aku kehilangan fokus lagi ketika aku melihat seorang anak sedang merengek kepada ibunya.


Hatiku ingin sekali menghampirinya dan menenagkannya, tapi Mas Hari rupanya sudah mengerti akan gelagatku, dia mengalihkan perhatianku dan mengajakku untuk kembali fokus dengan tujuanku datang kemari.


“Dek, kamu mau beli buah apa?”


“apa?”


“mau beli buah apa?”


“buah...buah..”


“kenapa lama mikirnya?”


Mas Hari tersenyum dan kemudian ia menarik tanganku. Dia mengajakku memilih beberapa macam buah.


Apel, jeruk, semangka, melon, kiwi, anggur. Kami membeli semuanya.


Selanjutnya kami memilih sayuran. Kali ini aku jauh lebih fokus dari pada sebelumya.


“Mas, aku mau beli sayuran hijau aja ya?”


“berarti yang warnanyaselain hijau kamu gak beli? Cuma kangkung, cabe hijau, paprika hujau, tomat hijau..”


Aku tertawa, “gak gitu Mas”


Dia pun tertawa, “kalau gitu kamu yang pilih”


Aku memilih lebih banyak dedaunan hijau yang segar. Selanjutnya kami membeli berbagai jenis daging dan ikan.


“Mas kenapa beli banyak banget?”


“gak apa-apa, kan keluarga kamu mau ke rumah”


“tapi mereka gak makan serakus itu”


“ya udah gak masalah. Oya, ada yang mau ku beli, kamupilih-pilih lagi bahan makanan yang lain oke”


Aku dan Mas Hari berpisah. Aku memilih beberapa bumbu dapur yang kebetulan sudah habis, sedangkan Mas Hari, entah apa yang sebenarnya sedang ia cari.


Cukup lama kami berpisah. Setelah aku selesai membeli beberapa keperluan dapur aku mencari suamiku itu. Aku menelusuri setiap lorong tapi tidak kunjung menemukannya.


Sampai akhirnya aku berhasil menemukannya sedang berdiri di depan kasir.


Aku tercengang melihatnya, “astaga Mas?”


Dia membeli satu troly penuh camilan dan makanan ringan.


“kamu beli semua?”


“iya..”


“sebanyak ini siapa yang makan? Lagian terlalu banyak kan gak sehat”


“gak masalah, sekali-kali”


“Mas kamu gak biasa kaya gini”


“emang kenapa?”


Aku menghela nafas. Tidak lama seorang pria datang menghampiri kami dengan membawa dua dus susu kotak.


“Mas?”


“sekali-kali..”


Aku tidak habis fikir dengan apa yang tengah terjadi pada Mas Hari. Untuk kali pertama selama kami menikah, ini adalah waktu berbelanja yang bisa dibilang sangat boros. Akan tetapi Mas Hari tetap terlihat santai dan menikmatinya.


“mau kemana lagi?”


“pulang..”


“udah cukup belanjanya?”


“Mas kamu kenapa toh? Kenapa sekarang jadi gila belanja gini?”


“kenapa? Apa salah aku belanjain isteriku sendiri?”


“ya bukan gitu. Tapi gak biasanya kamu gini”


“tadi Mas sudah bilang, gak masalah untuk sekali ini. Oke?”


Aku tidak bisa banyak berkata lagi dengan yang dilakukan oleh suamiku. Selanjutnya kami memilih untuk pulang dengan barang belanjaan yang cukup banyak dan memenuhi bagian belakang mobil kami.


Langkah selanjutnya setelah kami tiba di rumah adalah menurunkan belanjaan kami yang banyak itu ke dalam rumah dan membenahinya.


“dimana kita taro makanan ringannya? Dapur udah penuh” kataku


“di meja ruang tamu aja”


Aku terkejut dengan jawaban Mas Hari. Dia kemudian membawa sema makanan ringan itu. Setelah menyelesaikan semuanya aku memilih untuk kembali ke dalam kamar untuk membersihkan diri.


