To be Continued

To be Continued
Dua Puluh Dua: Bali



Ini adalah hari yang sudah kutunggu-tunggu. Hari dimana aku dan Mas Hari akan pergi berlibur bersama. Bisa dibilang liburan kali ini sebagai bulan madu kami yang kesekian, karena aku selalu menyebutnya seperti itu saat kami hanya pergi bedua tanpa orang lain.


Bulan madu kali ini adalah hadiah ulang tahunku dari Mas Hari, dan tentu liburan kali pun akan sangat singkat jika dibandingkan dengan liburan kali sebelumnya. Liburan kali ini hanya akan berlangsung selama dua malam dan tiga hari, itu semua dikarenakan jadwal kerja Mas Hari yang cukup padat. Karena alasan itu pula aku dan Mas Hari sepakat jika hanya akan menghabiskan waktu kami berdua di pantai Sanur Bali. Tidak akan pergi kemana pun, hanya akan menikmati posona pantai Sanur yang indah.


Seperti yang sudah direncanakan oleh Mas Hari, kami menginap di sebuah villa kecil yang berada di lingkungan Pantai Sanur, yang letaknya berada di sebrang tepi pantai dan jalan setapak yang sering dilalui oleh para turis mancanegara.


Bagiku itu adalah tempat yang romantis, terlebih aku hanya menghabiskan waktu bersama dengan Mas Hari.


Akan tetapi sebelum kita pergi terjadi keributan terlebih dahulu di rumah. Retnayu menangis histeris karena tidak ingin berpisah dariku. Dia ingin ikut pergi bersama kami. Wajahnya yang putih bersih berubah menjadi merah karena tangisnya yang histeris.


Melihat hal itu sempat terfikir olehku untuk membatalkan liburan kali ini. Untung saja Mas Indra berhasil membujuk Retnayu sehingga ahirnya kita tetap bisa pergi menuju bandara.


Bali memang terkenal akan keindahan alam dan budayanya sehingga banyak mengundang banyak turis mancanegara untuk datang berlibur. Saat pertama tiba di bandar udara Ngurah Rai kami sudah disambut oleh gapura khas Bali yang sangat indah, ditambah pula oleh ornamen-ornamen khasnya yang membuat mataku terpana.


Setibanya kami di Bali dan meninggalkan bandar udara, kami segera pergi menuju tempat tujuan kami. Pantai yang indah. Cuaca di Pantai Sanur memang cukup panas akan tetapi angin yang berhembus kencang mampu menetralisir panas matahari.


Villa minimalis dengan tembok batu bata yang membuatnya semakin terlihat tradisional.


“di sini banyak bule cantik lo Dek”


“lalu? Mas mau apa?”


“Ndak..”


“lo ko gitu, bilang aja. Kalau Mas mau berjemur kaya mereka juga gak apa-apa”


“dih, Mas wis ireng moso harus berjemur koyo bule”


“siapa tahu Mas berminat, iya kan”


Petugas Villa segera mempersilahkan kami masuk ke dalam villa yang mungil namun tertata rapi.


“selamat menikmati” kata petugas


“terima kasih” jawab kami


“Mas mau rebahan dulu ya, pegel badannya”


“ya sudah, aku mau jalan-jalan dulu ya”


“kemana?”


“sekitar sini, kali aja ada yang bagus bisa kubeli”


“ya sudah. Jangan lama-lama ya”


Aku segera pergi meninggalkan Mas Hari yang memilih untuk merebahkan diri terlebih dahulu. Dalam perjalanan ini aku memilih rute yang belum kuambil tadi, aku memilih untuk terus menelusuri jalan setapa dengan berjalan kaki.


Dalam setiap langkahnya, aku menikmati semilir angin yang sejuk. Bahkan di suatu lokasi terdapat banyak penjual barang antik yang ingin rasanya aku beli semua. Banyak toko yang menjajakan barang-barang kerajianan khas bali. Mulai dari kain bali, gantungan, patung dewa, tas rajut, topi, dan masih banyak lagi.


Bahkan terkadang aku berhenti sejenak di satu tempat untuk melihat-lihat, seperti yang aku lakukan juga di sebuah tempat penjual lukisan pantai yang indah dengan media seperti telur.


“lukisan yang indah” kataku dalam hati


Aku kembali melanjutkan langkahku dan kembali berhenti disebuah tempat yang menjual lukisan. Mataku tertuju kepada lukisan tiga kepala Budha yang berwarna hitam putih namun memiliki keindahan yang luar bisa ketimbang lukisan lainnya. Tapi lagi-lagi aku hanya melewatinya saja.


