
Aku merasa hubunganku dan Mas Hari sudah jauh berbeda, sudah tidak seperti sebelumnya. Aku tidak nyaman dengan keadaan hubunganku dan suamiku sendiri. Sampai pada suatu malam aku memberanikan diri untuk mengajak Mas hari pergi mengunjungi Rumah Bimbingan, karena memang sudah cukup lama aku tidak lagi mengunjungi tempat itu.
Kini tibalah hari itu. Sekitar pukul sepuluh pagi aku dan Mas hari bergegas pergi menuju Rumah Bimbingan tanpa sepengetahuan orang lain, bahkan ibu sekalipun. Dalam perjalanan yang cukup panjang itu kami mulai dengan keheningan, tidak ada suara saling bersahutan. Entah apa yang sebenarnya terjadi pada kami. Sementara itu aku hanya bisa memandang wajah Mas Hari yang sedang mengemudi dari samping.
“kenapa?” tanya Mas Hari
Aku tersenyum, “gak ada, cuma rasanya udah lama aku gak lihat wajah Mas sedeket ini”
“makanya, jangan sering jauh-jauh”
Aku tertawa mendengar jawaban yang terlontar dari mulut Mas Hari karena memang aku merindukan hal seperti ini setelah sekian lama. Di saat yang sama dengan hal itu, Mas Hari menggenggam tanganku dan kemudian menciumnya.
“rasanya udah lama kita gak berduaan”
“makanya Mas jangan terlalu sibuk”
Kami tersenyum bersama. Keheningan yang semula menyelimuti perlahan mulai menghindar seiring dengan semakin dekatnya jarak tempuh kami menuju Rumah Bimbingan yang dulu pernah menjadi bagian dari hidupku.
Tidak lama kemudian, kami pun akhirnya tiba teras Rumah Bimbingan. Tidak banyak yang berubah pada rumah itu, hanya saja semakin banyak anak-anak yang berada di sana. Mba Ros dan Tuti yang masih bekerja di sana segera menyambut kedatangan kami dengan wajah bahagia dan senyum tulus yang terlukis jelas di wajah mereka.
“Ibu....” kata Mba Ros
“Mba Ros, Tuti gimana kabarnya?” tanyaku
“baik Bu, Ibu gimana?”
“saya baik. Anak-anak?”
“ya beginilah Bu”
“kenapa semakin banyak anak-anak yang ada di sini?”
“semenjak Ibu udah gak pernah datang, anak-anak yang tinggal di sini semakin banyak Bu. Kita hampir kewalahan karena gak ada tenaga lain yang bantu kita”
“oh gitu, boleh saya liat mereka?”
“boleh Bu, mari. Pak..”
Mba Ros mengajak kami berjalan mengelilingi Rumah Bimbingan. Sebenarnya rumah ini sudah tidak asing bagiku, bahkan aku sudah sangat mengenal seluk beluk rumah ini. Di setiap langkah aku mendengar tawa dan jeritan anak-anak yang sedang riang bermain dengan sesamanya. Tapi kenapa hatiku merasa kecil mendengar suara mereka. Hatiku menangis mendengar suara mereka.
Banyak anak-anak yang beranjak dewasa menyambangi kami dan mencium tangan kami. Aku tahu maksud mereka melakukan hal itu, karena jauuh dari lubuk hati mereka yang paling dalam mereka ingin memiliki orang tua dan mereka berharap kami mau mengangkat salah satu dari mereka untuk menjadi bagian keluarga kami.
“ada berapa banyak anak-anak di sini?” tanyaku
“sekitar tiga puluh anak, Bu. Dan kemarin kita nambah satu bayi jadi totalnya 31 anak”
“bayi?” kataku terkejut
“iya Bu, usianya sekitar dua atau tiga hari waktu saya nemuin dia di depan pintu”
Aku langsung dibuat lemas mendengar hal itu. Aku tidak habis fikir dengan seorang ibu yang tegas membuang anaknya, sedangkan banyak wanita seperti aku yang sangat menginginkan seorang anak.
“mau saya antar Bu?”
“iya..”
Mas Hari yang menyadari keadaan hatiku lantas menggenggam tanganku lagi. Dia berusaha menguatkanku. Selanjutnya Mba Ros mengajak kami berdua menuju sebuah kamar tempat bayi itu berada.
Sampailah kita di depan pintu sebuah ruangan. Dari arah pintu aku melihat seorang anak laki-laki
berusia sekitar 13 tahun sedang menggendong bayi mungil itu. Melihat pemandangan itu aku merasa sangat tersentuh. Aku merasakan begitu tulus dan besarnya kasih sayang anak itu terhadap bayi dalam pelukannya. Tapi kemudian muncul pertanyaan dalam benakku tentang apa hubungan keduanya, mengapa mereka bisa begitu sangat dekat.
“dia kakaknya?” tanyaku
“bukan Bu, dia Bagus. Sudah tiga bulan di sini, dan sejak bayi itu di sini fokusnya jadi tertuju sama bayi itu. Ya gitulah setiap hari”
Aku perlahan berjalan menghampir anak itu. Kusentuh bahunya dan kuuminta ia untuk memberikan bayi itu padaku. Untung saja bocah lelaki itu mengerti maksudku dan segera memberikan bayi itu padaku.
