
Dadaku semakin kencang berdebar. Tidak sabar rasanya untuk segera bertmu dengan Bagus, bocah laki-laki yang dalam sekejap berhasil mencuri hatiku. Sorot matanya yang sayu dan wajahnya yang penuh dengan kerinduan dan harapan telah berhasil meluluhkan hatiku, telah berhasil mengisi relung hatiku yang selama ini merindukan seorang anak. Langkah kakiku semakin cepat melangkah sesaat setelah aku keluar dari dalam mobil. Kedatanganku kali ini tidak lagi mengejutkan Mba Ros, tapi membawa kegembiraan dalam hati Mba Ros. Aku yakin dengan hal itu karena aku sudah lama mengenal Mba Ros dan dari matanya tidak ada rahasia apapun yang dapat disembunyikannya.
“Pagi Bu..”
“Pagi Mba Ros”
“Saya kira Ibu mau datang agak siang”
“Saya kecepetan ya? dimana Bagus?”
“dia ada di dalam Bu, mari saya antar”
Dengan diantar oleh Mba Ros, aku berjalan menuju kamar Bagus. Kamar yang sama saat Mey masih berada di Rumah Bimbingan. Pikiranku sesaat beralih kepada Mey. Sudah sebesar apa dia sekarang? Apakah dia bahagia? Apa dia masih ingat akan diriku? Pikiran-pikiran itu segera kutepis, aku kembali memfokuskan pikiranku pada anak laki-laki yang akan segera aku temui.
Wajah itu begitu damai, tubuh itu begitu nyaman saat kupandang, mata sayu itu kembali menusuk hatiku saat Bagus melihat kearahku. Aku lontarkan senyuman tulusku padanya, sebuah senyuman yang rasanya tidak pernah kuberikan kepada siapapun sebelumnya.
“Bagus...” kupanggil ia dengan suara yang penuh dengan harapan untuk memilikinya
Bagus tersenyum padaku. Suatu kebahagiaan yang teramat sangat yang aku terima hari ini. Bagus yang kala itu sedang duduk di atas ranjang dengan sebuah buku cerita dipangkuannya. Aku menghampirinya dan duduk disampingnya, sementara itu Mba Ros segera pergi meninggalkan kamu berdua.
“Bagus baca cerita apa?” tanyaku
“buku tentang si kancil”
“Bagus suka baca buku?”
“suka. Tapi buku disini sudah semua aku baca”
“oh ya, emang Bagus suka baca buku tentang apa?”
“bukunya tentang cerita-cerita gitu”
“Bagus mau ikut Ibu gak? Di rumah, Ibu punya banyak buku mungkin ada yang bisa Bagus baca”
Bagus hanya menatapku tanpa mengeluarkan sepatah katapun untuk menjawab pertanyaanku,
“Bagus tenang aja, nanti Ibu yang minta izin sama pengurus di sini supaya Bagus bisa ikut Ibu. Bgaus mau kan ikut Ibu?”
Lagi-lagi Bagus hanya terdiam tanpa merespon apa yang aku tanyakan padanya. Senyumku hampir saja menghilang karena tak kunjung mendapat jawaban Bagus, tapi kemudian ia menganggukan kepalanya sebagai tanda setuju untuk ikut bersama denganku.
“Ya Tuhan ada apa anak ini? Kenapa begitu mudah dia mempercayaiku?” gumamku dalam hati
Tapi bagaimanapun aku merasa sangat senang karena Bagus bersedia untuk ikut bersama denganku. Selagi menunggu Bagus bersiap-siap aku pergi menemui Mba Ros untuk meminta izin agar Bagus bisa ikut bersama denganku. Tidak mudah meyakinkannya untuk hal ini karena memang aku bukan lagi pemilik Rumah Bimbingan seperti dulu saat aku membawa Mey. Butuh waktu cukup lama untuk meyakinkan Mba Ros agar mengizinkanku pergi bersama dengan Bagus, aku memujinya setinggi langit, aku menjanjikannya banyak hal.
“ Iya Ibu iya. Boleh boleh pergi sama Ibu. Tapi tolong sebelum jam 10 malam Bagus sudah pulang kemari” kata Mba Ros
Senang bukan main aku mendengar hal itu. Aku yang sudah lama mengenal Mba Ros lantas memeluknya erat dan mengucapkan banyak terima kasih atas kebaikannya padaku ini. Dengan perasaan bahagia yang menggebu di dalam hatiku, dengan tangan yang gemetar karena perasaan senang yang tidak terbendung, aku menunggu Bagus di depan pintu mobil.
Bagus berjalan ke arahku. Senyumnya begitu lebar. Tidak pernah aku melihatnya tersenyum seperti ini, aku bagaikan melihat sisi llain dari bocah lelaki ini. Senyuman bahagia seorang anak yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Kupeluk ia dengan begitu erat, kucium kepalanya dengan penuh kasih.