Selain toko-toko yang menjajakan barang khas Bali, banyak pula cafe dan restoran romantis yang tentu sudah banyak dipenuhi oleh para turis asing, yang kebanyakan hanya menggunakan bikini saja.


Tidak aneh memang karena tempat ini selalu saja dipenuhi oleh para turis asing yang ingin


menikmati keindahan alamnya. Ada pula satu tempat yang terlihat seperti bar yang lagi-lagi dipenuhi oleh turis mancanegara dengan berbagai macam bir ditangan mereka,ada pula dari mereka yang memilih untuk berenang di dalam kolam renang yang berada tepat di depan bar tersebut.


Langkahku membawaku sampai ke sebuah laga-laga yang ada di tepi pantai. Angin berhembus sangat kencang di tempat itu hingga rasa dinginnya terasa hingga tulang. Dari tempat itu aku melihat banyak wisatawan yang bermain jet ski, atau berenang bersama dengan pasangan mereka.


Tapi dari semua itu ada satu pemandangan yang membuatku sangat merindukannya. Ada satu keluarga kecil yang terdiri dari ayah, ibu, dan seorang anak perempuan yang sedang bermain air bersama. Spontan aku membayangkan jika itu adalah aku dan Mas Hari yang sedang asik bermain air bersama dengana anak kita kelak. Mungkin akan terasa sangat menyenangkan.


Tidak lama aku segera mengalihkan pandanganku. Aku kembali mengalihkannya ke ujung samudra yang luas, yang entah dimana ujungnya. Semilir angin yang kencang membuat rambutku bertebaran hingga menutupi wajahku.


Aku menikmati keadaan sekitar, suatu keadaan dan semilir angin yang tidak akan dapat ketemukan di tempat manapun, khususnya Jakarta yang macet. Di tengah kenikmatan semilir angin, tiba-tiba aku dikejutkan dengan kedatangan seseorang yang langsung memelukku dari belakang. Tapi untunglah orang itu adalah suamiku sendiri.


“sendiri aja”


“iya nih”


“suaminya kemana Mba?”


“dia lagi sibuk sama urusannya, jadi saya sendiri aja deh”


“oh gitu. Boleh saya temenin Mba?”


“boleh, silahkan”


“ganjen” kata Mas Hari dengan nada suara yang berubah ketus


Aku tertawa mendengar perubahan nada suara Mas Hari, lalu kemudian aku segera memeluknya erat.


“kamu liat apa toh? Kenapa dari tadi keliatan serius banget?”


Aku menunjuk ke arah keluarga kecil yang membuatku iri.


“kenapa?” tanya Mas Hari


Aku hanya mengangkat kedua bahuku. Aku tidak ingin mengatakan apapun karena aku yakin Mas Hari mengerti dengan maksudku.


“mau berenang?”


Aku terkejut mendengar hal itu dari Mas Hari, “berenang?”


“kan mereka juga berenang, siapa tahu kamu mau ikut berenang juga”


“aku gak minta Mas” kataku dengan nada sedikit ketus


“loh kenapa?”


“karena bukan itu maksudku. Bukan berenang yang aku maksud. Coba Mas lihat bener-bener deh”


Mas Hari tersenyum, “iya, Mas tahu. mungkin lain kali bisa kaya gitu”


“aamiin...”


“kita pulang?”


“kenapa? Di sini kan enak Mas”


“ayo toh pulang, mandi dulu”


“oke, tapi gendong aku ya”


“lah? Kenapa harus di gendong?”


“ya udah kalau gak mau gendong, aku gak pulang”


“manja tenan isteriku yang satu ini”


“emang Mas punya isteri berapa selain aku”


“piro yo..”


“awas aja kalau berani nambah” kataku dengan kesal


Mas Hari segera beranjak dari tempat duduknya dan kemudian sedikit membungkuk di depanku agar aku mudah naik ke atas gendongannya. Aku melompat hingga Mas Hari berhasil menggendongku dan berjalan hingga beberapa langkah.


Tapi tidak lama aku meminta untuk segera di turunkan.


“Kenapa? Bukannya tadi mau digendong?”


“Malu aku Mas, udah turunin aku”


Mas Hari segera menurunkanku dari gendongannya. Selanjutnya kita berdua berjalan beriringan menuju villa tempat kami beristirahat.


Waktu berlalu dengan begitu cepat. Tidak terasa hari sudah menunjukan pukul tuuh malam, tapi suasana sekitar menjadi bertambah ramai. Malam ini aku dan Mas Hari memilih untuk menikmati suasana malam di tepi pantai sekaligus untuk menikmati menu makan malam.


