To be Continued

To be Continued
Sembilan Belas: KDRT



Rumahku yang besar terasa begitu ramai dengan keberadaan dua orang anak kecil yang lucu, Retnayu dan Rangga. Seperti yang sudah kalian tahu, aku memperlakukan mereka seperti anakku. Meski usia mereka masih sangat belia, aku selalu mengajak mereka berbicara dalam banyak bahasa. Terkadang aku menggunakan bahasa Indonesia, bahasa Inggris, bahasa Belanda, dan bahasa Sunda. Tapi selain itu, orang tuanya pun terkadang emngajak mereka berbicara menggunakan bahasa Jawa. Hal seperti itu sangat menyenangkan bagiku. Aku ingin memberikan seluruh ilmu yang kupunya kepada mereka.


Jika aku tidak bekerja, aku akan menghabiskan waktu bersama dengan dua bocah ini. Aku akan menghabiskan waktu berjam-jam untuk itu. Bahkan aku membagi tugas dengan Mbak Yayu untuk menidurkan mereka.


Biasanya Retnayu yang menjadi pelampiasanku. Aku akan memakaikan dia banyak barang-barang yang lucu agar dia terlihat menggemaskan. Semenjak ada mereka dalam hidupku, aku selalu berfikir untuk memberikan apapun yang terbaik bagi mereka.


Hari itu, aku dan Mba Yayu berusaha mengajak kedua anak itu bermain di lantai dua. Kami bermain di tempat yang cukup luas di antara pintu kamar kami. Tempat itu sudah seperti taman bermain bagi mereka, karena begitu banyak mainan milik mereka yang berserakan.


“Retnayu, show me the doll”


“this..”


“waw good job”


“Rangga, what is it?”


“ball”


“good job”


“Cah Ayu, boleh Ibu minta sesuatu?”


“apa Bu?”


“Ibu mau pindah kamar aja, Ibu gak sanggup kalau harus naim turun tangga”


“Ibu yakin?”


“Iya Ndok”


“ya sudah, nanti aku minta Mba Yati sama Mbok Sum untuk beresin kamar yang di depan tangga untuk Ibu.”


“makasih ya Ndok..”


Begitulah aku bermain bersama mereka. Setiap kali aku melakukannya, ibu akan selalu duduk dikursi dan memperhatikan kami. Namun ditengah kebersamaan kami itu Mba Yati datang mengejutkanku.


“maaf Bu, didepan ada perempuan nyariin Ibu”


“saya?” tanyaku


“iya, katanya temen Ibu. Tapi mukanya bonyok Bu”


Aku heran dengan apa yang dikatakan Mba Yati. Tanpa banyak berfikir aku segera turun untuk menemui wanita yang dimaksud Mba Yati.


“iya...” kataku dari balik pintu


Wanita itu menoleh, dia langsung memelukku sesaat setelah melihatku.


“Ya.. tolong Gua Ya. Tolongin Gua. Gua gak tahu lagi harus kemana”


“Winda? Lu kenapa?” kataku


“Ya...Lia”


Aku segera membawanya masuk ke dalam rumah dan meminta Mba Yati untuk mengambilkan minum.


“Da, cerita sama Gua kenapa Lu sampe kaya gini?”


“Gua dipukulin suami Gua Ya”


“apa? ko bisa? Alasannya apa?”


“Gua udah gak tahan sama dia, dia mukulin Gua terus. Gua bisa mati Ya”


“Ya Allah Da. Udah Lu tenang aja, sekarang Lu tinggal aja di sini sampai keadaan lu lebih baik”


“Ya, jangan kasih tahu siapapun kalau Gua di sini. Suami Gua pasti cepet tahu kalau Gua di sini. Gua kabur ya, dia juga gak tahu rumah lu jadi jangan kasih tahu siapapun ya”


“Gua gak akan kasih tahu siapa-siapa. Lu tenang aja”


Aku berusaha untuk menenangkan dia. Aku memeluk Winda dengan sangat erat.


