To be Continued

To be Continued
Dua Puluh Sembilan:Sebab Wanita Itu



Sebulan sudah berlalu sejak kejadian mengenaskan itu. Aku dan keluargaku kembali melanjutkan kehidupan kami seperti sediakala. Keriangan, kebahagiaan, dan kemarahan serta kebencian yang muncul antara aku dan Sonita. Kebencianku padanya semakin mejadi-jadi seiring dengan semakin menjadinya sikap Sonita kepada suamiku. Dia bahkan menjadi tidak canggung untuk menyentuh suamiku. Aku sudah sering menegurnya atau pun Mas Hari tapi tidak satu pun dari mereka yang paham akan maksudku. Aku juga tidak bisa mengusirnya begitu saja meski aku memiliki kuasa untuk itu, hal ini karena Ibu selalu melindungi wanita itu. Entah apa yang sebenarnya terjadi pada Ibu sehingga ia terlalu melindungi wanita itu yang meskipun sudah berulang kali aku jelaskan garis permasalahannya. Sebentar lagi rumahku ini akan bertambah satu anggota baru. Dia adalah Rona, keponakan Mba Yayu yang akan bersekolah di Jakarta, kebetulan jarak antara sekolahnya dan kediamanku tidak begitu jauh. Sebenarnya ketika Mba Yayu menyampaikan padaku mengenai hal ini, ia merasa ragu dan canggung padaku. Ia merasa sangat canggung jika harus menemoatkan keponakannya juga di rumahku, sedangkan ia juga hidup menumpang padaku, begitu katanya.


Aku tidak mengenal Rona sebelumnya, hanya saja aku pernah bertemu dengannya beberapa kali, saat Mba Yayu masih tinggal di rumahnya dahulu. Sementara itu, ketika aku mengetahui rencana Mba Yayu, aku tidak langsung memberikan keputusan karena bagaimana pun aku harus berdiskusi terlebih dahulu dengan Mas Hari baru setelah itu aku memberikan keputusannya.


Setelah berunding sepanjang malam, kami pun memutuskan untuk mengizinkan Rona tinggal di rumah ini brsama dengan kami, mengingat jarak tempuh ke sekolah yang dekat dan usia Rona yang masih muda pun menjadi pertimbangan kami.


Sebenarnya saat ini Rona sudah menempuh pendidikan di kelas dua SMA di kampungnya. Tapi entah apa yang terjadi keluarga Rona memutkan untuk memindahkan Rona ke sekolah yang ada di Jakarta. setahuku, Rona memang anak yang pandai dan berdasarkan cerita yang aku dapatkan perpindahan sekolah Rona ini tidak lain adalah karena ada seorang laki-laki di kampungnya yang selalu mengikuti Rona, dan hal itu membuat orang tuanya memutuskan untuk menyekolahkan Rona di Jakarta, berharap agar lelaki itu tidak lagi mengganggu hidup Rona.


Hari ini Rona direncakan akan datang ke rumah, tapi sebelum Rona tiba di rumah, Mamah dan Ragil terlebih dahulu sampai di rumah. Sebelumnya Mamah memang sudah memiliki rencana untuk datang mengunjungiku guna bertemu dengan Bagus yang kini telah menjadi cucunya. Kali ini Mamah hanya datang berdua bersama dengan Ragil, lantaran Nenek tidak bisa turut serta. Sangat disayangkan Nenek tidak bisa ikut bersama dengan Mamah dan tidak bisa bertemu dengan cicitnya.


Kedatangan Mamah dan Ragil lantas di sambut hangat olehku dan seluruh anggota keluarga yang kebetulan pada hari itu sedang berada di rumah, kecuali Mas Indra yang memang pergi untuk menjemput Rona di terminal bus. Aku memeluk erat tubuh Mamah karena rasa rinduku padanya setelah sekian lama tidak bertemu. Setelah kami semua berkumpul di tempat yang sama, aku lantas memperkenalkan Bagus kepada Mamah dan Ragil untuk pertama kali. Aku senang karena Mamah bisa menerima Bagus dengan tangan terbuka. Bahkan Mamah tidak mempermasalahkan latar belakang Bagus. Sementara itu Bagus dan Ragil yang memiliki usia hampir sama sangat cepat beradaptasi.