“Kita pergi sekarang?” tanyaku
Bagus menangguk. Begitu riangnya ia, begitu bersemangatnya ia, begitu bahagianya ia saat melihat keluar jendela. Bangunan-bangunan tinggi begitu memukaunya. Matanya begitu indah berbinar, senyumnya begitu lebar hingga tampak lengung pipinya. Aku terpaku melihat keriangannya.
“dia puteraku, aku akan memalukan apapun untuk senyumnya itu” gumamku
Tidak habis fikir aku dengannya. Dia pernah mengatakan jika ia tinggal di Jakarta pula sebelum ini tapi mengapa ia begitu bahagia seperti seorang anak yang baru pertama kali melihat bangunan tinggi menjulang. Begitu banyak pertanyaan tiba-tiba muncul di dalam kepalaku, tapi aku tidak memiliki keberanian untuk menanyakannya. Aku tidak ingin merusak kesenangannya saat ini. Aku hanya ingin memberikannya kebahagiaan sepanjang hari ini.
“mau kemana kita Bu?” tanya Mang Ujang tiba-tiba
“kita langsung ke rumah aja Mang” jawabku sembari melirik ke arah Bagus
Sepanjang jalan menuju rumah, aku hanya diam memperhatikn Bagus yang begitu riang dan tak henti-hentinya melihat ke arah luar jendela. Di saat itu pula ponselku tiba-tiba berdering. Panggilan masuk dari Mas Hari.
“iya Mas”
“kamu dimana Dek?”
“aku di jalan pulang Mas, aku udah sama Bagus di mobil”
“kamu dapat izin bawa Bagus keluar?”
“iya Mas. Aku mau nunjukin buku-buku ceritaku ke Bagus karena ternyata dia juga suka baca. Ya gak
Bagus?” tanyaku pada Bagus
“iya Bu...” katanya tanpa menoleh ke arahku
Sontak aku terbelalak mendengar kata itu. Sama seperti saat aku pertama kali mendengar Mey berbicara setelah sekian lama ia tidak mengeluarkan sepatah katapun.
“ya sudah, Mas juga usain pulang cepet ya”
“iya Mas, aku tunggu di rumah”
Secepat memutuskan panggilan telpon itu, secepat itu pula perjalanan kami yang tanpa disadari rupanya kami sudah tiba di depan rumah. kembali aku mendapati kejutan yang membuatku terpana akan kelakuan Bagus yang kemudian membuatku menyadari jika ia adalah seorang anak yang sangat periang. Dia terbelalak ketika mobil mulai memasuki garasi rumah.
“kenapa Bagus?”
“besar sekali ruamhnya Bu” katanya
Bagus terpana dengan keadaan rumahku yang menurutnya seperti sebuah istana puteri dalam buku yang ia baca. Aku hanya tersenyum mendengar penuturannya. Bagus yang kukira seorang anak yang pendiam dan memendam banyak luka dalam hatinya, rupanya dibalik itu semua dia adalah sesok anak yang periang, yang penuh tawa dan setiap hal yang dilakukannya membuatku bahagia.
“seterpuruk itukah kamu Nak? Sampai aku mengira kamu anak yang pendiam dan penuh luka dalam hati. Tapi rupanya kamu adalah anak yang periang dan lepas saat bersama orang yang tepat dalam hatimu” gumamku
“Ayo Bagus kita masuk” kataku
Aku menuntunnya menuju pintu rumah, dan saat tiba kadatangan kami lantas di sambut hangat oleh Mba Yayu yang sudah berdiri diambang pintu sembari menggendong Rangga.
“ini toh anaknya?” tanya Mba Yayu
“iya Mba. Bagus salam dulu sama Bude Yayu”
Bagus segera meraih tangan Mba Yayu dan menciumnya. Lalu kemudian perhatiannya langsung tertuju pada Rangga. Bagus dengan luwes menggoda Rangga hingga membuatnya tertawa terbahak-bahak.
“ya udah ayo kita masuk, Mba udah siapin makanan di meja makan”
“terima kasih Mba”
Sembari berjalan menuju meja maan, aku memperkenalkan satu persatu anggota keluarga kepada Bagus. Ibu, Retnayu, Sonita, dan dua asisten rumah tangga dirumahku. Mereka terlihat senang menyambut Bagus di tengah-tengah mereka dan begitu pula dengan Bagus yang cepat seklai akrab dengan anggota keluarga, khususnya Retnayu dan Rangga.