Kami berdua dikejutkan oleh kedatanagn Mba Yayu dan Ibu. Mereka segera membrondong kami dengan banyak pertanyaan tentang keadaan Winda.


“Mba Yayu boleh tolong panggilkan dokter?”


“iya tentu”


“Mba Yati tolong siapkan kamar tamu”


“i..iya Bu”


“Da, Lu tenang aja. Lu disini aman”


“Lia..”


Aku segera membawa Winda masuk ke dalam kamarnya. Aku membuatnya merebahkan diri dan berusaha membuatnya nyaman berada di dalam rumahku.


“Da, sebentar lagi dokter datang”


“makasih ya Ya..”


Aku pergi meninggalkan Winda di dalam kamarnya dan kemudian aku menghampiri Mba Yayu dan Ibu yang sedang menunggu di ruang tengah.


“gimana dia?”


“dia udah lebih tenang Mba”


“kau harus meyakinkannya untuk membuat laporan untuk kasus ini”


“Iya Ibu, aku juga memikirkan itu”


Kami duduk bersama memikirkan apa yang terjadi pada temanku. Tidak lama berselang setelah itu dokter yang aku panggilkan pun tiba. Di saat yang sama pula Mas Hari dan Mas Indra datang.


“ada apa? siapa yang sakit?” tanya Mas Indra


“apa yang terjadi? Kenapa ada dokter?” tanya Mas Hari


“temanku. Sebelah sini dokter”


Aku membawa dokter tersebut ke kamar Winda. Mas Hari dan yang lainnya pun turut serta untuk melihat keadaan Winda.


“dia kenapa?” bisik Mas Hari


“aku jelasin nanti Mas”


“saya sudah memriksanya dan juga menuliskan resep obat untuk lukanya. Tapi sebaiknya kalian membawa dia ke rumah sakit untuk mendapat perawatan” kata dokter


“baiklah. Terima kasih”


Mas Hari mengantar dokter tersebut keluar. Sementara itu, aku, Ibu dan Mba Yayu tetap berada di dalam kamar menemani Winda.


“Nak, kamu jangan sedih. Kita semua ada di sini untuk bantu kamu Nak. Yang sabar ya” kata Ibu


“kita tinggal dulu ya Da. Lu istirahat aja. Kalau Lu siap cerita, Lu bisa panggil Gua”


“iya. Makasih ya”


Selanjutnya kami pun pergi meninggalkan Winda sediri dan membiarkannya beristirahat di dalam kamar. Selagi Winda beristirahat aku pun memilih untuk menmui Mas Hari yang sudah berada di dalam kamar lebih dulu.


“Mas...”


“duduk sini”


Aku mendekati Mas Hari dan kemudian duduk dihadapnnya.


“ceritakan semuanya sama Mas”


“sebenarnya, Winda belum cerita apapun. Tadi dia dateng tiba-tiba. Ya kaya gitu”


Mas Hari menatapku. Dia benar-benar menatapku kali itu. Lalu tiba-tiba dia memelukku.


“entah apa perasaanmu waktu liat dia”


“aku takut. Jujur aku takut Mas”


“Mas janji, itu semua gak akan pernah kamu alami”


Aku meraih tangannya. Aku menciumnya. Aku sangat yakin dengan apa yang dikatakn oleh Mas Hari, karena dia memang tidak pernah sekali pun mengangkat tangannya padaku.


“Mas, gimana sama Mas Indra? Dia udah dapet pekerjaan?”


“Allhamdullilah...”


“syukurlah”


Aku memeluk Mas Hari. Entah apa yang sedang terjadi aku sanagt merindukannya hari itu. Aku memintanya untuk memelukku lebih lama saat itu.


Malam itu, selepas menikmati makan malam, kami berempat berkumpul bersama. Kami berbincang bersama mengenai banyak hal. Tanpa Ibu ataupun anak-anak. Kami bisa leluasa berbicara.