Beberapa saat setelah itu Rona pun datang bersama dengan Mas Indra. Berkumpul sudah mereka semua di sini, saling bertegur sapa, saling beramah tamah. Mengingat perjalanan mereka tidaklah dekat dan singkat Mas Hari segera memotong pembicaraan kami semua dan meminta Mamah, Ragil, dan Rona untuk mengisi perut mereka terlebih dahulu dan kemudian beristirahat.


“oh iya, aku hampir lupa. Nanti tas Mamah Ia taro di kamar tamu satunya ya? biar Ragil tidur sama Bagus aja. Terus barang-barangnya Rona langsung bawa ke kamar atas aja. Tolong ya Mang Ujang” kataku


“siap Bu” jawab Mang Ujang dengan penuh semangat


Selanjutnya aku mengantarkan mereka semua menuju meja makan dan Mba Yayu menyiapkan semua keperluan makan mereka dengan sangat teliti. Kami berdua berbagi tugas melayani mereka.


“Loh ko yang lain gak ikut makan Ya?” tanya Mamah


“kita semua udah makan siang, ini makanan langsung dibikin Mbok Sum sama Mba Yayu lagi setelah makan siang beres tadi” jawabku


Mereka bertiga lantas menikmati semua menu makan siang dengan sangat lahap. Kemudian setelah itu kami kembali berbagi tugas. Bagus membawa Ragil ke kamarnya, Mba Yayu membawa Rona ke kamarnya, dan aku membawa Ibu ke kamarnya. Aku sama sekali tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu. Aku memutuskan untuk berbincang bersama dengan Mamah setelah cukup lama aku tidak melakukan hal itu, tidak peduli dengan rasa lelah yang mungkin dirasakan oleh Mamah.


Banyak yang kami bicarakan saat itu, mulai dari saling berbagi cerita hingga ke masalah-masalah yang sedang kami hadapi. Aku berbaring tepat di samping Mamah yang juga sedang bberbaring di atas tempat tidur.


“gimana? Pusing gak ngurusin anak?” tanya Mamah


“pusing Mah, banyak yang harus di urus. Kalau ngurus anak bayi udah biasa karena kan ada Retnayu sama Rangga. Lah si Kakak yang udah gede bingung jadinya. Tapi untunglah Bagus anaknya penurut”


“semoga aja ya kamu cepet di kasih sama Allah”


“aamiin...”


***


Selama beberapa hari kami melakukan rutinitas dengan kegembiraan. Rumahku terasa sangat menyenangkan dengan kehadiran Mamah dan Ragil. Selain Ragil yang bisaberbaur dengan akrab bersama dengan Bagus, Rona pun tampak cepat akrab dengan Sonita. Bahkan dalam kurun waktu hanya beberapa hari saja mereka berdua sudah benar-benar sangat dekat.


Namun meski begit, ada saja hal yang di lakukan Sonita yang membuatku merasa sangat marah dan kesal padanya. Sekali waktu aku tidak sengaja memergoki Sonita sedang menghasur Mamah dengan kata-kata beracunnya. Sengaja aku tidak langsung menegurnya, melainkan mendengarkan semua yang diakatakannya kepada Mamah. Dari hasil menguping itu aku mendengar perkataan Sonita,


“kayaknya Lia lebih sayang sama keluarga suaminya ya? masa Ibunya sendiri ditempatin di kamar tamu”.


Mendnegar semua itu aku erasa sangat sakit hati dan marah kepadanya. Tanpa menunggu aba-aba


apapun aku langsung menghampiri Sonita yang saat itu masih berdiri di hadapan Mamah.


