
Kini empat tahun sudah usia pernikahanku dengan Mas Hari. Jujur semua ini tidak kami lalui dengan mudah, banyak hal yang penuh kedukaan dan kemarahan yang kami alami.
Sekarang aku sudah tidak lagi menyandang status sebagai mahasiswa, kini aku telah bekerja dan mengabdikan diriku untuk anak-anak yang kutampung di sebuah rumah yang memang kubangun untuk hal itu.
Terkadang aku pun turut serta dalam program perlindungan dan kesejahteraan anak, yang membuatku harus bekerja hingga keluar kota untuk menuntaskan sebuah kasus. Di lain waktu aku juga membantu anak-anak atau orangtua yang ingin berbincang mengenai anak-anak mereka.
Di Rumah Bimbingan yang kubangun, sekitar lima belas anak-anak yang berasal dari berbagai tempat menghuni di dalamnya. Aku mendidik mereka selayaknya aku mendidik anakku sendiri.
Pekerjaanku ini, aku lakukan dengan penuh semangat, dan begitu pun dengan Mas Hari yang selalu mendukungku.
***
Malam ini aku membuat menu makan malam yang spesial untukku dan Mas Hari. Aku melakukan ini sebagai bentuk kebersamaan kami yang sangat jarang kami lakukan.
Namun rupanya rencana kami itu tidak bisa kami lakukan malam ini, karena Mas Genta dan Mas Nur— teman Mas Hari datang untuk bermalam sekaligus membahas pekerjaan.
Aku tercengang melihat kedatangan mereka yang tiba-tiba, namun aku berusaha untuk bersikap tenang mengingat ini bukan kali pertama mereka datang untuk bermalam.
“Assalamualaikum Dek..” kata Mas Hari
“waalaikumsalam..” jawabku
“ini lo mereka datang untuk bahas pekerjaan yang tiba-tiba” kata Mas Hari dengan nada suara yang terdengar sedikit khawatir
Aku pun melongok, melihat orang-orang yang ada di balik tubuh Mas Hari yang gempal.
“Mas Genta, Mas Nur...” sapaku
“Hallo Neng...” kata mereka
Aku kembali menatap Mas Hari sembari tersenyum.
“ayo masuk, kenapa masih di sana? Kebetulan aku udah masak makan malam, kita makan sama-sama ya” kataku
“waah, sepertinya kita datang salah waktu toh Ta..” kata Mas Nur
Akku tertawa, “engga ko Mas, kebetulan sekarang kan jam makan malam. Tapi sebaiknya kalian mandi dulu. Biar enakan”
“kamar biasa kan?” kata Mas Genta
“iya Mas Genta, kamar biasa” jawabku
“yo Wis, ta naik dulu” kata Mas Hari
Aku dan Mas Hari bergegas naik menuju kamar yang berada di lantai dua.
“maaf toh Dek, Mas juga gak tahu kalau mereka datang hari ini”
“gak apa-apa Mas, mungkin lain kali aja kita quality timenya. Sekarang Mas mandi dulu, biar aku panasin makan malamnya”
Tidak butuh waktu lama untukku memanaskan semua menu makan malam. Seusai memanaskan semuanya aku kembali naik ke lantai atas.
Ketika aku masuk, aku melihat Mas Hari sudah selesai membersihkan diri, dan kini ia memakai kaos putih kesayangannya dan celana panjang cokelat.
Aku berjalan menghampirinya, aku memeluk tubuhnya yang gempal tanpa mengatkan sepatah katapun.
“kenapa toh? Ko tumben”
“Cuma pengen di peluk aja. Kan nanti malam gak bisa” kataku
Pelukanku semakin erat pada Mas Hari, dan Mas Hari pun membalas pelukanku.
“kita makan? Aku bikin ayam suwir bumbu Bali”
Kami bergegas turun dan menuju meja makan. Tidak lama Mas Nur dan Mas Genta pun bergabung bersama.
“waaah, enak ni” kata Mas Genta
“masakan Neng Lia kan emang enak” kata Mas Nur
“ya udah, ayo makan” kataku
Kami menikmati makan malam bersama sembari saling berbincang.
“kalian mau bahas apa nanti?” tanyaku
“kita mau bahas yang belum di bahas” kata Mas Genta
“boleh ikut gabung gak Mas Genta?”
“boleh, asalkan kamu gak ketiduran lagi”
Kedua teman Mas Hari itu sudah seperti teman dan saudara bagiku. Mereka selalu terbuka denganku. Seperti sekarang ini, mereka akan tetap membiarkan aku bergabung bersama meski sebenarnya mereka akan membahas pekerjaan.