“sebenarnya aku kepikiran untuk berenti kerja. Tapi aku gak tahu harus ngapain kalau aku berenti kerja” kataku


“kau bisa melakukan apapun” kata Mas Hari


“aku bisa melakukan apapun, jika Mas Hari terlalu sering pergi keluar kota”


“kau dengar Hari, isterimu mengadu kepada kami”


Kami tertawa bersama.


“kamu benar-benar mau berhenti bekerja?” tanya Mas Hari


“kenapa jadi serius? Dulu sempat kepikiran”


“sekarang?”


“Masih banyak yang datang padaku”


“sebenarnya bukan begitu. Hatinya terlalu baik, saat ada orang yang meminta tolong dia pasti akan membantunya”


“hatinya memang tulus. Aku bangga memiliki adik ipar seperti dia”


“Berhenti memujiku”


“siapa yang memujimu?” tanya Mas Indra


“apa? barusan kalian memujiku habis-habisan”


“kau keliru”


Mereka mentertawakan aku kali itu.


Namun kebersamaan itu tiba-tiba terhenti saat Winda tiba-tiba naik ke lantai dua dan mengejutkan kami.


“Ya, Gua mau ngomong?”


“berdua..?”


“gak perlu”


“kalau begitu, duduk disini”


Aku mempersilahkannya duduk. Kami berempat tidak ada yang beranjak. Dia duduk dihadapan kami semua. Perlahan Winda mulai menceritakan tentang masalahnya kepada kami.


“aku menikah dengannya enam bulan yang lalu. Tapi setelah kita menikah semua sikapnya berubah. Dia menjadi orang yang tempramen. Aku benar-benar tertipu”


“aku tahu..”


“dia akan selalu marah kalau ada masalah sekecil apapun. Bahkan dia rela mukulin aku. Dan masalah kali ini sebenarnya sepele. Karena aku gak masak makan malem. Tapi, tapi itu semua karena dia gak ngasih aku uang untuk belanja, sedangkan aku gak dibolehin kerja lagi”


“orang tua kamu tahu?” tanya Mas Indra


“engga. Aku gak bisa menghubungi siapa-siapa. Aku bisa kemari karena aku kabur”


“dari mana Lu tahu alamat rumah Gua yang baru?”


“Nia. Kita gak sengaja ketemu waktu itu”


“Iya, Nia tahu rumahku yang baru”


“apa kamu berencana melaporkan dia kepolisi?” tanya Mba Yayu


“iya. Tapi aku takut”


“kamu gak perlu takut. Kita semua ada untuk melindungi kamu. Kami mempunyai keluarga yang


siap melawan apapun, maka kami juga rela melakukan apapun sepertinya” kata Mas Indra


Aku tersentuh dengan perkataan Mas Indra dan Mba Yayu. Aku sama sekali tidak menyangka mereka mendukungku dengan sepenuh hati seperti itu.


“Gimana Da?”


“Ya, Gua aja gak berani keluar karena takut kalau nanti ketemu dia”


“kamu gak perlu khawatir, aku kenal salah seorang petugas kepolisian. Kalau kamu mau, besok aku akan memintanya untuk datang” kata Mas Hari


“baiklah. Terima kasih atas bantuan kalian semua”


Aku memeluk Winda dengan erat. Aku merasakan sakit hati atas perlakuan yang diterima oleh sahabatku itu.


“Ya, jangan kasih tahu orang tua Gua ya, setidaknya sampai masalah ini selesai”


“oke...”


Winda meninggalkan kami setelah dia mengatakan semua permasalahannya.


“Dek, jangan pernah mundur saat ada orang yang membutuhkan bantuanmu” kata Mba Yayu


“gak akan. Aku gak akan pernah mundur sampai kapan pun”


Malam semakin larur. Kami pun memutuskan untuk masuk ke dalam kamar kami masing-masing.