“Sonita..” kataku dengan tegas


“Lia...” ujar Sonita


“jaga mulutmu kalau gak mau kena gampar lagi. Jangan pernah coba-coba kamu menghasut Mamah”


“loh? Aku gak menghasut, emang kaya gitu kan kenyataannya. Masa Ibumu sendiri di taro di kamar tamu bukan di lantai atas” kata Sonita


“sudah-sudah, kalian gak usah berantem” Kata Mamah berusaha menengahi perdebatan di antara kami


“denger Sonita, kamu gak perlu ngomong masalah ini, dan aku juga gak perlu jelasin apa-apa tentang masalah ini ke kamu. Jadi tolong jaga omonganmu” bentakku


“aku di sini punya mulut, jadi aku juga berhak untuk ngomong dong”


“Nit, tapi apa yang kamu omongin itu unfaedah banget tahu gak? Kamu udah berusah membuat masalah baru antara aku dan Mamah”


‘situ aja yang baperan”


Panas hatiku mendengar setiap perkataan Sonita yang benar-benar menyakiti hatiku, dan tanpa bisa aku kendalikan aku menapar wajah Sonita di hadapan Mamah.


“Teteh..” teriak Mamah


Aku yang sudah tidak bisa menahan amarah lantas menatap Sonita dengan tatapan kemarahan pula. Sementara itu setelah mendapat tamparan dariku, Sonita langsung berlari meninggalkan kami.


“Teh, apa-apaan sih, kenapa harus nampar dia segala?” tanya Mamah


“Lia udah muak sama dia Mah. Mamah gak perlu takut sama dia, dan tolong jangan masukin hati apa yang diomonginnya” kataku


“Ya, Mamah bahkan gak ngerti apa yang diomonginnya. Tapi kamu gak boleh gitu ah, dia kan keluarga suamimu”


Aku yang sudah tidak bisa mengendalikan emosiku memilih untuk diam ketimbang harus menjawab setiap perkataan Mamah, karena rasanya akan sangat sia-sia jika aku melakiukan hal itu karena aku tahu jika hal itu sampai terjadi maka pertengkaran antara aku dan Mamah yang akan terjadi.


“Mah, ia masuk dulu ke kamar ya? kepala ia sakit banget” kataku


Segera aku melangkahkan kakiku menuju kamar. Aku mengurung diriku sendiri agar bisa mengendalikan emosiku yang sedang membuncah saat itu. Rasanya aku ingin sekali memaki dan meneriaki wanita itu. Menampar saja tidak cukup bagi wanita yang sudah dengan sangat kurang ajar bersikap dalam hidupnya.


Cukup lama aku mengurung diriku sendiri di dalam kamar sampai akhirnya Mas Hari datang menghampiriku.


“kenapa lagi toh Dek?” tanya Mas Hari


“kenapa apanya Mas?”


“kenapa kamu nampar Nita?”


“dia udah ngomong sama kamu Mas? Tapi apa dia cerita alasan aku nampar dia?” tanyaku pada Mas Hari


“kamu kenapa sih Dek? Ko sinis banget sama Nita? Kenapa kamu gak bisa sabar sedikit? Kamu tahu, dia sampe nangis nahan sakit karena tamparanmu”


“Mas, lebih sakit mana antara tamparanku atau omongan dia yang berusaha menghasit Mamah?”


“apa maksudmu?”


“udahlah Mas, percuma juga aku jelasin maslah ini ke kamu karena kamu juga juga endingnya pasti tetep pro sama Nita”


“Dek?”


“aku gak akan cerita apapun sama Mas sebelum Mas bisa bersikap netral”


Baik aku ataupun Mas Hari sama-sama terpancing emosi hanya karena wanita itu. Aku tidak habis pikir dengan caranya bertindak sehingga mampu membuat suasan rumah ini seperti neraka bagiku. Kami berdua saling berselisih paham tentang pro dan kontra, tentang keberpihakan Mas Hari dalam masalah seperti ini. Perdebatan itu berlangsung cukup lama, aku tidak ingin menurunkan egoku dan Mas Hari masih bersikeras untuk percaya dengan apa yang dikatakan oleh Sonita.


Saat malam menjelang aku memilih untuk menemui Mamah yang berada di kamarnya. Aku meminta maaf padanya karena telah bersikap sangat memalukan di depannya.