Rupanya lliburan kali ini memang diranjang untukku. Mas Hari sudah menyiapkan tempat yang sangat romantis untuk tempat makan malam kami. Sebenarnya aku tidak begitu suka menikmati makan malam di luar rumah jika bukan pada acara-acara tertentu, dan Mas Hari juga tahu tentang itu. Tapi kali ini adalah pengecualian karena Mas Hari sendiri yang sudah merancang semua kejutan ini untukku.


Makan malam kami berjalan seperti yang seharusnya, penuh dengan keromantisan. Tapi yang menjadi hal paling menyenangkan untukku adalah saat kami berjalan berdua menyisuri jalan setapak sembari melihat-lihat barang antik yang dijajakan di setiap toko. Hal itu karena pada saat kami berjalan bersama aku merasa menadi semakin dekat dengan Mas Hari dan merasa seperti kami sedang berpacaran kembali.


Kami memasuki setiap toko pernak-pernik yang berjejer di sepanjang jalan setapak itu. Akmi mencari benda-bend yang menarik perhatian kami untuk selanjutnya berpindah kepemilikan menjadi milik kami. 


Satu hal yang membuatku sangat antusias adalah, aku berhasil membeli lukisan Budha yang tadi siang kulihat. Rupanya Mas Hari pun menaruh rasa yang sama saat melihat lukisan kepala Budha itu.


Kami juga turut membeli beberapa pakaian dan kaian khas Bali yang di jajakan disana. Kami membeli pakaian anak-anak untuk Retnayu dan Rangga dan beberapa pernak-pernik lainnya yang membuatku senang bukan main.


Setelah merasa lelah berburu pernak pernik di hari pertama liburan, kami memutuskan untuk kembali ke villa. Kami membersihkan diri dan kemudian memilih untuk bersantai di dalam kamar yang sangat nyaman.


Ada satu hal yang membuatku tertawa karena kelakuan konyol Mas Hari. Saat aku tengah bersantai, diam-diam Mas Hari menemukan barang pribadiku yang sengaja kubeli tanpa sepengetahuannya. Dan kelakuannya yang membuatku tertawa adalah saat dia mengenakan barang pribadiku dan mempertontonkannya padaku. Pertunya yang buncit membuat hal itu menjadi tampak lebih lucu.


“astaga Mas Hari...” kataku terkejut


“bagus Ndak?”


Aku tertawa terbahak-bahak, “sini dulu Mas, biar aku benerin dulu Branya” kataku


“dimana kamu beli Dek, Mas juga mau”


“untuk apa toh?”


“untukku lah”


“untuk apa Mas tutupi? Yang harus Mas tutupi itu perutnya ini lo, udah kelewat buncit”


“hah iya nih? Pake apa ya?”


“coba pake korsetku”


“hah? Kamu masih pake korset?”


“ndak..”


“bohong”


“serius Mas, aku udah gak pake Korset lagi”


Ya. Mas Hari sangat tidak menyukai saat aku harus menggunakan satu benda itu. Dia beranggapan jika benda itu akan membuat isterinya tersiksa.


“coba Mas lihat”


Mas Hari mendekatiku dan berusaha untuk membuka bajuku untuk memastikan apakah aku menggunakan korset atau tidak. Tindakannya itu membuatku semakin tertawa. Aku berusaha untuk melepaskan diri darinya tapi ia malah menyilangkan kakinya ke atas tubuhku dan juga menahan tubuhku dengan sebelah tangannya.


“Mas...”


“apa...?”


“udah Mas.aku gak pake lagi”


Mas Hari menarik tangaku dan kemudian memelukku dan menciumku. Aku menatapnya selama beberapa saat sebelum akhirnya dia beranjak dari tempatnya. Tapi ketika ia beranjak, aku segera mengejarnya dan memeluknya dari belakang.


“aku suka..”


“suka apa?”


“aroma badannya Mas”


“emang aromanya apa?”


“aroma asem”


Mas Hari tertawa keras mendengar jawabanku, “asem ko kamu ciumin terus sih?”


“biarin aja”


Tiba-tiba ponsel Mas Hari berdering, “sebentar ya”


Mas Hari segera menjawab panggilan itu. Aku tahu siapa gerangan orang yang menghubungi, orang itu tidak lain adalah rekan kerjanya. Aku kesal mendapati hal seperti itu di masa liburanku. Aku segera pergi menuju kursi yang berhadapan langsung dengan cermin rias. Aku dudul dan menyisir rambutku dengan sangat perlahan.


Jika diperhatikan kekesalan yang tercermin dari wajahku sangat terlihat jelas. aku tidak tersenyum dan rona bahagia langsung hilang dari wajahku. Cukup lama Mas Hari menawab panggilan itu bahkan hingga aku harus duduk dan kemudan beranjak berulang kali dari kursi itu.