“kasian dia...” kata bocah itu
Aku menatap wajah bayi mungil yang berada dalam gendonganku. Aku membelai wajah mungilnya. Akan tetapi fokusku tertuju pada bocah laki-laki yang masih setia berdiri di sampingku menantiku memberikan bayi itu lagi padanya.
“kenapa kamu jagain dia?” tanyaku
“kasian dia”
“kamu sayang dia?”
“engga, cuma kasian karena gak ada ibu kaya aku”
Air mataku tiba-tiba menetes mendengar perkataannya. Hatiku juga merasa hancur berkeping-
keping. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaannya hidup tanpa seorang ibu. Sontak aku meraih bocah laki-lai itu dan memeluknya erat.
“kamu rindu ibu?”
“iya, tapi aku gak tau dimana Ibu”
“mau ikut saya?” spontan aku melontarkan kata-kata itu
Bocah itu terdiam tanpa bisa menjawab apapun, begitu pula dengan yang lain. Aku merasa hatiku sedang mengatakan “dia anakmu, bawalah”. Untuk beberapa saat suasana hening karena perkataanku, sampai akhirnya Mba Ros meminta bayi yang sudah terlelap dalam gendonganku itu.
“kita ke kantor aja Bu, Pak” kata Mba Ros
Dengan suasana hati yang mulai tidak terkendali dan pikiran yang mulai tidak fokus aku berjalan menuju kantor Rumah Bimbingan. Di sana, Tuti memberikan kami minuman dan beberapa makanan ringan. Sementara itu aku memilih untuk duduk bersandar di salah satu sofa sembari pikiranku terus tertuju pada bocah lelaki itu.
“ Mba Ros, anak laki-laki tadi apa sudah ada yang mengurus untuk mengadopsi?” tanyaku
“oh? Belum Bu”
“Dek, kenapa kamu tanya itu?” kata Mas Hari
“gak tahu mas, tiba-tiba aku ngerasa berat buat ninggalin dia. Aku pengen dia jadi bagian dari diriku”
“Dek..?”
“kamu lihat caranya ngemong bayi tadi Mas? Dia punya kasih yang melimpah dalam hidupnya. Dia
gak mau bayi itu merasa kalau dia kehilangan ibunya, padahal dia sendiri hidup tanpa ibu. Aku pengen jadi ibunya Mas”
“ Dek, coba kamu pikirin dulu baik-baik, keputusan ini gak bisa diambil dengan sembrono. Kamu harus pikirin dulu mateng-mateng. Lagi pula ngurus masalah adopsi itu gak gampang”
“Mas...”
“Mas ngerti. Kamu gak pernah kaya gini sebelumnya, tapi saat kamu lihat anak itu tiba-tiba kamu jadi kaya gini”
Aku langsung mengalihkan perhatianku dari Mas Hari. Aku sama sekali tidak ingin berdebat dengan semua argumennya yang menurutku berusaha untuk menentang apa yang yang menjadi keinginanku.
“Mba Ros, bisa tolong bawa anak itu ke sini?”
“iya Bu”
Mba Ros segera bergegas pergi, sementara itu Mas Hari kembali menyambung pembicaraan sebelumnya.
“Dek, kamu harus pikir dulu matang-matang sebelum ambil keputusan ini”
“Mas, sebelumnya aku gak pernah kaya gini. Sekian banyak anak yang aku temuin, baru kali ini aku punya perasaan yang lebih”
“kita omongin ini di rumah. kamu ketemu aja dulu sama anaknya”
Aku terdiam setelah mendengar perkataan Mas Hari. Aku tahu dari caranya berbicara, Mas Hari mencoba untuk mengubah keinginanku atau mungkin dia sangat terkejut mendengar keinginanku yang tiba-tiba.
Tidak lama kemudian bocah laki-laki yang dimaksud pun datang. Dengan tatapan kebingungan dan wajah yang tanpa seri ia berjalan mendekatiku. Kuraih tangannya, kugenggam erat dan kucium dengan segala cinta kasih yang kumiliki. Melihatnya seperti aku melihat diriku sendiri. Jangan tanya apa yang sebenarnya terjadi padaku, karena aku sendiri tidak tahu dengan pasti apa yang sedang terjadi pada diriku.
Tidak banyak kata-kata yang terucap dari mulutku. Mulutku seolah membatu dan hanya puas dengan menatap wajah lugu anak lelaki itu.
“kamu rindu ibu?” tanyaku perlahan
Lama pertanyaanku tidak beroleh jawaban, sampai ahirnya bocah malang itu menganggukan
kepalanya. Aku tersenyum padanya. Aku peluk ia dengan erat tanpa sepatah katapun terucap.
Setelah itu aku memilih untuk menghabiskan waktu beberapa lama lagi bersama dengan anak lelaki itu. Aku mulai menanyakan bagaimana kehidupannya sebelum ia berada di tempat itu. Dengan sangat seksama aku dan Mas Hari mendengarkan penuturannya.
