To be Continued

To be Continued
Delapan Belas



Kejadian sebelumnya memang terasa berat bagiku, namun meskipun begitu aku tidak bisa terlalu lama terpuruk dan terus mengingat kemalangan itu. Pernah sekali waktu Ibu Meli menghubungiku untuk memberitahu keadaan Meldi, yang pada saat itu dia mengatakan jika Meldi menjadi sering melamun dan menangis, bahkan sesekali ia teringat akan bayinya.


Mengetahui hal itu sebenarnya aku sangat terkejut namun hanya bisa mengelus dada karena hal itu memang pasti akan didapatkan oleh orang yang melakukan hal-hal seperti yang dilakukan Meldi.


Sudah beberapa hari ini aku menghabiskan waktu dengan berdiam diri saja di rumah. Aku merapikan rumah dan menata semua barang agar lebih terlihat rapi. Aku benar-benar menghabiskan banyak waktuku untuk diriku sendiri dan untuk suamiku.


Malam ini aku dan Mas Hari sedang berada di dalam kamar setelah semua aktivitas keseharian kami rampung. Pada saat itu aku melihatnya sedang sibuk memilah beberapa berkas yang entah apa isinya. Mas Hari terlihat sangat sibuk dengan pekerjaannya itu.


Menyaksikannya yang sedemikian serius aku pun datang menghampirinya dan duduk di sebelah Mas Hari. Ketika itu aku melihat sebuah surat yang membuatku tercengang.


“Mas, file ini?”


Aku menyerahkannya kepada Mas Hari untuk dilihatnya.


“ini surat rumah itu”


“rumah?”


“rumah yang kamu tolak sebagai hadiah”


Aku terkejut, “Mas..”


“Mas rencananya mau jual rumah itu”


“kenapa?”


“bukannya kamu gak suka rumah itu, ya kalau Mas jual uangnya bisa Mas simpan dan kalau kamu


nemu rumah yang cocok baru Mas belikan lagi”


“Mas gak perlu jual rumah itu”


“kenapa? Bukannya kamu gak suka”


“maaf untuk itu. Tapi saat itu aku lagi kacau, jadi Mas jangan jual rumah itu ya”


Mas Hari menatapku, dia tersenyum, “kalau itu emang maunya kamu, Mas gak akan jual”


“ Mas ingat waktu itu Mas punya rencana untuk bawa ibu ke sini, tinggal bareng kita?”


“iya Mas ingat”


“jemput ibu Mas, aku mau kita tinggal bareng di rumah yang baru itu”


“itu ide yang bagus. Mas telpon ibu ya”


Segera Mas Hari menghubungi ibu mertuaku dan mengutarakan keinginannya. Akan tetapi saat itu ibu merasa enggan untuk memenuhi keinginan Mas Hari, dia berdalih jika tidak ingin meninggalkan tanah kelahirannya.


“Ibu, Ibu mau ya tinggal sama aku? Aku gak mau tinggal sendirian, Mas Hari sering ninggalin aku Bu”


“Hari, kenapa toh kamu ninggalin anak Ibu? Jangan kamu tinggalin dia lama-lama, kasian”


“makanya Ibu ke sini, tinggal sama aku biar aku gak kesepian lagi”


“Nak, ibu pasti ngelakuin apapun buat kamu. Kamu bukan cuma menantu tapi juga anaknya Ibu.


Tapi untuk ini Ibu pikirin dulu ya Ndok”


“iya Ibu. Ibu cepat kabarin aku ya, biar nanti kita jemput Ibu”


“iya Ndok, yo wis ta tutup yo”


“nggih Bu”


Aku menatap Mas Hari dengan tatapan yang memperlihatkan jika aku bisa mengalahkannya dalam hal meluluhkan hati ibu. Mas Hari tersenyum dan aku tertawa.


“jadi...?” kata Mas Hari


“jadi Mas jangan jual rumah yang baru tapi kalau Mas mau kita bisa jual rumah ini, karena kita kan gak bisa urus dua-duanya. Apalagi rumah disana juga bisa nampung banyak orang”


“kamu yakin?”


“yakin”


“kalau begitu, mulai besok kita angsur-angsur mindahin barang-barang”


“oke..”