Sampailah saat Mas Hari kembali menghampiriku yang sedang duduk termenung di depan cermin. Ia datang dan mencium kepalaku.


“ko cemberut kenapa?”


“Mas sibuk terus”


“ini teman Mas, dia mau tanya tentang proyek Mas aja”


“tapi kan bisa lain kali Mas”


“ya sudah, Mas minta maaf ya. Sekarang ayo ikut Mas”


“kemana?”


“ruang tengah”


“ngapain?”


“ada banyak yang mau Mas omongin sama kamu. Ta gendong deh”


“emoh....”


Aku berjalan lebih dulu dan kemudian duduk lebih dulu pula ketimbang Mas Hari.


“sekarang apa?” tanyaku


“kasih tahu Mas semua hal yang kamu gak suka dari Mas, dan Mas juga akan ngelakuin hal yang


sama”


Aku terdiam selama beberapa saat sembari menatap Mas Hari.


“aku gak suka ditinggal sendiri, aku gak suka dicuekin, aku gak suka kalau Mas tetap sibuk sama kerjaan waktu kita lagi berdua, aku gak suka Mas Hari kalau gak pulang”


“udah?”


“udah”


“sekarang giliran Mas. Mas gak suka kalau kamu gak cerita masalahmu, Mas gak suka kamu nutupin sesuatu, Mas gak suka kalau kamu stres, Mas gak suka kamu punya pikiran yang aneh-aneh karena Mas sayang sama kamu. Mas akan ngelakuin apa aja asal kamu bisa bahagia. Asalkan kamu hidup dengan bahagia Mas rela ngasih hidup Mas.


Mas mencintai kamu dari sejak pertama Mas kenal kamu. Cinta dan sayang Mas selalu bertambah setiap hari. Mas akan merasa sangat bersalah dan gagal saat kamu menangis, saat kamu punya masalah dan kamu gak cerita apapun.


Mas akan sangat terluka kalau kamu bersedih. Demi Allah Mas sayang dan cinta sama kamu. Natalia Wasista, hidupku adalah untuk kebahagiaanmu, akan kulakukan apapun demi kau. Tuhan mempersatukan kita dengan cara yang berbeda dari yang lain. Sebuah cara yang membuatku semakin jatuh kedalam cintamu”


Mas Hari mengatakan semua kata-kata yang membuatku terharu. Aku menteskan air mata haru sekaligus air mata kebahagiaan.


“apa kamu bahagia bersuamikan aku dalam hidupmu?” tanya Mas Hari


“aku bahagia. Kebahagiaanku tidak akan pernah bisa diungkapkan dengan kata-kata. Tapi aku yakin tanpa itu Mas akan tahu dengan sendirinya. Mas, bukan hanya suami tapi hidupku, temanku, sahabatku, dan segalanya.”


“hal apa yang sangat tidak ingin kamu harapkan?”


“bahkan tidak untuk dipikirkan. Aku tidak rela sampai kapanpun jika cinta Mas harus terbagi. Jika itu terjadi, Mas tidak akan pernah menemukan aku lagi. Mas tidak akan pernah melihat aku lagi”


“tidak akan pernah terjadi. Mas berjanji kalau hal itu tidak akan pernah terjadi ssampai kapanpun. Dan satu hal yang kamu harapkan?”


“anak”


Mas Hari menatapku,”Dek?”


“aku ingin memberimu seorang anak dari rahimku sendiri. Aku selalu berdoa agar Allah segera memberiku kepercayaan untuk bisa memiliki anak. Aku iri pada teman-temanku yang sudah memiliki anak. Aku iri pada orang-orang yang sedang hamil. Dan aku tidak tahu seberapa besar kesabaranmu Mas?”


“tidak akan pernah Mas merasa putus asa untuk hal ini, karena Mas tahu hanya Allah lah satu-satunya zat yang mampu menentukan kapan kita mampu mendidik seorang anak. Kewajiban Mas saat ini adalah membimbingmu, dan mengajarimu tentang banyak hal sebelum nanti Mas mengajarkan banyak hal kepada anak kita nanti. Kita juga sudah berusaha, tapi tetap Allah belum mengizinkan”


Aku kembali terharu dengan kata-kata yang diucapkan Mas Hari, penuh dengan ketulusan dan keiklasan. Aku memeluk Mas Hari dan begitu pula Mas Hari yang membalas pelukanku dengan erat. Dia menciumku dengan penuh cinta.


“ganti topik?” kataku


“ganti..” jawab Mas Hari


Kami berdua tidak ingin terlalu lama berada dalam suasana haru biru karenanya aku segera menyarankan untuk mengganti topik pembicaraan.


