
Seperti hari-hari biasa, aku selalu menyiapkan sarapan setiap paginya. Namun sebelum itu aku pasti akan membangunkan Mas Hari terlebih dulu.
Setelah aroma sarapan yang selesai kubuat semerbak, satu persatu penghuni rumahku berhamburan menuju meja makan.
“sarapan apa kita?” tanya Mas Genta
“sarapan ala Mas Hari. Nasi goreng sama ayam suwir”
“enak pasti ini” kata Mas Hari
“yo pasti, kalau gak enak gak akan kamu segemuk ini toh?” kata Mas Nur
“setelah ini aku sama Mas Hari mau pergi ke Rumah Bimbingan. Kalau Mas-Mas sekalian mau tetap di sini gak masalah atau mau jalan-jalan”
“waah engga bisa. Kita juga pasti pergi ke sana dong” jawan Mas Nur
“ya sudah, kalau gitu kita pergi barengan saja” kata Mas Hari
Kita berempat menikmati sarapan yang ala kadar itu bersama. Setelah selesai kita semua bersiap-siap untuk pergi menuju Rumah Bimbingan.
“sini Mas, biar aku bantu”
Aku membantu Mas Hari mengancingkan kemeja hitamnya. Hal seperti ini selalu kami lakukan sebagai bentuk quality time untuk kami berdua ditengah kesibukan kami.
“sudah siap?” tanya Mas Hari
“sudah..”
Setelah selesai dengan segalanya kami bergegas turun, dan ternyata dua tamu kami yang ingin ikut serta pun sudah siap.
Rupanya mereka sudah mengenalku sedikit lebih banyak. Bahwa aku sangat tidak menyukai orang yang tidak disiplin, terutama disiplin waktu. Aku menyambut sennag mereka.
“Mas nanti kita mampir dulu ke supermarket ya, saya mau beli buah tangan untuk anak-anak di
sana” kata Mas Nur
“iya Mas, masa datang gak bawa apa-apa” kata Mas Genta
“yo wis ta’ antar kalian nggih”
Aku tertawa melihat mereka bertiga. Tidak jauh dari perumahan kami terdapat sebuah supermarket. Kami pun pergi ke sana.
Sesampainya di super merket, kita berpencarmenjadi dua group. Aku dan Mas Hari tentu saja. Dari belakang aku melihat Mas Nur dan Mas Genta begitu bersemangat berburu makanan untuk anak-anak.
Sementara itu aku berjalan menuju tempat pakaian anak-anak. Dalam benakku terbayang wajah Mey yang masih berusia tiga tahun. Yang kala itu kugendong dengan pakaian lusuhnya.
Aku mencari beberapa pakaian untuk Mey. Pakaian yang lucu dan serba Pink untuknya. Beberapa pernak-pernik aku belikan khusus untuk Mey, dan aku juga berharap agar usahaku ini bisa membuat Mey untuk mau berbicara.
“Beli apa kamu Dek?” tanya Mas Hari
“lihat Mas, lucu kan? Aku beli ini untuk Mey”
“sudah selesai, kalau sudah kita bayar”
Mas Hari membayar semua belanjaanku yang bisa dibilang kalap dengan pernak pernik anak kecil. Sebagai ucapan termakasih aku menggenggam tangan Mas Hari.
Setelah semua barang yang kami butuhkan telah berpindah ke dalam kantong plastik, kita pun kembali bergegas menuju mobil dan pergi menuju Rumah Bimbingan.
Rumah Bimbingan...
Semua anak-anak menyambut kedatangan kami dengan penuh kegembiraan. Hanya saja Mey tidak menjadi salah satu di antara mereka.
“dimana Mey?” tanyaku
“di dalam Bu” kata Mba Ros
Aku, diikuti Mas Hari menyisih dari kerumunan anak-anak yang mengerubungi Mas Genta dan Mas Nur. Kami berdua mencari keberadaan Mey.
Namun ketika kami melihat Mey, aku dibuat terkejut melihat Mey sedang memainkan sebuah pisau tajam. Sontak aku berlari ke arahnya.