Butuh sekitar satu minggu untukku memindahkan barang-barang milikku dan Mas Hari ke rumah yang baru. Rumah besar yang ada di tengah kota metropolitan. Sebenarnya aku memikirkan tentang dari mana Mas Hari memiliki uang sebanyak itu untuk membeli rumah yang sangat mewah. Tapi aku tidak ingin merusak kebahagiaanya, karena yang aku tahu dia bekerja sudah sangat keras.


Setelah kami menempati rumah yang baru, rumah lama kami pun dijual. Setelah menempati rumah baru itu pula Mas Hari mempekerjakan dua orang pembantu yang berusia sekitar empat puluh tahun untuk mengurus rumah kami.


Meski begitu aku tidak sepenuhnya meminta mereka bekerja dengan keras dirumah yang besar itu. Terkadang aku pun membagi tugas dengan mereka, termasuk dalam urusan memasak makanan yang masih bisa aku kerjakan sendiri.


Dua orang asisten rumah tangga itu benar-benar menghormati kami, karena itu kami memperlakukan mereka seperti keluarga kami sendiri. Bahkan ketika Mas Hari pergi bekerja dan tidak pulang aku sering menghabiskan banyak waktu bersama dengan dua asisten rumah tanggaku yang bernama Mbok Sum dan Mbak Yati.


Setelah genap satu bulan menempati rumah baru, aku dan Mas Hari pergi untuk menjemput ibu karena ia sudah memutuskan untuk tinggal bersama dengan kami di Jakarta. Tanpa mengulur waktu kita langsung pergi menuju Yogyakarta sehari setelah mendapat kabar dari ibu menggunakan pesawat.


Setibanya di Yogyakarta kami segera pergi menuju kediaman ibu. Ketika kami tiba ibu sudah menyambut kami di depan pintu rumahnya.


“Ibu...” kataku sembari memeluknya


“Cah ayu...”


“Bu..”


“Hari. Ayo masuk Ibu sudah masak untuk kalian”


“kenapa ibu repot masak”


Kami bertiga bergegas masuk ke dalam rumah dan ibu menyuruh kami untuk segera menyantap makanan yang sudah dibuatnya. Kami pun menikmati makanan itu bersama. Bahkan kami sesekali


bersenda gurau bersama.


“dengar, Ibu sudah mengemas semua barang Ibu. Tapi sebelum pergi Ibu ingin mengunjungi makan


bapakmu dulu”


“inggih Bu, kita nanti pergi ke makam bapak bareng-bareng”


“gimana keadaanmu Cah ayu?”


“aku baik Bu”


“Ibu dengar kamu sudah banyak mengalami banyak masalah”


“aku baik-baik saja Bu. Mas Hari selalu ada buat aku”


“maaf Ndok, Ibu gak ada untuk kamu”


“Ibu, sekarang Ibu mau tinggal sama aku aja aku udah seneng banget”


“Ibu cuma pengen anak-anak ibu seneng”


Ya, itulah ibu mertuaku. Dia tidak pernah menganggap menantunya sebagai seorang menantu. Dia memperlakukanku seperti putri bungsunya, karena itu aku sangat menyayangi ibu mertuaku.


“assalamualaikum...”


Suara seorang pria tiba-tiba mengejutkan kami. Pria itu adalah kakak iparku, Mas Indra dan keluarganya. Kedatangan mereka membuat kami bertanya-tanya lantaran mereka datang dengan membawa banyak barang.


“Indra, ono opo to le?” kata Ibu


Mas Indra segera memeluk ibunya sembari menangis tersedu-sedu dia bahkan meminta maaf. Ibu


yang menyaksikan hal itu turut menangis pula. Aku menghampiri Mba Yayu, isteri Mas Indra dan anak-


anaknya. Aku memeluknya.


“Mba..


“Dek...”


“kalian duduklah dulu baru jelaskan apa yang sudah terjadi” kata Mas Hari


“aku akan ambilkan air”


Aku berlari mengambilkan air dan kemudian mengantarkannya kembali. Ketika itu Mas Indra mengatakan jika mereka sedang dalam kesulitan. Mas Indra dan keluarganya harus pergi meninggalkan rumahnya sendiri karena usaha yang dilakukannya telah bangkrut.


“Ya Allah Gusti Pangeran..” kata Ibu


Aku yang saat itu duduk di samping Mas Hari lantas memeluk sebelah tangannya. Aku merasa


kasihan kepada mereka.


