
Hari ini aku berjanji untuk bertemu dengan Mas Hari di salah satu kedai makan di sebuah pusat perbelanjaan. Kali ini aku datang lebi dulu dari pada Mas Hari. Aku memesan segelas jus alpukat selagi aku menunggu kedatangan Mas Hari.
Lima belas menit berlalu, akhirnya salah satu kursi di mejaku ada yang menduduki. Tapi orang itu bukanlag Mas Hari, orang yang kutunggu melainkan seorang remaja yang sama sekali tidak kukenal.
Entah siapa dan entah datang dari mana remaja wanita itu.
“Natalia?” katanya
“iya..”
“aku hamil” katanya lagi dengan ketus
“apa?” aku terkejut dengan perkataannya
Remaja itu mengatakan jika dirinya sedang hamil, itu adalah kabar yang gembira, tapi apa hubungannya denganku? Dia akan membaginya denganku? Entahlah.
“”aku hamil kataku. Kamu harus meyakinkan pacarku untuk bertanggung jawab kalau tidak aku akan menggugurkan bayi ini”
Aku tidak habis fikir dengan perkataan remaja ini.
“apa? apa hubungannya denganku? Kenapa aku harus meyakinkan pacarmu itu?” kataku terkejut
“oh tunggu. Pacar katamu?” tanyaku
“iya. Dia harus bertanggung jawab”
“kau hamil?”
“aku kecolongan.”
“kecolongan katamu? Kau tahu itu kesalahan. Kau sudah melakukannya maka harus bertanggung jawab”
“makanya kau harus membantuku. Kalau tidak aku benar-benar akan menggugurkan bayi ini”
“apa kau sudah gila? Kau akan membunuh bayi yang tidak berdosa itu. Kau seharusnya minta pertanggung jawabannya kenapa datang padaku?”
“kamu harus bisa meyakinkan oranag tuaku agar mereka tidak marah padaku, dan mengizinkan pacarku untuk menikahiku”
“hah? Aku tidak mengerti dengan apa yang kamu katakan? Kenapa harus aku yang meyakinkan orang tuamu?”
“kau tidak tahu harus bagaimana dan kemana? Tentu pada orang tuamu”
“mereka pasti akan menggantungku jika tahu”
“astaga...”
Aku menghela nafas dan memejamkan mataku. Ketika aku melihat ke arah lantai, aku melihat sebuah tas besar berada di sisi gadis itu.
“jangan bilang kau pergi dari rumah?”
“iya, aku memang kabur dari rumah. aku tidak ingin mati percuma ditangan ayahku”
“ya Allah. Lalu kamu mau kemana?”
“entahlah. Pokoknya kamu harus membantuku.”
Aku tidak bisa berkata-kata mendengarpenuturan gadis itu. Dia seorang yang pemarah, keras kepala, dan angkuh. Aku sudah bisa merasakannya saat pertama kali bertemu dan melihat bagaimana cara ia berbicara.
Tidak lama Mas Hari datang. Dia terkejut melihatku bersama seorang gadis remaja.
“Dek...” kata Mas Hari
“Mas..”
Mas ari segera duduk di salah satu kursi di sampingku.
“siapa Dia?”
Aku mengangkat kedua bahuku menandakan jika aku juga tidak tahu siapa gadis tersebut.
“aku Meldi”
“Meldi?” kata Mas Hari
“kamu temannya Lia?”
“bukan. Aku datang meminta tolong padanya” katanya dengan ketus
“kau sudah makan?”
“belum”
“kalau begitu makanlah bersama kami”
“tentu jika kalian tidak keberatan”
Aku tersenyum meski sedikit dipaksakan.
“kamu mau makan apa?” tanya Mas Hari
“aku...”
“ayam penyet level lima dengan lemon tea” tukas Meldi
“tidak. Beri dia olahan makanan untuk ibu hamil” kataku
“ibu hamil?” tanya Mas Hari
Tapi itu makanan kesukaanku”
“tidak untuk saat ini. Kamu bisa membunuh bayimu”
“terserah.”
Kami pun memesan menu makanan sehat.
“ada apa sebenarnya?” tanya Mas Hari
“akan aku ceritakan nanti”
“nona”
“nona?”
“aku tidak tahu harus pergi kemana. Apa kalian bisa membantuku mencarikan tempat tinggal?”
“pergilah pada sanak saudaramu”
“sama saja aku mencari mati”
“lalu kamu akan pergi kemana?”
“entahlah, mungkin tidur di emperan”
“emperan?astaga. kamu sungguh akan melakukannya?”
“jika tidak ada lagi tempat bernaung”
“Dek”
Mas Hari mulai terlihat memaksa untuk mengetahui kebenaran yang sedang terjadi. Aku pun menceritakan semua hal yang baru saja aku dengar dari gadis itu kepada Mas Hari.