“Mey, sayang kasih Ibu pisaunya ya” kataku membujuk
“Mey, Ibu minta pisaunya sayang”
Aku melirik ke arah Mas Hari. Dia pun langsung menghampiri Mey dan jongkok di sampingnya.
“Mey cantik, lihat Om bawa apa? Om Bawa mainan dan baju buat Mey”
Mas Hari memberiku aba-aba untuk merebut pisau dari tangan Mey di saat Mey tengah lengah.
“semuanya warna Pink, Mey suka warna Pink kan?” tanya Mas Hari
Niatku adalah mengambil pisau itu secepat mungkin. Namun rupanya Mey menyadari gelagatku. Ketika aku memegang bagian tajam pisau untuk kurebut, Mey sontak menarik dan spontan saja pisau itu melukaiku.
“awww” teriaku
Aku melihat darah segar mulai mengalir dari telapak tanganku. Sementara itu Mey menangis karenamungkin dia mereasa terkejut akan teriakanku. Di saat yang sama pula Mas Hari mengambil pisau itu dari Mey.
“Mey sayang, jangan nangis Ibu gak apa-apa” kataku sembari menyembunyikan telapak tanganku
“astaga Bu...?” kata Mba Ros
“Mba Ros Bawa Mey dulu” kata Mas Hari
“Mba Tuti tolong ambilin air bersih sama P3K” lanjut Mas Hari
Aku dan Mas Hari berpindah menuju ruanganku. Air mataku tidak bisa lagi kubendung. Aku terisak sembari menahan rasa sakit dari luka di telapak tanganku itu.
Tidak lama Mba Tuti datang dengan kotak P3K berserta air. Mas Hari dengan telaten membersihkan luka ditelapak tanganku dan kemudian menutupnya dengan perban.
“wis toh, iki ra po po”
“siapa yang nyimpen pisau di sana?” tanyaku
“anu Bu, saya tadi lagi potong buah untuk Mey, lalu saya datang untuk menyambut Ibu” kata Mba Ros
“Mba Ros, lain kali jangan simpen barang kaya gitu sembarangan ya”
“iya Bu, maaf”
“sekarang dimana Mey?”
“di kamar Bu”
Aku berusaha untuk menenagkan diriku terlebih dahulu. Mas Hari terus berada di dekatku.
Namun tiba-tiba saja ketenangan kami terganggu saat kami semua mendengar teriakan Mey disusul dengan tengis histeris.
Spontan aku berlari ke arah suara itu. Sesampainya di sebuah ruangan, tanganku langsung memeluk erat Mey yang sedang menagis histeris.
“Mey sayang, cup..cup.. ini Ibu Mey”
“Mey sayang, ini Ibu Mey”
“Mey”
Sama halnya diriku semua orang bergegas menghampiri kami, termasuk Mas Genta dan Mas Nur.
“Kanapa Neng?” tanya Mas Nur
“gak apa-apa Mas, Mey Cuma kaget aja”
“Ibu, Novi gak sengaja” kata seorang anak yang sedang menggenggam rotan sembari menangis
Aku memejamkan mataku mencoba untuk menenangkan diri.
“engga apa-apa sayang, bukan salah Novi. Mey cuma kaget aja” kataku dengan anda suara yang
lembut
“sekarang Novi sama Mba Ros ya. Ibu gak amarah ko sayang” kataku
Mba Ros segera membawa Novi pergi, dan ruangan itu pun mulai beranjak sepi, hanya menyisakan aku dan Mas Hari.
“Mey, Ibu di sini”
“Mey..”
“Mey...”
“Mey...”
Aku memanggil Mey berulang kali untuk menenangkannya yang masih dalam pelukanku. Mey masih saja terisak meski aku terus berusaha menenangkannya.
“Mey trauma Mas. Dulu dia sering mendapat perlakuan kasar sama orang tua yang nyuruh dia ngemis. Dan orang tua itu bukan orang tua kandung Mey. Kita gak bisa dapet informasi apapun karena Mey belum mau ngomong”
Aku kembali menenangkan Mey yang sudah mulai tenang itu. Sementara aku memeluk Mey, Mas Hari terus mengusap punggung Mey.
