
Hari ini tiba-tiba aku dikejutkan oleh kedatangan Sherly. Tanpa informasi apapun dia datang mengunjungi di rumah. Sudah lama aku tidak bertemu dengannya, terakhir kami bertemu sebelum ia pergi untuk mengurus kasus yang kuberikan padanya. Sudah cukup lama. Aku tahu kedatangannya kali ini juga pasti ada hubungannya dengan kasus tersebut. Aku lontarkan senyuman padanya saat ia mulai mmemasuki pintu rumahku. Kupeluk ia dengan ramah dan lantas menanyakan kabarnya. Sebagaimana Sherly dengan segala tindak tanduknya, ia mencium pipi kiri dan kananku sembari mengatakan jika keadaanya kurang baik, lalu berjalan masuk ke dalam rumahku tanpa aba-aba dariku.
“aduh Mba aku pusing sama kasus ini. Aku nyerah. Udah Mba aja deh yang urus, gak ada orang juga yang mau Mba, udah ribet kasusnya, tempatnya jauh, ampun deh aku” ujar Sherly
“mau minum apa?” tanyaku dengan nada suara tenang
“apa aja deh” katanya dengan ketus
Aku segera membawa Sherly ke lantai dua rumahku, karena disanalah tempat kami biasa berbincang. Aku berusaha setenang mungkin mengimbangi Sherly yang sedang kesal. Biasanya aku tidak pernah bisa bersikap lebih tenang dari lawan bicaraku yang sedang emosional, tapi kepada Sherly dan sejak kehadiran Bagus, aku sudah mulai bisa mengontrol emosiku dengan cukup baik.
“jadi kamu sudah sampai mana?”
“udah setengah jalan Mba”
“lah itu, kan sayang Sher kalau kamu mundur dari kasus ini”
“ya tapi Mba, aduh ampun deh aku”
“gini deh, coba kamu ceritain masalah intinya apa?”
“masalah inti yang sebenarnya bisa dibawa kepengadilan langsung. Tuntas deh tuh”
“iya apa?”
“aduuuh, gini lo Mba. Ada anak yang maksa buat ngejual tanah milik orang tuanya....”
Sherly menceritakan semua permasalahan yang sebenarnya bisa dibawa ke ranah hukum. Tapi di sini aku melihat jika masalah ini bukan hanya sekedar masalah hukum tapi banyak masalah lain yang tidak bisa diselesaikan secara hukum. Aku terdiam dan dengan seksama mendengarkan penuturan Sherly yang penuh dengan emosi. Kemarahan Sherly tidak lain bukan karena kasus yang tidak bisa ia hadapi, melainkan karena persoalan inti yang berhubungan dengan orang tua yang membuatnya sangat emosional seperti itu.
“aku udah nyerah beneran Mba”
“Sher, Mba minta kamu gak mundur. Tapi Mba janji, Mba akan turun tangan langsung dan Mba butuh kamu di lapangan”
“ya ayo Mba”
“gak bisa sekarang Sher. Sekarang aku harus mikirin banyak hal sebelum ngambil keputusan apapun, apalagi untuk hal ini”
Aku mulai menceritakan pada Sherly tentang Bagus, yang kini menjadi alasan utama bagiku untuk memikirkan segala hal sebelum melakukan sesuatu. Sekarang aku sudah tidak bisa lagi melakukan sesuatu hanya atas keinginganku, tapi juga harus memikirkan Bagus yang kini sudah menjadi tanggung jawabku.
Mendengar penuturanku tentang Bagus, Sherly menjadi berkaca-kaca. Emosinya yang semula meledak-ledak mulai stabil dan berganti dengan keinginannya untuk bertemu dengan Bagus, yang dalam angan-angannya adalah sosok yang sangat luar biasa hingga mampu menaklukan hatiku.
Aku bisa melihat bagaimana antusias Sherly yang tidak dibuat-buat dan karena hal itu pula aku memutuskan untuk mempertemukan Sherly dengan Bagus untuk pertama kalinya. Selanjutnya aku membawa Sherly menuju kolam renang karena di sanalah Bagus dan Retnayu tengah bermain bersama. sepanjang langkah kami menuju kolam renang, tidak henti-hentinya Sherly meluapkan kegembiraannya karena akhirnya dia bisa bertemu dengan Bagus.