“Dek, kamu yain mau berhenti kerja?” kata Mas Hari


Aku yang kala itu sedang melepas aksesoris lantas berbalik dan menatapnya.


“Iya Mas. Aku ngerasa kalau ini udah saatnya aku jadi isteri yang baik”


“Dek, tanpa kamu harus berhenti kerja, kamu udah jadi isteri yang terbaik buat Mas”


“emang Mas punya isteri berapa selain aku?” kataku dengan nada berseloroh


Mas Hari tersenyu, sedangkan aku kembali membelakanginya. Mas Hari kemudian melangkah mendekati aku dan memelukku dari belakang.


“Cuma kamu isteri Mas, kamu isteri Mas satu-satu. Yang Mas cintai”


Aku tersenyum, “kalau begitu kasih aku bukti”


“caranya?”


“izinkan aku berhenti bekerja”


“Dek...”


Aku manatapnya.


“Mas. Mas tahu keahlianku yang lain bukan? Aku bisa menghasilkan uang meski aku hanya berdiam diri di rumah”


“iya..”


“ditambah sekarang ada Ibu. Aku gak mau kalau Ibu sampai berfikir aku isteri yang selalu sibuk dengan urusanku sendiri dan sering meninggalkan rumah”


“engga mungkin ibu berfikiran kaya gitu”


“iya Mas. Tapi aku pengen jadi istri yang baik sekarang. Aku pengen nyambut kamu waktu kamu pulang kerja. Aku ngelakuin ini dan itu di rumah”


“Dek denger. Mas sebenarnya senang kalau kamu mau sepertii itu. Cuma Mas takut nantinya kamu akan menyesali keputusan kamu ini. Jadi kamu fikirkan dulu ini baik-baik”


“sebenarnya, ada satu alasan yang penting”


“apa?”


“aku ngelakuin itu untuk, untuk bisa istirahat. Aku gak mau terlalu sibuk dengan pekerjaan lagi Mas. Aku pengen kita cepet punya anak. Mungkin ini salah satu caranya”


“Dek...”


“aku mohon Mas. Aku, ingin memberikan kamu anak”


Mas Hari memelukku erat. Dia juga mencium kepalaku. Aku pun memeluknya. Ya, memang itu alasana sebenarnya aku ingin berhenti bekerja. Aku sudah memikirkan hal ini sejak aku kehilangan


Rumah Bimbingan.


Aku juga memikirkan mungkinsalah satu faktor aku belum bisa memberi keturunan bagi mas Hari adalah karena kesibukanku.


“Mas dukung semua keputusan kamu”


“terima kasih”


“sekarang kita tidur..”


Kami berdua selanjutnya merebahkan diri di atas tempat tidur. Aku tidur dalam pelukan Mas Hari. Tapi saat itu aku tidak kunjung tertidur.


“Mas...”


“emmm?”


“Mey gimana ya kabarnya?”


“Mey.. mungkin dia sekarang udah senang karena bertemu lagi dengan orang tuanya”


“kalau aja Mey masih sama kita, mungkin rumah jadi tambah rame”


“iya. Tapi nanti kamu juga akan merasakan keributan di rumah, saat Rangga mulai besar”


“mereka pasti akan bertengkar. Mas, boleh aku minta satu hal dari kamu?”


“katakan?”


“janji dulu, kalau Mas mau ngasih apa yang aku mau”


“Mas Janji”


“berikan semua pengetahuan dan kemampuan Mas untuk Retnayu dan Rangga. Aku ingin mereka


memiliki kemampuan darimu, dariku, dan juga dari orang tuanya. Aku ingin menjadikan mereka anak-


anak yang memiliki banyak kemampuan di luar kemampuannya sendiri”


“panjang sekali pemikiranmu, mereka kan masih kecil”


“Lalu, apa yang kamu mau?”


“berikan kemampuanmu pada mereka. Yang terpenting aku ingin mereka juga menguasai banyak bahasa”


“kenapa begitu?”