“Ya, Mamah tahu apa yang sebenernya kamu rasaian. Kamu muakkan sama dia, kamu marah, kamu kesal. Tapi jangan pernah semua itu kamu tunjukan apalagi di depan suami dan mertuamu. Meski ini rumahmu, tapi kamu harus bisa menjaga sopan santun juga. Mamah ingat semua yang kamu ceritain ke Mamah tentang Nita. Kamu harus bisa lebih cerdas dari pada dia Ya Nak. Jangan sampai apa yang menjadi milikmu berubah menjadi miliknya.


Kejadian buruk itu tidak hanya berlangsung sekali sejak kedatangan Mamah beberapa hari yang lalu. Aku selalu memergoki Sonita sedang menghasut Mamah dengan berkata yang tidak-tidak. Meskipun Mamah tahu tabiat wanita ini dan tidak akan terhasut olehnya, tapi tetap saja aku merasa tidak nyaman dengan apa yang dilakukan oleh Sonita. Seperti yang terjadi hari ini, aku kembali memergokinya sedang melancarkan aksinya.


“Bu, kalau saya jadi Ibu ya, saya lebih baik pulang Bu dari pada tinggal di rumah anak yang pilih kasih. Masa mertuanya tinggal di kamar yang besar, lah Ibu tinggal di kamar tamu. Gimana gak kurang ajar anak Ibu tuh? Udahlah Bu mending Ibu pulang aja ke kampung dari pada lama-lama sakit hati di sini” kata Sonita


“Ta jaga mulut kamu ya! yang seharusnya pergi dari sini itu kamu bukan Mamahku. dari awal kamu ke sini itu untuk apa hah? ingat Ta, kamu di sini itu cuma karena Ibu. sekarang aku udah gak bisa toleransi lagi sama kamu, aku udah muak sama semua kelakuan kamu”


Aku meluapkan semua kemarahanku dengan kata-kata yang kasar pada Sonita. Namun ketika aku meluapkan semuanya tiba-tiba saja sikapnya berubah. Sonita yang semula berani menatapku kini berubah menjadi seseorang yang seolah tertindas oleh sikapku. Aku sadar benar perubahan sikap ini, dan ketika aku melihat ke sekeliling aku melihat Mas Hari uga ada di dekat kami. Segera aku menahan nafasku karena kesal pada Sonita.


“Dek, udah jangan bikin ribut ya” kata Mas Hari


“aku gak bikin ribut Mas. Aku cuma ngingetin dia kalau dia di sini itu udah kelewat lama, dia udah lupa sama tujuannya datang ke sini”


“Dek tolong, jaga emosi kamu. Malu”


“iya Lia aku tahu, aku sudah terlalu lama ada di sini, tapi gimana? Aku belum juga dapet pekerjaan”


“makanya cari! Jangan ongkang-ongkang kaki aja. Dari dulu aku udah nawarin kamu kerjaan juga tapi kamu gak mau” aku berteriak sejadi-jadinya


Aku tidak lagi bisa mengendalikan diriku sendiri. Rasanya ini adalah waktu yang tepat untuk meluapka kemarahanku pada Sonita. Tapi rupanya semua yang kulakukan itu tidak hanya membuat marah suamiku, tapi juga Mamah. Saat itu Mamah langsung menampar wajahku karena aku tidak bisa mengendalikan emosi. Sontak aku terkejut dengan tamparan keras di wajahku itu.


“Mah...?”


“Mamah gak nyangka kamu bisa kehilangan kontrol kaya gini” kata Mamah dan kemudian pergi


Ya Tuhan, aku merasa sangat bersalah dengan apa yang sudah aku lakukan. Aku tertunduk menyesali segala perbuatanku. Kemudian tanpa berpikir panjang aku langsung menyusul Mamah ke kamarnya. Aku mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya aku rasakan pada Mamah, tapi Mamah yang sudah terlanjur malu dengan sikapku memilih untuk diam seribu bahasa.