Akan tetapi ketika tiba di tempat tujuan kami, hal kurang mengenakan terlihat olehku dan Sherly. Melihat hal itu seolah jantungku berhenti berdetak dengan tiba-tiba. Aku dan Sherly melihat
Sonita tengah meneriaku Bagus yang saat itu hanya bisa diam tertunduk, sedangkan Retnayu hanya diam terpaku bersama dengan mainannya melihat sesatu yang tidak bisa ia mengerti.
Setelah beberapala lama terdiam menyaksikan hal buruk seperti itu, spontan saja aku melangkahkan kakiku untuk menghampiri Bagus dan Sonita. Aku menatap Sonita dengan tatapan penuh kemarahan, tapi saat itu aku tidak berani mengataka apapun karena Bagus dan Retnayu ada di dekatku. Sementara aku menatap Sonita dengan kemarahan, Sherly yang paham akan diriku segera menggendong Retnayu dan membawa Bagus meninggalkan kami berdua. Setelah dirasa apa yang akan aku lakukan tidak dilihat oleh anak-anak segera aku melayangkan tamparan ke wajah Sonita yang berada dihadapanku. Tentu saja tindakanku itu membuatnya terkejut, karena ini adalah kali pertama aku melakukan kontak fisik dengannya.
“Lia...!” Kata Sonita
“jangan berani-berani menyentuh anak-anakku. Jangan berani kau berteriak pada anakku jika kau tidak mau merasakan hal ini untuk kedua kalinya” kataku dengan nada suara yang tegas
"Lia....!" Teriak Sonita
"Jangan pernah menganggap aku remeh hanya karena aku diam! Sekali kamu menyentuh anak-anakku maka jangan harap kamu bisa tinggal dirumah ini lagi"
"Kamu cuma bisa ngancem! Kamu hanya berani dimulut. Selama aku di sini gak pernah aku liat kamu bertindak apapun!"
"Itu karena Ibu dan Suamiku masih menuruh hormat padamu. Tapi jika kamu berani nyentuh anak-anakku lagi maka aku akan lupa siapa dirimu dan apa hubunganmu dengan keluargaku"
Perdebatanku dengannya tidak berlangsung singkat. Bahkan kami harus sampai saling berteriak satu sama lain. Sampai akhirnya dengan segala kekesalanku aku mendorongnya hingga tercebur ke dalam kolam renang, lalu kemudian aku pergi meninggalkannya.
Langkah kaki yang cepat aku arahkan menuju kamar Bagus, jantungku berdegum dengan kencang memikirkan apa yang tengah dirasakan Bagus setelah mengalami kejadian itu. Aku merasa bersalah karena tidak bisa menjaga Bagus hingga membuatnya mengalami hal mengerikan itu. Kupeluk dan kucium Bagus berulang, aku berusaha membuatnya kembali merasanya nyaman dalam pelukanku.
"Kakak, gak sengaja Ibu. Kakak gak sengaja basahin baju tante Nita" kata Bagus dengan ekspresi tegang
"Kakak, kenapa kakak diem aja kak?" tanyaku dengan cemas
"Kakak kan gak boleh ngelawan orang tua" jawab Bagus
"Tapi kalau tindakan itu udah kasar dan kakak gak salah harusnya kakak membela diri"
"Kakak takut Ibu" katanya sembari menenggelamkan wajahnya dalam pelukanku
"Udah kak udah. Gak apa-apa, kakak gak usah sedih."
Suasana di dalam kamar itu menjadi hening seketika, yang terdengar hanyalah isak tangis Bagus yang tak kunjung berhenti. Sakit benar hatiku melihat anakku menangis sedemikian rupa. Rasanya ingin sekali aku meluapkan kemarahanku pada Sonita yang telah membuat Bagus ketakutan.
Di tengah keheningan yang tercipta, tiba-tiba saja Mbak Yayu datang dengan tatapan penuh kekhawatiran. Ditutupnya pintu kamar dan kemudian ia berjalan ke arah kami yang sedang berkumpul. Dia membelai Bagus dan menghujaninya dengan ciuman kasih sayang.
"Mbak tadi dengar semua yang kamu ungkapin ke Nita. Mbak gak percaya Nita bisa berkata seperti itu"
"Aku udah capek Mbak sama dia" kataku tanpa melirik kepada Mbak Yayu
Setelah kejadian itu aku memilih untuk menemani Bagus, bahkan hingga Bagus tertidur dalam pelukanku. Bahkan karena hal itu aku sampai tidak bisa mengantar Sherly keluar saat hendak pulang.