“besok mau pergi kemana?” tanya Mas Hari


“aku mau di rumah, punya Quality time sama Mas”


“engga”


“Serius?”


“iya Mas, lagi pula kita udah jalan tadi”


“ya sudah. Kamu memang susah kalau diajak pergi keluar”


“Mas, sekarang jam berapa?”


“jam setengah sepuluh, kenapa?”


“aku lupa cuci rambut Mas”


“besok aja, ini udah malem”


“gak bisa, nanti rambutku lepeknya kebangetan kalau besok”


“ya Allah Dek, kamu itu ada-ada ya. Tapi biasanya kamu gak pernah cuci rambut malem?”


“karena aku lupa Mas, makanya terpaksa aku cuci malem”


“ya udah, ayo Mas bantu”


Aku tersenyum, “iya. Selama ada di sini Mas akan ngelakuin apa aja asal kamu senang”


“kalau gitu ayo”


Aku mengajak Mas Hari ke dalam kamar mandi untuk mencuci rambutku yang panjang. Mas Hari yang saat itu hanya mengenakan celana pendek dan kaos putih polos segera mengikutiku menuju kamar mandi.


Aku mengambil shampo rambutku dan kemudian meletakkan disampingku. Sementara itu Mas Hari segera menyalakan shower untuk membasahi rambutku. Selanjutnya aku membungkuk dengan mengarahkan kepalaku ke dalam bathub agar badanku tidak ikut tersiram air.


“kenapa gak langsung keramas aja tadi pas mandi?”


“tadi aku lagi males lama-lama di dalam kamar mandi, jadinya aku gak keramas”


“kalau kaya gini kamu bisa masuk angin lo Dek”


Setelah menyiram seluruh bagian rambutku hingga benar-benar basah, Mas Hari segera megambil shampo yang sebelumnya kuletakan didekatku. Namun sebelum Mas Hari menuangkan shampo ke atas kepalaku, dia terlebih dahulu mencium punggung leherku.


“Mas...”


“wangi..”


Mas Hari segera mengusap seluruh bagian rambutku drngn shampo yang juga beraroma wangi. Antara aku dan Mas Hari, kami sama-sama saling menyukai aroma tubuh satu sama lain. Aku selalu suka dengan aroma tubuh Mas Hari, dan begitu pun dengan Mas Hari yang juga menyukai aroma tubuhku, yang menurutnya beraroma seperti bayi.


Tidak hanya mecuci rambutku dengan shampo, Mas Hari juga memijat kepalaku. Terasa sangat menyenangkan dan nyaman, akan tetapi posisi kepalaku yang terus terjulur membuatku tetap tidak merasa nyaman. Mas Hari kembali mencium punggung leherku.


“biar gak pegel” katanya


“aku udah mulai sakit Mas, langsung bilas aja”


“tunggu sebentar, bagian sini belum”


“Mas Hari...”


Mas hari memang sengaja mengulur waktu karena sebenarnya dia sangat senang memainkan kepalaku, yang menurutnya kepalaku masih terlalu kecil dari pada telapak tangannya.


Setelah dirasa cukup, Mas Hari segera menyiramkan air bersih kembali ke kepalaku untu membersihkan sabun yang menumpuk di kepalaku. Mas Hari terlebih dahulu mengeringkan rambutku dengan tangannya, sebelum akhirnya ia menutup rambutku dengan handuk tebal.


“sudah selesai..”


Aku mengerang karena punggung leherku terasa sakit dan aku merasa jika kepalaku sudah bertambah beratnya hingga berkali-kali lipat.


Mas Hari berjalan mengikutiku yang lebih dahulu meninggalkan kamar mandi dan pergi menuu kamar. Aku duduk di kursi meja rias sembari terus menggoyang-goyangkan kepalaku yang terasa berat. Di saat yang sama Mas Hari kembali mencium punggung leherku sembari kedua tangannya diletakan di kedua bahuku. Setelah itu dia menekan-nekan handuk yang ada di kepaluku, membuka dan kemudian mengeringkan rambutku dengan handuk tersebut.


Mas Hari menekan-nekan rambutku dengan handuk tanpa menggosokan handuk tersebut ke kepalaku. Mas Hari melakukan itu hingga rambutku setengah kering, baru kemudian ia melanjutkan dengan hairdryer. Mas Hari melakukannya dengan sangat telaten dan hati-hati. Ia menyeka setiap celah di kepalaku agar rambutku kering dengan sempurna. Berulang kali dan cukup lama dia melakukannya.