“karena itu akan berarti untuk mereka kelak. Setidaknya mereka bisa menguasai baasa Indonesia, Inggris, dan Belanda. Mungkin juga mereka menguasai bahasa Jawa atauu Sunda”


“apa gak terlalu berat buat mereka?”


“aku harap engga. Karena itu akan menjadi bahasa ibu untuk mereka”


“oke, mulai sekarang Mas Akan ajarkan itu semua”


“dan aku juga mau melakukan hal yang sama pada anak kita nanti”


“lakukan apapun yang menurutmu baik. Tidurlah”


Hari itu aku tutup dengan sebuah harapan yang besar. Kini aku mulai memikirkan tentang masa depanku dan juga masa depan anak-anak itu. Aku ingin menjadikan mereka sebagai anak yang memiliki banyak kemampuan yang nantinya akan berguna bagi mereka kelak.


Di hari selajutnya aku bangun seperti biasa. Lebih pagi dari pada Mas Hari karena aku harus membuatkan sarapan untuknya.


Setelah mencuci wajah dan menyikat gigiku, aku segera turun untuk membuatkan sarapan. Tapi, ketika aku sampai di dapur aku melihat Mba Yayu sudah ada disana.


“Mba..?”


“sudah bangun kamu Dek?”


“Mba lagi apa?”


“Mba mau bikin sarapan”


“gak perlu, biar aku aja yang bikin ya”


“Dek. Mba juga tinggal disini dan Mba bukan tamu, Benar?”


“iya..”


“karena itu Mba harus ngelakuin semua ini. Jangan pernah memperlakukan Mba seperti tamu”


Aku tersenyum, “baiklah kalau begitu. Ayo kita lakukan berdua”


Tiba-tiba Mbok Sum datang menghampiri kami.


“Maaf Bu, saya terlambat”


“gak apa-apa Mbok. Mulai sekarang Mbok gak perlu siapin sarapan untuk kita, karena aku dan Mba


Yayu yang akan melakukannya, oke Mbok?”


“inggih Bu” kata Mbok Sum dengan nada suara yang ragu


“kalau begitu saya permisi Bu” katanya lagi


“sekarang dapur ini milik kita berdua. Jadi kamu bikin apa?” tanya Mba Yayu


“Mas Hari biasanya makan roti tawar atau nasi goreng, atau nasi sangarai. Jadi aku mau bikin nasi goreng aja”


‘Hari makan itu?”


“iya..”


“beda banget sama Mas nya. Setiap sarapan harus ada tempe atau tahu, ayam atau ikan”


“ya sudah, semuanya ada di dalam kulkas”


Kita berdua segera menyiapkan semua bahan. Kami mengambil sayuran, ikan, tempe, dan bahan-bahan lainnya. Selanjutnya, kami membagi tugas untuk membuat masing-masing menunya.


“Oya Dek, hari ini kamu akan ngurus masalah temanmu itu kan? Mba gak tega deh liatnya”


“iya Mba, aku akan minta Mas Hari manggil polisi ke rumah, karena rasanya gak aman kalau Winda keluar dari rumah”


“baguslah. Mba berharap dia baik-baik aja”


“Iya Mba. Oya Mba, semalam aku udah ngobrol sama Mas Hari"


"Tentang apa?"


"Tentang pengunduran diriku. Aku mau berenti kerja Mba"


" apa? Kamu yakin Dek? Apa gak sayang kamu sama pekerjaanmu ini? Karena yang Mba tahu ini semua itu mimpinya kamu"


"Iya Mba, aku udah yakin banget. Rencana ini sebenernya udah lama aku pikirin tapi aku baru bisa obrolin sekarang sama Mas Hari"


"Mbok yo kamu pikirkan dulu matang-matang, biar kamu gak nyesel nantinya"


"Iya Mba, insyaallah akubudah ambil keputusan yang terbaik"


"Ya sudah, Mba cuma bisa mendoakan yang terbaik buat kamu aja Dek"


"Matur nuwun Mba"


Kami kembali melanjutkan pekerjaan kami sembari terus saja berbincang tentang banyak hal.