Mungkin ini sudah jalan Tuhan untuk hidupku, karena begitu mudahnya keluarga suamiku menyambut kedatangan Bagus dengan penuh suka cita. Aku sudah tidak begitu cemas lagi dengan mereka dan pendapat mereka tentang Bagus. Kini yang menjadi permasalah adalah keluargaku sendiri, apakah mereka bisa menerima Bagus seperti keluarga suamiku ataukah sebaliknya, aku harap mereka bisa memberikan respon yang sama terhadap Bagus.
“Bagus, sekarang makan dulu ya nanti setelah itu baru Ibu tunjukin buku-buku yang bisa Bagus baca” kataku
“Ibu?” celetuk Sonita
Pandangan kami spontan tertuju kepada Sonita yang sedang berdiri sembari memegang bagian belakang kursi di meja makan. Aku menatapnya tajam, aku menyorotnya dengan begitu tajam hingga membuatnya memalingkan pandangannya dengan gugup.
Kembali aku fokuskan diriku kepada Bagus. Aku melayaninya dengan sepenuh hati. Aku menyendokan setiap makanan yang dihidangkan ke atas piring makannya. Sungguh sangat menyenangkan hal ini, dan akan jauh lebih menyenangkan jika aku bisa melakukannya setiap hari bersama dengan Mas Hari.
Kecerian dan kebahagiaan yang luar biasa terpancar dari wajah anak itu. Sosoknya yang semula kukira pendiam namun rupanya adalah sosok yang periang dan penuh kegembiraan. Dia begitu mudah akrab kepada orang-orang baru disekitarnya terlebih kepada Retnayu dan Rangga yang sedari tadi tidak luput dari perhatiannya. Sempat ragu aku memikirkan Bagus, jika dilihat dari masa lalunya bersama dengan tantenya, seharusnya dia tidak bersikap seperti ini, setidaknya dia memerlkukan waktu untuk melewati jarak yang pemisah antara dirinya dan orang baru disekitarnya. Tapi entah apa yang sebenarnya yang ada dalam dirinya sehingga membuatnya mampu bersikap seperti ini.
Tanpa perlu aku melakukan banyak Hal, Bagus telah berhasil memposisikan dirinya di dalam keluargaku. bahkan dia sudah berhasil mencuri hati Ibu dan anak-anakku yang lain. Hatiku begitu senang dengan hanya membayangkan jika Bagus sudah benar-benar tinggal bersama denganku. Kegembiraan yang tiada tara pasti akan menyelimuti keluarga ini dengan kehadiran Bagus.
"Enak makannya Nak?" Tanya Ibu kepada Bagus
"Enak Bu.."
"Loh ko panggio Ibu? Panggilanlah Nenek, kan saya sudah tua" kata Ibu
Aku tertawa mendengar celoteh Ibu kepada Bagus. Aku tidak menyangka jika begitu mudahnya mereka menjalin hubungan satu sama lain.
Bagus terkekeh, "iya Nek.."
"Nah gitu, udah sekarang makan yang banyak ya. Nenek mau ke kamar dulu, mau istirahat" kata Ibu sembari berlalu pergi meninggalkan kami yang masih ada di meja makan.
Sembari menggendong Rangga aku juga memperhatikan Retnayu yang sedari tadi diam memperhatikan Bagus yang tengah menyantap makanannya.
"Kenapa Ayu liatin Mas Bagus nya kaya gitu?" Tanyaku
Retnayu langsung tersipu malu, dia berlari ke arahku dan menyembunyikan wajahnya di perutku. Aku dan Mba Yayu tertawa melihat tingkah Retnayu yang demikian itu.
"Ayu mau kenalan dia Mas Bagus. Tapi Ayu nya malu-malu"
Bagus tersenyum kepada Retnayu yang masih bergelung di dekatku. Bagus yang saat itu juga duduk di dekatku lantas mendekatkan dirinya kepada Retnayu. Dia mencoba untuk menggoda Retnayu dan berusaha mendekatkan dirinya kepada Retnayu. Sekali dua kali Bagus mencolek bahu Retnayu dengan lembut, sedangkan Retnayu dengan malu-malu menutupi wajahnya.
"Ayu, ini lo Mas Bagusnya. Kenalan sana" kataku
Retnayu menggelengkan kepalanya. Tapi kemudian akhirnya ia pun perlahan-lahan luluh oleh bujukan Bagus. Retnayu mulai berani menunjukan wajahnya kepada Bagus, dan mulai mendekat kepada Bagus. Akhirnya Retnayu bisa membuka dirinya kepada Bagus.
"Mirip Saraswati.." Kata Bagus
"Adikmu?"
"Iya..."
Aku terenyuh teringat kisah Bagus dan Saraswati. Aku tidak bisa membayangkan betapa besarnya kerinduan Bagus kepada adik yang dikasihinya itu. Wajah Bagus berubah murung seketika ketika membicarakan adik kesayangannya.