Mas Hari menatap Mey dengan penuh kasih sayang. Dia membelai Mey. Sampai akhirnya Mey menggengam salah satu jemari Mas Hao. Segera Mas Hao pun mengulurkan tangannya yang kemudian di sambut baik oleh Mey. Mey segera berpindah dari pelukanku menuju pelukan Mas Hari, meski wajahnya tetap menunduk dan isak tangis masih terdengar.
“Mas, kalau gitu aku titip Mey. Aku mau lihat keadaan Novi, kayaknya dia masih syok”
“ya sudah..”
Aku segera bergega mencari Novi. Setelah aku berhasil menemukan keberadaannya, aku langsung memegangnya.
“Novi sayang, novi sayangkan sama Mey?” tanyaku
Novi hanya mengangguk
“makanya Novi mau ngajak Mey main tadikan?’
Novi mengangguk
“tapi Mey nangis ya?”
Novi mengangguk
“ gak apa-apa, Novi gak salah sayang. Mey cuma lagi capek, terus Mey gak suka sama rotan makanya dia nangis. Novi pasti lupa kan kalau Mey takut sama benda yang panjang kaya rotan?”
Novi mengangguk.
“Sekarang Mey gak apa-apa, Novi juga harus berenti nangis dong sayang ya”
Aku memeluk Novi dan menenangkannya. Membicarakan hal itu aku kembali teringat tentang bagaimana aku bisa membawa Mey bersamaku.
***
Semua ini bermula saat aku secara tidak sengaja melihat begitu banyak anak-anak yang mengemis dan mengamen di sepanjang lampu merah. Tentu saja hal itu membuatku miris.
Dalam hati aku berniat untuk menolong anak-anak tersebut dengan berbagai cara. Sampai akhirnya aku mengungkapkan niatan ini kepada teman-temanku yang kemudian disambut baik.
Langkah selanjutnya adalah kami memantau terlebih dahulu kondisi di salah satu kolong jembatan Jaktim. Kami memang sengaja memfokuskan kepada satu tempat sebagai langkah awal.
Pemantauan yang dilakukan selama beberapa hari berhasil mendapatkan informasi yang cukup, yakni sekitar sepuluh orang anak-anak berusia sekitartujugh hingga dua belas tahun dipaksa untuk mengemis ataupun mengamen.
Melihat kejadian itu, hatiku merasa amat miris. Di hari selanjutnya aku dan beberapa orang perwakilan teman-teman datang ke tempat tersebut untuk mendatangi orang yang diduga sebagai dalang dari semua kajahatan ini.
Awalnya orang tersebut yang diketahui bernama Ahmad, berusia tiga puluh tahun lari menghindari kami. Jujur itu bukanlah langkah yang mudah bagiku.
Selama beberapa hari kami seperti bermain kucing-kucingan. Sampai akhirnya aku memberanikan diri mendekati seorang anak yang tengah mengemis di pinggir jalan.
“Hallo sayang..” kataku dengan lembut
Seperti pada umumnya, anak tersebut pun akan merasa takut dan cenderung menghindar.
Setelah beberapa lama membujuk akhirnya aku berhasil meyakinkan anak tersebut.
“hallo aku Natalia, kamu siapa namanya?”
“Roni..” jawab anak lelaki itu
“kamu udah makan?”
Anak itu menggelengkan kepalanya.
“kalaiu gitu kita makan dulu gimna, baru setelah itu aku mau tanya sesuatu”
Namun tiba-tiba anak tersebut terlihat murung. Ia menundukan kepalanya, sembari sesekali melirik kebelakang.
“kenapa? Ada teman-temanmu yang lain? Dimana?”
Anak itu menunjukan di arah barat daya dan aku melihat beberapa orang anak sedang berkumpul dengan wajah yang murung.
“gimana kalau kita ajak teman kamu juga untuk makan”
Sontak mata anak tersebut tertuju padaku, dia menatapku tajam.
“jangan takut, aku gak akan culik kalian. Aku cuma mau tanya sesuatu” kataku meyakinan
“Bang Ahmad...”