Setelah semua menu sarapan selesai dibuat, aku meminta agar Mbok Sum menyajikan semua menu sarapan itu di meja makan. Sementara itu aku dan Mba Yayu memilih untuk kembali ke dalam kamar dan mengurus keperluan kita masing-masing.


Ketika itu aku pun bersiap-siap untuk pergi bersama dengan Mas Hari. Setelah selesai bersiap aku dan Mas Hari segera kembali menuju meja makan untuk menikmati menu sarapan bersama.


Kami menikmati waktu sarapan bersama, dan disaat yang sama aku pun meminta Mas Hari untuk mengantarku ke kantor.


"Ko tumben?" tanya Mas Hari


"Aku mau nyerahin surat penhunduran diri Mas"


"Apa? Kenapa toh cah Ayu? Kenapa kamu mau berhenti kerja?"


"Aku mau lebih banyak waktu aja Bu sama keluarga"


"Tapi kan gak perlu berhenti toh Ndok?"


"Gak sayang kamu Dek sama kerjaan kamu? Kamu udah pinya posisi lo" kata Mas Indra.


"Engga Mas, aku udah yakin sama keputusanku. Yang aku mau sekarang aku punya lebih banyak waktu sama kalian"


"Ya sudah kalau itu keputusanmu"


"Kalau gitu kamu gak akan bantuin Gua lagi ya?" tukas Winda


"Engga gitu Da. Gua bakalan tetep bantu Lu sampai Lu dapet keadilan"


"Tapi Lu berhenti kerja jadi gimana Lu bantuin Gua?"


"Emang kenapa? Gua akan tetep bantuin Lu dengan atau tanpa status Gua"


"Tapi..."


" udah"


Setelah menyelesaikan sarapan kami, aku dan Mas Hari beriap untuk pergi menuju kantorku untuk menyerahkan surat pengunduran diriku.


Ketika tiba tanpa mengulur lebih banyak waktu, aku langsung pergi menemui atasanku untuk menyerahkan surat pengunduran diriku.


seperti yang sudah aku duga, atasanku terkejut dan dia pun mempertanyakan keputusanku.


"Dengar Natalia, aku sama sekali tidak pernah mengharapkan hal ini darimu. Kamu adalah orang terbaik dan telah mendapat banyak kepercayaan dari orang sekitar"


"Saya mengerti Pak, tapi ini sudah jadi keputusan saya. "


"Sebenarnya, saya sudah menyiapkan satu kasus untukmu dan sayq ingin kamu menyelesaikan kasus ini"


"TaPi Pak, saya tidak....."


"Kamu baca saja dulu setelah itu baru putuskan. Aku berjanji ini akan jadi kadus terakhirmu" katanya sembari menyodorkan berkas


"Baiklah Pak. Kalau begitu saya permisi"


Aku kembali meninggalkan ruangan itu dengan sebuah map cokelat ditanganku. Entah masalah apa yang sedang menunggu untuk aku selesaikan tapi aku sama sekali tidak berminat untuk membaca


berkas itu saat ini.


"Dengar Natalia, saya mengharapkan yang terbaik darimu"


"Saya mengerti Pak, tapi saya tidak berjanji jika saya akan menangani kasus ini"


"Natalia, saya menyiapkan kasus ini untukmu. Saya tidak berani memberikan kasus ini kepada orang lain karena saya yakin hanya kamu yang bisa"


"Akan saya pikirkan Pak. Permisi"


Dengan perasaan yang tidak menentu, aku berjalan keluar meninggalkan ruang kerja atasanku itu dengan sebuah berkas ditanganku.


Jujur, aku sama sekali tidak berminat menangani kasus yang satu ini karena memang aku sudah berniat untuk tidak terlibat dalam kasus apapun lagi.