“jangan sampai kering banget ya Mas, agak lembab aja”


“nggih Ndro Puteri”


Sesuai dengan permintaanku, Mas Hari tidak mengeringkan rambutku hingga benar-benar kering sempurna. Setelah selesai ia langsung mematikan dan menyimpan hairdryer tersebut kembali ketempatnya.


Aku beranjak dari tempat duduk itu, sedangkan Mas Hari masih tetap berada dibelakangku hingga membuat wajah kami saling berpandangan. Aku mengangkat kedua tanganku, lalu mengalungkannya di bahu Mas hari. Aku memeluknya erat dan begitu pun Mas Hari yang juga memelukku dengan erat. Aku mencium bahunya yang gemuk berisi.


Akan tetapi tiba-tiba Mas Hari mengangkat tubuhku yang sontak membuatku terkejut karena tindakannya. Tapi tidak berselang lama aku bisa menyesuaikan diri dengan keadaan itu yang tidak berlangsung lama sebelum akhirnya Mas Hari membawaku ke atas tempat tidur.


Aku duduk dihadapannya, mencium kedua pipinya, keningnya, dan hidungnya yang bulat. Aku ingin sekali berlama-lama menempel pada dirinya karena aku selalu merindukan aroma tubuhnya.


Sudah berapa kali aku mengatakan jika aku sangat menyukai arma tubuhnya. Tapi memang itulah kenyataannya. Aku sangat menyukai aroma tubuh Mas Hari yang khas yang tidak akan pernah aku temukan dimana pun. Aroma tubuh yang dimilikinya benar-benar membuatku merasa sangat nyaman. Bahkan terkadang aku melarangnya untuk membersihkan diri hanya agar aku bisa menghirup aromanya yang khas itu.


Malam itu adalah malam yang sangat membahagiakan, karena setelah sekian lama akhirnya aku bisa menikmati kebersamaanku bersama dengan Mas Hari dengan penuh kemesraan. Di malam itu pula aku dan Mas Hari memperjuangkan harapan kami untuk segera meMeyliki seorang anak.


Di keesokan harinya kami menghabiskan waktu bersama di dalam villa. Liburanku memang terkesan membosankan tapi itu semua kupilih karena aku hanya ingin menghabiskan waktu bersama dengan Mas Hari tanpa terganggu oleh apapun.


Pagi itu di tengah kesejukan udara pagi dansegelas kopi khas bali, dengan mengenakan kemeja putih semalam dan sarung kesayangannya ia duduk santai di teras villa. Sementara itu, aku yang memilih untuk membersihkan diri terlebih dahulu baru bisa menemani Mas Hari beberapa saat kemudian.


Aku membiarkan rambutku tergerai lurus dan menghampiri Mas Hari yang asih setia dengan kopi dan ponsel ditangannya. Aku merangkulnya dari belakang mencium pipikirinya berulang kali.


“good Morning..”kataku


“morning”


“ minum apa Pak?”


“kopi bali, mau coba?”


“boleh...”


Mas Hari segera menuangkan cangkir kopi bali ke dalam cangkir kosong yang tersedia. Aku pun berpindah dari belakang Mas Hari ke sampingnya. Tapi sebelum itu aku mencium pipi kirinya terlebih dahulu dengan ciuman yang lebih lama dari sebelumnya.


“Dek gimana kalau kita berenang?”


“boleh” kataku sembari meneguk secangkir kopi khas bali


“kita berenang di laut, jangan di kolam”


“sama bule dong Mas?”


“iya..”


“aku pakai bikini boleh?”


“engga. Awas aja kalau kamu berani pakai”


“kenapa toh? Kan banyak juga bule yang pake”


“engga boleh Dek. Mas gak mau bagian tubuhmu itu dilihat orang. Cukup Mas aja yang lihat oke?”


“iya Mas”


“sekarang kamu mau apa?”


“mmmm? Entahlah, aku juga bingung mau ngapain”


Kami sama-sama terdiam selama beberapa saat, senelum tiba-tiba Mas Hari mengendongku masuk ke dalam villa.


“Mas Hari...” kataku


“apa?” tanya Mas Hari


“mau apa Mas? Turunin gak?”


“Ora”


“Mas Hari...”


Segera Mas Hari menurunkan aku yang terus-terusan meminta untuk diturunkan dari gendongannya.


“oya Dek, kamu masih bisa Taekwondo?”


“masih, kenapa toh?”


“ayo coba Mas mau lihat”


Aku terkejut mendengar perkataannya.


“aku tendang nih Mas?”


“Iya..”


“emang mas mau apa? nanti kalau seandainya ketendang benran gimana?”


“Mas tangkislah, gini-gini Mas juga jago bela diri”


“bela diri opo?”


“karate..”