***
Aku adalah anak pertama dari dua bersaudara. Namaku Bagus Sudewo dan adik perempuanku bernama Saraswati Sudewo. Aku sangat menyayangi adik perempuanku itu, tidak peduli bagaimana caranya aku akan melindunginya dan memberikan banyak cinta untuknya. Kami berdua berada dalam sebuah keluarga yang tidak begitu mapan. Ayahku hanya seorang buruh serabutan, sedangkan ibuku bekerja sebagai buruh cuci baju-baju tetangga.
Sebelum ayah membawaku ke Jakarta, aku dan adikku tinggal di sebuah rumah kecil di desa yang dari sana bisa aku kunjungi banyak tempat yang indah, yang nanti akan aku ceritakan.
Ibu adalah wanita tangguh bagiku. Dia selalu berusaha untuk membuat hari-hariku dan adikku bahagia penuh dengan senyuman. Tapi mungkin tanpa ibu sadari aku mengerti tentang rasa lelah yang selama disembunyikannya. Sementara itu, ayah adalah lelaki yang keras. Terkadang aku takut untuk berbicara dengannya. Tapi prcayalah, aku juga belajar banyak dari ayah. Sebagai seorang laki-laki aku harus tumbuh menjadi insan yang kuat dan mampu melindungi orang-orang disekelilingku. Itulah orang tuaku.
Tapi Saraswati, dia hanya seorang perempuan kecil yang selalu menggenggam tanganku. Seorang adik perempuan yang hanya bisa menghabiskan hari-harinya di atas selembar kasur palembang yang lusuh. Aku masih ingat, ibu pernah mengatakan jika Saraswati tidak bisa keluar rumah seperti temannya yang lain, tapi apa alasannya aku juga tidak tahu. Ibu hanya berpesan agar aku menjaga Saraswati setiap hari tanpa pernah membuat Ibu dan ayah merasa khawatir. Aku melakukannya dengan baik. Aku menjaganya sepanjang hari, bahkan aku tidak lagi bermain bersama temanku sepulang sekolah, tapi aku memilih menghabiskan waktu bersama dengan Saraswati.
Sering sekali ibu membawa Saraswati pergi ke dokter, dan saat mereka kembali ibu langsung mencekoki mulut Saraswati yang kecil dengan obat yang tidak sedikit. Aku sempat berfikir tentang bagaimana Saraswati menelan semua obat-obat yang tidak enak itu.
Semakin lama, semakin jarang ibu membawa Saraswati ke dokter, dan semakin jarang pula aku melihat Saraswati dicocoki obat. Tapi aku melihat kondisi Saraswati yang tidak sebaik sebelumnya. Pernah sekali waktu aku tidak sengaja mendengar perbincangan ibu dan ayahku. Ketika itu mereka mengatakan bahwa mereka tidak memiliki uang lagi untuk biaya pengobatan Saraswati dan untuk sekolahku. Jangankan untuk itu, untuk makan esok hari saja mereka harus bekerja keras terlebih dahulu.
Siang itu, sepulang dari sekolah tiba-tiba terlitas dalam pikiranku tentang pembicaraan ibu dan ayahku kemarin. Sepanjang jalan menuju rumah aku berfikir tentang bagaimana cara memecahkan masalah itu. Masalah yang sebenarnya tidak begitu aku pahami, yang aku pahami hanyalah bagaimana aku bisa menghasilkan uang seperti ayah dan ibuku.
Di tengah perjalananku yang gundah, tiba-tiba terlintas dalam pikiranku tentang hewan-hewan ternak yang mungkin bisa aku gembalakan. Ide itu muncul dengan tiba-tiba dalam pikiranku, dan dengan tiba-tiba pula aku memutar haluan langkah kakiku menuju kediaman Pak Haji untuk menawarkan jasaku.
Dengan penuh semangat aku berjalan menuju kediaman Pak Haji, dan pada saat aku tiba di sana, aku tidak melihat seorang pun ada di depan rumahnya. Sontak saja hal itu hampir membuat niatku urung karena aku tidak tahu kepada siapa aku harus menyampaikan tujuanku datang ke sana. Tapi kebimbangan itu segera terusir dari pikiranku saat bayangan Saraswati dan orang tuaku muncul dalam pikiranku.
Selanjutnya aku memberanikan diri melangkahkan kaki mendekati pintu rumah Pak Haji yang terbiat dari kayu bagus dengan ukiran khas daerah tempatku tinggal. Aku ucapkan salam dan memanggil-manggil Pak Haji berulang kali. Beberapa kali pula panggilanku tiada yang menjawab, sampai akhirnya terdengar suara seorang perempuan yang menjawab salamku, lalu kemudian perempuan itu muncul dari balik pintu.
“iya Dek, cari siapa?” tanya wanita itu padaku
“Pak Haji nya ada Bu?”
“oh Bapak? Bapak lagi keluar. Ada perlu apa ya Dek?”
Suara perempuan itu sangat ramah padaku. Perempuan berkerudung dalam dengan jubah besar menutupi tubuhnya itu tidak lain adalah istri dari Pak Haji. Aku dan orang-orang biasa memanggilnya dengan sebutan Bu Haji.