Dengan lemah lesu aku berjalan menghampiri Mas Hari yang saat itu sedang sibuk berbicara melalui ponselnya.


Aku berdiri di belakang Mas Hari sembari menunggunya selesai berbicara dengan seseorang yang sama sekali tidak aku ketahui.


Tidak lama setelahnya Mas Hari pun mengakhiri perbincangannya dan kemudian berbalik menatapku.


"Sudah selesai?" tanya Mas Hari


"Iya"


"Tadi Susilo telpon, dia bilang akan datang ke rumah sekitar pukul dua"


"Kalau gitu kita bisa pulang sekarang" kataku dengan wajah datar


"Kenapa? Ada masalah?"


"Engga ada Mas"


"Kamu bohong kan?"


"Kita pulang aja Mas"


"Yakin kamu gak mau cerita?"


"Pimpinan nolak pengunduran diriku Mas"


"Kenapa?"


"Dia minta aku untuk nyelesain satu kasus lagi"


"Lalu?"


"Aku gak bisa Mas. Aku gak mau terlibat lagi sama hal kaya gini"


"Udah kamu baca kasusnya? Udah kamu pelajari?"


"Belum"


"Kalau gitu kamu pelajari dulu, setelah itu kamu baru bisa ambil keputusan"


Aku hanya bisa diam mendengar penuturan Mas Hari. Aku tidak ingin berdebat atau memikirkan hal apapun saat itu.


Aku memalingkan wajahku ke arah luar, dan disaat yang sama aku melihat seorang pria yang tepat melihat lurus ke arahku. Pria itu tidak lain adalah suami Winda. Seketika jantungku berdetak dengan kencang. Aku rasa wajahku pucat saat itu. kakiku tiba-tiba berjalan mundur hingga hampir membuatku terjatuh.


"Ada apa?" tanya Mas Hari


"Dia.... Suami Winda"


Spontan Mas Hari melirik pula ke arah lelaki yang sekarang mulai berjalan mendekati kami.


"Tenanglah" kata Mas Hari


Aku berusaha mengendalikan diriku dan berusaha untuk tetap tenang. Selang beberapa saat lelaki itu pun datang dan tiba dihadapan kami.


"Natalia?" tanya pria itu


Aku gugup selama beberapa saat, "iya...?"


"Kamu masih ingat saya? Saya suaminya Winda"


"Oh iya, aku ingat. Kenapa? Ada apa?"


Mas Hari menatapku terus selama aku menjawab pertanyaan lelaki itu.


"Gini, aku mau tany la tentang Winda"


"Winda? Ada apa emangnya?"


"Kamu tahu Winda pergi kemana? Maksudku aku gak bisa ngontak dia selama beberapa hari ini"


"Ko gitu? Emang kalian ada masalah? Winda sih gak ada nelpon aku atau gimana"


"Oh gitu ya. Kira-kira kamu tahu gak Winda pergi kemana biasanya?"


"Aku kurang tahu juga, karena emang udah lama aku gak kontekan sama dia"


"Ya sudah kalau begitu. Kalau kamu tahu tentang Winda tolong kabarin saya"


"Iya, tentu"


Pria itu segera pergi meninggalkan kami. Aku merasa seperti sebuah beban berat sudah terangkat


dari tubuhku. Selanjutnya aku meminta untuk segera pergi.


Aku sama sekali tidak mengerti kenapa aku menjadi sangat takut saat berhadapan dengan seseorang. Aku juga meminta agar Mas Hari segera menghidupkan mobilnya untuk segera membawaku pergi.


Mobil kami pun menyala dan kami berdua melewati lelaki itu.


Sekilas memang tidak ada yang salah dengan lelaki itu. Tapi entah kenapa aku merasa ada sosok


yang menakutkan dibalik dirinya. Sosok yang sangat mengerikan hingga membuatku gugup saat berhadapan dengannya.


Kami kembali menuju rumah....