"Dah, udah sekarang Bagus habisin makannya dulu, terus kita pergi ke tempat buku ya.." Kataku
Aku berusaha mengembalikan keriangan Bagus saat itu, karena hatiku tidak tahan dengan kesedihan yang terpancar dari wajah anak itu. Syukurlah Bagus bukan tipe anak yang memendam kesedihan di hatibya. Segera dia kembali berubah ceria seperti sebelumnya. Ia segera bangkit dari kursinya sesaat setelah makanan di atas piring makannya habis tak bersisa.
Aku tersenyum, "mau liat buku-bukunya?"
"Iya"
Aku dan bagus serta Retnayu pergi menuju lantai dua. Aku membawa anak-anak itu masuk ke dalam kamarku, karena disanalah semua buku-buku milikku dan Mas Hari disimpan rapi dalam lemari besar.
"waaah...."
Bagus kembali tercengang melihat jejeran buku yang berada di dalam lemariku. Bagus benar-benar terpukau dengan keadaan itu.
"Nah ini bukunya. Semuanya bisa Bagus baca, cari buku yang Bagus suka " kataku
Bagus melompat-lompat kegirangan di dalam kamarku bersama dengan Retnayu yang juga ikut melompat-lompat. Sementata itu aku duduk di atas tempat tidur sembari tersenyum melihat tingkah mereka yang polos itu. Demi kesenangan kedua anak itu aku mengelurkan beberapa buku cerita dan buku dongeng dari dalam lemari dan duduk bersama mereka membaca buku-buku itu.
Rupanya perhatian Bagus tidak sepenuhnya tertuju pada buku-buku itu, karena kemudian perhatiannya terbagi pada Ratnayu dan ia memilih untuk bermain serta bersedagurau bersama dengan puteri kecilku. Bersama dengan mereka aku menghabiskan waktu dengan kegembiraan. Kami tertawa bersama, dan kemudian aku dan Bagus saling menceritakan masalah kami bersama.
"Bagus mau yinggal sama Ibu disini?" Tanyaku
"Iya Ibu, disini banyak buku ada Ayu sama dedek Rangga juga. Aku gak suka di Rumah Bimbingan" katanya
"Iya sayang, nanti Ibu usahain supaya kamu bisa tinggal sama Ibu ya"
Bagus memelukku erat bahkan tanpa ragu ia menciumku berulang kali. Mungkin akan ada banyak orang yang berfikir jika apa yang terjadi padaku ini seperti dongeng belaka karena sikap Bagus yang begitu mudah menerima aku dalam hidupnya. Rasanya seperti tidak ada batasan antara aku dan dia, seperti sudah lama kami saling mengenal satu sama lain.
Lelah rupanya telah mendera Bagus, ia terlihat begitu lelah dan mengantuk setelah menghabiskan waktu bersama dengan Retnayu dan buku-buku itu.
"Bagus ngantuk?" Tanyaku
"Iya Ibu"
"Ya sudah, Bagus tidur di kasur sana. Ayu juga harus tidur"
"Ayu tidur sama Bagus aja"
"Iya, tidur barengan di tempat tidur Ibu ya"
Aku menggendong Retnayu yang sudah mulai rewel, sedangkan Bagus mengikutiku menuju tempat tidur. Bagus segera mencari posisi nyamannya dan Retnayu mulai menyedot habis susunya daru dari dalam botol susunya. Tidak perlu waktu lama kedua anak ini pun tertidur lelap dengan saling berdampingan.
***
Selama beberapa bulan lamanya aku mendekatkan diri kepada Bagus. Selama rentang waktu itu pula semakin tetap hatiku untuk menjadikannya sebagai puteraku. Keinginanku ini lantas mendapat persetujuan dari seluruh keluarga, baik dari pihak keluarga Mas Hari maupun dari keluargaku sendiri.
Segala hal yang berhubungan dengan proses pengadilan untuk mendapatkan hak asuh atas Bagus secara resmi satu persatu mulai dipenuhi. Sungguh semua ini tidak mudah untuk kami lalui, meski hanya beberapa berkas data tapi semua itu membutuhkan perjuangan yang sungguh ekstra.
Tidak hanya sampai di situ, perjuangan kami dan ketetapan pilihanku semakin diuji saat Ibu memintaku untuk mempertemukan Bagus dengan kedua orang tuanya terlebh dahulu sebelum pengadilan memberikan keputusannya. Sebenarnya hal ini adalah yang sangat aku takutkan, bagaimana jika setelah bertemu dengan keluarganya kembali Bagus menjadi tidak ingin tinggal bersamaku. Tapi semua ketautanku itu lantas sirna saat orang-orang disekitarku meyakinkan aku jika perjuanganku untuk Bagus pasti akan berakhir bahagia.