Beberapa saat setelah aku selesai mebersihkan diri dan sedang merapihkan rambutku, tiba-tiba Mas Hari datang menghampiriku. Dia memegangbahuku dan tersenyum.


“ada apa?”


Dia mencium bahuku.


“Mas cinta kamu Dek. Apapun yang terjadi Mas akan selalu ada buat kamu”


Aku menatapnya melalui cermin.


“demi Allah, apapun yang terjadi Mas akan selaluada untukmu”


Aku beranjak dari tempatku dan berdiri menatap suamiku. Aku memeluknya.


“Hari Wijaya, suamiku. Aku bahagia karena memilikumu. Aku bahagia karena menjadi bagian dalam hidupmu. Terma kasihku kepada Allah karena telah memberikanmu sebagai pembimbingku, sebagai imamku, yang kucintai sepenuh hati”


“Allhamdullilah...”


Di saat kebersamaan kami itu, terdengar suara klakson mobil yang berulang kali.


“siapa Mas?”


“mungkin keluargamu”


“lo bukannya nanti malam?”


“biar Mas lihat”


Mas Hari segera pergi untuk melihat siapa yang datang, dan tidak lama setelahnya pun aku bergegas turun.


“Mah, Nenek...” kata Mas Hari


Aku terkejut melihat mereka datang lebih cepat dari seharusnya.


“Mah, bukannyakalian datang nanti malam?”


“kita sengaja datang cepet” kata nenek


“tapi Ia belum siapin makanan..” kataku dengan kebingungan


“kita makan tadi di jalan”


“nanti Ia masak untuk makan malam”


“ayo semua kita masuk. Maaf rumahnya kecil” kata Mas Hari


“gakapa-apa”


Mereka semua mulai masuk ke dalam rumah. kini rumahku bertambah lima orang.


“Teh, adek Mey mana?” tanya Ragil


Pertanyaan itu membuatku terkejut bukan main. Aku terdiam selama beberpa saat.


“Mey...?”


“adek Mey, pergi sama orang tuanya. Jadi gak di sini lagi” kata Mas Hari


“iya, Mey udah pulang sama orang tuanya” kataku


“ya udah, gak apa-apa. mungkin kalian belum jodoh” kata ibu


Aku tersenyum mendengar pernyataan ibu.


“kalian istirahat aja dulu, kita mau siapin makan malam” kata Mas Hari


“di atas lemari ada kasur kecil, mungkin bisa dipake. Maaf kamarnya Cuma ada satu” kataku


“biarin, kita mah bisa tidur di mana aja” kata nenek


“Aging mau tidur di sofa depan tivi”


Aku tertawa dengan celetukan Ragil.


“ya udah kalau gitu, kita tinggal dulu. Kalau ada yang laper, di sana ada cemilan buat ganjel perut”


Setelah berkata seperti itu Ragil segera berlari menuju makanan ringan yang tersimpan. Dia mulai mencari-cari makanan yang diinginkannya. Sementara itu aku dan Mas Hari pergi menuju dapur untuk menyiapkan makan malam.


“kita mau masak apa?” tanya Mas Hari


“empat sehat lima sempurna” jawabku


“okee”


Kami berdua mulai menyiapkan makan malam dengan porsi yang lebbih banyak dari biasanya. Meski hanya menu sedehana.


Di saat-saat kami sedang memasak, tiba-tiba ibuku datang dan menawarkan diri untuk membantu.


“jangan Mah, biar kita aja. Mamah duduk aja di depan ya” kata Mas Hari sembarimenggiring ibu ke ruangtamu


Tidak lama Mas Hari pun kembali membantuku di dapur.


“Mas, sisanya biar aku aja. Kamu temenin aja mereka ya”


“gak apa-apa?”


“iya Mas”


“ya udah kalau gitu”


Kini tibalah saatnya untuk makan malam. Semua keluarga sudah berkumpul tanpa terkecuali. Mereka mulai duduk di tempat mereka masing-masing dan mulai mengambil porsi maknan mereka masing-masing dengan lauk yang mereka sukai.