“... ada perlu apa ya Dek?” tanya wanita itu
Aku terdiam dan tertunduk. Tidak tepat rasanya aku mengatakan apa yang menjadi tujuanku datang ke sini kepada wanita itu. Aku lebih memilih diam hingga ia mengulang pertanyaan yang serupa.
“gini aja, Adek tunggu aja di sini sampai Pak Haji nya datang ya. biar nanti Ibu ambilin minum” kata perempuan ramah itu setelah tidak beroleh jawaban dari mulutku
Aku hanya mengangguk dan kemudian duduk di tepi teras rumah Pak Haji. Sementara itu perempuan ramah tersebut langsung kembali ke dalam rumah tanpa sempat aku melihat bagaimana ekspresi wajahnya.
Memang benar apa yang dia ucapkan sebelumnya. Tidak lama setelah ia pergi meninggalkanku, dia kembali untuk memberikan segelas air putih dan beberapa makanan untukku.
“dimakan ya Dek, sebentar lagi Pak Haji datang” katanya
Aku canggung ketika berhadapan dengan wanita itu. Aku lebih memilih untuk tertunduk dan tidak mengatakan apapun padanya. Cukup lama aku menanti datangnya Pak Haji hingga berat rasanya kepalaku karena terus tertunduk.
Tidak berselang lama seorang pria bertubuh tinggi, ramping, dan mengenakan sorban serta peci putih datang menghampiriku. Dengan raut wajah yang ramah pria itu menyapaku.
“Dek? Cari siapa?” tanyanya
Aku diam menatap wajahnya, tidak ada satu katapun terlontar dari mulutku untuk menjawab pertanyaan pria itu. Sampai akhirnya wanita berkerudung itu datang kembali dan menjelaskan semuanya kepada pria yang berada di hadapanku.
“anu Pak...” kataku
“sini, sini, kita duduk dulu di sini nanti baru adek jelaskan ada perlu apa?”
Pria itu menuntunku dan mendudukanku di sampingnya. Dia mengusap-usap punggungku dengan wajahnya yang terus saja ramah.
“Adek, siapa namanya? Ada perlu apa cari saya?” tanyanya lagi
“saya Bagus, Pak Haji. Anu Pak, saya mau menggembalakan domba Pak Haji” kataku dengan terbata-bata
Pria itu lantas tertawa sesaat setelah aku mengatakan hal demikian. Aku tidak tahu dimana letak kelucuan dari perkataanku.
“oh begitu toh. Boleh-boleh. Saya senang karena akhirnya domba-domba saya ada yang menggembalakan. Tapi kenapa Dek Bagus mau menggembalakan domba-domba saya?”
“saya mau cari uang Pak Haji”
“lho? Orang tuanya memang kemana?”
“mereka bekerja”
“kalau begitu uangnya buat apa sama Dek Bagus?”
“buat biaya ke dokter adik saya Pak”
“memang adiknya sakit apa?”
“tidak tahu Pak Haji tapi dia gak bisa pergi kemana-kemana, cuma di ruamah.”
“ya sudah, kamu boleh menggembalakan domba-domba saya. Hari ini bisa?”
“bisa Pak Haji”
Dengan sangat antusias aku berdiri dan mencium tangan Pak Haji yang sudah berbaik hati
mempercayakan domba-dombanya padaku. Tanpa mengulur banyak Pak Haji segera membawaku pergi menuju kandang domba-dombanya. Domba-domba berbagai ukuran ada di dalam kandang itu, jumlahnya sekitar tujuh ekor domba.
Tanpa mengulur banyak waktu aku segera bersiap-siap untuk menggembalakan domba-domba tersebut. Kulepaskan tas sekolahku, kulepaskan pula seragam sekolahku yang sebenarnya sudah tak baru. Kutinggalkan tas serta seragam sekolahku di dekat kandang domba, lalu selanjutnya aku memasuki kandang domba-domba itu dan menggiring semua domba menuju padang rumput yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kediaman Pak Haji.
Menggembala seperti ini sudah sering aku lakukan dulu bersama dengan kakekku. Tapi menggembalakan banyak domba seperti ini adalah kali pertama bagiku. Tentu saja aku merasa takut mengembalakan domba yang tidak sedikit ini, tapi kemudian aku meyakinkan diriku sendiri jika aku mampu melakukannya.
Kugiring semua domba-domba itu menuju padang rumput segar. Tidak peduli dengan tteriknya
sinar matahari yang menyoroti tubuhku, aku tetap menggiring domba-domba itu menuju tempat tujuan. Aku berjalan melewati jalan setepak hingga jalan besar yang penuh dengan lalu lalang kendaraan. Aku pun melewati rumah-rumah warga sekitar yang saling berjejer di setiap sisinya. Tidak sedikit pula orang-orang yang menyapaku dan menyatakan keterkejutan mereka dengan apa yang kulakukan.
Setelah berjalan sekian lama, akhirnya aku dan domba-domba gembalaku tiba di bawah padang rumut. Aku menempatkan domba-domba itu di tempat yang masih terjangkau olehku saat aku beristirahat nanti. Setelah semua domba diikat dengan kuat agar mereka tidak kabur, aku memilih tempat yang baik untuk bersantai, duduk, dan memperhatikan domba gembalaanu.