Aku tahu ini terasa sangat menyakitkan bagi Bagus, bahkan mungkin mengingatkannya kembali pada masa kelam ketika ia tinggal bersama dengan tantenya yang memperlakukan ia dengan tidak manusiawi. Rasa takut dan trauma yang kembali muncul dalam diri Bagus membuatku tidak bisa lepas dari cengkraman peluknya. Ia terus memintaku untuk tetap berada di sampingnya. Ia menolak untuk makan, menolak untuk meminum susu, menolak untuk membersihkan diri, yang ia inginkan hanya berbaring di atas tempat tidur sembari terus memelukku bahkan hingga malam tiba.
Semua orang merasa cemas karena hampir sepanjang hari mereka tidak melihatku dan Bagus, dan karenanya satu persatu menjenguk kami yang berada di dalam kamar. Tidak jarang pula mereka datang membawa makanan serta minuman untuk dikonsumsi Bagus yang pada akhirnya sama sekali tidak disentuh Bagus.
Hal itu turut dilakukan juga oleh Mas Hari sepulangnya bekerja. Dia mendapat informasi tentang keadaan Bagus dari Mbak Yayu yang saat itu bertugas menyambut kedatangan Mas Hari dan Mas Indra.
Mungkin sesaat setelah Mas Hari mendengar kabar itu ia langsung bergegas menuju kamar Bagus dengan sebuah nampan berisi makanan kesukaan Bagus. Sama seperti yang lainnya Mas Hari datang dengan semua itu karena berharap Bagus mau memakan semua itu.
Pada saat Mas Hari tiba di dalam kamar Bagus, pandangannya langsung tertuju ke arah kami. Dia berjalan dengan tenangnya dan meletakan nampan tersebut sesaat setelah ia berada di depan ranjang. Didekatinya Bagus, dibelai dan diciumnya dengan hangat.
“Bapak dengar kakak belum makan, sekarang Bapak bawain kesukaa kamu kita makan bareng-bareng ya?” kata Mas Hari
Bukannya anggukan tanda setuju yang diterima Mas Hari, Bagus memilih untuk kembali menenggelamkn wajahnya di pelukanku yang saat itu sedang berbaring disampinya. Bagus kembali menolak makanan yang sengaja disuguhkan untuknya. Baik aku maupun Mas Hari kita berusaha membujuk Bagus untuk mau menikmati makanan tersebut, karena sejak tadi belum ada sedikit pun makanan yang masuk ke dalam perutnya. Tentu saja hal ini membuatku sangat cemas. Jika dibiarkan pasti akan berdampak buruk bagi kesehatannya.
“kak, ayo makan dong. Dari tadi kakak belum makan apa-apa. jangan bikin Ibu khawatir dong kak” kataku
“kakak gak mau makan itu”
“kakak mau makan apa? biar Bapak siapin” kata Mas Hari
Mas Hari terus mengeluarkan jurus andalannya dalam membujuk Bagus agar mau memakan sesuatu. Butuh waktu yang lama dan kesabaran yang ekstra sampai akhirnya Bagus luluh dan mau menuruti apa yang kami inginkan. Tapi meski begitu ia memberikan persyaratan khusus tentang jenis makanan apa yang diinginkannya.
“Kakak mau makan udang saus tirm bikinan ayah” katanya
Sontak aku terkejut mendengar keinginan Bagus. Selain lantaran hari sudah malam, tapi karena persedian udang di dapur sudah pasti tidak ada.
“ya udah ayo Kakak bantuin Bapak masakdibawah, sekalian kita lihat udangnya masih ada apa engga” kata Mas Hari sembari membantu Bagus beranjak dari tempat tidurnya.
Kini Bagus sudah beranjak dari tempat tidurnya dan sudah berada di punggung Mas Hari untuk selanjutnya mereka berdua pergi menuju dapur. Sebenarnya aku merasa tidak tega membiarkan Mas Hari melakukan hal itu, mengingat sudah seharian penuh ia bekerja di luar.
“Kak kalau udangnya gak ada gimana?” spontan pertanyaan itu keluar dari mulutku
“Kakak gak jadi makan”
“kakak..”