“jadi bagaimana?” tanyanya
“aku mohon, sekali ini saja” kataku berbisik kepada Mas Hari
“baiklah”
“kamu tinggal bersama kami, sampai masalahmu selesai. Tapi dengan syarat, kamu akan mengikuti semua peraturan yang aku buat untukmu”
“Peraturan? Tapi baiklah”
“sekarang makanlah”
Gadis itu makan dengan lahap, seolah dia sudah tidak makan sejak kemarin. Melihatnya makan dengan lahap aku menjadi merasa kenyang dengan sendirinya.
Tiba-tiba terlintas dalam pikiranku tentang masalah berat yang tengah dia hadapi. Sebuah masalah yang muncul karena keteledorannya sendiri. Hatiku tiba-tiba merasa kasihan padanya.
Setelah selesai menyantap makan siang bersama, kami memutuskan untuk langsung kembali menuju rumah.
“hey! Apa kalian akan membiarkanku membawa tas besar ini sendirian?”
“bukankah tadi kamu juga yang membawanya?” kataku
“iya. Tapi sekarang aku lelah”
“apa?”
“sudah, biar aku yang membawanya” kata Mas Hari
“terima kasih”
Gadis itu berjalan lebih dulu di depan kami, sedangkan aku sendiri masih tidak percaya dengan sikap dan permasalahan yang tengah dihadapi oleh gadis ini.
Aku membawanya ke rumah kami, karena aku tidak bisa membayangkan jika seorang gadis yang tengah mengandung tidur di emperan toko dan menghadapi dinginnya malam. Jujur, sebenarnya semua ini aku lakukan demi bayi yang sedang dikandung oleh gadis itu. Aku tidak akan membiarkan gadis itu membunuh bayinya, dan melakukan kesalahan untuk yag kedua kalinya.
Setibanya di rumah, aku menempatkannya di kamar tamu.
“kamu tidurlah di sini, jika kamu ingin makan sesuatu kamu bisa mencarinya sendiri di dalam kulkas”
“oke”
“sekarang kamu istirahat, karena nanti akan ada banyak hal yang harus kamu ceritakan”
“oke, oke”
Aku meninggalkannya. Rupanya saat itu Mas Hari masih berada di depan kamar tamu. Dia memang mengantar kami sebelumnya, tapi dia tidak masuk ke dalam kamar.
“ayo” kata Mas Hari
Kami berdua bergegas menuju kamar.
“Mas sangat sangat rindu”
“rindu padaku atau rindu pada kamar ini?” tanyaku
“tentu rindu padamu”
Aku tersipu malu dengan jawaban Mas Hari. Memang, kami sudah hampir satu minggu tidak saling bertemu karena pekerjaan Mas Hari.
Dia memeluk dan menciumku berulang kali karena kerinduannya.
“Dek? Mau melakukanya?”
“sekarang?”
“iya”
Aku tersenyum menanggapinya. Dari senyuman yang kuberikan Mas Hari pun langsung mengerti maknanya.
Akan tetapi suara teriakan tiba-tiba menegjutkan kami. Spontan aku langsung berlari menuju sumber teriakan itu. Aku kembali menemui gadis itu.
“ada apa?” tanyaku
“kecoa”
“kecoa? Dimana?”
“itu..”
Aku menoleh ke arah yang ditunjukan gadis itu.
“aku sudah mengambilnya” kata Mas Hari yang tiba-tiba berada di ruangan yang sama
“sudah sudah. Kecoanya sudah pergi. Sekarang tenanglah oke” kataku
“nona, bisa bicara sebentar?”
“sekarang? Ada apa?”
“ada yan ingin aku tanyakan”
“aku akan menunggumu di atas” kata Mas Hari dan pergi
“sekarang katakan ada apa?”
“kamu benar-benar akan membantukukan?”
“tentu, aku akan membantumu sebisa mungkin”
“janji?”
“aku berjanji”
“kenapa kamu mau melakukannya?”
“karena aku tidak akan membiarkan bayi itu menjadi korban dari kesalahanmu”
“kenapa?”
“karena aku tahurasanya saat seseorang ingin memiliki seorang anak tapi Tuhan belum memberikannya”
“kau kan sudah menikah”
“memang, kami sudah berusaha sebisa mungkin tapi Tuhan belum mengizinkan kami memiliki seorang anak”
“kapan kau pertama kali melakukannya?”
“apa?”
“cepat jawab”
“saat aku kuliah”
“kau sudah menikah sebelumnya?”
“tentu”
“Berapa kali?”
