
Cukup lama Mas Hari pergi meninggalkan, namun kini ia telah kembali setelah menyelesaikan pekerjaannya.
Kedatangan Mas Hari membuat Mey sangat gembira. Ia segera berlari menghampiri Mas Hari sesaat setelah ia menyadari kedatangan Mas Hari.
"bapak..." teriak Mey
Mas Hari lantas menggendong Mey dan menciuminya. Aku pun segera menghampiri Mas Hari untuk menyambutnya.
Aku cium tangannya dan kemudian memeluknya. Mas Hari yang sangat merindukan Mey memilih untuk menghabiskan waktunya bersama Mey tanpa peduli rasa lelah yang dirasakannya.
“Mey, Mey main dulu sama Om Ragil oke”
Mey menolak apa yang aku katakan. Dia masih betah berada dipangkuan ayahnya. Aku pun membujuknya agar Mey mau lepas dari Mas Hari.
“Mey main dulu sana, nanti kita pergi beli cokelat. Bapak mau mandi dulu ya”
Mey segera pergi beranjak dari Mas Hari. Melihat hal itu membuatku spontan menunjukan ekspresi terkejut sekaligus tidak menyangka dengan kejadian yang baru saja terjadi.
“sekarang Mey sudah pergi, sekarang apa?” tanya Mas Hari
“apa?” tanyaku
“bukanya tadi kamu minta Mey untuk pergi, emang ada apa?”
“oh itu. Aku Cuma mikir kalau Mas capek jadi Mas butuh istirahat”
“yakin? Gak ada yang lain?”
“engga ada”
Entah apa yang terjadi padaku. Tiba-tiba saja hal yang ingin aku lakukan menjadi lupa seketika setelah Mey pergi, dan itu membuatku malu dan salah tingkah.
Karena kondisi yang tidak mengenakan bagiku, aku memilih untuk pergi meninggalkan Mas Hari. Namun ketika aku hendak meninggalkannya, Mas Hari spontan menarik tanganku.
“Mas?”
“Mau kemana?”
“Mey, aku harus nyusulin Mey”
Aku segera melepaskan genggaman tangannya karena aku takut seseorang melihat kami berdua. Aku pun meninggalkanya.
Aku menghampiri Mey yang sedang bermain bersama dengan kedua adikku. Aku memperhatikan mereka dari kejauhan, tak ingin mengganggu mereka yang sedang asik bermain bersama.
Sementara itu, Mas Hari yang semula aku tinggalkan segera keluar dari kamar dan menghampiri ayah dan ibuku yang sedang bersantai diruang tengah.
Akan tetapi, ditengah kegembiraan kami semua tiba-tiba saja Depi datang dengan raut wajah yang tidak tampak indah dilihat.
“Dep, kenapa?” tanyaku penuh curiga
“Teh disuruh ke rumah nenek”
“kenapa emangnya?”
“disuruh ke sana aja kata nenek geh, sekarang”
Detak jantungku meningkat seketika, meski tidak tahu apa yang tengah terjadi namun hatiku merasa sesuatu yang buruk sedang terjadi.
“Dep, kenapa?” tanyaku tegas
“Teh” katanya lirih
Perlahan aku melihat matanya mulai berkaca-kaca, kecurigaanku mulai jelas dalam benakku.
“kakek udah gak ada” katanya dengan cepat
Kalimat singkat itu bagai halilintar yang menyambarku. Kakiku goyah seketika.
“Mas! Mas Hari” aku berteriak dengan suara yang gemetar
Tidak lama seluruh keluargaku menghampiriku.
“kenapa Dek?” tanya Mas Hari
Aku yang tidak kuasa menahan kesedihan hati lantas menangis dengan tangisan yang seolah tertahan tanpa bisa aku keluarkan.
Mas Hari memelukku untuk menenangkanku meski dia belum tahu apa yang sedang terjadi.
“kenapa Dep?” tanya ayah
Depi kembali menyampaikan berita duka itu. Seluruh keluargaku pun lemas dibuatnya. Aku dan ibuku benar-benar jatuh lemas, bahkan saat itu ibuku jatuh pingsan.
Setelah ibu kembali sadar kami semua bergegas pergi menuju kediaman nenek. Aku berjalan seorang diri di muka. Mas Hari berjalan setelahku sembari menggendong Mey.
Hatiku hancur. Rasanya aku berjalan di jalan yang cukup jauh hingga perjalananku itu tidak kunjung sampai.
Semakin dekat dengan kediaman nenek aku melihat banyak orang sudah berkerumun di depan rumah nenek. Bahkan beberapa orang turut menyampaikan belasungkawa yang membuatku semakin terluka.
Ketika aku sampai ada beberapa orang yang langsung memelukku dengan tangisannya, yang aku sendiri tidak yakin jika tangisan itu adalah tulus. Aku diam dengan tatapan mata yang tak tentu lantaran pikiranku sedang meracau.
Saat aku masuk, au melihat seonggok daging tengah berbaring dikelilingi oleh beberapa orang. Aku terjatuh lemas. Tangisku pecah. Aku meraung sembari meraih tubuh kakek yang sudah terbujur kaku.
“Appaa....” teriakku
“ Appaa ini Ia, bangun. Liat Ia dulu, ngomong dulu ama Ia. Appaa! Ahhhh! Apppa bangun, buka matanya, liat dulu Ia. Appa belum liat Ia punya anak. Appaa!”
Seketika muncul penyesalan dalam driku karena tidak bisa lebih banyak menghabiskan waktu bersamanya, serta tidak berbuat banyak untuknya.
Mas Hari segera menghampiri dan kembali memelukku. Aku menangis dalam pelukannya tepat dihadapan jasad kakekku. Seketika itu juga pandanganku menjadi gelap. Aku pingsan.