Aku memilih beristirahat di atas sebuah batang pohon tua yang telah roboh. Dari sana aku bisa merasakan hembusan angin yang menyejukan serta bisa memantau domba-domba itu tanpa terhalang apapun. Kurebahkan diriku diatas batang pohon itu dan menatap luasnya langit biru yang ada di atasku. Tidak bisa kupingkiri, semilir angin yang menyejukan berhasil membuat kedua mataku terpejam dan akhirnya terlelap.
Entah berapa lama aku tertidur saat itu, akan tetapi saat aku kembali membuka kedua mataku hari sudah mulai senja. Segera aku menghampiri domba-domba itu dan bersiap untuk menggiring mereka kembali ke kandang mereka di kediaman Pak Haji.
Hari sudah berganti malam saat aku tiba di rumah. melihat pintu rumah yang sudah tertutup membuat jantungku berdebar kencang. Aku berfikir pasti ayah dan ibuku sudah sangat mencemaskan aku, dan aku pasti akan mendapat amarah mereka karena pulang sangat larut. Perlahan aku membuka pintu rumahku dan mengamati keadaan rumah dengan sangat hati-hati. Sejurus dengan pandanganku, aku melihat ibu sedang duduk menemani Saraswati yang terbaring dipangkuannya, sedangkan ayah hanya diam dengan pandangan yang kosong.
Suasana rumah begitu hening saat itu, ketakutanku untuk masuk ke dalam rumah semakin menjadi. Tapi kemudian aku memberanikan diri untuk masuk dan memberanikan diri menerima resiko dari keputusanku sebelumnya yang akan aku dapat nantinya. Perlahan aku melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah. Kusapa ayah dan ibuku, dan mereka segera menatapku dengan tatapan yang sangat menakutkan.
Ibu memindahkan Saraswati dari pangkuannya, “dari mana saja kamu? Kenapa sekarang baru pulang? Kamu gak ingat adikmu di sini gak ada yang nunggu sementara Ibu harus kerja” kata ibu dengan nada suara yang tinggi.
Aku hanya bisa tertunduk tanpa bisa menjawab apapun, karena sebenarnya aku tidak tahu jawaban apa yang harus aku katakan pada ibu dan ayahku. Tanpa aba-aba, ibu tiba-tiba terpancing emosi dan memukul punggungkku dengan sangat keras. Aku mencoba menahan rasa sakit itu, tapi sekuat apapun aku menahannya air mataku tetap saja terjatuh.
“kenapa gak jawab Ibu? budek kamu? Mau jadi anak pembangkang kamu?” kata ibu
“maaf Bu” kataku lirih
Ibu terus saja meneriakiku dan menyerangku dengan banyak pertanyaan yang sama sekali tidak bisa kujawab. Sementara itu ayah tetap saja diam mendengarkan keributan yang terjadi tanpa melirik atau menghentikan ibu. Aku menangis, semakin kucoba menahan air mataku semakin deras air mata itu keluar dari kedua mataku. Setelah meneriaki dan memukulku, ibu bergegas pergi meninggalkanku dengan kemarahannya bersama dengan Saraswati. Kini yang tinggal hanya aku dan ayah yang masih diam.
Antara aku dan ayahku hanya ada keheningan. Kami berdua hanya diam. Aku tidak bisa pergi kemanapun, hanya bisa berdiam diri dan tertunduk di tempatku semula. Aku tidak bisa pergi berlari masuk ke dalam kamarku, karena aku merasa kakiku sedang dibelenggu sehingga aku tidak bisa pergi kemanapun.
“Bagus. Sini Nak” kata ayah memanggilku
Aku mengangkat pandanganku dan menatap ayahku yang masih duduk di tempatnya. Aku berjalan menghampirinya perlahan dan kemudian duduk di sampingnya. Tubuhku kaku, jantungku berdegub kencang saat akan berbicara dengan ayah. Tapi aku sangat yakin jika ayah tidak akan memarahiku seperti ibu sebelumnya.
Ayah mengusap-usap punggunggku berulang kali sebelum akhirnya ia mengatakan sesuatu dari
mulutnya.
“ kamu pergi kemana Nak? Kenapa jam segini baru pulang? Ibu kan jadi cemas” kata bapak
Aku hanya terdiam, tidak berani mengatakan apapun dan hanya menundukan kepalaku. Namun rupanya diamku itu membuat ayah semakin penasaran dengan apa yang aku lakukan dan membuatnya semakin memancing jawaban dari mulutku. Dengan rasa cemas aku pun memberanikn diri untuk menceritakan semua yang aku lakukan seharian ini.
Awalnya kuceritakan tentang keinginanku mencari uang saat pulang sekolah, lalu kemudian terlintas dalam pikiranku tentang menggembalakan domba milik Pak Haji sampai akhirnya aku menggembalakan domba-domba itu ke padang rumput.
Ayah mendengarkan ceritaku dengan sangat seksama. Ia tidak menyela dan tidak menyalahkanku atas apa yang sudah aku lakukan.