Tepat pada hari ini, aku dan Mas Hari memutuskan untuk pergi menuju kampung halaman Bagus. Untung saja Bagus sangat mengingat kampung halamannya sehingga aku dan Mas Hari bisa dengan mudah menemukannya. Jantungku berdegup sangat kencang saat berada dalam perjalanan.
Perjalanan yang sangat mendebarkan ini kami tempuh dengan menggunakan kereta, dan sepanjang perjalanan Bagus tetap berada di sampingku. Tidak pernah sekalipun dia beranjak dari sisiku. Sama sepertiku, Bagus juga merasakan sebuah perasaan yang membuat detak jantungnya berdegup kencang. Hanya saja yang membedakannya adalah Bagus merasa sangat bahagia karena akhirnya ia bisa bertemu kembali dengan adik dan orang tuanya yang selama ini sudah terpisah darinya.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, akhirnya kami tiba di kampung halaman Bagus. Sebuah desa yang benar-benar asri. Sebelum benar-benar tiba di rumah orang tua Bagus, kami terlebih dahulu harus berjalan kaki melewati beberapa rumah yang disetiap rumah itu pasti ada beberapa orang yang sedang duduk bersantai dan berbincang dengan para tetangganya.
Akhirnya sampailah kami di sebuah rumah sederhana berwarna merah karena dilapisi keramik sebagai pengganti cat tembok. Aku melihat wajah Bagus kini merona meski matanya berkaca-kaca. Aku tahu bagaimana perasaan yang sedang dialami Bagus saat ini. Tapi kenapa perasaanku saat itu berbeda? Ketakutanku semakin besar, ketakutan akan kehilangan seorang anak lagi, setelah sebelumnhya aku harus merelakan Mey kembali kepada orang tuanya.
Suasana haru dan dramatis pun tiba-tba tercipta ketika Bagus dan seorang pria yang kukira ayahnya kembali bertemu. Air mata pun pecah seketika, entah air mata dari Bagus dan ayahnya atau air mata dari kedua mataku sendiri. Rasanya sungguh sangat mengharukan bisa kembali mempertemukan Bagus dengan orang tuanya.
Sementara itu Mas Hari yang berada disampingku lantas merangkulku dan tersenyum. Aku tahu sekali apa maksud dari sikap Mas Hari padaku, dia memintaku untuk tegar dan ikhlas jika nanti Bagus lebih memilih untuk tinggal bersama dengan orang tuanya.
Setelah suasana haru biru itu terlewati, kedua orang tua Bagus yang sebelumnya sudah berkumpul lantas mempersilahkan kami berdua masuk ke dalam rumahnya. Bagian dalam rumah tampak nyaman dan segala sesuatunya tersusun dengan rapi. Aku yakin Ibu dari Bagus adalah perempuan yang rapi dan teliti.
Mereka menyambut kami dengan hangat dan juga berulang kali mengucapkan terima kasih karena telah mengantarkan Bagus kembali kepada mereka.”tidak, tidak. Aku tidak mengantarkan Bagus kepada kalian. Aku hanya ingin meminta izin kepada kalian agar bisa mengasuh Bagus seperti anakku sendiri di Jakarta” gumamku dalam hati
Bagus terlihat sangat bahagia, terlebih saat ia bisa kembali bertemu dengan adik semata wayangnya, Saraswati yang menurutnya sudah tumbuh besar dan berisi, jauh berbeda saat terakhir dia melihatnya sebelum pergi. Tidak henti-hentinya Bagus memeluk adik tercintanya itu, bahkan dia mengajak Saraswati untuk mendekat padaku dan mengenalkannya. Bagus adalah sosok kakak yang sangat penyayang pada adiknya.
Di saat aku memiliki kesempatan setelah lama berbasa-basi, aku segera meminta kepada Mas Hari untuk mengatakan tujuan kita datang kemari. Dari tatapannya aku merasa Mas Hari berat mengatakan semua itu, dia merasa apa yang akan dikatakannya ini pasti akan membuat susasana bahagia berubah menjadi ketegangan.
“Pak, Bu.. Begini” kata Mas Hari
“Iya ada apa?” tanya Ayah Bagus
“sebenarnya kedatangan kami kemari ini ingin meminta izin kepada kalian”
“Izin? Izin tentang apa ya kalau boleh tahu?”
“Izin untuk menjadikan Bagus sebagai anak asuh kami secara hukum. Kami sangat menyayangi Bagus, kami mencintainya seperti kami mencintai anak kami sendiri, karena itu kami meinta izin kepada Bapak dan Ibu untuk mengizinkan kami menjadikan Bagus sebagai anak asuh kami”
Tercengang kedua orang tua Bagus saat mendengar penuturan Mas Hari. aku sama sekali tidak tahu apa yang ada dalam pikiran mereka dan apa saja yang terlintas dalam pikiran mereka saat itu.