“Ibu, izinkan kami tinggal di sini sama Ibu”


“Le, Ibu akan tinggal sama Hari di Jakarta. Kalau kamu mau tinggal disini gak apa-apa. “


“Mas...” bisikku


“kalau Mas mau kita bisa tinggal sama-sama di Jakarta”


“Ndak usah Hari. Mas takut merepotkanmu dan isterimu”


“enggak kok Mas. Mas Indra jangan punya pikiran kaya gitu. Aku sama Mas Hari senang kalau Mas dan Mba Yayu mau tinggal bareng kita” kataku


“Ibu tidak bisa memaksamu”


“kami tidak punya apa-apa Dek. Kami takut kalau tinggal di Jakarta akan menyusahkan kalian”


“Mas Indra, kita semua keluarga. Ibu juga pasti senang kalau semua anaknya ngumpul bareng. Aku juga senang karena bisa ikut menjaga Retnayu sama Rangga. Mas Hari, tolong Mas bujuk Mas Indra”


“Mas. Mas tau toh kalau isteriku ini keras kepala. Jadi tolong Mas pikirkan sarannya.”


“Mba Yayu, mau kan?” tanyaku


“Mba cuma bisa ikut kemana suami akan pergi Dek”


“Bagaimana Bu?” tanya Mas Indra


“Ibu akan senang kalau kamu akan ikut. Tapi jika tidak Ibu tidak masalah, ibu hanya ingin yang terbaik, ibu gak bisa bantu banyak, Ibu sudah tua”


Mas Indra spontan berlutut di kaki ibu yang membuatku sangat tersentuh. Kami meneteskan air mata karena rasa haru yang tercipta.


“wis to le...”


“sekarang aku gak punya apa-apa lagi Bu. Aku wis susah”


“ya Allah Gusti, kenapa ini terjadi. Anakku..” ibu memeluk Mas Indra


“aku malu Bu, aku gak sanggup lagi”


“Mas...” kata Mba Yayu


“jangan ngomong gitu Nak. Kamu masih punya Ibu, masih punya adik, masih ada isteri dan anakmu”


Aku segera berpindah untuk duduk disamping Mbak Yayu untuk menenangkannya.


“Wis to Mas, kalian semua ikut saya aja ke Jakarta. Kita hidup sama-sama di sana”


“Mas takut bikin kalian repot”


“sama sekali engga Mas, gak pernah saya merasa seperti itu”


Syukurlah, akhirnya Mas Hari berhasil meyakinkan kakaknya untuk mau tinggal bersama dengan


kami di Jakarta.


Malam sebelum pergi kami menghabiskan waktu dengan berbincang bersama. Aku berkumpul bersama dengan Mba Yayu, Ibu, Retnayu dan Rangga, sedangkan Mas Hari memilih berbincang ditempat lain bersama dengan Mas Indra,


“Mba Yayu, aku janji, kalau aku akan bentuin Mba Yayu ngurus Retnayu dan Rangga. Aku akan anggap mereka seperti anakku sendiri. Mba gak keberatankan?”


“tentu engga Dek. Mba akan senang kalau mereka juga bisa dirawat olehmu. Pastikan mereka juga bisa menghormatimu seperti mereka menghormati ibunya”


“Mba...?”


“Iya Dek. Mba ingin mereka juga jadi anakmu. Mba ingin mereka bisa mendapat nilai-nilai luhur


darimu”


“akan aku lakukan apapun untuk mereka. Ibu, sekarang aku punya putera dan puteri”


“Iya Nak..”


Aku memeluk ibu dan Mba Yayu silih berganti. Bukan main aku merasa senang karena hal itu. Aku tidak menyangka jika Mba Yayu mengizinkan aku untuk menjaga kedua anaknya seperti anakku sendiri.


Tidak berapa lama Mas Hari dan Mas Indra datang menghampiri kami.


“kenapa toh?” tanya Mas Hari


Aku hanya tertawa tanpa menjawab apapun tentang pertanyaannya.


“sekarang isterimu sudah punya dua anak” kata ibu


“apa?”


“Iya Ri, sekarang isterimu juga ibu untuk Retnayu dan Rangga” kata Mba Yayu


“oh ya? Mereka pasti senang dan bahagia karena punya dua ibu, dan salah satunya adalah istrimu”


“syukurlah kalau kamu senang” kata Mas Hari dan bergegas pergi


Aku bingung dengan sikapnya, entah apa yang sudah terjadi antara Mas Hari dan Mas Indra sehingga membuat sikap Mas Hari yang demikian.