“Nak, Bapak terima kasih karena kamu sudah mau bantu kami. Tapi Nak, sekarang lebih baik kamu belajar dan jaga adikmu. Biar Ibu dan Bapak yang cari uang ya Nak..” kata bapak
Perkataan bapak sedikit membuatku merasa bersalah kepadanya dan ibu, tapi aku sama sekali tidak berniat untuk menghentikan apa yang sudah aku lakukan. Tapi yang perlu kulakukan adalah memikirkan bagaimana caranya agar Saraswati tidak sendiri saat aku juga bekerja kepada Pak Haji.
Di hari-hari selanjutnya aku sudah mulai mengganti pekerjaanku. Aku tidak lagi menggembalakan domba. Pak Haji memberiku keringanan untuk aku bisa bekerja dengannya, dia hanya memintaku mencarikan rumput segar setiap sore untuk domba-dombanya. Tidak hanya pekerjaan mencari rumput untuk domba-domba saja, di pagi hari saat bersekolah pun aku sempatkan untuk mencari uang. Aku juga menjual kue-kue buatan Bu Haji di sekolah, harganya murah tapi rasanya enak.
Setiap hari kue daganganku selalu habis dibeli oleh teman-temanku dan juga guru-guruku. Ada yang pernah mengatakan padaku jika mereka membeli daganganu karena mereka merasa kasihan padaku yang harus berjualan di sekolah. Aku sama sekali tidak peduli dengan apa yang dikatakan orang lain, yang penting bagiku hanyalah menghasilkan uang untuk Saraswati, adikku yang kusayangi.
Dua pekerjaan itu sudah cukup bagiku. Aku bisa menghasilkan uang yang lumayan bisa membantu orang tuaku dan aku juga masih bisa menjaga Saraswati setelah pulang sekolah hingga ibu atau ayah pulang bekerja.
Tapi ternyata dugaanku salah, dua pekerjaan itu sama tidak cukup untuk menghasilkan uang yang cukup. Terlebih saat Saraswati harus kembali pergi menemui dokter hampir setiap hari karena penyakit yang entah apa itu. Setiap malam ibu selalu menangis di samping Saraswati yang sudah tertidur. Dia selalu mempertanyakan alasan mengapa masalah seperti ini harus dihadapinya, dia juga selalu menyalahkan dirinya atas apa yang sudah terjadi.
Aku tidak tahan dengan semua omongan ibuku, aku ingin membantahnya tapi aku tidak berani mengatakan apapun untuk membantah apa yang sudah ibu katakan. Hampir setiap hariaku mendengar kalimat-kalimat yang tidak menyenangkan di hatiku.
Sampai pada suatu hari ketika aku masih menjajakan barang daganganku di sekolah, tiba-tiba Pak Toha tetanggaku datang menghampiriku. Dia mengatakan padaku untuk segera pulang karena Saraswati dibawa ke rumah sakit. Hatiku berdear hebat dan tubuhku lemas dibuatnya. Pikiranku menjadi tidak karuan memikirkan Saraswati. Dengan ketakutan yang semakin menguasaiku, aku pergi meninggalkan sekolah bersama dengan Pak Toha yang membantuku membawa barang-barang daganganku.
Aku dibawa Pak Toha menuju rumah sakit tempat Sarawati. Aku melihat wajah ibuku memerah dengan kedua mata yang sembab, dan ayahku duduk di samping ibuku sembari mengelus-elus bahunya. Kuhampiri mereka dengan wajah tegang, dan ibu langsung memelukku sembari menangis tersedu-sedu. Aku yakin pasti sesuatu yang sangat tidak baik sedang terjadi tapi aku tidak berani menanyakannya.
Bagiku kejadian hari itu adalah kejadian yang sangat menakutkan dan menyeramkan. Aku benar-benar dibuat sesak dan tidak tahan. Tapi aku tidak bisa mengatakan dan melakukan apapun untuk bisa keluar dari kejadian buruk itu terlebih lagi Saraswati ada di dalam ruangan dan aku tidak tahu apa yang sdang terjadi dengannya.
Cukup lama kami menunggu dengan penuh kecemasan di kursi rumah sakit yang sungguh sangat tidak nyaman. Sampai akhirnya ada seorang suster menghampiri kami dan meminta ayah dan ibuku untuk menemui dokter.
“kamu tunggu di sini” kata ayah
Aku diam tidak berani melangkahkan kaki ataupun hanya sekedar bergeser dari tempat dudukku. Aku menunggu dengan penuh kecemasan. Aku khawatir dengan keadaan Sarawati tapi juga penasaran dengan apa yang sedang dibicarakan dokter dengan orang tuaku.
Keadaan semakin tidak karuan. Semua orang hanya memperhatikan Saraswati, tapi memang begitulah seharusnya karena aku pun sangat menghkhawatirkan adik kecilku itu. Selama beberapa hari Saraswati dirawat di rumah sakit, tapi selanjutnya dia hanya bisa berbaring di rumah. ibu tidak pernah sealipun meningglkan Saraswati, dia selalu ada di samping gadis kecil itu. Tidak peduli dengan matanya yang merah dan sembab, tidak peduli dengan betapa lusuh dirinya, yang dia pikirkan hanyalah Saraswati.