Setelah menikmati makan malam.
“kalian tunggu aja di ruang tengah, saya mau bantu beres-beres dulu” kata Mas Hari
“aduh, romantisnya, ya sudah kita tunggu di sana aja” kata Mas Nur
Aku tertawa melihat kelakuan mereka. Aku dan Mas Hari segera merapikan meja makan dan mencuci semua piring kotor yang ada.
“udah kamu duduk aja, biar Mas yang cuci piringnya”
“kalau gitu aku siapin cemilannya”
Kita membagi tugas dan pekerjaanpun selesai dengan cepat. Aku dan Mas Hari pegi menuju ruang tamu.
“topik pembahasannya apa ?” tanyaku
“mengenai kemunculan makhluk gaib” jawab Mas Nur
Aku terbelalak, “iya toh? Kayaknya bukan itu deh, tapi karena ada aku makanya kalian bahas itu kan?”
“beneran. Kita bahas itu untuk buku kedua kita” jawab Mas Nur kembali
“ko serem sih?”
Mereka mulai melihat keraguan yang muncul dari wajahku.
“tetap mau di sini atau engga?” tanya Mas Hari
“di sini aja deh. Aku juga berani naik ke atas”
Mereka tertawa karena jawabanku, sedangkan aku langsung mengambil posisi ternyaman, yaitu di samping Mas Hari dengan bantal sofa yang kupeluk.
“ sebentar ya Mas, saya mau ganti pakai sarung dulu. Biar lebih nyaman” kata Mas Hari
Itu memang sudah menjadi kebiasaannya. Dia akan lebih nyaman menggunakan sarungnya saat sedang berbincang seperti ini atau saat berada di rumah.
Selagi menunggu Mas Hari mengganti celananya dengan sarung, Mas Nur menunjukan beberapa gambar penampakan yang membuat bulu romaku berdiri.
“ko ngeri ya? Ko bisa sih dapet foto yang sejelas itu?” kataku
“waah, kalau kamu liat sendiri jauh lebih matap” kata Mas Nur
“ ih emoh aku, yang ada aku pasti ngekor Mas Hari terus kalau gitu” kataku
Mereka tertawa. Tidak lama Mas Hari kembali bergabung bersama kami dan kembali duduk di sampingku.
“isterimu, aku suruh liat penampakan sendiri gak mau” kata Mas Nur
Mas Hari tertawa, “ dia penakut Mas. Tengah malam mau minum aja masih minta antar”
“serem toh Mas, serasa ada yang liatin terus”
Mereka mulai melanjutkan perbincangan. Sembari bersandar pada sofa aku mulai mendengarkan penuturan dari ketiga pria yang ada di hadapanku.
“ Mas aku mau tanya..”
“dia mulai penasaran” kata Mas Nur
Aku tersenyum, “tadikan aku liat foto-foto yang itu, ada Orbs sama satunya. Dua bentuk itu memang sama atau beda?”
“Beda Dek. Kalau Orbs itu istilahnya penampakan terendah, tapi kalau penampakan yang solid dan berwujud itu paling tinggi dan butuh energi yang besar juga” kata Mas Hari
“kamu makin takut, makin besar energi mereka” kata Mas Nur
“iya toh?” kataku terkejut
“iya, karena takutnya kamu itu diserap sama ‘mereka’ “ kata Mas Hari
“Mas pernah liat yang solid?”
“sering..”
“Ko Mas gak pernah bilang sama aku?”
“gimana Mas mau cerita. Wong kamu penakut” kata Mas Hari
Semua orang tertawa lepas.
“oya Mas, coba Mas jelasin tentang Orbs itu gimana?” kata Mas Genta
“iya. Orb itu sebenarnya energi panas yang asalnya dari jin yang ada di sekitar sana, yang kemudian menyerap air yang juga ada di sekitar mereka.” Kata Mas Hari
“biasanya Orbs itu ada di satu tempat dan cuma bergeser sedikit, tapi kalau berpindah tempat itu tidak bisa.” Lanjutnya
“Mas, tapi kan bisa jadi Orbs itu bias dari cahaya atau bisa jadi jamur?” tanyaku
“ beda Dek. Kalau Orbs ini berasal dari makhluk halus, background dari gambar biasanya blur. Beda sama bias”
“ orbs juga warnanya beda-beda. Ada hitam, merah, putih, jingga, bahkan hijau sama biru juga ada?” lanjut Mas Hari
“setelah Orbs yang cuma titik-titik, eksistensi mereka ke yang lebih tinggi akan berupa etoplasma, yang bentuknya kaya komer gitu” kata Mas Hari
Aku terpana mendengar penuturan Mas Hari tentang semua itu.