“kamu gak usah takut ya? Aku janji, dia gak akan berbuat kasar lagi sama kamu”
Akhirnya aku berhasil membujuknya dan membawanya beserta beberapa orang temannya untuk makan bersama denganku.
Aku merasa senang ketika melihat anak-anak tersebut makan dengan lahap, meski serselip ketakutan dalam diri mereka.
“kenapa kalian ada di jalan? Kalian gak sekolah?”
Beberapa dari mereka menggelengkan kepala.
“kalian suka ada di jalan?”
Anak-anak itu kembali menggelengkan kepala.
“orang tua kalian dimana?”
Roni menatapku tajam, “tidak tahu”
Aku ingin mengorek lebih banyak informasi dari mereka. Tapi itu tidak bisa kulakukan karena mereka masih enggan untuk menjawab pertanyaanku. Ditambah lagi oleh kedatangan seorang pria yang tiba-tiba.
“eh! Kenapa kalaian enak-enak di sini? Kerja!” teriaknya
Aku terkejut melihat anak-anak itu yang ketakutan. Mereka langsung beranjak dari tempat mereka dan segera pergi meninggalkan meja makan, meskipun makanan mereka belum habis dimakan.
“Roni, habisin dulu makanan kalian” kataku
“ehh! Lu gak usah ikutcampur. Dia anak-anak Gw!”
“tapi biarin mereka habisin dulu makanannya”
“AHH! Tau apa Lu. Mereka harus kerja jam segini”
Kemarahan pria tersebut langsung tersulut, bahkan dia melempatkan piring nasi yang ada di meja hingga pecah berkeping. Pria tersebut segera pergi mengikuti anak-anak tersebut.
Setelah mengalami kejadian itu, aku hanya bisa terduduk lemas. Kemudian beberapa temanku yang memang sedari tadi mengikutiku muncul.
“Lia? Kamu gak apa-apa kan?” tanya Sonia
“anak-anak itu Nia. Dia kasar banget. Bahkan mereka belum selesai makan”
“yaudah, besok kita coba lagi.”
Keesokan harinya , aku kembali menghampiri Roni yang saat itu sedang duduk di salah satu kursi taman.
“Hai..”
“hallo..”
Aku senang mendengar nada suara Roni, yang terdengar senang dengan kedatanganku.
“kamu kemarin gak apa-apa kan?”
“udah biasa”
“udah biasa gimana?”
“ya, kita dipukulin karena gak kerja kemarin”
Aku terkejut, “ada yang luka?”
“engga ada”
“emang sering ya kamu diperlakukan kaya gitu?”
“sering benget, kita semua sering dipukulin kalau gak dapet duit banyak”
“kamu gak mau pergi dari sini?”
“mau benget, tapi gak tahu gimana caranya”
“aku bisa bantu”
Tiba-tiba perbincangan kami kembali terputus. Roni bergegas untuk pergi.
“Bang Ahmad datang, aku pergi dulu”
“Roni, gimana aku bisa ketemu kamu lagi”
“disini, jam segini”
Roni langsung berlari pergi menjauh dariku. Sedikit demi sedikit aku mendapatkan informasi dari Roni.
Di hari selanjutnya aku kembali datang ketempat yang sama, namun di waktu yang lebih awal. Kali ini aku datang dengan membawa beberapa buah tangan.
“hai, ini aku bawa beberapa makanan. Kamu bisa bagiin sama temenmu”
“terimakasih”
“sekarang aku mau tanya, teman-temanmu yang diperkajakan Bang Ahmad ada berapa orang?”
“sepuluh”
“kalian semua sering diperlakukan kasar?”
“iya. Kita bahkan sering gak dikasih makan. Kapan kamu mau ngeluarin kita dari sini?”
Aku terhenyak, “secepatnya, aku janji”
Pertemuan kami pun kembali berakhir karena Roni harus pergi.
Setelah beberapa hari mengorek informasi dari Roni, aku dan temanku telah memutuskan saat yang tepat untuk melakukan tindakan inti.
Hari ini aku dan temanku, serta beberapa orang polisi datang menuju tempat yang telah ditunjukan Roni beberapa hari yang lalu. Kali itu kami datang pagi-pagi sekali saat Ahmad dan anak-anak yang lain masih berada di basecamp mereka.