Sungguh sangat menyedihkan keadaan adikku saat itu. Tubuhnya semakin mengecil dan hanya bisa berbaring di atas tempat tidur yang tipis dengan dikelililingi bantal-bantal lusuh. Banyak orang yang datang untuk melihatnya, entah apa yang sebenarnya mereka lihat dari Saraswati, aku sama sekali tidak mengerti. Tapi kali ini juga ibu menjadi semakin membatasiku untuk bisa bersama adikku itu. Ibu melarangku mendekati Saraswati dan menemaninya seperti biasa, ibu hanya bilang jika Saraswati sedang tidak bisa diajak bermain.
Rupanya yang datang menjenguk bukan hanya sekedar tetangga, tapi juga kerabat jauh yang sudah lama tidak kulihat pun datang untuk menjenguk Saraswati. Jika ingatanku tidak salah mereka tinggal di Jakarta. Mereka adalah adik dari ibuku, tanteku. Tante Susi, begitu kusapa datang bersama suaminya dengan sebah mobil yang mewah.
Tidak hanya aku yang terkejut dengan kedatangan mereka, tapi juga tetangga rumahku yang melihat kedatangan mereka. Pakaiannya bagus dan bersih, wajah dan kulitnya bersih, seperti tidak ada keringat ditubuhnya. Tapi hari itu tante Susi meminta berbicara empat mata bersama dengan ibu dan ayahku, dan lagi-lagi aku dibuat penasaran dengan apa yang merka bicarakan.
Cukup lama mereka berbicara di dalam kamar tanpa ada seorang pun yang keluar ataupun masuk ke dalam kamar itu. Sampai akhirnya mereka semua keluar secara bersamaan. Ibu menghampiri dan memelukku.
“Bagus, Nak. Denger Ibu. Kamu mau kan ikut sama tante Susi ke Jakarta” kata Ibu
Aku terkejut dengan perkataan ibu. Bagiku itu terdengar sangat kasae dan terasa sakit di hatiku, karena tiba-tiba ibu memintaku untuk pergi bersama dengan tante Susi. Aku seketika merasa ibu sudah tidak lagi menginginkanku. Aku menolak permintaan itu.
“denger Bagus. Tante Susi akan ngejagain kamu, akan ngurursin kamu, tante Susi juga akan sekolahin kamu. Kamu gak perlu lagi susah cari uang”
Air mataku menetes, dan ibu terus meyakinkanku untuk mau pergi bersama dengan orang yang sebenarnya tidak begitu kukenal.
“disini ibu harus jaga adikmu, ibu takut gak bisa ngurursin kamu Bagus” kata ibu lirih
“aku bisa urus diriku sendiri Bu”
“dengerin Ibu kali ini, Nak”
Aku yang keras kepala sama sekali tidak mau pergi bersama dengan tante Susi dan pergi meninggalkan adikku, Saraswati. Aku menangis tersedu-sedu dan menolak keinginan itu. Tapi apalah daya, aku hanya seorang anak kecil yang harus menuruti keinginan orang tua. Tubuhku ditarik paksa masuk ke dalam mobil mewah itu, tidak perduli seberapa aku menolaknya mereka tetap memasukanku ke dalam benda terkutuk itu. Benda terkutuk yang akhirnya memisahkan hidupku dari jiwaku, adikku Saraswati.
Aku akhirnya meninggalkan kampung halamanku dengan paksa dan datang ke tempat baru yang tidak kukenal. Mungkin ibu dirumah berfikir aku akan bahagia bersama dengan tante Susi yang akan merawatku. Tapi kenyataannya aku sama sekali tidak bahagia.
Cerita ini tidak akan aku ceritakan dengan mendetail, karena ini adalah bagian terkelam yang tidak pernah aku ingin ungkit kembali. Selama aku tinggal di tempat tante Susi, aku sama sekali tidak pernah merasa senang, aku tidak bahagia. Dia tidak memperlakukanku seperti manusia. Dia tidak menyekolahkanku seperti janjinya pada ibu. Dia selalu menyuruhku mengerjakan pekerjaan rumah, membersihkan taman dan semuanya. Dia juga tidak mengizinkanku untuk menghubungi ibu.
Rasanya aku ingin pergi meninggalkan rumah itu, tapi aku tidak tahu kemana aku harus pergi di kota yang asing ini. Sampailah pada suatu waktu tubuhku habis dipukuli olehnya tanpa ada seorang pun yang menolongku. Dia mengira aku telah mencuri gelang emas yang bahkan aku sendiri belum pernah melihatnya. Dia mejukulku habis-habisan, tidak memberiku makan, dan dengan kejam dia mengusirku dari rumah tanpa bekal apapun. Tidak peduli tangisku dan siapa diriku, dia melemparku keluar dari rumahnya. Sejak saat itu aku berjalan tak tentu arah dengan tangis yang menderu, sampai ada seorang pria yang datang menghampiri dan kemudian mengantarkanku ke Rumah Bimbingan ini.
***
Kupeluk serta kucium bocah makang itu. Aku sama sekali tidak menyangka jika ia mengalami hal yang sangat tidak menyenangkan seperti itu dalam hidupnya, dan karena hal itu pula semakin besar keinginanku untuk menjadikannya bagian dari diriku dan memberikannya banyak cinta kasih yang sebelumnya tidak ia dapatkan.