“baru, yang tingkatannya lebih tinggi itu penampakan. Paling lama mereka muncul tiga sampai lima menit aja”
Mas Nur tiba-tiba tertawa, “panas yo Mas”
“ramai apanya?” tanyaku
“ ‘mereka’ mulai datang, karena kita kan ngomongin mereka”
“Mas...” rengekku sembari mendekat ke samping Mas Hari
Mas Hari sontak tertawa, “dia mulai nempel” katanya
“takut Mas..” kataku
Aku langsung menggenggam erat lengan Mas Hari selagi ia masih menerangkan semua hal yang berhubungan dengan ‘mereka’.
Kini aku tidak bisa pergi kemanapun meskipun aku takut. Mendengarkan pembicaraan mereka membuatku merinding, sedangkan pergi ke kamarseorang diri pun aku tidak sanggup.
“ itu kenapa banyak yang sehabis melihat penampakan yang solid akan langsung pusing, mulai,
lemes, karena energi mereka diserap sama ‘mereka’ untuk bisa menampakan diri.
Ada contoh kasus yang sehabis melihat itu bisa langsung meninggal, yang setelah didiagnosis itu kena serangan jantung”
“bisa seekstrim itu Mas?” tanya Mas Genta
“iya bisa. Itu karena ‘mereka terlalu besar menyerap energi, bahkan sampai energi orang itu habis
dan kena serangan jantung, beberapa jam setelah melihat” jelas Mas Hari
“oya itu Mas, yang poci..” kata Mas Genta
Aku merengek, dan menyembunyikan wajahku di balik lengan Mas Hari. Mereka semua tertawa melihat tingkahku yang konyol.
“serem to Mas, kenapa bahas yang itu?” tanyaku
“wis, tutup telinga aja” kata Mas Hari
“iya. Kenapa yang itu selalu jadi yang terseram di benak kita, khususnya yang orang-orang awam kaya saya”kata Mas Genta
“Gini lo Mas. Yang itu kan identik dengan kematian. Jadi dekat banget sama yang namanya kematian. Makanya dia itu jadi paling seram. Sama ada satu contoh, saya pernah wawancarasama tukang gali kubur, kalau katanya sesudah gali kubur itu rasanya capek dan harus istirahat seharian”
“kenapa?” tanyaku berbisik
“karena korin dari seseorang itu takut, terus berimbas sama psikis tukang gali kubur itu. Makanya sering banyak kejadian proses gali kubur itu susah, karena korin seseorang itu merasa takut akan kematian” jelas Mas Hari
“kaya ada air, kerikil, kerandanya berat” tukas Mas Nur
“iya gitu Mas. Tapi kalau seseorang itu soleh,baik, biasanya semua itu dimudahkan”
“kalau kamu pernah ngalamin apa yang berhubungan dengan yang kaya gini?” tanya Mas Genta padaku
“anu, aku pernah denger suara-suara perempuan gitu. Tapi setelah itu aku pura-pura gak denger.” Jawabku
“iya sampe kamu teriak-teriak” kata Mas Hari
Semua tertawa
“pernah denger gak? Mitosnya kalau suaranya jaraknya jauh itu sebenernya mereka deket, dan kalau suaranya deket banget itu sebenarnya mereka jauh” kata Mas Nur
“iya, aku udah pernah denger tentang itu. Tapi kenapa banyak yang sering denger suara ketimbang wujud mereka?” tanyaku
“karena kalau suara itu lebih gampang untuk mereka wujudkan, sedangkan kalau berwujud yang solid itu mereka butuh banyak energi” kata Mas Hari
“perihal energi yang mereka serap, itu dari mana asalnya?” tanya Mas Genta
“dari kita. Perasaan takut kita sama aura terendah yang dipancarkan orang-orang disekitar” jawab
Mas Hari
“dan satu lagi, kemunculan mereka juga biasanya diiringi sama bau-bauan, kaya bau kentang dan pandan itu biasanya untuk tante, sedangkan bau kapur barus itu untuk poci” lanjut Mas Hari
“oya Mas Hari, hampir lupa saya. Saya punya beberapa pertanyaan yang sebenarnya udah saya siapin” kata Mas Genta
“apa tu?”