“kenapa kalian mau dtaang ke sini gak bilang Ia sebelumnya? Ia baru tahu tadi kalau kalian mau datang” kataku


“kita datang kesini aja disuruh Hari katanya kamu lagi sedih” kata nenekku


“apa?” aku menatap Mas Hari


Aku mentap tajam Mas Hari yang ada di hadapanku. Saat itu aku kecewa dengan tindakannya. Jujur, aku tidak suka tindakannya yang memberitahu keluargaku tentang masalah yang sedang aku hadapi. Dia hanyaterdiam dan menundukan kepalanya.


“IA udah selesai. Kalian lanjut aja kalau masihmau makan ya”


“Dek, duduk dulu”


Aku kembali mentapnya tajam.aku pun duduk kembali.


“kamu siapin buahnya untuk kita cuci mulut ya. Kita kan tadi beli buah” kata Mas Hari


Segera aku pergi meninggalkan meja makan untuk menyiapkan biah-buahan.


Aku kesal dengan apa yang baru saja aku dengar. Tapi aku harus menahan emosiku agar aku tidak membuat keluargaku terkejut atau risih nantinya.


Setelah makan malam usai, aku membawa buah-buahan yang sudah aku potong ke ruang tamu karena mereka semua sudah berkumpul di sana.


Aku duduk di samping Mas Hari yang sedang bersenda gurau dengan Ragil. Sesekali Mas Hari mencoba menggenggam tanganku, namun aku selalu menepisnya berulang kali pula.


“Nek, Ia ke atas dulu ya. Mah, Pah”


“ya udah, isterihat sana” kata Ibu


Aku berjalan menaiki tangga dengan kekesalan terhadap Mas Hari. Setibanya aku di kamar, aku langsung menjatuhkan diri di atas tempat tidur. Terus teringat akan perkataan nenek.


Mas Hari tiba di kamar.


“kenpa Mas menceritakan masalahku pada keluargaku?”


“Dek, Mas cuma pengen kamu lebih baik dengan keberadaan mereka.”


“Mas, sejak dulu aku gak pernah suka kalau mereka tahu tentang masalahku. Dan sekarang, Mas malah minta mereka untuk datang”


“Dek tolong kendalikan emosi kamu”


Aku menangis, “kenapa kamu gak pernah ngerti aku Mas? Aku gak suka kalau masalahku ini sampai mereka juga tahu. seharusnya kamu ngerti Mas”


“Dek..”


“aku gak nyangka kamu bisa berbuat kaya gini sama aku Mas. Aku gak suka cara kamu yang satu ini Mas. Kamu bikin aku malu Mas, kamu seolah nunjukin kalau aku ini udah gagal dengan apa yang selama ini aku perjuangin”


“Dek tolong dengerin Mas dulu”


“aku gak mau denger apa-apa-apa lagi”


Aku segera membalikan badan dan merebahkan diri di atas tempat tidur. Aku memejamkan mataku agar Mas Hari tidak lagi mengajakku berbicara.


Sebenarnya aku tidak benar-benar tertidur saat itu. Pikiranku terussaja berkelana. Jujur, aku sangat tidak menyukai dengan tindakan Mas Hari yang mengatakan tentang masalahku kepada keluargaku, karena aku tahu semua ini tidak akan membuatku merasa lebih baik.


Sementara itu, Mas Hari yang tepat berada di sampingku mengatakan permintaan maafnya serta mengatakan alasan dari semua tindakannya.


“Mas hanya ingin kamu merasa lebih baik dengan keberadaan keluargamu, jadi Mas berfikir untuk meminta mereka datang kemari dan menemanimu. Mas minta maafkalau memang tindakan Mas tidak sesuai denganmu”


Aku hanya diam.


Keesokan harinya, aku bangun jauh lebih pagi dari biasanya. Aku merapikan diriku dan turun untuk menyiapkan sarapan. Sebenarnya saat itu masihlah pagi buta, jadi belum ada seorang pun yang sudah terbangun dari tidurnya.


Aku melakukan semua hal untuk menghilangkan kekesalanku yang tak kunjung usai. Aku juga menyiapkan semua bahan makanan. Namun tiba-tiba di tengah kesibukanku, nenek datang menghampiriku.