Aku tidak sadarkan diri selama beberapa saat. Setelah aku kemali sadar, aku melihat Mas Hari dan ibuku ada dihadapanku. Aku memeluknya sembari menagis. Aku utarakan penyesalanku.
“udah, kasian kakek jangan ditangisin lagi. Sekarang yang harus Ia lakuin doain kakek ya”
Ibu dan Mas Hari memberikan pengertian padaku hingga akhirnya aku mulai menerima kenyataan buruk itu, meski rasa tidak percaya masih menghampiriku.
Aku kembali menghampiri kakekku. Aku dekati ia, kucium wajahnya untuk yang terakhir kali. Aku usap wajahnya dengan punuh kasih seperti dulu sering ia berikan untukku. Aku juga meminta Mey untuk turut mencium kakekku untuk yang terakhir.
Mey kemudian dibawa oleh adikku Ragil untuk bermain bersama, sedangkan aku memilih untuk duduk disamping kakekku dengan wajah sembab dan lesu. Sementara itu Mas Hari memilih untuk menyambut para pelayad yang terus berdatangan.
“atuh geura urusan eta,nanguan saha?”
“puguh nungguan anakna can datang bae,ja ker gawe cenah”kata nenek
Aku mendengar pembicaraan itu dan aku tahu maknanya, namun aku memilih untuk tidak turut campur karena aku tidak memiliki tenaga sama sekali untuk itu.
Selama beberapa lama aku duduk di tempat itu, bahkan Mey kembali padaku dan duduk dipangkuanku. Aku merasa Mey seperti mengerti apa yang tengah terjadi,bahkan ia pun memilih untuk banyak diam dalam pangkuanku.
“Mah, masih lama gak? Kasian kalau lama-lama” kataku
“kita nunggu anaknya dulu”
“kalau masih lama gak usah ditunggu” kataku datar
“Lia...”
Tidak lama serombongan motor datang bersamaan yang tidak lain adalah anak-anak dari kakek
yang datang. Sama sepertiku, mereka pun mengalami hal yang sama, entah lebih besar atau bahkan
lebih kecil dariku.
“Mey sama teteh Nia sama Om Ragil ya di kamar nenek aja. Jangan keluar. Nanti Ibu siapin makanan di dalam. Nia temenin Mey ya di dalam, jangan keluar” perintahku
Anak-anak sudah berada di dalam kamar, sedangkan yang lainnya bersama denganku di luar. Ada satu hal yang tidak kusangka terjadi pada saat itu, anak-anak kakek mempermasalahkan biaya yang harus mereka keluarkan.
Aku yang melihat hal itu lantas menegur mereka dengan keras.
“gak sepatutnya kalian ngomongin itu sekarang. Seharusnya kalian sudah antisipasi untuk hal ini. Gimanapun dia bapak kalian
Kalian gak perlu repot-repot ngeluarin uang untuk itu.” Ujarku
Aku yang kesal naik pitam saat itu juga, “Mas tolong kamu urus semuanya sampai selesai, aku serahin semuanya sama kamu”
Jasad kakek pun segera dimandikan dan kemudian langsung dimakamkan hari itu juga. Aku merasa benar-benar kehilangan. Rasa kehilangan itu sangat besar bagiku, mengingat dialah orang yang telah merawatku sejak kecil.
Untuk itu aku masuk ke dalam kamarnya untuk melihat barang-barang peninggalannya. Aku memegangnya satu persatu dan merapihkannya. Namun disaat yang sama, salah seorang anak kakek datang untuk mengambil barang-barang berharga kakek.
“mau apa kamu?” tanyaku
“mau beresin barang bapak”
“gak perlu, ini udah aku beresin semua”
“ya kan pasti ada buat anaknya”
“apa? kamu cari apa sebenernya? Barang berharga? Gak ada”
“pasti udah kamu ambilkan?”
“untuk apa aku ambil barang kakek? Semua barangnya bakal aku simpan atau aku sumbangin” kataku sembari mencoba tenang
“sebelum ke orang ke anaknya dulu”
Tanpa berbasa-basi orang tersebut langsung mengobrak-abrik kardus-kardus berisi barang kakekku. Aku melihatnya sangat marah dan kemudian menggebrak meja.
“mau apa kamu sebenernya? Hah! Kakek gak punya Rolex, mau cari apa? barang berharganya cuma ini, buku-buku. Dan ini udah jadi milikku. Sekarang mending kamu keluar”
Perdebatan pun tidak bisa dihindari, kami berdebat hebat. Sampai akhirnya beberapa orang datang untuk melerai kami.
“terserah, sekarang kamu cari barang yang kamu mau, setelah itu tolong pergi” kataku
***
Kejadian kelam itu tidak akan bisa aku lupakan sampai kapanpun. Setelah tujuh hari kematiannya, aku memilih untuk kembali ke Jakarta mengingat banyak hal yang harus segeraaku dan Mas Hari selesaikan. Aku tidak bisa selamanya berada dalam kedukaan.
Dengan berat hati aku meninggalkan nenek seorang diri bersama dengan orang tua dan adik-adikku. Sebenarnya berat meninggalkan mereka, tapi aku juga tidak bisa terus berada di sana. Terlebih saat Mba Ros mengatakan ada sepasang orang tua yang mengaku sebagai orang tua kandung Mey.
Jujur. Saat ini aku benar-benar kacau. Aku sudah kehilangan kakek, dan kini aku merasa seolah akan kehilangan Mey pula.
Sebenarnya berat bagiku untuk bertemu kedua orang tua itu, namun Mas Hari meyakinkanku agar aku melakukan tugasku dengan benar.