“pertama, ada sutradara yang demi mendapatkan wujud ‘mereka’ itu sampai ngolesin kamerenya pake minyak. Ritual kaya gitu emang bisa, mujur?” tanya Mas Genta
“Mujur Mas, biasanya minyak tertentu yang diolesi, atau pakai rajahan. Dan kalau pengalaman saya sendiri, saya pernah nyimpen kamera saya pake bunga kantil atau melati. Tujuannya itu, supaya gak dapet gangguan dari ‘mereka’ sewaktu saya mau ambil foto. Biar kameranya adem ayem gitu. Tapi sebenrnya kamera itu sensitif dengan dunia mereka. Dari kamera kan kita bisa dapet orbs atau yang lebih solid” jelas Mas Hari
“satu lagi, kalau misalnya kita lagi lihat jende;a gedung kosong. ‘mereka’ bisa melihat kita atau engga? Sadar gak mereka kalau kita liatin”
“ini keadian yang sering dialamin sama Lia. Dia kalau pergi ke tempat yang ada bangunan kosong pasti dia liatin bener-bener. Tapi itu sebenarnya tarikan dari mereka. Mereka ingin menunjukan eksistensi mereka, makanya mereka bikin kita ngeliat ke gedung itu. Kalau sering kita liatin, sepersekian detik itu pasti kita lihat penampakan dan setelah itu biasanya pusing, pandangan tiba-tiba ngeblur” jelas Mas Hari
Pembicaraan itu berlangsung dengan serius, meskipun sering diselingi oleh tawa yang riang yang menertawakan kebodohanku.
Bulu romaku benar-benar merinding malam itu. Terlebih saat jam menunjukan pukul setengah satu dini hari.
“yo wis kita tidur dulu, sudah tengah malam. Besok kita lanjut diskusi” kata Mas Nur
“ya sudah” kata Mas Hari
“Neng, jangan lupa baca doa ya” kata Mas Nur
“iya Mas” jawabku
“yo kita naik ke atas” kata Mas Hari
Aku menggenggam erat tangan Mas Hari yang terjulur ke arahku. Kita berdua langsung bnerjalan menuju kamar, menaiki anak tangga satu persatu.
“Mas, jangan dimatiin lampunya”
“kenapa?”
“aku ngeri..”
“Mau ke kemar mandi dulu?”
“iya, aku kebelet dari tadi”
“kenapa gak ke kemar mandi dulu tadi?”
“aku takut Mas, gak berani aku pergi sendiri”
“ya sudah, ayo Mas temani”
Kita berdua masuk ke dalam kamar mandi bersamaan. Mas Hari menungguku di depan cermin, sedangkan aku masuk ke balik tirai. Setelah aku selesai, kini giliran Mas Hari.
“Mas...?”
“iya..”
Aku memang sengaja memanggilnya, karena aku merasa sedikit takut setelah mendengar semua hal barusan. Pikiranku menjadi berimajinasi kemana-mana.
Setelah Mas Hari selesai, kami bergegas menuju tempat tidur untuk beristirahat.
“mau langsung tidur Dek?”
“ada yang mau diomongin Mas?”
“kalau kamu belum ngantuk. Mas mau ngobrol berdua sama kamu”
“boleh. Ngobrolin apa?”
“Mas kepikiran untuk bawa ibu untuk tinggal di sini”
Aku terdiam dan menatapnya.
“Ibu kan udah tua, tinggal sendiri pula, dan Mas gak tega juga ninggalin kamu sendiri”
“Mas, aku senang kalau Ibu mau tinggal di sini. Aku rindu dongengnya Ibu. Semoga Ibu mau tinggal di sini” kataku
“karena itu Mas minta bantuan kamu untuk bujuk Ibu. Mas yakin Ibu mau dengerin kamu”
“tentu, aku pasti bantu”
“terimakasih. Sekarang apa yang mau kamu omongin?”
“aku? Aku, Cuma mau bilang, Mas angan terlalu sering ninggalin aku”
“kenapa toh?”
“karena aku kangen Mas”
“ko tumben Dek?”
“gak tumben Mas, Cuma Mas aja yang gak sadar itu”
Mas Hari tersenyum manis, dan aku sangat menyukai senyumannya yang selalu membawa ketenangan untukku.
“gimana anak-anak di Rumah Bimbinganmu?”
“mereka baik-baik aja Mas, Mba Ros sama Tuti selalu di sana. Setiap hari aku juga datang ke sana.
Tapi...”
“tapi opo toh?”
“Mas ingat Mey? Anak perempuan yang aku bawa seminggu yang lalu dari kolong jembatan yang
dipaksa ngemis itu?”
“iya ingat. Kenapa?”
“dia masih belum mau ngomong. Aku gak tahu gimana caranya supaya dia mau ngomong”
“kamu wanita yang penuh kasih. Mas yakin, suatu saat nanti dia pasti mau ngomong.”
“semoga”
“besok Mas mau pergi ketemu anak-anak, dan Mas mau ketemu sama yang namanya Mey”
“besok kita pergi kesana”