“kalau udangnya gak ada kita pergi cari udangnya di super market’ tukas Mas Hari
Satu demi satu kami turuni anak tangga yang cukup banyak dari lantai dua menuju lantai satu. Tanpa menunjukan rasa lelahnya Mas Hari segera memboyong Bagus menuju dapur dan memeriksa setiap bahan yang mereka butuhkan untuk memasak. Tentu saja aku pun membantu mereka menyiapkan setiap bahan yang mereka butuhkan, termasuk memeriksa persediaan udang yang ada di dalam lemari pendingin.
“gimana? Masih ada gak udangnya?” tanya Mas Hari
“Masih, cukup untuk Kakak” kataku
Tidak lama mengulur waktu Mas Hari segera menggulung lengan kemejanya dan mengambil pisau untuk segera membersihkan udang-udang tersebut. Sementara itu aku dan bagus mulai berbagi tugas untuk mempersiapkan segala bumbu yang dibutuhnya. Aku rasa pengorbanan Mas Hari saat itu yang sebenarnya sangat lelah tidak berakhir dengan sia-sia karena aku melihat Bagus bisa kembali melukiskan senyum dan tawanya yang indah.
Kami berusaha menciptakan kebersamaan yang indah bagi bagus, sekaligus untuk membuat Bagus melupakan hal buruk yang baru saja terjadi padanya. Tapi entah apa yang sedang direncanakan Tuhan untukku, di tengah kegembiraan kami menghabiskan waktu bersama tiba-tiba saja Sonita menampakan diri dengan tampangnya yang seolah tidak merasa bersalah. Dia dengan tenangnya melenggang menghampiri kami dan tersenyum ke arah kami. Bagus yang melihat keberadaannya sontak saja menundukan kepalanya, dan aku melihat jelas semua itu. Dan senyumnya yang sedari tadi terukir jelas di wajahnya pasti hanya ditujukan kepada Mas Hari yang sedari tadi sibuk membersihkan udang.
Tentu saja aku tidak tahan melihat senyumnya yang sungguh tidak beretika itu. Segera aku letakan pisau dan bawang merah yang sedang kugenggam. Kuhampiri ia dan sesaat kemudian aku telah berada dihadapannya, dengan tatapan yang dingin tanpa segurat senyum di wajahku. Tidak ada yang aku katakan saat itu, hanya diam menatap Sonita dengan tatapan yang tajam dan penuh dengan amarah. Dari tatapanku itu, aku encoba untuk mengisyaratkan padanya agar segera pergi meninggalkan kami dan tidak berlama-lama berada di sana. Aku rasa Sonita mengerti dengan maksudku, namun ia seolah-olah tidak mengerti dengan pesan yang aku sampaikan. Ia balik menatapku dengan tatapan yang tajam pula, maka terjadilah adegan saling tatap di antara selama beberapa detik.
“Pergi” kataku tiba-tiba
Aku mengatakan kata tersebut dengan penuh ketegasan hingga membuat Sonita menatapku lekat-lekat, “pergi dari sini sekarang” kataku lagi
Sekali aku melihat tatapan Sonita tertuju kepada Mas Hari yang saat itu bahkan tidak menyadari keberadaan Sonita. “Sekarang!” kataku dengan tegas namun berbisik.
Mau tidak mau Sonita pun membalikan badannya dan pergi meninggalkan kami dengan perasaan yang tentu saja sangat kesal. Tapi jika dibandingkan, rasa kesalku jauh lebih besar dari pada rasa kesal yang sedang dialaminya karena pengusiranku itu. Setelah Sonita berjalan jauh meninggalkan kami, aku segera kembali menghampiri Bagus yang masih menundukan kepalanya. Kusentuh dagu putraku itu dengan punggung tanganku, kulayangkan senyuman padanya dan ia pun membalas dengan senyuman kepadaku.
Butuh waktu beberapa hari bagiku dan Mas Hari untuk mengembalikan kepercayaan diri Bagus. Butuh usaha yang lebih ekstra pula untukku meyakinkan Bagus jika aku dan Mas Hari akan selalu ada untuknya dan melindunginya. Kini keadaan Bagus sudah berangsur kembali, bahkan ia menjadi anak yang lebih aktif dan percaya diri. Saat ini Bagus tidak hanya menjadi anak yang percaya diri dan aktif, tapi dia juga tumbuh menjadi anak yang peduli dengan sesamanya.