“saat aku masih kuliah kami hanya melakukannya sekali, karena aku tidak ingin memiliki anak saat masa kuliah. Kalau saja aku tahu akan sulit memiliki seorang anak, aku tidak akan pernah menundanya”
“apa kau berfikiran jika aku ini berutung karena cepat hamil?”
“kau beruntung, tapi caramu salah. Dan asalkan kamu tahu, hamil di usiamu ini cukup membahayakan karena tubuhmu masih belum siap. Berapa usiamu?”
“lima belas tahun”
“apa? lima belas tahun? Astaga. Sekarang ceritakan tentang dirimu dan bagaimana kamu bisa mengalami semua ini”
***
“aku gadis yang kesepian. Orang tuaku selalu berada di luar rumah sepanjang hari untuk bekerja. Aku lebih sering menghabiskan waktuku bersama teman-temanku dan pembantuku.
Sampai akhirnya aku bertemu Bimo. Dia usaianya jauh lebih tua dariku. Tapi au merasa nyaman saat bersama dengannya. Dia memberikan semua hal yang tidak diberikan orang tuaku. Dia menjagaku, mengkhawatirkan aku, perhatian padaku. Aku sangat menyukainya.
Tapi, banyak teman-temanku yang tidak menyukainya. Mereka beranggapan jika Bimo bukanlah orang yang baik. Tapi aku tidak percaya. Aku tetap beranggapan jika Bimo adalah orang yang baik.
Dia orang yang pertama kali memperkenalkanku pada dunia-dunia yang baru. Aku juga pertama kali melihat video porno darinya. Awalnya aku menolak karena takut, tapi akhirnya aku kecanduan.”
“ceritakan pertama kali reaksimu saat harus melohat video itu”
“tentu aku takut, aku tidak berani melihatnya. Tapi dia memaksa dan mengatakan jika tidak akan terjadi apa-apa padaku. Karena bujukannya itu akhirnya aku mau melihatnya. Sungguh mejijikan tapi juga mengasyikan.
Dia pernah bertanya saat kami selesai menyaksikan video itu, ‘apa kamu mau mencobanya?’ tentu aku menolaknya dan memilih untuk segera pulang. Beberapa hari setelahnya Bimo mengajakku untuk menyaksikan video yang serupa hingga tiga kali berturut-turut. Dia kembali menanyakan hal itu.”
“kau langsung mengatakan iya?”
“tentu tidak, karena aku takut. Tapi dia meyakinkan aku lagi, katanya’jika terjadi sesuatu dia akan bertanggung jawab’ aku percaya padanya dan aku pun menurutinya. Dia membawaku masuk ke dalam kamarnya. Saat itu rumahnya sangat sepi, aku rasa tidak ada orang di sana.kamarnya ada di lantai dua.
Dia kemudian membuka bajunya, celananya dan kemudian celana dalamnya. melihat itu untuk pertama kali membuatku langsung memejamkan mata, tapi dia memaksaku untuk membukanya. Dia juga memaksaku untuk memegangnya. Itu menjijikan sekali.
Setelah itu, dia membuka celanaku dan pakaian dalamku. Dia menggerak-gerakkan miliknya itu disekitar kemaluanku dan selangkanganku. Kemudian dia menusuknya. Aku sangat kesakitan saat itu, tapi lama-lama kami menikmatinya”
“berapa kali kau melakukannya?”
“sudah empat atau lima kali”
“lalu bagaimana orang tuamu? Apa mereka tahu kalau kamu sedang berkencan dengannya?”
“tidak. Ayah tidak akan mengizinkannya”
“apa kau tahu apa yang akan terjadi jika orang tuamu tahu apa yang sudah terjadi padamu?”
“jelas aku akan mati ditangannya”
“mereka akan malu. Mereka akan merasa dipermalukan oleh masyarakat sekitar atas tindakanmu. Kau kabur dalam keadaan hamil. Sekarang cobalah kau pulang an jelaskan baik-baik pada meraka”
“apa? kau akan membuatku mati. Aku menghindari amukan ayahku, karena itu aku datang meminta bantuanmu. Tapi kamu malah menyuruhku pulang”
“baklah, berikan saja alamat rumahmu, aku akan bertemu dengan mereka”
“aku memberimu waktu sebulan, jika tidak berhasil aku akan mengugurkan bayi ini”
“jangan mengancamku dengan itu. Kamu sudah masuk kandang harimau jadi kau jangan bertindak gegabah di dalam kandang jika tidak ingin diterkam”
“baiklah, kita lihat nanti”
***
Aku kembali menuju kamarku untuk menemui Mas Hari. Ketika itu aku melihat suamiku yang tampan sedang duduk di sofa dengan sebuah buku ditangannya.
“Mas..?”
Dia tidak menggubris.
“Mas Hari?”
“sudah selesai dengannya?”