“Mas Indra, ada apa sama Mas Hari? Kenapa Mas Hari pergi?” tanyaku


“kamu tenyalah sendiri sama suamimu” lata Mas Indra


Aku merasa ada yang tidak beres, tapi melihat ekspresi Mas Hari yang tersenyum seperti itu aku merasa jika ini bukanlah sesuatu masalah yang besar. Meski begitu aku tetap memutuskan untuk pergi menemui Mas Hari yang berada di dalam kamar tidurnya.


“Mas?” tanyaku


Mas Hari hanya menoleh tanpa mengatakan apapun.


“ada apa? kamu gak suka kalau Retnayu dan Rangga juga jadi anakku?”


“bukan itu”


“terus apa Mas? Kenapa kamu pergi gitu aja? Ceritain semuanya sama aku Mas”


“dengar Dek, sebenarnya ada yang pengen Mas omongin sama kamu”


“kalau begitu, katakan”


“anu, Mas...Dek”


Aku was-was dengan apa yang akan dikatakan Mas Hari. Aku tidak bisa lagi berfikir jika ini hanyalah sebuah lelucon setelah melihat ekspresi Mas Hari.


“Mas mau ngasih ini sama kamu” kata Mas Hari sembari memberikan sebuah kotak


Tanpa banyak berkata-kat aku membuka kotak itu., dan isinya tidak lain adalah sebuah kalung berlian yang sejak lama aku inginkan.


“Mas...”


“kamu suka?”


Aku memeluk Mas Hari segera, “aku suka sekali. Terima kasih”


Mas Hari memakaikan kalung itu padaku.


“kamu terlihat cantik dengan kalung itu” katanya sembari memelukku


“aku takut kalau Mas akan bilang sesuatu yang buruk tadi”


“tidak, gimana bisa kamu mikir itu?”


“Mas pergi tiba-tiba, ekspresi wajah Mas. Aku kira aku akan mendengar hal buruk”


Aku senang malam ini. Sangat senang. Kebahagiaan yang diberikan suamiku tidak pernah bisa aku duga. Dan inilah keluargaku, keluarga yang bahagia yang selama ini selalu aku inginkan.


Keesokan harinya kami semua pergi bersama menuju Jakarta dengan menggunakan pesawat agar tidak begitu menyita banyak waktu, mengingat di antara kami ada ibu dan dua orang anak kecil yang akan cepat bosan jika berada dalam perjalanan terlalu lama.


Setelah beberapa jam berkendara akhirnya kami tiba di rumah baru kami bersama dengan keluarga Mas Hari.


“Ya Allah Le, besar sekali rumahmu”


“allhamdullilah Bu, ini berkat doa Ibu dan Isteriku”


“ayo masuk..”


“Mang Ujang, Mba Yati tolong bawa semua tas ke atas ya..” kataku


“Inggih Bu”


“Mbok Sum tolong siapin makanan ya”


“inggih Bu”


Aku dan Mas Hari mengantar semuanya menuju kamar mereka masing-masing. Kami memang sengaja menempatkan seluruh keluarga di lantai dua karena memang di sana terdapat empat kamar. Satu kamar utama yang cukup besar yang aku tempati, dan tiga kamar berukuran biasa.


“Ya Allah Gusti, besar sekali” kata Ibu


“di sini kamar kalian, dan di sini juga ada dapur bersih adi kalian gak perlu repot untuk turun kalau mau makan sesuatu pas malem” kataku


“Hari, Mas berterima kasih sekali karena kamu sudah mau menampung Mas”


“aku tidak menampung siapapun Mas. Ini juga rumah kalian”


“Dek, Mba juga sangat berterima kasih atas kebaikan kamu”


“aku senang kalian semua ada di sini. Sekarang kalian istirahat dulu”


Pada saat yang sama tiba-tiba ponselku bergetar. Panggilan dari ibuku.


“Mas, aku jawab dulu ya” kataku dan bergegas pergi


“Hallo Mah...?”


“kenapa gak bialng sama Mamah?”


“apa?”