Rasa peduli Bagus pada sesama semakin terasah setelah aku berulang kali membawanya pergi dalam galang acara kemanusiaan. Meski kini aku tidak lagi mengurusi kasus dibawah satu naungan, namun aku masih sering turun tangan untuk acara kemanusiaan yang ada di sekitarku.
Pada suatu waktu, ketika aku sedang menghabiskan waktu bersama dengan Bagus seusai ia mengerjakan tugas sekolahnya, Bagus menceritakan sesuatu padaku mengenai salah seorang temannya yang tidak pernah lagi dilihatnya di sekolah.
“Kakak udah tanya sama guru-guru kenapa dia gak masuk?” tanyaku
“katanya sih dia sakit”
“terus Kakak udah coba jenguk belum? Eh siapa namanya?”
“namanya Mona, Bu. Kakak gak tahu dimana rumahnya”
Aku memang sengaja melakukan hal itu karena menurutku hal ini merupakan salah satu cara untuk mengasah jiwa kemanusiaan dan peduli pada sesamanya. Aku berharap apa yang aku ajarkan pada Bagus saat ini akan membekas dalam dirinya saat ia tumbuh dewasa kelak.
Tidak perlu waktu yang lama karena keesokan hari setelah Bagus mengatakan hal mengenai Mona, dia telah berhasil mendapatkan alamat rumah Mona dari salah seorang gurunya. Dengan penuh semangat Bagus menunjukannya padaku dan memintaku untuk segera membawanya ke alamat itu.
“kita tunggu Bapak ya?” kataku
“yaah...” jawab Bagus
“sabar dong Kak, nanti sore Bapak udah pulang”
Bagus spontan memelukku yang saat itu sedang bersantai di sofa. Aku yang mendapat perlakuan seperti itu lantas membalas memeluk Bagus sama eratnya. Tidak terhitung sudah berapa banyak pelukan yang saling kami berikan dari sejak saat Bagus tinggal bersama dengan kami, karena memang Bagus sebenarnya merupakan anak yang sangat manja kepada orang tuanya. Bagus bersikap seperti itu tidak hanya padaku, namun juga pada Mas Hari, Mas Indra, Mba Yayu dan bahkan Ibu. Dari sikapnya itu aku bisa melihat jika Bagus sudah benar-benar menerima kami sebagai kelaurganya dengan sepenuh hatinya.
Sesuai dengan janjiku sebelumnya kepada Bagus, maka setelah jam makan malam aku dan Mas Hari menemani Bagus menuju kediaman Mona yang didasarkan pada alamat yang di dapatkan Bagus dari pihak sekolah. Kediaman Mona rupanya masih satu komplek perumahan dengan kediaman kami hanya saja berada di blok yang berbeda, dan untuk itu kami harus menempuh waktu sekitar lima belas menit dengan menggunakan mobil. Sepanjang perjalan menuju kediaman Mona, Bagus tampak sangat tidak sabat. Bagus yang kala itu duduk di kursi belakang memilih duduk lebih dekat ke depan dan matanya terus memperhatikan jalan di depan.
“duduk yang bener dong Kak..” kata Mas Hari
“engga, Kakak mau cari rumahnya”
Satu persatu nomor rumah yang dibaca Bagus, sampai akhirnya tibalah kami di sebuah rumah
nomor 45. Rumah yang tidak kalah besar dari rumah-rumah lainnya, namun karena pagarnya yang tinggi menjulang dan tertutup rapat kita tidak bisa melihat bagaimana keadaan di balik pagar tersebut.
Setelah mobil terparkir dengan baik, maka kami bergegas untuk turun dan mendekati gerbang rumah tersebut. Baik aku maupun Mas Hari berusaha memanggil nama penghuni rumah hingga berulang kali, tapi tak satupun panggilan kami yang beroleh jawaban dari pemilik rumah.