“kami janji, kami tidaka akan menyia-nyiakan Bagus” kataku
Mereka masih terdiam tanpa mengeluarkan sepatah katapun untuk menjawab dan membalas perkataanku.
“kalau boleh tahu, dimana Ibu dan Bapak ini bertemu dengan Bagus?” tanya Ibu dari Bagus
“kami bertemu dia di Rumah Bimbingan”
Aku menjelaskan semua hal tentang Bagus. Bagaimana keadaannya saat dia bersama dengan tantenya, bagaimana perlakuannya, hingga bagaimana Bagus bisa tiba di Rumah Bimbingan sampai akhirnya bertemu denganku.
Air mata penyesalan dari kedua orang tua Bagus langsung pecah. Mereka tampak sangat menyesali, lantaran perbuatan mereka dahulu sampai harus membuat anak lelakinya mengalami hal buruk seperti itu. Sekali lagi, mereka kembali mengucapkan terima kasih karena kepada kami karena telah mau menjaga dan merawat Bagus. Dengan rasa penyesalan yang menyeruak itu mereka memeluk dan mencium Bagus seolah ingin memberikan kehangatan sebagai ganti dari apa yang seharusnya Bagus dapatkan dari tantenya.
Kini giliran aku dan Mas Hari yang dibuat tidak bisa berkata-kata. Tiba-tiba saja mulut kami kaku tidak bisa lagi melanjutkan pembicaraan kami tentang hak asuh Bagus. Air mataku mengalir cukup deras ketika Ibu dari Bagus memelukku erat. Dia mengungkapkan penyesalannya kepadaku karena telah membut Bagus menderita di tempat yang jauh. Aku berusaha menengkannya dengan mengelus-elus punggungnya dan mencoba memberikan pengertian.
Seketika urung niatku mengajukan kembali pertanyaan yang sudah kukantongi jauh hari. hatiku berkata jika lebih baik aku membiarkan Bagus bersama dengan kedua orang tuanya terlebih dahulu sebelum aku kembali menanyakan pertanyaan perihal hak asuh tersebut. Hari itu aku putuskan untuk meninggalakan mereka dan membiarkan mereka menghabiskan waktu bersama sebagai ganti dari waktu Bagus yang terbuang selama beberapa bulan terkahir.
Selama masa penantian itu aku berusaha untuk menguatkan diriku jika pada akhirnya Bagus lebih memilih untuk tinggal bersama dengan orang tuanya, karena jika itu terjadi maka aku harus siap pula membatalkan pengajuan hak asuh atas Bagus di pengadilan. Dua hari, tiga hari, empat hari, bahkan satu minggu sudah berlalu tapi Bagus ataupun orang tuanya tidak ada yang menghubungi kami meski aku sudah meninggalkan nomor telponku sebelumnya. Karena hal itu pula harapanku perlahan mulai hilang, gelap sudah mimpi-mimpiku bersama dengan Bagus.
Tapi tepat di hari kedelapan, saat aku sudah mulai putus asa, tiba-tiba ponselku berdering yang tidak lain adalah panggilan dari kontak Bagus. Sebelum pergi memang aku sudah memberikannya sebuah ponsel agar sewaktu-waktu Bagus bisa menghubungiku dan bisa berkomunikasi denganku dengan mudah.dari ujung panggilan sana aku mendengar suara Bagus yang lembut, “Ibu, kapan Ibu jemput aku ke Jakarta?” kata Bagus.
Mendengar pernyataan itu sontak air mata kebahagiaanku mengalir deras, mengalir dengan sejuta kebahagiaan yang seketika itu juga meluap dari dalam hatiku, “sabar sayang, Ibu sebentar lagi jemput kamu ya” kataku sembari menahan deraian air mata.
Aku yang kala itu sedang berada di dalam kamar segera berlari keluar menemui Mas Hari yang saat itu sedang berada di kolam renang bersama dengan anak-anakku yang lain. Dengan suasana hati yang demikian dan semangat yang luar biasa membuncah aku mengatakan kepada Mas Hari agar bersiap-siap untuk menjempur Bagus.
Kegembiraan dan kebahagiaan yang terpancar serta kutunjukan dengan cara seperti itu membuat seluruh anggota keluargaku merasa terkejut dan mungkin panik seketika, tapi kemudian kepanikan itu segera sirna saat aku mengatakan jika Bagus memintaku untuk segera menjempunya pulang kembali ke Jakarta. Kegembiraan itu lantas segera menjalar ke dalam hati para anggota keluarga yang lain. Tidak bisa dipungkiri, selama beberapa bulan lamanya mereka bertemu dan menghabiskan waktu bersama dengan Bagus membuat mereka perlahan sudah menganggap Bagus sebagai bagian dari keluarga mereka sendiri.