“kalian pindah rumah dan jual rumah yang lama”


“oh itu. Mas Hari pasti yang ngasih tahu. iya, sekarang keluarga Mas Hari juga ikut pindah”


“Ibunya?”


“sama kakaknya. Mereka semua ada di sini”


“kenapa?”


“ceritanya panjang. Tapi kita berdua sepakat untuk itu. Maaf karena Ia gak banyak cerita”


“gak apa-apa, tapi Ia gak keberatan kan?”


“engga Mah, sekarang Ia juga senang karena ada penggantinya Mey. Kalau aja Mey masih sama Ia pasti nambah rame di rumah”


“ya udah, Mamah cuma bisa doain aja. Yang nurut sama suami”


“iya Mah”


Tiba-tiba seseorang memelukku dari belakang. Dia adalah Mas Hari.


“kalau gitu Ia tutup dulu ya”


“Assalamualaikum Mah” tukas Mas Hari


“waalaikum salam Hari, ya sudah Mamah tutup dulu”


“kenapa Mati?”


“karena kita udah ngobol dari tadi”


“oh ya, Mamah gak masalahkan kalau keluarga Mas tinggal disini?” tanya Mas Hari sembari menatapku


“engga Mas. Mamah malah doain yang terbaik untuk kita.


“tadi juga Mas denger kamu ngomongin tentang Mey”


“itu....aku”


“Mas tahu. tapi sekarang kamu sudah punya Retnayu dan Rangga”


“iya Mas. Mereka seperti obat buat aku”


Mas Hari memelukku dengan erat.


“Mas, aku mau turun dulu. Aku mau bantuin Mbok Sum dibawah”


“kenapa? Kamu tunggu aja disini, nanti juga makannya siap”


“ engga bisa kaya gitu. Makanan apapun yang dibuat dirumah ini harus ada campur tanganku. Setidaknnya itu yang bisa aku lakuin”


“ya sudah”


Aku bergegas pergi, namun baru saja beberapa langkah berjalan aku memilih untuk berbalik, berlari dan kemudian mencium Mas Hari. Mendapati perlakuan seperi itu Mas Hari hanya tersenyum, sedangkan aku langsung berlarai kabur setelah melakukannya.


Selanjutnya aku bergegas turun untuk membantu Mbok Sum dan Mba Yati membuat makanan untuk disantap keluargaku. Hari ini Mbok Sum membuat menu makanan yang sederhana, yakni ikan goreng, tempe goreng, sup, udang balado danbubur untuk dua anak baruku.


Selama mereka bekerja denganku, aku memang tidak pernah mengizinkan mereka memasak makanan tanpa aku. Sesibuk apapun, aku akan tetap menyempatkan diri untuk memasak bagi keluargaku.


Setelah selesai memasak, aku meeminta seluruh anggota keluargaku untuk turun dan menikmati menu makan siang bersama. Semua berkumpul kecuali Retnayu dan Rangga yang masih tertidur pulas.


“ini semua kamu yang Masak Dek?” tanya Mba Yayu


“engga Mba, Mbok Sum sama Mba Yati juga bantuin” kataku


“seharusnya Mba tahu tadi kalau kamu masak, Mba bisa bantuin


“lain kali, Mba Yayu bantuin aku. Sekarang makan aja makanannya oke”


“terima kasih ya Cah Ayu..”


“iya Bu. Oya Retnayu sama Rangga masih tidur?”


“iya, mungkin mereka kecapen”


“oh gitu. Tadi aku udah bikinin bubur untuk mereka, kali aja mereka gak mau makan nasi, makanya aku bikinin bubur”


“terima kasih Dek, kamu udah baik banget sama kami”


“gak apa-apa Mas. Ayo sekarang kita makan”


Sosok Mas Indra bagiku seperti seorang kakak yang selama ini aku impikan, kakak yang selalu mengaayomi adiknya, menjaga adiknya dan selalu menasehati adiknya. Selama aku mengenalnya, tidak pernah sekalipun aku melihat sikap buruk, entah itu padaku, ibu, ataupun keluarga kecilnya.


Begitu pula dengan isterinya, Mba Yayu. Dia selalu mengajariku bagaimana menjadi seorang wanita yang santun dan selalu hormat pada suami. Seperti namanya, dia juga memiliki sikap yang sangat kalem dan lemah lembut. Melihat mereka, mengingatkanku pada kisah kuno Rama Sinta yang termahsyur.