“apa mereka lagi pada keluar kota ya?” tanyaku
“kayaknya sih gitu” jawab Mas Hari
Kami terus saja memperhatikan rumah tersebut dan sesekali mengintip dari sela-sela gerbang, berharap ada sesautu yang bisa kami temukan dari balik gerbang yang tinggi itu. Di saat yang sama, tanpa kami sadari Bagus pergi bergitu saja meninggalkan kami yang sedang berusaha mengintip. Menyadari hal itu aku lantas memperhatikan kemana Bagus pergi. Dari tempatku, aku melihat Bagus menghampiri beberapa orang lelaki yang sedang duduk bersama di sebuah kedai kopi yang tidak jauh dari tempat kami berdiri.
Aku perhatikan Bagus dengan seksama, aku melihat apa yang dia lakukan bersama dengan orang-orang tersebut. Dari gerak gerik yang dilakukannya, aku tahu jika Bagus sedang mencari informasi tentang pemilik rumah yang sedang kami sambangi. Tidak berselang lama Bagus kembali menghampiri kami. Jujur aku merasa sangat bangga dengan apa yang dilakukan olehnya, dengan berani ia melangkahkan kakinya menghampiri orang-orang tersebut.
“Bu, kata bapak-bapak di sana oenghuni rumahnya udah gak pernah keliatan lagi” kata Bagus
“mereka kemana?” tanyaku
“mereka juga gak tahu”
Aku terdiam sejenak memikirkan semua hal itu. Tapi kemudian aku menyimpulkan jika pemilik
rumah sedang pergi keluar kota dalam waktu beberapa hari, sehingga tidak ada siapun yang menjawab panggilan kami sejak tadi.
“ya udah Kak, kita balik lagi nanti ya?”
“iya Bu” jawab Bagus dengan raut muka sedih
Dengan perasaan sedih karena tidak bisa berjumpa dengan temannya, Bagus kembali mendahului kami menuju mobil. Aku tahu bagaimana rasanya mendapati hal tersebut, tapi aku pun tidak bisa berbuat banyak karena memang tidak ada yang bisa aku lakukan. Dengan berat hati kita pun memutuskan untuk kembali ke rumah.
Keesokan harinya, suasana hati Bagus sudah kembali normal, ia memakan sarapannya dengan sangat lahap. Selagi Bagus menikmati menu sarapannya, aku juga mempersiapkan beberapa potong buah untuk bekal bagus.
“Kak, Kakak gak mau bawa nasi buat bekel” tanya Ibu
“engga Nek” jawab Bagus
“Bagus emang gak suka makan nasi siang-siang Bu, dia cuma mau makan buah” tukasku
“gak bagus lo, kamu juga harus makan nasi” tegas Ibu
“tuh Kak dengerin. Ibu bawain juga ya”
“ya udah, tapi dikit aja”
Segera aku pun mempersiapkan bekal makanan untuk Bagus. Aku siapkan nasi, nugget ayam dan sayur bening kesukaan Bagus. Perlahan aku menyiapkan semua itu.
“Ibu, Kakak lupa kalau hari ini ada pertemuan wali murid” kata Bagus tiba-tiba
Sontak aku terkejut dengan pernyataan Bagus, “Kakak, kenapa gak bilang dari kemarin?”
“Kakak lupa Ibu”
“yah gimana dong?” seketika aku pun berubah panik
“ya udah, ini biar Mba yang selesain, kamu sekarang siap-siap aja” kata Mba Yayu
“ya udah, tolong ya Mba. Kakak selesai makan langsung pergi sama Bapak ya?”
“Kakak mau bareng sama Ibu aja”
“engga bisa. Kalau Kakak bareng sama Ibu nanti telat. Udah Kakak pergi aja sama Bapak nanti Ibu pergi sama Mang Ujang”
Aku tinggalkan semua aktifitasku di dapur dan bergegas pergi menuju kamar untuk bersiap-siap. Aku sendiri tidak yakin apakah aku memiliki waktu yang cukup untuk bersiap dan menghadiri acara tersebut tepat waktu. Sebisa mungkin aku bergerak dengan cepat. Aku membersihkan diri, berdandan dan menata diriku serapih mungkin, baru kemudain setelah segalanya selesai aku bergegas pergi menuju sekolah Bagus bersama dengan Mang Ujang.
Benar dugaanku, ketika sampai di sekolah acara sudah berjalan dan dengan sangat menyesal aku datang terlambat di antara para orang tua lainnya. Setelah berhasil mendapatkan tempat duduk aku langsung memfokuskan diri pada apa yang sedang disampaikan oleh wali kelas Bagus. Pertemuan itu berlangsung cukup lama karena banyak hal yang disampaikan oleh wali kelas tersebut.