Keinginanku semakin kuat saat Mas Hari kembali menanyakan keputusanku itu di hadapan seluruh anggota keluarga. Sebuah keputusan terbesar dalam hidupku yang kuambil dalam waktu yang sangat singkat menjadi bahan pertimbangan Mas Hari sehingga membuatnya tidak lantas memberikan persetujuannya.
Sementara itu anggota keluarga yang lain dibuat terkejut setelah mengetahui tentang keinginanku mengadopsi seorang anak laki-laki. Tapi tidak satupun dari mereka menunjukan ketidaksetujuannya atas keputusanku. Demi meyakinkan mereka untuk semua itu, aku kembali menceritakan perjalanan hidup yang Bagus ceritakan padaku dan Mas Hari tadi.
“dia masih punya orang tua Ndok, sebaiknya kamu cari tahu lebih dulu apakah anak itu ingin kembali pada orang tuanya atau bersedia dan menerimamu menjadi ibunya” kata Ibu
Perkataan ibu yang lembut dan sangat tenang membuatku sejenak berfikir. Akan sangat bodoh jadinya jika aku sampai tidak memikirkan hal itu. Akan kejam rasanya jika aku memisahkan seorang anak dari ibunya. Tapi entah kenapa aku merasa sedih jika keinginanku itu tidak terlaksana.
“coba kamu habiskan waktu sesering mungkin sama anak itu” kata Mba Yayu
“inggih Mba..” jawabku
Banyak pertimbangan lainnya yang dibicarakan bersama dengan keluarga perihal hal ini. Aku terdiam mendengar semua pendapat anggota keluarga yang lain, mereka juga menjelaskan padaku tentang baik buruknya keputusanku ini kelak, baik untukku maupun untuk Bagus sendiri.
“dan satu hal lagi Dek, mengajukan permohonan mengadopsi anak itu gak gampang. Setidaknya kamu harus sudah merawat anak itu setahun sseblum pengajuan adopsi” kata Mas Indra
“kamu juga sebaiknya mempertemukan anak itu dengan ibunya setelah kamu sering menghabiskan waktu sama anak itu. Beri dia pilihan” sambung Mba Yayu
“tapi Mba, gimana kalau Bagus lebih milih ibunya” tanyaku
“itu pilihan dia. Kamu tidak berhak mengambil haknya. Kalau memang demikian, kamu masih bisa ikut menjaganya bukan dan kalau memang Bagus lebih milih kamu, jangan pernah sekalipun aku menghalangi orang tuanya untuk bertemu dengan Bagus”
“ya sudah, besok coba kamu bawa Bagus kemari, kamu harus mulai menjalin kedekatan sama anak itu”
“iya Bu”
Setelah perundingan itu berakhir, hatiku semakin bergejolak, semakin tidak karuan. Di satu sisi aku ingin segera memiliki Bagus sebagai anakku, tapi di sisi lain aku tidak bisa melanggar aturan hukum yang sudah berlaku, juga mengambil hak pilih yang ada pada diri Bagus.
Waktu terasa begitu lama malam itu. Mataku tak kunjung terpejam meski jam sudah menunjukan pukul dua pagi. Hatiku terlalu berdebar kencang sampai aku tidak bisa mengendalikannya. Mas Hari yang sudah tertidur pulas dan tiba-tiba terjaga lantas menyadari jika diriku masih terjaga segera
menanyakan apa yang sedang ada dalam pikiranku.
“Bagus, Mas”
“besok kita temui dia lagi. Sekarang kamu tidur ya” kata Mas Hari
Hari ini aku menjadi seseorang yang sangat tidak sabaran. Semua hal yang aku lakukan, kukerjakan dengan sangat tergesa-gesa hanya agar aku bisa bertemu dengan bocah lelaki itu secepat mungkin. Tapi hari ini aku hanya akan menemuinya seorang diri karena Mas Hari tiba-tiba harus pergi karena urusan pekerjaannya. Itu semua tidak menjadi masalah bagiku, karena aku bisa pergi hanya dengan ditemani oleh Mang Ujang menuju Rumah Bimbingan. Sebelum pergi aku berpamitan terlebih dulu kepada Ibu dan Mba Yayu.
“Mba pengen ketemu sama anak itu” bisik Mba Yayu
Sontak aku menatap Mba Yayu dengan mata pandangan kebahagiaan. Aku merasa mendapat dukungan yang besar setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Mba Yayu. Aku tersenyum untuk membalas apa yang dikatakan Mba Yayu. Sementara itu Ibu memberikan doanya padaku agar apa yang aku harapkan bisa tercapai dengan lancar.
Doa dan dukungan dari Mba Yayu dan Ibu sudah kukantongi. Kini aku bisa pergi menemui Bagus dengan perasaan senang dan bahagia. Semalam aku sudah merencanakan agenda kegiatanku bersama Bagus. Hari ini aku akan membawanya berkunjung ke rumah jika memang pihak Rumah Bimbingan mengizinkan, tapi jika memang tidak mendapatkan izin untuk itu aku hanya akan menghabiskan hariku bersama dengan Bagus di Rumah Bimbingan itu.
Mang Ujang mengantarkanku dengan selamat.