“bikin apa Neng?” tanya nenek


Aku terkejut dengan kedatangan nenek yang tiba-tiba itu, “ini, bikin buat sarapan”


“Masih pagi atuh ini mah”


Aku tersenyum, “gak apa-apa, takutnya nanti gak keburu”


Aku berusaha menutupi perasaan kesal yang sedang aku alami agar nenek tidak menyadari hal itu. Tapi rupanya dugaanku itu salah.


“Neng, masalah mah pasti ada. Nenek udah denger semua dari Hari. Dia ngerasa kasian liat Neng kemarin”


Aku metelatakan pisau dan wortel yang saat itu sedang aku genggam. Aku mengela nafas.


“ yang sabar ya Neng” nenek memeluk dan menepuk-nepuk punggungku


Untuk sesaat aku merasa tersentuh dengan perlakuan nenek. Namun aku tidak bisa menangis dan mengungkapkan masalahku padanya, karena aku tidak pernah melakukan hal itu sebelumnya. Aku memilih untuk diam, dan hanya mendengarkan semua wejangan yang diberikan nenek.


“kalau emang semua itu rejeki Ia, pasti gak akan pergi, pasti kembali. Tapi untuk Mey, Ia relain aja, Mey udah seneng bisa sama orang tuanya lagi. Mudah-mudahan aja Allah cepet kasih gantinya ”


“Aamiin”


Aku kembali melanjutkan pekerjaanku. Aku kembali memotong beberapa sayuran dan bumbu dapur, nenek juga membantuku saat itu.


Selang beberapa lama pekerjaan pun usai, semua menu sarapan sudah tersaji di meja makan.


“dah, makanan dah siap, mandi heula gih”


Aku bergegas kembali masuk ke dalam kamarku untuk membersihkan diri. Saat itu aku melihat Mas Hari sudah tidak ada di atas tempat tidur, itu artinya dia sedang berada di kamar mandi.


Selagi menunggu Mas Hari keluardari kamar mandi, aku memilih untuk merapihkan tempat tidur dan kemudian duduk setelahnya.


“ya Allah, kenapa hatiku masih belum bisa menerima semua ini” gumamku dalam hati


“Dek..” kata Mas Hari


Aku menatapnya, namun aku tidak menjawab sepatah katapun. Aku beranjak dan hendak pergi menuju kamar mandi.


Akan tetapi ketika aku hendak melewatinya, tiba-tiba Mas Hari menggenggam tanganku. Dia memelukku dari belakang.


“Maaf...” katanya


Aku emmejamkan mata sesaat setelah Mas Hari mengatakan satu kata itu. Aku diam sesaat, tidak menggubrisnya. Tidak lama setelahnya aku melepaskan pelukannya yang melintang di depan dadaku. Aku pergi menuju kamar mandi dan meninggalkannya.


Ini adalah kali pertama aku bersikap seperti itu pada suamiku sendiri. Aku tidak kuasa untuk berdebat dengannya lebih lama lagi. Sama sekali tidak ada tenaga untuk itu.


Setelah semua selesai, kita semua berkumpul di meja makan untuk menikmati sarapan yang sudah kubuat bersama dengan nenek. Aku tidak banyak berkata-kata saat itu. Hanya menyajikan makanan untuk Mas Hari.


“udah makan nanti kita semua pergi ya, aku mau nunjukin sesuatu” kata Mas Hari


Aku sedikit melirik ke arahnya namun tetap terfokus pada menu makananku.


“kemana?” tanya ibu


“ke suatu tempat. Nanti kalian liat aja. Ini kejutanku untuk Lia”


“untukku?”


“makan aja dulu”


Semua telah bersiap di depan rumah, hanya tinggal menungguku dan Mas Hari yang masih berada di kamar.


“ayo” kata Mas Hari sembari mengulurkan tangannya


Aku menyambutnya dan kami bergandengan tangan menuju ke bawah.