Barulah dua jam berlangsung pertemuan itu usai. Satu persatu wali murid saling berhamburan keluar ruangan dan menemui anak-anak mereka untuk selanjutnya pulang bersama. Hal serupa pun turut aku lakukan. Bersama dengan Bagus, kami berdua berjalan menuju gerbang sekolah untuk selanjutnya menuju mobil. Akan tetapi di tengah perjalan utu tiba-tiba saja langkahku terhenti saat Bagus menunjuk seseorang yang berada di hadapannya.
“itu Mona Bu” kata Bagus
Sontak aku pun mengarahkan pandangan menuju arah yang ditunjuk oleh Bagus. Dari tempatku berdiri, aku melihat seorang wanita sedang berdiri sendiri dengan kedua tangannya saling berpegangan, kepalanya tertunduk meski sesekali ia mendongak untuk memastikan seseorang yang sedang ditunggunya telah datang.
Tanpa memberi aba-aba Bagus langsung berjalan menghampiri gadis itu, kemudian aku pun mengikutinya dari belakang. Langkahku amat sangat perlahan sebelum akhirnya samapai di antara mereka berdua yang masih saling diam.
“Mona ya..?” tanyaku memecah keheningan
Perlahan gadis yang kupanggil namanya melirik ke arahku dan mengangguk.
“Mona pulang bareng kita aja ya? kita kan satu komplek juga” kataku
“gak usah tante, Mona nunggu Mama aja”
“oh gitu ya” jawabku agak ragu sembari melihat kesekeliling
Dari tatapan matanya aku melihat jika Mona sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja. Pengalamanku yang dulu sangat membantuku untuk mengetahui apakah seseorang dalam keadaan buruk atau baik-baik saja hanya dengan melihat ekspresi wajahnya. Dari waja Mona yang begitu lesu dan tampak tidak bersemangat membuatku menyimpulkan jika gadis yang sedang berada di hadapanku ini sedang memiliki masalah dalam hidupnya.
“Udah Mon, ikut kita aja” sahut Bagus
Mona tetap menolak ajakan kami dan tentu kami pun tidak bisa memaksakan kehendak begitu saja padanya, “ya udah kalau gitu kita pulang duluan ya sayang, kamu hati-hati ya” kataku
Namun sebelum aku benar-benar meninggalkan Mona tiba-tiba saja hal mengejutkan terlihat olehku. Entah kenapa aku harus melihat hal itu, tapi ketika aku melihatnya baik mataku maupun hatiku dibuat terbelalak. Aku melihat luka memar di pergelangan tangan Mona. Melihat hal itu tentu saja aku tidak bisa tinggal diam. Diriku yang sudah terbiasa menolak hal-hal yang demikian spontan langsung menatap Mona dengan beribu pertanyaan yang muncul begiu saja di kepalaku. Selama beberapa lama aku menatap Mona.
Selanjutnya aku dekati dia kembali, aku sentuh dia perlahan dan kemudian aku melontarkan pertanyaan tentang apa yang sebenarnya terjadi hingga membuat pergelangan tangannya memar seperti itu. Pada awalnya Mona menundukan kepala dan menolak untuk menjawab pertanyaanku, tapi aku yakin ada sesuatu rahasia yang besar yang coba disembunyikan oleh Mona. Semakin aku desak ia semakin berderailah air matanya.
Kupeluk Mona erat untuk menenangkannya, aku tidak ingin dia merasa takut padaku dan menolak pertanyaan yang nanti akan aku tanyakan padanya. Aku kerahkan kemampuanku untuk menenangkan Mona yang mulai histeris dan barulah setelah dia mulai sedikit lebih tenang aku mengajaknya untuk pergi bersama denganku.
Berdasarkan cerita yang aku dengar dari para orang tua murid dan wali murid, Mona merupakan anak asuh dari keluarga yang kini menjadi walinya. Artinya dia memiliki status yang sama dengan Bagus. Dia juga termasuk anak yang pendiam dan tidak begitu banyak bergaul dengan teman-temannya. Selain dari pada itu tidak ada yang tahu tentang dirinya.