Kedatangan kami lantas disambut gembira oleh anak-anak itu. Roni langsung memelukku dan mengucapkan terimakasih.
“Dengar, mereka akan membawa kalian ke rumahku.”
“tolong Mey. Mey masih ada di dalam bersama Bang Ahmad”
“Mey..?”
“tolong dia”
Aku langsung bangkit. Dengan ditemani oleh beberapa orang polisi aku berjalam menuju arah yang di tunjukan oleh Roni.
Aku lihat gubuk kecil dari sana. Sebuah gubuk yang hanya berdiri sendiri. Dari jarak kurang lebih lima meter kita semua mendengar teriakan dan tangis histeris seorang anak.
Polisi yang datang bersamaku langsung mendobrak pintu gubuk tersebut dan mengejutkan Ahmad.
“ada apa ini?” tanya Ahmad penuh ketakutan
Ahmad berhasil melarikan diri. Para polisi pun segera mengejarnya. Sementara aku langsung memeluk seorang anak berusia sekitar tiga tahun yang menangis histeris di sebuah sudut.
“Mey sayang...Mey”
Aku menggendongnya dan segera membawanya keluar. Di tempat semua orang berkumpul, aku melihat Ahmad sudah berhasil diringkus oleh para polisi yang tadi mengejarnya.
“kau akan mendapat hukuman yang setimpal” kataku
“awas saja kau! Tunggu pembalasanku”
Sembari menggendong Mey, aku menatap tajam Ahmad dengan sejuta kebencian dan kemarahanku padanya. Setelah penangkapan Ahmad selesai, aku membawa semua anak-anak yang kini berjumlah sebelas orang ke Rumah Bimbingan.
Tiba di sana mereka semua dibersihkan dan diberikan pakaian yang layak. Sementara itu aku fokus pada gadis kecil yang sedari tadi tidak mau lepas dari pelukanku.
Aku membersihkannya, menyuapinya, mengajaknya bicara, namun tidak sepatah katapun terucap dari mulutnya. Dia hanya bisa tertidur setelah tubuhnya terasa nyaman.
“Roni, boleh aku tanya sesuatu tentang Mey?”
“boleh”
“kenapa Mey gak mau ngomong?”
“aku gak tahu”
“kenapa aku gak pernah liat Mey sebelumnya?”
“karena Bang Ahmad selalu bawa Mey dan nyewain dia. Makanya gak pernah liat Mey”
“Mey, anaknya Bang Ahmad?”
“Bukan, dia sama kayak kita, tiba-tiba ada”
“maksud kamu?”
“beberapa dari kita itu diculik, terus dibawa ke Bang Ahmad”
Hatiku tertusuk mendengar penuturan Roni dan beberapa anak yang lain. Beberapa dari mreka bisa sampai ke tempat itu karena diculik, bahkan ada yang memang sengaja dijual orangtuanya sendiri.
“kalian mau pulang?” tanyaku pada anak-anak itu
Mereka serentak menjawab ingin pulang.
“aku akan antar kalian pulang”
Satu persatu aku antarakan mereka kepada orang tuanya, yang kebanyakan berasal dari luar kota. Untung saja mereka masih mengingat rumah dan nama orang tua merea, sehingga memudahkanku dan pihak kepolisian untuk mengembalikan mereka.
Sementara itu, bagi orang tua yang memang sengaja menjual mereka. Membuatku harus terlebih dahulu menghadapinya sebelum aku benar-benar menyerahkan anaknya kembali.
“Anda tidak menyesal? Anda tahu apa yang dilakukan Ahmad pada anak Anda?” tanyaku
Mereka menangis menyesali perbuatan mereka. Mereka pun berjanji jika mereka tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.
“jika Anda melakukan hal yang buruk seperti itu lagi, maka aku sendiri yang akan menuntut kalian” kataku dengan tegas.
Sepuluh orang anak telah kembali kepada orangtua mereka. Sementara itu, Mey masih tetap ada bersamaku, karena aku sama sekali tidak tahu dimana orang tua Mey berada mengingat Mey belum mau berbicara apapun.