“sudah”
Mas Hari kembali membisu. Aku tahu dia sedang kesal padaku.
“dia meneritakan semuanya padaku”
“iya, Mas tahu”
“Mas..?
Mas Hari?”
Karena Mas Hari tidak kunjung menggubris perkataanku, aku pun memilih untuk langsung mendekatinya. Aku duduk disampingnya dan merebut buku yang sedang digenggamnya.
“lihat aku.Mas”
“aku sudah melihatmu”
“Mas akan mengacuhkan isteri Mas ini? Isteri yang sudah lama ditinggalkan”
“apa maksudnya?”
“maksudku, apa Mas tidak ingin melakukan sesuatu dengan isteri Mas yang sudah lama ditinggal pergi”
“aku ingin melakukan sesuatu tapi kamu terlalu sibuk”
“kalau begitu, ayo sekarang kita lakukan”
“tidak, lupakan saja itu”
“bagaimana bisa?”
Mas Hari Merebut kembali bukunya dariku. Dia juga kembali membaca bukunya tanpa peduli akan kehadiranku. Berulang kali aku membujuknya tapi tidak juga berhasil. Aku pun memilih untuk merebahkan diriku di tempat tidur tanpa lagi menggubris Mas Hari.
Tapi tidak lama aku merasakan ada yang memegang bahuku dan kemudian membelainya.
“Mas sangat merindukanmu” bisik Mas Hari
“aku juga sangat rindu” kataku
Keesokan paginya, aku dan Mas Hari hendak menikmati sarapan yang sebelumnya sudah kubuat.
“Selamat Pagi...” kata Meldi
“pagi”
“pagi”
“waah, sarapan pagi”
“duduklah, kita sarapan bersama” kataku
Kami duduk di satu meja yang sama. Hanya kami bertiga.
“ini alamat rumahku” katanya sembari memberikan selembar kertas
“kamu harus bisa melakukannya, waktumu hanya sebulan oke”
Aku terdiam dan sesekali melirik Mas Hari yang tidak mengerti pembicaraan kami.
“baiklah, aku akan menemui mereka”
“kapan?”
“hari ini”
“baguslah, lebih cepat lebih baik”
“ada apa ini? Apa yang kalian bicarakan?”
“aku akan menceritakannya nanti” kataku
“kenapa? Aku akan menceritakannya”
“tidak perlu, kamu tidak perlu melakukan itu” kataku
“aku memintanya untuk meyakinkan orang tuaku agar mereka tidak marah saat mereka tahu kalau aku sedang hamil, dan aku juga memintanya agar meyakinkan Bimo dan membuatnya menikahiku untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya. Dia hanya memiliki waktu satu bulan, jika dia tidak berhasil maka aku akan mengugurkan bayi ini”
Aku menghela nafas mendengar perkataannya.
“kau mengancam akan mengugurkan kandunganmu jika isteriku tidak berhasil melakukannya? Dengar jika kau sampai melakukannya maka aku tidak akan tinggal diam. Buangpemikiran kotor itu di kepalamu”
“karenanya dia harus bisa melakukannya”
“aku akan berusaha. Kau tenanglah, dan jaga saja bayi dalam kandunganmu itu. Aku akan bersiap sekarang”
“aku akan mengantarmu” kata Mas Hari
Aku mengangguk menandakan jika aku setuju dengan perkataannya. Aku bersiap-siap di dalam kamar dan begitu pula dengan Mas Hari.
“apa kamu benar-benar akan membantunya Dek?”
“iya Mas, yang ada dipikiranku adalah bayi itu. Aku tidak akan membiarkan bayi itu kehilangan nyawanya karena perbuatan ibunya sendiri. Tidak akan pernah.”
“ Dengar, masalah ini adalah masalah yang serius dan sensitif. Aku tidak ingin kamu terlibat masalah karena hal ini”
“Mas, dia hanya takut dan cemas. Aku hanya berusaha untuk meyakinkan orang tuanya saja”
“coba kamu perhatikan sikapnya, dia angkuh seperti itu jadi mana mungkin dia memiliki rasa takut”
“Mas, aku bisa merasakan jika ini adalah masalah yang cukup berat baginya. Meski dia bersikap angkuh tapi jauh di dalam hatinya dia merasa takut dan cemas. Dan aku janji Mas, tidak akan terjadi sesuatu padaku”
“apa yang kamu rasakan?”
“aku akan merasa senang jika aku bisa membantunya. Jadi tolong izinkan aku untuk membantunya”
Mas Hari memelukku, “aku mengizinkannya, berbuatlah yang terbaik”
“terima kasih”
Selanjutnya aku dan Mas Hari bersiap-siap untuk kemudian pergi menuju alamat yang diberikan oleh Meldi saat sarapan tadi.