“Mah tolong ngeriti dong” kataku


“Mamah malu Teh liat sikap kamu yang kaya tadi. Mamah berasa gagal ngedidik kamu selama ini”


“engga Mah, bukan gitu. Lia udah gak tahan lagi sama Sonita. Selama ini Lia nahan-nahan supaya


gak meledak. Tapi tadi lia udah gak bisa lagi nahan Mah. Lia gak terima kalau Sonita ngomong yang aneh-aneh”


Seperti biasa, Mamah tidak mau lekas mengerti dengan apa yang aku katakan. Mamah lebih memilih untuk diam dari pada menjawab setiap pertanyaanku. Sakit bukan main mendapat perlakuan seperti itu.


“nanti sore Mamah sama Ragil pulang”


“Mah...”


“lagi pula liburan kita udah selesai di sini”


“Mamah please”


“Mamah ngerti Teh, tapi Mamah harus pulang”


Benar, ketika hari menjelang sore Mamah dan Ragil kembali pulang dan meninggalkanku. Aku benar-benar merasa bersalah atasapa yang sudah terjadi hari ini. Aku sangat menyesal. Tapi bagaimana pun aku tidak bisa turut mengendalikan emosiku yang sudah aku tahan selama ini.


Kemalangan hatiku tidak hanya sampai di situ saja, karena saat malam tiba Mas Hari meilih untuk tidur bersama dengan Bagus. Saat aku menanyakan alasannya Mas Hari hanya diam. Ia hanya mengatakan agar aku instropeksi diri malam ini.


Aku benar-benar dongkol dengan suasana hari ini, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan selain manangis di malam itu. Aku tidak tahu kenapa semua orang tidak ada yang berpihak padaku.


“Dek...” suara Maba Yayu tiba-tiba memecah keheningan malamku


Mba Yayu datang menghampiriku, dia duduk di sampingku dan memelukku erat. Aku pun meluapkan kesedihanku pada Mba Yayu. Aku beruntung karena masih ada Mba Yayu yang bersedia hadir di saat aku mengalami masalah seperti ini. Memang, mengenai masalah Sonita aku loebih sering berbagi cerita kepada Mba Yayu ketimbang kepada orang lain. Bagiku Mba Yayu adalah teman, sahabat, sekaligus kakak yang baik.


Mba Yayu berusaha untuk menenangkan aku, agar aku tidak berlarut-larut dalam masalah ini. Tapi yang menjadi masalahku sekarang adalah Mas Hari, mengingat selama ini dia tidak pernah semarah ini, sedah pasti kemarahannya kali ini akan sangat buruk akibatnya. Bahkan kali ini Mas Hari sampai memilih untuk tidur bersama dengan Bagus.


“aku gak tahu lagi Mba giman caranya nanganin masalah ini. Dari dulu aku udah pernah bilang sama Mas Hari tentang Sonita tapi Mas Hari gak p-ernah peduli. Sekarang saat aku meluapkan kemarahanku Mas Hari malah bersikap kaya gini ke aku Mba”


“Mba ngerti gimana perasaanmu Dek, karena Mba tahu gimana marahnya kamu sama Sonita. Mungkin Hari cuma kaget ngeliat sikap kamu yang kaya tadi, karena kamu gak pernah melakukan itu sebelumnya.” Kata Mba Yayu


“sekarang aku harus gimana Mba?”


“kamu harus ngomong baik-baik sama Hari, dan bilang kamu gak akan mengulangi hal yang seperti tadi dan jangan pernah kamu ngasih pembelaan apapun atas dirimu”


Aku menatap Mba Yayu. Kali ini aku benar-benar merasa jika diriku sudah tersudutkan oleh karena wanita itu. Malam ini terasa begitu berat bagiku, bahkan hingga beberapa hari setelahnya. Aku merasa tindakanku sebelumnya sudah sangat membuat malu keluargaku. aku pun merasa jika kini ada jarak antara aku dan keluargaku sendiri.


***


Entah apa yang terjadi dengan rumah ini, aku bahkan merasa sesak berada di rumahku sendiri. Tidak hanya masalahku dan Sonita yang membuatku merasa canggung di rumah sindiri, tapi masalah Rona yanng baru beberapa hari tinggal di Jakarta telah membaut Mba Yayu merasa was-was. Bukan tanpa sebab, kini Rona dan Sonita menjadi semakin dekat dan hal itu membuat Mba Yayu merasa takut jika rona akan terbawa pengaruh buruk dari Sonita.