Setibanya kami di rumah, tampat pertama yang aku kunjungi adalah kamar Winda. Tapi ketika aku membuka pintu kamarnya, aku sama sekali tidak menemukan Winda disana.


Spontan aku mencari Winda di seluruh tempat di rumahku tapi aku sama sekali tidak menemukannya juga.


"Mba, Mba lihat Winda?"


"Engga. Emang dia gak ada dikamarnya?"


"Engga ada Mba"


"Mba juga kurang tahu Dek "


Aku segera memanggil semua asisten rumahku untuk menanyakan keberadaan Winda. Tapi bahkan semua orang dirumahku tidak ada yang mengetahui keberadaan Winda.


"Astaga, dia pergi kamana?"


Aku menjadi panik seketika. Aku memikirkan bagaimana jika hal - hal buruk terjadi pada Winda saat ini. Seisi rumah melihat kepanikanku saat itu. Tapi mereka sama sekali tidak bisa berbuat sesuatu untuk menenangkanku.


Aku berlari keluar rumah. Mencari dan menunggunya jika ia memang benar-benar pergi meninggalkan rumah. Aku berdiri tepat di depan pintu rumahku. Namun satu hal yang membuatku terkejut saat itu adalah laki-laki yang menghampiri kami saat itu kini sedang berdiri tepat di depan rumahku.


Aku terkesiap seketika dan hampir saja tubuhku terjatuh lemas sebelum akhirnya Mas Hari menahan tubuhku.


"Ada apa?"


"Dia pagi.. Dia di depan rumah"


Aku menunjuk ke arah pria itu tanpa menolehkan kepalaku.


"Siapa?"


"Dia, suami Winda"


"Gak ada siapa-siapa Dek?"


"Apa?"


Aku menoleh ke arah pria tersebut dan benar saja memang tidak ada siapapun disana. Tapi aku yakin sekali jika memang pria itu ada di depan rumahku.


"Ayo masuk Dek, Mas rasa kamu lagi kurang sehat"


"Mas..."


"Ayo..."


Mas Hari memapahku menuju ke dalam rumah dan dia mendudukanku di kursi meja makan. Mas Hari juga mengambilkanku segelas air putih dan kemudian ia duduk dihadapanku.


"Kamu kenapa toh Dek? Mas lihat kamu gak nyaman banget hari ini"


"Aku gak tau Mas. Pikiranku kacau."


"Apa yang kamu pikirin? Winda atau tentang kasus itu?"


"Dua-duanya. Entah kenapa itu jadi pikiranku sekarang. Aku jadi gak tenang"


"Masalah Winda, akan kita urus. Dan masalah kasus itu kamu bisa pikirin nanti kalau perasaan sama pikiran kamu udah tenang ya"


"Iya Mas"


"Sekarang kamu tenang oke?"


Aku berusaha menenangkan pikiranku saat itu. Dan pada saat yang sama aku terfikir akan Sherly, rekan kerjaku. Aku merasa dia orang yang tepat untuk mengurus kasusku dan aku bisa berhenti bekerja tanpa terlibat apapun lagi.


Pikiran itu hanya sebatas pikiran bagiku karena disaat yang sama Winda datang dan muncul dihadapanku.


"Da Lu kemana aja?" kataku dengan panik


"Gua pulang Ya"


"Pulang? Maksud Lu pulang?"


"Gua pulang ke rumah karena ada barang yang harus Gua ambil"


"Astaga Winda, Lu tahu gak bahayanya?"


"Lu tenang aja dia gak ada di rumah"


"Dia gak ada di rumah karena dia nyamoerin Gua dan Gua liat dia di depan rumah. Da Gua gak tahu seberapa sakitnya dia, tapi Gua minta Lu gak pergi sendiri lagi"


"Iya Ya, Gua minta maaf"


"Ya udah. Sebentar lagi Pak Susilo datang. Dia yang akan ngurus kasus Lu"