“dua orang ikut mobil Ia deh. Biar gak terlalu penuh”


“di sini geh masih muat” kata ibu


“Aging aja yang pergi sama Ia”


“ya udah”


Mas Hari entahmembawaku kemana, tapi dia membawa kami semua menuju sebuah komplek perumahan mewah. Dalam pikiranku saat itu aku mengira jika Mas Hari akan membawa kami untuk bertemu dengan temannya. Tapi untuk apa?


Setelah cuku lama kami berkendara akhirnya kami tiba di depan sebuah rumah mewah. Sangat mewah.


“ayo turun”


Tanpa banyak berkata-kata, kami semua pun turun. Tanpa ada satu orang pun dari kami yang mengetahui rumah siapa gerangan ini.


“ini rumah siapa?” tanyaku


“ini? Ini rumah untukmu. Aku membelinya untukmu”


“untukku? Mas?”


“iya. Rumah ini aku sengaja membelinya untukmu, sebagai hadiah”


Entah apa yang terjadi padaku dan entah apa yang aku rasakan. Tapi aku benar-benar tidak menyukai dengan hadiah yang mewah ini. Aku menggelengkan kepalaku pelan kepadanya, sebagai tanda jika aku tidak begitu senang dengan hadiahnya.


“ayo kita masuk”


“ya Allah, meuni segede naon imahna Hari..” kata nenek


Rumah itu terlihat sangat besar dan mewah. Atapnya menjulang tinggi dengan dua tiang besar di depannya. Saat kami masuk sudah terdapat perabotan rumah yang mewah. Rumah itu terdiri dari dua lantai. Rumah yang luas dengan kolam renang di dalamnya. Naik kelantai dua, terdapat tiga kamar disana, satu kamar utama yang ukurannya sangat besar.


Keluargaku semua memuji perjuangan suamiku yang telah memberikan hadiah rumah mewah untukku. Tapi aku sama sekali tidak merasa senang dengan semua itu.


“ya Allah apa yang sedan terjadi padaku?” gumamku


“gagah Hari bisa beli rumah segede ini” kata nenek


“Mas, aku...”


“Teh, Mamah sama yang lain gak bisa lama-lama, kita mau ke tempat bude juga karena dia pengen ikut pulang katanya. Jadi kita harus pulang”


“ko buru-buru Mah? Gak nginep semalem lagi?” tanya Mas Hari


“ya mau gimana, budenya Lia kalau udah ada maunya harus diturutin”


“ya udah kalau gitu, kita pulang sekarang”


“Hari, terima kasih untuk semua hal yang udah kamu lakuin buat kebahagian Lia. Semoga kalian bahagia”


“terima kasih”


Kami pun bergegas kembali menju rumah. ketika ibuku sedang membenahi semua barangnya di kamar tamuku, aku ada untuk menemaninya.


“Ia, liat gimana perjuangan Hari buat kamu. Jadi jangan mikirin hal-halyang gak penting lagi” kata ibu


“gak penting? Gak penting gimana? Mah, rumah Bimbingan itu segalanya buat Ia. Mamah tau kan perjuangan ia. Maksudnya, mungkin mamah tahu gimana perjuangan Ia untuk bisa dapetin semua itu. Jadi tolong jangan anggep semua itu gak penting”


“ya udah iya. Mungkin Mamah gak ngerti. Mamah cuma bisa bilang semoga kalian bahagia”


“aamiin”


Aku membantu Mamah membawa semua barang-barangnya keluar. Ketikaitu semua orang sudah menunggu. Selanjutnya mereka berpamitan padaku, mereka memelukku.


“semoga bahagia” kata ayah


“baik-baik ya Neng, Nenek cuma bisa doain yang terbaik buat Ia, Nenek gak bisa kasih apa-apa”


“yang rukun kalian ya sayang” kata ibu


“kalian hati-hati di jalan. Kalau sudah sampai kabarin kami” kata Mas Hari


“Kalian hati-hati di jalan” kataku


Mereka bergegas masuk ke dalam mobil dan melaju meninggalkan kami. Sesaat setelah mereka pergi dari pandanganku aku pun masuk ke dalam rumah.