“bener ya? Jangan samapai kena tendang ya?”


“iya, ayo cepat”


Aku segera melayangkan tendangan kakiku ke arah Mas Hari. Meski sudah lama tidak pernah kuasah tapi aku masih ingat betul bagaimana teknik menendang yang benar, karena dulu aku pernah menjadi seorang anggota Taekwondo.


Satu dua kali tendanganku berhasil ditangkis oleh Mas Hari, sembari sesekali aku tertawa melihatnya yang melakukan hal demikian sembaru tetap mengenakan sarungnya.


“sekali lagi Dek...”


“yang ini lumayan keras ya Mas. Hati-hati”


Aku segera kembali melayangkan tendanganku ke arah Mas Hari. Tapi kali ini ia tidak menangkis tendangaku tapi dia malah menahan kakiku yang aku gunakan untuk menendang. Tentu hal itu membuatku harus berjinjit-jinjit selama beberapa saat sebelum akhirnya aku bisa meraih tubuh Mas Hari.


“Mas Hari ko gitu?” kataku sembari tertawa


Mas Hari lantas menciumku cukup lama, kemudian memelukku dengat erat. Tidak hanya aku yang tertawa karena tindakannya. Tapi dirinya sendiri pun tertawa terbahak-bahak.


Kali ini giliran Mas Hari yang terus menempel padaku, setelah kemarin aku terus saja menempel padanya. Kali ini Mas Hari tidak mengizinkanku lepas dari pelukannya. Mas Hari selalu mengikuti kemana aku pergi hanya agar tetap bisa memeluk tubuhku dan mencium aroma tubuhku


“aku mau ke kamar mandi dulu”


“kenapa? Bukannya kamu udah selesai mandi?”


“aku kebelet”


“ya sudah sana. Jangan lama-lama”


“iyo Mas...”


Akhirnya aku bisa melepaskan diri dari pelukan Mas Hari, tapi perutku yang tiba-tiba sakit mengharuskan aku untuk segera membuang hajat pagi itu. Sepertinya jopi bali tidak cocok untukku.


Cukup lama aku berada di kamar mandi, tapi rupanya sakit perut yang aku halami hanya sekedar sakit perut tanpa harus membuang hajat, karenanya aku memilih untuk meminum obat guna menghilangkan rasa sakit di perutku.


Setelah berlama-lama pula berada di dapur untuk bisa meminum setenggak obat pereda nyeri aku segera kembali menemui Mas Hari yang saat itu sedang berada di dalam kamar. Saat kuperhatikan, rupanya ia sedang bergulat dengan pekerjaannya lagi. Ia duduk di atas karpet dengan beberapa kertas dan layar ponsel yang menyala.


Aku tahu, pekerjaannya memang tidak bisa di tunda. Ia pergi berlibur bersamaku hanyalah sebuah alasan untuk bisa membahagiakan aku tanpa bisa ia beristirahat sejenak dari tugasnya.


Aku lantas datang menghampirinya, membungkuk dibelakangnya, merangkul serta menciumnya. Aku melingkarkan tanganku di dadanya sembari daguku terus mnempel di bahunya.


“masih berapa banyak?” tanyaku


“tinggal sedikit, kenapa?”


“kalau gitu beresin dulu aja. Aku temenin”


“engga perlu. Kalau kamu mau keluar, biar Mas tinggal dulu ini, kan bisa dikerjain lain waktu”


“kita kan cuma di villa. Jadi Mas beresin dan aku temenin Mas di sini”


“oke.. Mas beresin dulu kerjaan Mas”


“oke..”


Mas Hari kembali fokus dengan pekerjaannya yang sama sekali tidak kumengerti, sedangkan aku hanya bisa berguling-guling di atas kasur, memainkan ponsel, atau hilir mudik tak tentu arah.


Rupanya pekerjaan Mas Hari tidaklah sedikit. Tiga jam berlalu dia masih tetap saja bergulat dengan pekerjaannya. Sementara itu aku yang jenuh menunggu juga menjadi sibuk dengan ponselku hingga tidak menyadari jika Mas Hari sudah selesai dengan pekerjaannya.


“Dek..?”


“iya, udah selesai Mas?”


“sudah. Sekarang kamu mau kemana?”


“aku mau...” aku berfikir lama


Karena tidak kunjung menjawab, Mas Hari segera menukas perkataanku.


“gimana kalau ke pantai? Kita belum sempet nyebur kan?”


“boleh,..”


“tapi kamu gak pakai bikini lo ya”


Aku tertawa, “ya engga akan Mas, aku gak berani kaya bule-bule itu”


“syukurlah”


“tapi kayaknya aku gak berenang deh”


“Kenapa toh?”