Selepas meninggalkan sekolah, aku membawa Mona pulang ke rumah. semua itu aku lakukan agar Mona merasa lebih tenang dan mau menceritakan tentang semua hal yang terjadi padanya hingga menimbulkan luka memar itu. Aku tidak bisa membawanya ke sembarang tempat, karena jika luka itu terlihat oleh orang lain maka hal ini akan menjadi masalah yang besar dan akan menyulitkan Mona sendiri.
Sesampainya di rumah, aku langsung meminta Mbok Sum membawakan air hangat dan handuk. Bersama denganku, Mona duduk di ruang tamu.
“Kak, kamu ganti baju dulu sana” kataku dengan tegas
Tidak lama berselang Mbok Sum datang dengan semangkuk air hangat dan handuk kecil. Dengan sangat hati-hati aku mengompres luka memar yang ada di pergelangan tangan Mona.
“Mona mau cerita gak sama Tante kenapa tangan Mona bisa sampai memar?” tanyaku dengan sangat hati-hati
Mona hanya menggelengkan kepalanya tanpa mengeluarkan sepatah katapun sebagai tanda jika ia tidak ingin menceritakan apa yang sedang terjadi padanya.
“Mona gak perlu takut, Tante Janji, Tante gak akan kasih tahu sama siapapun. Tante tanya supaya Tante bisa ngasih penanganan yang tepat”
Jujur, cara itu adalah cara terbodoh yang pernah aku lakukan. Suatu cara yang biasa dilakukan untuk membujuk anak-anak, tapi cara itu spontan keluar dari mulutku, “luka memarnya ada di mana lagi biar bisa Tante kompres sekalian” kataku
Awalnya Mona ragu untuk menunjukannya. Jangankan untuk menunjukan dan menjawab apa yang aku tanyakan, sekedar untuk mengubah posisi duduknya saja ia tidak berani. Tapi kemudian Mona memiliki keberanian untuk menunjukan luka memarnya yang lain. Perlahan dia bangkit dari tempat duduknya, dia buka satu persatu kancing seragamnya dan kemudian menunjukan luka lebam yang ada di lengan, bahu, dan punggungnnya.
Melihat hal itu aku benar-benar dibuat terkejut. Aku tidak pernah melihat luka memar sebanyak itu di tubuh seorang anak gadis, apalagi seusia Mona. Tanganku perlahan menjelajahi luka memar itu tapi aku tidak memiliki keberanian untuk menyentuhnya. Aku hanya bisa diam memperhatikan apa yang ada dihadapanku tanpa bisa mengatakan apapun.
“Mona?” kataku perlahan
Mona hanya diam dan tertunduk. Ia tidak berani berkata-kata, hanya mampu menunjukan luka-lukannya. Ketika aku melihat bagian belakang tubuh Mona, kali ini aku tidak hanya melihat luka memar, tapi juga melihat luka sayatan dan sundutan rokok. Lalu di saat yang sama dengan keadaankuyang terpana, tiba-tiba saja Mba Yayu datang dan berteriak melihat semua luka yang ada di tubuh Mona.
“Ya Allah Gusti” kata Mba Yayu
Keheninganku terpecah seketika saat mendengar teriakan Mba Yayu. Aku bingung dengan apa yang harus aku lakukan saat itu. Membawa kasus ini ke kentor polisi, membawanya ke dokter, atau bagaimana. Tapi jika dilihat dari luka-luka itu, sepertinya itu adalah luka lama. Segera aku kembali menutup pakaian Mona dan memintanya untuk duduk disampingku.
“Dek, itu kenapa dia?” tanya Mba Yayu dengan penuh keterkejutan
Aku tidak berani mengatakan sepatah katapun saat itu untuk menjawab pertanyaan Mba Yayu, yang aku lakukan saat itu hanyalah memeluk erat Mona dan berharap agar dia bisa merasa lebih baik dengan berada di dalam pelukanku.
“Ya Allah Nak, kenapa bisa kaya gini? Coba ceritain” kata Mba Yayu
Seperti halnya tadi, Mona juga tidak mau membuka mulutnya untuk mencritakan apa yang sebenarnya terjadi padanya.
“Mona sayang, kamu ceritain aja sama Tante ya”
Aku membujuk Mona dengan terus merayunya dengan menggunakan kata-kata yang penuh dengan kehangatan. Setelah cukup lama membujuk dan meluluhkan hatinya, akhirnya Mona bersedia untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi padanya.