Mba Yayu dengan mata berkaca-kacanya dan kebahagiaan segera memelukku dan memberiku selamat karena akhirnya Bagus memutuskan untuk tinggal bersama denganku. Hal serupa pun dilakukan oleh Ibu dan Mas Indra kepadaku. Mereka semua bersuka cita atas kabar gembira ini.
Tanpa mengulur banyak waktu lagi aku dan Mas Hari segera bersiap-siap untuk kembali menjemour Bagus dan membawanya kembali ke Jakarta sebagai anak kami. Rasanya waktu berjalan sangat lambat, sangat jauh berbeda dari hari-hari sebelumnya. Aku merasa saat ini waktu tengah mempermainkan aku yang sedang bahagia dan tidak sabar untuk kembali bertemu dengan puteraku.
Aku yakin banyak orang pasti akan bertanya-tanya tentang apa yang terjadi padaku, karena hampir sepanjang perjalanan aku terus menunjukan sikap gusar karena tidak sabar dan senyuman yang tidak jelas artinya bagi mereka. Mungkin saja mereka menganggapku gila. Aku tidak peduli.
Jantungku semakin kencang berdebar,dan langkah kakiku pun semakin cepat saat aku melihat sebuah rumah berwarna merah berdiri kokoh di depanku yang sedang berjalan menuju kearahnya.rasanya tidak sabar aku bertemu dengan Bagus dan ingin segera memeluknya, tapi entah kenapa semua ransanya bertambah panjang hingga membuat langkah kakiku tak kunjung sampai di rumah berwarna merah itu.
Akhinya tibalah aku dan Mas Hari di depan rumah merah tersebut. Dari ambang pintu aku melihat Bagus tengah tersenyum kearahaku. Tanpa bisa mengendalikan diriku sendiri, aku langsung berlari ke arahnya dan memeluknya. Bertubi-tibu kuhujani dia dengan ciuman dan pelukan. Enggan rasanya aku melepaskan dia untuk yang ke dua kali.
Tapi seketika itu pula aku terbangun dari angan-anganku saat Mas Hari menyentuh bahuku. Dia membuatku kembali tersadar dari bayanganku itu. Setelah Bagus, aku beralih kepada Ibunya yang saat itu berdiri tepat disamping Bagus. Kami saling berpelukan dengan eratnya. Selanjutnya aku menyalami ayah dari Bagus. Begitu pula yang dilakukan oleh Mas Hari.
Selanjutnya kami dipersilahkan masuk, dan ruapanya tanpa kuduga sudah ada beberapa orang yang baru pertama kulihat tengah duduk memandangi kami. Menurut pnuturan Ibu dari Bagus, mereka semua itu adalah sanak keluarga dan tetangga yang menurut mereka turut andil dalam kehidupan Bagus semasa kecil. Aku lontarkan senyumanku pada mereka semua.
Setelah itu Ayah Bagus yang mengambil alih pembicaraan di antara kami semua. Pertama-tama dia mengucapkan terima kasih karena kami sudah mau kembali datang ke kediaman mereka, lalu kemudian mereka memperkenalkan kami kepada mereka semua serta mengatakan kepada mereka semua bahwa kami memiliki keingianan mengangkat Bagus sebagai anak asuh kami.
“seperti apa yang Bagus inginkan, saya memberikan izin kepada Ibu dan Bapak untuk turut andil dalam kehidupan Bagus, dan memberikan cinta kasih yang melimpah kepadanya sebagai orang tua kepada putera kami Bagus” kata Ibu dari Bagus
Air mataku tiba-tiba saja mengalir tanpa bisa aku kendalikan jumlahnya. Ini adalah air mata kebahagiaan yang keluar dari kedua mataku. Tidak hanya aku, bahkan Mas Hari pun tampak berkaca-kaca, karena aku tahu selama ini ia juga memiliki harapan yang sama denganku bahasannya dia juga mengharapkan Bagus menjadi bagian dari keluarganya.
Keingianan kami itu lantas disambut gembira oleh mereka semua. Mereka lantas mengucapkan selamat kepada kami karena akhirnya kami bisa menjadi orang tua bagi Bagus. Tapi ada satu hal yang tidak habis fikir dan tidak dapat ketemukan jawabannya sendiri, yaitu alasan mengapa Bagus memilih untuk tinggal bersama denganku dan mengizinkan aku turut andil dalam kehidupannya.