“lagi males aja”


“ya sudah, kamu temani Mas aja ya”


Tanpa mengulur banyak waktu kami berdua segera bergegas pergi menuju tepi pantai. Kami harus berjalan cukup jauh terlebih dahulu untuk bisa menemukan tempat yang pas untuk berenang.


Tapi perjalanan itu tidaklah terasa melelahkan meski sangat jauh, ketika akhirnya kami menemukan sebuah tempat yang nyaan untuk berenang. Mas Hari yang memang sangat menyukai laut lantas menceburkan diri tanpa berbasa-basi terlebih dahulu. Dia tidak peduli pada orang-orang disekitarnya.


“Dek, ayolah di sini airnya dingin lo” ajak Mas Hari


“engga Mas, aku di sini aja” Kataku yang sejak tadi hanya berjalan-jalan di pinggir pantai


Tapi rupanya Mas Hari tidak mengerti dengan apa yang aku katakan. Dia menarikku paksa hingga aku tercebur ke dalam air laut.


“Mas Hari...”


“apa?”


“bajuku tipis Mas” kataku dengan tubuh yang masih terendam air


“moso?”


Aku berdiri dari posisiku dan memperlihatkan hasil kejahilan Mas Hari. Bajuku yang tipis lantas mempertontonkan tubuhku dengan nyata. Bahkan Braku yang berwarna putih juga tampak jelas. melihat hal itu Mas Hari tertawa sembari memelukku untuk menghalangi orang lain yang mungkin bisa melihat tubuhku.


Tidak ada yang bisa kulakukan selain menikmati air laut yang dingin. Aku juga tidak berani memunculkan diri kepermukaan karena takut akan ada orang yang melihat. Setelah cukup lama menikmati dinginnya air laut di pantai sanur, kami berdua pun memutuskan utnuk segera beranjak dari dalam air. Akan tetapi, aku sedikit risih dengan keadaanku yang basah kuyup dan memperlihatkan bagian dalam pakaianku.


Mas Hari yang menyadari hal itu segera membungkukan badannya dan memintaku naik ke atas punggungnya.


“ayo Dek..”


Aku tersenyum dan merasa sangat senang mendapat perlakuan seperti itu. Ya, itulah suamiku. Di hari-hari yang spesial untuukku dia akan jauh lebih bersabar dan menuruti semua keinginanku meski terkadang keinginanku sangat brtentangan dengan egonya.


Tetapi jika di hari-hari biasa, kami juga tidak jauh berbeda dengan pasangan suami isteri lainnya yang selalu bertengkar meski karena hal-hal yang sepele.


Mengenai pertengkaran yang biasanya terjadi di antara kami lebih banyak disebabkan karena kuatnya argumen kami masing-masing. Argumen yang berbeda kadang membuat kita bertengkar cukup hebat, tapi setelah pertengkaran itu terjadi kita akan saling meminta maaf dan kemudian berusaha untuk melupakan masalah yang sudah lalu.


Bagiku Mas Hari ada lelaki yang penuh dengan kesabaran. Mungkin banyak yang mengira jika ceritaku ini hanyalah sebuah dongeng dan fiktif belaka yang tidak akan pernah terjadi dalam kehidupan nyata. Tapi memang begitulah adanya. Dia adalah laki-laki yang penuh dengan kesabaran dan laki-laki yang selalu menjunjung kehormatan wanita di atas segala-galanya.


Aku sangat bersyukur kepada Tuhan karena telahmengirimkan seorang pria yang baik seperti Mas Hari ke dalam kehidupanku. Kehidupan seorang wanita yang keras kepala dan selalu diliputi oleh kemarahan. Suamiku telah banyak mengubah hidupku. Dia telah berhsil menjadikanku seorang wanita yang penuh dengan kesabaran, keterbukaan dan toleransi yang tinggi.


Aku naik ke atas punggung Mas Hari dan kemudian Mas Hari menggendongku mulai dari bibir pantai hingga kami tiba di villa. Sepanjang perjalanan itu sebenarnya aku merasa malu dengan kelakuan kami, aku berusaha menyembnyikan wajahku dari orang-orang yang tidak pernah menghilang dari pandanganku.


“biarin aja toh, bule telanjang aja mereka biasa”


“Mas Hari...”


Mas Hari tertawa. Setibanya di villa kami memilih untuk langsung membersihkan diri baru setlah itu kami kembali bersantai bersama. Kami kembali menghabiskan waktu bersama di dalam kamar. Tidak pergi kemanapun lagi, hanya diam dan berbincang bersama hingga larut malam sebelum keesokan harinya kami kembali ke dunia kami yang penuh dengan lika-liku.