Keresahan Mba Yayu pun lantas diutarakannya padaku. Baru beberapa hari berada di Jakarta Mba Yayu merasa sudah banyak sikap Rona yang berubah. Rona menjadi anak yang sering bepergian dan pulang larut. Bahkan kini ia pun sering berbelanja berbagai barang baru yang Mba Yayu sendiri tidak tahu dari mana Rona mendapatkan semua uang itu. Ia hanya berpikir, jika Sonita lah yang memberikan semua itu.


“Mba cuma takut kalau Rona tuh salah bertindak Dek” kata Mba Yayu


“Mba udah coba ngomong sama Rona?”


“udah, tapi ya itu, dia ngejawab terus”


“ya udah, nanti biar aku coba ngomong sama Rona ya?”


Saat watu makan malam tiba, semua anggota keluarga berkumpul di meja makan yang sama untuk bersantap menu makanan yang telah di sediakan. Di saat itulah aku mencoba untuk memperhatikan Rona lebih seksama. Aku perhatikan bagaimana cara bersikap, bagaimana caranya berpakaian, dan apa-apa saja yang menempel di tubuhnya. Memang ada perubahan antara Rona yang saat pertama kali datang dengan Rona yang saat ini sedang duduk di meja makan. semuanya telah berubah, mulai dari sikapnya, caranya bertutur, dan caranya berpakaian semua sudah jauh berbeda. Aku berusaha untuk bersikap sebiasa mungkin sebelum nanti aku mengajak Rona untuk berbicara berdua. Kemudian kami semua menikmati makan malam bersama.


Selepas menikmati makan malam, aku memutuskan untuk mengajak Rona berbicara berdua di tepi kolam renang dengan dalih menanyakan rutinitasnya di sekolah baru. Untung saja aku sudah tahu bagaimana cara menangani anak seusia Rona yang sedang gencarnya membenahi diri demi memikat lawan jenisnya.


“gimana di Jakarta? asyik?”


“Asyik banget Mba, beda sama di kampung” katanya dengan penuh semangat


“gitu, udah punya banyak temen dong?”


“iya Mba. Ini semua berkat sarannya Mba Nita aku jadi punya banya temen”


“ emang Nita ngasih saran gimana?”


“kata Mba Nita, kalau mau punya temen di Jakarta tuh kita gak boleh pelit, apa-apa harus mereka


duluan yang diutamain”


Aku terdiam sejenak mendengar jawaban yang diberikan Rona. Jelas sudah jika Sonita juga hendak meracuni pikiran Rona.


“oh yah Ron, Mba baru sadar kalau belakang ini gayamu keren banget deh. Dulu mana pernah Mba punya baju sekeren kamu”


“iya Mba, kan aku beli baru semua”


“beli baru?”


“iya, bajuku gak boleh itu-itu aja, kan malu”


Aku banyak mengorek informasi dari apa yang dikatakan Rona. Rupanya Rona sudah terdoktrin dengan apa yang dikatakan oleh Sonita, dan ini adalah hal yang sangat ditakutkan oleh Mba Yayu. Tidak hanya itu, aku juga memancing Rona untuk menceritakan perihal hal-hal lain yang terjadi di sekolahnya, dan untungnya Rona mau terbuka padakau dan menceritakan apa saja yang sudah dilaluinya selama bersekolah di Jakarta.


Dari apa yang aku dapat, lantas aku sampaikan kepada Mba Yayu. Tentu apa yang aku sampaikan itu membuat Mba Yayu sangat marah kepada Sonita, “Mba, Mba jangan lambrak langsung Sonita atau pun Rona. Mba tahu sekarang Nita seperti apa. jangan sampai hubungan Mba dan Mas Indra juga bermasalah” kataku.


Selama beberapa hari aku dan Mba Yayu memperhatikan segala gerak gerik Rona. Semkin lama gerak geriknya semakin menjadi-jadi yang membuat Mba Yayu semakin geram pada keponakannya itu.