Kepeluk erat Bagus dan kuciumi ia di bagian wajahnya yang kecil. Aku dan Bagus sama sekali tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan yang menaungi kami saat itu. Air mata kami tiba-tiba mengalir dengan tawa bahagia sebagai selingannya. Setelah keadaan sekitar mulai bisa dikondisikan dari suasana mengharu biru, aku dan Mas Hari bersama dengan kedua orang tua Bagus memutuskan untuk duduk bersama guna membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan Bagus.
Aku mendengarkan semua hal yang diutarakan kedua orang tua Bagus mengenai dirinya. Sosok Bagus yang amat penyayang dan sangat urah hati, periang. Tapi di balik semua itu Bagus aalah sosok yang sangat terluka karena ia tidak pernah mendapatkan kehangatan dari kedua orang tuanya, karena hal itu Bagus menjadi sering mencari perhatian kepada orang lain. Terkadang pula ia mencari perhatian pada adiknya sendiri yang kala itu sedang sakit.
Perhatian kepada Bagus semakin berkurang manakala Saraswati mengalami sakit yang tak kunjung sembuh, karena hal itu semua perhatian kedua orang tuanya tercurah kepada Saraswati yang dianggapnya lebih membutuhkan.
“Pas juga waktunya kemarin tantenya datang. Dia bilang pengen bawa Bagus, pengen rawat Bagus tapi ternyata dia....saya gak bisa ngebayangin gimana menderitanya Bagus disana.” Kata Ayah dari Bagus
“Sebenernya Bu, saya berat melepas Bagus pergi lagi. Saya takut kalau Bagus mengalami hal yang sama seperti sama tantenya. Saya takut” kata Ibunya
“saya gak akan pernah ngelakuin hal itu. Sejak pertama kali Bagus masuk ke dalam rumah saya, sejak saat itu dia menjadi anak saya yang saya dan keluarga perlakukan seperti anak saya sendiri. Saya tidak membedakan antara Bagus dan anak-anak saya yang lain” kataku
“maaf, tapi Ibu sudah punya anak?”
Aku terdiam sesaat ketika mendengar pertanyaan itu. Nada suaraku yang semula nyaring tiba-tiba mengecil dengan sendirinya.
“Maaf Bu, tapi kata Bagus di rumah Ibu ada dua orang anak kecil yang selalu diajak dia main” kata Ibu dari Bagus
“Iya, di rumah memang ada dua anak kecil, namanya Retnayu dan Rangga. Mereka berdua anak dari kakak ipar saya. Saya sendiri belum punya anak Bu” kataku
“Oh seperti itu. Tapi Bu, saya minta tolong sekali, tolong jaga Bagus dan didik dia sebaik mungkin, karena saya di sini tidak bisa mendidiknya dengan baik”
“Bagus tumbuh seperti ini, sebagai anak yang baik, periang, patuh, sopan itu semua berkat didikan dari orang tuanya. Jadi tidak ada didikan kalian yang gagal pada diri Bagus” kata Mas Hari
Pembicaraan itu berlangsung cukup lama karena kami saling bertukar cerita tentang keluarga satu sama lain, dan tentang Bagus selama tidak bersama dengan salah satu dari kami. Di tengah perbincangan itu tiba-tiba Bagus datang menghampiri kami dan dia langsung berjalan ke arahku. Memelukku, dan menciumku. Inilah Bagus, dia akan selalu bersikap manja kepadaku, Mas Hari, dan Bahkan kepada anggota keluarga yang lain. Dia merasa sudah memiliki kami semua sebagai bagian dari hidupnya.
Sementara itu kedua orang tua Bagus hanya tersenyum ketika melihat prilaku anaknya yang demikian kepada kami. Mereka juga tidak bisa memungkiri jika sebenarnya Bagus sudah sangat menyayangi kami sebagai kedua orang tuanya yang lain.
Di waktu yang sama Mas Hari juga mengatakan jika mereka akan segera kembali ke Jakarta besok pagi bersama dengan Bagus. Jadi sebelum itu Mas Hari meminta Bagus untuk menghabiskan waktu bersama dengan kedua orang tuanya, meskipun sebenarnya Bagus bisa mengunjungi mereka kapanpun ia mau.
Malam itu menjadi malam yang sangat hangat bagi Bagus dan keluarganya karena mereka benar-benar menghabiskan waktu bersama di rumah. Bagus mengatakan kepaku jika malam itu Ibunya membuat makanan kesukaannya dan beberapa menu makanan yang lain, lalu kemudian mereka berempat menikmati makan malam bersama. Setelah itu mereka bersendagurau dan berbincang di dalam kamar orang tuanya dan mereka menangis bersama saat sang ibu mengatakan jika mereka tidak akan bisa sering bertemu lantaran selanjutnya Bagus akan tinggal bersama denganku di Jakarta, sedangkan kedua orang tua dan adiknya berada di tempat yang jauh darinya.